Kamis, 19 Mei 2011

PANORAMA SINAR HADING 2011

Pantai Wai Krewak Kawaliwu Sinar Hading. Seorang ibu duduk membelakangi sumur Wai Krewak, menghadap pantai sedang mencuci baju.Pantai Laut Kawaliwu biru, belum tercemar limbah. Sungguh indah pesona Kawaliwu.
 Musim panen masyarakat Kawaliwu sekitar bulan pertengahan April hingga bulan Mei. Terlihat kelompok ibu-ibu Kawaliwu memanen padi secara bergilir dari kebun ke kebun. Mereka dibiaya oleh pemilik kebun seharian bekerja. 
Jambu mete, salah satu tanaman produktif di Kawaliwu. Jambu mete ditanam selama tiga tahun akan berbuah. Musim bunga pada pertengahan April dan berbuah pada bulan Mei. Bulan Juli hingga september, musim petik. Lahan di Kawaliwu lebih banyak ditanam jambu mete. Sayangnya dalam 5 tahun terakhir ini harga biji gelondongan jambu mete sepuluh ribu rupiah per kilo. Harga yang tidak sesuai dengan kerja perawatan dan kesibukan petik. Jambu mete terlihat ini di kebun Bpk. Andreas Wato Liwun di Wai Pleme Kawaliwu.
Lango Bele - Liwun, sebuah rumah yang telah dipugar dengan situasi zaman sekarang. Fondasi sudah dengan batu hutan dan semen, dinding setengah dari bata dan setengahnya dari anyaman bambu. Atap yang dulu dari alang-alang, kini dari seng. Secara tradisional, rumah besar ini merupakan rumah adat Liwun, yang dulunya terbuat dari bahan kayu, tali dan alang-alang. 
Korke, dalam bahasa Lamaholot-Kawaliwu 'koko', sebuah rumah adat bagi semua suku-suku di Kawaliwu. Rumah adat ini pun telah dibuat dengan situasi zaman sekarang. Atapnya seng. Dulu atapnya dari daun lontar. Di depan 'koko' terdapat susunan batu, dari zaman megathiticum, zaman batu. Didalam susunan batu berbentuk segi empat ini panjang lebih kurang 20-an meter dan lebarnya pun 20-an meter. Didalam halaman itulah orang-orang Kawaliwu menari dan mengadakan upacara keagamanan lainnya. Juga sesewaktu, tua-tua adat (ataklake) mempersembahan kurban.
Tua-tua adat dari berbagai suku di Kawaliwu berkumpul dan mengadakan upacara adat.

Rabu, 18 Mei 2011

LIMA ENTRY POIN PENTING YANG PERLU DIREFLEKSIKAN WARGA SINAR HADING

Selama hampir lebih kurang dua setengah minggu di kampong halaman, Kawaliwu-Sinar Hading, (13-28/4/2011), ada lima entry poin dalam pernak pernik situasi Kawaliwu; yang muncul ke permukaan situasi sosial; juga menjadi prioritas untuk kita refleksikan bersama. Saya mengundang generasi muda, pemuda-pemudi anak cucu Wolosina untuk merefleksikan lima entry poin penting yang sekarang real muncul dalam situasi sosial Kawaliwu.

(1). Jumlah pertumbuhan penduduk semakin tinggi. Tampak bahwa di lorong-lorong, di sumur air dan di gereja, terlihat begitu banyak anak kecil yang berusia sekolah. Hal positip yang ada sekarang yang mendukung anak-anak kecil adalah adanya TK “Fajar Budi” dan Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) selain sudah ada Sekolah Dasar Katolik Kawaliwu. Sekarang sedang direncanakan akan adanya SMA/SMK Lewolema di Kawaliwu.

Ingat bahwa dengan semakin besar jumlah penduduk di Kawaliwu dan secara geografi semakin sempit lahan produksi serta tidak ada ruang untuk pendidikan anak-anak, maka dapat mengakibatkan banyak hal – fenomena yang muncul di Kawaliwu. Bagaimana dengan pola pikir generasi muda sekarang dan akan datang agar problem ”masa depan” anak-anak Kawaliwu lebih cerah?

(2). Grafik pendidikan anak semikin tinggi. Pendidikan sedang diperjuangkan oleh para orangtua di Sinar Hading bagi anak-anaknya. Pendidikan menjadi prioritas. Anak-anak kecil yang belum genap enam tahun, orangtua memasukan di TK atau di PAUD. Apalagi, pihak TK dan PAUD mendorong orangtua dengan mewisuda anak-anaknya ketika anak-anak tamat dari TK atau PAUD.

Genap enam tahun hingga 12 tahun, anak disekolahkan di SD. Tamat dari SD, anak masuk ke SMP. Sekarang ada beberapa SMP yang menjadi prioritas masyarakat Kawaliwu untuk melanjutkan sekolah tingkat pertama bagi anak-anaknya. Sebagai misal, di Lewotala ada SMP St. Isidorus, di Leworahang ada SMP St. Antonius Padua dan di Belogili ada SMP Batu Payung. Kawaliwu dikelilingi oleh sekolah-sekolah lanjutan pertama. Sekali lagi, sekarang sedang direncanakan bahwa di Kawaliwu akan dibangun SMA / SMK Lewolema.

Jika SMA / SMK ada di Kawaliwu, pola pendidikan di sekolah bukan berprinsip pada kurikulum dan kompetensi menghafal dan lulus ujian. Tetapi harus lebih pada pembangunan karakter (building charakters) dan ketrampilan serta produksi kerja (produck of work). Dengan demikian, pendidikan tingkat atas di Kawaliwu lebih cocok pada SMK berupa pertanian atau perikanan. Sehingga lahan darat dan laut Kawaliwu dikelola secara maksimal. Dan dengan demikian, darat dan laut dapat diolah sebaik-baik mungkin untuk pendudukan Kawaliwu. Apakah dengan pola pikir ini menjadi solusi terakhir bagi generasi Kawaliwu? Tidak!

(3). Lahan / Tanah Kawaliwu yang belum ditanam tanaman, hampir-hampir tidak ada lagi. Hampir sebagian besar lahan / tanah Kawaliwu ditanami tanaman jambu mente. Dimana-mana ditemukan pohon mente. Tanaman ini mulai bulan maret-akhir april berbunga. Awal mei hingga juli, masim jambu mente berbuah. Dan musim panen akan terjadi pada bulan agustus hingga oktober. Terkadang hingga bulan desember pun masyarakat masih panen buah jambu mente. Ada beberapa jenis tanaman lain yang sekarang lagi ngetrend ditanam di Kawaliwu adalah pohon jati, entah jenis biasa maupun jati putih. Ada hal yang positip yang muncul dalam benak saya adalah dengan menanam pohon mente dan jati, masyarakat Kawaliwu telah terlibat dalam menggeneralisasikan hutan baru. Mengubah hutan alami dengan hutan produksi. Persoalan sekarang adalah bagaimana agar tidak terjadi penebangan liar dan tidak mampu ditanam kembali.

(4). Akses transportasi bemo / motor ojek. Dulu orang Kawaliwu punya mobil angkot penumpang ke Larantuka atau Oka. Sekarang (april 2011) Kawaliwu tidak punya angkot berupa mobil. Angkot mobil di Kawaliwu adalah milik kampung tetangga (Riangkotek dan Leworahang). Alat angkot darat yang lagi ngetrend di Kawaliwu adalah motor ojek. Ada beberapa orang mempunyai motor lalu mengangkut satu atau dua orang kemana-mana termasuk ke Larantuka. Biasanya sekali angkot mengenakan biaya lima ribu sampai sepuluh ribu rupiah. Alat angkot darat yang besar sekarang di Kawaliwu mobil jenis pick up atau dipakai untuk mengangkot barang-barang.

(5). Akses listrik masuk Kawaliwu. Listrik masuk Kawaliwu ternyata tidak gampang. Karena lahan pemancang kabel ke Kawaliwu tidak diberikan oleh masyarakat Lewotala dan Riangkotek. Jalan keluar yang ditempuh oleh masyarakat Kawaliwu adalah membayar ganti rugi tanaman-tanaman yang ditebang untuk pemancangan kabel. Menurut Nikolaus Sira Liwun, Kepsek Sinar Hading (24/4/2011), Kawaliwu menyeluarkan biaya sebesar 30 juta rupiah untuk membayar pemilik tanaman yang ditebang untuk dipancang besi penyangga. Listrik masuk Kawaliwu butuh perjuangan yang panjang. Butuh biaya membayar tanaman yang ditebang, luar biasa besar. Dan untuk masuk ke rumah-rumah masyarakat, masyarakat menyediahkan dana lebih kurang 5 juta rupiah. Hingga sekarang biaya listrik penduduk setiap bulan lebih kurang 50 ribu hingga 200 ribu rupiah, belum ditambah ongkos ke Waibalun / Larantuka untuk membayar rekening listrik akhir bulan.

Saya berharap bagi generasi muda untuk mampu merefleksikan lima poin ini, agar semakin hari semakin giat untuk berusaha dan semakin maju Kawaliwu tercinta. ****