Sabtu, 13 Juni 2020

Misa Pekan Suci 2020 Keluarga Keuskupan Pangkalpinang Mengikuti Secara Live Streaming


Dok. Komsos Pangkalpinang
Ketika virus Corona merebak secara global, perjumpaan umat dalam jumlah besar ditiadakan. Perjumpaan dalam perayaan Ekaristi harian maupun mingguan dibatasi, bahkan tidak diperbolehkan. Pertemuan rutin mingguan pendalaman modul tahun komunio atau pertemuan doa lain pun di KBG-KBG dibekukan untuk sementara waktu.

Keluarga adalah harapan satu-satunya yang bisa melakukan perjumpaan secara komunal namun itu pun harus dijaga jaraknya. Bahkan diminta untuk memakai masker alias penutup hidung dan mulut.

Tim BERKAT mencoba menghubungi beberapa keluarga di wilayah Keuskupan Pangkalpinang dan meminta komentar mengenai keterlibatan keluarga dalam perayaan Ekaristi melalui live strimeng dari Kapel Keuskupan Pangkalpinang.

Dokkel. Bpk. Frans S. Sungailiat
Keluarga FX. Subyantoro, asal Paroki Sungailiat, KBG St. Fransiskus Xaverius Bangka, menceritakan bahwa mengikuti misa live strimeng pada awalnya masih membutuhkan konsentrasi ekstra Karena siaran belum optimal. Selaintnya mulai bisa mengikuti dengan hikmat terutama pada waktu konsekrasi. Namun yang sangat terasa menyentuh hati pada waktu komuni kudus dengan komuni batin. Sungguh sangat terharu sampai kami sekeluarga pun berkaca-kaca meneteskan air mata, sehingga tidak bisa lagi berkata-kata. Batin seakan melantunkan sebuah kerinduan. Dan kerinduan itu rasanya teramat sangat sedih. Tetapi setelah itu rasanya lega karena doa batin didaraskan. Mau bagaimana lagi, walau demikian situasi yang demikian ini kami percaya Tuhan tetap hadir dalam keluarga kami. Jujur bahwa kami sekeluarga mengikuti live strimeng dengan penuh syukur. Semoga Tuhan selalu melimpahkan berkat dan rahmat bagi kita semua dengan situasi COVID-19 ini.

Dokkel. Bapak Bobby-Tiban
Cerita yang sama datang dari Keluarga Bapak Bobby KBG Kebaikan Cinta Paroki Kerahiman Ilahi Tiban Batam. Ikut Misa Live Strimeng memang bukan kehendak kita. Maunya kita harus berkumpul bersama. Keadaan COVID-19 lah yang menjadikan kita tetap berkumpul tetapi didalam keluarga. Lebih lanjut keluarga Pak Bobby mengatakan walaupun kelihatan berantakkan di rumah, kami sekeluarga tetap setia mengikuti perayaan Ekaristi lewat tv. Berantakkan tetapi toh kami sekeluarga tetap khuzuk mengikuti Misa Live Strimeng.
Dokkel. Yovita DJR Sungailiat
Kisah yang menarik juga datang dari Keluarga Djanu Rombang, KBG St. Yosef Paroki Sungailiat Bangka. Keluarga ini cukup besar apalagi rumahnya pun berdekatan di Jl. Maras. Keluarga Djanu Rombang berkumpul beberapa keluarga dan mereka bersama-sama mengikuti Misa Live Strimeng dari Kapel Keuskupan Pangkalpinang. Kak Yofita, mantan Kepsek SD Maria Goretti mengungkapkan bahwa rasanya sedih sekali, ketika hanya mengikuti misa lewat tv. Sedih karena karena komuni batin dan tidak bisa berkumpul lebih banyak umat. Tetapi beberapa kali ikut misa lewat tv, hal baru ini lama kelamaan diterima juga. Batin pun tenang dan hikmat pun terasa.**

Kamis, 11 Juni 2020

IN MEMORIAM “RAJA HOGA BERA TUAN RATU LANA”


Dokpri, tahun April 2011 Tobo du kaka Bapa di Rie Lima Wana Korke Bale Sinar Hading
Hidup ditengah dunia dengan segala pertempuran antara pikiran dan fisik, perjuangan dan persaingan, antara moral dan imoralitas, antara gembira dan duka, antara perajutan tradisi dan penghilangan budaya, tak mengetarkan hati para pejuang budaya kehidupan ini. Mereka justru bersikap hati-hati, mau maju dibilang tidak patuh pada adat dan tradisi. Mau mundur dikatakan kolot. Unik memang! Namun, bagi saya ini adalah situasi “petuah-petuah” kita.

Ketika suatu hari (lupa tanggal, maklum sudah tua) pulang kuliah, saya sempat nongol di Kampung Lama, Lango Bele. Sudah sore sekali. Saya dengan rankel di punggung, dengan jeans terbela di lutut kiri dan kanan. Naik dari “mada” dari jauh saya memanggilnya.

“Tenga,… o… tenga”. Orangtua itu, muncul dari samping Lango Bele. Dengan khas gayanya, dia menyapa saya. “No, moe ane gere jam pi. Goe be pasang pelita. Goe porit ape pe rura, goe ksa gewalik. Ta lodo, tobo lali lango.” Saya jawab,"ah dihala tengah". Langsung saya maju dan jabat tangannya. Moe oli ara pira ne? Saya pun dengan wajah ceria langsung menjawab, “tengah, goe be oli pi, langsung goe gere tede moe.” Kebetulan, sebelumnya saya sudah singgah di rumah bawa. Saya ketemu dengan anaknya, No Bala Liwun. Katanya, orangtua heti Lango Bele. Jadi, saat itu saya langsung ke Lango Bele.

Saya sendiri ingat, bahwa sudah beberapa kali pulang kuliah dan kebetulan liburan, saya singgah di Lango Bele, tidak ada tujuan lain. Saya datang untuk melihat Lango Bele dan ingin sekali berjumpa dan duduk ngobrol bersama “Raja Hoga Bera Tuan Ratu Lana”. Kunjungan saya yang terakhir, kemudian pergi merantau, saya sempat berphoto di pusaran “Sodo Bera”.
Dokpri, Oktober 1999, di pusaran Sodo Bera
Mio Pana Lega Di Mae, Kame Jaga Lewotana Pi

Pergi ke luar Lewotana dan jauh dari Lewotana, bukan merupakan suatu pelarian. Pelarian mungkin tidak, terlalu kasar jika diungkapkan. Mungkin lebih beradab jika dikatakan pergi ke luar Lewotana dan jauh dari Lewotana adalah pilihan hidup namun bukan melupakan Lewo Goe Igo Rian Sina

Keinginan untuk keluar dari Lewotana kuungkapkan kepada “Raja Hoga Bera Tuan Ratu Lana”, saat itu. Kutatap matanya. Kusapanya. Tenga pun mengangkat matanya. “No, ne gae?” Saat itu, pikiran saya terbawa jauh, jauh ke alam yang cukup berbeda. Dari wajah yang keriput dan tersirat sejuta harapan yang penuh perjuangan, tersimpan perpaduan sinkretisisme yang begitu kuat namun elegan. Saya lalu dengan tulus ikhlas katakan kepadanya. “Tengah, goe kaik lega ata tana kia. Ara pira be goe kedi gewalik.”

Dia tertunduk diam. Dalam diamnya itu, saya pun terbawa dalam diam juga. Sejenak, dia mengangkat wajah lalu katakan kepada saya, “Moe pana lega di mae hena, hukut no kame pi. Goe no Haju, jaga Lewo leko. Mio Pana Lega di mae hena.” Mendengar jawabannya, saya pun diam, bathinku getar dalam kesedihan. Mataku menatap langit biru, sekeliling Lango Bele. Pengalaman unik ini, kusimpan dalam hati. Semacam berlian dari penatuah yang menggerakkan langkah pastiku yang akan kubawa dalam ziarah hidupku.

Kutahu bahwa saat itu Lewotana sedang dalam kemelut. Kemelut mungkin terlalu kasar. Lebih baik dikatakan, lagi beda berpikir. Perjumpaan saya dengan dia, bukan sendirian. Soalnya, sore itu saya (lupa lagi tanggalnya) bersama beberapa orang hadir dan bekerja membuat fondasi Lango Bele sekarang ini. Saya paham, bahwa membuat fondasi Lango Bele saja, menuai banyak kritik. Tapi, tidak apa-apa, saya melihat dengan sikap kritis. Bahwa itukan tuan rumah yang lagi memperbaiki lango ulinya.

Memugar rumah (lango uli), itu hal positip. Memugar rumah dengan fondasi semen yang kuat, “biar anak cucu tidak perlu perbaik dalam waktu dekat”, ungkapnya. Ungkapan dan tindakkan suku kliwu saat itu, merupakan suatu “tindakkan reformasi diri”. Sebuah zaman transisi antara pola berpikir lama dan pola berpikir baru, yang sedang dipertaruhkan. Yang lama menghendaki, supaya tetap sesuai dengan lama. Yang baru berusaha untuk sesuai dengan perkembangan zaman. Sikap yang baru biasanya saya sebut sebagai “Gembala Tradisi dan Nabi Masa Depan.” Pola sikap yang tetap mempertahankan yang lama biasanya saya sebut, “Gembala Tradisi tapi tidak mau jadi nabi masa depan.”

Disinilah letak disintegrasi dalam cara berpikir dan melihat situasi zaman serta meletakkan perubahan itu dalam konteks hidup sosial dan budaya. Dimana hidup sosial, sedang berubah akibat arus urbanisasi dan ekonomi. Sementara hidup berbudaya pun mau tidak mau harus ditransformasi dalam bentuk yang sesuai dengan gaya hidup masyarakat. Dalam diskusi yang panjang lebar di sore itu, saya secara pribadi sangat mendukung sikap mereka yang telah mampu menatap masa depan. Dalam refleksi saya, boleh saya sebut disini: “penatuah-penatuah dan saudara-saudara saya ini, tidak merasakan pendidikan seperti saya alami, namun mereka mampu dan sanggup berpikir lintas batas, tidak hanya untuk diri mereka dan Lewotana, tetapi untuk masa depan.

Dalam renungan saya selanjutnya, muncul dalam pikiran saya begini. “Apakah mereka ini tahu tentang hidup masa depan? Bagaimana menjalankan hidup di masa depan yang akan selalu berubah sepanjang saat atau tahun? Apalagi era globalisasi dewasa ini terus berubah!

Dalam refleksi saya itu, teringatlah apa yang pernah dikatakan dosen Filsafat Manusia waktu di Sekolah Tinggi Filsafat Ledalero Maumere, namanya: Pater Dr. Leo Kleden, SVD. Bahwa manusia itu bukan hidup secara linear. Tetapi secara ko-linear. Dalam arti bahwa manusia ini hidup selalu belajar dari masa lalu, kemudian bersama masa kini ia hidup. Dan hidup masa kini akan menjadi pengalamannya untuk mewujudkan masa depan. Jadi masa depan ialah perwujudnyataan masa lalu dan masa kini.

Saya sendiri, menyamakan cara berpikir penatuah saya ini dengan mengutip kata-kata filsuf Jerman, Gabriel Marsel, bahwa Manusia adalah misteri dan problematika. Misteri manusia terletak pada simpanan daya juang yang ditenunnya selama hidup, dan hasil simpanan daya juang itu, diungkapkan dalam proses penyelesaian masa dalam hidup ini. Gagasan dan cara hidup manusia ini, persis seperti dihidupkan oleh “Raja Hoga Bera Tuan Ratu Lana”. Dan tidak salah juga, kalau keluarga dan sanak saudaranya yang dekat dengannya, menyebut dengan mahkota ini. Moe pana di a dihala, kame pi jaga lewotana di mae hena, sebagai renungan saya hingga saat ini.

Perjuangan Melanjutkan Reformasi diri

Ketika sedang membangun fondasi Lango Bele, sempat dibicarakan untuk memperbaiki Korke Bale. Dan rencana itu sungguh saya apresiasi. Karena Korke Bale saat itu cukup memprihatinkan. Atapnya rusak, kayu-kayu mulai patah dan rontok. Tatkala hujan, didalamnya basah. Sayang, kayu-kayu yang sebenarnya berkualitas, ketika kena hujan, bisa rusak. Untung bahwa banyak photo saya tentang ini ada dalam laptop lama yang lagi rusak. 

Rencana itu apa dan bagaimana dilaksanakan, saya waktu itu sudah keluar dari Lewotana. Baru sekitar tahun 2001/2002, saya baru dapat informasi bahwa Lango Bele dan Korke Bale sudah diperbaiki. Lango Bele dengan fondasinya dan Korke Bale dengan atap seng. Ini informasi yang saya terima dari Kampung Halaman saat itu.

Dalam hati saya saat itu, rupanya gong reformasi diri yang sudah ditabu, kini berlanjut juga pada perbaikan Korke Bale. Suatu sikap konsisten dan komitmen untuk mau maju. Walaupun, gejolak badai saat itu semakin kuat berguncang. Jujur saya harus katakan bahwa itu suatu tindakkan yang berani dan profetis. Luar biasa tindakkan penatuah dan saudara-saudara saya di Lewotana. 

Pengalaman semacam ini dalam sejarah peradaban manusia entah dalam budaya lokal maupun budaya di daerah-daerah luar negeri, hal ini sangat biasa sekali. Hanya sikap kita terhadap masa lalu dan masa kini dan sekaligus masa depan, jauh berbeda dengan harapan masa lalu dan kekiniaan. Baru beberapa tahun kemudian, karena ada kunjungan turis, takut dilihat seng-nota bene tidak asli, mau menggantikan dengan atap kenuki. 

Sikap Diam, “Raja Hoga Bera Tuan Ratu Lana” itu bernas sekali
Dokpri, April 2011
Sikap diamnya, Tenga Hoga,  dalam bahasa para petapa Padang Gurun disebut “meditatif-kontemplatif.” Dalam bahasa kerohanian modern dikatakan sebagai “Lokusi Bathin.” Sejajar dengan apa yang dikatakan tadi, dengan apa yang dilakukan Tenga Hoga, diam bukan berarti tidak berbuat apa-apa, juga bukan takut, tapi hanya mengungkapkan rendah hati. Diam yang menjadi sikapnya, bukan berarti “orang bodoh”. Diam yang menjadi kekhasannya adalah “diam bernas.” Disinilah, diam tak tergoyahkan. Diam itu berakar dalam tradisi, dan berbuah lebat di masa sekarang dan masa depan.

Apa maksudnya “Diam itu Bernas?” Saya menemukan sikap diamnya dalam berbagai pengertian. Pertama, diam adalah sikap reflektif. Tengah Hoga dalam sepanjang hidupnya, memiliki kemampuan merefleksikan tentang ziarah hidupnya. Mampu “mengawinkan”masa lalu, masa kini, dan memproyeksikannya ke masa depan.

Kedua, diam berarti sedang aktif. Aktif tidak hanya fisik. Aktif disini, sedang berpikir. Disinilah terbaca kemampuan intelektualnya. Saya harus mengakui bahwa pola asuh dan pola makan orangtua zaman dulu, luar biasa hebat. Bagaimana orangtua dulu mampu mendidika anaknya sehingga anaknya dapat mengaktualisasikan dirinya dengan sikap diam. Jarang zaman sekarang anak itu diam, duduk lama di tempat duduk.  

Ketiga, diam yang dibangunkannya menjadi pengola budaya. Dalam hati, pikir, dan bathinnya tersimpan banyak “harta karun” masa lalu. “Harta karun” masa lalu dimilikinya itu, perlu digali oleh anak-anak muda zaman kini. Dan hemat saya, hal ini jarang terjadi. Diamnya disini memiliki makna menunggu. Biar anak-anak muda zaman kini datang dan belajar tentang budaya. Tentang hal ini, beliau selalu katakan, lebih baik diam walaupun dikatakan tidak tahu, daripada tutu a tou di nae noi, tetapi dalam banyak hal, apa yang ditutu itu salah!.

Keempat, diam yang menjadi kekhasannya memiliki rasa, asa, asuh dan perspektif filosofis. Ini yang dikatakan oleh Filsafat Manusia, setiap manusia mampu menjadi filsuf serentak menjadi subyek yang terbuka untuk masa depan. Tanpa ini manusia itu kerdil. Tak bisa maju. Kalau majupun hanya mampu mengkritik dan dibelakang menjadi perusuh.

Kelima, diam adalah ciri khas penjaga tradisi. Tradisi itu dihidupkan. Kontrodiktif kan? Apakah dengan diam, tidak bisa menghidupkan budaya? Tentu bisalah. Namun yang dimaksud disini dalam diam ciri khas penjaga tradisi adalah:

Pertama, kemampuan untuk merefleksikan apa yang sudah dilakukan. Yang sudah dilakukan itu baik, maka akan diteruskan dan diwariskan. Yang dilakukan itu, tidak baik, maka itulah yang harus ditinggalkan, dibuang, odo pnonu, Kedua, kemampuan untuk mengambil keputusan. Keputusan untuk melanjutkan terus sesuatu yang baik, diperlukan sikap diam. Begitu juga pengambilan keputusan ketika sesuatu itu dikatakan tidak baik. Ketiga, kemampuan bertransenden. Kemampuan ini dimaksudkan bahwa dalam diam Tenga Hoga mampu berdialog atau berkomunikasi dengan Kaka Bapa-nya. Jawaban dari Kaka Bapa-nya itulah, yang dijalankan dan dihidupkannya. Jadi, sesuatu yang dihidupkannya adalah hasil dari “bisikan” atau dalam istilah teologis, hasil dari communio-nya dengan Kaka Bapa. Rohani sekali makna diam ini!

Berita Meninggal Tenga Hendrikus Hoga Liwun


Dokfb Thobias Liwun
Berita duka datang dari Kampung Halaman tercinta, melalui SMS Oa Esi Timu Liwun pada pukul 12: 58: 58, tanggal 9 Juni 2020. Oa Esi menulis SMS demikian: "Mat siang ade, tenga Hoga mata kae. Apa kabar mio pe?"
Respons SMS dari keluarga ini, saya lalu diam sejenak. Seperti biasa ketika mendengar kabar duka dari Kampung Halaman, jika ada berita yang tidak menyenangkan, sayaberhenti kerja lalu hening sebentar, dan kemudian berjalan menuju Kapela Kantor dan berdiam diri, berdoa bagi mereka, termasuk kali ini untuk Tenga Hoga. Dalam keheningan doa pribadi, saya mencoba membangkitkan kembali daya ingat saya, saya menghadirkan peristiwa-peristiwa perjumpaan saya dengan Beliau. Dalam doa, saya mencoba mengungkapkan segala karya baiknya membangun Lewotana tercinta. Satu harapan dalam hati, "Yesus akan menerima dia dalam rumah-Nya. Karena, bagaimanapun karya baiknya akan menghantar jiwanya mengalami belaskasih Allah Tritunggal.

Pulang dari Kapela, saya mencoba membuka FB saya. Rupanya sudah banyak saudara-saudari dari Kawaliwu telah mengirim postingan photo-photo hingga upacara pemakamannya. Pulang kerja saya  menceritakan kepada isteri dan anak, bahwa ada berita duka dari Kampung Halaman. Isteri kenal, hanya anak saya yang tidak kenal. Karena belum pernah jumpa. Kalau isteri pernah berjumpa dengannya. Dan persis, photo Tengah Hoga di awal tulisan ini adalah hasil jepretannya. Ungkap isteri saya: hanya doa dan kenangan indah yang bisa keluarga kita, kenang dan bawa dalam doa-doa.
Dokfb keuarganya, bersama anaknya Bala Liwun, masa-masa sakitnya
Dengan demikian, secara pribadi sangat setuju dengan sikap diamnya, Tenga Hoga. Diam memiliki kekuatan yang mampu mengasahnya untuk melakukan sesuatu yang baik dan indah demi Lewotana yang dicintainya selama hidupnya. Dan saya sendiri pun sangat yakin bahwa dengan diamnya pula, Beliau hadir dalam peziarahan hidup Lewotana Sinar Hading; dalam ziarah perjuang hidup anak-anak Lewotana masa kini.

Belajar dari sikap diamnya ini, maka kita perlu juga berdiam diri juga, merenungkan segala peristiwa hidup kita, memberi makna terdalam dari hidup itu, dan membuka diri untuk melakukan segala sesuatu yang baik dan indah demi untuk Lewotana tercinta.

Dokfb keluarganya. Wajah asli termakan usia, tapi tidak tua tradisi Kawaliwu
Sebelum akhiri tulisan ini, satu doa yang terselip untuk Orangtua tercinta, Tenga Hendrikus Hoga Liwun:

Tengah Hoga,
Doakanlah kami selalu.

Tengah Hoga,
Moe Eka hoga dari Kawaliwu.

Tengah Hoga,
Moe dari jauh
Tetapi hadir dalam ziarah peradaban anak Lewotana.

Tede kame ana moe.
Doakan kame selalu.
Amin.

Pangkalpinang, 11 Juni 2020.

Allah Tritunggal Adalah Allah yang Maharahim Dan Murahhati


Liturgi Katolik:
Paskah: Allah membangkitkan Yesus.
Kenaikan: Allah mengangkat Yesus ke Surga,
Pentakosta: Roh Kudus turun atas para rasul dan Gereja,
Tritunggal Mahakudus, umat Kristiani merayakan ketiganya
sebagai wujud pokok iman yang nyata.

Kata “Allah” adalah kata Arab. Seperti juga kata “Alkitab”. Kata “Al” artinya Mahabesar atau Agung, sementara kata “Kitab” artinya buku. Secara harafiah, Alkitab adalah Buku yang Mahabesar atau buku yang Agung. Dari kata Alkitab, kata “Allah” terdiri dari Al-ilah; kata “Al” artinya Mahabesar atau Agung dan kata ilah: dewa. Kata: Al-ilah menjadi “Allah” sebuah perubahan yang menandakan bahwa sesuatu yang Mahabesar mengalahkan yang tidak besar. Dengan begitu, secara harafiah, Allah ialah Dewa yang Mahabesar atau Dewa yang Agung, yang diyakini orang-orang Kristiani sebagai Wujud Tertinggi, asal mulaasal dari kehidupan, dari-Nya segala-galanya ada.

Dalam kekristenan, Allah itu Allah Bapa, Putera, dan Roh Kudus (Allah Tritunggal), communio menjadi SATU, satu secara eksistensinya (ke-ADA-an), dan beda dalam peran atau tugasnya. Inilah salah satu inti ajaran Kristiani, sering mendapat tanggapan dari perbagai pihak, sejak awal kekristenan hingga saat ini. Sejarah Gereja mencatat bahwa salah satu Bapa Gereja yang berjuang membela inti ajaran ini adalah Santo Atanasius (297-373), toh, akhirnya ia harus berpindah kemana-mana.

Allah Tritunggal: Allah Imanuel, Allah yang menyertai umat-Nya
Prof. Dr. Mgr. Adrianus Sunarko, ofm
Bapa Uskup Keuskupan Pangkalpinang, Mgr. Adrianus Sunarko, ofm, dalam kotbah Perayaan Minggu (7/6/20), Hari Raya Tritunggal Mahakusus menegaskaan, “Dimana kita bisa melihat Allah Tritunggal itu?” Sambil mengutip kata-kata Santo Agustinus, seorang Bapa Gereja terkenal sekali pernah: “Ketika orang melihat tindakan cinta kasih, disitulah ia melihat Allah Tritunggal”. Dalam pandangan Agustinus itu, Allah Tritunggal adalah kasih. Ada Bapa yang mengasihi, ada Putera yang dikasihi, tetapi ada kasih itu sendiri yaitu Roh Kudus.

Allah Tritunggal, kata “Tritunggal”, memang dalam teks Kitab Suci kristiani, tidak ditemukan. Namun dalam teks-teks disebutkan dengan kalimat “Jadikan semua bangsa murid-Ku dan baptiskan mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus“ (Mat. 28:19).  Selain itu, “Kasih karunia Tuhan Yesus Kristus dan kasih Allah, dan persekutuan Roh Kudus menyertai kamu sekalian.“ (2Kor. 13:13). Juga “Sebab ada tiga yang memberi kesaksian dalam surga: Bapa, Firman dan Roh Kudus. Dan Ketiganya adalah satu“ (1Yoh. 5:7). Dan masih ada teks-teks lain yang tidak saya sebutkan, disini.

Allah yang diiman dan diyakini oleh orang-orang Kristen, adalah Allah itu Esa. Keesaan Allah disebutkan Yesus. Hukum yang terutama ialah: Dengarlah hai orang Israel, Tuhan Allah kita, Tuhan itu esa (Mrk. 12:29). Lalu kata ahli Taurat itu kepada Yesus: Tepat sekali, Guru, benar kata-Mu itu bahwa Dia Esa dan bahwa tidak ada yang lain kecuali Dia (Mrk. 12:32). Juga dalam teks ini: Ketika digoda setan di padang gurun, Yesus menjawab: ”Ada tertulis: Engkau harus menyembah Tuhan, Allahmu, dan hanya kepada Dia sajalah engkau berbakti.” (Luk. 4:8).

Allah Bapa dan Yesus Kristus adalah satu. Disinilah bukti kata-kata Yesus. Di satu pihak Yesus berbeda dari Bapa, di lain pihak Ia berasal dari Allah. “Kata Yesus kepada mereka: Jikalau Allah adalah Bapamu, kamu akan mengasihi Aku, sebab Aku keluar dan datang dari Allah. Dan Aku datang bukan atas kehendak-Ku sendiri, melainkan Dialah yang mengutus Aku.“ (Yoh. 8: 42). Lalu lanjut Yesus: ”Inilah hidup yang kekal itu, yaitu bahwa mereka mengenal Engkau, satu-satunya Allah yang benar, dan mengenal Yesus Kristus yang telah Engkau utus.” (Yoh. 17: 3). ” ... Aku pergi kepada Bapa-Ku, sebab Bapa lebih besar dari pada Aku.” (Yoh. 14: 28). Di lain pihak dalam hidup-Nya di dunia, Yesus menegaskan, bahwa terdapat kaitan yang sangat erat dan tidak terpisahkan antara diri dan hidup-Nya dengan perwujudan dan kedatangan Kerajaan Allah; bahwa dalam diri dan hidup-Nya Allah sendiri bertindak, Allah sendiri hadir.

Allah Bapa, Putera dan Roh Kudus adalah satu. “Jikalau Penghibur yang akan Kuutus dari Bapa datang, yaitu Roh Kebenaran, yang keluar dari Bapa, Ia akan bersaksi tentang Aku.” (Yoh. 15:26); atau juga: “Siapa gerangan di antara manusia yang tahu, apa yang terdapat di dalam diri manusia selain roh manusia sendiri yang ada di dalam dia? Demikian pulalah tidak ada orang yang tahu, apa yang terdapat di dalam diri Allah selain Roh Allah.” (1Kor. 2:11).

“Tidak ada seorangpun yang dapat mengaku: Yesus adalah Tuhan, selain oleh Roh Kudus.“ (1Kor. 12:3). Artinya berkat kehadiran kasih Allah sendiri dalam diri kita lah, (bdk. 1Kor. 14:16; Gal. 4:4), pengakuan iman akan pewahyuan diri Allah dalam Yesus Kristus menjadi mungkin. Padahal menurut Roma 5:5: “Dan pengharapan tidak mengecewakan, karena kasih Allah telah dicurahkan di dalam hati kita oleh Roh Kudus yang telah dikaruniakan kepada kita.“Anugerah Roh Kudus itu diidentifikasi oleh Paulus secara eksplisit sebagai kasih Allah sendiri. Jadi, dalam Roh Kudus, Allah sendiri hadir.

Yang dihadirkan oleh Roh Kudus adalah kasih Bapa yang sama, dengan yang menjadi nyata secara historis dalam peristiwa Yesus Kristus. Yang dicurahkan oleh Roh Kudus dalam hati kita adalah kasih Bapa dan kasih Putra. Maka: juga Roh Kudus termasuk dalam hakekat kekal Allah. Kalau tidak, kita tidak dapat berbicara mengenai kehadiran Allah sendiri dalam Roh Kudus. “Siapa gerangan di antara manusia yang tahu, apa yang terdapat di dalam diri manusia selain roh manusia sendiri yang ada di dalam dia? Demikian pulalah tidak ada orang yang tahu, apa yang terdapat di dalam diri Allah selain Roh Allah.” (1Kor. 2:11).

Jadi ketika kita menyebut Allah, hadir tidak hanya Allah, tetapi juga Putera dan Roh Kudus. Ketiganya adalah ESA. Itu artinya bahwa kalau ada satu Allah, yang akan membenarkan baik orang-orang bersunat karena iman, maupun orang-orang tak bersunat juga karena iman (Rom. 3:30). Dan ada berbagai-bagai perbuatan ajaib, tetapi Allah adalah satu yang mengerjakan semuanya dalam semua orang (1Kor. 12:6). Satu Allah dan Bapa dari semua, Allah yang di atas semua dan oleh semua dan di dalam semua (Ef. 4:6).

Karena itu, tiga pribadi itu sama sekali tidak dipisahkan karena melekat satu dalam kodrat Allah, meskipun ciri-ciri-Nya dapat dibedakan. Karena Roh itu, sama seperti Firman Allah berada dalam dan berasal dari Diri Allah yang Esa.  “Aku keluar dan datang dari Allah. Dan Aku datang bukan atas kehendak-Ku sendiri, melainkan Dialah yang mengutus Aku.“ (Yoh. 8:42). “Jikalau Penghibur yang akan Kuutus dari Bapa datang, yaitu Roh Kebenaran, yang keluar dari Bapa, Ia akan bersaksi tentang Aku.” (Yoh. 15:26).

Demikian pula Roh itu sama-sama memiliki Hidup seperti Firman, maka pastilah Hidup yang ada dalam Roh itu adalah hidup yang sama, yaitu Hidup-nya Bapa seperti yang ada di dalam Firman juga.  Jadi jelas dalam Allah itu hanya ada “Satu hidup saja.“ Keesaan dalam paham Allah Tritunggal bukanlah keesaan sesuatu yang mati, melainkan keesaan dari sesuatu yang hidup.

Kita dapat mengatakan, bahwa paham kristiani mengenai Allah Tritunggal bukanlah triteisme,  karena Bapa, Firman-Nya dan Roh-Nya itu bukanlah ilah-ilah yang mandiri dan terpisah dari Allah yang Esa. Ketiganya tidak memiliki Kuasa yang mandiri dan berbeda dari Kuasa Allah yang Esa itu. Berhubung dengan Firman dikatakan: “Anak tidak dapat mengerjakan sesuatu dari Diri-Nya sendiri ... apa yang dikerjakan Bapa, itu juga yang dikerjakan Anak.“ (Yoh. 5:19).

Allah orang Kristiani adalah Allah Maharahim dan Murahhati

Kata maharahim dan murahhati adalah kata sifat, gelar yang melekat pada Allah. Kata rahim tentu arah pikiran kita kepada seorang perempuan. Nabi Yesaya dengan bagus memberikan sebuah perbandingan hubungan ibu-anak dengan Allah-manusia dengan menggambar-kan Allah yang maharahim itu (Yes. 49:15). "Mungkinkah seorang ibu melupakan bayinya, sehingga ia tidak menyayangi anak dari kandungannya? Sekalipun ia melupakannya, Aku (Allah) tidak akan melupakan engkau".  

Rahim seorang ibu berfungsi: menghidupi, melindungi, menjaga, menghangatkan, memberi pertumbuhan, menerima tanpa syarat, membawa kemana-mana“. Seorang ibu mencintai anaknya yang lahir dari rahimnya bukan karena anaknya berbuat baik tetapi karena itu merupakan suatu dorongan hati yang tak terelakkan. Gambaran kerahiman disimbolkan dengan "Darah dan Air".  Disini, kita segera mengingat pada kesaksian yang diberikan Yohanes, pengarang Injil, ketika seorang prajurit di Kalvari menikam lambung Yesus dengan tombak, ia melihat darah dan air memancar dari-Nya. Di samping itu, jika darah mengingatkan kita akan Kurban Salib dan anugerah Ekaristi, maka air dalam simbolis Yohanes melambangkan, bukan saja Pembaptisan, melainkan juga Karunia Roh Kudus.

Sampai disini, kita bertanya: Apa artinya Maharahim pada Allah? Allah Maharahim berarti: kita mengakui ada kasih dan ada belas kasih  yang lebih dari kasih sayang ibu. Atau dengan kata lain, belas kasih Allah itu lebih dari belas kasih seorang ibu pada anaknya.

Gereja menyebut dan menghayati Allah Maharahim

Dalam Gereja dikenal “Doa Tobat”. Doa yang didaraskan ketika berdoa dan bahkan dalam perayaan Ekaristi. “Allah yang maharahim, aku menyesal atas dosa-dosaku. Aku sungguh patut Engkau hukum, terutama karena aku telah tidak setia kepada Engkau yang maha pengasih dan mahabaik bagiku. Aku benci akan segala dosaku, dan berjanji dengan pertolongan rahmat-Mu hendak memperbaiki hidupku da tidak akan berbuat dosa lagi. Allah yang maha-murah, ampunilah aku, orang berdosa.” (Amin.)

Selain Doa Tobat tadi, Sri Paus Fransikus menyerukannya dalam Misericordiae Vultus (MV): ‘Kita perlu terus menerus merenungkan misteri kerahiman. Ia adalah sebuah sumber sukacita, ketenangan, dan kedamaian. Keselamatan kita tergantung padanya. Kerahiman: kata tersebut mengungkapkan sungguh-sungguh misteri Tritunggal Mahakudus.  Kerahiman: tindakan utama dan tertinggi yang olehnya Allah datang untuk menemui kita. Kerahiman: hukum dasar yang berdiam di dalam hati setiap orang yang memandang dengan tulus ke dalam mata saudara dan saudarinya di jalan kehidupan. Kerahiman: jembatan yang menghubungkan Allah dan manusia, membuka hati kita kepada sebuah harapan dikasihi selamanya meskipun kita berdosa. (MV 2).

Yesus Kristus ialah wujudnyata Allah yang kita Imani. Wajah kerahiman Allah bagi kita manusia demi keselamatan umat manusia. “Yesus Kristus adalah Wajah Kerahiman BAPA” (MV 1). Dalam kisah tentang ‘Rumah Bapa’, Penginjil Yohanes 14: 9, menuliskan demikian: ‘Barangsiapa telah melihat Aku, ia telah melihat Bapa’.

Pernyataan Bapa Suci Fransiskus di atas tadi, memunculkan pertanyaan, bagaimana Allah yang tidak kelihatan dan Roh itu dapat menjumpai kita manusia? Jawaban yang bernas yang kita imani dan diajarkan oleh Kitab Suci dan Magisterium Gereja kita ialah bahwa Allah yang tak kelihatan itu menjumpai kita melalui Yesus Kristus.

GEREJA sebagai sebuah lembaga keselamatan yang didirikan oleh Kristus, memiliki tugas untuk melanjutkan kerahiman ilahi Allah itu. Gereja menerima misi Yesus dan melanjutkan misi Yesus (kerahiman) itu dalam seluruh perutusannya baik dalam kata maupun dalam perbuatannya. Dasarnya selain pada Kitab Suci juga pada Kanon 1752, … ‘memperhatikan keselamatan jiwa-jiwa, yang dalam Gereja harus selalu menjadi hukum yang tertinggi’ (”salus animarum suprema lex”)

Tiga teks Kitab Suci Perjanjian Baru berikut menjadi dasar wujud Yesus dalam hidup-Nya bersama manusia, dalam dirham yang hilang (Luk. 15: 8-11), dalam kisah Anak yang hilang (Luk. 15: 11-32) dan dalam kisah domba yang hilang (Luk. 15: 1-7 & Mat. 18: 12-14). Ketiga teks itu dirangkas dan diberi makna sebagai berikut:


Dalam kenyataan akan penghayatan iman akan Allah yang Maharahim dan Murahhati, orang Kristiani mewujudkannya sebagai berikut: