Jumat, 27 Februari 2015

Siswa-siswi Katolik SMKN 1 dan SMAN1 Sungailiat: Sharing Injil Di Aula Paroki



Kuzuk dalam saat hening

Siang bolong pada hari Jumat (27/2) arakan sepeda motor siswa-siswi SMK Negeri 1 dan SMA Negeri 1 Sungailiat memasuki halaman Aula Gereja Katolik Sungailiat di Jalan Jendral Sudirman. Arakan siswa-siswi itu dikomandani oleh Bpk. Elias Fransiscus Sitinjak, guru PNS agama Katolik di SMKN 1 dan Bpk. Ferdiro, guru PNS agama Katolik di SMAN1 serta guru BP di SMKN1 Bpk. Ignatius Graha  Primayoga. Ketiga komandan ini dikenal sebagai fasilitator Sharing Injil. Kali ini mereka membawa 20-an siswa-siswi ke Aula Paroki untuk mengadakan Sharing Injil bersama. Terlihat siswa-siswi itu masih berseragam sekolah. Rupanya, hari panas di siang itu, tidak mengendorkan semangat mereka.

Mengapa tidak, jika saudara-saudari kita muslim hari Jumat ke Mesjid, maka siswa-siswi Katolik pun kami ajak untuk hari Jumat berkumpul di Aula untuk melaksanakan Sharing Injil, tandas Bpk. Elias Sitinjak. Lanjut Elias, Sharing Injil bukan suatu kegiatan baru bagi siswa-siswi kami, kegiatan yang selama ini kami lakukan di sekolah setiap Jumat setelah pulang sekolah selama ini, mungkin seterus kegiatan ini akan kami lakukan terus di Aula Paroki.

Peserta aktif dalam Sharing Injil
Sharing kali ini berdasarkan pada bahan Aksi Puasa Pembangunan, Minggu pertama dengan bacaan Surat Rasul Paulus kepada Jemaat di Galatia 5: 16-26. Dalam sharing itu, rasanya sangat menarik sekali, karena setiap peserta yang hadir mempunyai kemampuan untuk mengungkapkan ayat-ayat atau kata atau kalimat yang menarik dan menantang dirinya sendiri. Selain dapat memilih kata, kalimat atau ayat singkat, mereka juga mempunyai kesanggupan untuk mensharingkannya. Peserta terlihat ansusias dan dengan lugas mereka mengungkapkan apa yang mereka dengar dari Allah pada saat hening. Dan selanjutnya, mereka pun mengungkapkan aksi nyata secara pribadi yang akan mereka lakukan dalam hidup mereka, didalam keluarga, di sekolah dan di dalam pergaulan mereka setiap hari.

Membuat Rencana Aksi Nyata
Setelah selesai sharing Injil, mereka melepaskan situasi hening dalam doa dengan suasana santai sambil mengobrol dan menikmat pisang goreng dan minuman air mineral Bolesa yang telah mereka persiapkan sendiri sebelumnya. RP. Bernardus Windyatmoko, MSF mengapresiasi kegiatan ini. Rm. Koko, sapaan sehari-hari oleh Umat Paroki Sungailiat, mengungkapkan harapannya kepada para pembimbing siswa-siswi ini bahwa ke depan, bisa dijalankan terus kegiatan ini. Aula Paroki selalu terbuka. Supaya siswa-siswi ini pun akan membantu kegiatan Sharing Injil didalam KBG-KBG masing-masing, paling kurang mereka akan terlibat sebagai fasilitator juga didalam KBG-KBG mereka. Jadikanlah, sharing Injil dan setiap hari Jumat siang menjadi sebuah kebiasaan untuk berkumpul di Aula Paroki, pesan akhir Rm. Koko kepada para pendamping siswa-siswi ini.

Mendengar suara dukungan Rm. Koko, Elias pun tersenyum dan ingin membuat sebuah tekad bahwa akan melanjutkan kegiatan ini dengan mengumpulkan anak-anak Katolik di tingkat SMA-SMK Negeri dan swasta untuk melanjutkan harapan Rm. Koko ini.

Akhirnya, hanya dalam waktu yang berproseslah, tenunan rencana-rencana baik untuk membangun masa depan ‘bangunan Petrus’ ini menuju communio dengan Sang Sabda. Relasi yang baik dan terus dalam proses akan menghasilkan buah yang baik yang berasal dari Roh Kudus. Salam harmoni. ***

Senin, 23 Februari 2015

Berani Mengendalikan Diri: Itulah seorang Kristiani (Prapaskah I 2015)



Renungan Minggu Prapaskah I 2015
Bacaan I                : Kej. 9: 8 – 15
Bacaan                  : 1Ptr. 3: 18 – 22
Bacaan Injil          : Mrk. 1: 12 - 15

Bacaan pertama, dalam Kitab Kejadian menceritakan tentang Nabi Nuh sekeluarga selamat dari air bah. Nabi Nuh sekeluarga diselamatkan karena berperilaku selalu baik dan benar dihadapan Allah. Keselamatan Nuh sekeluarga inilah menjadi janji Allah kepada manusia. Bahwa tidak akan ada lagi air bah yang menghayutkan manusia. Air tidak hanya menghayutkan ciptaan Allah tetapi air juga yang menjadi tanda keselamatan manusia yang selalu baik dan benar dihadapan Allah. Dalam artian ini, fungsi air adalah akan terus membersihkan manusia sehingga manusia tetap selamat menjumpai Allah. Disinilah makna air, disatu sisi bisa menghayutkan (menghancurkan) manusia namun disini lain, makna air itu membersihkan-menyelamatkan manusia.

Rasul Petrus dalam bacaan kedua, menegaskan kepada para pengikut dan murid Yesus bahwa dulu air bah menghayutkan manusia lalu yang selamat hanya keluarga Nuh. Sekarang ini, para murid dan pengikut Yesus diselamatkan karena air baptis yang dituangkan diatas dahi-air baptis. Lebih lanjut Rasul Petrus menasihati bahwa melalui pembaptisan, orang yang sudah diselamatkan ini berjuang dengan sabar dalam hidupnya untuk mencapai keselamatan kekal dalam Allah.

Rasul Petrus memberikan contoh teladan Yesus sendiri. Bahwa Yesus yang telah mati untuk dosa manusia supaya manusia yang percaya kepada Bapa-Nya, tetap selamat. Karena itu, pembaptisan itu tidak untuk membersihkan kenajisan-dosa-dosa melainkan untuk memurnikan hati setiap orang yang beriman dalam Kristus yang bangkit untuk hidup yang baru dalam kedamaian, keadilan, kesetiaan dan membawa Kabar Sukacita kepada semua orang. Disinilah, Rasul Petrus memberikan makna air secara rohani, yaitu air yang diterima dalam pembaptisan tidak membersihkan dosa secara fisik tetapi membaharui diri, untuk tumbuh dan mekar dalam kedamaian, kebaikan, keadilan, dan berani membawa misi sukacita Yesus kepada segenap manusia.

Dalam bacaan Injil, Markus menceritakan pergulatan fisik dan batin Yesus di Padang Gurun. Yesus yang dibaptis oleh Yohanes Pembaptis, menjalankan makna air secara radikal, yaitu air yang diterima-Nya menumbuhkan ‘tunas-tunas yang subur’ yaitu Ia memiliki kemampuan diri untuk berani mengendalikan diri untuk tidak jadi dalam godaan walaupun secara fisik, Ia merasa sangat lapar. Dibalik secara fisik Ia lemah-kemanusiaan-Nya bangkit jiwa rohani, Ia yang selalu bersatu dalam Bapa, yang menguatkan Dia untuk dapat menguasai diri-Nya dan mampu menolak godaan untuk tidak mau menjadi penguasa dunia.

Disinilah, kita menemukan bahwa kekuatan pembaptisan diperjuangkan dengan sabar untuk memenangkan sebuah pertarungan keinginan diri yang bernilai pendek dan mengalahkan hawa napsu untuk berkuasa dalam hal apa saja dalam communio dengan Bapa-Nya.

Maka, pertanyaan refleksi untuk kita adalah bagaimana memaknai pembaptisan yang kita terima untuk kepentingan bersama dalam keluarga, KBG dan Gereja kita? Karena pembaptisan merupakan gerbang masuk untuk menghadirkan Kerajaan Allah ditengah dunia ini disatu sisi, dan disisi lain, menghadirkan communio Allah untuk memurnikan hidup ditengah ganas dunia, adalah tujuan hidup kekristianian kita. ***