Tampilkan postingan dengan label Pertemuan KBG Bulan Kitab Suci Nasional 2019. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Pertemuan KBG Bulan Kitab Suci Nasional 2019. Tampilkan semua postingan

Jumat, 30 Agustus 2019

ALLAH MEMBARUI BUMI UNTUK MAKHLUK-MAKHLUK CIPTAAN-NYA (KEJ. 8:1-5, 8-19) (3)


Pertemuan Ketiga KBG- Bulan Kitab Suci Nasional 2019
Pendalaman Kitab Suci Di KBG-KBG
(Tim Komisi Kerasulan Kitab Suci
Regio Papua, dan dikemas kembali oleh PIPA Keuskupan Pangkalpinang sesuai dengan konteksnya)


Tujuan:
§  Peserta mengungkapkan alasan Allah membarui bumi.
§  Peserta mengungkapkan Allah tetap menjaga dan merawat segala ciptaan melalui peristiwa alam. 

GAGASAN DASAR:
Allah itu “penyayang dan pengasih, panjang sabar dan berlimpah kasih setia- Nya.” Kisah Nuh menyatakan kesetiaan dan belas kasih Allah terhadap manusia berdosa dan makhluk-makhluk ciptaan-Nya yang telah rusak. Allah yang telah menyelamatkan Nuh dan makhluk-makhluk lain dalam bahtera, mengingat mereka, lalu menciptakan kembali bumi menjadi tempat hidup mereka. Sudah beberapa kali dalam sejarah bumi ketika bencana vulkanis global atau benturan meteor memusnahkan sebagian besar makhluk hidup, Allah Pencipta menun- jukkan  kesetiaan-Nya  dengan  terus  mengadakan  evolusi  yang  melahirkan banyak jenis dan spesies yang baru, di antaranya kita, manusia.
Sekarang kita sekali lagi berada dalam krisis bumi, kali ini akibat kegiatan manusia sendiri. Dengan mengeruk bumi secara rakus, manusia telah mendatangkan hukuman atas dirinya sendiri. Di bumi telah terjadi degradasi lingkungan hidup, pencemaran tanah, air dan udara, perubahan iklim yang dapat menimbulkan bencana lebih dahsyat. Melalui kisah Nuh, Allah mengatakan kepada kita bahwa sekalipun manusia telah berdosa, Allah tetap setia terhadap bumi dan segala yang hidup di atasnya. Allah tetap berkomitmen membarui bumi di tengah perusakan yang dilakukan oleh manusia padanya.
Kesetiaan-Nya itu memanggil kita kepada pertobatan ekologis; dan menguatkan kita untuk “mengerjakan dan memelihara” bumi dengan cara yang lebih baik, lebih sesuai dengan irama dan hukum alam yang diletakkan Allah di dalam karya ciptaan-Nya. Didukung oleh tindakan penciptaan Allah yang terus berjalan, kita dapat menjaga dan memulihkan keutuhan ekosistem. Kita dipanggil menjadi seperti Nuh mau bekerja sama, memantau perkembangan, menemukan momen-momen yang diberikan oleh Allah, dan melangkah keluar untuk memulihkan apa yang sudah kita rusak. 

A.    PEMBUKA
1.  Fasilitator memberikan salam dan mengajak anggota KBG untuk membuka pertemuan ini dengan sebuah lagu pembuka.
2.  Fasilitator mengajak anggota KBG untuk berdiri dan memberikan hormat dengan menundukkan kepala di depan Kitab Suci yang telah ditahtakan.
3.  Fasilitator meminta salah seorang di antara anggota KBG untuk berdoa mengundang Tuhan.
4.  Fasilitator mengundang anggota KBG untuk terlibat dalam pendalaman materi pertemuan, sebagai berikut:

F:     Selamat malam, bapak/ ibu/ saudara dan saudari yang terkasih dalam Tuhan kita Yesus Kristus. 
Terima kasih untuk kehadiran kita semua dalam pertemuan pendalaman Kitab Suci saat ini. Dalam pertemuan Minggu  lalu  kita  telah  mendalami  subtema  “Kita  dipanggil  untuk melestarikan  lingkungan  hidup.”  Dalam  pertemuan  itu,  kita  juga dipanggil  untuk  melestarikan  lingkungan  hidup,  sebagaimana  yang telah  dilakukan  Nuh.
Pada Pertemuan III ini kita akan mendalami “Komitmen Allah kepada keberlanjutan bumi ciptaan-Nya.” Kita akan bersama-sama mencari jawaban atas pertanyaan, mengapa Allah membarui bumi, menyelamatkan bumi dan segala isinya dari air bah? Selain itu kita juga akan diajak untuk melihat tindakan Allah yang tetap menjaga dan merawat segala ciptaan melalui peristiwa alam.

B.    PENDALAMAN KITAB SUCI
§   Teks Kitab Suci (Kej. 8:1-5, 8-19)
§   Fasilitator meminta beberapa peserta membaca teks per alinea, satu orang satu alinea, dengan suara lantang dan tidak tergesa-gesa. Peserta yang lain mendengarkan dengan penuh perhatian sambil mengikutinya dalam Alkitab masing-masing.

8:1Allah mengingat Nuh dan segala binatang liar serta segala ternak yang bersama dia dalam bahtera itu, lalu Allah membuat angin bertiup di atas bumi, sehingga air itu surut. 2Ditutuplah mata-mata air samudera raya serta tingkap-tingkap di langit dan berhentilah hujan lebat dari langit, 3dan makin surutlah air itu dari muka bumi. Demikianlah berkurang air itu sesudah seratus lima puluh hari. 4Dalam bulan yang ketujuh, pada hari yang ketujuh belas bulan itu, terkandaslah bahtera itu pada pegunungan Ararat. 5Sampai bulan yang kesepuluh makin berkuranglah air itu; dalam bulan yang kesepuluh, pada tanggal satu bulan itu, tampaklah puncak-puncak gunung.

8Kemudian dilepaskannya seekor burung merpati untuk melihat, apakah air itu telah berkurang dari muka bumi. 9Tetapi burung merpati itu tidak mendapat tempat tumpuan kakinya dan pulanglah ia kembali mendapatkan Nuh ke dalam bahtera  itu,  karena  di  seluruh  bumi  masih  ada  air;  lalu  Nuh  mengulurkan tangannya, ditangkapnya burung itu dan dibawanya masuk ke dalam bahtera. 10Ia menunggu tujuh hari, kemudian burung merpati itu dilepasnya lagi dari bahtera. 11Menjelang senja burung merpati itu kembali kepada Nuh dengan sehelai daun zaitun  segar  di  paruhnya, sehingga  Nuh  mengetahui  bahwa  air  itu  telah berkurang dari atas bumi. 12Setelah menunggu tujuh hari lagi, ia melepas burung merpati  itu,  tetapi  burung  itu  tidak  kembali  lagi  kepadanya. 13aPada tahun keenam ratus satu, di bulan pertama, pada tanggal satu bulan itu, air itu sudah kering dari atas bumi. 15Berfirmanlah Allah kepada Nuh: 16"Keluarlah dari bahtera itu, engkau bersama istrimu, anak-anakmu, dan istri anak-anakmu; 17segala binatang yang bersama engkau, segala makhluk: burung-burung, hewan, segala binatang yang melata di bumi. Suruhlah mereka keluar bersama engkau, supaya semuanya itu berkeriapan di bumi serta berkembang biak dan bertambah banyak di bumi." 18Lalu keluarlah Nuh bersama anak-anaknya, istrinya, dan istri anak-anaknya. 19Juga segala binatang liar, segala binatang melata dan segala burung, semua yang bergerak di bumi, masing-masing menurut jenisnya, keluar dari bahtera itu. 

PENDALAMAN
§   Fasilitator meminta peserta membaca kembali teks sambil memperhatikan pertanyaan di bawah.
§   Para peserta dapat dibagi dalam kelompok dan setiap kelompok mencari jawaban atas pertanyaan-pertanyaan itu di dalam teks Kitab Suci.

a.  Bagaimana air bah itu surut?
b.  Bagaimana Nuh mengetahui bahwa air bah sudah surut?
c.  Apa tindakan Allah untuk membarui ciptaan-Nya?

C.    PENEGASAN (FASILITATOR):
§  Fasilitator menyampaikan penjelasan di bawah ini.
§  Fasilitator dapat menambahkan penjelasan yang diambil dari “Penjelasan Cerita Air Bah” yang terdapat dalam Gagasan Pendukung (halaman 21 dst.).

v  Setelah sekian lama air bah menggenangi Bumi, Allah mengingat Nuh dan segala makhluk di dalam bahtera.  Ia  menutup  mata-mata  air samudera  raya  serta  menutup  kembali  tingkap-tingkap  di  langit. Dengan tiupan angin juga Allah membuat air surut.  Puncak-puncak gunung pun menjadi tampak dan bahtera terkandas di Pegunungan Ararat.  Allah sudah menjadikan kembali bumi dan menyediakan tempat hidup bagi Nuh dan keluarganya serta makhluk-makhluk hidup lainnya.
v  Burung merpati menjadi pemantau bagi Nuh untuk melihat keadaan Bumi  yang  akan  menjadi  tempat  hidup  bagi  mahkluk-mahkluk  di dalam  bahtera.  Ia  melepaskan  burung  merpati,  tetapi  burung  itu kembali  ke  bahtera.  Burung itu kembali karena tidak menemukan tumpuan kaki dan hal ini menunjukkan bahwa air belum surut. Tujuh hari  kemudian  Nuh  melepaskan  burung  merpati  dan  burung  itu kembali  dengan  membawa  sehelai  daun  zaitun. Ini menunjukkan bahwa air telah surut dan kehidupan baru di bumi sudah dimulai. Nuh menunggu tujuh hari lagi lalu melepaskan lagi burung merpati itu, dan burung itu tidak kembali. Ini menunjukkan bahwa burung itu menemukan tempat hidup dan hal ini menunjukkan bahwa air benar-benar telah surut dari muka Bumi.
v  Allah memerintahkan Nuh keluar dari bahtera bersama dengan keluarganya serta seluruh binatang yang ada di bahteranya. Merekalah penghuni Bumi yang telah diciptakan kembali oleh Allah. Kemudian Allah menyatakan kehendak-Nya agar semua binatang itu berkeriapan di bumi serta berkembangbiak dan bertambah banyak. Demikian juga kepada Nuh dan keluarganya Allah berfirman, “Beranakcuculah dan bertambah banyaklah serta penuhilah bumi” (Kej. 9:1; bdk. Kej. 1:22). 

D.    AKSI NYATA:
§ Fasilitator menyampaikan pesan yang diambil dari bacaan yang telah direnungkan berikut ini. 
§   Kemudian bersama-sama merencanakan aksi nyata dengan panduan pertanyaan berikut ini.

F:   Sejak awal Allah berkehendak agar manusia hidup damai dan bahagia di bumi. Karena itu, Allah tidak membiarkan air bah tetap mengge- nangi bumi. Ia menutup mata-mata air samudera raya serta tingkap-tingkap  di  langit  dan  membuat  angin  bertiup  sehingga  air  menjadi surut. Untuk  mengetahui  bahwa  air  bah  sudah  surut,  Nuh  bekerja  sama dengan  mahkluk  lain,  yaitu  burung  merpati.  Ketika  burung  merpati kembali  dengan  membawa  sehelai  daun  zaitun  yang  segar,  Nuh menjadi yakin bahwa tanah telah menumbuhkan tunas-tunas muda. 

a.     Apa yang kita lakukan untuk menjaga lestarian air?
b.  Apa yang kita lakukan supaya air tetap bermanfaat bagi kehidupan bukan menghancurkan kehidup-an?

E. DOA SPONTAN:

§  Fasilitator mengundang anggota KBG untuk mengungkapkan doa-doa umat berupa pujian, syukur, dan permohonan.
§ Fasilatator mengajak anggota KBG berdoa Doa Bapa Kami, sebagai doa penyatuan semua doa yang telah diungkapkan secara spontan.
§  Doa penutup dengan Doa Tahun Berpusat pada Kristus.
§  Lagu penutup

=***=

KITA DIPANGGIL UNTUK MELESTARIKAN LINGKUNGAN HIDUP (KEJ. 6:13-22; 7:11-17) (2)


Pertemuan Kedua KBG Bulan Kitab Suci Nasional 2019

Pendalaman Kitab Suci Di KBG-KBG
(Tim Komisi Kerasulan Kitab Suci
Regio Papua, dan dikemas kembali oleh PIPA Keuskupan Pangkalpinang sesuai dengan konteksnya)



TUJUAN:
§  Peserta memahami bahwa Nuh dipanggil oleh Allah untuk melestarikan lingkungan hidup.
§  Peserta menyadari panggilan Allah dalam dirinya untuk melestarikan lingkungan hidup.

GAGASAN DASAR:
Kebanyakan cerita Alkitab hanyalah tentang Allah dan manusia, karya Allah untuk keselamatan manusia. Kisah Nuh ini berbeda. Setelah  menceritakan bahwa kejahatan manusia  merusakkan  juga  seluruh  ciptaan  Allah  lainnya, sekarang diceritakan bahwa Allah berupaya menyelamatkan manusia bersama makhluk  hidup  lainnya.  Ia menyelamatkan seluruh makhluk hidup, bukan hanya karena mereka berguna bagi manusia tetapi karena semuanya memiliki nilai tersendiri bagi Allah yang mengasihi apa pun yang diciptakan-Nya.
Tidak seluruh alam ciptaan berperan dalam kisah Nuh; hanya makhluk yang hidup di bumi akan mati di dalam air. Ikan-ikan dan makhluk air lainnya yang sekarang  paling  terancam  di  sungai  dan  laut  yang  tercemar,  tidak  muncul dalam  kisah  Nuh  sebab  tidak  terancam  air  bah.  Juga  pohon  dan  tanaman lainnya yang begitu menentukan untuk keseimbangan ekosistem, dalam kisah Nuh tidak muncul sebab dalam ekologi Israel kuno tumbuhan-tumbuhan tidak dipandang  sebagai  makhluk  hidup  tersendiri  tetapi  menyatu  dengan  tanah (Kej. 1:12). Akar-akarnya dan benihnya bertahan hidup bila ditutupi banjir, dan dengan sendirinya akan bertunas lagi setelah air surut, sebagaimana tampak dari helai daun zaitun segar yang akan dibawa merpati kepada Nuh (Kej. 8:11). Biarpun tidak muncul dalam kisah Nuh, namun perusakan dan pelestarian flora bumi dan makhluk air hendaknya tetap menjadi perhatian kita dalam merenungkan pesan kisah air bah untuk keadaan sekarang.
Cerita pemusnahan segala makhluk hidup diawali, diselingi, dan disusul oleh bagian-bagian cerita tentang Allah yang menyelamatkan keluarga Nuh; dan melibatkan Nuh dalam membangun sebuah bahtera sebagai rumah (oikos) bagi segala spesies yang hendak diselamatkan. Nuh, orang benar yang diingat oleh Allah, menjadi simbol pelestarian alam ciptaan. Cerita ini memupuk harapan baru dan mendorong orang melibatkan diri dalam menghadapi krisis global yang kita alami.
Pertama,  kita  diberi  harapan  bahwa  kerusakan  bumi,  kepunahan  spesies, perubahan iklim, dll., akibat kecerobohan manusia sendiri, dapat dibalikkan. Seperti Nuh, kita dapat menanggapi panggilan Tuhan untuk turut melestarikan bumi dan semua spesies yang terancam.  Kita  dapat  melakukannya  dengan membangun  “bahtera”,  memulihkan  habitat  spesies-spesies  itu:  hutan,  air, sungai,  laut,  tanah,  udara.  Sosok  Nuh  yang  membangun  bahtera  demi menyelamatkan segala macam makhluk hidup, menjadi lambang ulung bagi kegiatan  kita  untuk  melestarikan  lingkungan  hidup  bukan  hanya  untuk kepentingan kita sendiri tetapi juga demi ketahanan hidup makhluk lain.
Kedua, cerita ini memupuk harapan kepada Allah. Nuh dapat menyelamatkan segala jenis makhluk yang terancam itu, dalam kepercayaan dan ketaatan kepada Allah, Sang Pencipta, yang tetap mau memelihara ciptaan-Nya yang terancam itu. Harapan kepada Pencipta itu mungkin jarang ditampakkan oleh para ekolog sekular, padahal sangat menguatkan perjuangan untuk pelestarian lingkungan hidup. Manusia yang menyadari dirinya diutus dan dilibatkan oleh Allah yang dengan setia bekerja untuk keberlanjutan karya ciptaan-Nya, mendasari sebuah spiritualitas yang mendorong tindakan ekologis. Komitmen Allah itu akan menjadi tema utama dalam lanjutan kisah Nuh (Kej. 8-9).

A.    PEMBUKA
1.  Fasilitator memberikan salam dan mengajak anggota KBG untuk membuka pertemuan ini dengan sebuah lagu pembuka.
2.     Fasilitator mengajak anggota KBG untuk berdiri dan memberikan hormat dengan menundukkan kepala di depan Kitab Suci yang telah ditahtakan.
3. Fasilitator meminta salah seorang di antara anggota KBG untuk berdoa mengundang Tuhan.
4.   Fasilitator mengundang anggota KBG untuk terlibat dalam pendalaman materi pertemuan, sebagai berikut:

F:     Selamat malam, bapak/ibu/saudara dan saudari yang terkasih dalam Tuhan kita Yesus Kristus. 
Kita  patut  bersyukur  karena  berkat  kasih Allah  kita  boleh  berkumpul  kembali  di  tempat  ini  guna  mendalami Kitab Suci. Pada pertemuan Minggu lalu kita telah melihat bagaimana makhluk hidup musnah karena kejahatan manusia.  Kita  juga  telah melihat  bagaimana manusia  menyombongkan  diri  dengan  berbuat kejahatan yang mengakibatkan krisis lingkungan hidup dan bagaimana kita  menanggapi  situasi  tersebut. 
Dalam pertemuan kedua ini, kita akan mendalami subtema “Kita dipanggil untuk melestarikan lingkung- an hidup. “Kita akan belajar dari teladan seorang benar yang dipanggil oleh Allah untuk menyelamatkan dan melestarikan makhkluk ciptaan. Dia adalah Nuh, seorang yang hidup benar di hadapan Allah dan dapat dipandang sebagai tokoh pelestarian lingkungan hidup.

B.    PENDALAMAN KITAB SUCI

§   Teks Kitab Suci (Kej. 6:13-22; 7:11-17).
§   Fasilitator meminta beberapa peserta membaca teks per alinea, satu orang satu alinea, dengan suara lantang dan tidak tergesa-gesa. Peserta yang lain mendengarkan dengan penuh perhatian sambil mengikutinya dalam Alkitab masing-masing. 

6: 13Berfirmanlah Allah kepada Nuh: "Aku telah memutuskan untuk mengakhiri  hidup segala makhluk, sebab bumi telah penuh dengan kekerasan oleh mereka,   jadi  Aku  akan  memusnahkan  mereka  bersama-sama  dengan  bumi. 14Buatlah bagimu sebuah bahtera dari kayu gofir. Bahtera itu harus kaubuat bersekat-sekat dan harus kaulapisi dengan ter di sebelah luar dan dalam. 15Beginilah harus kaubuat bahtera itu: tiga ratus hasta panjangnya, lima puluh hasta lebarnya dan tiga puluh hasta tingginya. 16Buatlah atap pada bahtera itu dan selesaikanlah bahtera itu sampai sehasta dari atas, dan pasanglah pintunya pada lambungnya. Buatlah bahtera itu bertingkat bawah, tengah, dan atas. 17Sesungguhnya Aku akan mendatangkan air bah meliputi bumi untuk memusnahkan segala makhluk yang bernafas hidup di kolong langit; segala yang ada di bumi akan binasa. 18Tetapi, Aku akan membuat perjanjian-Ku denganmu. Engkau akan masuk ke dalam bahtera  itu:  engkau  bersama  dengan  anak-anakmu,  istrimu,  dan  istri  anak- anakmu. 19Dan  dari  segala  yang  hidup,  dari  segala  makhluk,  dari  semuanya haruslah engkau bawa satu pasang ke dalam bahtera itu, supaya terpelihara hidupnya bersama engkau; jantan dan betina harus kaubawa. 20Dari segala jenis burung dan dari segala jenis hewan, dari segala jenis binatang melata di muka bumi, dari semuanya itu harus datang satu pasang kepadamu, supaya terpelihara hidupnya. 21Dan  engkau,  bawalah  bagimu  segala  apa  yang  dapat  dimakan. Kumpulkanlah itu padamu untuk menjadi makanan bagimu dan bagi mereka." 22Lalu  Nuh  melakukan  semuanya  itu;  tepat  seperti  yang  diperintahkan  Allah kepadanya, demikianlah dilakukannya. 

7:11Ketika Nuh berumur enam ratus tahun, di bulan kedua, pada hari ketujuh belas bulan itu, pada hari itulah pecahlah segala mata air lautan besar di bawah bumi dan terbukalah tingkap-tingkap di langit. 12Dan turunlah hujan lebat atas bumi selama empat puluh hari empat puluh malam. 13Pada hari itulah juga masuklah Nuh serta Sem, Ham dan Yafet, anak-anak Nuh, dan istri Nuh, serta ketiga istri anak-anaknya, ke dalam bahtera itu, 14bersama mereka juga segala jenis binatang liar dan segala jenis hewan dan segala jenis binatang yang merayap di bumi dan segala jenis burung, segala unggas yang bersayap. 15Segala makhluk yang bernafas hidup datang sepasang demi sepasang kepada Nuh dalam bahtera itu. 16Semua yang  datang,  jantan  dan  betina  dari  segala  makhluk,  masuk  seperti  yang diperintahkan Allah kepada Nuh; lalu TUHAN menutup pintu bahtera itu di belakang Nuh. 17Selama empat puluh hari air bah itu meliputi bumi. Air itu naik dan mengangkat bahtera itu, sehingga terangkat tinggi dari bumi.

PENDALAMAN 
§  Fasilitator meminta peserta membaca kembali teks sambil memperhatikan pertanyaan di bawah.
§  Para peserta dapat dibagi dalam kelompok dan setiap kelompok mencari jawaban atas pertanyaan-pertanyaan itu di dalam teks Kitab Suci.
 Siapakah Nuh itu? (berdasarkan Kej. 6:8-10).
1.  Bagaimanakah cara Nuh membuat bahtera?
2.  Untuk apa Nuh membuat bahtera yang sedemikian besar?
3.  Bagaimana Nuh bisa mengumpulkan segala binatang, berpasang-pasangan?
4.  Ceritakanlah bagaimana air bah itu terjadi!

C. PENEGASAN (FASILITATOR):
§  Fasilitator menyampaikan penjelasan di bawah ini.
§  Fasilitator dapat menambahkan penjelasan yang diambil dari “Penjelasan Cerita Air Bah” yang terdapat dalam Gagasan Pendukung (halaman 21 dst).
§  Nuh adalah seorang bapak keluarga yang melakukan kehendak Allah tanpa cacat. Dia berjalan dengan Allah, sehingga Allah berkenan kepadanya. Nuh mendapat perintah dari Allah untuk membuat bahtera karena Tuhan akan mendatangkan air bah. Bahtera yang harus dibangun oleh Nuh jauh lebih besar daripada kapal biasa. Bagian dalam dari kapal itu dibagi tiga lantai dan setiap lantai diberi sekat-sekat sehingga dapat menampung manusia dan banyak binatang.
§  Mengingat Allah akan memusnahkan segala makhluk hidup, Nuh harus mempersiapkan ruang-ruang untuk menampung anggota keluarganya dan untuk menampung segala macam binatang.  Segala macam binatang harus ditampung berpasang-pasangan, baik hewan maupun burung. Nuh juga harus mengumpulkan makanan baik untuk dirinya dan keluarganya maupun untuk bintang yang ada di dalam bahteranya. Makanan itu masih sederhana karena pada hari penciptaan Tuhan memberikan kepada manusia biji-bijian dan buah-buahan dan kepada binatang tumbuhan hijau.
§  Ketika bahtera dan segala sesuatunya telah siap digunakan, ternyata Nuh tidak perlu mencari binatang-binatang itu berpasang-pasangan, karena mereka sendiri datang berpasang-pasangan. Tuhan sendirilah yang mendatangkan mereka. Ketika semua keluarga Nuh dan binatang-binatang itu telah berada di dalam bahtera, Tuhan menutup pintunya.
§  Dalam gambaran dunia Yahudi, mula-mula hanya ada air yang pada hari  penciptaan  Allah  memisahkan  air  atas  dan  air  bawah  dan  di tengahnya ada dunia. Tingkap-tingkap di langit terbuka sehingga air dari atas turun dan sumber-sumber di bawah bumi dibuka sehingga air dari  bawah  juga  turut  naik  lalu  meliputi  dan  meniadakan  bumi. Permukaan air semakin lama semakin tinggi; Nuh, keluarganya, dan semua binatang yang tinggal di dalam bahtera itu selamat dari air bah.

D.    AKSI NYATA:
§ Fasilitator menyampaikan pesan yang diambil dari bacaan yang telah direnungkan berikut ini.
§  Kemudian bersama-sama merencanakan aksi nyata dengan panduan pertanyaan berikut ini.

F:   Allah  menghukum  dan  meniadakan  manusia  dan  bumi  yang  penuh kejahatan  dan  kekerasan,  namun  Ia  juga  mencari  jalan  untuk menyelamatkan orang-orang benar.  Dalam kisah ini Allah tidak hanya menyelamatkan manusia tetapi juga seluruh makhluk ciptaan-Nya karena seluruh makhluk ciptaan itu bernilai bagi Allah dan dicintai-Nya. Nuh adalah model manusia yang menanggapi panggilan Tuhan untuk turut  serta  melestarikan  lingkungan  hidup  di  bumi  yang  rusak  dan terancam punah.
a.  Apa yang kita lakukan supaya membangun ‘bahtera’ kita berasaskan pelestarian dan penyelamatan lingkungan hidup dan alam sekitarnya?
b.  Apa yang kita lakukan supaya situasi didalam ‘bahtera’ kita pun memiliki suasana yang selaras dengan lingkungan hidup atau alam?

E.    DOA SPONTAN:
§  Fasilitator mengundang anggota KBG untuk mengungkapkan doa-doa umat berupa pujian, syukur, dan permohonan.
§ Fasilatator mengajak anggota KBG berdoa Doa Bapa Kami, sebagai doa penyatuan semua doa yang telah diungkapkan secara spontan.
§   Doa penutup dengan Doa Tahun Berpusat pada Kristus.
§   Lagu penutup
=***=

MAKHLUK HIDUP MUSNAH KARENA KEJAHATAN MANUSIA (KEJ. 6:1-13) (1)

Pertemuan Pertama KBG Bulan Kitab Suci Nasional 2019

Pendalaman Kitab Suci Di KBG-KBG
(Tim Komisi Kerasulan Kitab Suci
Regio Papua, dan dikemas kembali oleh PIPA Keuskupan Pangkalpinang sesuai konteksnya)

TUJUAN:
·    Peserta menyadari alasan dasar terjadinya air bah yang mengakibatkan manusia dan segala makhluk dimusnahkan.
·   Peserta melaksanakan tindakan nyata untuk memulihkan dan mengatasi krisis lingkungan.

GAGASAN DASAR:
Kisah tentang pemusnahan bumi (Kej.  6-7) telah menarik perhatian para pemerhati ekologi. Punahnya kehidupan di bumi menjadi sesuatu yang menakutkan pada zaman sekarang. Sejak perang dunia kedua, ancaman nuklir dikhawatirkan akan menghancurkan bumi. Kemudian berkembang teknologi baru, seperti modifikasi genetik, yang ditakuti bisa memicu rantai bencana di luar kendali manusia. Kini eksploitasi bumi yang berlebihan, karena kerakusan pengusaha dan konsumerisme masyarakat, telah merusakkan tanah, air, dan udara, serta memusnahkan keanekaragaman hayati. Kehancuran bumi itu diperparah oleh berbagai perang yang dipicu oleh perebutan sumber daya alam.
Penggunaan bahan bakar fosil yang menghasilkan terlalu banyak bahan berbahaya (karbon dioksida, metana, dll.). Sementara itu hutan yang berfungsi untuk menyerap karbon dioksida justru ditebang dan dibakar. Hal ini sangat mencemaskan karena membuat bumi menjadi semakin panas.  Pemanasan bumi telah membuat es di kutub mencair sehingga permukaan air laut naik. Pemanasan bumi itu juga telah mengaibatkan perubahan iklim yang membawa berbagai bencana alam yang makin ekstrem. Meskipun air laut yang meningkat tidak akan menutupi seluruh bumi seperti dalam cerita Nuh, banyak pulau, delta, dan wilayah pesisir yang sangat luas akan tenggelam. Para pengungsi karena perubahan iklim sudah ada dan akan bertambah sangat banyak.
Berbeda dengan perubahan iklim yang pernah terjadi sepanjang sejarah bumi ini, baru kali ini penyebabnya adalah manusia. Kegiatan manusia tidak sesuai lagi dengan irama bumi dan daya pemulihan alam. Kenyataan menunjukkan bahwa tidak ada satu makhluk pun yang berdikari. Tidak ada makhluk yang tidak terhubung dengan lingkungannya dan tidak bergantung padanya. Manusia pun demikian! Bila satu dipelihara, semua terpelihara, tetapi bila satu diabaikan, semua menderita. Karena manusia melakukan kekerasan terhadap alam, alam pun menjadi bencana bagi manusia. Alam dan manusia bersama-sama ditimpa kerusakan dan pemusnahan. Dalam cerita air bah pemusnahan segala yang hidup itu berkaitan dengan kesalahan manusia. Cerita ini mengajak kita untuk mawas diri dan menyadari kesalahan-kesalahan kita yang menjadi penyebab krisis lingkungan hidup sekarang ini.

A.    PEMBUKA
1.  Fasilitator memberikan salam dan mengajak anggota KBG untuk membuka pertemuan ini dengan sebuah lagu pembuka.
2.  Fasilitator mengajak anggota KBG untuk berdiri dan memberikan hormat dengan menundukkan kepala di depan Kitab Suci yang telah ditahtakan.
3.  Fasilitator meminta salah seorang di antara anggota KBG untuk berdoa mengundang Tuhan.
4.  Fasilitator mengundang anggota KBG untuk terlibat dalam pendalaman materi pertemuan, sebagai berikut:

F:     Selamat malam, bapak/ibu/saudara dan saudari yang terkasih dalam Tuhan Yesus Kristus.
Kita bersyukur karena Allah telah mengumpulkan kita di tempat ini untuk mendengarkan Sabda-Nya. Selama bulan September ini, Bulan Kitab Suci Nasional, kita akan mendalami tema “Mewartakan Kabar Gembira dalam Krisis Lingkungan Hidup.” Tema ini  akan  didalami  dalam  empat  pertemuan  dengan  masing-masing subtema yaitu (1) Makhluk hidup musnah karena kejahatan manusia, (2)  Kita  dipanggil  untuk  melestarikan  lingkungan  hidup,  (3)  Allah membarui bumi untuk makhluk ciptaan-Nya, dan (4) Perjanjian Allah dengan  semua  makhluk.
Pada pertemuan pertama ini, kita akan mendalami subtema “Makhluk-hidup musnah karena kejahatan manusia.” Kita akan merenungkan mengapa Allah memusnahkan manusia dan segala ciptaan-Nya berdasarkan kutipan yang diambil dari Kejadian 6:1-13. 

B.    PENDALAMAN KITAB SUCI
§  Teks Kitab Suci (Kej. 6:1-13)
§  Fasilitator meminta beberapa peserta membaca teks per alinea, satu orang satu alinea, dengan suara lantang dan tidak tergesa-gesa.
§  Peserta yang lain mendengarkan dengan penuh perhatian sambil mengikutinya dalam Alkitab masing-masing.

1Ketika  manusia  mulai  bertambah  banyak  di  muka  bumi,  dan  anak-anak  perempuan dilahirkan bagi mereka, 2maka anak-anak Allah melihat, bahwa anak- anak perempuan manusia itu cantik-cantik, lalu mereka mengambil istri dari antara perempuan-perempuan itu, siapa saja yang mereka sukai. 3Berfirmanlah TUHAN:  "Roh-Ku tidak akan tinggal di dalam manusia selamanya, karena manusia itu adalah daging. Umurnya akan seratus dua puluh tahun saja." 4Pada waktu itu dan juga kemudian, ada orang-orang raksasa di bumi, ketika anak-anak Allah menghampiri anak-anak perempuan manusia, dan perempuan-perempuan itu melahirkan anak bagi mereka. Mereka itulah orang-orang yang gagah perkasa di zaman purbakala, orang-orang yang kenamaan.
5TUHAN  melihat  betapa  besarnya  kejahatan  manusia  di bumi dan segala kecenderungan hatinya selalu membuahkan kejahatan semata-mata. 6Lalu Tuhan menyesal bahwa Ia telah menjadikan manusia di bumi, dan hal itu memilukan hati-Nya. 7Berfirmanlah TUHAN: "Aku akan menghapuskan manusia yang telah Kuciptakan itu dari muka bumi, baik manusia maupun hewan dan binatang- binatang melata dan burung-burung di udara, sebab Aku menyesal, bahwa Aku telah menjadikan mereka. 8Tetapi Nuh mendapat kasih karunia di mata TUHAN.
9Inilah riwayat Nuh: Nuh adalah seorang yang benar dan tidak bercela di antara orang-orang sezamannya; dan Nuh berjalan bersama Allah.10Nuh memperanakkan tiga orang laki-laki: Sem, Ham dan Yafet. 11Di hadapan Allah bumi sudah rusak dan penuh dengan kekerasan. 12Allah menilik bumi itu dan ternyata benar-benar rusak, sebab semua makhluk menjalani hidup yang rusak di bumi.  13Berfirmanlah Allah kepada Nuh: "Aku telah memutuskan untuk mengakhiri hidup segala makhluk, sebab bumi telah penuh dengan kekerasan oleh mereka, jadi Aku akan memusnahkan mereka bersama-sama dengan bumi.

PENDALAMAN:
§   Fasilitator meminta peserta membaca kembali teks sambil memperhatikan pertanyaan di bawah.
§   Para peserta dapat dibagi dalam kelompok dan setiap kelompok mencari jawaban atas pertanyaan-pertanyaan itu di dalam teks Kitab Suci.

1.     Orang-orang raksasa mengganggap diri mereka sebagai anak siapa?
2.     Bagaimana kita menilai sikap seperti itu?
3.     Mengapa Tuhan menyesal telah menjadikan manusia di bumi?
4.     Mengapa hewan dan binatang-binatang juga dihapuskan dari muka bumi?

C.    PENEGASAN (FASILITATOR):
§   Fasilitator menyampaikan penjelasan di bawah ini.
§   Fasilitator dapat menambahkan penjelasan tambahan yang lain jika ada buku yang berisi gagasan pendukung, lih hal. 21 dst).

§  Orang-orang gagah perkasa menyombongkan diri sebagai anak-anak Allah. Karena itu, Allah mengingatkan mereka bahwa mereka hanyalah manusia fana dan membatasi umur mereka (hanya 120 tahun, usia ini lebih pendek jika dibandingkan dengan leluhur mereka, lihat Kej. 5).
§  Kesombongan manusia inilah yang menjadi sumber kejahatan yang merasuki pikiran dan hati mereka. Terdorong oleh kesombongan yang ada  dalam  hati  mereka,  orang-orang  itu  berbuat  sesuka  hati  dan cenderung melakukan kejahatan.
§  Reaksi Allah terhadap kejahatan manusia itu digambarkan secara manusiawi.  Ia menyesal dan sakit hati karena telah menciptakan manusia. Ia menciptakan mereka untuk menjaga dan memelihara bumi supaya mereka sendiri dapat hidup berbahagia. Tetapi, sejak Adam dan Hawa, manusia terus bersalah dan merusak bumi. Karena itu, Allah Ia mengambil keputusan untuk menghapus manusia.
§  Tidak hanya manusia yang dimusnahkan, tetapi juga mahkluk ciptaan yang lain.  Sebab, Allah melihat bahwa kejahatan manusia telah merasuki bumi dan segala makhluk ciptaan. Mereka musnah karena kejahatan manusia dan kemusnahan mereka mendatangkan penderitaan bagi manusia.



D. AKSI NYATA:
§ Fasilitator menyampaikan pesan yang diambil dari bacaan yang telah direnungkan berikut ini.
§  Kemudian bersama-sama merencanakan aksi nyata dengan panduan pertanyaan berikut ini.

F:   Manusia selalu terhubung dengan dan menjadi bagian dari lingkungannya sehingga ketika ia melakukan kejahatan hal itu berdampak pada dirinya maupun lingkungan alam. Bila manusia melakukan kejahatan, lingkungan alam akan mengalami kerusakan.

a.  Apa saja yang dilakukan manusia supaya kesombongan dan kejahatan manusia tidak berdampak pada kerusakan lingkungan atau alam?
b.  Bagaimana cara kita melakukan pemulihan kerusakan alam disekitar kita, supaya kerusakan yang sedang dan akan terjadi tidak lebih parah lagi?

E. DOA SPONTAN:
§  Fasilitator mengundang anggota KBG untuk mengungkapkan doa-doa umat berupa pujian, syukur, dan permohonan.
§  Fasilatator mengajak anggota KBG berdoa Doa Bapa Kami, sebagai doa penyatuan semua doa yang telah diungkapkan secara spontan.
§  Doa penutup dengan Doa Tahun Berpusat pada Kristus.
§  Lagu penutup
=***=