| Mewakili Keuskupan Pangkalpinang dalam menghantar persembahan dalam perayaan Ekaristi GA V di Sri Lanka (Nainammadama) |
- BILA DALAM AsIPA
PATTAYA,
19 OKTOBER 2010
“MENJADI
GEREJA PERSATUAN”
Oleh: Cora Mateo
APA ITU AsIPA?
AsIPA merupakan pendekatan yang dibuat dengan
penuh perhatian dan kepedulian, dengan keyakinan untuk bergerak menuju
realisasi visi.[1]
AsIPA adalah cara yang berbeda dari FABC[2] dalam
menyelenggarakan suatu acara pertemuan, karena di dalam cara pertemuan itu,
kami tidak mendengarkan teori dan refleksi teologis. FABC mempunyai banyak hal
seperti itu, namun pertanyaan mendasarnya adalah BAGAIMANA KITA BERGERAK UNTUK
MENCAPAI IDE DARI VISI YANG DIARTIKULASI DENGAN BAIK DALAM TEORI? AsIPA
adalah sebuah metode, pendekatan pastoral untuk bergerak menuju visi baru.
1970
Kunjungan Paus Paulus VI[3] –
setelah Konsili Vatikan II, direfleksikan sebagai tantangan untuk menjadi
Gereja di Asia. Kunjungan itu untuk memperlihatkan wajah Yesus di Asia, iman
Kristiani yang berakar di tanah Asia; untuk melaksanakan visi Konsili Vatikan
II.
Dimulainya studi untuk mendirikan Kantor Kerasulan Awam di dalam FABC dengan latar belakang Dekrit Apostolik tentang “Apostolicam Actuositatem”, Kerasulan Awam.[4]
1974
Sidang Pleno FABC yang pertama di Taipei tema
yang diusung: “Misi Gereja di Asia” – melanjutkan upaya melaksanakan tugas
evangelisasi dengan konteks situasi sosial, budaya, dan masyarakat Asia sebagai
inti prosesnya.
1982
FABC ke-3 - Komite Kerasulan Awam secara resmi
dimulai sebagai langkah konkrit untuk menjadi Kantor Kerasulan Awam secara
penuh (yang kemudian menjadi Kantor Kerasulan Awam dan Keluarga setelah FABC
8).
Mgr. Joseph TiKang (Taiwan) adalah Ketua pertama dan Fr. Jess BreƱa sebagai Sekretaris Eksekutif.
1984 dan 1986
BILA pertama - pencarian program pembinaan
untuk menyadarkan kaum awam akan panggilan mereka menuju kekudusan dan untuk
ikut bertanggung jawab atas misi Gereja.
Kami mulai memberikan kursus pelatihan di Asia
dengan menggunakan metode Lumko (pertama di BILA 1).
1986
FABC ke-4 tentang “Panggilan dan Misi Kaum Awam dalam Gereja dan Masyarakat Asia”
mendeklarasikan Office
of Laity sebagai
sebuah Kantor Kerasulan Awam yang lengkap.
Fr. Tommy Murphy (Taiwan) sebagai Sekretaris
Eksekutif.
Pelatihan lebih banyak menggunakan metode
Lumko.
1990
FABC ke-5 di Bandung, Indonesia, para Uskup
mendeklarasikan bahwa Gereja
di Asia menjadi “Gereja
Persekutuan,…Gereja yang partisipatif,… bersaksi kepada Tuhan yang Bangkit…di
mana karunia-karunia Roh Kudus dicurahkan kepada semua: para imam, kaum
religius, umat awam dikenali dan dimanfaatkan…”
Mereka meminta agar kursus-kursus pembinaan
dimulai menuju “cara baru menjadi Gereja” untuk menjawab tantangan-tantangan
Milenium Baru. Mandat diberikan kepada FABC khususnya OLF[5] untuk
memulai kursus ini, pertama menggunakan metode Lumko.
1991
Kursus internasional pertama dalam bahasa Cina
(Taiwan) dan Inggris (Thailand).
Uskup Oswald Hirmer yang bersama kami sejak
awal, berada di Asia selama 6 bulan, tinggal di Singapura dan mendampingi
proses kami di berbagai negara dalam 5 tahun berikutnya.
1993
Evaluasi mata kuliah dan AsIPA dicetuskan
dengan pendekatan Pastoral Asia yang Integral, dalam pertemuan gabungan FABC OSC[6] dan FABC
OLF, teks-teks AsIPA secara bertahap terungkap dalam format seperti sekarang,
lebih kontekstual, mudah diterjemahkan.
Mgr. Angel Lagdameo (Filipina) adalah Ketua
Kedua; Ibu Cora Mateo (Taiwan) sebagai Sekretaris Eksekutif.
Kursus Internasional berlanjut, mendorong
upaya di tingkat lokal.
1996
Majelis Jenderal AsIPA pertama yang mengambil
keputusan untuk menyelenggarakan kursus nasional untuk pelatihan dasar dan
kursus internasional untuk pelatihan lanjutan.
Dewan Redaksi AsIPA dibentuk dengan Ibu Wendy Louis, Fr. Thomas Vijay, Ibu Estela
Padilla dan Sekretaris Eksekutif untuk terus memproduksi teks dan memberikan
kursus.
Masa ketika kami pergi ke beberapa negara di
Asia untuk menyelenggarakan kursus pelatihan: India, Sri Lanka, Bangladesh,
Pakistan, Jepang, Korea, Taiwan, Singapura, Malaysia, Thailand, Myanmar, dan
Indonesia, tempat kami diundang, untuk menyelenggarakan kursus nasional dan
kemudian untuk membantu tim lokal. Dalam pertemuan OLF FABC lainnya kami
memperkenalkan metode Syering Injil 7 langkah dan menggunakan beberapa teksnya.
Penerjemahan materi juga dimulai pada periode ini. (Saat ini dalam lebih dari 30 bahasa Asia).
1999
1999 - Sidang Umum AsIPA ke-2 (Thailand)– pertukaran material produksi lokal yang berasal dari berbagai negara, untuk menjawab kebutuhan lokal. Ini merupakan upaya penting untuk melakukan kontekstualisasi lebih lanjut. Dewan Redaksi bertambah dalam jumlah dan tugas, dan merupakan tim terakhir yang membuat berbagai modul menjadi teks AsIPA: dengan kriteria dasar program kesadaran yang mengangkat isu melalui kode, memiliki bagian Alkitabiah dan menggerakkan masyarakat untuk bertindak dan melakukan pembaharuan. . Itu adalah langkah-langkah sederhana yang mendorong partisipasi, berpusat pada Kristus dan komunitas yang melaksanakan misi dengan cara yang bertanggung jawab bersama.
2003
Sidang Umum AsIPA ke-3–semakin menjadi pertukaran antar tim nasional dan keuskupan, dan Dewan Redaksi menjadi ART = Tim Sumber AsIPA dengan 9 anggota dari 6 negara: India, Sri Lanka, Filipina, Korea, Singapura dan Taiwan, dan masih terus berkembang.
2006
AsIPA GA[7] ke-4 di India, dengan pengalaman yang mendalam tentang KBG mereka. AsIPA diberi kesempatan untuk melihat metode yang berbeda untuk membentuk KBG yang mampu membantu komunitas melampaui batas dalam gereja mereka dan peduli terhadap isu-isu sosial, tentang dialog antaragama… di Keuskupan Agung Trivandrum yang memiliki hampir 2.000 KBG.
2009
2009 – AsIPA GA ke-5 di Davao City, Filipina,
dan menandai babak baru dengan Ibu Wendy Louis sebagai Sekretaris Eksekutif dan
setelah 27 tahun, kantor FABC OLF di Taiwan ditutup dan Desk AsIPA dipindahkan
ke Singapura .
GA5 juga merupakan pengalaman bersama para
peserta yang menggunakan metode yang berbeda untuk membangun KBG. Jumlah kami
hampir 250 peserta, penambahan 26 peserta dari peserta yang sudah berkumpul
pada GA1 di Bangkok pada tahun 1996.
Dan selebihnya, bukanlah sejarah (seperti kata
pepatah). Namun masa depan untuk menjadi “Gereja
Persekutuan,” dengan berbagai upayanya untuk mencapai landasan dengan
mendorong orang untuk berpartisipasi. Kesuksesan bukanlah sebuah peristiwa yang
terjadi dalam satu momen (seperti para penambang Chile). Namun kesuksesan yang
diungkapkan dalam banyak peristiwa, dalam berbagai contoh proses pembaharuan
yang sedang berlangsung, besar dan kecil, di lingkungan sekitar, di paroki, di
keuskupan…
Masuknya Sekretaris Eksekutif adalah Ibu Bibiana Ro dari Korea dan Desk AsIPA akan segera pindah ke Seoul.
KESIMPULAN
Apa yang menjadi AsIPA saat ini, tidak dicapai
oleh satu orang, tidak pula dalam satu peristiwa, melainkan oleh sebuah tim
yang sejak awal sadar, bahwa proses itu sendiri adalah pesan, bersaksi kepada
Tuhan Yang Bangkit, dalam persekutuan, dalam program apa pun yang
dijalankannya. Hal ini tidak lagi bersifat internasional, tetapi
dikontekstualisasikan dalam beberapa budaya Asia.
Mungkin masa depan akan menjadi sebuah tantangan, seperti yang dikatakan Uskup Tirona, bukan hanya untuk merasa puas dengan AsIPA sebagai metodologi, namun sebagai cara hidup untuk membuat kita berdoa dan bertindak bersama sebagai saudara dan saudari, menjadikan persekutuan menjadi kenyataan dan semua bertanggung jawab bersama untuk misi Gereja, menjadi nyata.
*). Editor Alfons Liwun
=***=
[1]Visi Gereja yang disebutkan dalam Konsili Vatikan
II, Gereja sebagai Persekutuan; Gereja sebagai Persekutuan ini direalisasikan
oleh Sidang FABC tahun 1990 di Bandung, Gereja sebagai persekutuan dari
komunitas-komunitas (communion of communities).
[2]FABC
kepanjangan dari Federation of Asian Bishops' Conferences,
yang diterjemahkan sebagai Federasi Konferensi Waligereja Asia, konferensi
waligereja dalam Gereja Katolik yang mencakup wilayah Asia Selatan, Tenggara,
Timur, dan Tengah.
[3]Pada tahun 1970, pada kesempatan kunjungan Paus
Paulus VI ke Manila, para uskup Asia berkumpul untuk pertama kalinya. Dari
pertemuan itu mengalir keinginan untuk mempererat ikatan persahabatan di antara
mereka dan untuk mendefinisikan serta mengartikulasikan apa artinya menjadi “Gereja
di Asia” dalam semangat Konsili Vatikan II. Pertemuan ini kemudian melahirkan Federasi Konferensi Para Uskup Asia–FABC;
bdk.
https://www.mirifica.net/fabc-50th-alasan-dibalik-logo/
[4]Apostolicam Actuositatem atau Dekret tentang Kerasulan Awam adalah
dokumen dari Konsili Vatikan Kedua.
Dokumen ini diresmikan oleh Paus Paulus VI pada 18 November 1965.
[5]OLF kepanjangan dari Office of Laity and Family,
Kantor Kerasulan Awam dan Keluarga.
[6]OSC kepanjangan dari Office of
Social Communication, Kantor Kerasulan Komunikasi Sosial.
[7]GA
kepanjangan dari General Assembly
yang diterjemahkan dengan “Sidang Umum”.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar