Sabtu, 23 Mei 2026

SEJARAH ASIAN INTEGRAL PASTORAL APPROACH (AsIPA)

Mewakili Keuskupan Pangkalpinang dalam menghantar persembahan dalam perayaan Ekaristi GA V di Sri Lanka (Nainammadama)

 - BILA DALAM AsIPA

PATTAYA, 19 OKTOBER 2010

“MENJADI GEREJA PERSATUAN”

Oleh: Cora Mateo 

APA ITU AsIPA?

AsIPA merupakan pendekatan yang dibuat dengan penuh perhatian dan kepedulian, dengan keyakinan untuk bergerak menuju realisasi visi.[1]

AsIPA adalah cara yang berbeda dari FABC[2] dalam menyelenggarakan suatu acara pertemuan, karena di dalam cara pertemuan itu, kami tidak mendengarkan teori dan refleksi teologis. FABC mempunyai banyak hal seperti itu, namun pertanyaan mendasarnya adalah BAGAIMANA KITA BERGERAK UNTUK MENCAPAI IDE DARI VISI YANG DIARTIKULASI DENGAN BAIK DALAM TEORI? AsIPA adalah sebuah metode, pendekatan pastoral untuk bergerak menuju visi baru.

 

1970

Kunjungan Paus Paulus VI[3] – setelah Konsili Vatikan II, direfleksikan sebagai tantangan untuk menjadi Gereja di Asia. Kunjungan itu untuk memperlihatkan wajah Yesus di Asia, iman Kristiani yang berakar di tanah Asia; untuk melaksanakan visi Konsili Vatikan II.

Dimulainya studi untuk mendirikan Kantor Kerasulan Awam di dalam FABC dengan latar belakang Dekrit Apostolik tentang “Apostolicam Actuositatem”, Kerasulan Awam.[4]

1974

Sidang Pleno FABC yang pertama di Taipei tema yang diusung: “Misi Gereja di Asia” – melanjutkan upaya melaksanakan tugas evangelisasi dengan konteks situasi sosial, budaya, dan masyarakat Asia sebagai inti prosesnya.

 

1982

FABC ke-3 - Komite Kerasulan Awam secara resmi dimulai sebagai langkah konkrit untuk menjadi Kantor Kerasulan Awam secara penuh (yang kemudian menjadi Kantor Kerasulan Awam dan Keluarga setelah FABC 8).

Mgr. Joseph TiKang (Taiwan) adalah Ketua pertama dan Fr. Jess BreƱa sebagai Sekretaris Eksekutif.

1984 dan 1986

BILA pertama - pencarian program pembinaan untuk menyadarkan kaum awam akan panggilan mereka menuju kekudusan dan untuk ikut bertanggung jawab atas misi Gereja.

Kami mulai memberikan kursus pelatihan di Asia dengan menggunakan metode Lumko (pertama di BILA 1).

 

1986

FABC ke-4 tentang “Panggilan dan Misi Kaum Awam dalam Gereja dan Masyarakat Asia” mendeklarasikan Office of Laity sebagai sebuah Kantor Kerasulan Awam yang lengkap.

Fr. Tommy Murphy (Taiwan) sebagai Sekretaris Eksekutif.

Pelatihan lebih banyak menggunakan metode Lumko.

 

1990

FABC ke-5 di Bandung, Indonesia, para Uskup mendeklarasikan bahwa Gereja di Asia menjadi “Gereja Persekutuan,…Gereja yang partisipatif,… bersaksi kepada Tuhan yang Bangkit…di mana karunia-karunia Roh Kudus dicurahkan kepada semua: para imam, kaum religius, umat awam dikenali dan dimanfaatkan…”

Mereka meminta agar kursus-kursus pembinaan dimulai menuju “cara baru menjadi Gereja” untuk menjawab tantangan-tantangan Milenium Baru. Mandat diberikan kepada FABC khususnya OLF[5] untuk memulai kursus ini, pertama menggunakan metode Lumko.

1991

Kursus internasional pertama dalam bahasa Cina (Taiwan) dan Inggris (Thailand).

Uskup Oswald Hirmer yang bersama kami sejak awal, berada di Asia selama 6 bulan, tinggal di Singapura dan mendampingi proses kami di berbagai negara dalam 5 tahun berikutnya.

 

1993

Evaluasi mata kuliah dan AsIPA dicetuskan dengan pendekatan Pastoral Asia yang Integral, dalam pertemuan gabungan FABC OSC[6] dan FABC OLF, teks-teks AsIPA secara bertahap terungkap dalam format seperti sekarang, lebih kontekstual, mudah diterjemahkan.

Mgr. Angel Lagdameo (Filipina) adalah Ketua Kedua; Ibu Cora Mateo (Taiwan) sebagai Sekretaris Eksekutif.

Kursus Internasional berlanjut, mendorong upaya di tingkat lokal.

 

1996

Majelis Jenderal AsIPA pertama yang mengambil keputusan untuk menyelenggarakan kursus nasional untuk pelatihan dasar dan kursus internasional untuk pelatihan lanjutan.

Dewan Redaksi AsIPA dibentuk dengan Ibu Wendy Louis, Fr. Thomas Vijay, Ibu Estela Padilla dan Sekretaris Eksekutif untuk terus memproduksi teks dan memberikan kursus.

Masa ketika kami pergi ke beberapa negara di Asia untuk menyelenggarakan kursus pelatihan: India, Sri Lanka, Bangladesh, Pakistan, Jepang, Korea, Taiwan, Singapura, Malaysia, Thailand, Myanmar, dan Indonesia, tempat kami diundang, untuk menyelenggarakan kursus nasional dan kemudian untuk membantu tim lokal. Dalam pertemuan OLF FABC lainnya kami memperkenalkan metode Syering Injil 7 langkah dan menggunakan beberapa teksnya.

Penerjemahan materi juga dimulai pada periode ini. (Saat ini dalam lebih dari 30 bahasa Asia).

1999

1999 - Sidang Umum AsIPA ke-2 (Thailand)– pertukaran material produksi lokal yang berasal dari berbagai negara, untuk menjawab kebutuhan lokal. Ini merupakan upaya penting untuk melakukan kontekstualisasi lebih lanjut. Dewan Redaksi bertambah dalam jumlah dan tugas, dan merupakan tim terakhir yang membuat berbagai modul menjadi teks AsIPA: dengan kriteria dasar program kesadaran yang mengangkat isu melalui kode, memiliki bagian Alkitabiah dan menggerakkan masyarakat untuk bertindak dan melakukan pembaharuan. . Itu adalah langkah-langkah sederhana yang mendorong partisipasi, berpusat pada Kristus dan komunitas yang melaksanakan misi dengan cara yang bertanggung jawab bersama.

2003

Sidang Umum AsIPA ke-3–semakin menjadi pertukaran antar tim nasional dan keuskupan, dan Dewan Redaksi menjadi ART = Tim Sumber AsIPA dengan 9 anggota dari 6 negara: India, Sri Lanka, Filipina, Korea, Singapura dan Taiwan, dan masih terus berkembang.

2006

AsIPA GA[7] ke-4 di India, dengan pengalaman yang mendalam tentang KBG mereka. AsIPA diberi kesempatan untuk melihat metode yang berbeda untuk membentuk KBG yang mampu membantu komunitas melampaui batas dalam gereja mereka dan peduli terhadap isu-isu sosial, tentang dialog antaragama… di Keuskupan Agung Trivandrum yang memiliki hampir 2.000 KBG.

2009

2009 – AsIPA GA ke-5 di Davao City, Filipina, dan menandai babak baru dengan Ibu Wendy Louis sebagai Sekretaris Eksekutif dan setelah 27 tahun, kantor FABC OLF di Taiwan ditutup dan Desk AsIPA dipindahkan ke Singapura .

GA5 juga merupakan pengalaman bersama para peserta yang menggunakan metode yang berbeda untuk membangun KBG. Jumlah kami hampir 250 peserta, penambahan 26 peserta dari peserta yang sudah berkumpul pada GA1 di Bangkok pada tahun 1996.

Dan selebihnya, bukanlah sejarah (seperti kata pepatah). Namun masa depan untuk menjadi “Gereja Persekutuan,” dengan berbagai upayanya untuk mencapai landasan dengan mendorong orang untuk berpartisipasi. Kesuksesan bukanlah sebuah peristiwa yang terjadi dalam satu momen (seperti para penambang Chile). Namun kesuksesan yang diungkapkan dalam banyak peristiwa, dalam berbagai contoh proses pembaharuan yang sedang berlangsung, besar dan kecil, di lingkungan sekitar, di paroki, di keuskupan…

Masuknya Sekretaris Eksekutif adalah Ibu Bibiana Ro dari Korea dan Desk AsIPA akan segera pindah ke Seoul.

KESIMPULAN

Apa yang menjadi AsIPA saat ini, tidak dicapai oleh satu orang, tidak pula dalam satu peristiwa, melainkan oleh sebuah tim yang sejak awal sadar, bahwa proses itu sendiri adalah pesan, bersaksi kepada Tuhan Yang Bangkit, dalam persekutuan, dalam program apa pun yang dijalankannya. Hal ini tidak lagi bersifat internasional, tetapi dikontekstualisasikan dalam beberapa budaya Asia.

Mungkin masa depan akan menjadi sebuah tantangan, seperti yang dikatakan Uskup Tirona, bukan hanya untuk merasa puas dengan AsIPA sebagai metodologi, namun sebagai cara hidup untuk membuat kita berdoa dan bertindak bersama sebagai saudara dan saudari, menjadikan persekutuan menjadi kenyataan dan semua bertanggung jawab bersama untuk misi Gereja, menjadi nyata.

*). Editor Alfons Liwun

=***=



[1]Visi Gereja yang disebutkan dalam Konsili Vatikan II, Gereja sebagai Persekutuan; Gereja sebagai Persekutuan ini direalisasikan oleh Sidang FABC tahun 1990 di Bandung, Gereja sebagai persekutuan dari komunitas-komunitas (communion of communities).

[2]FABC kepanjangan dari Federation of Asian Bishops' Conferences, yang diterjemahkan sebagai Federasi Konferensi Waligereja Asia, konferensi waligereja dalam Gereja Katolik yang mencakup wilayah Asia Selatan, Tenggara, Timur, dan Tengah.

[3]Pada tahun 1970, pada kesempatan kunjungan Paus Paulus VI ke Manila, para uskup Asia berkumpul untuk pertama kalinya. Dari pertemuan itu mengalir keinginan untuk mempererat ikatan persahabatan di antara mereka dan untuk mendefinisikan serta mengartikulasikan apa artinya menjadi “Gereja di Asia” dalam semangat Konsili Vatikan II. Pertemuan ini kemudian melahirkan Federasi Konferensi Para Uskup Asia–FABC; bdk. https://www.mirifica.net/fabc-50th-alasan-dibalik-logo/

[4]Apostolicam Actuositatem atau Dekret tentang Kerasulan Awam adalah dokumen dari Konsili Vatikan Kedua. Dokumen ini diresmikan oleh Paus Paulus VI pada 18 November 1965.

[5]OLF kepanjangan dari Office of Laity and Family, Kantor Kerasulan Awam dan Keluarga.

[6]OSC kepanjangan dari Office of Social Communication, Kantor Kerasulan Komunikasi Sosial.

[7]GA kepanjangan dari General Assembly yang diterjemahkan dengan “Sidang Umum”. 

Jumat, 22 Mei 2026

MEMUNCULKAN KEPEMIMPINAN BARU DALAM KOMUNITAS BASIS GEREJAWI (KBG)

 

Sebelum dibawakan di KBG, para Fasilitator melakukan study modul bersama di Paroki/Wilayah

PENGANTAR

(wajib dibaca fasilitator)

Tidak lama lagi kepengurusan Dewan Konsultatif Pastoral Paroki (DKPP) periode 2012-2015, selesai masa jabatannya. Karena itu, mau tidak mau kita memerlukan kepengurusan baru untuk periode 2015-2018.

Sesuai dengan organ dan struktur kepengurus DKPP dalam Norma-norma Komplementer Gereja Partisipatif (NKGP) Keuskupan Pangkalpinang, kepengurusan DKPP berasal dari kepengurusan KBG. Untuk itu, proses pemilihan dilakukan di KBG-KBG kita masing-masing.

Untuk dapat melakukan proses pemilihan kepengurusan KBG-KBG kita, modul penyadaran pemilihan ini akan membantu anggota KBG-KBG untuk melakukan proses pemilihan kepengurusan KBG. Modul ini terdiri dari empat kali pertemuan secara berturut-turut. Dalam pertemuan keempat, anggota KBG merencanakan proses pemilihan dan cara melakukan pemilihan yang tepat serta perlengkapan apa saja yang dibutuhkan dalam proses pemilihan tersebut. Bahkan lebih bagus lagi, KBG-KBG menentukan hari khusus untuk pertemuan pemilihan kepengurusan yang baru itu.

Tim AsIPA Paroki berharap, supaya setiap KBG melakukan pemilihan dengan berpegang teguh pada proses penyadaran dalam modul ini. Kami pun menyadari bahwa modul pertemuan ini belum sempurna benar, namun baiklah jika kita mengikuti proses ini dulu, kemudian ada kekurangan sana-sini boleh kita bawakan dalam evaluasi proses ini untuk proses pemilihan kepengurusan KBG-KBG yang akan datang. Selamat menjalankan! 

Berikut ini modul pertemuan keempat:

PERTEMUAN KEEMPAT: CARA MEMILIH PEMIMPIN 

Tujuan: anggota KBG dapat menemukan cara yang terbaik untuk memilih para pemimpinnya.

A.     Pembuka

a.      Fasilitator memberi salam dan mengajak anggota KBG untuk membuka pertemuan ini dengan sebuah lagu pembuka.

b.     Fasilitator meminta salah seorang diantara anggota KBG untuk berdoa mengundang Tuhan.

c.  Fasilitator mengundang anggota KBG untuk terlibat dalam pendalaman materi pertemuan.

B.     Pendalaman Materi

Code: mohon perhatikan dengan sungguh-sungguh tiga buah code berikut ini:

 


Pertanyaan pendalaman code:

a.     Apa perbedaan cara memilih pemimpin pada gambar 1, 2, dan 3?

b.   Jika gambar 1 adalah pemimpin yang ditunjuk, gambar 2 pemimpin sukarela dan gambar 3 pemimpin yang dipilih. Apa keuntungan-keuntungan dan kerugian-kerugian dari ketiga gambar cara memilih pemimpin itu?

c.  Pastikan dari ketiga gambar di atas mana cara yang terbaik untuk kita, dengan melihat keuntungan dan kerugian dari setiap gambar tadi?

TAMBAHAN:

§  Pada gambar satu, kita menemukan ‘para pemimpin yang ditunjuk’, dapat kita temukan keuntungan dan kerugiannya sebagai berikut: Keuntungan: Mereka bisa saja tidak diterima oleh komunitas. Kerugian: (1).Mereka tetap merupakan ”perpanjangan tangan” dari imam. (2). Mereka bisa saja hilang lenyap apabila imam dipindahkan. (3). Mereka bisa memandang Komunitas Basis Gerejawi mereka sebagai ”milik” mereka. (4). Mereka bisa saja menerapkan gaya kepemimpinan yang bersifat dominatif (5). Tanggung jawab bagi kehidupan dan kegiatan-kegiatan kelompok bisa jadi berada di tangan si pemimpin saja dan tidak muncul dari jemaat.

§  Pada gambar dua, dapat kita temukan ‘para pemimpin sukarela’ dengan keuntungan dan kerugiannya sebagai berikut: Keuntungannya: (1).Orang-orang yang baik bisa menjadi sukarelawan. (2). Mereka bisa menjadi pemimpin yang berbakti dan memiliki motivasi yang luhur. Kerugiannya: (1). Mereka bisa saja tidak mempunyai pengalaman sedikit pun dalam memimpin sebuah KBG. (2). Mereka bisa saja tidak diterima anggota KBG. (3). Orang yang tidak tepat bisa saja menjadi sukarelawan.

§  Pada gambar 3, dapat kita temukan ‘para pemimpin yang dipilih dengan keuntungan dan kerugian sebagai berikut: Keuntungannya: (1).Anggota KBG terlibat dalam memperoleh pemimpin-pemimpin. (2).Struktur kepemimpinan dibentuk segera. Kerugiannya: (1).Orang-orang yang tidak tepat dapat dipilih karena kelompok tidak memiliki pengalaman dalam kehidupan sebenarnya sebagai Komunitas Basis Gerejawi. (2). Biasanya seseorang yang lebih pandai mengeluarkan pikiran dan secara sosial lebih dikenal akan dipilih (yang bisa saja sudah memiliki sejumlah tanggung jawab) (3). Memulai dengan suatu struktur kepemimpinan yang rumit dan rinci membuat sebuah KBG menjadi formal dan mengahalangi semangat persaudaraan yang hangat.

C.     Teks Kitab Suci: Lukas 6: 12-16

12Pada waktu itu pergilah Yesus ke bukit untuk berdoa dan semalam-malaman Ia berdoa kepada Allah. 13Ketika hari siang, Ia memanggil murid-murid-Nya kepada-Nya, lalu memilih dari antara mereka dua belas orang, yang disebut-Nya rasul: 14Simon yang juga diberi-Nya nama Petrus, dan Andreas saudara Simon, Yakobus dan Yohanes, Filipus dan Bartolomeus, 15Matius dan Tomas, Yakobus anak Alfeus, dan Simon yang disebut orang Zelot, 16Yudas anak Yakobus, dan Yudas Iskariot yang kemudian menjadi pengkhianat.

Pertanyaan pendalaman teks Kitab Suci:

a.     Bagaimana caranya Yesus memilih para murid-Nya menjadi 12 Rasul?

b.    Apa yang menjadikan Yesus mempunyai kekuatan untuk menentukan 12 Rasul?

c.   Apa yang menjadikan saat hening dalam teks yang kita baca tadi itu sedemikian ‘penuh makna’?

TAMBAHAN:

§  Proses pemilihan ke-12 murid menjadi Rasul diawali oleh Yesus dengan berdoa di atas bukit. Lama doanya semalam-malamam atau semalam suntuk.

§  Setelah berdoa, Yesus memanggil murid-murid-Nya lalu Ia memilih 12 Rasul. Disini terlihat sangat jelas, doa: membangun relasi-Nya dengan Bapa memiliki kekuatan bagi Yesus, yaitu memilih 12 orang menjadi Rasul dari para murid-Nya yang sedang berkumpul.

§  Unsur yang paling hakiki dalam doa ialah ‘saat hening’. Didalam saat hening inilah, terdapat beberapa makna penting: (1). Saat hening membuat Yesus bersatu dengan Bapa-Nya. (2). Dalam saat hening itu, Yesus pun mendengarkan suara Bapa-Nya. Jadi pilihan Yesus, juga pilihan Bapa-Nya. (3). Dalam saat hening itu, persekutuan Yesus dengan Bapa terlaksana dalam hasil keputusan yang dibuat Yesus dan konsekuensi yang akan muncul, yang ditanggung oleh Yesus sendiri.

D.     Aksi Nyata:

a.  KBG merencanakan pemilihan pengurus KBG-nya. Rencana-rencana yang disiapkan KBG antara lain:

§  Cara apa yang terbaik memilih pengurus KBG?

§  Diskusikan bahan-bahan perlengkapan apa saja yang digunakan untuk memilih pengurus KBG? (alat-alat tulis, papan/kertas kartun untuk tulis) (Siapa saja yang menyiapkan, kapan persiapan dimulai, bagaimana cara menyiapkan, dan lain-lain)

b.   Buatlah komitmen persiapan pemilihan dengan doa-doa pribadi di rumah atau doa-doa yang dilakukan didalam keluarga Katolik di rumah masing-masing.

c.      Diskusikan waktu khusus pertemuan KBG untuk memilih pengurus baru dalam KBG.

E.      Penutup:

a.   Fasilitator mengundang anggota KBG untuk mengungkapkan doa-doa umat berupa pujian, syukur, dan permohonan.

b.   Fasilitator mengajak anggota KBG berdoa Doa Bapa Kami, sebagai doa penyatuan semua doa yang telah diungkapkan secara spontan.

c.      Lagu Penutup

=***=

MEMUNCULKAN KEPEMIMPINAN BARU DALAM KOMUNITAS BASIS GEREJAWI (KBG)

 

Tim AsIPA duduk menyiapkan modul AP untuk para fasilitator Paroki

PENGANTAR

(wajib dibaca fasilitator)

Tidak lama lagi kepengurusan Dewan Konsultatif Pastoral Paroki (DKPP) periode 2012-2015, selesai masa jabatannya. Karena itu, mau tidak mau kita memerlukan kepengurusan baru untuk periode 2015-2018.

Sesuai dengan organ dan struktur kepengurus DKPP dalam Norma-norma Komplementer Gereja Partisipatif (NKGP) Keuskupan Pangkalpinang, kepengurusan DKPP berasal dari kepengurusan KBG. Untuk itu, proses pemilihan dilakukan di KBG-KBG kita masing-masing.

Untuk dapat melakukan proses pemilihan kepengurusan KBG-KBG kita, modul penyadaran pemilihan ini akan membantu anggota KBG-KBG untuk melakukan proses pemilihan kepengurusan KBG. Modul ini terdiri dari empat kali pertemuan secara berturut-turut. Dalam pertemuan keempat, anggota KBG merencanakan proses pemilihan dan cara melakukan pemilihan yang tepat serta perlengkapan apa saja yang dibutuhkan dalam proses pemilihan tersebut. Bahkan lebih bagus lagi, KBG-KBG menentukan hari khusus untuk pertemuan pemilihan kepengurusan yang baru itu.

Tim AsIPA Paroki berharap, supaya setiap KBG melakukan pemilihan dengan berpegang teguh pada proses penyadaran dalam modul ini. Kami pun menyadari bahwa modul pertemuan ini belum sempurna benar, namun baiklah jika kita mengikuti proses ini dulu, kemudian ada kekurangan sana-sini boleh kita bawakan dalam evaluasi proses ini untuk proses pemilihan kepengurusan KBG-KBG yang akan datang. Selamat menjalankan!

Berikut ini modul Pertemuan Ketiga:

PERTEMUAN KETIGA: 

BELAJAR GAYA KEPEMIMPIN YESUS  UNTUK MEMBANGUN KBG
 

Tujuan: anggota KBG sebagai Umat Allah mengenal dirinya untuk menjadi seorang pemimpin, jika dirinya menjadi seorang pemimpin yang dipilih untuk melayani umat.

A.     Pembuka

1.      Fasilitator mengajak anggota KBG untuk membuka pertemuan ini dengan sebuah lagu pembuka.

2.      Fasilitator meminta salah seorang diantara anggota KBG untuk berdoa mengundang Tuhan.

3. Fasilitator mengundang anggota KBG untuk terlibat dalam pendalaman materi pertemuan.

B.     Pendalaman Materi

Code: mohon perhatikan code berikut ini dengan sungguh-sungguh dan seteliti mungkin.


 Pertanyaan pendalaman code:

a.     Apa yang ANDA lihat dalam code ini?

b.    Apa yang sedang terjadi dalam code ini?

c.     Apa gaya kerja orang ini dalam code di atas?

d.    Masih cocokkah gaya kerja orang ini dalam KBG-KBG kita?

e.    Apa untung dan ruginya gaya pemimpin seperti dalam code ini?

TAMBAHAN:

§  Gaya kerja pemimpin dalam code tadi adalah gaya kerja pemimpin seorang pemborong. Semua kegiatan dan segala sesuatu yang menyangkut kerja dan tanggungjawab ada pada si pemborong, seperti menjadi fasilitator, urus kolekte-keuangan, menagih kartu persembahan imam dan pralaya, hak berbicara, dan lain-lain. Bahkan dalam hal mengambil keputusan pun diputuskan sendiri.

§  Tentu gaya kerja pemimpin semacam ini, sangat tradisional, otoriter-diktator. Tidak cocok dan relevan lagi ketika gaya kerja seorang pemborong ini, dijalankan dalam KBG. Rahmat sakramen Pembaptisan dan sakramen Krisma, serta sakramen-sakramen lainnya, sudah kita terima didalam Gereja Katolik. Karena itu, salah satu bentuk tugas melayani adalah menjadi pemimpin atau pengurus KBG merupakan tugas dan tanggungjawab semua anggota KBG dan Umat Allah.

C.     Teks Kitab Suci: Yohanes 15: 12-15

12Inilah perintah-Ku, yaitu supaya kamu saling mengasihi, seperti Aku telah mengasihi kamu. 13Tidak ada kasih yang lebih besar dari pada kasih seorang yang memberikan nyawanya untuk sahabat-sahabatnya. 14Kamu adalah sahabat-Ku, jikalau kamu berbuat apa yang Kuperintahkan kepadamu. 15Aku tidak menyebut kamu lagi hamba, sebab hamba tidak tahu, apa yang diperbuat oleh tuannya, tetapi Aku menyebut kamu sahabat, karena Aku telah memberitahukan kepada kamu segala sesuatu yang telah Kudengar dari Bapa-Ku.

Pertanyaan pendalaman Kitab Suci:

a.     Apa gaya kepemimpinan Yesus ini ketika memimpin para murid-Nya?

b.    Apa yang dapat kita teladani mengenai gaya kerja yang Yesus terapkan kepada para murid-Nya untuk gaya kerja pemimpin dalam KBG kita ini?

TAMBAHAN:

Catatan untuk fasilitator: Fotocopykan khusus lembaran ini untuk dibagikan kepada anggota KBG, kemudian dibacakan secara pergilir satu demi satu sesuai urutan ini. Pilihlah tiap-tiap orang satu atau dua gaya kerja seorang pemimpin yang memberi arah ini dan sharingkan didalam KBG dengan singkat, padat, dan jelas.

Gaya kerja seorang pemimpin yang memberi arah:

a.     Tidak menyediakan segala sesuatu walaupun diminta.

b.    Menahan pendapat pribadi meskipun diminta, bahkan ketika orang lain diam untuk beberapa saat.

c.     Tidak pernah berkata,”Mereka tidak tahu apa-apa. Saya harus memberitahu mereka.”

d.   Menerima peran ”pemberi arah” tanpa terlalu cepat menetapkan rencana aksi yang konkret. Animator melakukan hal tersebut untuk merangsang pemikiran dan interaksi dalam komunitas.

e.    Tidak membujuk, karena orang bisa saja mengikuti bujukan sekadar untuk menyenangkan tanpa harus mempercayai bujukan itu. Mungkin saja orang tidak peduli. Sikap ini tidak akan dapat menyatukan orang sebagai komunitas karena fokusnya adalah keprihatinan si pemimpin.

f.   Bekerja DENGAN umat, bukannya bekerja UNTUK umat. Percaya bahwa umat harus berinteraksi satu sama lain, bukan hanya dengan pemimpinnya.

g.  Bersikap sabar. Memberi umat waktu yang cukup untuk menemukan sendiri jalan keluarnya atau penyelesaiannya.

h.    Membantu umat dalam mengambil keputusannya sendiri. Jika anda mengambil keputusan untuk mereka, mereka dapat dengan mudah jatuh ke dalam sikap masa bodoh dan hanya menunggu. Jika seluruh komunitas atau seluruh kelompok hendak berubah maka semua anggota harus dilibatkan dalam keseluruhan proses pemikiran dan pencarian.

i.      Menolong umat berpikir dengan memberi pertanyaan-pertanyaan yang dapat membuka cara pandang baru dan mendorong proses berpikir.

j.      Menolong umat menemukan semua keuntungan dan kerugian dari suatu penyelesaiaan (jalan keluar). Kerugian-kerugian harus ditemukan terlebih dahulu untuk mencegah timbulnya kekecewaan di kemudian hari.

k.     Mendorong umat menemukan berbagai pilihan dalam memecahkan suatu masalah. Animator mengumpulkan semua usulan tanpa mendiskusikannya.

l.      Mengarahkan perhatian umat pada hal-hal yang selama ini mereka abaikan, bukan dengan memberitahu mereka tetapi dengan mengajukan pertanyaan-pertanyaan.

m.   Mendorong umat menemukan sendiri berbagai fakta. Animator hanya menyampaikan fakta dan informasi yang tidak dapat ditemukan umat.

n.    Membiarkan umat mengambil keputusan secara bebas, karena mereka harus belajar bersama bagaimana mengambil keputusan (meskipun mereka melakukannya dengan cara memboikot atau dengan tidak mau terlibat).

o.    Sadar akan fakta bahwa sebuah penyelesaian akan berhasil, hanya jika umat melaksanakan penyelesaian tersebut dan terus menerus melaksanakannya.

p.    Mempercayai akal sehat umat (dan ”naluri iman” mereka). Bahkan umat sederhana pun akan menemukan penyelesaian yang baik jika mereka diberi kesempatan dan jika fakta-fakta diberikan.

q.    Menerima penyelesaian-penyelesaian yang diajukan umat meskipun animator memiliki penyelesaian-penyelesai yang lebih baik di benaknya. Ia membiarkan umat menemukan cara penyelesaiannya sendiri. Dengan demikian semangat bertanggung jawab bisa tumbuh dalam diri mereka.

r.      Tidak mencela ketika umat membuat kesalahan, tapi justru melakukan refleksi bersama mereka mengapa terjadi kesalahan dan belajar dari kesalahan tersebut.

s.     Jujur dan tulus, serta menghindari ”agenda-agenda tersembunyi!”

t.      Siap untuk menghadapi perjuangan yang panjang. Animator tidak pernah memimpikan suatu cara penyelsaian yang pintas atau instan.

u.    Puas dengan keberhasilan yang diraih meskipun sangat kecil pada permulaannya. Hal ini merupakan langkah-langkah kecil yang mendorong umat untuk mengambil langkah-langkah yang lebih besar di kemudian hari.

D.     Aksi Nyata:

§ Diskusikan gaya kerja pemimpin atau pengurus baru yang akan datang dalam KBG masing-masing.

§  Ternyata gaya kerja kepemimpinan yang memborong semua atau mengurus segalanya, tidak sesuai dengan gaya kerja kepemimpinan Yesus. Yesus adalah teladan hidup kita termasuk teladan dalam gaya kerja-Nya. Beranikah anggota KBG dan pengurus baru dalam KBG saling bekerjasama dan saling membantu dalam tugas satu sama lain? Buatlah komitmen bersama untuk gaya kerja kepemimpinan dalam KBG kita!

E.      Penutup:

a.   Fasilitator mengundang anggota KBG untuk mengungkapkan doa-doa umat berupa pujian, syukur, dan permohonan.

b.   Fasilitator mengajak anggota KBG berdoa Doa Bapa Kami, sebagai doa penyatuan semua doa yang telah diungkapkan secara spontan.

c.      Lagu Penutup

=***=