Senin, 25 Mei 2026

KOMUNITAS BASIS GEREJAWI (KBG) DAN PERSEKUTUAN GEREJAWI

 


Uskup Devsritha Valence Mendis, Uskup Chilaw, Sri Lanka

Dibacakan oleh Uskup Emmanuel Fedlis Fernando

karena Uskup Valence tidak hadir.

Bahan ini merupakan salah satu bahan yang dibawakan dalam Seminar Sidang Umum AsIPA VII Desk FABC olf AsIPA dan Tim Nasional KBG Thailand. Sidang Umum AsIPA VII dilaksanakan di Pusat Pelatihan Pastoral "Bann Phu Waan" Keuskupan Agung Bangkok, Thailand 22-28 Oktober 2015

PENGANTAR

Sejak awal, penting untuk menyadari bahwa signifikansi KBG[1] muncul dari pemahaman tentang apa yang dimaksud dengan 'Gereja'. Yesus Kristus mendirikan gereja dan mempercayakan para rasul dengan tugas memberitakan kabar baik keselamatan kepada semua bangsa (bdk. Mrk. 16:15-16). Oleh karena itu, Gereja adalah wahana yang digunakan untuk menyampaikan pesan keselamatan dari kabar baik Tuhan Yesus. Karena itu, sangat penting untuk memahami secara mendalam hakikat dan tujuan gereja, yang memungkinkan kita untuk memahami signifikansi KBG.

Kata gereja berasal dari kata Yunani 'Ekklesia' yang berarti 'orang-orang yang berkumpul'. Dalam versi Yunani Perjanjian Lama, kita melihat "Ekklesia" digunakan untuk merujuk pada 'umat Allah'. Dalam terjemahan Latin, kata 'ecclesia' mengungkapkan gagasan yang sama, yaitu, 'perkumpulan umat Allah'.

Gagasan tentang 'berkumpul' adalah realitas yang dinamis. Dinamisme inilah yang kita pahami sebagai persekutuan atau hubungan. Dengan demikian, makna 'ecclesia' atau gereja berarti persekutuan yang memiliki dimensi vertikal dan horizontal yang efektif. Pertama; itu adalah umat Allah yang berkumpul dalam persekutuan dengan Allah dan kedua itu adalah umat Allah yang berkumpul atau dalam persekutuan (Koinonia) satu sama lain. Realitas mendalam inilah yang dimaksudkan, setiap kali kita mengucapkan kata 'Gereja'.

Aspek persekutuan dalam Perjanjian Lama

Sebagaimana dijelaskan dalam kisah penciptaan di kitab Kejadian, Tuhan menciptakan manusia agar dapat bersekutu dengan-Nya dan dengan seluruh ciptaan. Ketidaktaatan Adam dan Hawa-lah yang merusak hubungan ini.

Perjanjian dengan Abraham dapat disebut sebagai ungkapan spesifik pertama dari maksud Allah untuk menetapkan suatu umat yang akan disebut "Milik-Nya Sendiri", yang dengannya Allah akan bersekutu. Abraham secara khusus dipanggil oleh Allah untuk menjadi Bapa dari suatu komunitas besar, dan Allah akan membawa keselamatan kepada semua bangsa melalui komunitas ini. (bdk. Kej. 17:4-8).

Pengalaman eksodus mengukuhkan aspek persekutuan yang telah Allah bangun dengan umat-Nya. Panggilan Musa adalah sebuah episode yang sangat mengharukan di mana Allah berkata, "Aku telah melihat penderitaan "umat-Ku yang ada di Mesir" (Kel. 3:7). Allah menjanjikan Musa sebuah tanah tempat umat itu akan menetap dan mereka akan disebut umat Allah. (bdk. Kel. 6:7-9) Di Sinai, Allah menetapkan perjanjian dengan Israel, yang merupakan prototipe dari maksud Allah untuk berada dalam persekutuan yang terus-menerus yang secara bertahap telah terjalin di antara mereka.

Melanggar persekutuan ini merupakan masalah yang sangat serius. Itu sama saja dengan tidak setia kepada Tuhan. Apa yang kita temukan dalam kitab para nabi adalah seruan mereka agar umat setia kepada komunitas. (bdk. Yer. 3:11-14). Tuhan ingin mengumpulkan mereka dan menjaga mereka tetap bersama sebagai sebuah komunitas. Dengan demikian, dari sifat dasar 'umat Allah' ini, gagasan tentang kepemimpinan bersama, kehidupan bersama, dan peran serta tanggung jawab bersama dalam komunitas sangatlah jelas. 'Sepuluh Perintah', yang merupakan tanda praktis kesetiaan kepada perjanjian, menunjukkan hubungan seseorang dengan Tuhan dan juga dengan komunitas. Hubungan ini, seperti halnya hubungan sosial lainnya, didasarkan pada keadilan. Dengan demikian, keterlibatan dengan komunitas (persekutuan) bukanlah sekadar masalah konvensi atau tradisi, melainkan masalah keadilan.

 

Aspek persekutuan dalam Perjanjian Baru

Landasan persekutuan harus dipahami dalam konteks Tritunggal Mahakudus. Persekutuan Allah Tritunggal, Bapa, Putra, dan Roh Kudus dapat dilihat sebagai persekutuan 'Par Excellence'. Model Tritunggal ditanamkan dalam umat Allah melalui Baptisan mereka. Dalam nama Tritunggal itulah seseorang dibaptis. Baptisan umat Allah sendiri menyerukan kehidupan persekutuan dengan Allah dan dengan komunitas orang percaya. 'Persekutuan' dalam komunitas membentuk hakikat gereja itu sendiri. Tanpa aspek 'persekutuan', komunitas hanya akan menjadi struktur fisik. Lagipula, ajakan Tuhan Yesus dalam Injil untuk mengasihi Allah dan sesama, yang dianggap Yesus sebagai norma tertinggi dalam ajaran-Nya, adalah ajakan untuk kehidupan persekutuan yang penuh kasih. Semangat persekutuan yang lazim di gereja mula-mula seperti yang ditemukan dalam Kisah Para Rasul sangat terkenal (Kis. 2:42).

Kitab Kisah Para Rasul menunjukkan bahwa umat beriman hidup dalam solidaritas yang besar, sedemikian besarnya sehingga mereka memiliki segala sesuatu secara bersama-sama. Tersirat dalam Kisah Para Rasul bahwa rahasia perluasan komunitas adalah rasa berbagi yang mendalam di antara umat beriman. (bdk. Kis. 2:42-47). Terdapat persekutuan rohani dan juga persekutuan praktis di gereja apostolik.

Dalam Surat-surat Paulus, kita melihat dengan jelas kehadiran aspek 'Koinonia'. Ekaristi disajikan oleh Santo Paulus sebagai dasar persekutuan.

"Cawan berkat yang kita syukuri, bukankah itu persekutuan dalam darah Kristus? Roti yang kita pecahkan, bukankah itu persekutuan dalam tubuh Kristus?" (1Kor. 10:16-17).

Hubungan erat antara orang yang menerima tubuh dan darah Kristus dengan komunitas juga ditunjukkan di sini. Penerimaan tubuh dan darah Kristus akan membawa seseorang kepada persekutuan dengan sesama orang Kristen di satu sisi dan membangun persatuan yang lebih dalam dengan Kristus di sisi lain.

'Koinonia' menurut Paulus dapat digambarkan sebagai berikut:

Komunio: Bersama Kristus, Bersama Komunitas Sendiri, dan Bersama Komunitas Lain.

 

Persekutuan rohani dengan Kristus mengarah pada kolaborasi dalam kehidupan nyata. Terjadi pembagian sumber daya (karunia) baik materi maupun rohani untuk kebaikan komunitas (Flp. 4:2). Komunitas menjadi dinamis karena keterlibatan setiap orang dalam misi bersama untuk memberi kesaksian tentang Tuhan. Yang penting untuk dicatat adalah bahwa di gereja mula-mula, persekutuan dipandang bukan hanya sebagai hubungan sosial yang menghasilkan persahabatan, melainkan membawa kesadaran bersama untuk memberitakan Kristus sebagai komunitas yang bersaksi. Dengan kata lain, komunitas-komunitas tersebut menjadi komunitas yang menginjili.

Santo Paulus memberi semangat dan pengajaran kepada mereka serta terus berhubungan dengan mereka (bdk. Flp. 1:1, Kis. 20:28-31) melalui surat-surat dan perjalanan kerasulannya. Sebagai Gembala komunitas, Santo Paulus menetapkan standar dengan menjaga persekutuan dengan mereka.

 

Nampak RD. Lucius Poya ikut serta dalam diskusi
di buzz group GA AsIPA VII di Thailand

Vatikan II tentang Komuni

 

Konsili Vatikan II menggarisbawahi pentingnya 'Persekutuan' dalam banyak hal. 'Lumen Gentium' menyajikan gereja sebagai sakramen persatuan dengan Tuhan dan dengan komunitas.

“Gereja Kristus benar-benar hadir di semua kelompok lokal umat beriman yang terorganisir secara sah, yang, sejauh mereka bersatu dengan gembala mereka, juga sangat tepat disebut gereja dalam Perjanjian Baru” (LG. 26).

'Lumen Gentium' juga menyatakan bahwa misi gereja bukanlah hak eksklusif para Klerus dan Religius. Kaum awam memiliki peran yang sangat spesifik untuk dimainkan (bdk. LG. 4). Peran ini bukan hanya untuk membantu urusan eksternal gereja tetapi juga menjadi bagian integral dari misi penginjilan di dalam gereja. Misi ini adalah misi kolektif di mana para Imam, Religius, dan Kaum Awam memiliki peran partisipatif. (bdk. AA, 6).

Gereja senantiasa menekankan pentingnya persekutuan yang harus dihayati dalam komunitas Kristen.


Paus Santo Yohanes Paulus II - Sebuah Peradaban Cinta Kasih

 

Dalam Redemptories Missio, Paus Santo Yohanes Paulus II memiliki bagian khusus tentang "Komunitas Dasar Gerejawi". Dinyatakan bahwa 'Komunitas Dasar Gerejawi' terbukti menjadi pusat yang baik untuk pembinaan Kristen dan penginjilan. Komunitas-komunitas ini adalah kelompok-kelompok umat Kristen yang, di tingkat keluarga atau dalam lingkungan terbatas serupa, berkumpul untuk berdoa, membaca Kitab Suci, katekese, dan membahas masalah-masalah manusia dan gerejawi. Komunitas-komunitas ini merupakan tanda vitalitas dalam gereja, instrumen pembinaan dan penginjilan, serta titik awal yang kokoh bagi masyarakat baru yang didasarkan pada 'peradaban kasih'. (bdk. RM. 51).

Paus Santo Yohanes Paulus II melanjutkan tema yang sama dalam 'Ecclesia in Asia' dan mendesak gereja-gereja di Asia untuk membangun komunitas dan bersekutu satu sama lain, jika mereka ingin menjadi saksi sejati bagi Tuhan.

 

FABC dan Eklesiologi Persekutuan

 

Upaya FABC untuk memahami Eklesiologi persekutuan dari sudut pandang Asia telah sangat bermanfaat. Dorongan terus-menerus mereka dalam membentuk KBG telah menghasilkan langkah-langkah bagi banyak gereja lokal di Asia untuk mempromosikannya.

Dalam pernyataan penutup sidang pleno kelima FABC di Bandung, Indonesia pada tahun 1990, pada paragraf 8, disebutkan dengan jelas bahwa gereja di Asia harus menjadi persekutuan komunitas, di mana kaum awam, religius, dan klerus saling mengenali dan menerima sebagai saudara dan saudari dalam misi bersama. Ini adalah gereja partisipatif di mana karunia setiap orang diakui dan diaktifkan sehingga gereja dan misinya dapat terpenuhi. (bdk. untuk semua bangsa di Asia, dokumen FABC, Vol. 1, hlm. 287). Pada Sidang Pleno FABC terakhir yang diadakan di Vietnam, mengingat perjalanan 40 tahun FABC, kemajuan Komunitas Kristen Kecil ditinjau. Fakta bahwa gereja di Asia harus menjadi persekutuan komunitas ditegaskan kembali.

Penekanan pada 'persekutuan' telah memungkinkan gereja Asia untuk berbicara tentang relevansi spiritualitas persekutuan. Ini adalah spiritualitas kemuridan dalam mengikuti jejak Yesus, yang komunikasinya dengan Abba Bapa-Nya berarti misi kasih kepada umat manusia dan kosmos. Ini adalah spiritualitas yang menanggapi dari kedalaman roh terhadap kehancuran dan ketidakharmonisan dunia Asia kita. Dengan spiritualitas seperti itu, kita menjadi pribadi yang mengalami Allah, kredibel dan efektif dalam menceritakan kisah Yesus kepada Asia. Demonstrasi pribadi dan praktis dari spiritualitas persekutuan adalah solidaritas dan kerja sama dalam misi penginjilan di berbagai tingkatan gereja, di dalam gereja lokal dan di antara gereja-gereja lokal. (bdk. FABC Papers, No. 138, hlm. 39-40).

 

Evangelisasi Baru

 

Paus Benediktus XVI memprakarsai sebuah Dikasteri untuk mempromosikan 'Evangelisasi Baru', yang menurut Bapa Suci merupakan suatu keharusan dalam konteks sekularisme yang semakin meningkat.

Istilah "Evangelisasi Baru" mengingatkan kita akan perlunya cara pewartaan yang diperbarui, di dunia saat ini yang menyaksikan drama fragmentasi yang tidak lagi mengakui titik acuan pemersatu. Orang-orang mengalami dikotomi antara kehidupan iman mereka dan kehidupan di masyarakat. Seringkali terjadi bahwa orang ingin menjadi bagian dari gereja, tetapi mereka sangat dibentuk oleh visi hidup yang bertentangan dengan iman.

Karena realitas dunia saat ini, Paus Benediktus berbicara tentang urgensi mewartakan misteri keselamatan dengan semangat baru untuk meyakinkan orang-orang kontemporer, yang seringkali teralihkan perhatiannya dan tidak peka. (Lih. Pidato Paus Benediktus XVI kepada Sidang Pleno Dewan Kepausan untuk mempromosikan Evangelisasi Baru).

Dalam konteks sekularisme, meningkatnya migrasi di Asia dan tingkat kemiskinan yang mengkhawatirkan, model yang diusulkan gereja di Asia adalah KBG yang disebut sebagai 'cara baru menjadi gereja' yang telah disoroti dalam sidang umum AsIPA I, yang diadakan di Thailand pada tahun 1996 di pusat pastoral Baan Phu Waan ini. Yang 'baru' dalam 'cara baru' ini adalah bahwa para imam, biarawan/biarawati, dan kaum awam mengambil peran aktif dalam penginjilan dengan menyadari bahwa itu adalah tanggung jawab bersama.

Salah satu kebenaran mendasar tentang Komunitas Kristen Dasar adalah bahwa komunitas ini menyediakan ruang bagi setiap orang untuk merasakan rasa memiliki terhadap gereja. Salah satu masalah yang dihadapi sebagian besar gereja lokal saat ini adalah orang-orang merasa seperti orang asing di gereja; maksud saya di dalam komunitas umat Allah. Ada urgensi untuk menciptakan hubungan yang erat antara pendeta di paroki dan anggota komunitas. Di paroki yang besar, banyak domba dapat dengan mudah hilang jika tidak ada upaya untuk menjangkau mereka. Jangkauan bagi mereka yang sudah dibaptis tetapi tinggal di pinggiran adalah masalah yang mendesak dan Komunitas Kristen Dasar berpotensi untuk mengatasinya.

Kemudian kita memiliki kategori lain di gereja-gereja kita, yaitu orang-orang Kristen nominal yang suam-suam kuku dalam iman mereka atau yang telah kehilangan iman mereka sepenuhnya. KBG adalah alat yang dapat menjangkau mereka juga, dengan semangat yang diperbarui, seperti yang direkomendasikan dalam agenda penginjilan baru.

KBG dibentuk oleh kelompok-kelompok kecil lokal (kelompok lingkungan) umat Kristen yang bertemu secara teratur untuk berdoa dan bernyanyi, merenungkan firman Tuhan, dan saling membantu dengan berbagi, mendengarkan masalah kehidupan sehari-hari satu sama lain, dan menyelesaikannya. KBG tidak boleh dipandang sebagai perkumpulan lain, tetapi harus dilihat sebagai "cara hidup" atau "cara menjadi gereja". Ini adalah tanggung jawab kolektif semua umat beriman di komunitas tersebut.

 

Situasi Praktis yang Menjadi Perhatian - Tantangan Pastoral

 

Pengembangan KBG tidak boleh dilakukan secara terpisah. Ada beberapa isu sosial-pastoral mendesak lainnya yang harus diperhatikan secara bersamaan. Yang terpenting di antaranya adalah pelayanan pastoral keluarga dan kepedulian terhadap kaum miskin. Hal ini memiliki dampak langsung terhadap pembentukan KBG.

 

a)    Pelayanan pastoral keluarga

Tidak mungkin membangun Gereja-gereja Katolik Tanpa adanya pelayanan pastoral terhadap keluarga. Saat Gereja-gereja Katolik dipromosikan di paroki, perhatian paroki terhadap "keluarga" sangat penting dalam konteks saat ini. Penting untuk memahami situasi di mana perkawinan dan keluarga dijalani saat ini, agar dapat memenuhi tugas "persekutuan". Tanpa semangat persekutuan dalam keluarga, tidak akan praktis untuk memikirkan persekutuan dalam Gereja-gereja Katolik. Itu seperti mencoba membangun rumah tanpa fondasi. Oleh karena itu, pemahaman dan perhatian yang lebih besar terhadap realitas yang ada terkait keluarga sangat penting dalam bidang Gereja-gereja Katolik. (bdk. FC., 04).

Rumah tangga Kristen yang harus mewujudkan kehadiran Kristus yang hidup di dunia kepada semua orang dan hakikat gereja yang autentik harus dipenuhi dengan kehadiran Allah (GS, 48). Aspek penting ini telah ditantang saat ini oleh banyak faktor sosial-ekonomi kontemporer. Globalisasi dan kemajuan teknologi telah membawa perubahan sosial yang berdampak serius pada persatuan dan kekompakan keluarga. Nilai-nilai keluarga yang dijunjung tinggi sedang terancam. Budaya komunikasi baru telah memungkinkan keluarga untuk berkomunikasi dan menjaga kontak lintas jarak yang jauh; di sisi lain, penggunaan yang berlebihan telah membawa dampak buruk pada hubungan keluarga. Migrasi telah membawa dampak buruk bagi keluarga, yang merupakan masalah serius yang perlu dipertimbangkan dalam penginjilan baru.

Diperlukan kearifan dan pembaharuan dalam pemahaman pandangan Kristen tentang kehidupan dan martabat manusia, karena perpecahan keluarga dan bentuk-bentuk keluarga baru semakin sering terjadi. Kini terdapat keluarga dengan orang tua tunggal, keluarga dengan orang tua yang bercerai, keluarga dengan setidaknya satu orang tua yang absen dalam jangka waktu lama karena migrasi. Anak-anak menjadi korban terburuk dari situasi ketidakseimbangan tersebut (bdk. Papers FABC No. 113).

Tanpa kepekaan pastoral terhadap tantangan-tantangan keluarga ini, upaya untuk mempromosikan KBG mungkin tidak akan produktif. Harus ada upaya paralel dalam pelayanan pastoral keluarga di paroki dan di gereja lokal.


b)   Pembaharuan Komitmen Sosial

Dalam Porta Fidei (bdk. No. 14), Bapa Suci, Paus Benediktus XVI berbicara tentang pentingnya Kasih, khususnya kepedulian terhadap kaum miskin dan kurang beruntung. Seperti yang diingatkan oleh Santo Paulus: "Tetaplah ada iman, pengharapan, dan kasih, tiga hal itu; tetapi yang terbesar dari semuanya adalah kasih" (1Kor. 13:13). Dengan lebih kuat lagi

Santo Yakobus berkata: "Apakah gunanya, saudara-saudaraku, jika seseorang mengatakan bahwa ia mempunyai iman, tetapi tidak mempunyai perbuatan? Dapatkah imannya menyelamatkannya? Jika seorang saudara atau saudari berpakaian lusuh dan kekurangan makanan, lalu seorang dari kamu berkata kepadanya, 'Pergilah dengan damai, hangatkanlah dirimu dan kenyangkanlah perutmu,' tetapi tidak memberi mereka kebutuhan tubuh, apakah gunanya? Demikian juga iman, jika tidak disertai perbuatan, adalah mati" (Yak. 2:14-18).

KBG memiliki banyak kaitan dengan solidaritas Gereja dengan kaum miskin dan terpinggirkan. Faktanya, Gereja memiliki banyak lembaga yang mengurus kaum miskin. Lembaga-lembaga ini harus terus berlanjut, mungkin, dengan cara yang jauh lebih besar. Harus ada struktur yang jelas di paroki-paroki untuk mengurus kaum miskin secara ekonomi dan yang membutuhkan. Namun demikian, ini bukan hanya tentang memberi makan orang yang lapar atau menyediakan tempat tinggal bagi tunawisma. Kemiskinan seringkali merupakan akibat dari struktur yang tidak adil. Ini juga merupakan akibat dari keegoisan sebagian kecil orang. Firman Tuhan menyerukan Gereja untuk membela kaum miskin dan mencari keadilan bagi mereka. Bapa Suci Paus Fransiskus mengingatkan kita akan urgensi tugas ini

Pembelaan atas nama kaum miskin adalah tuntutan yang muncul dari Kitab Suci. Kita tidak hanya harus memberi pakaian kepada kaum miskin, tetapi juga membela mereka dan menegakkan hak-hak mereka. Panggilan Gereja tidak diragukan lagi adalah untuk memberikan bantuan bagi kebutuhan fisik kaum miskin. Namun, panggilan itu juga untuk berkomitmen pada kebutuhan akan keadilan yang mana pembelaan diperlukan (bdk. Papers FABC No. 133) dan untuk menciptakan dunia yang lebih baik bagi kaum miskin. Untuk melakukan tugas ini secara efektif, Gereja saat ini terlibat dalam dialog dengan berbagai organisasi internasional yang berkomitmen pada tugas yang sama. Hal ini juga harus dilakukan secara lokal, tergantung pada tantangan di setiap negara. Gereja menjadi kredibel ketika kaum miskin dan kaum terpinggirkan menjadi bagian darinya. Inilah jalan yang Paus Fransiskus bukakan bagi kita dengan menyerukan 'Tahun Kerahiman' khusus.

Ada ribuan lembaga gereja di seluruh dunia yang terlibat dalam tugas ini. Ada situasi kemiskinan yang mengkhawatirkan dan ketidakberdayaan mutlak. Seringkali anak-anak dan perempuan adalah korban terburuk dari situasi tersebut. Perdagangan manusia, pekerja anak, pelecehan seksual terhadap pekerja migran, kekerasan dalam rumah tangga adalah beberapa masalah yang paling mengkhawatirkan. Penginjilan baru harus menanggapi masalah-masalah ini dengan serius. Kepedulian terhadap kaum miskin harus muncul dari iman seseorang. Iman tanpa kasih tidak menghasilkan buah; sedangkan kasih tanpa iman hanyalah sentimen belaka. (bdk. PF. 14). Masalah-masalah seperti ini akan terlalu berat untuk ditangani di KBG tanpa dukungan gereja lokal.

 

c)    Membentuk Pemimpin Awam

Gereja-gereja lokal memiliki tanggung jawab untuk membentuk para pemimpin mereka. Seringkali kurangnya persiapan para pemimpin awam dipandang sebagai penyebab kegagalan dalam membentuk KBG.

Mempersiapkan landasan sangat penting untuk keberhasilan KBG. Sekelompok orang awam yang terlatih dengan baik harus menggerakkan seluruh program yang harus mereka diberdayakan

Pembentukan Pemimpin Awam merupakan alat penting agar KBG dapat berfungsi dengan lancar. Sekelompok kecil umat awam yang berkomitmen dan berminat harus dimotivasi dan diberikan pelatihan khusus tentang kepemimpinan. Persiapan ini harus dilihat sebagai investasi dalam kerangka gereja partisipatif.

Selain itu, perlu juga dilakukan pembinaan berkelanjutan bagi para pemimpin yang akan menjadi penggerak program ini. Perhatian, dorongan, dukungan, dan bimbingan yang terus-menerus kepada para pemimpin akan sangat membantu keberlanjutan SCC.

Di setiap paroki kita memiliki orang-orang yang berkehendak baik yang melayani dalam berbagai kerasulan awam. Mereka termasuk para katekis dan misionaris awam lainnya yang peduli dengan evangelisasi. Mereka adalah sumber daya nyata bagi gereja-gereja lokal. Kelompok ini harus menjadi peserta penting dalam KBG. Kita harus menargetkan pertama-tama kelompok pemimpin yang telah dikonfirmasi dengan baik dan kedua, kelompok peserta penting. Mereka juga perlu dimotivasi. Mereka harus yakin bahwa tujuan akhir dari keterkaitan dengan asosiasi awam (misalnya: Kelompok Liturgi, Legiun Maria, Serikat Vincent de Paul, Kelompok Karismatik, Kelompok Kerasulan Keluarga, Kelompok Caritas, Kelompok Pemuda, Kelompok PMS) harus memiliki keterkaitan yang diperlukan dengan KBG di wilayah mereka sendiri. Dampak mereka harus dirasakan oleh paroki. Dampak ini bagi paroki hanya dapat dirasakan melalui keterkaitan mereka dengan KBG. Jika tidak, kelompok-kelompok ini hanya akan melayani diri mereka sendiri; seperti aliran atau sungai yang tidak bertemu dengan samudra.

Topik penting lainnya bagi sebagian besar negara-negara Asia tempat kita tinggal sebagai minoritas adalah kebutuhan untuk berhubungan dengan orang-orang dari agama lain. Oleh karena itu, di KBG kita, kita perlu berupaya untuk berhubungan dengan orang-orang dari berbagai agama ini.

 

KESIMPULAN

FABC selalu konsisten dalam menekankan pentingnya KBG. Kemajuan yang cukup signifikan telah terlihat di banyak gereja lokal.

Gereja di Asia, agar tetap hidup dan otentik dalam kesaksiannya di dunia saat ini, menghadirkan KBG sebagai cara untuk menjadi gereja. Sentralitas 'Persekutuan' dipelihara dan dipertahankan oleh KBG. Ini adalah alat yang menyatukan anak-anak Allah yang tersebar.

Dalam konteks meningkatnya sekularisme dan fundamentalisme di Asia, untuk menggembalakan umat dan menjaga persatuan mereka, tidak ada cara lain selain mempromosikan KBG, di mana kaum awam secara bertahap akan lebih terlibat dalam pekerjaan evangelisasi, sehingga mewujudkan visi gereja partisipatif. KBG merupakan kesempatan untuk membuat komunitas lebih peduli, penuh kasih, dan dengan demikian menciptakan rasa memiliki terhadap gereja. Paus Fransiskus sering menekankan perlunya menjangkau mereka yang berada di pinggiran. Komunitas Kristen Kecil adalah cara untuk menghilangkan situasi keberadaan di pinggiran.

Saat ini kita tentu membutuhkan mekanisme untuk menjaga keutuhan komunitas paroki kita. Dalam hal ini, tidak ada metodologi yang lebih baik daripada KBG yang bukan hanya cara untuk mempromosikan persekutuan, tetapi justru persekutuan itu sendiri.

Ada aspek-aspek paralel lain yang perlu diperhatikan yang merupakan prasyarat bagi pembentukan KBG. Di antaranya adalah kerasulan keluarga, kerasulan pemuda dan anak-anak yang menempati posisi utama. Penekanan yang diberikan di paroki pada kaum miskin dan yang terpinggirkan sangat berperan dalam pembentukan KBG.

Mendorong para pendeta untuk mencari jalan baru dalam penginjilan adalah kebutuhan yang mendesak. Struktur paroki tradisional harus dilampaui dan sudah saatnya untuk mendatangi jemaat dan secara khusus mencari mereka yang tersesat dan mereka yang paling rentan dalam menghadapi sekularisme yang semakin meningkat.


Referensi:

Bdk. Bishop Devsritha Valence Mendis 29 Read by Bishop Emmanuel Fedlis Fernando, hal. 29-37 dalam:

https://smallchristiancommunities.org/wp-content/uploads/2017/08/asipa_thailand.pdf

Small Christian Communities

http://smallchristiancommunities.org › 2017/08



[1]Komunitas Basis Gerejawi. Dalam dokumen-dokumen fakhir atau modul AsIPA disebut Small Christian Communities (SCCs).

PERNYATAAN AKHIR SIDANG UMUM AsIPA VII

 

Suasana peserta Sidang Umum AsIPA VII di Bangkok dalam Perayaan Pembukaan Sidang Umum

FABC OLF AsIPA (BEC) Desk & Tim Nasional BEC Thailand Pusat Pelatihan Pastoral Bann Phu Waan, Bangkok Thailand 22 (Kamis) - 28 (Rabu) Oktober, 2015

 "PERGILAH... AKU BERSAMAMU SELALU"

(Mat 28:19-20)

KBG HIDUP BERSAMA ORANG-ORANG 

DENGAN KEYAKINAN DAN KEPERCAYAAN YANG BERBEDA


PENGANTAR


A.  Kami, 118 peserta yang terdiri dari 13 uskup, 57 imam, 14 biarawan/biarawati, dan 34 awam dari 15 negara (Bangladesh, India, Indonesia, Jepang, Korea, Malaysia, Myanmar, Pakistan, Filipina, Sri Lanka, Taiwan, Thailand, Vietnam, Afrika/SECAM-Ghana, dan Jerman) berkumpul di Pusat Pastoral Baan Phu Waan di Bangkok, Thailand untuk berpartisipasi dalam Sidang Umum AsIPA VII (Pendekatan Pastoral Integral Aslan), dari tanggal 22-28 Oktober 2015. Tujuan kami adalah untuk memperdalam persekutuan kami dan menemukan sumber inspirasi kami dari Firman dan Ekaristi, terutama untuk berbagi pengalaman kami dalam Komunitas Kristen Kecil/Komunitas Gerejawi Dasar (KKK/KBG) tentang hidup bersama orang-orang dari berbagai kepercayaan dan menemukan cara-cara kreatif untuk membawa perdamaian dan solidaritas yang lebih dalam di dunia kita.

 

B.  Sebagai bagian dari program tersebut, kami mengunjungi beberapa KBG di tiga keuskupan di Thailand. Kunjungan tersebut merupakan pengalaman yang mengesankan tentang keterbukaan dan kehidupan harmonis dengan orang-orang dari berbagai kepercayaan, karena kami disambut oleh mereka bahkan di masjid dan kuil mereka, dan berbagi sukacita serta harapan kehidupan antaragama. Kami juga dikuatkan oleh iman KBG saat kami bergabung dengan mereka untuk berbagi Injil dan mengunjungi lingkungan sekitar. Kami sangat berterima kasih kepada Gereja Thailand atas keramahan dan kemurahan hati yang sangat hangat serta kesaksian dari Gereja yang hidup.

 

KKK/KBG SEBUAH EKSPRESI PERSEKUTUAN DAN MISI

 

C.   Sidang ini penting karena kita merayakan lima puluh tahun Konsili Vatikan II dan dua puluh lima tahun Sidang Pleno Kelima Federasi Konferensi Uskup Asia (FABC) di Bandung, Indonesia. Konsili Vatikan II mendefinisikan kembali Gereja sebagai Umat Allah dan menempatkan persekutuan sebagai inti dari makna menjadi Gereja. Landasan persekutuan harus dipahami dalam konteks Tritunggal Mahakudus. Namun, persekutuan secara intrinsik terkait dengan misi karena misi membentuk cara kita menjadi gereja (Ecclesia In Asia [EA] 24). Umat Allah, di mana setiap orang yang dibaptis berpartisipasi dalam peran imamat, kenabian, dan kerajaan Kristus (LG, Bab 1), secara alami membentuk komunitas iman lokal.

 

D. Upaya FABC untuk memahami persekutuan dari konteks Asia sangat bermanfaat. Dorongan terus-menerus dalam membentuk KKK/KBG telah menghasilkan banyak gereja lokal di Asia yang mengambil langkah untuk mempromosikannya. Pada FABC V, disebutkan dengan jelas bahwa Gereja di Asia harus menjadi persekutuan komunitas, di mana umat, kaum religius, dan imam saling mengenali dan menerima satu sama lain sebagai saudara dan saudari dalam misi bersama (FABC V 5,8).

 

E.  KKK/KBG dipandang sebagai buah langsung dari umat Allah dalam teologi persekutuan dan misi Konsili Vatikan II. Dalam penerimaannya di Asia, FABC telah mendukung pertumbuhan KKK/KBG sebagai Cara Baru Menjadi Gereja. Laporan dari berbagai negara melihat KKK/KBG mewujudkan visi Gereja Konsili Vatikan II sebagai berikut:

1.    Orang-orang telah mengalami pendalaman iman melalui KKK/KBG.

2.   KKK/KBG telah menjadi landasan untuk membina kaum awam; mereka yang telah dilatih telah menjadi fasilitator KBG yang lebih percaya diri dengan visi Gereja yang jelas; tumbuh dalam kesadaran akan martabat dan panggilan mereka sebagai orang yang dibaptis dan telah turut bertanggung jawab dengan para imam dalam misi gereja.

3.  Kerinduan akan Yesus dan Firman-Nya semakin mendalam dengan berbagai metode berbagi Alkitab yang digunakan di KKK/KBG; Dengan menghidupi Firman Tuhan, mereka saling membangun, bahkan kepada mereka yang tidak percaya, bukan hanya dengan kata-kata tetapi juga dengan perbuatan.

4.  KKK/KBG telah meruntuhkan batasan antara imam dan umat, karena para imam dan bahkan uskup sekarang duduk bersama mereka dalam pertemuan KKK/KBG.

5. KKK/KBG semakin berkembang dan semakin banyak keuskupan yang mempromosikannya.

6.  Sidang Umum AsIPA menjadi sumber kebangkitan bagi KKK/KBG. Alat-alat AsIPA memungkinkan mereka untuk mengembangkan hubungan yang lebih dalam dengan Tuhan melalui firman dan Ekaristi. Metode dan teks AsIPA sangat membantu dan bermanfaat bagi Evangelisasi Baru keluarga, komunitas, dan paroki. Penerbitan modul yang dirancang secara lokal juga sedang berlangsung.

 

F.   Namun, masih terdapat banyak wilayah yang perlu ditingkatkan sebagai berikut:

1.  Banyak dari mereka yang masih berpegang pada tradisi dan tidak terbuka terhadap tantangan baru untuk pembaharuan Gereja; di sisi lain, mereka yang terlibat dalam kegiatan Gereja kurang mendapatkan pembinaan berkelanjutan.

2.  Banyak paroki masih berpusat pada pastor dan tidak melibatkan KKK/KBG dalam kegiatan paroki.

3.  KKK/KBG tidak dijadikan prioritas pastoral di keuskupan; pemindahan imam tanpa pengganti yang memadai dapat memengaruhi fungsi KKK/KBG; juga tidak ada imam, biarawan/biarawati, dan fasilitator awam yang cukup termotivasi untuk mempromosikan dan membina KKK/KBG;

4.    Tidak mudah untuk melibatkan kaum muda dalam KKK/KBG.

5. Media massa, bimbingan belajar, pertanian musiman, pekerjaan, dan lain-lain menghalangi sebagian orang untuk berpartisipasi dalam kegiatan KKK/KBG.

6.  Di beberapa negara, para pemimpin gereja hampir tidak dapat menghadiri pertemuan KKK/KBG karena adanya pembatasan politik dan agama.

 

G.   Namun, lebih dari sekadar pembicaraan, laporan, dan diskusi, kami, para peserta dalam pertemuan ini, juga mengalami persekutuan dalam misi saat kami memperdalam hubungan kami dengan Yesus dan satu sama lain melalui berbagi Firman Tuhan dan merayakan Ekaristi setiap hari. Teks-teks AsIPA tentang Pembentukan Rohani, Pelatihan Pemimpin, dan Kehidupan Antaragama memotivasi kami untuk maju. Firman Tuhan juga telah menantang kami, khususnya dalam hidup bersama orang-orang dari berbagai keyakinan. Dalam pertemuan ini, kami menanggapi tantangan ini dengan serius.


KKK/KBG DALAM KONTEKS MULTI-AGAMA DI ASIA

 

H.  Asia, tempat lahirnya banyak peradaban dan agama kuno di dunia, adalah benua yang diberkati oleh komunitas-komunitas yang dinamis dengan perpaduan budaya, agama, dan filsafat yang beragam, banyak di antaranya lebih kuno daripada Kekristenan. Santo Yohanes Paulus II juga mengidentifikasi dan menghargai sifat multireligius Asia ini ketika beliau berkata, "Asia juga merupakan tempat lahirnya agama-agama besar dunia, yaitu Yudaisme, Kekristenan, Islam, dan Hindu. Ini adalah tempat lahirnya banyak tradisi spiritual lainnya seperti Buddhisme, Taoisme, Konfusianisme, Zoroastrianisme, Jainisme, Sikhisme, dan Shinto. Jutaan orang juga menganut agama tradisional atau suku, dengan berbagai tingkat ritual terstruktur dan pengajaran agama formal." (EA 6).

 

I.      Meskipun Asia merupakan rumah bagi sekitar dua pertiga populasi dunia, namun benua ini tetap memiliki populasi Kristen terkecil. Sekitar 85% penduduk non-Kristen di dunia tinggal di Asia. Di Asia, hanya 4,5% dari total populasi yang beragama Kristen dan kurang dari 3% penduduk Asia beragama Katolik. Dalam menghadapi situasi multi-agama dan minoritas Kristen di Asia ini, FABC, dengan menghargai pluralisme dan keragaman ini sebagai sesuatu yang memperkaya, menyerukan kepada KKK/KBG untuk terlibat dalam dialog dengan orang-orang dari agama lain.


KKK/KBG HIDUP BERSAMA TETANGGA YANG BERBEDA KEYAKINAN


J.    Meskipun ketidaktahuan dan intoleransi terhadap agama lain terus menghantui masyarakat dan telah menimbulkan ketegangan, konflik, dan kekerasan, dalam pertemuan ini kita telah bertukar banyak cerita positif tentang dialog antaragama melalui KKK/KBG yang telah menginspirasi kita. Dari cerita-cerita ini, kita belajar:

1)    Untuk memiliki dialog antaragama yang tulus, kita harus jujur ​​mengakui perbedaan kita serta keyakinan bersama kita. Dialog antaragama yang tulus dimulai dengan menyelami iman kita sendiri secara mendalam. Ini juga berarti menempatkan diri pada posisi orang-orang dari agama lain dan mencoba melihat dunia sebagaimana mereka melihatnya. Untuk memasuki dialog, kita harus miskin secara spiritual, agar kaya akan kasih. Kasih adalah metode dialog.

2)  KKK/KBG terlibat dalam "dialog kehidupan" dengan saudara-saudari kita dari tradisi agama lain, menyapa mereka pada hari raya mereka dan bersama mereka di saat-saat rentan dalam hidup seperti sakit, bencana alam, dan kematian. Hubungan dan persahabatan yang dibangun dalam dialog ini membantu kita untuk saling mendukung, mendorong, dan menjangkau satu sama lain.

3)  KKK/KBG juga terlibat dalam "dialog aksi" dengan bertindak sebagai penolong bagi orang-orang dari agama lain, dan bekerja sama dengan mereka dalam isu-isu keadilan, perdamaian, dan solidaritas untuk kebaikan bersama.

4) KKK/KBG menjalankan "dialog pengalaman keagamaan" dengan memasuki tradisi spiritual mereka melalui doa dan berbagi. Hal ini dilakukan melalui kehidupan mendengarkan/belajar dan refleksi terus-menerus tentang apa yang mungkin Tuhan sampaikan melalui tradisi keagamaan lain ini. Di dalam dan melalui dialog antaragama, kita saling bertukar pengalaman ilahi kita.

 

Tim AsIPA Keuskupan Pangkalpinang, hadir dalam Sidang Umum AsIPA VII di Bangkok
(Mgr. Hila nampak jelas terlibat dalam diskusi buzz group)

TANTANGAN YANG DIHADAPI OLEH KKK/KBG DALAM DIALOG ANTAR AGAMA

 

K.    Allah menghendaki setiap orang diselamatkan dan mencapai pengetahuan penuh tentang kebenaran" (1Tim. 2:4). Dalam hal ini, Gereja juga menyatakan bahwa ia tidak menolak apa pun yang benar dan kudus dalam agama-agama lain (NA2). Dalam keterlibatan kita dengan orang-orang dari agama lain, kita dihadapkan pada tantangan-tantangan berikut.

1.    Kegagalan kita dalam memberikan pemahaman yang cukup kepada umat kita tentang Christian Identity dan ajarannya dapat menyebabkan kebingungan dalam Interreligious Dialogue-Dialog Antaragama (IRD).

2.  Kurangnya pengetahuan tentang agama lain, rasa takut akan hal yang tidak dikenal, kecurigaan, kurangnya penilaian diri yang kritis, kompleks superioritas dan inferioritas, kesenjangan di antara mereka yang berpartisipasi dalam dialog, kebingungan antara iman dan akal, budaya dan agama juga dapat menghambat IRD.

3.  Kurangnya kualitas yang dibutuhkan untuk berdialog seperti perhatian, kebaikan, rasa hormat, kesabaran, pemaaf, penerimaan terhadap orang lain sebagai bagian dari keluarga manusia yang sama juga memengaruhi IRD.

4. Kurangnya antusiasme dalam bersaksi dan mewartakan Kristus serta mengganti pewartaan dengan dialog dapat menjadi tantangan bagi misi Gereja. (EN 41, RM 42).

5.  Instrumentalisasi dialog untuk keuntungan pribadi, politik, atau ekonomi menghambat IRD yang autentik.

6.  Kurangnya pemahaman yang tepat tentang Kerajaan Allah juga memengaruhi IRD. KKK/KBG ditantang untuk menjadi saksi dan mewujudkan nilai-nilai ini di bumi, serta melakukan hal ini dalam solidaritas dengan seluruh umat manusia.

7.   Selain memperkuat KKK/KBG yang sudah ada, perlu dibentuk dan didorong adanya Komunitas Dasar Manusia (KDM) yang dapat menjadi sarana ampuh untuk perdamaian dan harmoni antar komunitas serta membantu kita beralih dari religiusitas menuju spiritualitas yang mendalam dan sejati. (FABC Papers No. 48, 1987).

8.  Isu-isu teologis yang diangkat oleh IRD seperti konsep Tuhan (apakah kita berdoa kepada Tuhan yang sama), konsep Umat Tuhan (apakah mereka juga umat Tuhan (LG 2,16), Yesus sebagai satu-satunya Juruselamat (EA10), relativisme, inkulturasi (Kekristenan sebagai agama asing), dll. dapat menimbulkan sikap negatif terhadap orang-orang dari agama lain. IRD adalah sikap yang membuat kita mampu bertemu Tuhan dengan cara-cara misterius di mana Tuhan hadir dalam agama-agama lain. Hal ini juga mengingatkan kita dan KKK/KBG kita untuk menemukan jalan kreatif dalam mengartikulasikan dan menghayati iman kita dalam konteks multi-agama. (EA 18)

 

Oleh karena itu kami merekomendasikan:

1)   Kepada SCC/BECS:

o  Upaya khusus itu dilakukan untuk melibatkan kaum muda dan keluarga dalam KKK/KBG.

o     Bahwa KKK/KBG benar-benar terlibat dalam dialog antaragama.

o   Bahwa kita bersatu dengan orang-orang dari agama lain dalam upaya kita untuk mempromosikan hak asasi manusia dan khususnya menangani isu-isu lingkungan, kemiskinan, ketidakadilan, dan kekerasan.

2)   Kepada para uskup dan imam:

o   Untuk memastikan adanya struktur pendukung yang kuat di tingkat nasional dan keuskupan.

o     Sebagai pemimpin spiritual, mereka perlu berada di garis depan dialog antaragama, mempromosikan persatuan di dalam dan di luar gereja.

3)      Kepada Redaksi FABC - AsIPA:

o   Untuk mengembangkan rencana pastoral, materi sumber daya, dan program pelatihan yang dapat membantu mempromosikan IRD di tingkat KKK/KBG, paroki, dan keuskupan.

o    Untuk mengejar IRD pada tingkat yang lebih dalam dan lebih komprehensif.

 

L.   Pengalaman kita dalam sidang umum ini telah memperkuat kita dan semakin menantang KKK/KBG kita untuk menjadi "titik awal yang kokoh bagi masyarakat baru yang didasarkan pada peradaban kasih" (Redemptoris Mislo 51, EA 25), terutama karena Paus Fransiskus menantang kita untuk menjadi gereja yang penuh belas kasihan dan welas asih (Misericordia Vultus 15).

Kami ingin mengucapkan terima kasih kepada tim pastoral KKK/KBG kami dan terutama kepada KKK/KBG kami yang tanpa lelah menghayati iman Kristen dan misinya. Kami juga menyampaikan rasa syukur yang mendalam atas dukungan yang diberikan kepada kami oleh Missio-Aachen dan panitia penyelenggara lokal, serta Kantor FABC-OLF, AsIPA Desk atas koordinasi keseluruhan pekerjaan.

Mengakhiri Sidang ini pada tanggal 28 Oktober, tepat pada hari Deklarasi tentang Hubungan Gereja dengan Agama-agama Non-Kristen 50 tahun yang lalu, semakin menantang KKK/KBG kita untuk mempromosikan kehidupan antaragama. Semoga Bunda Maria yang terkasih menjadi perantara bagi kita saat kita hidup secara kreatif dan setia bersama orang-orang dari berbagai keyakinan!****

Referensi:

Small Christian Communities

https://smallchristiancommunities.org

https://smallchristiancommunities.org/wp-content/uploads/2017/08/asipa_thailand.pdf