Kamis, 23 Januari 2014

SHARING INJIL TUJUH LANGKAH:PELAKSANAAN “CARA BARU HIDUP MENGGEREJA”



Gagasan “Cara Baru Hidup Menggereja” muncul dalam Sidang Para Uskup se-Asia di Bandung, 1990. “Cara Baru Hidup Menggereja” ini merupakan hasil refleksi Para Uskup Asia. Hasil refleksi Para Uskup Asia ini bertolak dari “Cara Hidup Baru” yang dilaksanakan oleh Tuhan Yesus sendiri. Kita bisa bandingkan dalam beberapa teks Kitab Suci berikut ini:

Teks Kitab Suci[1]
Carara Hidup Lama
Cara Hidup Baru
Matius 5: 38-39
Hukum balas dendam
Balaslah dengan kebaikan walaupun menderita sekalipun.
Matius 5: 43-44
Kasih sesama dan benci musuh.
Kasihilah musuhmu, dan berdoa bagi siapapun yang mengaiayamu.
Matius 6: 1-4
Melakukan kewajiban agama di depan orang, beri sedekah dilihat orang.
Beri sedekah berilah dengan tulus ikhlas dan tidak diketahui oleh siapapun.
Matius 6: 19-21
Hidup mengumpulkan harta sebanyak-banyaknya, harta mengikat hati dan seluruh hidup.
Hidup itu mencari harta surgawi, karena harta surgawi tidak merusak jiwa, menyelamatkan jiwa dan hidupmu.
Matius 7: 1-3
Menghakimi orang, lebih mudah melihat kesalahan orang lain ketimbang diri sendiri.
Hakim hanya Bapa di surga, lebih baik melihat kesalahan pada diri sendiri daripada orang lain.
Matius 20: 25-28
Menguasai rakyat, menguras tenaga rakyat, berkuasa sewenang-wenangnya.
Menjadi seorang pelayan bagi siapapun juga.
Matius 23: 4-8
Membuat peraturan hanya untuk orang lain, tidak untuk diri sendiri. Bahkan mereka dengan sombong memperlihatkan diri ditempat umum supaya dipuji orang.
Kamu jangan disebut Rabi, karena hanya satu Rabimu, semua adalah saudara.
Teks-teks yang kita baca di atas ini merupakan cara hidup lama yang dijalankan masyarakat Yahudi dan cara hidup baru yang dipelopori oleh Yesus. Cara Hidup Baru yang ditunjukkan oleh Yesus, ternyata diteruskan oleh para rasul dan murid perdana. Kita bisa bandingkan dalam Kitab Suci: Kis. 2:42-47; 4:32-37; 1Tim. 5:1-2; Rom. 15:1-7; Kol. 3:5-12; Ef. 4:25-32. Maka Komunitas-komunitas Gereja awal menilai bahwa kekristenan sebagai cara hidup yang baru[2].
Cara hidup yang baru yang dilaksanakan para rasul dan murid Yesus ini ternyata tidak gampang. Walau demikian, mereka berproses secara perlahan-lahan, ada tantangan yang datang bertubi-tubi mereka hadapi. Ada perlbagai cara dan keberanian dari komunitas perdana untuk mewujudkan cara hidup yang baru ini, yang berdasarkan pada cara hidup baru yang ditunjukkan oleh Tuhan Yesus.
Ada beberapa teks Kitab Suci berikut ini yang mencatat bahwa ada beberapa persoalan yang muncul dalam komunitas-komunitas Gereja Perdana, pada saat mereka memulai Cara Hidup yang Baru ini. Teks-teks tersebut adalah:

Teks Kitab Suci[3]
Persoalan yang muncul dalam Komunitas Gereja Perdana
Kis. 5:1-2
Ketidakjujuran hati keluarga Ananias dan Safira, mereka tahu dan mau mendustai Roh Kudus.
Kis. 6:1
Jumlah umat semakin banyak, tenaga pelayan berkurang, pengabaian pelayanan kepada para janda.
Kis. 8:1-3
Pembunuhan para murid Yesus terjadi, termasuk Stefanus Saulus adalah otak dari peristiwa pembunuhan itu.
Kis. 19:9
Penerimaan mereka yang percaya kepada Yesus ke dalam Gereja Kristen Awal. Beda pemahaman tentang baptisan.
Kis. 19:23
Muncul isu penghasutan oleh Demetrius untuk melawan Paulus, sehingga terjadi huru hara yang hebat di Efesus.
Kis. 24:14
Paulus didakwa di depan gubernur Feliks sebagai seorang pengacau dan pelanggar kekudusan Bait Allah.
Gal. 2:1-9
Kabar keselamatan yang dibawakan Yesus bagi kaum Yahudi. Tetapi kerja keras Paulus diakui sebagai Rasul Yesus, setelah 14 tahun bertobat menjadi murid Yesus. Karena mewartakan Yesus kepada bangsa-bangsa lain.
Gal. 2:11-14
Paulus bertentang dengan Petrus karena Petrus tidak mau makan semeja dengan orang-orang tidak bersunat, padahal sebelumnya orang-orang Yakobus datang dan bisa duduk makan semeja dengan kaum yang tidak bersunat.

Komunitas-komunitas Gereja Perdana menghayati cara hidup baru Yesus karena mereka sungguh-sungguh menyadari bahwa mereka adalah pengikut Yesus. Dengan keberanian yang lahir dari suatu kepercayaan yang mendalami, (spirit) mereka berani untuk hidup dengan cara hidup baru Yesus. Persoalan-persoalan yang muncul tidak mengendorkan semangat hidup mereka walaupun ada pembunuhan, pemenjarahan, dihasut sana-sini, ada penentang baru, dan lain-lain.
Sharing Injil Tujuh Langkah adalah komitmen kita untuk melaksanakan tiga bintang: tetap berpusat pada Kristus, membangun komunio-persekutuan dan melaksanakan misi Yesus-menghadirkan Kerajaan Allah bagi siapapun juga.***


[1] Tafsir beberapa teks Injil Matius ini dapat dibaca di dalam Dr. Stefan Leks, Tafsir Injil Matius, Yogjakarta, Kanisius, 2003, p. 164-165; 168-169; dst.
[2] Bahan ini merupakan hasil Seminar Teologi Pastoral Dibalik KBG yang diikuti oleh RD. Francis Mukin. Teks aslinya diterjemahan oleh RD. Francis Mukin, vikep Babel sekarang, Pastor Paroki Katedral Pangkalpinang. 
3Teks ini mohon dibaca supaya bisa mengetahui dengan lebih jelas. Penjelasan di dalam tabel, berdasarkan hasil baca sepintas saja, untuk melaporkan bahwa persoalan-persoalan apa yang terjadi dan dialami oleh komunitas-komunitas Kristen Perdana dulu.




Rabu, 22 Januari 2014

SHARING INJIL DALAM AKTIVITAS PAROKI, KOMUNITAS BASIS GEREJAWI DAN KELOMPOK-KELOMPOK KATOLIK LAIN


"Tulisan ini merupakan Hasil Belajar Bersama Tim AsIPA Paroki Sungailiat. Hasil Belajar boleh berbeda, tergantung pemahaman peserta belajar atas Sharing Injil Tujuh Langkah"

 
Ketika Sharing Injil menjadi pokok pembicaraan baik di tingkat paroki maupun di tingkat KBG atau kelompok lain, banyak orang seakan kaget dan malahan bingung. Dalam kebingungan itu, ada banyak orang juga bertanya, kalau Sharing Injil digalakan, bagaimana dengan doa Ibadat Sabda yang selama ini sudah sering dilakukan? Apakah Sharing Injil bisa atau boleh untuk setiap ibadat doa yang lain seperti doa Rosario, doa arwah, doa HUT Santo-santo pelindung KBG, HUT anggota KBG, dan lain-lain? Lalu bagaimana cara mempraktekan Sharing Injil ini dalam setiap kesempatan ini?
Sharing Injil merupakan Cara Baru Hidup Menggereja (a New Way of Being Church) saat ini. Cara baru ini menyangkut perubahan cara berpikir (habitus lama-habitus baru), berkarya (kerja prioritas dan terprogramkan),  dan  cara berdoa dari Ibadat Sabda menjadi Sharing Injil. Cara Baru ini yang dibawakan oleh Yesus sendiri.
Berdasarkan catatan di atas tadi dan proses belajar bersama Sharing Injil 7 Langkah maka diberi beberapa masukan ini sebagai berikut:

A.  SHARING INJIL 7 LANGKAH DALAM AKTIVITAS PAROKI
Aktivitas Paroki hampir dilaksanakan setiap minggu dengan kelompok yang berbeda-beda. Hampir setiap pertemuan kelompok-kelompok di tingkat paroki, memulainya dengan doa. Pertanyaan dasar yang mau diajukan adalah bagaimana dengan isi doa-doa kita itu? Apakah doa-doa kita itu telah menempatkan Kristus sebagai pusat hidup kita atau Kristus hanya kita minta dan minta untuk menyertai kita?
Kristus mau diundang untuk hadir dalam setiap pertemuan itu. Kehadiran-Nya bukan sebagai penonton. Kehadiran-Nya mau dirasakan sebagai sosok yang hidup dan terus berkarya bersama kita. Maka tuntutannya adalah Sharing Injil menjadi prioritas dan spiritualitas setiap pertemuan kita itu.
Karena itu, Sharing Injil 7 Langkah harus dipakai dan dilaksanakan. Cara memakai Sharing Injil 7 Langkah dalam setiap pertemuan kelompok: DPP, DPHBG, kelompok ibu-ibu, kelompok anak-anak, kelompok remaja dan OMK, dll adalah:
Kelompok-kelompok yang berkumpul di tingkat paroki, memulainya: dengan pentahtaan Kitab Suci lalu masuk ke langkah 1-4 Sharing Injil 7 Langkah. Langkah ke-5 diisi dengan topik pembahasan dari pertemuan itu (agenda utama pertemuan). Setelah agenda utama dibahas, masuk pada langkah ke-6. Langkah 6a dibuat bila sebelumnya kelompok sudah pernah menjalankan pertemuan dan ada tugas yang mau dilaporkan. Langkah 6b harus dibuat berdasarkan hasil pertemuan yang baru, supaya pertemuan berikutnya ada laporan. Maksudnya supaya hasil pertemuan itu tidak didiamkan. Langkah 6c dibuat supaya hasil pertemuan itu selalu dijalankan dengan dorongan Sabda Kehidupan. Sabda Kehidupan menjadi kekuatan yang selalu mendorong kita untuk melaksanakan tugas baru. Setelah itu masuk langkah ke-7 (doa penutup), bukan doa umat.Pertemuan diakhiri dengan memberi hormat kembali pada Sabda Allah.

B.  SHARING INJIL 7 LANGKAH DALAM AKTIVITAS KBG
Sharing Injil adalah agenda utama KBG, sejalan dengan visi keuskupan kita Menjadi Gereja Partisipatif. Sharing Injil dilakukan dalam setiap pertemuan KBG.
Biasanya, pertemuan KBG selain Misa juga ada pertemuan rutin atau pertemuan untuk mendoakan suatu ujud tertentu. Dalam hal ini Sharing Injil 7 Langkah wajib dilakukan. Pertanyaannya, bagaimana cara untuk melakukan Sharing Injil 7 Langkah dalam pertemuan itu?
1.   Sharing Injil 7 Langkah menjadi agenda utama kegiatan KBG. Untuk itu, langkah demi langkah harus dilakukan dengan tekun dan rutin. Karena Sharing Injil 7 Langkah merupakan spiritualitas KBG.
2.   Sharing Injil 7 Langkah dilakukan dalam kegiatan Doa Rosario, baik di KBG maupun ketika ziarah ke gua-gua Maria. Caranya: (1). Di KBG. Mulailah dengan pentahtaan Kitab Suci dan penghormatan kepada Sabda Allah lalu masuk langkah 1-5. Masuk langkah ke-6 diganti dengan doa Rosario. Teks Kitab Suci yang dibacakan adalah teks Kitab Suci yang diambil dari salah satu peristiwa Rosario yang akan didoakan.Lalu ditutup dengan penghormatan kepada Sabda Allah. (2). Di Gua Maria. Mulailah dengan penghormatan kepada Arca Maria lalu masuk ke langkah 1-4, kemudian dilanjutkan dengan doa Rosario. Teks Kitab Suci yang dibacakan adalah salah satu teks Kitab Suci yang diambil dari peristiwa Rosario yang mau didoakan. Setelah itu diakhiri dengan penghormatan kepada Arca Maria.
3.   Sharing Injil 7 Langkah dijalankan dalam Doa Arwah. Mulailah dengan pentahtaan dan penghormatan terhadap Kitab Suci. Lalu masuk ke langkah 1-5. Kemudian dilajutkan dengan langkah ke-7, dengan doa umat dan diakhiri doa penutup dan penghormatan kepada Sabda Allah. Teks Kitab Suci diambil dari buku-buku doa arwah.
4.   Sharing Injil 7 Langkah dilakukan dalam HUT anggota KBG. Mulailah dengan pentahtaan dan penghormatan terhadap Kitab Suci. Lalu masuk ke langkah 1-5, kemudian dilanjutkan dengan langkah ke-6, dan diakhiri dengan doa umat dan doa penutup lalu penghormatan kepada Sabda Allah.
5.   Sharing Injil 7 Langkah dilakukan pada setiap pertemuan pengurus KBG untuk mengambil sebuah keputusan. Mulailah dengan pentahtaan dan penghormatan Kitab Suci, lalu masuk ke langkah 1-4, lalu bahas agenda pertemuan setelah itu masuk dalam langkah ke-6, a,b,c dan diakhiri dengan langkah ke-7, doa penutup bukan doa umat. Lalu diakhiri dengan penghormatan kepada Sabda Allah.

C.  SHARING INJIL 7 LANGKAH DALAM AKTIVITAS KELOMPOK LAIN GEREJAWI
Sharing Injil 7 Langkah dalam aktivitas kelompok gerejawi dapat mengikuti bagian B.
= ***=

KITAB SUCI ITU PUSAT KOMUNITAS BASIS GEREJAWI



Kerinduan Gereja kita ialah agar Kitab Suci, Kabar Gembira Allah yang kita miliki harus dibuka dan didalami oleh seluruh umat KBG. Kitab Suci bukan hanya dibeli lalu dimiliki dengan menyimpan saja di rumah, tetapi lebih dari itu dibuka, dibaca, direnungkan dan dihayati dalam hati kemudian menjadi pelaksana Sabda Allah.
Selain dibuka, dibaca, direnungkan secara pribadi atau bersama dalam satu keluarga dalam doa-doa khusus keluarga, Kitab Suci juga dibaca, direnungkan dan disharingkan dalam setiap kali pertemuan doa dan Sharing Injil di dalam KBG[1]. Hal terakhir inilah yang sedang kita perjuangkan bersama. Sehingga “Pusaka Suci”[2] Gereja yang selama ini tersembunyi dari waktu ke waktu, tersingkap keluar dan mewarnai hidup umat beriman sebagai satu komunitas Gereja.
Bagian kecil ini mau menegaskan kepada kita bahwa Kitab Suci itu pusat KBG. Mengapa? Ketika kita merayakan Litrugi Gereja secara resmi, Kitab Suci yang dibacakan kemudian dijelaskan oleh imam kita melalui kotbah atau homili. Umat mendengarkan dengan penuh iman dan percaya akan Sabda Allah itu kemudian merayakan iman dan kepercayaan itu dalam bagian Ekaristi. Namun ketika umat KBG mengadakan pertemuan doa dan atau Sharing Injil, Kitab Suci adalah pusatnya. Umat KBG duduk mengelilingi Sabda Allah, dan melalui Sabda itu umat mendengarkan Allah yang sedang bersabda kepada umat-Nya, kemudian umat merenungkan dan mensharingkan pengalaman iman yang hidup, yang berasal dari Allah sendiri kepada sesama anggota KBG. Maka hidup KBG terinspirasi dan dihidupkan oleh Sabda Allah[3]. Sehingga umat KBG sungguh merasakan ”memang sabda Allah itu penuh kehidupan dan kekuatan”[4].
Karena pusat pertemuan doa dan atau Sharing Injil dalam KBG adalah Kitab Suci, maka sikap dan perhatian umat dalam KBG harus selalu dibangkitkan mulai dari awal hingga akhir pertemuan doa dan atau Sharing Injil itu dilaksanakan. Maka pertanyaan kita adalah apa dan bagaimana sikap dan perhatian umat dalam KBG ketika memulai hingga mengakhiri pertemuan doa dan atau Sharing Injil itu? Dibawah ini beberapa petunjuk bagi Fasilitator dan umat di KBG menjadikan Kitab Suci sebagai pusat KBG itu sendiri.
1.  Awal Pertemuan doa dan atau Sharing Injil:
a.  Sebelum pertemuan doa dan atau Sharing Injil dimulai, Fasilitator mengajak anggota KBG untuk mempersiapkan diri memulai pertemuan doa dan atau Sharing Injil. Persiapan diri ini mencakup, keheningan fisik dan batin. Artinya secara fisik anggota KBG sudah merasa aman dan siap. Lalu secara batin, anggota KBG tenang dan terpusat pada pertemuan doa dan atau Sharing Injil. Tidak ada kegiatan-kegiatan pribadi lain diluar kegiatan yang mau dilaksanakan secara bersama itu.
b.  Fasilitator memulai pertemuan doa dan atau Sharing Injil itu dengan pentahtaan Kitab Suci pada sebuah meja atau mimbar yang sudah disiapkan sebelumnya. Maka diatas mimbar atau meja itu harus ada lilin yang belum dinyalakan. Lilin itu boleh satu batang, boleh juga dua batang yang dipasang mengapiti Kitab Suci yang mau ditahtakan.
c.  Pentahtaan Kitab Suci dilakukan oleh Fasilitator dengan cara: (1).Fasilitator mengajak semua anggota KBG untuk berdiri.(2). Fasilitator mengangkat tinggi Kitab Suci, menunjukkan kepada anggota KBG lalu mentahtakan di mimbar atau meja yang sudah disiapkan. (3). Fasilitator menyalakan lilin kemudian kembali ke tempat duduk. (4).  Fasilitator mengajak anggota KBG untuk memberikan hormat kepada Allah yang hadir dalam Sabda-Nya yang menjadi pusat pertemuan KBG.
Cara memberikan hormat pada Sabda Allah yang hadir dalam Sabda-Nya itu bermacam-macam. Maka disini:
1.  Dibuka kemungkinan untuk KBG meng-inkulturasi-kan sebuah budaya setempat bagaimana memberi hormat seseorang yang terpandang tinggi derajatnya. Inkulturasi budaya setempat ini hendaknya melibatkan semua anggota KBG, sebagai satu persekutuan yang saling menerima dan menghargai sesamanya termasuk budaya itu sendiri. Misalnya, ketika pertemuan doa dan atau Sharing Injil itu kebetulan di rumah seorang yang berasal dari suku Jawa, maka budaya penghormatan kepada orang yang lebih tinggi itu dimanfaatkan untuk memberi hormat kepada Kitab Suci, dan sebaliknya ketika ada pertemuan KBG lagi di rumah suku lain, seperti Tiong Hoa, Batak, dan Flores.
2.  Memberi hormat seperti lazimnya yang selama ini digunakan itu pun, ada beberapa cara, yaitu:
a.  Fasilitator mengajak anggota KBG mengarahkan perhatiannya pada Kitab Suci lalu meminta anggota KBG secara bersama-sama menundukkan kepala beberapa detik kemudian Fasilitator memberi isyarat selesai.
b.  Fasilitator mengajak anggota KBG maju berdua-dua seperti dalam barisan menerima Komuni suci, menghadap didepan Kitab Suci lalu meletakan kedua tangan diatas Kitab Suci sambil menundukkan kepala. Lalu tangan diangkat dan menyentuh bagian tubuh yang berfungsi untuk mendengarkan (telinga) atau mewartakan (mulut) atau menghayati (hati/dada). Lalu anggota KBG kembali ke tempat duduk.
c.  Fasilitator mengambil Kitab Suci lalu menciumnya kemudian mengedarkan Kitab Suci itu kepada anggota KBG yang lain, mulai dari kiri atau kanan Fasilitator. Anggota KBG yang memegang Kitab Suci memberi hormat dengan mencium kemudian mengedar lagi ke anggota KBG yang lain dan seterusnya sampai semua anggota KBG mendapat gilirannya. Anggota KBG yang terakhir memberikan hormat pada Kitab Suci lalu membawa Kitab Suci itu menyerahkan kepada Fasilitator, Fasilitator meletakkan lagi dan kembali ke tempat duduk.
d.  Setelah semua anggota KBG memberikan hormat kepada Kitab Suci, Fasilitator mengajak anggota KBG untuk duduk dan memulai dengan langkah-langkah pertemuan doa dan atau Sharing Injil selanjutnya, berdasarkan metode yang digunakan saat itu.
2.  Sedang Doa dan atau Sharing Injil:
a.  Fasilitator mengundang salah seorang anggota KBG untuk doa mengundang Tuhan. Doa mengundang Tuhan berdasarkan ayat-ayat yang berasal dari Sabda Allah. Sebagai contoh yang lazim dipakai ayat Kitab Suci doa mengundang Tuhan, ”dimana dua atau tiga orang berkumpul dalam nama-Mu, Engkau hadir...”
b.  Fasilitator mengundang anggota KBG untuk membaca Kitab Suci.
c.  Fasilitator mengajak anggota KBG untuk merenung teks-teks yang pilih atau dibaca dalam Kitab Suci.
d.  Fasilitator mengajak anggota KBG untuk mensharingkan teks-teks Kitab Suci yang direnungkan, apa yang mau disampaikan Tuhan melalui teks Kitab Suci yang dpilih dan direnungkan itu.
e.  Fasilitator mengajak anggota KBG memikirkan dan merencanakan suatu aksi nyata yang dijalankan bersama anggota KBG. Aksi nyata itu bisa saja berdasarkan teks Kitab Suci tadi.
3.  Akhir Doa dan atau Sharing Injil:
a.  Fasilitator mengajak anggota KBG berdoa secara spontan atau doa umat. Doa spontan pun berdasarkan teks Kitab Suci yang dibaca, direnungkan dan disharingkan tadi.
b.  Fasilitator mengajak anggota KBG untuk menutup pertemuan KBG dengan doa penutup. Doa penutup pun masih terfokus pada isi inti dari teks Kitab Suci.
c.  Fasilitator mengajak anggota KBG untuk hidup sehari-sehari sesuai dengan semangat teks Kitab Suci.

Dengan demikian, pusat KBG adalah Sabda Allah. Sabda Allah itu senantiasa mendorong, menghidupkan dan menjadi ”garam dan terang”[5] ditengah-tengah kehidupan riil umat manusia. Sabda Allah itu akan ”tinggal selama-lamanya”[6] dan semakin dihormati seperti Tubuh Kristus sendiri[7] serta semakin mendapat tempat dihati anggota KBG.


[1] KGK, No. 132. KGK menyebut pelayanan sabda meliputi pewartaan pastoral, katekese dan semua pelajaran kristiani. Pertemuan doa dan Sharing Injil di KBG termasuk dalam katekese.
[2]   Bdk. KGK, No. 80; 84. KGK menyebut “Pusaka Suci” Gereja adalah Tradisi Suci dan Kitab Suci. Kedua mempunyai hubungan yang erat, tak terpisahkan karena mengalir dari sumber ilahi yang sama dan cara tertentu bergabung menjadi satu dan mengarah pada satu tujuan yang sama.
[3]  Bdk. KGK, No. 108.
[4]  Bdk. DV, art. 22; Ibr. 4:12.
[5] Bdk. Mat. 5:13-16.
[6] Bdk. DV, art. 26; Yes. 40:8; 1Ptr.1:23-25.
[7] Bdk. KGK, No. 103.