Jumat, 17 September 2010

CERPEN


MENGENDUS JEJAK ANGEL YANG LARA
oleh: Alfons Liwun


Jarum jam dindingku terus berdetak. Sahabat-sahabat di kamar sebelahku lelap tertidur pulas karena keseharian pontang panting merajut nasib. Entah mimpi apa gerangan mereka. Namun terdengar dari kejauhan suara binatang malam yang dari tadi terus mendendangkan mazmur pujian bagi Sang Khaliknya. Oh…, begitu indahnya, tarik suara di gelap gulita, bisik hati kecilku untuk ingin terus mendengarkannya.  

Aku berdiam sejenak. Meresapkan alunan musik jagat itu bersama seluruh pengalaman hidup siang tadi yang duka lara atas kepergiaan untuk selama-lamanya, Paus Yohanes Paulus II, Pemegang Takhta Petrus Gereja Katolik. Terhanyut, seakan menepis pada hulu yang sedang mendendangkan pujian itu. Dalam keheningan syaldhu, gejolak jiwa hatiku seolah bangkit menyatakan sesuatu. Kubiarkan… sekali lagi, kubiarkan mengalir terus, semakin cepat hingga bergeming pada rasa untuk meneruskan pada akal yang mampu menterjemahkan arti sesuatu itu.

Aku diam lagi. Mengalir dalam akalku sebuah lukisan berciri khas parasnya cantik, putih, kurus, tinggi, sebahu rambutnya, mancung hidungnya, dan lesung pipinya. Aku tersentak kaget dan terpukau. Rasa-rasanya aku kenal si gadis ini. Kuurut keningku sembari mengingat siapa sebenarnya dara manis itu. Sejenak aku tertegun, kemudian mengangguk-angguk.Kukenang semakin jauh dan sekali lagi terhanyut di tepian sebuah kenangan yang manis. Kutemui dia, si gadis manis sedang menyesal, rambutnya yang lurus terurai rapih kini, kusam tak terawat. Parasnya yang dulu mulus, sekarang tumbuh jerawat-jerawat cinta yang bagaikan cendawan di musim hujan.

“Angel…, kenapa kamu sampai begitu”, tanyaku sedikit mencari tahu. Angel diam-tak menggubris sepatah katapun. Sekali lagi kutanya Angel. “Ngel…, kenapa kamu senyap?” Angel menyibakkan helai-helai rambutnya dan muncullah secuil senyum cantik yang menghiasi bibir mungilnya. Seolah-olah mengekspresikan tidak ada masalah apa pun.

“Pak…, Angel lagi mikirin masa depan. Angel sudah tidak sekolah lagi. Sudah keluar dari SMA Negeri itu. Karena Angel nyesal, sekolah itu tidak disiplin, sarana tidak mencukupi kurikulum yang ada sekarang.” Aku diam dan terus merenung. Aku kembali menatap dalam wajahnya, membaca ekspresi jiwa penyesalannya. “Pak…, selain itu, Angel merasa sekolah ini pun tidak akan membantu saya di masa depan. Lihatlah…, banyak anak disini!, tambahnya.

Kuamati lagi wajahnya yang polos dan dengan gaya bahasa khas orang pulau, sekali lagi Angel bergeming, “Jike pak pergi, kemanekah kami harus mengadu?.”Aku diam, kaget! Hatiku luluh, kedua bola mataku terasa berat untuk menatapnya lagi. “Pak… Angel tanya, jawablah Angel dengan sejujurnya. “Pak, mau pindah ya…?” Dalam kebingungan aku tetap diam. Tetapi dalam hatiku, menyatakan sebuah penegasan. Rupanya Angel sudah tahu akan pemindahanku di tempat kerja yang baru. Aku pura-pura kaget! Dan untuk menghilangkan muncul pertanyaan yang lain dan kesedihan hatinya, kuajaknya untuk berdialog.

“Angel…, sudah saatnya juga pak harus pindah. Pertemuan dan kebersamaan kita, telah mengukir sebuah buku kehidupan. Temu dan pisah adalah hal yang biasa. Tetapi satu hal pasti, pak selalu kenang Angel, ketika kebersamaan kita di sekolah, di Gereja di saat Angel melantunkan mazmur, di saat kita latihan THS-THM, dan di saat kita berkunjung ke pulau-pulau lain.” Rasanya berat untuk mengingat semuanya. Sejenak, kami berdiam. “Angel…, maukah pak pindah?”, lanjutku.

Dengan ekspresi yang sulit kubaca, terlihat parasnya yang sangat lain, kulitnya yang putih serentak memerah. “Pak…, Angel tak punya apa-apa untuk dibawa dan dikenang, Angel hanya minta satu hal ini. “Pak… harus ingat Angel dan teman-teman Angel yang lain. Angel… tetap mengharapkan pak di pulau!”, katanya. “Pak, dengarkah suara Angel?” tambahnya. Hatiku duk-dak, bibirku gemetaran mau kata apa lagi pada Angel. Aku hanya mengangguk dan mengangguk.“Sudahlah Angel! Pak akan mendoakanmu dan teman-teman Angel”, dengan ekspresi seadanya, aku menyakinkannya.

Aku sadar, tercengang melihat detak jarum panjang jam yang menunjukan pukul 03.15 dini hari. Aku perlahan beranjak ke pembaringan dengan sejuta harapan agar Angel dan teman-temannya selalu mengenang kebersamaan selama di Pulau Tujuh. Dalam kegelapan kamar, aku bukannya langsung terlelap. Namun, pikiran dan perasaanku masih terbawa oleh pengalaman pertemuan tadi. Aku berusaha sekuat tenaga untuk mengatup mataku. Tetapi apalah saya, satu demi satu seberkas pengalaman kebersamaan pengalir dalam ingatan. Bahwa kami telah bersama membangun kelompok kaum muda dengan sarana THS-THM, Pencinta Alam, majalah dinding di pastoran, pengadaan Radio FM yang diberi nama “Lumen FM 96 MHz, Kesebelasan Sepak Bola, Keenaman Volley Ball, dan Basket Ball. Juga terlintas dalam anganku, kebersamaan kami membentuk kelompok belajar di pastoran, bersama-sama memperjuangkan “peraturan poin” di Dinas Pendidikan Siantan, saat-saat kemah Pramuka bersama, dan sebagainya, dan sebagainya. Akhirnya seluruh pengalaman kebersamaan terbawa dalam kalbu bersama mazmur pujian semesta.

Keesokkan harinya, ketika fajar mulai mekar menyelimuti jagat, kala itu jam 06.30, terasa getaran MC HP, seakan membangunkan aku dari pembaringan. Aku perlahan mengangkat HP disamping lalu mengamatinya, terbaca panggilan tak terjawab. Aku ingin mencaritahu siapa gerangan itu. Kubuka hanya tercatat nomor pribadi. Aku bertanya dalam hatiku. Betulkah, kamu muridku dari seberang sana? Aku mengamati sekali lagi HP. Lampu berwarna ungu disampingnya mengisyaratkan ada SMS yang masuk. Sambil meluruskan posisi badan, aku membuka dan membacanya. Ternyata ada dua pesan pendek dari nomor yang berbeda. Dari nomor: 081636383XX: “Pak mulai hari ini, Angel kerja jaga wartel Flamboyan KUD, Jl. Ponogoro No. 87 Terempa Siantan”. Aku tercengang dan mengangguk-angguk begitu dalam, sambil kutatap langit biru yang begitu jauh dari balik jendelaku yang usang. Dan pada nomor berikutnya 085667041XX: “Pak, rindu ga ama kami? Sejak Pak pergi, hati kami rasa sepi. Sepi semuanya…termasuk paskah tahun ini!” Sekali lagi kurenung, teringat lagi paras Angel Laura, yang namanya sering disebut-sebut dalam suara Radio Lumen FM 96 MHz. 

Aku hanya diam seribu bahasa. Tetapi, satu hal yang pasti, biarpun selaksa seruan dan nada sedih datang dari seberang, pada akhirnya aku hanya memadukan semuanya itu dalam semangat perjalanan hidupku. Aku hanya menjerit dalam nada doaku: “Terpujilah Engkau, Tuhan, karena besar kasih setia-Mu, kami selalu berjumpa kapan dan dimana saja. Amin!” 

Kupersembahkan cerpen ini buat Angel dan teman-temannya 
Di Terempa, Air Sena, dan Mengkait - Kepulauan Anambas – Natuna. 
Dari sahabatmu 
*). al***

CERPEN


SEPENGGAL KISAH BUATMU DIULTAHMU...
oleh: Alfons Liwun
Senja kian beranjak malam, seiring dengan jarum jam di dinding teras itu. Dentuman mesin tua di bengkel melengking, seakan sedang menanjak bukit batu dihadapannya. Beberapa insan yang bekerja di situ mulai mudik, entah kemana. Bunga-bunga di tepi teras berdangdut ria, perlahan menghantar kepergian para pemudik yang keseharian beraktivitas. Dedaunan bambu bersorak-sorak seolah-olah menjemput kehadiran Rio yang sedang keluar dari panther tumpangannya. Takkala, di sudut kiri taman itu, berdiri tegak arca beato Damian, menebarkan cinta tanpa pamrinya kepada setiap tamu entah itu pengunjung maupun hadirin pada setiap kali ada pertemuan. Dalam kebisuaannya, ia menghitung-hitung para pengunjung yang datang dan pergi dari wisma itu.

“Mungkinkah Bernadett, gadis mungil berambut sebahu, yang lagi senyum imut-imutan itu berkeinginan untuk meneruskan roh beato Damian?”, geming Rio dalam benaknya. “Ah…! Tidak mungkin. Karena saat ini, dara manis itu lagi penasaran untuk menjadi seorang pejuang keadilan gender,” lanjut Rio, sambil menapaki satu demi satu tangga pendopo itu.

Suasana Puri senja itu riuh. Rio sejenak tertegun, mengamati alam sekitarnya. “Kenapa ya…, kok keadaannya lain kali!”, bisiknya kepada penjaga meja chek in tamu. “Oh…tidak, biasalah!”, respon Ria dengan secuil senyumnya. Jawab Rio hanya mengangguk-angguk. Namun, respon Ria membuatnya penuh tanya; dan untuk menepis setiap lamunan yang berbaur gender, ia mengotak-ngatik tust HP yang digenggamnya, sambil berjalan menuju kamar yang sudah disiapkan panitia.

Rio berbaring sejenak. Mencoba melemaskan saraf-saraf badan, untuk menghilangkan rasa penat karena lelah duduk dalam panther. Rio mencoba untuk membangkitkan berbagai realita hidup yang pernah dialaminya. Helai demi helai sampul kalbu terbuka. Berbagai tokoh perkasa muncul. Tokoh ‘bapa’ yang lebih banyak menguasai sanubari. Tokoh ‘ibu’ yang seharusnya lebih dekat tetapi hanya bercahaya redup. Sepenggal tanya terberesit dalam benak Rio. “Mampukah engkau mengimbangi soko guru yang masih redup?” Penggalan tanya ini terus mengiang dalam batin, dan sekaligus modal utama Rio untuk mengikuti pelatihan gender yang diselenggarakan atas kerjasama Sekpas dan JMP KWI.

Ruang itu penuh guyon dan senyum ceriah pemerhati gender. Sebuah mimpi untuk mengimbangi soko guru dalam batin Rio mulai menebar. Pasang surut menginterior nilai baru kandas pada tepian dinding sukma. Batin yang selama ini dikuasai ‘bapa’ seakan-akan surut. Sedang dalam pergulatan batin, Rio menatap gadis manis di sebelahnya yang begitu sibuk mencatat satu demi satu apa yang didengarnya. Keningnya mengkerut, pipinya memerah, rambutnya jatuh semampai di depannya, jari jemarinya gemetaran, karena kesal menjawabi perintah ‘bapa’. Pergulatannya bukan membatini namun mencatat dan mencatat demi tugas yang diberikan. “Oh…bapa, sampai kapankah engkau larut dalam hatiku?, Untunglah dia masih loyal pada ‘bapa’, “ gerutu Rio dalam benaknya. “Ia taat, setia, mungkin juga sampai mati”, guyon Rio dalam kepalanya. “Apakah kesetiaan, ketaatan dan loyalitasnya merupakan sebuah tanggungjawabnya dengan nurani yang bening?,” lanjut Rio dalam permenungannya. 

Rutinitas kegiatan pun terus mengalir. Waktunya berdiskusi. Alam Puri begitu cerah mempesona, memberikan kehangatan bagi kelompok Bernadett yang sedang asyik berdiskusi di teras depan Puri. Rio ingat betul akan teks yang diberikan tim untuk didiskusikan. Tim menginstruksikan supaya teks Kejadian 2:18-25, dibaca dan berusaha menangkap isi teks berdasarkan konteks ‘gender’. Namun apalah daya, peserta tetap mengikuti apa yang pernah mereka dengar dan diajarkan pada masa silam. Bahkan tetap berpendirian bahwa teks itu tidak boleh dibolakbalik lagi. Harus tetap seperti itu. Catatan-catatan kritis berbau “patriliniar” yang diberikan beberapa kaum pria pun ditolak. Entah kenapa, yang penting kita tetap mengikuti isi teks Kitab Suci, jawab suara terbanyak saat itu. “Tidak jadi soal, yang terpenting kita tetap maju untuk berjuang,”cetus Rio dalam benaknya. Tanda untuk kembali berkumpul pun berdering. Semua kelompok sibuk ke ruang pertemuaan itu. Suasana pleno penuh bersaudaraan. Tidak ada persoalan tajam yang ditonjolkan saat itu. Pertemuan itu, diakhiri dengan pemetaan jadwal dan rencana untuk dilaksanakan di setiap tempat kerja. 

Suasana kebersamaan ini ternyata mencapai titik kulminasi berkelanjutan. Awan gemawan yang kian berarak dari ufuk timur sana, tak pernah bertepi. Entah kemana, tapi persisnya sesuai dengan arah hembusan angin saat itu. Gumpulan awan perlahan-lahan bergerak, meninggalkan lazuardi biru yang memayungi atap wartel Palupi. Langit cerah, secerah paras Bernadet bersama sahabatnya yang sedang asyik memecahkan persoalan baru. Rio dengan gaya elegan perlahan-lahan memasuki ruangan itu. Ekspresi kebersamaan dengan saling bersalaman pun muncul. Suasana jadi lain. Problem yang dihadapi tuntas dibahas bersama. Acara kembali ditutup dengan makan bersama yang telah disiapkan. Rasa-rasanya suasana keakraban itu begitu singkat. Ya…, maklumlah hari istirahat satu-satunya dalam sepekan. Kami semua bubar ke rumah masing-masing.

Bagi Rio, masih ada banyak waktu untuk mengelilingi kota tua serumpun sebalai. Menikmati kota tua dikala rintik-rintik itu memang membahagiakan. Kesibukan lalu tintas pun berkurang. Hiruk pikuk pedagang nampak begitu mengasyikan. Pedagang kaki lima, begitu istimewa menunjukan satu wajah lama dari kelas bawah. Burung-burung walet begitu gembira melayang-layang di udara. Dalam suasana yang membahagiakan itu, Asah sahabat Rio yang mengikutinya mengajak untuk menikmati suasara TB. Gramedia.

“Ayo…bang, kita mampir dulu di toko buku itu.” Kami pun berteduh di sana. Suasana yang mempesonakan dengan banyak alternatif yang ditawarkan Gramedia, tidak membuat kami luluh untuk bertahan lama. Kami keluar lagi untuk mencari kendaraan pulang. “Mat sore… hati-hati ya dalam perjalanan,” pesan SMS dara manis dari seberang sana. “Oh…Bernardett terima kasih atas hatimu…, bisik Rio dalam permenungan menuju kota sepintu sedulang. “Memang…kamu layak jadi sahabatku,” geming Rio lagi. Dengan perhatian yang begitu mengasyikan itu, suasana hati Rio jadi lain. Bahkan bukan hanya itu saja, dalam perjalanan waktu, relasi kami tetap dibangunkan supaya tidak menghilangkan semangat perjuangan awal.

Pengalaman hidup dalam kebersamaan itu, memang sulit untuk ditinggalin. Pasti ada yang menjadi materai yang melewat dalam batin. Materai kebersamaan salah satu sisi manusiawi. Mungkinkah hal ini tetap dan terus untuk membangun kebersamaan? Ya… berjalan proses waktu dan kejujuran hati untuk mengakui. Dapatkah materai kebersamaan manusiawi menjadi sebuah kerinduan yang kian memanggil manusia untuk berjumpa dan membangun persaudaraan sejati? Bila masih mungkin, tetap akan berjumpa!

Disaat-saat kebahagian dan kegembiraan yang kita alami itu, satu fragmen hidup yang berpangkal dari kehadiran manusia adalah hari dan tanggal kelahiran. Suatu kebahagian yang menghadirkan dunia tangis dan senyum. Suatu mata rantai kebersamaan untuk disatupadukan. Suatu peristiwa yang mengagumkan untuk memperoleh perjuangan, karunia, dan berkat berlimpah dari Tuhan. Bersama kegembiraan dan kebersamaan kita, walau terbentang suatu garis linear yang panjang, tapi Rio menetap mengukir dalam sanubari akan kehadiran dan perjumpaan kita. Untuk itu semua, Rio dengan tulus ikhlas mengucapkan "SELAMAT ULANG TAHUN BERNARDETT… SEMOGA KIAN SUKSES!” (**al**)