Jumat, 15 Mei 2026

KBG MEMBANGUN SINODALITAS UNTUK SUARA KENABIAN SOSIAL (TANGGUNGJAWAB BERSAMA DALAM MISI)

 Persiapan:

·       Doa Fokus Pastoral 2026

·       Teks Lagu Fokus Pastoral

·       Buku Puji Syukur

·       Meja pentakhta Sabda dan dua lilin

 

Tujuan: Supaya anggota KBG memahami Sabda Tuhan dan pengajaran para rasul sehingga mampu menjadi suara kenabian sosial bagi Masyarakat sekitarnya.

 

A.    PEMBUKAAN

1.    Pengantar

F         Bapak-ibu, saudara-saudari yang terkasih dalam Kristus.

          Pertemuan kita kali ini, kita akan mendengarkan Sabda Tuhan yang diambil dari Kitab Nabi Yesaya 11:11-12 tentang ”sisa-sisa Israel yang berada di tempat pembuangan yang akan kembali ke Israel”.

         

          Juga Bapa Uskup kita, penerus pengajaran para rasul, mengajak kita memahami ”Gereja sebagai suara kenabian” Dan sesuai dengan locul Gereja Partisipatif_Sinodal, KBG merupakan tempat kita membangun suara kenabian sosial kita. (hening sejenak)

 

2.    Lagu Pembukaan

F         Mari kita siapkan hati dan budi kita, untuk memulai pertemuan kita ini dengan menyanyikan sebuah lagu pembuka. (silakan pilih lagu dari Puji Syukur yang dapat dinyanyikan oleh semua umat)

 

3.    Penghormatan pada Sabda

F       Mari, kita berdiri dan memberikan penghormatan kepada Kristus, Sang Sabda, yang hadir di tengah-tengah kita.

 

Hormat: mulai (perlahan-lahan menunjukkan kepada mengarah kepadas kepada Firman Tuhan yang ditakhtakan di depan!).… Amin … (kepala diangkat perlahan-lahan).

 

4.    Tanda Salib

F        Dalam nama Bapa, dan Putera dan Roh Kudus.... Amin

 

B.    LANGKAH-LANGKAH PENDALAMAN

1.    Doa Mengundang Tuhan

F        Saya persilahkan salah seorang dari kita untuk berdoa mengundang Yesus.

 

2.    Kita Membaca Kitab Suci

F        Marilah buka Kitab Suci Perjanjian Lama, Kitab Nabi Yesaya Bab 11, ayat 11-12.

          Saya ulangi, Kitab Nabi Yesaya, Bab 11, ayat 11-12.

          Saya ulangi sekali lagi, Kitab Nabi Yesaya, Bab 11, ayat 11-12.

 

Saya persilahkan salah seorang diantara kita membacanya dengan perlahan-lahan dan dalam suasana doa serta dengan suara lantang

 

Apakah diantara kita yang memegang Kitab Suci dari versi lain baik berupa bahasa atau pun lainnya....?

 

Jika ada, silahkan membaca.

 

F        Bapak-ibu, saudara-saudari yang terkasih. Setelah kita mendengarkan Sabda Tuhan, mari, kita juga mendengarkan pengajaran para Rasul melalui Para Bapa Uskup Seluruh Dunia. Para Bapa Uskup dalam Dokumen Akhir menegaskan tentang ”makna dan dimensi sionodalitas” sebagai berikut:

 

"Gereja sinodal seperti panji yang dikibarkan di antara bangsa-bangsa. Kita hidup di zaman yang ditandai dengan kesenjangan yang semakin melebar, kekecewaan yang semakin besar terhadap model pemerintahan tradisional, ketidakpuasan terhadap fungsi demokrasi, kecenderungan otokratis dan diktator yang semakin meningkat, dominasi model pasar tanpa memperhatikan kerentanan manusia dan ciptaan, dan godaan untuk menyelesaikan konflik melalui kekerasan daripada dialog” (DF 47).

 

3.    Kita Memilih Kata-Kata Dan Merenungkannya

F        Kita memilih kata-kata atau ungkapan-ungkapan singkat, atau ayat pendek, entah dari teks Kitab Suci atau dari pernyataan Para Uskup Seluruh Dunia, kemudian mendoakannya dengan suara lantang 3 kali, setiap kali diselingi dengan hening sejenak.

          Saya persilakan.....

 

4.    Kita Membiarkan Tuhan Berbicara Kepada Kita Dalam Keheningan

F       Kita berdiam diri selama 2/3 menit, dan mempersilakan Tuhan berbicara kepada kita.


5.    Kita Mengungkapkan Apa Yang Telah Kita Dengar Di Dalam Hati.

a.      Kita  saling  berbagi ”kata atau ayat yang direnungkan dalam hati kita” pada saat hening.

b.      Apa kata Tuhan dengan kata atau ayat singkat yang kita renungkan?

c.     Bagaimana kita telah menghayati kata atau ungkapan yang kita renungkan tadi (hendaknya tidak berkhotbah atau diskusi).

PENEGASAN:

a)     Praktik sinodalitas yang autentik memungkinkan umat Kristen untuk mengembangkan budaya yang mampu melakukan nubuat kritis mengenai pemikiran dominan dan dengan demikian menawarkan kontribusi unik dalam pencarian jawaban atas banyak tantangan yang dihadapi masyarakat kontemporer dan dalam pembangunan kebaikan bersama. Gereja Partisipatif_Sinodal menekanan pembangunan itu ada di KBG-KBG.

b)     Cara sinodal dalam mengalami hubungan adalah bentuk kesaksian kepada masyarakat. Hal ini juga menjawab kebutuhan manusia untuk diterima dan merasa diakui dalam komunitas yang konkret. Ia menantang semakin meningkatnya isolasi manusia dan individualisme budaya, yang sering kali diserap oleh Gereja, dan menyerukan kita untuk saling peduli, saling bergantung, dan bertanggung jawab bersama untuk kebaikan bersama. Demikian pula, ia menantang komunitarianisme sosial yang berlebihan yang mencekik manusia dan mencegah mereka menjadi agen pembangunan mereka sendiri.

c)     Kesediaan untuk mendengarkan semua orang, terutama kaum miskin, sangat kontras dengan dunia di mana konsentrasi kekuasaan mengecualikan kaum miskin, kaum marginal, minoritas, dan bumi, rumah kita bersama. Sinodalitas dan ekologi integral sama-sama mengambil perspektif hubungan dan menekankan perlunya menjaga ikatan: karena alasan inilah keduanya saling berkaitan dan terintegrasi dalam cara menghidupi misi Gereja di dunia kontemporer..

 

6.    Kita Membicarakan Dan Menentukan Tugas-Tugas Yang Kita Yakini Diserahkan Tuhan Kepada Komunitas Kita Untuk Dilaksanakan Bersama.

 

F   Bapak-ibu, saudara-saydari yang terkasih. Mari kita:

a.      Melaporkan tugas yang telah dilaksanakan.

b.      Tugas baru mana yang akan kita lakukan. Siapa buat apa dan bilamana.

c.     Memilih sebuah “Sabda Kehidupan.” Sabda Kehidupan dipilih dari teks Kitab Suci / Pengajaran Para Uskup oleh komunitas untuk dihayati semua anggota komunitas selama satu atau beberapa minggu ke depan.

 

7.    Kita Berdoa Bersama Secara Spontan.

F        Kita semua diundang untuk mengungkapkan doa baik itu doa pujian, doa syukur dan doa permohonan yang keluar dari hati kita secara spontan.

         

          Mari kita satukan semua doa kita dengan doa yang diajarkan Yesus kepada kita.

 

          Kita doakan doa fokus pastoral 2026 bersama-sama.....

 

C.    PENUTUP

1.    Penghormatan pada Sabda

F        Mari, kita berdiri dan memberikan penghormatan kepada Kristus, Sang Sabda, yang hadir di tengah-tengah kita.

 

Hormat: mulai (perlahan-lahan menunjukkan kepada mengarah kepadas kepada Firman Tuhan yang ditakhtakan di depan!).… Amin … (kepala diangkat perlahan-lahan).

 

2.    Tanda Salib

F        Dalam nama Bapa, dan Putera dan Roh Kudus.... Amin.

 

3.    Lagu Penutup

F        Marilah kita tutup pertemuan ini dengan menyanyikan sebuah lagu. (pilih nyanyian yang diketahui semua).

=***=

KBG MEMBANGUN SPIRITUALITAS SINODAL (TANGGUNGJAWAB BERSAMA DALAM MISI)

 

Persiapan:

·       Doa Fokus Pastoral 2026

·       Teks Lagu Fokus Pastoral

·       Buku Puji Syukur

·       Meja pentakhta Sabda dan dua lilin

 

Tujuan: Supaya anggota KBG memahami KBG sebagai fokus dan tempat kita mempraktekkan Gereja Sinodal.

 

A.    PEMBUKAAN

1.    Pengantar

F        Bapak-ibu, saudara-saudari yang terkasih dalam Kristus.

 

          Pertemuan kita kali ini, kita akan mendengarkan Sabda Tuhan yang diambil dari Surat Pertama Rasul Paulus kepada Jemaat di Korintus (12: 4-5), yang menekankan persatuan dalam keberagaman karunia rohani dan pelayanan dalam gereja, yang semuanya bersumber dari Roh dan Tuhan yang sama. Tekst ini mengajarkan bahwa meskipun setiap orang memiliki karunia dan cara melayani yang berbeda-beda, semuanya berasal dari satu sumber (Roh Kudus) untuk tujuan yang sama, yaitu membangun tubuh Kristus.

 

Tidak hanya itu, kita juga mendengar pengajaran dari Bapa Uskup, Mgr. Adrianus Sunarko, OFM, pengganti para rasul yang meneruskan pengajaran para rasul. Bapa Uskup mengajak kita merenungkan spiritualitas Sinodal. Bahwa "Roh Kudus adalah penuntun yang pasti, dan tugas pertama kita adalah belajar membedakan suara-Nya, karena Ia berbicara dalam setiap orang dan dalam segala hal" (hening sejenak).

 

2.    Lagu Pembukaan

F        Mari kita siapkan hati dan budi kita, untuk memulai pertemuan kita ini dengan menyanyikan sebuah lagu pembuka. (silakan pilih lagu dari Puji Syukur yang dapat dinyanyikan oleh semua umat)

 

3.    Penghormatan pada Sabda

F       Mari, kita berdiri dan memberikan penghormatan kepada Kristus, Sang Sabda, yang hadir di tengah-tengah kita.

Hormat: mulai (perlahan-lahan menunjukkan kepada mengarah kepadas kepada Firman Tuhan yang ditakhtakan di depan!).… Amin … (kepala diangkat perlahan-lahan).

 

4.    Tanda Salib

F        Dalam nama Bapa, dan Putera dan Roh Kudus.... Amin

 

 

B.    LANGKAH-LANGKAH PENDALAMAN

1.    Doa Mengundang Tuhan

F        Saya persilahkan salah seorang dari kita untuk berdoa mengundang Yesus.

 

2.    Kita Membaca Kitab Suci

F        Marilah buka Kitab Suci Perjanjian Baru, Surat Pertama Rasul Paulus kepada Jemaat di Korintus, Bab 12, ayat 4 sampai dengan ayat 5.

          Saya ulangi, 1Korintus, Bab 12, ayat 4-5.

          Saya ulangi sekali lagi, 1Korintus, Bab 12, ayat 4-5.

 

Saya persilahkan salah seorang diantara kita membacanya dengan perlahan-lahan dan dalam suasana doa serta dengan suara lantang

 

Apakah diantara kita yang memegang Kitab Suci dari versi lain baik berupa bahasa atau pun lainnya....?

 

Jika ada, silahkan membaca.

 

F        Bapak-ibu, saudara-saudari yang terkasih. Setelah kita mendengarkan Sabda Tuhan, mari, kita juga mendengarkan pengajaran para Rasul melalui Para Bapa Uskup Seluruh Dunia. Para Bapa Uskup dalam Dokumen Akhir Sidang Para Uskup 2024 menegaskan tentang Spiritualitas Sinodal demikian:

 

Percakapan dalam Roh adalah alat yang, meskipun memiliki keterbatasan, terbukti bermanfaat dalam memungkinkan pendengaran dan kearifan "apa yang dikatakan Roh kepada jemaat-jemaat" (Wahyu 2: 7). Praktiknya telah menginspirasi sukacita, kekaguman, dan rasa syukur dan telah dialami sebagai jalan pembaharuan yang mengubah individu, kelompok, dan Gereja. Kata "percakapan" mengungkapkan sesuatu yang lebih dari sekadar dialog sederhana: ia secara harmonis menjalin pikiran dan perasaan serta menghasilkan dunia hidup bersama. Karena alasan ini, dapat dikatakan bahwa pertobatan dipertaruhkan dalam percakapan. Ini adalah fakta antropologis (ilmu tentang manusia) yang ditemukan dalam berbagai bangsa dan budaya, yang dipersatukan oleh praktik berkumpul dalam solidaritas untuk membahas dan memutuskan isu-isu komunitas yang vital. Kasih karunia menyempurnakan pengalaman manusia ini: bercakap-cakap "dalam Roh" berarti mengalami pengalaman saling berbagi dalam terang iman dan dalam pencarian kehendak Allah, dalam suasana Injili di mana Roh Kudus dapat membuat suara-Nya yang tak salah lagi terdengar (dikenal) (DF 45)

 

3.    Kita Memilih Kata-Kata Dan Merenungkannya

F        Kita memilih kata-kata atau ungkapan-ungkapan singkat, atau ayat pendek, entah dari teks Kitab Suci atau dari pernyataan Para Uskup Seluruh Dunia, kemudian mendoakannya dengan suara lantang 3 kali, setiap kali diselingi dengan hening sejenak.

          Saya persilakan.....

 

4.    Kita Membiarkan Tuhan Berbicara Kepada Kita Dalam Keheningan

F       Kita berdiam diri selama 2/3 menit, dan mempersilakan Tuhan berbicara kepada kita.

 

5.    Kita Mengungkapkan Apa Yang Telah Kita Dengar Di Dalam Hati.

a.      Kita  saling  berbagi ”kata atau ayat yang direnungkan dalam hati kita” pada saat hening.

b.      Apa kata Tuhan dengan kata atau ayat singkat yang kita renungkan?

c.     Bagaimana kita telah menghayati kata atau ungkapan yang kita renungkan tadi (hendaknya tidak berkhotbah atau diskusi).

PENEGASAN:

a)      Teks 1Korintus 12: 4-5, merupakan bagian dari ajaran rasul Paulus mengenai karunia-karunia Roh Kudus di dalam jemaat. Makna utamanya ajaran rasul Paulus itu: (1). keberagaman (Rupa-rupa). Allah memberikan karunia dan pelayanan yang berbeda-beda kepada setiap orang percaya. (2). kesatuan (Satu Roh / Tuhan). Meskipun karunianya berbeda, semuanya berasal dari Roh Kudus yang sama dan melayani Tuhan yang sama. Tujuannya adalah agar tidak ada kesombongan karena perbedaan karunia, melainkan saling melengkapi dalam satu tubuh Kristus. 

b)     Kita mengenali buahnya ketika kehidupan sehari-hari Gereja ditandai dengan persatuan dan harmoni dalam keberagaman. Tidak seorang pun dapat berjalan sendirian di jalan spiritualitas yang otentik. Kita membutuhkan dukungan, termasuk pembinaan dan bimbingan spiritual, baik sebagai individu maupun sebagai komunitas..

c)      Kita dipanggil bukan hanya untuk menerjemahkan buah dari pengalaman spiritual pribadi ke dalam proses komunitas, tetapi juga untuk mengalami bagaimana praktik perintah baru tentang kasih timbal balik merupakan tempat dan bentuk perjumpaan dengan Tuhan. Dalam pengertian ini, perspektif sinodal, sambil memanfaatkan warisan spiritual Tradisi yang kaya, berkontribusi untuk memperbarui bentuk-bentuknya: doa yang terbuka untuk partisipasi, kearifan yang dialami bersama, energi misioner yang lahir dari berbagi dan memancar sebagai pelayanan.

 

6.    Kita Membicarakan Dan Menentukan Tugas-Tugas Yang Kita Yakini Diserahkan Tuhan Kepada Komunitas Kita Untuk Dilaksanakan Bersama.

F   Bapak-ibu, saudara-saydari yang terkasih. Mari kita:

a.      Melaporkan tugas yang telah dilaksanakan.

b.      Tugas baru mana yang akan kita lakukan. Siapa buat apa dan bilamana.

c.     Memilih sebuah “Sabda Kehidupan.” Sabda Kehidupan dipilih dari teks Kitab Suci / Pengajaran Para Uskup oleh komunitas untuk dihayati semua anggota komunitas selama satu atau beberapa minggu ke depan.

 

7.    Kita Berdoa Bersama Secara Spontan.

F        Kita semua diundang untuk mengungkapkan doa baik itu doa pujian, doa syukur dan doa permohonan yang keluar dari hati kita secara spontan.

          Mari kita satukan semua doa kita dengan doa yang diajarkan Yesus kepada kita.

          Kita doakan doa fokus pastoral 2026 bersama-sama.....

 

C.    PENUTUP

1.    Penghormatan pada Sabda

F        Mari, kita berdiri dan memberikan penghormatan kepada Kristus, Sang Sabda, yang hadir di tengah-tengah kita.

Hormat: mulai (perlahan-lahan menunjukkan kepada mengarah kepadas kepada Firman Tuhan yang ditakhtakan di depan!).… Amin … (kepala diangkat perlahan-lahan).

 

2.    Tanda Salib

F        Dalam nama Bapa, dan Putera dan Roh Kudus.... Amin.

 

3.    Lagu Penutup

F        Marilah kita tutup pertemuan ini dengan menyanyikan sebuah lagu. (pilih nyanyian yang diketahui semua).

=***=