Kamis, 21 Mei 2026

SURAT GEMBALA USKUP PANGKALPINANG AKSI AGUSTUSAN 2004

Sharing Injil 7 Langkah, kebiasaan jika ada Pertemuan AsIPA baik Asia maupun Keuskupan Pangkalpinang

Ini Surat Gembala Bapa Uskup, Keuskupan Pangkalpinang, Alm. Mgr. Hilarius Moa Nurak, SVD. Kebetulan membuka laptop lama dan menemukan file ini, jadi saya menempelkan di blog saya. Sekaligus file ini sebagai kenangan 10 tahun almahrum (29/04/2016). Bagaimana ide tentang KBG yang diperjuangkannya, hingga dalam surat gembalnya pun dibahas.

PENGANTAR 

 “Kamu ……. anggota-anggota keluarga Allah” (Ef 2:19). Setiap tahun untuk aksi agustusan kita menentukan satu tema yang menjadi pokok permenungan kita selama bulan Agustus. Tahun 2003 yang lalu tema aksi agustusan kita adalah “Umat Allah Keuskupan Pangkalpinang Dalam Peziarahan Menuju Bapa.” Melalui tema tersebut saya mengajak umat sekalian untuk semakin menyadari bahwa kita umat Kristiani Keuskupan Pangkalpinang adalah umat yang selalu dalam perjalanan (berziarah) menuju Bapa. Hidup kita di dunia ini hanyalah bersifat sementara. 

Tahun 2004 ini kita mengambil tema “Umat Allah Terus-Menerus Membangun dan Mengembangkan Diri Menjadi Komunitas Kristiani Yang Berpusat Pada Kristus.” Seringkali kita berpendapat bahwa peziarahan menuju Bapa kita laksanakan sendiri-sendiri, secara pribadi saja. Padahal peziarahan itu kita laksanakan dalam persaudaraan, dalam komunitas, secara bersama-sama, dengan Kristus yang menjadi pusat dan pemersatu. Tanpa berpusat pada Kristus persaudaraan kita tidak kuat dan tidak akan bertahan lama. 

Dengan menghidupkan Kelompok kita menjadi sebuah Komunitas Basis yang berpusat pada Kristus berarti: 

1. Kitab Suci selalu dibawa, dibaca, direnungkan dan disyeringkan (membagikan pengalaman hidup bersama Kristus dalam hidup nyata) dalam setiap pertemuan komunitas basis.

2. Mengalami kehadiran Kristus melalui Syering Injil bukan kotbah atau debat.

3. Membiarkan cahaya Kristus menerangi masalah-masalah di dalam komunitas dan masyarakat kita (memecahkan masalah dalam terang Sabda).

4. Dalam setiap pembahasan dan perencanaan, kita selalu bertanya “Apakah yang diharapkan Kristus dari kita?” “Jalan keluar apa yang lebih dekat dengan pikiran Kristus”

Dengan demikian membangun dan mengembangkan kelompok kita menjadi komunitas kristiani yang berpusat pada Kristus. Artinya : kita bergerak ke arah membentuk persaudaraan sejati (persaudaraan yang mengasihi) di antara kita semua warga, persaudaraan sejati (persaudaraan yang mengasihi) yang terbuka terhadap masyarakat dan lingkungan hidup, bukan tertutup. 

Marilah selama bulan Agustus ini, kita merenungkan tema persaudaraan yang berpusat pada Kristus ini serta berusaha mewujudkannya dalam hidup sehari-hari kita. Dengan semangat persaudaraan sejati di antara kita, banyak hal yang dapat kita laksanakan demi kepentingan kita bersama. Persaudaraan sejati yang berpusat pada Kristus hanya dapat dicapai dengan usaha yang terus-menerus. Ini berarti tujuan yang ingin kita capai itu penting, tetapi lebih penting proses yang kita kembangkan untuk mencapai tujuan tersebut.

RENCANA TUHAN: PEMBENTUKAN KOMUNITAS

Dalam suratnya kepada umat di Efesus, St. Paulus mengatakan “Ia telah menyatakan rahasia kehendak-Nya kepada kita, sesuai dengan rencana kerelaan-Nya, yaitu rencana kerelaan yang dari semula telah ditetapkan-Nya di dalam Kristus, sebagai persiapan kegenapan waktu untuk mempersatukan di dalam Kristus, sebagai Kepala segala sesuatu baik yang di sorga maupun yang di bumi.” (Ef 1:9-10). Dari apa yang dikatakan St. Paulus, jelas bahwa Tuhan mempunyai rencana dengan menciptakan semua di dunia ini. Juga rencana Tuhan dengan manusia. Rencana itu telah Ia nyatakan kepada kita supaya kita bekerja sesuai dengan rencana-Nya. 

Bagi kita, karya pastoral adalah mengerjakan rencana Tuhan sesuai dengan yang Ia wahyukan kepada manusia bukan melaksanakan rencana kita sendiri. Sehubungan dengan manusia, Tuhan ingin menciptakan semua manusia menjadi satu bangsa yang dipersatukan dengan-Nya, menciptakan suatu persatuan antara Allah dan manusia, menjadi satu tubuh atau menjadi kenisah di mana bersemayam Allah Roh Kudus. “Demikianlah kamu bukan lagi orang asing dan pendatang, melainkan kawan sewarga dari orang-orang kudus dan anggota-anggota keluarga Allah, yang dibangun di atas dasar para rasul dan para nabi, dengan Kristus Yesus sebagai batu penjuru. 

Di dalam Dia tumbuh seluruh bangunan, rapi tersusun, menjadi bait Allah yang kudus, di dalam Tuhan. Di dalam Dia kamu juga turut dibangunkan menjadi tempat kediaman Allah, di dalam Roh.” (Ef 2:19-22) Sebagai pekerja, apa yang kita kerjakan haruslah sama dengan rencana Tuhan sendiri yaitu membentuk satu bangsa yang hidup untuk Tuhan. Tuhanlah yang empunya proyek sedangkan kita hanyalah pelaksananya. Pembentukan Komunitas Basis yang berpusat pada Kristus harus berlandaskan Yesus Kristus yakni Yesus Kristus yang ada sebagaimana tertulis dalam Kitab Suci. Karena itu dalam Komunitas basis Kitab Suci mendapat tempat penting yang tidak dapat digantikan dengan kitab-kitab yang lain. 

Momen kecil bahas KBG dalam situasi Sinode II Keuskupan di Hotel Serata-Pasir Padi Pangkalpinang


Setiap pertemuan di Komunitas Basis haruslah disemangati oleh Kitab Suci. Maka dalam setiap pertemuan harus ada pembacaan Kitab Suci. Tidak cukup hanya dibacakan, Kitab Suci harus direnungkan bersama dalam keheningan dan syering. Kitab Suci sungguh menjadi pusat tidak hanya dibaca dan direnungkan (menjadi pendengar firman), tetapi juga diwujudkan secara konkrit/nyata dalam kata dan tindakan (menjadi pelaku firman). 

Maka setiap aksi/kegiatan yang diputuskan untuk dilaksanakan harus keluar dari renungan Kitab Suci. Tindakan/aksi yang keluar dari renungan Kitab Suci berarti tindakan itu lahir dari kesadaran kita atas kehendak Allah yang harus kita lakukan, bukan karena kewajiban atau terpaksa atau hanya demi aksi. Keputusan untuk melaksanakan kegiatan/aksi diambil dalam semangat Injil yakni dalam semangat persaudaraan bukan paksaan, disertai rasa tanggung jawab bersama di dalam komunitas baik saat mengambil keputusan maupun dalam pelaksanaan keputusan dan pengevaluasiannya. 

APA SEBAB KOMUNITAS BASIS GEREJANI? 

 Untuk lebih mengerti mengapa dalam karya pastoral, kita berusaha membentuk komunitas, tiga hal berikut ini perlu kita pegang teguh yakni:

a. Keyakinan, sikap hidup, nilai dan tingkah laku seseorang, juga kekristenannya, sampai pada batas tertentu dibentuk oleh lingkungan di mana ia tinggal. Karena itu seorang Kristen membutuhkan suatu lingkungan di mana ia dapat menghayati hidup kristianinya.

b. Faktor lingkungan mempunyai andil lebih mendasar untuk perkembangan hidup kristiani seseorang dari pada faktor institusi. Karena itu karya pastoral kita lebih diarahkan kepada pembentukan lingkungan yang menunjang hidup kristiani daripada membuat reformasi institusi 

c. Dalam situasi kita di Indonesia, di mana rasa-rasanya sulit bagi orang lain menerima kehadiran kita, maka perlu sekali membentuk Komunitas Basis di dalam masyarakat agar hidup kristiani kita dapat dikembangkan. 

AKHIR KATA

Dengan alasan-alasan seperti yang sudah saya katakan dalam Surat Gembala ini, saya mengajak seluruh umat tanpa kecuali untuk bergiat membentuk dan mengembangkan kelompok-kelompok yang ada di paroki kita menjadi Komunitas Basis Gerejani yang berpusat pada Kristus. Pembentukan dan pengembangan tersebut adalah tugas dan tanggung jawab kita bersama. Supaya berhasil, kita semua harus berani berubah dan membaharui diri. Tidak cukup hanya umat yang berubah sedang para imamnya tidak. Tidak cukup hanya para imam yang berubah sedang umatnya tidak. Semua harus berubah jika kita ingin mencapai perubahan yang menggembirakan. (***)

Sabtu, 16 Mei 2026

KBG MEMAHAMI MAKNA DAN DIMENSI SINODALITAS (TANGGUNGJAWAB BERSAMA DALAM MISI)

 

Alm. Mgr. Hilarius, Uskup Keuskupan Pangkalpinang ketika ikut terlibat dalam Sharing Injil dalam GA AsIPA V di Sri Lanka


PERSIAPAN:

·       Doa Fokus Pastoral 2026

·       Teks Lagu Fokus Pastoral

·       Buku Puji Syukur

·       Meja pentakhta Sabda dan dua lilin

 

Tujuan: Supaya anggota KBG memahami Sabda Tuhan dan pengajaran para rasul sehingga mampu Berlayar Bersama dalam Satu Perahu Petrus.

 

A.   PEMBUKAAN

1.     Pengantar

F          Bapak-ibu, saudara-saudari yang terkasih dalam Kristus.

            Pertemuan kita kali ini, kita akan mendengarkan Sabda Tuhan tentang ”perjalanan dua murid Yesus ke Emaus”. Sampai di Emaus bukan menjadi tujuan. Tetapi kembali ke Yerusalem dan berkumpul bersama para murid yang lain, menjadi proses sionodalitas yang memerlukan refleksi yang mendalam.

           

            Bapa Uskup kita, penerus pengajaran para rasul, mengajak kita memahami ”Makna dan Dimensi Sinodalitas” (hening sejenak)

2.    

Lagu Pembukaan

F          Mari kita siapkan hati dan budi kita, untuk memulai pertemuan kita ini dengan menyanyikan sebuah lagu pembuka. (silakan pilih lagu dari Puji Syukur yang dapat dinyanyikan oleh semua umat)

 

3.     Penghormatan pada Sabda

F          Mari, kita berdiri dan memberikan penghormatan kepada Kristus, Sang Sabda, yang hadir di tengah-tengah kita.

 

Hormat: mulai (perlahan-lahan menunjukkan kepada mengarah kepadas kepada Firman Tuhan yang ditakhtakan di depan!).… Amin … (kepala diangkat perlahan-lahan).

 

4.     Tanda Salib

F          Dalam nama Bapa, dan Putera dan Roh Kudus.... Amin


 

B.    LANGKAH-LANGKAH PENDALAMAN

1.     Doa Mengundang Tuhan

F          Saya persilahkan salah seorang dari kita untuk berdoa mengundang Yesus.

 

2.     Kita Membaca Kitab Suci

F          Marilah buka Kitab Suci Perjanjian Baru, Injil Lukas, bab 24, ayat 13 sampai 35.

            Saya ulangi, Injil Lukas, Bab 24, ayat 13-35.

            Saya ulangi sekali lagi, Injil Lukas, Bab 24, ayat 13 35.

 

Saya persilahkan salah seorang diantara kita membacanya dengan perlahan-lahan dan dalam suasana doa serta dengan suara lantang

 

Apakah diantara kita yang memegang Kitab Suci dari versi lain baik berupa bahasa atau pun lainnya....?

 

Jika ada, silahkan membaca.

 

F          Bapak-ibu, saudara-saudari yang terkasih. Setelah kita mendengarkan Sabda Tuhan, mari, kita juga mendengarkan pengajaran para Rasul melalui Para Bapa Uskup Seluruh Dunia. Para Bapa Uskup dalam Dokumen Akhir menegaskan tentang ”makna dan dimensi sionodalitas” sebagai berikut:

”Sinodalitas adalah perjalanan umat Kristen bersama Kristus dan menuju Kerajaan Allah, dalam persatuan dengan seluruh umat manusia; Berorientasi pada misi, hal ini melibatkan berkumpul dalam pertemuan di berbagai tingkatan kehidupan gerejawi, saling mendengarkan, dialog, kearifan bersama, pembentukan konsensus sebagai ekspresi kehadiran Kristus yang hidup dalam Roh, dan pengambilan keputusan dalam tanggung jawab bersama yang berbeda. Secara sederhana dan ringkas, dapat dikatakan bahwa sinodalitas adalah jalan pembaharuan spiritual dan reformasi struktural untuk menjadikan Gereja lebih partisipatif dan misioner, yaitu, untuk menjadikannya lebih mampu berjalan bersama setiap pria dan wanita, memancarkan terang Kristus” (No. 28 DF).

 

3.     Kita Memilih Kata-Kata Dan Merenungkannya

F          Kita memilih kata-kata atau ungkapan-ungkapan singkat, atau ayat pendek, entah dari teks Kitab Suci atau dari pernyataan Para Uskup Seluruh Dunia, kemudian mendoakannya dengan suara lantang 3 kali, setiap kali diselingi dengan hening sejenak.

            Saya persilakan.....

 

4.     Kita Membiarkan Tuhan Berbicara Kepada Kita Dalam Keheningan

F          Kita berdiam diri selama 2/3 menit, dan mempersilakan Tuhan berbicara kepada kita.

 

5.     Kita Mengungkapkan Apa Yang Telah Kita Dengar Di Dalam Hati.

a.     Kita  saling  berbagi ”kata atau ayat yang direnungkan dalam hati kita” pada saat hening.

b.     Apa kata Tuhan dengan kata atau ayat singkat yang kita renungkan?

c.     Bagaimana kita telah menghayati kata atau ungkapan yang kita renungkan tadi (hendaknya tidak berkhotbah atau diskusi).


PENEGASAN:

a)    Belajar dari pribadi Bunda Maria, kita melihat ciri-ciri Gereja sinodal, misioner, dan penuh belas kasihan yang bersinar terang: mendengarkan, berdoa, bermeditasi, berdialog, mendampingi, membedakan, memutuskan, dan bertindak.

b)    Dari Bunda Maria, kita belajar seni mendengarkan, perhatian terhadap kehendak Allah, ketaatan kepada Firman-Nya, kemampuan untuk memahami kebutuhan orang miskin, keberanian untuk berangkat, kasih yang menolong, nyanyian pujian, dan sukacita dalam Roh. Karena alasan ini, seperti yang ditegaskan oleh Santo Paulus VI, "tindakan Gereja di dunia adalah seperti perpanjangan dari kepedulian Maria" (MC 28).

c)     Sinodalitas merujuk pada tiga aspek berbeda dalam kehidupan Gereja:

§  pertama, aspek "gaya (style) khas yang menjadi ciri kehidupan dan misi Gereja, yang mengungkapkan hakikatnya sebagai perjalanan bersama dan pertemuan atau perjumpaan Umat Allah, yang dipanggil oleh Tuhan Yesus dalam kuasa Roh Kudus untuk mewartakan Injil.

§  kedua, "sinodalitas kemudian menunjukkan, dalam pengertian yang lebih spesifik dan dari sudut pandang teologis dan kanonik, struktur-struktur dan proses gerejawi di mana sifat sinodal Gereja diungkapkan pada tingkat institusional, dan begitu pula pada berbagai tingkat realisasinya: lokal, regional, dan universal.

§  ketiga, sinodalitas mengacu pada "terjadinya peristiwa-peristiwa sinodal...., sesuai dengan prosedur khusus yang ditentukan oleh disiplin gerejawi, yang melibatkan dengan berbagai cara, di tingkat lokal, regional, dan universal,.... untuk memenuhi evangelisasinya".

d)    Sinodalitas dalam konsep persekutuan, mengungkapkan substansi mendalam dari misteri dan misi Gereja, yang bersumber dan berpuncak pada perayaan Ekaristi: persatuan dengan Allah Tritunggal dan kesatuan di antara pribadi-pribadi manusia yang terwujud dalam Kristus melalui Roh Kudus.

e)    Dengan menghargai semua karisma dan pelayanan, sinodalitas memungkinkan Umat Allah untuk mewartakan dan memberi kesaksian tentang Injil kepada perempuan dan laki-laki di setiap tempat dan waktu, menjadi "sakramen yang terlihat" (LG 9) dari persaudaraan dan kesatuan dalam Kristus yang dikehendaki Allah. Sinodalitas dan misi terkait erat: misi menerangi sinodalitas dan sinodalitas mendorong menuju misi.

f)     Sinodalitas menawarkan "kerangka penafsiran yang paling tepat untuk memahami pelayanan hierarkis itu sendiri" (Fransiskus, Pidato untuk Peringatan 50 Tahun Pendirian Sinode Para Uskup, 17 Oktober 2015) dan menempatkan dalam perspektif yang tepat mandat yang Kristus percayakan, dalam Roh Kudus, kepada para Gembala.

 

6.     Kita Membicarakan Dan Menentukan Tugas-Tugas Yang Kita Yakini Diserahkan Tuhan Kepada Komunitas Kita Untuk Dilaksanakan Bersama.

 

F    Bapak-ibu, saudara-saydari yang terkasih. Mari kita:

a.     Melaporkan tugas yang telah dilaksanakan.

b.     Tugas baru mana yang akan kita lakukan. Siapa buat apa dan bilamana.

c.     Memilih sebuah “Sabda Kehidupan.” Sabda Kehidupan dipilih dari teks Kitab Suci / Pengajaran Para Uskup oleh komunitas untuk dihayati semua anggota komunitas selama satu atau beberapa minggu ke depan.

 

7.     Kita Berdoa Bersama Secara Spontan.

F          Kita semua diundang untuk mengungkapkan doa baik itu doa pujian, doa syukur dan doa permohonan yang keluar dari hati kita secara spontan.

           

            Mari kita satukan semua doa kita dengan doa yang diajarkan Yesus kepada kita.

 

            Kita doakan doa fokus pastoral 2026 bersama-sama.....

 

C.    PENUTUP

1.     Penghormatan pada Sabda

F          Mari, kita berdiri dan memberikan penghormatan kepada Kristus, Sang Sabda, yang hadir di tengah-tengah kita.

 

Hormat: mulai (perlahan-lahan menunjukkan kepada mengarah kepadas kepada Firman Tuhan yang ditakhtakan di depan!).… Amin … (kepala diangkat perlahan-lahan).

 

2.     Tanda Salib

F          Dalam nama Bapa, dan Putera dan Roh Kudus.... Amin.

 

3.     Lagu Penutup

F          Marilah kita tutup pertemuan ini dengan menyanyikan sebuah lagu. (pilih nyanyian yang diketahui semua).

=***=

KBG MEMAHAMI DASAR-DASAR SAKRAMENTAL UMAT ALLAH (TANGGUNGJAWAB BERSAMA DALAM MISI)

 

Aksi Nyata KBG-KBG dalam suatu Wilayah (2) menanggung Koor pada saat Misa Palma 2026 di Paroki Sta. Bernadeth Pangkalpinang

PERSIAPAN:

·       Doa Fokus Pastoral 2026

·       Teks Lagu Fokus Pastoral

·       Buku Puji Syukur

·       Meja pentakhta Sabda dan dua lilin

 

Tujuan: Supaya anggota KBG memahami KBG sebagai fokus dan tempat kita mempraktekkan Gereja Sinodal.

 

A.   PEMBUKAAN

1.     Pengantar

F          Bapak-ibu, saudara-saudari yang terkasih dalam Kristus.

 

            Pertemuan kita kali ini, kita akan mendengarkan Sabda Tuhan yang diambil dari Surat Pertama Rasul Paulus kepada Jemaat di Korintus. Kita akan mendengarkan ”beragam karunia dari setiap orang, namun kita satu dalam Kristus. Kristus-lah menyatukan kita menjadi satu.”

 

            Tidak hanya itu, kita juga mendengar pengajaran dari Bapa Uskup, Mgr. Adrianus Sunarko, OFM, pengganti para rasul yang meneruskan pengajaran para rasul, mengajak kita untuk berjalan bersama dengan Gereja Universal, dengan Dasar-dasar Sakramental Umat Allah.  (hening sejenak)

 

2.     Lagu Pembukaan

F          Mari kita siapkan hati dan budi kita, untuk memulai pertemuan kita ini dengan menyanyikan sebuah lagu pembuka. (silakan pilih lagu dari Puji Syukur yang dapat dinyanyikan oleh semua umat)

 

3.     Penghormatan pada Sabda

F          Mari, kita berdiri dan memberikan penghormatan kepada Kristus, Sang Sabda, yang hadir di tengah-tengah kita.

 

Hormat: mulai (perlahan-lahan menunjukkan kepada mengarah kepadas kepada Firman Tuhan yang ditakhtakan di depan!).… Amin … (kepala diangkat perlahan-lahan).

 

4.     Tanda Salib

F          Dalam nama Bapa, dan Putera dan Roh Kudus.... Amin

 

B.    LANGKAH-LANGKAH PENDALAMAN

1.     Doa Mengundang Tuhan

F          Saya persilahkan salah seorang dari kita untuk berdoa mengundang Yesus.

 

2.     Kita Membaca Kitab Suci

F          Marilah buka Kitab Suci Perjanjian Baru, Surat Pertama Rasul Paulus kepada Jemaat di Korintus, Bab 12, ayat 12 sampai dengan ayat 13.

            Saya ulangi, 1Korintus, Bab 12, ayat 12-13.

            Saya ulangi sekali lagi, 1Korintus, Bab 12, ayat 12-13.

 

Saya persilahkan salah seorang diantara kita membacanya dengan perlahan-lahan dan dalam suasana doa serta dengan suara lantang

 

Apakah diantara kita yang memegang Kitab Suci dari versi lain baik berupa bahasa atau pun lainnya....?

 

Jika ada, silahkan membaca.

 

F          Bapak-ibu, saudara-saudari yang terkasih. Setelah kita mendengarkan Sabda Tuhan, mari, kita juga mendengarkan pengajaran para Rasul melalui Para Bapa Uskup Seluruh Dunia. Para Bapa Uskup dalam Dokumen Akhir Sidang Para Uskup 2024 menegaskan tentang Dasar-dasar Sakramental Umat Allah demikian:

 

”Perjalanan sinodal Gereja telah membawa kita untuk menemukan kembali bahwa beragam panggilan, karisma, dan pelayanan memiliki satu akar: "Oleh satu Roh kita semua dibaptis menjadi satu tubuh" (1Kor. 12:13). Baptisan adalah dasar kehidupan Kristen karena memperkenalkan setiap orang kepada karunia terbesar: menjadi anak-anak Allah, yaitu, peserta dalam hubungan Yesus dengan Bapa dalam Roh Kudus. Tidak ada yang lebih tinggi dari martabat ini, yang diberikan secara sama kepada setiap orang, yang memungkinkan kita untuk mengenakan Kristus dan dicangkokkan kepada-Nya seperti ranting-ranting pada pokok anggur. Nama "Kristen" yang dengan bangga kita sandang mengandung rahmat yang merupakan dasar kehidupan kita dan yang memungkinkan kita untuk berjalan bersama sebagai saudara dan saudari”(No. 21 DF)

 

3.     Kita Memilih Kata-Kata Dan Merenungkannya

F          Kita memilih kata-kata atau ungkapan-ungkapan singkat, atau ayat pendek, entah dari teks Kitab Suci atau dari pernyataan Para Uskup Seluruh Dunia, kemudian mendoakannya dengan suara lantang 3 kali, setiap kali diselingi dengan hening sejenak.

            Saya persilakan.....

 

4.     Kita Membiarkan Tuhan Berbicara Kepada Kita Dalam Keheningan

F          Kita berdiam diri selama 2/3 menit, dan mempersilakan Tuhan berbicara kepada kita.

 

5.     Kita Mengungkapkan Apa Yang Telah Kita Dengar Di Dalam Hati.

a.     Kita  saling  berbagi ”kata atau ayat yang direnungkan dalam hati kita” pada saat hening.

b.     Apa kata Tuhan dengan kata atau ayat singkat yang kita renungkan?

c.     Bagaimana kita telah menghayati kata atau ungkapan yang kita renungkan tadi (hendaknya tidak berkhotbah atau diskusi).

PENEGASAN:

a)     Melalui Baptisan, "umat Allah yang kudus juga turut serta dalam tugas kenabian Kristus, memberikan kesaksian hidup tentang Dia, terutama melalui kehidupan iman dan kasih" (LG 12).

b)    Melalui Baptisan, semua orang Kristen berpartisipasi dalam sensus fidei. Sensus fidei (perasaan iman/naluri iman) adalah karunia Roh Kudus yang diberikan kepada seluruh umat beriman (Gereja), yang memungkinkan mereka untuk secara intuitif mengenali, menerima, dan menghayati kebenaran iman Katolik. Ini bukan pendapat pribadi, melainkan pemahaman batiniah kolektif yang mendalam yang membuat Gereja secara keseluruhan tidak dapat sesat dalam beriman (No. 23 DF). 

c)     Baptisan tidak dapat dipahami sepenuhnya kecuali dalam konteks Inisiasi Kristen, yaitu perjalanan yang dengannya Tuhan, melalui pelayanan Gereja dan karunia Roh, memperkenalkan kita pada iman Paskah dan memasukkan kita ke dalam persekutuan Tritunggal dan gerejawi (No. 24 DF).

d)    Dalam perjalanan Inisiasi Kristen, sakramen Penguatan memperkaya kehidupan umat beriman dengan pencurahan Roh Kudus yang khusus demi kesaksian (No. 25 DF)

e)     Perayaan Ekaristi, khususnya pada hari Minggu, adalah cara pertama dan mendasar di mana Umat Allah yang kudus berkumpul dan bertemu satu sama lain. Dalam perayaan Ekaristi, "kesatuan Gereja ditandai dan diwujudkan" (UR 2).

f)      Perayaan sinodal adalah peristiwa yang merayakan persatuan Kristus dengan Gereja-Nya melalui karya Roh Kudus. Dialah yang memastikan kesatuan Tubuh Gerejani Kristus dalam kebaktian Ekaristi dan sinodal. Liturgi berarti mendengarkan Firman Allah dan menanggapi inisiatif perjanjian-Nya (No. 27 DF).

 

6.     Kita Membicarakan Dan Menentukan Tugas-Tugas Yang Kita Yakini Diserahkan Tuhan Kepada Komunitas Kita Untuk Dilaksanakan Bersama.

F    Bapak-ibu, saudara-saydari yang terkasih. Mari kita:

a.     Melaporkan tugas yang telah dilaksanakan.

b.     Tugas baru mana yang akan kita lakukan. Siapa buat apa dan bilamana.

c.     Memilih sebuah “Sabda Kehidupan.” Sabda Kehidupan dipilih dari teks Kitab Suci / Pengajaran Para Uskup oleh komunitas untuk dihayati semua anggota komunitas selama satu atau beberapa minggu ke depan.

 

7.     Kita Berdoa Bersama Secara Spontan.

F          Kita semua diundang untuk mengungkapkan doa baik itu doa pujian, doa syukur dan doa permohonan yang keluar dari hati kita secara spontan.

            Mari kita satukan semua doa kita dengan doa yang diajarkan Yesus kepada kita.

            Kita doakan doa fokus pastoral 2026 bersama-sama.....

 

C.    PENUTUP

1.     Penghormatan pada Sabda

F          Mari, kita berdiri dan memberikan penghormatan kepada Kristus, Sang Sabda, yang hadir di tengah-tengah kita.

 

Hormat: mulai (perlahan-lahan menunjukkan kepada mengarah kepadas kepada Firman Tuhan yang ditakhtakan di depan!).… Amin … (kepala diangkat perlahan-lahan).


2.     Tanda Salib

F          Dalam nama Bapa, dan Putera dan Roh Kudus.... Amin.

 

3.     Lagu Penutup

F          Marilah kita tutup pertemuan ini dengan menyanyikan sebuah lagu. (pilih nyanyian yang diketahui semua).

=***=