Sabtu, 21 Juli 2012

BELARASA


Hati terpanggil untuk melakukan tindakan menolong, merasakan, keberpihakan, dan mau membantu. Semua makna ini, dilakukan dengan kejujuran, ketulusan, dan niat yang jernih.

Yeremia dalam (23:1-6) menerawang jauh, bahwa akan genap janji Allah. Janji Allah yang dimaksudkan itu ialah ”Tunas Daud.” Tunas Daud yang belarasa, yang bersikap adil terhadap bangsa-Nya. Bersikap peduli dan mau mengangkat derajad umat-Nya yang sedang dalam penindasan.

Tunas Daud yang disampaikan Yeremia, ternyata memiliki kepribadian yang unik. Paulus kepada umat di Efesus (2:13-18), memberikan ciri keunikkan itu. Bahwa unik karena keberanian-Nya menyatukan segala konflik perbedaan, segala persoalan hidup yang tercerai berai dengan darah-Nya sendiri. Bahwa kalian yang dulu jauh, kini dekat karena darah Kristus. Darah pemersatu dan darah perdamian bangsa. Darah-Nya mengingatkan suatu kedekatan umat dengan diri-Nya sendiri. Darah-Nya adalah pengorbanan untuk banyak perbedaan, persoalan dalam hidup dan memberikan meterai untuk tetap berjuang bersama dengan Dia.


Belarasa, yang diungkapkan-Nya dalam pengorbanan, darah-Nya sendiri itu, hidup terus dan menyegarkan umat-Nya. Markus dalam Injil, melukiskan kerinduan umat-Nya untuk tetap hadir dan ada bersama-Nya dalam makan bersama.

Karena, makanan yang dikonsekrirkan adalah diri-Nya sendiri. Dari pada-Nya mengalir aliran-aliran air yang menyegarkan jiwa-jiwa yang letih lesuh. Maka pertanyaannya adalah ”apakah darah-Nya yang mengalir dalam jiwa kita, memberikan kehidupan juga bagi orang lain yang ada di sekitar kita?” Lima roti dan dua potong ikan, (Mrk.6:30-34) telah memberikan kehidupan baru, maka kita pun harus berani memecah-mecahkan diri dan memberikan kepedulian bagi sesama kita. ***

Kamis, 19 Juli 2012

"KITA DIPANGGIL SEPERTI AMOS"


Pernahkah kita menyadari diri sebagai orang yang terpanggil, untuk menjadi seorang nabi? Lalu ingatkah kita, kapan dan dimana, kita dipanggil Tuhan untuk tugas seorang nabi?Adalah Amos, dia seorang pemungut buah ara hutan. Bukan hanya itu, dia juga seorang peternak domba. Dia berasal dari Tekoa (1:1). Latar belakang hidupnya seperti ini, Amos tetap menyadari hidupnya sebagai seorang nabi. Seorang yang ditugaskan Tuhan untuk mewartakan kebenaran dan keadilan Allah di Kerajaan Israel yang waktu itu dalam situasi sosial yang kacau balau.

Rupanya pewartaannya, menjadi kontroversial dengan para imam di Betel, yang mengangap Amos sebagai seorang nabi bayaran. Karena itu kehadiran Amos menjadi saingan bagi mereka. Sehingga tidak heran, Amos pun diusir dari Israel untuk pergi ke Yehuda. ”Pelihat, pergilah, enyahlah ke tanah Yehuda. Carilah makananmu di sana ...”(7:12). Nabi, dianggap melawan tatanan sosial yang sudah ada. Dianggap merusak situasi yang sudah baku.

Kehadiran Amos, membuka ruang bagi hadirnya kebenaran dan keadilan. Kehadiran Amos, mau memberikan terang Sabda Allah bagi Raja Yerobeam yang tengah hidup dalam kemewahan.

Kehadiran Amos, menyadari kita bahwa sesulit apapun dalam hidup setiap hari, nilai keadilan dan kebenaran, tidak dapat direduksi dengan nilai-nilai ekonomis. Keadilan dan kebenaran adalah keutamaan secara sosial dan edukasi dalam mewujudkan perdamaian yang beradab.

Nilai-nilai ini pun diperjuangkan oleh Rasul Paulus dalam bacaan kedua. Bahwa kebenaran dan keadilan hadir saat ini jika orang harus bertobat, memberi pengampunan terhadap setiap orang yang bersalah, berdosa. Dan membuka ruang hati kita untuk penerima masukan dari Yesus, sehingga karya perutusan-Nya menjadi tidak sia-sia. ***