Kamis, 21 Mei 2026

SURAT GEMBALA USKUP PANGKALPINANG AKSI AGUSTUSAN 2004

Sharing Injil 7 Langkah, kebiasaan jika ada Pertemuan AsIPA baik Asia maupun Keuskupan Pangkalpinang

Ini Surat Gembala Bapa Uskup, Keuskupan Pangkalpinang, Alm. Mgr. Hilarius Moa Nurak, SVD. Kebetulan membuka laptop lama dan menemukan file ini, jadi saya menempelkan di blog saya. Sekaligus file ini sebagai kenangan 10 tahun almahrum (29/04/2016). Bagaimana ide tentang KBG yang diperjuangkannya, hingga dalam surat gembalnya pun dibahas.

PENGANTAR 

 “Kamu ……. anggota-anggota keluarga Allah” (Ef 2:19). Setiap tahun untuk aksi agustusan kita menentukan satu tema yang menjadi pokok permenungan kita selama bulan Agustus. Tahun 2003 yang lalu tema aksi agustusan kita adalah “Umat Allah Keuskupan Pangkalpinang Dalam Peziarahan Menuju Bapa.” Melalui tema tersebut saya mengajak umat sekalian untuk semakin menyadari bahwa kita umat Kristiani Keuskupan Pangkalpinang adalah umat yang selalu dalam perjalanan (berziarah) menuju Bapa. Hidup kita di dunia ini hanyalah bersifat sementara. 

Tahun 2004 ini kita mengambil tema “Umat Allah Terus-Menerus Membangun dan Mengembangkan Diri Menjadi Komunitas Kristiani Yang Berpusat Pada Kristus.” Seringkali kita berpendapat bahwa peziarahan menuju Bapa kita laksanakan sendiri-sendiri, secara pribadi saja. Padahal peziarahan itu kita laksanakan dalam persaudaraan, dalam komunitas, secara bersama-sama, dengan Kristus yang menjadi pusat dan pemersatu. Tanpa berpusat pada Kristus persaudaraan kita tidak kuat dan tidak akan bertahan lama. 

Dengan menghidupkan Kelompok kita menjadi sebuah Komunitas Basis yang berpusat pada Kristus berarti: 

1. Kitab Suci selalu dibawa, dibaca, direnungkan dan disyeringkan (membagikan pengalaman hidup bersama Kristus dalam hidup nyata) dalam setiap pertemuan komunitas basis.

2. Mengalami kehadiran Kristus melalui Syering Injil bukan kotbah atau debat.

3. Membiarkan cahaya Kristus menerangi masalah-masalah di dalam komunitas dan masyarakat kita (memecahkan masalah dalam terang Sabda).

4. Dalam setiap pembahasan dan perencanaan, kita selalu bertanya “Apakah yang diharapkan Kristus dari kita?” “Jalan keluar apa yang lebih dekat dengan pikiran Kristus”

Dengan demikian membangun dan mengembangkan kelompok kita menjadi komunitas kristiani yang berpusat pada Kristus. Artinya : kita bergerak ke arah membentuk persaudaraan sejati (persaudaraan yang mengasihi) di antara kita semua warga, persaudaraan sejati (persaudaraan yang mengasihi) yang terbuka terhadap masyarakat dan lingkungan hidup, bukan tertutup. 

Marilah selama bulan Agustus ini, kita merenungkan tema persaudaraan yang berpusat pada Kristus ini serta berusaha mewujudkannya dalam hidup sehari-hari kita. Dengan semangat persaudaraan sejati di antara kita, banyak hal yang dapat kita laksanakan demi kepentingan kita bersama. Persaudaraan sejati yang berpusat pada Kristus hanya dapat dicapai dengan usaha yang terus-menerus. Ini berarti tujuan yang ingin kita capai itu penting, tetapi lebih penting proses yang kita kembangkan untuk mencapai tujuan tersebut.

RENCANA TUHAN: PEMBENTUKAN KOMUNITAS

Dalam suratnya kepada umat di Efesus, St. Paulus mengatakan “Ia telah menyatakan rahasia kehendak-Nya kepada kita, sesuai dengan rencana kerelaan-Nya, yaitu rencana kerelaan yang dari semula telah ditetapkan-Nya di dalam Kristus, sebagai persiapan kegenapan waktu untuk mempersatukan di dalam Kristus, sebagai Kepala segala sesuatu baik yang di sorga maupun yang di bumi.” (Ef 1:9-10). Dari apa yang dikatakan St. Paulus, jelas bahwa Tuhan mempunyai rencana dengan menciptakan semua di dunia ini. Juga rencana Tuhan dengan manusia. Rencana itu telah Ia nyatakan kepada kita supaya kita bekerja sesuai dengan rencana-Nya. 

Bagi kita, karya pastoral adalah mengerjakan rencana Tuhan sesuai dengan yang Ia wahyukan kepada manusia bukan melaksanakan rencana kita sendiri. Sehubungan dengan manusia, Tuhan ingin menciptakan semua manusia menjadi satu bangsa yang dipersatukan dengan-Nya, menciptakan suatu persatuan antara Allah dan manusia, menjadi satu tubuh atau menjadi kenisah di mana bersemayam Allah Roh Kudus. “Demikianlah kamu bukan lagi orang asing dan pendatang, melainkan kawan sewarga dari orang-orang kudus dan anggota-anggota keluarga Allah, yang dibangun di atas dasar para rasul dan para nabi, dengan Kristus Yesus sebagai batu penjuru. 

Di dalam Dia tumbuh seluruh bangunan, rapi tersusun, menjadi bait Allah yang kudus, di dalam Tuhan. Di dalam Dia kamu juga turut dibangunkan menjadi tempat kediaman Allah, di dalam Roh.” (Ef 2:19-22) Sebagai pekerja, apa yang kita kerjakan haruslah sama dengan rencana Tuhan sendiri yaitu membentuk satu bangsa yang hidup untuk Tuhan. Tuhanlah yang empunya proyek sedangkan kita hanyalah pelaksananya. Pembentukan Komunitas Basis yang berpusat pada Kristus harus berlandaskan Yesus Kristus yakni Yesus Kristus yang ada sebagaimana tertulis dalam Kitab Suci. Karena itu dalam Komunitas basis Kitab Suci mendapat tempat penting yang tidak dapat digantikan dengan kitab-kitab yang lain. 

Momen kecil bahas KBG dalam situasi Sinode II Keuskupan di Hotel Serata-Pasir Padi Pangkalpinang


Setiap pertemuan di Komunitas Basis haruslah disemangati oleh Kitab Suci. Maka dalam setiap pertemuan harus ada pembacaan Kitab Suci. Tidak cukup hanya dibacakan, Kitab Suci harus direnungkan bersama dalam keheningan dan syering. Kitab Suci sungguh menjadi pusat tidak hanya dibaca dan direnungkan (menjadi pendengar firman), tetapi juga diwujudkan secara konkrit/nyata dalam kata dan tindakan (menjadi pelaku firman). 

Maka setiap aksi/kegiatan yang diputuskan untuk dilaksanakan harus keluar dari renungan Kitab Suci. Tindakan/aksi yang keluar dari renungan Kitab Suci berarti tindakan itu lahir dari kesadaran kita atas kehendak Allah yang harus kita lakukan, bukan karena kewajiban atau terpaksa atau hanya demi aksi. Keputusan untuk melaksanakan kegiatan/aksi diambil dalam semangat Injil yakni dalam semangat persaudaraan bukan paksaan, disertai rasa tanggung jawab bersama di dalam komunitas baik saat mengambil keputusan maupun dalam pelaksanaan keputusan dan pengevaluasiannya. 

APA SEBAB KOMUNITAS BASIS GEREJANI? 

 Untuk lebih mengerti mengapa dalam karya pastoral, kita berusaha membentuk komunitas, tiga hal berikut ini perlu kita pegang teguh yakni:

a. Keyakinan, sikap hidup, nilai dan tingkah laku seseorang, juga kekristenannya, sampai pada batas tertentu dibentuk oleh lingkungan di mana ia tinggal. Karena itu seorang Kristen membutuhkan suatu lingkungan di mana ia dapat menghayati hidup kristianinya.

b. Faktor lingkungan mempunyai andil lebih mendasar untuk perkembangan hidup kristiani seseorang dari pada faktor institusi. Karena itu karya pastoral kita lebih diarahkan kepada pembentukan lingkungan yang menunjang hidup kristiani daripada membuat reformasi institusi 

c. Dalam situasi kita di Indonesia, di mana rasa-rasanya sulit bagi orang lain menerima kehadiran kita, maka perlu sekali membentuk Komunitas Basis di dalam masyarakat agar hidup kristiani kita dapat dikembangkan. 

AKHIR KATA

Dengan alasan-alasan seperti yang sudah saya katakan dalam Surat Gembala ini, saya mengajak seluruh umat tanpa kecuali untuk bergiat membentuk dan mengembangkan kelompok-kelompok yang ada di paroki kita menjadi Komunitas Basis Gerejani yang berpusat pada Kristus. Pembentukan dan pengembangan tersebut adalah tugas dan tanggung jawab kita bersama. Supaya berhasil, kita semua harus berani berubah dan membaharui diri. Tidak cukup hanya umat yang berubah sedang para imamnya tidak. Tidak cukup hanya para imam yang berubah sedang umatnya tidak. Semua harus berubah jika kita ingin mencapai perubahan yang menggembirakan. (***)