Selasa, 20 Agustus 2013

SHARING INJIL TUJUH LANGKAH DI KBG ST. THERESIA KANAK-KANAK YESUS 1 PAROKI SUNGAILIAT

Tim AsIPA Paroki Sungailiat Bangka berkunjung ke KBG Sta. Theresia Kanak-Kanak Yesus 1 Paroki Sungailiat. Kunjungan itu terasa hangat. Tim disambut oleh belasan orang Fasilitator KBG Sta. Theresia di rumah Bapak Thomas Jusman, Hari Minggu, 18 Agustus 2013, pukul 18.00 wib. Kunjungan ini merupakan suatu kunjungan yang membahagiakan. Karena Fasilitator KBG ini mau menerima Tim dan sekaligus mau merasakan kebersamaan dengan Tim menjalankan Sharing Injil Tujuh Langkah, yang sedang hangat dianjurkan oleh Post Sinode II Keuskupan Pangkalpinang. 

Dalam kunjungan itu, Tim menyampaikan bahwa Sharing Injil Tujuh Langkah merupakan Sharing Yesus kepada Umat-Nya. Jadi Sharing Injil bukan hal baru dalam Gereja Katolik. Karena bukan hal baru, dan merupakan cara Yesus sendiri menyampaikan ajaran-Nya, maka KBG pun semestinya mengikuti cara Yesus ini. Supaya umat di KBG mampu mendengarkan Sabda Yesus, merenungkannya, menghayatinya dan melaksanakan misi Yesus itu dalam kehidupan sehari-hari.

Dengan pengantar singkat, kemudian dilanjutkan dengan animasi Sharing Injil Tujuh Langkah bersama Fasilitator KBG Sta. Theresia 1. Fasilitator terlihat begitu antusias mengikuti langkah demi langkah yang dipandu secara bergilir oleh Bapak Leo Agung Heriyanto dan Bapak John Djanu Rombang. Setelah tahap demi tahap dilaksanakan ternyata, Fasilitator KBG Sta. Theresia 1 mampu mengikuti dan mensharingkan pengalaman hidup yang begitu mendalam. Bahwa selama ini, KBG kami telah menjalankan Sharing Injil Tujuh Langkah, hanya pada langkah ke-6 dan ke-7 kami masih bingung dan belum paham pada langkah ini, ucap Bapak Yosef Ardiyanto Totong, ketua KBG dan Bapak Ferdinand, salah seorang Fasilitator KBG Sta. Theresia 1. Karena itu, Tim pun mencoba mempraktekan langkah ke-6 dan ke-7 dengan melibatkan Fasilitator KBG itu. 

Apa hasilnya? Ternyata mereka pun mengikutinya dengan baik dan lancar. Karena mereka pun dilibatkan dalam langkah ke-6 dan ke-7. Berpartisipasi pada langkah yang menjadi halangan bagi mereka, ternyata dilalui dengan mudah tanpa banyak pertanyaan. Bagus dan begitu indah rasanya, ucap kalimat pujian dari Bapak Yosef Ardiyanto Totong demikian. Lanjut Bapak Ardiyanto: "O...bagus sekali langkah ini. Ternyata selama ini rupanya metode ini jauh lebih membawa orang pada keheningkan dan membagikan Sharing Injil antar anggota KBG. Dan syukur bahwa sharing-sharing yang kita dengar tadi, jauh lebih meneguhkan harapan anggota KBG ketimbang kotbah yang dibawakan dalam ibadat sabda tanpa imam. Luar biasa!". KBG Sta. Theresia 1 berencana untuk mengundang lagi Tim untuk kunjung ke KBGnya untuk anggota KBGnya yang lebih banyak lagi."

Dalam kunjungan Tim itu, teks Kitab Suci yang dibacakan adalah Injil Markus, 9:33-37. Langkah ke-6, tahap Sabda Kehidupan, Fasilitator KBG Sta. Theresia 1 memilih kalimat "Menjadi Pelayan bagi sesama." Kalimat inilah yang mendorong Fasilitator KBG Sta. Theresia 1 untuk terus melayani supaya dalam nama Yesus, karya pelayanan kita semakin mengedepankan Kristus sendiri.Selamat melaksanakan Sabda Kehidupan semoga semakin semangat untuk menjadi pelayan baik untuk diri sendiri, keluarga, KBG dan Gereja Universal. ***

SAMBUT RP. BERNARDUS WINDYATMOKO, MSF DAN PISAH RP. ALOYSIUS KRISWINARTO, MSF

Pisah sebuah moment yang berharga untuk selalu dikenang. Mengapa selalu dikenang? Tentu meninggalkan sesuatu yang menjadi kenangan itu sendiri. Paling kurang ada peristiwa-peristiwa hidup yang telah menggoreskan sebuah pisah yang membahagiakan atau pun pedih. Namun peristiwa-peristiwa pedih itu akan terhapuskan bila peristiwa-peristiwa yang membahagiakan itu lebih mendominasi sebuah peristiwa hidup itu sendiri.

Peritiwa-peristiwa pedih pun akan menjadi sebuah kebahagiaan bila orang yang ditinggalkan akan selalu belajar dan terus belajar untuk menimbah peristiwa itu untuk semakin memaknai hidup itu sendiri.
 Mgr. Hilarius Moa Nurak, SVD memimpin misa serah teriama pastor Paroki Sungailiat Bangka, dari RP. Aloysius Kriswinarto, MSF kepada RP. Bernardus Windyatmoko, MSF.

Dalam Kotbah Uskup Pangkalpinang menyampaikan kepada umat Sungailiat bahwa RP. Win telah berpartisipasi secara tidak langsung kepada umat Katolik Keuskupan Pangkalpinang melalui gambar karikaturnya dalam buku Marilah Melangkah Maju Dalam Persaudaraan-Pedoman Umat Katolik Keuskupan Pangkalpinang 2000-2010. Dan kini RP. Win sendiri memberikan diri secara langsung dalam pelayanan hidupnya bagi umat Paroki Sungailiat. Jadi RP. Win bukan orang baru. Beliau orang lama, kita patut bersyukur, beliau mau hidup dan melayani kita saat ini.

 Dalam kata sambutan RP. Aloysius Kriswinarto, MSF, mengucapkan terima kasih banyak atas perhatian dan kerjasama umat yang mendukung karya pelayanannya selama lebih kurang lima tahun di Paroki Sungailiat. Kerjasama kita akan berlanjut baik dalam doa maupun dalam karya pelayanan kita. RP. Kris berkarya di Paroki Keluarga Kudus Banteng, Yogjakarta. Jika ada yang mau ke Yogjakarta, jangan lupa singgah di Paroki tempat karya saya yang baru, undang RP. Kris untuk umat Sungailiat.

 RP. Bernardus Windyatmoko, MSF, yang sering dikenak Rm. Koko kini menjadi pastor Paroki Sungailiat sejak 1 Agustus 2013. Beliau adalah seorang imam yang dikenal sebagai karikartunis di Majalah Hidup. Dengan karikartunis beliau sudah menyapa banyak umat termasuk umat Paroki Sungailiat. Kerjasama antar kita, itulah ajakannya untuk membangun Paroki Sungailiat. Semoga ke depan Gereja Paroki Sungailiat semakin maju dalam karya pelayanan bagi sesama.

Bpk. Yosep Ardiyanto Totong, wakil umat dalam kata sambutannya, beliau mengucapkan terima kasih yang berharga untuk Rm. Kris yang sudah setia dan dengan gigih berjuang untuk melayani umat Sungailiat selama lebih kurang 5 tahun (7 September 2008-1 Agustus 2013). Mudah-mudahan pelayanan Rm. Kris selalu dikenang dan membuat umat yang ditinggalkan ini semakin meneladani hidup Yesus sendiri. 
Kepada Rm. Koko (Win), beliau mengucapkan selamat datang dan selamat berkarya di Paroki Sungailiat. Umat kami terkadang unik Romo. Walau demikian, Rm. Koko harus berani merasakan kerjasama umat Sungailiat yang unik ini. 
 Dalam misa serah terima (17/8/2013), koor yang disersembahkan oleh OMK St. Aloysius Gonzaga, sangat memuaskan umat yang hadir. Komentar Pak Pie Pie, salah satu umat Sungailiat, misa kita malam ini sangat membahagiakan karena suara koor begitu bagus dan indah. Paroki kita mempunyai warna yang khas dan lain, ketika ada anak muda yang ikut berpartisipasi dalam Gereja. Apalagi, kehadiran dokter Bernadeth, yang sekarang berkarya di RS Arsani Sungailiat Bangka, yang menjadi dirigen koor OMK. Beliau peduli dan mau melayani umat khususnya OMK. Luar biasa dokter...., ungkap salah seorang umat yang tidak mau menyebut namanya. Jika setiap minggu ada koor semacam ini, mungkin Gereja Sungailiat semakin bersemangat untuk menghayati makna Ekaristi. Oh....rupanya, OMK, sebagai kelompok kategorial, semestinya menjadi "vitamin" dalam KBG, sehingga KBG itu sendiri semakin memberikan makna perwujudan sebuah Gereja secara riil di tengah kehidupan umat Katolik.

 Setelah misa serah terima Pastor Paroki yang baru, bersama umat dari 16 KBG mengadakan ramah tamah bersama bapak uskup, pastor, suster dan seluruh umat yang hadir di halaman Gereja. Pada kesempatan itu, OMK tampil lagi dengan beragam kostum budaya dan lagu-lagu daerah berdasarkan asal usul umat Katolik Sungailiat. Ada lagi dari Timur, ada lagu di Jawa, ada lagu dari Sumatera dan lebih hebat lagi OMK menyanyikan lagi Tiong Hoa. Terlihat Robert, salah seorang anak muda dari Flores, begitu susahnya menyanyikan lagu Tiong Hoa. Kesannya, seakan lidahnya bolak balik dan melengkung sana sini, tapi vokalnya terbata-bata. Wo....susah be menyanyikan lagu ini. Hebat, begitu pede Robert bersemangat menyanyikan lagu itu.

 Selain acara ramah tamah dibawakan oleh OMK, tak ketinggalan anak-anak Katolik yang selama ini bersekolah di SMP St. Maria Goretti, membawakan tarian sebagai bentuk doa yang ditarikan untuk para hadirin yang hadir. Bukan hanya itu, mereka pun melalui Ibu Veronika Sulistyowati mengajak umat yang hadir untuk ikut berdoa dalam bentuk tarian secara bersama-sama. Iya...makna Gereja Partisipatif muncul, semua anggota umat berperan dan mengambil bagian dalam karya pelayanan hidup bersama. Salut dech....Kapan-kapan bisa muncul lagi dengan beragam gerak tari. Qui Benecantat bis orat. Siapa yang bernyanyi bagus, ia berdoa dua kali. 

Diakhir acara ramah tamah, mbah Pardi, muncul dan memberikan salam kepada Rm. Kris. Entah pesan apa yang disampaikan mbah Pardi, hanya mereka berdualah yang tahu. Tuhan hanya menyaksikan saja. Namun yang jelas, mbah Pardi mengucapkan terima kasih atas pelayanan Romo Kris dan secara khusus berdoa untuk keluarga beliau. 

Rupanya, cinta Tuhan selalu bersemi dalam hati setiap orang. Orang tergerak untuk berkarya hanya karena cinta Yesus itu. Cintalah yang mempertemukan kita semua dalam beragam bahasa, cara berpikir dan cara pandang. Cintalah yang menyatukan berbagai orang dengan latar belakang yang berbeda-beda. Namun jauh dari itu, cinta pulalah yang menghidupkan semua orang yang percaya kepada Kristus untuk tetap mencintai Allah dalam mencintai sesama. Mat jalan Rm. Kris, semoga tetap semangat berkarya dan melayani umat di Paroki Banteng, Yogjakarta. Salam harmoni untuk communio. ***