| Alm. Mgr. Hilarius, Uskup Keuskupan Pangkalpinang ketika ikut terlibat dalam Sharing Injil dalam GA AsIPA V di Sri Lanka |
PERSIAPAN:
· Doa Fokus Pastoral 2026
· Teks Lagu Fokus Pastoral
· Buku Puji Syukur
· Meja pentakhta Sabda dan dua
lilin
Tujuan: Supaya anggota KBG memahami Sabda
Tuhan dan pengajaran para rasul sehingga mampu Berlayar Bersama dalam Satu
Perahu Petrus.
A. PEMBUKAAN
1. Pengantar
F Bapak-ibu, saudara-saudari yang
terkasih dalam Kristus.
Pertemuan
kita kali ini, kita akan mendengarkan Sabda Tuhan tentang ”perjalanan dua murid
Yesus ke Emaus”. Sampai di Emaus bukan menjadi tujuan. Tetapi kembali ke
Yerusalem dan berkumpul bersama para murid yang lain, menjadi proses
sionodalitas yang memerlukan refleksi yang mendalam.
Bapa Uskup
kita, penerus pengajaran para rasul, mengajak kita memahami ”Makna dan Dimensi Sinodalitas”
(hening sejenak)
2.
Lagu Pembukaan
F Mari kita siapkan hati dan budi kita,
untuk memulai pertemuan kita ini dengan menyanyikan sebuah lagu pembuka. (silakan
pilih lagu dari Puji Syukur yang dapat dinyanyikan oleh semua umat)
3. Penghormatan pada Sabda
F Mari, kita berdiri dan
memberikan penghormatan kepada Kristus, Sang Sabda, yang hadir di tengah-tengah
kita.
Hormat: mulai (perlahan-lahan
menunjukkan kepada mengarah kepadas kepada Firman Tuhan yang ditakhtakan di
depan!).… Amin … (kepala diangkat perlahan-lahan).
4. Tanda Salib
F Dalam
nama Bapa, dan Putera dan Roh Kudus.... Amin
B. LANGKAH-LANGKAH PENDALAMAN
1. Doa Mengundang Tuhan
F Saya
persilahkan salah seorang dari kita untuk berdoa mengundang Yesus.
2. Kita Membaca Kitab Suci
F Marilah
buka Kitab Suci Perjanjian Baru, Injil Lukas, bab 24, ayat 13 sampai 35.
Saya
ulangi, Injil Lukas, Bab 24, ayat 13-35.
Saya
ulangi sekali lagi, Injil Lukas, Bab 24, ayat 13 35.
Saya
persilahkan salah seorang diantara kita membacanya dengan perlahan-lahan dan
dalam suasana doa serta dengan suara lantang
Apakah
diantara kita yang memegang Kitab Suci dari versi lain baik berupa bahasa atau
pun lainnya....?
Jika
ada, silahkan membaca.
F Bapak-ibu,
saudara-saudari yang terkasih. Setelah kita mendengarkan Sabda Tuhan, mari,
kita juga mendengarkan pengajaran para Rasul melalui Para Bapa Uskup Seluruh
Dunia. Para Bapa Uskup
dalam Dokumen Akhir menegaskan tentang ”makna dan dimensi sionodalitas” sebagai
berikut:
”Sinodalitas adalah perjalanan umat Kristen bersama
Kristus dan menuju Kerajaan
Allah, dalam persatuan dengan seluruh umat manusia; Berorientasi pada misi, hal
ini melibatkan berkumpul dalam pertemuan di berbagai tingkatan kehidupan
gerejawi, saling mendengarkan, dialog, kearifan bersama, pembentukan konsensus
sebagai ekspresi kehadiran Kristus yang hidup dalam Roh, dan pengambilan
keputusan dalam tanggung jawab bersama yang berbeda. Secara sederhana dan
ringkas, dapat dikatakan bahwa sinodalitas adalah jalan pembaharuan spiritual
dan reformasi struktural untuk menjadikan Gereja lebih partisipatif dan
misioner, yaitu, untuk menjadikannya lebih mampu berjalan bersama setiap pria
dan wanita, memancarkan terang Kristus” (No. 28 DF).
3.
Kita Memilih Kata-Kata Dan Merenungkannya
F Kita memilih kata-kata atau
ungkapan-ungkapan singkat, atau ayat pendek, entah dari teks Kitab Suci atau
dari pernyataan Para Uskup Seluruh Dunia, kemudian mendoakannya dengan suara
lantang 3 kali, setiap kali diselingi dengan hening sejenak.
Saya persilakan.....
4.
Kita Membiarkan Tuhan Berbicara Kepada Kita Dalam
Keheningan
F Kita berdiam diri selama 2/3 menit, dan mempersilakan
Tuhan berbicara kepada kita.
5.
Kita Mengungkapkan Apa Yang Telah Kita Dengar Di Dalam
Hati.
a.
Kita saling
berbagi
”kata atau ayat yang direnungkan
dalam hati kita” pada saat
hening.
b.
Apa kata Tuhan dengan kata atau ayat singkat yang kita
renungkan?
c.
Bagaimana kita telah menghayati kata atau ungkapan yang
kita renungkan tadi (hendaknya tidak berkhotbah atau diskusi).
PENEGASAN:
a)
Belajar dari pribadi Bunda Maria, kita melihat ciri-ciri Gereja sinodal, misioner,
dan penuh belas kasihan yang bersinar terang: mendengarkan, berdoa,
bermeditasi, berdialog, mendampingi, membedakan, memutuskan, dan bertindak.
b)
Dari Bunda Maria, kita belajar seni mendengarkan,
perhatian terhadap kehendak Allah, ketaatan kepada Firman-Nya, kemampuan untuk
memahami kebutuhan orang miskin, keberanian untuk berangkat, kasih yang
menolong, nyanyian pujian, dan sukacita dalam Roh. Karena alasan ini, seperti yang ditegaskan oleh Santo Paulus
VI, "tindakan Gereja
di dunia adalah seperti perpanjangan dari
kepedulian Maria" (MC 28).
c)
Sinodalitas merujuk pada tiga aspek
berbeda dalam kehidupan Gereja:
§ pertama, aspek "gaya
(style) khas yang menjadi ciri kehidupan dan misi Gereja, yang
mengungkapkan hakikatnya sebagai perjalanan bersama dan pertemuan atau
perjumpaan Umat Allah, yang dipanggil
oleh Tuhan Yesus dalam kuasa Roh Kudus untuk mewartakan Injil.
§ kedua,
"sinodalitas kemudian menunjukkan, dalam pengertian yang lebih spesifik
dan dari sudut pandang teologis
dan kanonik, struktur-struktur dan proses gerejawi di mana sifat sinodal Gereja
diungkapkan pada tingkat institusional, dan begitu pula pada berbagai tingkat
realisasinya: lokal, regional,
dan universal.
§ ketiga,
sinodalitas mengacu pada "terjadinya peristiwa-peristiwa sinodal....,
sesuai dengan prosedur khusus yang
ditentukan oleh disiplin gerejawi, yang melibatkan dengan berbagai cara, di
tingkat lokal, regional, dan universal,.... untuk memenuhi
evangelisasinya".
d)
Sinodalitas dalam konsep persekutuan, mengungkapkan
substansi mendalam dari misteri dan misi Gereja, yang bersumber dan berpuncak
pada perayaan Ekaristi: persatuan dengan Allah Tritunggal dan kesatuan di
antara pribadi-pribadi manusia yang
terwujud dalam Kristus melalui Roh Kudus.
e)
Dengan menghargai semua karisma
dan pelayanan, sinodalitas memungkinkan Umat Allah
untuk mewartakan dan memberi kesaksian tentang Injil kepada perempuan dan laki-laki di setiap tempat
dan waktu, menjadi "sakramen yang terlihat" (LG 9) dari persaudaraan
dan kesatuan dalam Kristus yang dikehendaki Allah. Sinodalitas dan misi terkait
erat: misi menerangi sinodalitas dan sinodalitas mendorong menuju misi.
f)
Sinodalitas menawarkan "kerangka penafsiran yang paling tepat untuk memahami pelayanan hierarkis itu sendiri" (Fransiskus, Pidato untuk Peringatan
50 Tahun Pendirian
Sinode Para Uskup,
17 Oktober 2015) dan menempatkan dalam perspektif yang
tepat mandat yang Kristus percayakan, dalam Roh Kudus, kepada para Gembala.
6.
Kita Membicarakan Dan Menentukan Tugas-Tugas Yang Kita
Yakini Diserahkan Tuhan Kepada Komunitas Kita Untuk Dilaksanakan Bersama.
F Bapak-ibu, saudara-saydari yang terkasih.
Mari kita:
a.
Melaporkan tugas yang telah dilaksanakan.
b.
Tugas baru mana yang akan kita lakukan. Siapa
buat apa dan bilamana.
c.
Memilih sebuah “Sabda Kehidupan.” Sabda Kehidupan dipilih
dari teks Kitab Suci / Pengajaran Para Uskup oleh komunitas untuk dihayati
semua anggota komunitas selama satu atau beberapa minggu ke depan.
7.
Kita Berdoa Bersama Secara Spontan.
F Kita semua diundang untuk
mengungkapkan doa baik itu doa pujian, doa syukur dan doa permohonan yang
keluar dari hati kita secara spontan.
Mari kita satukan semua doa kita dengan doa yang
diajarkan Yesus kepada kita.
Kita doakan doa fokus pastoral 2026 bersama-sama.....
C.
PENUTUP
1.
Penghormatan pada Sabda
F Mari, kita berdiri dan memberikan
penghormatan kepada Kristus, Sang Sabda, yang hadir di tengah-tengah kita.
Hormat: mulai (perlahan-lahan
menunjukkan kepada mengarah kepadas kepada Firman Tuhan yang ditakhtakan di
depan!).… Amin … (kepala diangkat perlahan-lahan).
2.
Tanda Salib
F Dalam nama Bapa, dan Putera dan Roh
Kudus.... Amin.
3.
Lagu Penutup
F Marilah kita tutup pertemuan ini
dengan menyanyikan sebuah lagu. (pilih nyanyian yang diketahui semua).
=***=
