Tampilkan postingan dengan label THS-THM Indonesia. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label THS-THM Indonesia. Tampilkan semua postingan

Jumat, 06 Februari 2015

Tunggal Hati Seminari (THS) - Tunggal Hati Maria (THM):



(sebuah catatan kritis terhadap tulisan Mas Bambang Harsono tentang:
DEMO (Pertunjukan) sebagai sarana Promosi THS-THM)

Tulisan saya ini sebatas ulasan pribadi yang bertolak dari pengalaman yang sedikit yang saya miliki. Selain sebagai ulasan pribadi, juga saya berharap tulisan kecil saya dapat menjadi pelengkap untuk sesama anggota THS-THM dimana pun kita berada. Juga untuk menjawabi tulisan yang cukup mengagumkan dari ulasan Mas Bambang. Saya memulai ulasan kritis saya ini sebagai berikut.

A.  Secuil Pengalaman Kecil dari Kepulauan Anambas:
Pengalaman pribadi menjadi anggota THS-THM adalah sebuah pengalaman pribadi yang bagi saya sulit untuk dibagikan kepada orang lain. Mungkin ini alasan soal pribadi yang tidak pede karena penampilan saya yang bukan seperti seorang pesilat dan olaragawan, merasa belum banyak tahu, kurang percaya diri, takut dibilang sombong, takut dikatakan pengacau, dan lain-lain. Karena dengan alasan ini, saya pun secara pribadi ‘diam-diam’ saja seakan merasa belum tahu dan seolah-olah tidak peduli.

Saya datang ke Anambas, tepatnya di Tarempa bulan Februari 2001. Sebagai guru Agama Katolik baru, saya melihat bahwa setiap sore, anak-anak entah Katolik atau bukan Katolik mengikuti latihan berbagai perguruan silat dan karate. Waktu itu ada perguruan silat (baju putih), ada perisai diri (baju merah), ada silat melayu (baju hitam), ada taekwando (baju putih), ada inkaai (baju hitam) dan lain-lain ada di Tarempa-Anambas. Suatu sore, saya mengunjungi seorang anak SMP kelas I, namanya Ferdi, salah satu anak Katolik. Ketika saya sampai di rumah, saya melihat dia memakai baju putih dan celana putih-iya...pakaian silat. Saya tanya kepada dia, kamu ikut beladirinya? Dia jawab: iya pak. Sudah berapa tahun? Dia jawab lagi: lebih kurang tahun ketiga. Dalam hati saya, hebat sekali anak ini. Saya tanya lagi, memangnya siapa yang suruh kamu ikut latihan? Dia menjawab: orangtua saya. Kata orangtua, di pulau ini banyak beladiri, kamu juga harus ikut latihan, biar untuk menjaga diri. Saya pun hanya menjawab: o...baguslah, kalau didukung oleh orangtua!

Lewat beberapa bulan, Ferdi setiap sore main di pastoran. Kebetulan, di samping pastoran itu, ada rumah keluarganya. Dalam obrolan di pastoran itu, saya menggali banyak hal soal latihan silat yang dia geluti dan secara sengaja saya menggali pengalaman-pengalaman perguruan lain dan seluk beluk latihannya. Tanpa sadar, saya katakan kepada Ferdi, mengapa kalian tidak latihan saja di pastoran? Ferdi itu menjawab: pak, juga mau ikut latihan ya? Akhirnya saya menjawab: ajak aja beberapa temanmu untuk latihan saja di pastoran. Bawa teman-temanmu yang Katolik. Lewat beberapa minggu, Ferdi datang membawa tiga orang (2 katolik dan 1 budha). Pak, ini teman saya, satu Katolik dan satu Budha, mereka mau latihan disini.

Kesempatan inilah saya pakai untuk mengobrol dengan mereka soal beladiri. Saya dengan tegas katakan kepada mereka bahwa di Gereja kita punya beladiri Katolik namanya THS-THM. THS untuk laki-laki dan THM untuk perempuan. Mereka terkejut sekali. Mereka sepakat untuk mau ikut latihan saja di Gereja. Mereka berjanji akan menyampaikan kepada teman-teman Katolik yang lain untuk datang ikut latihan di pastoran. Hari Jumat waktu itu, Ferdi berhasil mengumpulkan sepuruh anak muda Katolik. Jumat sore, mulai pembukaan latihan. Saya ingat waktu itu, ada enam anak laki-laki dan empat perempuan yang datang ikut latihan. Selanjutnya mereka minta latihan seminggu dua kali. Acara latihan dimulai dengan kami duduk melingkar, berdoa-baca Kitab Suci, organisasi: saya menginformasikan tentang THS-THM, dan kemudian latihan fisik, lalu ada rekreasi berupa evaluasi dan sharing pengalaman dari sepuruh peserta latihan, dan ditutup dengan doa penutup.

Saya mencatat secara khusus sampai sekarang dalam hal evaluasi dan sharing dari kesepuluh anak muda ini. Pertama, mereka kagum bahwa di Gereja Katolik ada beladiri Katolik, ini tidak ditemukan dalam agama lain. Kedua, acara latihan mulai dengan doa dan baca Kitab Suci, lalu latihan fisik dan ditutup dengan doa lagi, mereka merasakan ada sesuatu yang baru. Ketiga, salam THS-THM. Mereka mencatat sebagai sebuah nilai untuk membangun keakraban dan persaudaraan diantara mereka. Keempat, latihan fisik dinilai mereka sebagai sebuah latihan yang berat tetapi berdaya guna untuk kesehatan dan pelenturan fisik. Mungkin karena mereka masih muda dan masih segar. Kelima, mereka menemukan ada banyak ilmu: soal Kitab Suci, doa, persaudaraan-keakraban, tekun dan berprinsip, keberanian, dan taat serta setia.

B.   Pendadaran Perdana
Karena saya waktu itu, berkas-berkas THS-THM sangat minim didapat, maka saya menetapkan bahwa setelah satu tahun baru ikut pendadaran pertama. Pendadaran saya minta mereka selama tiga hari libur sekolah. Pendadaran di pastoran dengan cara berkemah. Hebatnya, segala urusan pendadaran dan perlengkapan pendadaran, disiapkan oleh mereka. Saya waktu itu, muncul sikap rasa bangga. Karena mereka mulai berinisiatip dan mau taat dan setia ikut serta mau bekerja.

Urusan makan minum dan segala perlengkapan lain, mereka sendiri. Peserta yang ikut hanya lima orang saja. Saya bilang kepada mereka, walau lima orang saja, tetap ikut pendadaran. Proses acara dan latihan serta kegiatan pendadaran, saya berunding dengan Ferdi. Inti dari Pendadaran Perdana: Doa-Kitab Suci, Organisasi, Latihan Fisik, Permainan dalam Rekreasi (saya minta semua peserta menyiapkan satu permainan). Akhir dari pendadaran, kami ibadat bersama dan membuat evaluasi dan refleksi bersama. Mereka kelima peserta merasa terharu dan menangis, ketika acara terakhir saya membasuh kaki mereka. Acara membasuh kaki mereka, saya akalin dengan tidak masuk dalam rangkaian acara. Dari evaluasi pendadaran pertama ini, saya menemukan bahwa kelima orang ini, benar-benar matang dalam cara berpikir, tegas dalam prinsip dan berani dalam berbicara dan siap menjadi aktivis di Gereja kapan saja. Saya pun merasa terharu dengan komitmen mereka karena komitmen yang sudah mereka tuliskan itu mereka serahkan dibawah kaki Bunda Maria di gua Maria. Dan hal-hal buruk mereka, mereka bakar sendiri di depan gua Maria.

C.  Demo Kegiatan THS-THM
Selama melatih anggota THS-THM di Anambas, jujur bahwa soal ‘demo’ atau peragaan kegiatan THS-THM, saya justru tidak suka. Alasan jelas, seperti yang sudah saya berikan pada awal catatan tadi. Karena itu, yang namanya ‘demo’ atau peragaan kegiatan THS-THM, saya selalu menghindarinya. Namun, suatu hari saat itu, saya ulang tahun, pas dengan hari latihan, anggota THS-THM meminta saya untuk mengisi acara rekreasi setelah latihan. Saya jawab: saya tidak mau. Anggota THS-THM pun protes. Kata mereka, tidak bisa tolak pak, inikan organisasi.

Wah, ketika saya diprotes, saya malahan kelabakan. Karena saya kebingungan, anggota memberikan alternatif kepada saya: pertama, pak harus menunjukan kombinasi jurus menjadi ciri khas saya. Kedua, jika pak tidak menunjukkan, kami semua anggota akan melempar pak dengan telur busuk. Ketika mendengar begitu, saya tambah kebingungan. Mana tidak bingung, entah siapa yang menggerakan, saya terkejut anggota THS-THM itu dari rumah sudah membawa telur busuk masing-masing.

Saya kemudian meminta mereka untuk hening sejenak. Saya kemudian memutuskan untuk memilih alternatif kedua, dengan syarat, bahwa boleh melempar saya dengan telur busuk, asalkan saya berdiri di tengah barisan, lalu tiap-tiap mereka melempar telur busuk dari tempat masing-masing. Mereka menjawab begitu, sangat gembira. Saya katakan, tiap-tiap orang melempar dengan bergilir, berurutan. Mereka berunding, lalu mulai lempar. Sangat mengejutkan kepada mereka adalah dari duapuluh telur busuk yang kena ke badan saya, hanya satu yang pecah di badan saya. Yang lain, tidak pecah malahan pecah ketika jatuh di tanah.

Setelah acara pelemparan telur busuk itu selesai, maka muncul banyak spekulasi ini dan itulah. Saya hanya katakan bahwa, kesalahan kalian adalah melempar dengan ketakutan. Sehingga telurnya tidak pecah dibadan saya. Yang pecah dibadan saya itu, saya yakin orang yang melemparkannya itu, dia tidak berada dalam sikap yang emosional. Rupanya dugaan saya benar ketika saya menanyakan hal itu.

D.  Keanggotaan menjadi Banyak dan Meluas ke Non Katolik
Melalui lima orang pendadaran pertama, muncul banyak anak-anak SD, SMP dan SMA untuk mendaftarkan diri menjadi peserta. Aneh lagi, bukan hanya anak Katolik tetapi juga non Katolik (Budha), sedangkan dari anak-anak Islam yang mau saya secara pribadi tidak menerima. Cara saya tidak menerima anak-anak ini, saya panggil secara pribadi lalu saya menjelaskan kepadanya. Karena anak-anak ini adalah murid saya di sekolah maka mereka pun mengerti. Hanya mereka minta ijin kepada saya bahwa setiap kali latihan, mereka mau datang menonton. Saya katakan: iya, gak apa-apa kalau menonton.

Karena anggotanya semakin banyak, saya mulai membagi waktu untuk membuat pelatihan. Rencana seminggu dua kali untuk latihan itu saya bagi menjadi: latihan pertama untuk yang sudah pendadaran (tingkat 1) dan latihan kedua (pemula) bagi anggota baru. Sudah semakin banyak anak-anak yang ikut latihan maka saya percayakan yang sudah ikut pendadaran memberikan pelatihan. Ketika mereka memberikan latihan, saya selalu mendampingi mereka. Proses ini berjalan hingga empat setengah tahun. Di tahun ketiga, saya membentuk mereka (pendadaran kedua sampai keempat yang terselektif melalui pendadaran ulang) menjadi sebuah Tim. Waktu itu hampir lebih kurang belasan anak-anak muda. Tim belasan anak muda inilah, yang beberapa kali kemudian diundang oleh bapak asrama untuk memberikan pendadaran di asrama Batu Kucing, Tanjungpinang.

E.   Promosi THS-THM:
Saya merasa bangga ketika membaca tulisan Mas Bambang Harsono tentang ‘DEMO (Pertunjukan) sebagai sarana Promosi THS-THM’ Kebanggaan saya itu mempunyai dua alasan. Pertama, cara promosi yang disampaikan Mas Bambang Harsono, sangat tepat sekali. Karena sekarang sudah banyak media promosi. Ada banyak media promosi yang dicatat Mas Bambang Harsono itu, hemat saya tidak banyak media yang sulit kita masuk untuk mempromosikan THS-THM, apalagi kalau didengar bahwa dari Gereja. Juga kalau jadi masuk promosi, muncul lagi soal biaya, dan lain-lain. Kedua, promosi yang ditulis Mas Bambang sudah memiliki tujuan yang jelas. Ini sangat positif sekali.

Dari ulasan Mas Bambang soal promosi dengan tujuan dan bahan promosi yang disampaikan itu, saya sangat setuju. Karena, bagaimana pun juga itu merupakan daya tarik bagi orang supaya semakin banyak anggota atau peserta. Muncul pertanyaan yang menggelitik dihati saya: promosi mau mencari banyak anggota atau peserta ataukah mau supaya peserta atau anggota yang sudah ada itu, ditingkatkan kualitasnya, sehingga kualitas yang peserta atau anggota dapat itu menjadi nilai plus untuk menjadi bahan promosi? Ada banyak anggota atau peserta THS-THM tetapi kualitas yang dibangun dan diberikan itu, tidak atau kurang cukup, bisa saja peserta atau anggota THS-THM itu menjadi perusuh atau perusak dalam organisasi (mohon maaf jika hal ini kurang berkenan).

Saya lebih setuju lagi jika, promosi THS-THM secara internal. Promosi ini dapat menjadi sarana promosi yang bagus, kalau peserta atau anggota THS-THM memiliki ciri-ciri dan karakter kepribadian yang handel. Karakter yang handal, yang saya maksudkan disini: orang yang: setia, taat, tekun, inisiatip, kreatif, giat, ulet, berani berjuang, berani mengendalikan emosional, tidak gampang terpengaruh, kritis dan mau bekerjasama, tidak putus asa, rajin berdoa dan tekun baca Kitab Suci, merasa memiliki, mampu menyelesaikan masalah pribadi dan komunal, pola hidup sehat secara fisik, dan lain-lain. Kalau karakter ini sudah dimiliki maka nilai plus promosi dapat berjalan tanpa kita sadari.

F.   Penutup
Akhir kata, saya mohon maaf, jika ulasan singkat ini, tidak berkenan bagi semua anggota THS-THM yang membacakannya. Saya mengucapkan terima kasih kepada Mas Bambang atas tulisannya. Terima kasih juga kepada teman-teman anggota THS-THM yang sudah memberikan masukannya kepada Mas Bambang Harsono. Mudah-mudahan, catatan saya ini menambah bahan untuk kita refleksikan secara pribadi. Mungkin ada banyak juga, kita menyelami lebih dalam dari motto THS-THM: fortiter in re, suaviter in modo. Semoga Tuhan Yesus dan Bunda Maria, memberkati kita semua. Salam. ***

Sabtu, 31 Januari 2015

Refleksi pribadi atas Tulisan Bambang Harsono tentang doa Singkat THS-THM



Isi tulisan Mas Bambang Harsono:
Saya kutip kembali isi tulisan Mas Bambang Harsono berikut ini: DOA HORMAT THS-THM. Manakah yang benar mengenai doa singkat saat melakukan hormat organisasi?Doa-1:"Seluruh bumi, langit dan alam seisinya, kupersembahkan kepadaMu, Allah Tritunggal Maha Kudus, yang bersernayarn dan kupertahankan dalam hatiku".ataukah ini:Doa-2:“Terpujilah Allah Tritunggal Maha Kudus, bersemayam dalam hatiku, akan kupertahankan selalu”.Mohon pencerahannya…. Shalom.... Gloria....

Tahukah kita dasar kedua doa ini?
Ketika saya membaca kedua doa yang ditulis Mas Bambang Harsono di link FB Keluarga Besar THS-THM, jujur bahwa saya kembali disadarkan untuk menyimak lebih baik dan dalam dari kedua doa tersebut dengan mengajukan pertanyaan ini. Alfons Liwun: adakah dasar dari kedua doa ini? Lewat beberapa menit kemudian Mas Bambang Harsonomenjawab kepada saya demikian: saya kurang tau pasti kak Alfons... mungkin seperti Aku Percaya bentuk panjang dan bentuk pendek.... doa hormat ini seperti "chant" fungsinya....

Dokumen Pendadaran II di Ritapiret
Sambil saya membaca dan kemudian merenungkan beberapa jawaban lain dari saudara-saudariku, rupanya ada dua hal pokok yang muncul didalam diri saya. Kedua hal pokok itu, antara lain. Pertama, orang menerima doa yang diajarkan namun lupa untuk membaca, merenungkan, dan membandingkan dengan ‘tata gerak’ dari doa tersebut. Kedua, adakah dasar yang terdalam dari penjelasan Dewan Pendiri (DP) pernah dibuat dalam bentuk tulisan cetak entah dalam bentuk buku atau manukrip lainnya yang bisa menjadi dasar tertulis sehingga dalam pelaksanaannya, tidak melenceng jauh dari dasar doa yang diajarkan itu.

Refleksi Pribadi atas kedua doa yang ditulis Mas Bambang Harsono
Pengalaman pribadi ketika mengikuti latihan dari Tim Rm. M. Hadi S, tidak salah pada tanggal 2-6 Mei 1993 di Seminari Hokeng. Ketika itu, yang pertama kali diajarkan adalah ‘tata gerak’ tubuh. Dalam doa singkat saat melakukan hormat pada awal latihan:

a.    Peserta diajak berdiri siap –berdiri tegak dengan kedua tangan mengapit kedua sisi tubuh kiri-kanan.
b.    Kedua tangan kiri kanan terentang selurus bahu dengan telapak tangan menghadap ke bawah-ke bumi.
c.    Kedua telapak tangan dibalik ke atas-menghadap langit,
d.   Digerakkan secara perlahan-lahan, sampai kedua telapak tangan bertemu-berdiri tegak lurus badan.
e.    Setelah kedua telapak tangan bertemu lalu digerakkan perlahan-lahan turun sampai di kepala sudah membentuk ‘burung merpati’ dengan cara: ibu jari kanan mengatup dan ditutupi oleh kedua jari kelingking dan jari manis, sedangkan jari telunjuk dan jari tengah tetap berdiri, disanggah dengan telapak tangan kiri pas di atas pergelangan tangan kanan.
f.     Gerakan kedua tangan tadi yang sudah membentuk ‘burung merpati’ ditarik perlahan-lahan turun sampai di dada.
g.    Setelah itu kedua tangan kiri-kanan kembali mengambil sikap siap semula.

dokumen Ritapiret Pendadaran II photo di Gua Maria Fatima, Lela
Setelah tata ‘gerak tubuh’ ini diajarkan baru kemudian diajarkan bahwa ‘gerak tubuh’ tadi diikuti dengan sebuah doa.  Pertanyaannya disini: apa doanya? Doa yang saya ingat waktu itu dan sampai sekarang saya masih pakai ialah ‘wahai bumi langit, bersatulah pada Allah Tritunggal Mahakudus, bersemayam didalam hatiku dan kupertahankan seumur hidupku.’Lalu, jika doa ini diintegrasikan di dalam gerak ‘tata tubuh’ tadi maka menjadi: ‘wahai bumi’ (poin ‘b’), langit (poin ‘c’), bersatulah pada Allah Tritunggal Mahakudus (poin ‘d’), bersemayam didalam hatiku dan kupertahankan seumur hidupku (poin ‘e’ dan ‘f’). Gerakan doa di dalam hati yang diintegrasikan dalam gerak ‘tata tubuh’ ini dilakukan oleh setiap peserta dengan sikap ‘diam’. Sampai disini, sebenarnya apa maksud terdalam dari ‘doa dalam diam yang diintegrasikan dengan gerak ‘tata tubuh’ pun dalam diam?

Makna Doa dan Gerak ‘Tata Tubuh’ (bdk. Mazmur 8)
Aksi Nyata anggota THS Menanam pohon coklat di Mengkait
Refleksi doa dan gerek ‘tata tubuh’ dalam THS-THM, saya membandingkannya dengan doa dalam Mazmur 8. Jika kita membaca dan merenungkan dengan baik-baik, perlahan-lahan terhadap Mazmur 8 ini, sebenarnya bahwa ada hal yang sangat esensial didalam gerak ‘tata tubuh’ dan doa dalam THS-THM kita. Esensinya demikian: Allah Tritunggal Mahakudus telah menciptakan semua alam raya: makhluk human dan infrahuman. Makhluk human dan infrahuman ini selalu memuji dan memuliakan Allah sepanjang zaman, tanpa henti.

Makhluk human, saya bandingkan dengan peserta THS-THM, yang memuji dan memuliakan Allah Tritunggal Mahakudus melalui doa-Kitab Suci, latihan beladiri, rekreasi, dan membangun organisasi. Karya peserta THS-THM ini dalam sepakterjangnya, harus dimakna sebagai ‘lumen’-cahaya dari Allah Tritunggal Mahakudus. Sehingga kesetiaan, ketaatan, dan displin dalam THS-THM pun harus selalu ditautkan dengan kesetiaan, ketaatan, dan disiplin hidup kita kepada Allah Tritunggal Mahakudus.

Dengan begitu sikap dan doa serta gerak ‘tata tubuh’ kita dalam THS-THM patut dimaknai sebagai berikut:
a.    Sikap doa manusia kepada Allah Tritunggal Mahakudus  adalah selalu siap. Siap disini adalah seluruh tubuh tenang, hikmat, dan berkonsentrasi untuk membawa seluruh alam semesta untuk bertemu dengan Allah Tritunggal Mahakudus. Mana bisa mau bertemu dengan Allah Tritunggal Mahakudus, manusianya belum siap? Kan aneh sekali. Mau jumpa para pejabat, rekan kerja, pacar, bos kerja, dan lain-lain saja, kita siap. Bertemu dengan Allah Tritunggal Mahakudus yang adalah Penguasa seluruh bumi, manusia harus siap ‘ala THS-THM’.
b.   
Anggota THS-THM Anambas rekreasi di Air Terjun Tarempa
‘Wahai bumi langit’, (poin ‘b’ dan ‘c’). Peserta mengajak seluruh makhluk (sesama anggota yang hadir maupun yang tidak hadir-bahkan seluruh alam semesta beserta isinya) untuk memuji dan memuliakan Allah Tritunggal Mahakudus. Peserta yang mengajak itu adalah manusia yang menjadi ‘wakil’ dari seluruh ciptaan Allah. Hanya manusia yang berakal budi, memiliki dan selalu menyadari hal moral, berkehendak baik, dan memiliki kemampuan lebih dari segala ciptaan lain.
c.    ‘Bersatulah pada Allah Tritunggal Mahakudus’,(poin ‘d’). Isi ajakkan peserta itu memiliki arah yang jelas sebagai orang beriman Katolik, untuk bersatu-bersekutu dalam Allah Tritunggal Mahakudus-yang menjadi pusat dan sumber hidup iman kita. Disini patut dicatat bahwa hanpa pada Allah Tritunggal Mahakudus-lah, satu-satunya sumber dan pusat hidup iman Umat Katolik, tidak ada pusat dan sumber hidup iman kita yang lain-lain.

Anggota THS-THM Anambas menumpang pulag ke Tarempa setelah pelatihan
d.    ‘Bersemayam didalam hatiku dan kupertahankan seumur hidupku’, (poin ‘e’ dan ‘f’). Sebagai ungkapan iman pribadi dan kolektetif , menjadikan Allah Tritunggal Mahakudus melalui simbol ‘burung merpati’-Roh Kudus untuk masuk didalam diri saya, disini tidak hanya mengajak Roh Kudus masuk dalam diri saya lalu membiarkan begitu saja Roh Kudus, tetapi Roh Kudus yang sudah ada didalam diri saya, ‘kupertahankan seumur hidup saya.’ Jadi, makna yang lebih dalam dari itu ialah ‘saya yang sudah beriman kepada Allah Tritunggal Mahakudus, kupertahankan dan kubawa dalam hidup saya hingga mati. Disinilah ‘martyria’ saya diuji dalam melaksanakan karya hidup saya, termasuk taat dan setia saya pada organisasi THS-THM dan lebih umum pada Gereja Katolik dan Tanah Air.

Relevansi Doa singkat dalam THS-THM
Membangun sikap taat dan setia kepada pelatih, THS Ritapiret
Doa ini dimulai pada awal latihan dan kegiatan THS-THM dengan maksud: pertama, para peserta bersikap taat dan setia kepada para pelatih. Sebaliknya, para pelatih sungguh-sungguh menyiapkan latihan dengan baik, sehingga tidak salah, tidak menyimpang dari yang diajarkan. Kedua, proses selama latihan atau kegiatan THS-THM mendapat restu dan bimbingan serta berkat dari Allah Tritunggal Mahakudus. Ketiga, diharapkan supaya para peserta dan pelatih sungguh mengungkapkan sikap ‘rasa bersaudara’, ‘solidaritas’, ‘tidak bersikap sombong-rendah hati’, dan ‘saling menerima satu sama lain’.

Penutup
Akhirnya saya mengucapkan terima kasih kepada Mas Bambang Harsono yang sudah dengan kritis mengajukan pilihan kedua doa  di atas. Tidak lupa juga saya mengucapkan terima kasih kepada saudara-saudariku anggota THS-THM seluruh dunia, yang sudah memberikan postingan yang berguna untuk dijadikan refleksi dalam tulisan ini. Tulisan ini, hanya semacam refleksi pribadi. Jadi hanya untuk menambah wawasan kalau masih bingung, dan menambah ‘ruang hati’ kita ketika kita membaca dan merenungkan ini.

Salam Gloria.