Postingan

Menampilkan postingan dengan label Keluarga

KBG: LABORATORIUM PENGHARAPAN BAGI KELUARGA DAN GEREJA DI MASA DEPAN

Gambar
A.       KELUARGA 1.           Keluarga adalah sel dasar Komunitas Basis Gerejawi. Sebagai sel dasar, keluarga adalah sekolah kemanusiaan yang menjadi tempat pertama seseorang belajar hidup bersama dengan orang lain dan menerima nilai-nilai luhur dan warisan iman (GS 53).   2.         Keluarga, tempat anggota keluarga belajar hidup bersama, maka relasi-komunikasi didalam keluarga menjadi unsur yang sangat pokok. Relasi yang baik, yang menghidupkan, dan yang membangun, diungkapkan secara nyata didalam komunikasi etis dan bertanggungjawab. 3.        Dalam relasi-komunikasi yang bersifat membangun, nilai-nilai luhur diungkapkan serta warisan iman dihidupkan, maka keluarga menjadi penentu masa depan Gereja Katolik. Karena itu, keluarga-keluarga saat ini, perlu sekali didampingi dan diberdayakan untuk aktif dalam hidup menggereja dan dalam masyarakat. 4.         Keluarga adalah sel pertama yang sangat penting bagi masyarakat (bdk. FC 42). Karena menjadi sel pertama untuk

KELUARGA KATOLIK: SUKACITA INJIL

Gambar
Hasil Sidang Agung Gereja Katolik Indonesia IV Via Renata – Cimacan, 2-6 November 2015 Testimoni Beberapa Pasutri dalam SAGKI 2015   Pengantar 1.       Sidang Agung Gereja Katolik Indonesia (SAGKI) IV yang diadakan pada 2–6 November 2015 di Via Renata – Cimacan mengambil tema “Keluarga Katolik: Sukacita Injil, Panggilan dan Perutusan Keluarga dalam Gereja dan Masyarakat Indonesia yang Majemuk”. Dengan mengangkat tema itu, Gereja Katolik Indonesia bersehati dan seperasaan dengan Gereja Universal yang membahas tema keluarga dalam Sinode Para Uskup (2015) kelanjutan Sinode Luar Biasa Para Uskup (2014). SAGKI yang mendalami tema keluarga sebagai hal penting dan mendesak ini diikuti oleh 569 peserta yang terdiri dari uskup, imam, biarawan-biarawati, perwakilan umat dari 37 keuskupan, perwakilan keuskupan TNI, dan kelompok kategorial. 2.       Keluarga sebagai “sel pertama dan sangat penting bagi masyarakat” ( Familiaris Consortio 42) dan “sekolah kemanusiaan” ( G