Jumat, 30 Agustus 2019

PERJANJIAN ALLAH DENGAN SEMUA MAKHLUK (KEJ. 8:20-9:17) (4)


Pertemuan Keempat KBG Bulan Kitab Suci Nasional 2019

Pendalaman Kitab Suci Di KBG-KBG
(Tim Komisi Kerasulan Kitab Suci
Regio Papua, dan dikemas kembali oleh PIPA Keuskupan Pangkalpinang sesuai dengan konteksnya)



Tujuan:
§  Peserta mengetahui tanggapan Nuh terhadap tindakan Allah yang menyelamatkan segala makhluk ciptaan, termasuk dirinya sendiri dan keluarganya.
§  Peserta mengungkapkan alasan mengapa Allah setia pada perjanjian-Nya.
§  Peserta  mengungkapkan komitmennya  dalam  perjanjian  Allah  yakni  dengan  menjalani  gaya  hidup  baru  yang  ramah  lingkungan  untuk menanggapi krisis lingkungan hidup.

GAGASAN DASAR:
Sesudah air bah surut, Allah mengadakan perjanjian dengan Nuh dan semua makhluk.  Ia  berjanji  untuk  tidak  lagi  memusnahkan  bumi  dengan  air  bah meskipun manusia tetap berbuat jahat. Allah menghendaki manusia dengan baik-buruknya tetap mengisi dan merawat bumi sebagai tempat tinggalnya. Ia tetap menghendaki agar manusia beranak cucu dan bertambah banyak dan memenuhi bumi. Perjanjian ini disertai dengan tanda: Allah menaruh busur- Nya di langit, yaitu pelangi, untuk mengingatkan manusia akan janji Allah dan untuk mengingatkan diri-Nya sendiri akan janji itu.
Janji Allah terhadap hidup di bumi itu disertai piagam perjanjian, peraturan- peraturan yang perlu dipegang oleh manusia. Hubungan antara manusia dan makhluk hidup lainnya diatur kembali.  Sebelumnya, Allah mengatur pemberian makanan: kepada manusia diberikan biji-bijian dan buah-buahan sebagai makanan dan kepada makhluk hidup lain diberikan tumbuh-tumbuhan hijau (Kej. 1:29-30). Sekarang, Allah memberikan kelonggaran kepada manusia: mereka diperbolehkan makan daging binatang yang hidup di bumi, burung di udara, dan ikan di laut. Tetapi, kelonggaran itu tidak berarti bahwa manusia boleh bertindak sewenang-wenang terhadap makhluk lain; misalnya berburu hanya untuk kesenangan. Mereka diperbolehkan makan daging binatang, tetapi itu pun dengan batasan tertentu. Daging yang masih ada darahnya tidak boleh dimakan karena darah, yaitu nyawa makhluk, adalah milik Allah.
Karena janji Allah ini kita tetap yakin akan keberlanjutan hidup di bumi di tengah banyak ancaman.  Kekerasan  manusia  terhadap  bumi  pada  masa sekarang  (eksploitasi,  pencemaran,  dan  perusakan)  menimbulkan  banyak kecemasan, tetapi perjanjian Allah ini memberi kita keteguhan iman bahwa Sang Pencipta sendiri tetap berkarya untuk pemekaran kehidupan. Sementara kejahatan dan kekerasan sendiri tak bisa dihapus tanpa memusnahkan hidup sendiri, dituntut pembatasan dalam kelonggaran yang diberikan.
Dunia memerlukan hukum lingkungan hidup, petunjuk-petunjuk pelaksanaan, serta sanksi-sanksi penegakan.  Pada  tingkatan  internasional,  nasional,  dan lokal  diperlukan  peraturan  hukum  yang  membendung  kerakusan  dan kekerasan  manusia  terhadap  bumi. Bila para politisi enggan menyusunnya karena takut kehilangan suara pada pemilihan berikut, rakyat yang sadar akan kerugian harus mendesak pemerintahannya untuk membuat dan menerapkan peraturan hukum lingkungan itu. Kita tidak boleh menunggu atau netral di mana hidup di bumi terancam.
Manusia abad 21 sangat banyak jumlahnya, dan ada yang memiliki kemampuan teknis dan ekonomis untuk meningkatkan kesejahteraannya hampir tanpa batas. Karena itu, perlu ditetapkan batas-batas, misalnya dalam penggunaan sumber daya alam, kuantitas dan cara produksi, kebebasan pasar, dan tingkatan konsumsi.  Tanpa  membatasi  diri,  7,5  miliar  manusia  sekarang  yang  bisa menjadi 10 miliar pada akhir abad ini, menjadi ancaman besar bagi hidup di bumi. Kita harus belajar dan diatur untuk membatasi diri dalam mengambil habitat satwa dan flora yang terancam punah, entah untuk perumahan dan jalan, atau untuk pertanian monokultur, bisnis perkebunan, peternakan masal, yang  biasanya  melayani  kepentingan  segelintir  pengusaha  dan  mendorong hidup  boros  masyarakat.  Saat  ini  diperlukan  peraturan  dan  penegakannya untuk memulihkan mutu air sungai, danau, dan laut yang kita racuni dengan limbah kimia, sampah, plastik, dll., dengan akibat bahwa stok ikan, sumber protein utama bangsa kita, sangat terancam.
Aturan  saja  tidak  cukup  bila  manusia  tidak  termotivasi  dan  juga  mampu melakukannya. Karena itu, diperlukan pendidikan dan spiritualitas ekologis, latihan gaya hidup baru yang ramah lingkungan, pilihan hidup sederhana yang didorong oleh tradisi agama kita (LS 6). Setiap langkah pelestarian lingkungan hidup yang kita latih dan tekuni, sendirian dan bersama - sekecil apa pun – akan sangat berarti, pertama-tama sebagai tanda yang membuka mata dan hati orang lain. Makin banyak orang diberi motivasi dan contoh untuk - seperti Nuh melibatkan diri dalam  karya  Allah  Pencipta  yang  terus  mengembangkan hidup di bumi, makin besar harapannya bagi bumi kita.

A.    PEMBUKA  
1.     Fasilitator memberikan salam dan mengajak anggota KBG untuk membuka pertemuan ini dengan sebuah lagu pembuka.
2.     Fasilitator mengajak anggota KBG untuk berdiri dan memberikan hormat dengan menundukkan kepala di depan Kitab Suci yang telah ditahtakan.
3.     Fasilitator meminta salah seorang di antara anggota KBG untuk berdoa mengundang Tuhan.
4.     Fasilitator mengundang anggota KBG untuk terlibat dalam pendalaman materi pertemuan, sebagai berikut:

F:     Selamat malam, bapak/ibu/saudara dan saudari yang terkasih dalam Tuhan kita Yesus Kristus. 
Kita  patut  bersyukur  karena  berkat  kasih Allah  kita  dapat  berkumpul  kembali  di  tempat  ini  guna  mendalami Kitab Suci. Subtema kita Minggu lalu adalah “Allah membarui bumi untuk makhluk-makhluk ciptaan-Nya.” Allah  mengingat  Nuh  dan segala  makhkluk  ciptaan  sehingga  Ia  membuat  air  bah  surut  dan menciptakan kembali bumi dan segala makhkluk hidup.
Pertemuan kita kali ini adalah pertemuan keempat yang juga sebagai pertemuan terakhir dalam bulan Kitab Suci ini.  Subtema kita untuk pertemuan ini adalah “Perjanjian Allah dengan Semua Makhluk.” Melalui  pertemuan  ini,  kita  akan mendalami teladan Nuh  dalam menanggapi  tindakan  penyelamatan  Allah  dan  bagaimana  Allah menyatakan  kesetiaan  melalui  sebuah  perjanjian  yang  dibuat-Nya dengan  manusia  dan  segala  makhkluk  ciptaan  di  bumi.  Sebagai makhkluk ciptaan Allah, kita juga akan mengungkapkan komitmen kita dalam menanggapi krisis lingkungan hidup yang sedang terjadi di bumi ini, rumah kita bersama. 

B. PENDALAMAN KITAB SUCI
§  Pembacaan Teks Kitab Suci (Kej. 8:20-9:17)
§  Fasilitator meminta beberapa peserta membaca teks per alinea, satu orang satu alinea, dengan suara lantang dan tidak tergesa-gesa. Peserta yang lain mendengarkan dengan penuh perhatian sambil mengikutinya dalam Alkitab masing-masing.       

8:20Lalu Nuh mendirikan mezbah bagi TUHAN. Ia mengambil beberapa ekor dari segala hewan yang tidak haram dan dari segala burung yang tidak haram, dan mempersembahkan korban bakaran di atas mezbah itu. 21Ketika  TUHAN mencium bauan yang harum itu, berkatalah TUHAN dalam hati-Nya: "Aku tidak akan  mengutuk  bumi  ini  lagi  karena  manusia,  sekalipun  rancangan  hatinya adalah jahat sejak kecil, dan Aku tidak akan membinasakan lagi segala yang hidup  seperti  yang  telah  Kulakukan. 22Selama bumi masih ada, tidak akan berhenti-henti musim menabur dan menuai, musim dingin dan panas, musim kemarau dan hujan, siang dan malam." 9:1Lalu Allah memberkati Nuh dan anak-anaknya serta berfirman kepada mereka: Beranakcuculah dan bertambah banyaklah serta penuhilah bumi. 2Akan takut dan akan gentar kepadamu segala binatang di bumi dan segala burung di udara, segala yang bergerak di bumi dan segala ikan di laut; ke dalam tanganmulah semuanya itu diserahkan. 3Segala yang bergerak, yang hidup, akan menjadi makananmu.  Aku telah memberikan semuanya itu kepadamu seperti juga tumbuh-tumbuhan hijau. 4Hanya daging yang masih bersama nyawanya, yakni darahnya, janganlah kamu makan. 5Tetapi atas darahmu, yakni nyawamu, Aku akan menuntut balas; dari segala binatang Aku akan menuntutnya, dan dari setiap  manusia  Aku  akan  menuntut  nyawa  sesama  manusia. 6Siapa menumpahkan darah manusia, darahnya akan ditumpahkan oleh manusia, sebab menurut gambar Allah manusia dijadikan. 7Dan kamu, beranakcuculah dan bertambah banyak, sehingga tak terbilang jumlahmu di atas bumi, ya, bertambah banyaklah di atasnya." Berfirmanlah Allah kepada Nuh dan kepada anak-anaknya yang bersama-sama dengan  dia: 9"Sesungguhnya  Aku  membuat perjanjian-Ku  dengan  kamu  dan dengan keturunanmu, 10dan dengan segala makhluk hidup yang bersamamu: segala  burung,  ternak dan  binatang-binatang  liar  di  bumi  yang  bersamamu, segala yang keluar dari bahtera itu, segala binatang di bumi. 11Aku menetapkan perjanjian-Ku  dengan  kamu,  bahwa  sejak  ini  segala  makhluk  tidak  akan dilenyapkan  oleh  air  bah  lagi,  dan  tidak  akan  ada  lagi  air  bah  untuk memusnahkan bumi." 12Allah berfirman: "Inilah tanda perjanjian yang Kuadakan antara Aku dan kamu serta segala makhluk yang hidup, yang bersamamu, turun- temurun, untuk selama-lamanya: 13Busur-Ku Kutaruh di awan, supaya itu menjadi tanda perjanjian antara Aku dan bumi. 14Apabila Aku mendatangkan awan di atas bumi dan busur itu tampak di awan, 15 maka Aku akan mengingat perjanjian-Ku yang telah ada antara Aku dan kamu serta segala makhluk yang hidup, segala yang bernyawa. Tidak akan ada lagi air yang menjadi air bah untuk memusnahkan segala makhluk. 16Jika busur itu ada di awan, Aku akan melihatnya, dan mengingat perjanjian-Ku yang kekal antara Allah dan segala makhluk yang hidup, segala makhluk yang ada di bumi." 17Berfirmanlah Allah kepada Nuh:  "Inilah tanda perjanjian yang Kuadakan antara Aku dan segala makhluk yang ada di bumi."

PENDALAMAN 
§ Fasilitator meminta peserta membaca kembali teks sambil memperhatikan pertanyaan di bawah.
§   Para peserta dapat dibagi dalam kelompok dan setiap kelompok mencari jawaban atas pertanyaan-pertanyaan itu di dalam teks Kitab Suci.

a.    Apa yang dilakukan oleh Nuh setelah keluar dari bahtera?
b.    Bagaimana tanggapan Allah atas tindakan Nuh itu?
c.    Jelaskan aturan yang diberikan Allah demi perlindungan hidup?
d.   Apa komitmen Allah dalam perjanjian-Nya dengan Nuh?
e.    Apa makna dari tanda perjanjian Allah dengan segala makhluk-Nya?

C. PPENEGASAN (FASILITATOR):
§  Fasilitator menyampaikan penjelasan di bawah ini.
§  Fasilitator dapat menambahkan penjelasan yang diambil dari “Penjelasan Cerita Air Bah” yang terdapat dalam Gagasan Pendukung (halaman 21 dst).

a.  Allah telah menyelamatkan Nuh dan keluarganya serta makhluk ciptaan lain.  Sebagai rasa syukur Nuh mendirikan mezbah untuk mempersembah-kan kurban bakaran bagi Allah. Ia berkenan  kepada kurban Nuh, bukan karena sekarang tinggal manusia yang senantiasa baik,  tetapi  untuk  menyatakan  diri-Nya  secara  baru  dan  lebih  utuh kepada dunia ciptaan-Nya.
b.  Allah memberi perintah kepada Nuh dan anak-anaknya supaya mereka beranak cucu, bertambah banyak, dan memenuhi bumi. Allah  juga memberikan  berbagai  aturan,  yaitu  tidak  boleh  membunuh  sesama manusia,  harus  menghormati  hidup  makhkluk  lain  dengan  tidak memakan daging yang masih mengandung darah. Jika peraturan dari Allah ini ditaati oleh manusia yang ada di alam semesta, lingkungan hidup tetap terpelihara dengan baik.
c.  Dalam perjanjian dengan Nuh dan semua makhluk hidup, Allah berjanji untuk tidak mendatangkan air bah yang memusnahkan bumi lagi.  Sebaliknya,  Ia  akan  menjaga  kelang-sungan  hidup  manusia  dan makhluk  di  alam  ini.  Dalam perjanjian ini Allah mengikatkan diri kepada seluruh makhluk ciptaan-Nya. Perjanjian tersebut disertai dengan tanda yaitu busur yang ditaruh di awan. Dengan tanda itu membuat Allah mengingatkan diri-Nya untuk tidak memusnahkan bumi lagi dan memberikan jaminan kepada manusia bahwa hidup di bumi akan berkelanjutan.

D. AKSI NYATA:
§  Fasilitator menyampaikan pesan yang diambil dari bacaan yang telah direnungkan berikut ini: 
§  Kemudian bersama-sama merencanakan aksi nyata dengan panduan pertanyaan berikut ini.

F:   Allah mengikat perjanjian dengan Nuh dan makhluk ciptaan yang lain. Ia berjanji untuk menjaga kelangsungan kehidupan di bumi. Ia tetap menghendaki manusia hidup dalam ketenteraman di bumi. Sebagai  manusia  kita  pun  membuat  komitmen  untuk  memelihara, melindungi,  dan  melestarikan lingkungan  hidup.  Kita juga harus menjalankan gaya hidup baru yang ramah lingkungan. Hal ini menjadi tanda untuk mengingatkan diri dan sekaligus membuka mata orang lain supaya ikut terlibat melestarikan lingkungan hidup. 

  a.   Apa yang perlu kita lakukan agar komitmen kita untuk melestarikan    lingkungan hidup atau alam tetap dijalankan terus?
   b.   Bagaimana caranya supaya komitmen yang yang telah disepakati itu menjadi komitmen bersama sebagai cara hidup hidup mencintai alam atau lingkungan hidup?

A. DOA SPONTAN:
§  Fasilitator mengundang anggota KBG untuk mengungkapkan doa-doa umat berupa pujian, syukur, dan permohonan.
§  Fasilatator mengajak anggota KBG berdoa Doa Bapa Kami, sebagai doa penyatuan semua doa yang telah diungkapkan secara spontan.
§  Doa penutup dengan Doa Tahun Berpusat pada Kristus.
§  Lagu penutup

=***=

ALLAH MEMBARUI BUMI UNTUK MAKHLUK-MAKHLUK CIPTAAN-NYA (KEJ. 8:1-5, 8-19) (3)


Pertemuan Ketiga KBG- Bulan Kitab Suci Nasional 2019
Pendalaman Kitab Suci Di KBG-KBG
(Tim Komisi Kerasulan Kitab Suci
Regio Papua, dan dikemas kembali oleh PIPA Keuskupan Pangkalpinang sesuai dengan konteksnya)


Tujuan:
§  Peserta mengungkapkan alasan Allah membarui bumi.
§  Peserta mengungkapkan Allah tetap menjaga dan merawat segala ciptaan melalui peristiwa alam. 

GAGASAN DASAR:
Allah itu “penyayang dan pengasih, panjang sabar dan berlimpah kasih setia- Nya.” Kisah Nuh menyatakan kesetiaan dan belas kasih Allah terhadap manusia berdosa dan makhluk-makhluk ciptaan-Nya yang telah rusak. Allah yang telah menyelamatkan Nuh dan makhluk-makhluk lain dalam bahtera, mengingat mereka, lalu menciptakan kembali bumi menjadi tempat hidup mereka. Sudah beberapa kali dalam sejarah bumi ketika bencana vulkanis global atau benturan meteor memusnahkan sebagian besar makhluk hidup, Allah Pencipta menun- jukkan  kesetiaan-Nya  dengan  terus  mengadakan  evolusi  yang  melahirkan banyak jenis dan spesies yang baru, di antaranya kita, manusia.
Sekarang kita sekali lagi berada dalam krisis bumi, kali ini akibat kegiatan manusia sendiri. Dengan mengeruk bumi secara rakus, manusia telah mendatangkan hukuman atas dirinya sendiri. Di bumi telah terjadi degradasi lingkungan hidup, pencemaran tanah, air dan udara, perubahan iklim yang dapat menimbulkan bencana lebih dahsyat. Melalui kisah Nuh, Allah mengatakan kepada kita bahwa sekalipun manusia telah berdosa, Allah tetap setia terhadap bumi dan segala yang hidup di atasnya. Allah tetap berkomitmen membarui bumi di tengah perusakan yang dilakukan oleh manusia padanya.
Kesetiaan-Nya itu memanggil kita kepada pertobatan ekologis; dan menguatkan kita untuk “mengerjakan dan memelihara” bumi dengan cara yang lebih baik, lebih sesuai dengan irama dan hukum alam yang diletakkan Allah di dalam karya ciptaan-Nya. Didukung oleh tindakan penciptaan Allah yang terus berjalan, kita dapat menjaga dan memulihkan keutuhan ekosistem. Kita dipanggil menjadi seperti Nuh mau bekerja sama, memantau perkembangan, menemukan momen-momen yang diberikan oleh Allah, dan melangkah keluar untuk memulihkan apa yang sudah kita rusak. 

A.    PEMBUKA
1.  Fasilitator memberikan salam dan mengajak anggota KBG untuk membuka pertemuan ini dengan sebuah lagu pembuka.
2.  Fasilitator mengajak anggota KBG untuk berdiri dan memberikan hormat dengan menundukkan kepala di depan Kitab Suci yang telah ditahtakan.
3.  Fasilitator meminta salah seorang di antara anggota KBG untuk berdoa mengundang Tuhan.
4.  Fasilitator mengundang anggota KBG untuk terlibat dalam pendalaman materi pertemuan, sebagai berikut:

F:     Selamat malam, bapak/ ibu/ saudara dan saudari yang terkasih dalam Tuhan kita Yesus Kristus. 
Terima kasih untuk kehadiran kita semua dalam pertemuan pendalaman Kitab Suci saat ini. Dalam pertemuan Minggu  lalu  kita  telah  mendalami  subtema  “Kita  dipanggil  untuk melestarikan  lingkungan  hidup.”  Dalam  pertemuan  itu,  kita  juga dipanggil  untuk  melestarikan  lingkungan  hidup,  sebagaimana  yang telah  dilakukan  Nuh.
Pada Pertemuan III ini kita akan mendalami “Komitmen Allah kepada keberlanjutan bumi ciptaan-Nya.” Kita akan bersama-sama mencari jawaban atas pertanyaan, mengapa Allah membarui bumi, menyelamatkan bumi dan segala isinya dari air bah? Selain itu kita juga akan diajak untuk melihat tindakan Allah yang tetap menjaga dan merawat segala ciptaan melalui peristiwa alam.

B.    PENDALAMAN KITAB SUCI
§   Teks Kitab Suci (Kej. 8:1-5, 8-19)
§   Fasilitator meminta beberapa peserta membaca teks per alinea, satu orang satu alinea, dengan suara lantang dan tidak tergesa-gesa. Peserta yang lain mendengarkan dengan penuh perhatian sambil mengikutinya dalam Alkitab masing-masing.

8:1Allah mengingat Nuh dan segala binatang liar serta segala ternak yang bersama dia dalam bahtera itu, lalu Allah membuat angin bertiup di atas bumi, sehingga air itu surut. 2Ditutuplah mata-mata air samudera raya serta tingkap-tingkap di langit dan berhentilah hujan lebat dari langit, 3dan makin surutlah air itu dari muka bumi. Demikianlah berkurang air itu sesudah seratus lima puluh hari. 4Dalam bulan yang ketujuh, pada hari yang ketujuh belas bulan itu, terkandaslah bahtera itu pada pegunungan Ararat. 5Sampai bulan yang kesepuluh makin berkuranglah air itu; dalam bulan yang kesepuluh, pada tanggal satu bulan itu, tampaklah puncak-puncak gunung.

8Kemudian dilepaskannya seekor burung merpati untuk melihat, apakah air itu telah berkurang dari muka bumi. 9Tetapi burung merpati itu tidak mendapat tempat tumpuan kakinya dan pulanglah ia kembali mendapatkan Nuh ke dalam bahtera  itu,  karena  di  seluruh  bumi  masih  ada  air;  lalu  Nuh  mengulurkan tangannya, ditangkapnya burung itu dan dibawanya masuk ke dalam bahtera. 10Ia menunggu tujuh hari, kemudian burung merpati itu dilepasnya lagi dari bahtera. 11Menjelang senja burung merpati itu kembali kepada Nuh dengan sehelai daun zaitun  segar  di  paruhnya, sehingga  Nuh  mengetahui  bahwa  air  itu  telah berkurang dari atas bumi. 12Setelah menunggu tujuh hari lagi, ia melepas burung merpati  itu,  tetapi  burung  itu  tidak  kembali  lagi  kepadanya. 13aPada tahun keenam ratus satu, di bulan pertama, pada tanggal satu bulan itu, air itu sudah kering dari atas bumi. 15Berfirmanlah Allah kepada Nuh: 16"Keluarlah dari bahtera itu, engkau bersama istrimu, anak-anakmu, dan istri anak-anakmu; 17segala binatang yang bersama engkau, segala makhluk: burung-burung, hewan, segala binatang yang melata di bumi. Suruhlah mereka keluar bersama engkau, supaya semuanya itu berkeriapan di bumi serta berkembang biak dan bertambah banyak di bumi." 18Lalu keluarlah Nuh bersama anak-anaknya, istrinya, dan istri anak-anaknya. 19Juga segala binatang liar, segala binatang melata dan segala burung, semua yang bergerak di bumi, masing-masing menurut jenisnya, keluar dari bahtera itu. 

PENDALAMAN
§   Fasilitator meminta peserta membaca kembali teks sambil memperhatikan pertanyaan di bawah.
§   Para peserta dapat dibagi dalam kelompok dan setiap kelompok mencari jawaban atas pertanyaan-pertanyaan itu di dalam teks Kitab Suci.

a.  Bagaimana air bah itu surut?
b.  Bagaimana Nuh mengetahui bahwa air bah sudah surut?
c.  Apa tindakan Allah untuk membarui ciptaan-Nya?

C.    PENEGASAN (FASILITATOR):
§  Fasilitator menyampaikan penjelasan di bawah ini.
§  Fasilitator dapat menambahkan penjelasan yang diambil dari “Penjelasan Cerita Air Bah” yang terdapat dalam Gagasan Pendukung (halaman 21 dst.).

v  Setelah sekian lama air bah menggenangi Bumi, Allah mengingat Nuh dan segala makhluk di dalam bahtera.  Ia  menutup  mata-mata  air samudera  raya  serta  menutup  kembali  tingkap-tingkap  di  langit. Dengan tiupan angin juga Allah membuat air surut.  Puncak-puncak gunung pun menjadi tampak dan bahtera terkandas di Pegunungan Ararat.  Allah sudah menjadikan kembali bumi dan menyediakan tempat hidup bagi Nuh dan keluarganya serta makhluk-makhluk hidup lainnya.
v  Burung merpati menjadi pemantau bagi Nuh untuk melihat keadaan Bumi  yang  akan  menjadi  tempat  hidup  bagi  mahkluk-mahkluk  di dalam  bahtera.  Ia  melepaskan  burung  merpati,  tetapi  burung  itu kembali  ke  bahtera.  Burung itu kembali karena tidak menemukan tumpuan kaki dan hal ini menunjukkan bahwa air belum surut. Tujuh hari  kemudian  Nuh  melepaskan  burung  merpati  dan  burung  itu kembali  dengan  membawa  sehelai  daun  zaitun. Ini menunjukkan bahwa air telah surut dan kehidupan baru di bumi sudah dimulai. Nuh menunggu tujuh hari lagi lalu melepaskan lagi burung merpati itu, dan burung itu tidak kembali. Ini menunjukkan bahwa burung itu menemukan tempat hidup dan hal ini menunjukkan bahwa air benar-benar telah surut dari muka Bumi.
v  Allah memerintahkan Nuh keluar dari bahtera bersama dengan keluarganya serta seluruh binatang yang ada di bahteranya. Merekalah penghuni Bumi yang telah diciptakan kembali oleh Allah. Kemudian Allah menyatakan kehendak-Nya agar semua binatang itu berkeriapan di bumi serta berkembangbiak dan bertambah banyak. Demikian juga kepada Nuh dan keluarganya Allah berfirman, “Beranakcuculah dan bertambah banyaklah serta penuhilah bumi” (Kej. 9:1; bdk. Kej. 1:22). 

D.    AKSI NYATA:
§ Fasilitator menyampaikan pesan yang diambil dari bacaan yang telah direnungkan berikut ini. 
§   Kemudian bersama-sama merencanakan aksi nyata dengan panduan pertanyaan berikut ini.

F:   Sejak awal Allah berkehendak agar manusia hidup damai dan bahagia di bumi. Karena itu, Allah tidak membiarkan air bah tetap mengge- nangi bumi. Ia menutup mata-mata air samudera raya serta tingkap-tingkap  di  langit  dan  membuat  angin  bertiup  sehingga  air  menjadi surut. Untuk  mengetahui  bahwa  air  bah  sudah  surut,  Nuh  bekerja  sama dengan  mahkluk  lain,  yaitu  burung  merpati.  Ketika  burung  merpati kembali  dengan  membawa  sehelai  daun  zaitun  yang  segar,  Nuh menjadi yakin bahwa tanah telah menumbuhkan tunas-tunas muda. 

a.     Apa yang kita lakukan untuk menjaga lestarian air?
b.  Apa yang kita lakukan supaya air tetap bermanfaat bagi kehidupan bukan menghancurkan kehidup-an?

E. DOA SPONTAN:

§  Fasilitator mengundang anggota KBG untuk mengungkapkan doa-doa umat berupa pujian, syukur, dan permohonan.
§ Fasilatator mengajak anggota KBG berdoa Doa Bapa Kami, sebagai doa penyatuan semua doa yang telah diungkapkan secara spontan.
§  Doa penutup dengan Doa Tahun Berpusat pada Kristus.
§  Lagu penutup

=***=

KITA DIPANGGIL UNTUK MELESTARIKAN LINGKUNGAN HIDUP (KEJ. 6:13-22; 7:11-17) (2)


Pertemuan Kedua KBG Bulan Kitab Suci Nasional 2019

Pendalaman Kitab Suci Di KBG-KBG
(Tim Komisi Kerasulan Kitab Suci
Regio Papua, dan dikemas kembali oleh PIPA Keuskupan Pangkalpinang sesuai dengan konteksnya)



TUJUAN:
§  Peserta memahami bahwa Nuh dipanggil oleh Allah untuk melestarikan lingkungan hidup.
§  Peserta menyadari panggilan Allah dalam dirinya untuk melestarikan lingkungan hidup.

GAGASAN DASAR:
Kebanyakan cerita Alkitab hanyalah tentang Allah dan manusia, karya Allah untuk keselamatan manusia. Kisah Nuh ini berbeda. Setelah  menceritakan bahwa kejahatan manusia  merusakkan  juga  seluruh  ciptaan  Allah  lainnya, sekarang diceritakan bahwa Allah berupaya menyelamatkan manusia bersama makhluk  hidup  lainnya.  Ia menyelamatkan seluruh makhluk hidup, bukan hanya karena mereka berguna bagi manusia tetapi karena semuanya memiliki nilai tersendiri bagi Allah yang mengasihi apa pun yang diciptakan-Nya.
Tidak seluruh alam ciptaan berperan dalam kisah Nuh; hanya makhluk yang hidup di bumi akan mati di dalam air. Ikan-ikan dan makhluk air lainnya yang sekarang  paling  terancam  di  sungai  dan  laut  yang  tercemar,  tidak  muncul dalam  kisah  Nuh  sebab  tidak  terancam  air  bah.  Juga  pohon  dan  tanaman lainnya yang begitu menentukan untuk keseimbangan ekosistem, dalam kisah Nuh tidak muncul sebab dalam ekologi Israel kuno tumbuhan-tumbuhan tidak dipandang  sebagai  makhluk  hidup  tersendiri  tetapi  menyatu  dengan  tanah (Kej. 1:12). Akar-akarnya dan benihnya bertahan hidup bila ditutupi banjir, dan dengan sendirinya akan bertunas lagi setelah air surut, sebagaimana tampak dari helai daun zaitun segar yang akan dibawa merpati kepada Nuh (Kej. 8:11). Biarpun tidak muncul dalam kisah Nuh, namun perusakan dan pelestarian flora bumi dan makhluk air hendaknya tetap menjadi perhatian kita dalam merenungkan pesan kisah air bah untuk keadaan sekarang.
Cerita pemusnahan segala makhluk hidup diawali, diselingi, dan disusul oleh bagian-bagian cerita tentang Allah yang menyelamatkan keluarga Nuh; dan melibatkan Nuh dalam membangun sebuah bahtera sebagai rumah (oikos) bagi segala spesies yang hendak diselamatkan. Nuh, orang benar yang diingat oleh Allah, menjadi simbol pelestarian alam ciptaan. Cerita ini memupuk harapan baru dan mendorong orang melibatkan diri dalam menghadapi krisis global yang kita alami.
Pertama,  kita  diberi  harapan  bahwa  kerusakan  bumi,  kepunahan  spesies, perubahan iklim, dll., akibat kecerobohan manusia sendiri, dapat dibalikkan. Seperti Nuh, kita dapat menanggapi panggilan Tuhan untuk turut melestarikan bumi dan semua spesies yang terancam.  Kita  dapat  melakukannya  dengan membangun  “bahtera”,  memulihkan  habitat  spesies-spesies  itu:  hutan,  air, sungai,  laut,  tanah,  udara.  Sosok  Nuh  yang  membangun  bahtera  demi menyelamatkan segala macam makhluk hidup, menjadi lambang ulung bagi kegiatan  kita  untuk  melestarikan  lingkungan  hidup  bukan  hanya  untuk kepentingan kita sendiri tetapi juga demi ketahanan hidup makhluk lain.
Kedua, cerita ini memupuk harapan kepada Allah. Nuh dapat menyelamatkan segala jenis makhluk yang terancam itu, dalam kepercayaan dan ketaatan kepada Allah, Sang Pencipta, yang tetap mau memelihara ciptaan-Nya yang terancam itu. Harapan kepada Pencipta itu mungkin jarang ditampakkan oleh para ekolog sekular, padahal sangat menguatkan perjuangan untuk pelestarian lingkungan hidup. Manusia yang menyadari dirinya diutus dan dilibatkan oleh Allah yang dengan setia bekerja untuk keberlanjutan karya ciptaan-Nya, mendasari sebuah spiritualitas yang mendorong tindakan ekologis. Komitmen Allah itu akan menjadi tema utama dalam lanjutan kisah Nuh (Kej. 8-9).

A.    PEMBUKA
1.  Fasilitator memberikan salam dan mengajak anggota KBG untuk membuka pertemuan ini dengan sebuah lagu pembuka.
2.     Fasilitator mengajak anggota KBG untuk berdiri dan memberikan hormat dengan menundukkan kepala di depan Kitab Suci yang telah ditahtakan.
3. Fasilitator meminta salah seorang di antara anggota KBG untuk berdoa mengundang Tuhan.
4.   Fasilitator mengundang anggota KBG untuk terlibat dalam pendalaman materi pertemuan, sebagai berikut:

F:     Selamat malam, bapak/ibu/saudara dan saudari yang terkasih dalam Tuhan kita Yesus Kristus. 
Kita  patut  bersyukur  karena  berkat  kasih Allah  kita  boleh  berkumpul  kembali  di  tempat  ini  guna  mendalami Kitab Suci. Pada pertemuan Minggu lalu kita telah melihat bagaimana makhluk hidup musnah karena kejahatan manusia.  Kita  juga  telah melihat  bagaimana manusia  menyombongkan  diri  dengan  berbuat kejahatan yang mengakibatkan krisis lingkungan hidup dan bagaimana kita  menanggapi  situasi  tersebut. 
Dalam pertemuan kedua ini, kita akan mendalami subtema “Kita dipanggil untuk melestarikan lingkung- an hidup. “Kita akan belajar dari teladan seorang benar yang dipanggil oleh Allah untuk menyelamatkan dan melestarikan makhkluk ciptaan. Dia adalah Nuh, seorang yang hidup benar di hadapan Allah dan dapat dipandang sebagai tokoh pelestarian lingkungan hidup.

B.    PENDALAMAN KITAB SUCI

§   Teks Kitab Suci (Kej. 6:13-22; 7:11-17).
§   Fasilitator meminta beberapa peserta membaca teks per alinea, satu orang satu alinea, dengan suara lantang dan tidak tergesa-gesa. Peserta yang lain mendengarkan dengan penuh perhatian sambil mengikutinya dalam Alkitab masing-masing. 

6: 13Berfirmanlah Allah kepada Nuh: "Aku telah memutuskan untuk mengakhiri  hidup segala makhluk, sebab bumi telah penuh dengan kekerasan oleh mereka,   jadi  Aku  akan  memusnahkan  mereka  bersama-sama  dengan  bumi. 14Buatlah bagimu sebuah bahtera dari kayu gofir. Bahtera itu harus kaubuat bersekat-sekat dan harus kaulapisi dengan ter di sebelah luar dan dalam. 15Beginilah harus kaubuat bahtera itu: tiga ratus hasta panjangnya, lima puluh hasta lebarnya dan tiga puluh hasta tingginya. 16Buatlah atap pada bahtera itu dan selesaikanlah bahtera itu sampai sehasta dari atas, dan pasanglah pintunya pada lambungnya. Buatlah bahtera itu bertingkat bawah, tengah, dan atas. 17Sesungguhnya Aku akan mendatangkan air bah meliputi bumi untuk memusnahkan segala makhluk yang bernafas hidup di kolong langit; segala yang ada di bumi akan binasa. 18Tetapi, Aku akan membuat perjanjian-Ku denganmu. Engkau akan masuk ke dalam bahtera  itu:  engkau  bersama  dengan  anak-anakmu,  istrimu,  dan  istri  anak- anakmu. 19Dan  dari  segala  yang  hidup,  dari  segala  makhluk,  dari  semuanya haruslah engkau bawa satu pasang ke dalam bahtera itu, supaya terpelihara hidupnya bersama engkau; jantan dan betina harus kaubawa. 20Dari segala jenis burung dan dari segala jenis hewan, dari segala jenis binatang melata di muka bumi, dari semuanya itu harus datang satu pasang kepadamu, supaya terpelihara hidupnya. 21Dan  engkau,  bawalah  bagimu  segala  apa  yang  dapat  dimakan. Kumpulkanlah itu padamu untuk menjadi makanan bagimu dan bagi mereka." 22Lalu  Nuh  melakukan  semuanya  itu;  tepat  seperti  yang  diperintahkan  Allah kepadanya, demikianlah dilakukannya. 

7:11Ketika Nuh berumur enam ratus tahun, di bulan kedua, pada hari ketujuh belas bulan itu, pada hari itulah pecahlah segala mata air lautan besar di bawah bumi dan terbukalah tingkap-tingkap di langit. 12Dan turunlah hujan lebat atas bumi selama empat puluh hari empat puluh malam. 13Pada hari itulah juga masuklah Nuh serta Sem, Ham dan Yafet, anak-anak Nuh, dan istri Nuh, serta ketiga istri anak-anaknya, ke dalam bahtera itu, 14bersama mereka juga segala jenis binatang liar dan segala jenis hewan dan segala jenis binatang yang merayap di bumi dan segala jenis burung, segala unggas yang bersayap. 15Segala makhluk yang bernafas hidup datang sepasang demi sepasang kepada Nuh dalam bahtera itu. 16Semua yang  datang,  jantan  dan  betina  dari  segala  makhluk,  masuk  seperti  yang diperintahkan Allah kepada Nuh; lalu TUHAN menutup pintu bahtera itu di belakang Nuh. 17Selama empat puluh hari air bah itu meliputi bumi. Air itu naik dan mengangkat bahtera itu, sehingga terangkat tinggi dari bumi.

PENDALAMAN 
§  Fasilitator meminta peserta membaca kembali teks sambil memperhatikan pertanyaan di bawah.
§  Para peserta dapat dibagi dalam kelompok dan setiap kelompok mencari jawaban atas pertanyaan-pertanyaan itu di dalam teks Kitab Suci.
 Siapakah Nuh itu? (berdasarkan Kej. 6:8-10).
1.  Bagaimanakah cara Nuh membuat bahtera?
2.  Untuk apa Nuh membuat bahtera yang sedemikian besar?
3.  Bagaimana Nuh bisa mengumpulkan segala binatang, berpasang-pasangan?
4.  Ceritakanlah bagaimana air bah itu terjadi!

C. PENEGASAN (FASILITATOR):
§  Fasilitator menyampaikan penjelasan di bawah ini.
§  Fasilitator dapat menambahkan penjelasan yang diambil dari “Penjelasan Cerita Air Bah” yang terdapat dalam Gagasan Pendukung (halaman 21 dst).
§  Nuh adalah seorang bapak keluarga yang melakukan kehendak Allah tanpa cacat. Dia berjalan dengan Allah, sehingga Allah berkenan kepadanya. Nuh mendapat perintah dari Allah untuk membuat bahtera karena Tuhan akan mendatangkan air bah. Bahtera yang harus dibangun oleh Nuh jauh lebih besar daripada kapal biasa. Bagian dalam dari kapal itu dibagi tiga lantai dan setiap lantai diberi sekat-sekat sehingga dapat menampung manusia dan banyak binatang.
§  Mengingat Allah akan memusnahkan segala makhluk hidup, Nuh harus mempersiapkan ruang-ruang untuk menampung anggota keluarganya dan untuk menampung segala macam binatang.  Segala macam binatang harus ditampung berpasang-pasangan, baik hewan maupun burung. Nuh juga harus mengumpulkan makanan baik untuk dirinya dan keluarganya maupun untuk bintang yang ada di dalam bahteranya. Makanan itu masih sederhana karena pada hari penciptaan Tuhan memberikan kepada manusia biji-bijian dan buah-buahan dan kepada binatang tumbuhan hijau.
§  Ketika bahtera dan segala sesuatunya telah siap digunakan, ternyata Nuh tidak perlu mencari binatang-binatang itu berpasang-pasangan, karena mereka sendiri datang berpasang-pasangan. Tuhan sendirilah yang mendatangkan mereka. Ketika semua keluarga Nuh dan binatang-binatang itu telah berada di dalam bahtera, Tuhan menutup pintunya.
§  Dalam gambaran dunia Yahudi, mula-mula hanya ada air yang pada hari  penciptaan  Allah  memisahkan  air  atas  dan  air  bawah  dan  di tengahnya ada dunia. Tingkap-tingkap di langit terbuka sehingga air dari atas turun dan sumber-sumber di bawah bumi dibuka sehingga air dari  bawah  juga  turut  naik  lalu  meliputi  dan  meniadakan  bumi. Permukaan air semakin lama semakin tinggi; Nuh, keluarganya, dan semua binatang yang tinggal di dalam bahtera itu selamat dari air bah.

D.    AKSI NYATA:
§ Fasilitator menyampaikan pesan yang diambil dari bacaan yang telah direnungkan berikut ini.
§  Kemudian bersama-sama merencanakan aksi nyata dengan panduan pertanyaan berikut ini.

F:   Allah  menghukum  dan  meniadakan  manusia  dan  bumi  yang  penuh kejahatan  dan  kekerasan,  namun  Ia  juga  mencari  jalan  untuk menyelamatkan orang-orang benar.  Dalam kisah ini Allah tidak hanya menyelamatkan manusia tetapi juga seluruh makhluk ciptaan-Nya karena seluruh makhluk ciptaan itu bernilai bagi Allah dan dicintai-Nya. Nuh adalah model manusia yang menanggapi panggilan Tuhan untuk turut  serta  melestarikan  lingkungan  hidup  di  bumi  yang  rusak  dan terancam punah.
a.  Apa yang kita lakukan supaya membangun ‘bahtera’ kita berasaskan pelestarian dan penyelamatan lingkungan hidup dan alam sekitarnya?
b.  Apa yang kita lakukan supaya situasi didalam ‘bahtera’ kita pun memiliki suasana yang selaras dengan lingkungan hidup atau alam?

E.    DOA SPONTAN:
§  Fasilitator mengundang anggota KBG untuk mengungkapkan doa-doa umat berupa pujian, syukur, dan permohonan.
§ Fasilatator mengajak anggota KBG berdoa Doa Bapa Kami, sebagai doa penyatuan semua doa yang telah diungkapkan secara spontan.
§   Doa penutup dengan Doa Tahun Berpusat pada Kristus.
§   Lagu penutup
=***=