Selasa, 30 Desember 2014

Refleksi Natal Yesus: Fasilitator Di KBG Perlu Belajar Dari Para Gembala


Kandang Natal 2014 Stasi Manggar Belitung, Paroki Tanjungpandan

Narasumber:
"Marilah kita pergi ke Betlehem untuk melihat apa yang terjadi di sana, seperti yang diberitahukan Tuhan kepada kita.“ (Luk. 2: 15). Mereka memberitahukan apa yang telah dikatakan kepada mereka tentang Anak itu. Dan semua orang yang mendengarnya heran tentang apa yang dikatakan gembala-gembala itu kepada mereka. (Luk. 2: 17-18).

Makna Kehadiran Para Gembala di Hadapan Sang Bayi, Yesus
Para gembala adalah orang-orang upahan majikan yang menjaga gembala dan ternak lainnya. Mereka ini dalam strata masyarakat Yahudi adalah orang-orang kecil. Orang-orang yang bekerja siang hari menghantar gembala dan ternak lainnya untuk mencari rumput hijau dan sumber air untuk makanan dan minum ternak majikan. Dan pada waktu malam hari, mereka menjaga gembala dan ternak lain dari bahaya binatang buas dan para perampok. Kegigihan bekerja sebagai upahan pada majikan, membuat mereka hidup sehari-hari. Kerja keras mereka, tidak mereka ungkapkan untuk mengemis bonus kerja.

Tetapi kesetiaan, kejujuran, dan tanggungjawab para gembala adalah karakter dasar mereka yang membuat mereka bekerja lebih profesional. Kerja berat para gembala siang malam ini, ternyata mendapat kejutan dari Allah sendiri. Allah menyapa mereka melalui malaikat untuk segera pergi ke Betlehem. Bahwa di sana mereka akan menyaksikan karya besar Allah, yaitu Putra Tunggal-Nya yang terbaring didalam kandang ternak yang ditemani oleh kedua orangtua-Nya, Maria dan Yosef. Para gembala pun bergegas ke Betlehem. Di sana mereka menyaksikan Sang Bayi mungil. Maria dan Yosef berada disamping-Nya. Maria dan Yosef yang sedang menanti kunjungan pertama yang dilakukan oleh para gembala.

Para gembala datang menyaksikan dengan penuh keheranan. Mereka tidak berbicara apa-apa. Mereka hanya datang dan melihat. Melihat dalam konteks ini boleh dipahami lebih mendalam. Pertama, melihat berarti menyaksikan tanpa kata-kata. Namun tampak dalam ekspresi wajah, yaitu heran. Ekspresi heran disini, sangat manusiawi sekali. Melihat dengan heran: mata melotot, mulut setengah terbuka, dan gerak tangan dan mata bertubi-tubi untuk segera melihat Sang Bayi. Kedua, melihat dengan heran disini memiliki makna lebih jauh yaitu mendapat cara berpikir yang baru. Artinya melihat Sang Bayi sambil melihat ke kedalaman sanubari mereka. Sinilah, melihat secara reflektif. Melihat tidak lagi dengan mata, tetapi dengan matahati lalu terekspresi dalam cara berpikir, dan kenyataanya para gembala itu pulang ke padang lalu menjadi pewarta bagi orang lain. Mereka pulang lalu diam, tidak! Mereka pulang dan berkobar-kobar mewartakan apa yang mereka lihat dan alami secara langsung ‘epyfani’-penampakan Allah dalam wujudnyata Sang Bayi, Yesus yang ditemani Maria dan Yosef.

Situasi Anggota KBG dalam Pelaksanaan Sharing Injil
Mgr. Hilarius Moa Nurak, SVD dihadapan fasilitator Stasi Manggatr dan Gantong Belitung
Kelahiran Sang Bayi, Yesus di kandang ternak Betlehem, adalah ‘Firman Allah menjadi manusia’ (Yoh. 1: 1-18). Maria dan Yosef adalah tangan Allah yang transenden, menjadi imanen dengan manusia. Maria dan Yosef mentahtakan ‘Firman Allah’ – ‘Sabda Tuhan’ dan para gembala-lah yang menjadi orang-orang pertama yang bertetangga dekat dengan Maria dan Yosef  yang datang berkumpul dan berdoa dengan Keluarga Kudus Nazaret. Para gembala datang dari padang untuk melihat Yesus, Sang Bayi. Mereka rupanya tidak hanya melihat secara fisik. Tetapi mereka datang dan mendengarkan pengajaran ‘Sang Sabda Allah’ dan Maria dan Yosef. Mereka datang dengan kepolosan hati, kejujuran budi, dan mengemban tanggungjawab penuh sebagai orang-orang yang percaya kepada Allah. Mereka datang dan mau berpusat kepada Yesus. Berpusat kepada Yesus berarti, para gembala itu datang menyembah dan mendengarkan pengajaran ‘Sang Sabda’. Maria dan Yosef sebagai fasilitator utama saat itu, tidak banyak berbicara. Mereka benar-benar membuka hati dan kadang ternak untuk para gembala melihat dan mengalami ‘Sang Sabda’. Hebatnya ketika para gembala itu pulang, mereka dengan cara berpikir baru, yang sudah diperbaharui Sang Sabda menjadi pewarta bagi orang-orang lain. Lebih hebat lagi, orang-oang yang mendengarkan pewartaan para gembala pun heran. Mereka heran karena para gembala, adalah orang-orang sederhana itu, dapat menjadi pewarta Natal Yesus.

Ketika hasil Sinode II Keuskupan Pangkalpinang memperioritaskan misinya pada pengembangan KBG, hampir di setiap KBG-KBG di paroki-paroki menggalakan metode Sharing Injil, khususnya Sharing Injil Tujuh Langkah menjadi agenda utama setiap pertemuan KBG-KBG. Banyak orang bilang, banyak umat di KBG-KBG sudah terbiasa dengan Ibadat Sabda, sehingga ketika Sharing Injil Tujuh Langkah digalakan, anggota KBG-KBG menjadi diam seperti Ibadat Sabda, hanya pemimpin yang berbicara. Persoalan semacam ini bisa terjadi karena terlalu lama pola berpikir yang sudah tertanam didalam hati umat bahwa berdoa berarti diam dihadapan Tuhan. Dan pola ibadat Sabda adalah cara yang cocok. Apalagi didukung oleh kehadiran umat ketika merayakan ekaristi di Gereja. Sharing Injil Tujuh Langkah ialah cara baru dalam hidup ber-KBG. Anggota KBG datang dan berdoa, mensharingkan pengalaman hidup berdasarkan petikan Sabda yang dibacakan sebanyak tiga kali yang diselingi dengan hening sejenak. Itu artinya anggota KBG datang dan mau belajar pada ‘Sabda Allah’ ini seperti dilakukan oleh para gembala.

Sharing Injil tujuh Langkah, pada langkah pertama hingga langkah keempat, anggota KBG berjumpa dengan Sang Sabda. Berjumpaan dengan Sang Sabda membuat anggota KBG dapat berdoa, dapat memetik ayat singkat, dan dapat merenungkan Sabda Allah. Dan setelah itu anggota KBG dapat mensharingkan pengalaman hidupnya secara pribadi berdasarkan pesan atau nasihat dari Sang Sabda. Kemudian itu, anggota KBG bersama-sama merencanakan aksi nyata untuk diwujudkan dalam kehidupan nyata baik bersama anggota satu KBG maupun KBG-KBG lain bahkan dengan masyarakat disekitarnya. Langkah aksi nyata adalah langkah untuk menghidupkan Sang Sabda didalam kenyataan hidup. Langkah ini menjadi langkah yang sangat penting dan inti. Tanpa ini, Sang Sabda mati. Tanpa ini anggota KBG bukan menjadi pelaku Sang Sabda melainkan pendengar Sang Sabda. Dalam konteks inilah, Keuskupan Pangkalpinang bertekad untuk menjadi sebuah Gereja Lokal yang berpartisipatif.

Sikap Fasilitator Terhadap Anggota KBG yang diam
Melaksana Aksi Nyata, Hasil Sharing Injil masa Adven 2014 Paroki Sungailiat
Kenyataan bahwa tidak semua anggota KBG yang hadir dalam Sharing Injil Tujuh Langkah, tidak semuanya mengikuti langkah demi langkah dengan baik. Juga satu persoalan lagi adalah jika semua anggota mengikuti langkah demi langkah dengan baik, belum tentu juga semua anggota KBG terlibat secara langsung. Maka anggota KBG yang datang lalu duduk ‘diam’, fasilitator perlu menghargai hal ini. Kenapa?

Petama, duduk diam, bisa saja anggota aktif mendengarkan Sang Sabda dan merenungkannya. Dia membiarkan Sang Sabda masuk dan merasuki jiwa-batinnya. Persis seperti diam ala para gembala yang datang ke kandang Betlehem. Kedua, duduk diam, membiarkan Sang Sabda bekerja didalam dirinya. Sang Sabda bekerja secara alamiah berdasarkan kehendak Allah sendiri. Yakinkan diri bahwa pada satu saat, yang duduk diam akan aktif terlibat dalam Sharing Injil Tujuh Langkah. Ingat bahwa langkah demi langkah adalah proses berjumpa Sang Sabda, Sang Sabda akan menumbuhkan ‘tunas-tunas’ baru didalam diri setiap orang yang duduk diam, dan pada saatnya ‘tunas-tunas’ itu akan diperlihatkan didalam KBG ataupun didalam kenyataan hidup, dalam aksi nyata. Hal ini terbukti dari para gembala yang datang mengalami dengan seluruh diri, akan pergi dan mampu mewartakan Sang Sabda. Ketiga, ketika fasilitator menghadapi anggota KBG yang diam, fasilitator perlu bersikap sabar dan membiarkan karya Roh Kudus bekerja secara maksimal. Dengan bersabar dan membiarkan karya Roh Kudus, fasilitator akan menjadi lebih dewasa dalam hal sebagai fasilitator yang baik.

Akhirnya, anggota KBG yang duduk diam pun dapat belajar sendiri dari Sang Sabda dan dari anggota KBG yang lain. Dan Fasilitator sendiri menjadi dewasa dalam hal penghayatan imannya. Dan tentu fasilitator akan tumbuh menjadi seorang fasilitator marianis dan yosefis.Berani membuka hati dan seluruh dirinya untuk membiarkan anggota KBG yang duduk diam belajar dari Sang Sabda itu. ***

Rabu, 17 Desember 2014

Ibadat Tobat Di KBG



Menjelang Natal

Lagu Pembuka:                                                      PS. No. 601, ayat 1 dan 2.

1.  Tanda Salib
F     Dalam Nama Bapa, dan Putra, dan Roh Kudus....
U    Amin

2.  Salam
F     Semoga Rahmat Pengampunan dari Tuhan Kita Yesus Kristus, selalu beserta kita.
U    Sekarang dan selama-lamanya. Amin.

3.  Kata Pengantar
Bapak, ibu, saudara, saudari, adik-adikku yang terkasih, ada dua poin yang mau disampaikan pada kata pengantar berikut ini, sebelum kita mendengarkan Sabda Tuhan dan Memeriksa Batin secara pribadi dihadapan imam kita, in persona Christi (wakil Kristus yang hadir ditengah kita)

Pertama, ada tiga alasan pokok yang diajarkan oleh Gereja Katolik tentang pengakuan dosa pribadi kepada imam kita. (1). Sakramen Tobat adalah salah satu dari ketujuh sakramen yang ditetapkan oleh Tuhan kita Yesus Kristus sendiri. Kita ingat dalam Injil Yohanes 20: 22-23, disana, Yesus bersabda, “Terimalah Roh Kudus. Jikalau kamu mengampuni dosa orang, dosanya diampuni, dan jikalau kamu menyatakan dosa orang tetap ada, dosanya tetap ada.”

Sabda Yesus ini, kini diteruskan dalam Gereja Katolik melalui imam kita. Imam kita memiliki wewenang yang diberikan kepada para rasul, melalui tahbisan yang diterimanya, untuk mengampuni dosa atas nama Tuhan. Imam adalah pelayan sakramen yang bertindak atas nama pribadi Kristus. (2). Seorang imam adalah bapa rohani umat. Ketika kita sakit secara fisik, kita bergegas pergi ke dokter. Begitu juga, ketika jiwa kita sakit, kita pun pergi ke imam. Imam akan mengobati jiwa kita, dengan rahmat pengampunan. Sehingga jiwa kita tersembuhkan. (3). Imam mewakili Gereja dan sekaligus mewakili orang yang kepadanya kita berbuat dosa.

Kedua, Sakramen Tobat tidak begitu saja diberikan kepada setiap umat yang datang dihadapan imam. Sakramen Tobat harus dilaksanakan dengan penuh hormat dengan didahului memeriksa batin secara pribadi, yang dilaksanakan dalam Ibadat Tobat. Sehingga, sakramen Tobat, tidak asal-asalan diterima tanpa memeriksa batin. Dalam Ibadat Tobat, kita menyiapkan diri untuk menumbuhkan sikap penyesalan, mengakukan dosa dengan jujur, dan mempunyai niat yang tulus untuk memperbaiki diri – sehingga tidak jatuh dalam dosa yang sama lagi. Niatan yang tulus untuk memperbaiki diri bukan bergantung pada kekuatan sendiri, namun terutama bergantung pada rahmat Allah. Karena itu, sebuah tradisi Gereja yang sangat baik, bahwa sangat dianjurkan, agar orang mempersiapkan diri untuk menerima Sakramen Pengampunan, melalui pemeriksaan batin dalam terang Sabda Allah.

4.  Doa Pembuka
F     Ya Allah Bapa kami. Engkau telah mengutus Putera-Mu, Yesus datang ke dalam dunia ini dan menebus dunia ini dengan karya dan berkat-Nya. Melalui Sabda-Mu malam hari ini, kami bagai anak yang hilang dari rumah-Mu yang kudus. Kami, bagai anak sulung yang selalu ada dihadapan-Mu tetapi selalu saja mengeluh dengan banyak kekurangan dan bersikap pesimis untuk tetap berada terus di rumah-Mu yang kudus. Kami, bagai hamba-hamba-Mu yang siap mengikuti perintah-Mu tetapi dibelakang-Mu, selalu saja menggerutuh. Kami lupa akan menebusan-Mu melalui Yesus Kristus. Kini kami mau bertobat, bagai kami yang hilang yang mau kembali ke rumah-Mu. Kami, bagai anak sulung yang mau memulihkan persatuan dengan Engkau, dengan adiknya yang datang lagi, dengan hamba-hamba yang setia. Kami, bagai hamba-hamba-Mu, yang mau setia pengabdi dan tidak mau menggerutuh lagi. Hanya kepada-Mu, Bapa kami mohon ampun. Sebab Engkaulah Bapa yang mahapengasih dan penyayang, kini dan sepanjang segala masa.
U    Amin.

5.  Baca Injil:
F     Pembacaan dari Injil Lukas 15: 11-32: Anak Yang Hilang
11Yesus berkata lagi: "Ada seorang mempunyai dua anak laki-laki. 12Kata yang bungsu kepada ayahnya: Bapa, berikanlah kepadaku bagian harta milik kita yang menjadi hakku. Lalu ayahnya membagi-bagikan harta kekayaan itu di antara mereka. 13Beberapa hari kemudian anak bungsu itu menjual seluruh bagiannya itu lalu pergi ke negeri yang jauh. Di sana ia memboroskan harta miliknya itu dengan hidup berfoya-foya. 14Setelah dihabiskannya semuanya, timbullah bencana kelaparan di dalam negeri itu dan ia pun mulai melarat. 15Lalu ia pergi dan bekerja pada seorang majikan di negeri itu. Orang itu menyuruhnya ke ladang untuk menjaga babinya. 16Lalu ia ingin mengisi perutnya dengan ampas yang menjadi makanan babi itu, tetapi tidak seorang pun yang memberikannya kepadanya. 17Lalu ia menyadari keadaannya, katanya: Betapa banyaknya orang upahan bapaku yang berlimpah-limpah makanannya, tetapi aku di sini mati kelaparan.

18Aku akan bangkit dan pergi kepada bapaku dan berkata kepadanya: Bapa, aku telah berdosa terhadap sorga dan terhadap bapa, 19aku tidak layak lagi disebutkan anak bapa; jadikanlah aku sebagai salah seorang upahan bapa. 20Maka bangkitlah ia dan pergi kepada bapanya. Ketika ia masih jauh, ayahnya telah melihatnya, lalu tergeraklah hatinya oleh belas kasihan. Ayahnya itu berlari mendapatkan dia lalu merangkul dan mencium dia. 21Kata anak itu kepadanya: Bapa, aku telah berdosa terhadap sorga dan terhadap bapa, aku tidak layak lagi disebutkan anak bapa. 22Tetapi ayah itu berkata kepada hamba-hambanya: Lekaslah bawa ke mari jubah yang terbaik, pakaikanlah itu kepadanya dan kenakanlah cincin pada jarinya dan sepatu pada kakinya. 23Dan ambillah anak lembu tambun itu, sembelihlah dia dan marilah kita makan dan bersukacita. 24Sebab anakku ini telah mati dan menjadi hidup kembali, ia telah hilang dan didapat kembali. Maka mulailah mereka bersukaria. 25Tetapi anaknya yang sulung berada di ladang dan ketika ia pulang dan dekat ke rumah, ia mendengar bunyi seruling dan nyanyian tari-tarian. 26Lalu ia memanggil salah seorang hamba dan bertanya kepadanya apa arti semuanya itu. 27Jawab hamba itu: Adikmu telah kembali dan ayahmu telah menyembelih anak lembu tambun, karena ia mendapatnya kembali dengan sehat.

28Maka marahlah anak sulung itu dan ia tidak mau masuk. Lalu ayahnya keluar dan berbicara dengan dia. 29Tetapi ia menjawab ayahnya, katanya: Telah bertahun-tahun aku melayani bapa dan belum pernah aku melanggar perintah bapa, tetapi kepadaku belum pernah bapa memberikan seekor anak kambing untuk bersukacita dengan sahabat-sahabatku. 30Tetapi baru saja datang anak bapa yang telah memboroskan harta kekayaan bapa bersama-sama dengan pelacur-pelacur, maka bapa menyembelih anak lembu tambun itu untuk dia. 31Kata ayahnya kepadanya: Anakku, engkau selalu bersama-sama dengan aku, dan segala kepunyaanku adalah kepunyaanmu. 32Kita patut bersukacita dan bergembira karena adikmu telah mati dan menjadi hidup kembali, ia telah hilang dan didapat kembali."
Demikianlah Sabda Tuhan.
U    Terpujilah Kristus.

6.  Hening sejenak

7.  Renungan Pemeriksaan Batin:
a.    Mari, kita berdiri dan mencerminkan diri dihadapan Figur sang Anak Sulung:
·      Sang sulung merupakan tipe orang yang setia, taat, peduli, penuh kasih, dan sayang kepada Bapa. Setia kepada perintah Bapa. Taat melaksanakan tugas-tugas yang diberikan Bapa. Peduli kepada Bapa dan para hamba Bapanya. Sayang kepada Bapanya melalui pelayanannya kepada Bapa dan seisi rumah Bapa. Namun, apa yang terjadi? Rupanya figur sang sulung berubah total ketika Bapa yang mahakasih dan penyayang itu murah hati dan tulus ikhlas menerima adiknya yang telah hilang, kembali lagi. Sang sulung marah, geram, emosi dan rupanya pendendam. Sang sulung perotes kepada Bapanya. Sang sulung dengan tegas tidak mau masuk dalam Rumah Bapanya. Malahan Bapanya keluar dari rumah dan mengajaknya masuk dalam Rumah kembali. Untuk menerima kembali adiknya yang telah hilang itu, kembali lagi.
·      Terkadang kita ini bagai sang sulung. Bersikap setia kepada pasangan, anak, sesama umat Katolik dan masyarakat sekitar kita, sesama anggota KBG, sesama anggota Gereja, bahkan para pimpinan Gereja kita. Namun, ketika masalah sepele muncul, sikap kita menjadi berubah total. Muncul marah, kecewa, dendam, putus asa, cemburu, iri hati, dan bahkan menutup diri untuk tidak mau menegursapa dengan sesama anggota keluarga, KBG, tetangga, anggota Gereja bahkan kepada para pemimpin Gereja kita. Kita lupa akan kebaikan Bapa yang penuh kasih yang adalah Allah kita, yang siap menerima kita dalam kondisi apa saja, entah seperti anak yang hilang, si sulung dan para hambanya.
b.    Mari kita berdiri dan bercermin dihadapan Anak Bungsu:
·      Anak bungsu adalah figur kontradiktif, yang langsung terbaca dalam pikiran kita bahwa dia anak yang tidak taat, melawan orangtua, tidak setia, suka berfoya-foya, kotor, jorok, setara binatang, dan lain-lain. Entah sadar atau tidak, boleh jadi perjalanan hidup kita, bisa seperti si Anak Bungsu.
·      Dalam keluarga kita, dalam KBG kita dan dalam Gereja kita situasi bisa saja sebuah situasi bisa berubah seperti si anak bungsu. Dia memohon kepada Bapanya seperti itu, mungkin saja sikap Bapanya atau sikap orangtua atau sikap pimpinan kita yang lebih peduli kepada anak sulung, anak-anak yang lebih baik dan cantik atau ganteng atau lebih setia dan taat.
·      Namun, jauh dari sikap-sikap si bungsu tadi adalah si bungsu menyadari dirinya bahwa ia bersalah-khilaf atas perbuatannya dan dosa-dosa yang dilakukannya, dia menyesal semuanya itu lalu memiliki niat yang suci tanpa melihat masa lalunya, bangkit untuk pulang kembali kepada Bapanya. Hebatnya lagi, sikap Bapa yang tidak berkomentar banyak, langsung keluar dari rumah dan pergi menjemputinya, membawa masuk ke dalam rumah, membuat pesta, dan meminta kepada si bungsu untuk menerima kembali adiknya.

c.    Mari kita berdiri dan bercermin pada Para Hamba:
·      Seorang hamba yang baik adalah melayani. Melayani apa saja yang menjadi tugasnya.  Melayani adalah sebuah tindakan positip. Melayani menjadi sebuah tindakan negatif, jika melakukan pelayanan dengan sikap gerutu, cemberut, muka masam, tidak tulus dan ikhlas. Seorang hamba sejati, jadikan Yesus sebagai figur, karena didalam diri Yesus, figur seorang hamba sangat nampak, Dia-lah Hamba Allah, Hamba Bapa yang mahakasih.
·      Benarkah atau adilkah kita menjadi seorang hamba Yesus, hamba Allah dengan menjadi seorang Kristen yang Katolik? Ataukah seorang hamba seperti dalam bacaan tadi, yang menyulut hati sang sulung dengan menyampaikan kabar adiknya yang hilang telah pulang kembali, yang diterima oleh Bapa dengan membuat pesta? Terkadang kita dengan kata-kata atau perbuatan, menyulut emosi orang lain, membuat geram banyak pihak: entah suami/isteri, anak-anak, tetangga dan ataupun siapa saja yang ada di dekat kita, dengan menceritakan hal-hal yang tidak baik yang sudah lewat, yang tidak diingat lagi?!!

d.    Dunia masa kini:
·      Ada banyak situasi-peristiwa masa kini, yang membuat kita terperangkap dalam hidup yang egois, hidup yang kurang saling berbagi, hidup yang kurang peduli dengan sesama dan lingkungan hidup kita. Kita kurang menghargai kebersamaan dalam keluarga lebih memiliki kebersamaan di luar rumah.
·      Terhadap alam, lingkungan hidup disekitar kita, kita membuang sampah di sembarang tempat, kita bahkan merusak alam semesta sehingga udara segar tidak dirasakan lagi, polusi udara yang terjadi.

e.    Kita berdiri dan bercermin diri dihadapan Figur sang Bapa yang Mahapengasih dan Penyayang:
·      Bapa yang baik adalah Bapa yang mau menerima seluruh anggota keluarganya, apapun kemauannya, sambil memberikan ketulusan hatinya dan keikhlasan budinya untuk dimengerti oleh anak-anaknya. Kita, saat ini, baik laki-laki maupun perempuan, anak-anak kecil ataupun kaum remaja, menikah ataupun belum menikah. Dipanggil untuk menjadi seorang Bapa yang baik, tulus dan ikhlas. Bagaimana sikap kita terhadap kebaikan Allah Bapa yang penuh kasih tadi, selama ini? Masih ada waktukah dalam diri kita untuk berdoa dan bersyukur dalam keluarga kita, dalam KBG kita dan dalam Gereja kita untuk mengekspresikan sikap kebaikan, ketulusan hati, keikhlasan budi untuk melayani Tuhan dan sesama kita?
·      Bapa yang baik adalah Bapa yang menerima siapa saja anak-anaknya, baik dalam keadaan baik, bijaksana dan saleh maupun dalam keadaan berdosa, berfoya-foya, tidak taat, tidak setia, ingin menang sendiri, dll. Masih adakah didalam ruang/bilik hati kita mau menerima siapa saja, saudara-saudari seiman, baik yang baik dan bijaksana maupun yang bersalah dan khilaf-berdosa, untuk menjadi anggota keluarga, sahabat arib yang perlu dibimbing menuju keselamatan dalam Bapa di surga? Masih ada waktukah kita memiliki hati untuk menasihati dan memberikan jalan keluar bagi orang-orang yang susah, sulit dan sedang mengalami kesukaran dalam hidup?
·      Bapa yang baik juga terkadang menerima kritikan, omelan, cercahan, dan tuduhan seperti yang dilakukan oleh anak sulung dalam bacaan tadi. Bagaimana sikap kita ketika kita menerima kritikan, omelan, cercahan dan tuduhan dari orang lain bila kita bersikap berani untuk memberikan nasihat, ketika kita juga berbuat salah, ketika kita juga mau menang sendiri, ketika kita dengan merasa lebih hebat lalu melihat orang lain sebagai orang yang belum tahu apa-apa, kecil, dan tidak mengerti?

8.  Hening Sejenak

9.  Pengakuan Dosa secara Pribadi:

Bapa/ibu/ saudara-saudari, mari kita mengadakan tobat pribadi kita, dengan mengaku dosa-dosa kita dihadapan Kristus yang hadir dalam diri sang gembala kita. Saya persilahkan satu persatu untuk masuk kamar pengakuan, kita yang lain menunggu giliran dengan menjaga ketenangan dan hening.....

Dibawakan di KBG St. Andreas Paroki Sta. Bernardeth Pangkalpinang, 
Selasa, 16 Desember 2014

Sabtu, 13 Desember 2014

Adven III: Masih Adakah Kejujuran Di Hati Kita?



Yoh. 1: 6-8;19-28


Di tengah glamournya kehidupan dunia masa kini, rasanya agak sulit kita mengatakan ‘masih ada kejujuran’ yang menempel di hati kita.’ Apalagi ketika sebuah sikap jujur itu terbalut erat dengan sikap pesimistis dan sikap iri hati serta sombong diri. Rasanya sikap jujur jika ada, toh seperti kita sebuah jarum didalam seonggokkan jerami.

Membangun kebersamaan antar Tim AsIPA
kap jujur yang terungkap dari kedalaman sanubari dan kebeningan hati Yohanes Pembaptis, adalah sebuah sikap yang sangat menganggumkan. Dan karena sikap jujur yang terungkap dari lubuk hatinya yang paling dalam, Yohanes Pembaptis pun dengan tidak gentar menghadapi utusan orang-orang Yahudi dari Yerusalem yang datang kepadanya, bertanyajawab soal keberadaannya dan tindakkannya membaptis orang yang datang menjadi muridnya.

Didalam sikap ketidaktakutannya menghadapi para imam, orang Lewi, dan diantaranya kaum Farisi, sekali lagi, Yohanes Pembaptis pun dengan sikap polos mengungkapkan ‘seseorang’ yang saat itu hadir diantara para utusan itu. Sikap polos Yohanes Pembaptis merupakan sebuah sikap yang ter-iluminasi (dibaca tercahayai) oleh kuasa Sang Khalik. Makna terdalam disini ialah bahwa Yohanes Pembaptis sendiri mengungkapkan jati dirinya secara jujur dan sekaligus dengan sikap jujur dan polos serta keberaniannya mengungkap kehebatan sosok Sang Mesias yang sudah dinantikan umat manusia.

Bahwa Dia yang akan datang itu, sudah datang lebih dahulu daripadanya dan akan tampil ke depan umum, jauh lebih hebat ketimbang Yohanes Pembaptis sendiri. Dengan sikap jujur, polos, dan berjiwa berani yang ditunjukkan Yohanes Pembaptis, mau mengatakan kepada kita bahwa Yohanes Pembaptis tahu dirinya, bahwa dia adalah seorang utusan, seorang nabi yang membuka jalan datangnya Sang Emanuel, Yesus Kristus.

Sikap Yohanes Pembaptis sebagai seorang utusan, patut kita belajar secara serius. Karena, hal ini berkaitan erat dengan makna terdalam dari sakramen pembaptisan dan krisma yang telah kita terima. Dengan itu, ketika kita diminta atau tidak diminta menjadi utusan, kita memanfaatkan diri secara benar dan jujur dihadapan Allah dan sesama kita. Bersikap tidak jujur, sombong diri dan pengecut, merupakan sikap yang dikritik keras oleh Yohanes Pembaptis.***