Rabu, 21 September 2011

MENGENANG GEMPA DAN TSUNAMI '92

Pesisir pantai Sinar Hading berubah wajah karena gempa & tsunami '92
Siang itu pukul 14.00 witeng. Tepatnya tanggal 12 bulan 12 tahun 1992. “Gelombang laut di Pantai Sinar Hading Kecamatan Lewolema, Kabupaten Flores Timur Nusa Tenggara Timur, mencapai belasan meter. Bahkan pucuk-pucuk pohon kelapa, tanaman khas di tepi pantai itu bisa dijangkau oleh gelombang laut, kenang aku ketika itu diucap oleh Kornelius Reket Ritan (60), salah seorang penduduk Sinar Hading yang waktu itu berada di tepi pantai.


“Sebelum gelombang laut itu menjulang tinggi, lebih kurang lima belas menit telah terjadi gempa yang besar sekali. Gempa besar saya lihat dari pohon-pohon kelapa dan pohon-pohon lain di tepi pantai bergoyang layak penari “tripping”. Selain tanda itu bahwa ada gempa besar, tanda yang tidak lazim yang dilihat waktu itu bahwa mendadak laut Teluk Hading mengering. Baru saya sadar bahwa mengering karena sebuah gunung dasar laut di Pantai Sinar Hading yang selama ini disebut ”Belang” tenggelam akibat gempa. Karena tenggelam, maka air laut yang ada tersedot masuk ke dalam kubangan. Coba bayangkan bagaimana air laut yang banyak itu tersedot masuk ke dalam kubangan, sehingga sejenak menjadi daratan”, cerita om Nelis yang sering disapa penduduk setempat.

Itu berarti bahwa “gunung dasar laut” yang selama ini disebut penduduk Sinar Hading sebagai “Belang” begitu besar. Akibat dari gempa, gunung dasar laut tenggelam. Air laut yang tersedot masuk ke dalam kubangan secara cepat mengakibatkan desakan dari dalam kubangan itu. Karena terjadi desakan itu maka air laut dari kubangan itu tersembur keluar dengan begitu kuat dan hebat. Penduduk Kawaliwu - Sinar Hading yang berada dibukit, di kebun menyaksikan semburan air laut dari dalam kubangan itu.

Jalan Lintas Kawaliwu-Belogili dibuka karna bencana alam 92 kini telah rusak parah.
Petrus Suban Liwun (53) menjelaskan gempa dan tsunami 92, ”semburan air laut itu mempunyai lima arah penjuru. Semburan warna merah seperti jet-roket, begitu kencang dan hebat menuju langit. Tidak tahu lagi apakah air laut yang disembur ke langit itu sudah jatuh dimana. Semburan berwarna hijau ke arah barat, menghantam ke wilayah Maumere. 

Semburan warna kuning ke arah Tanjung Bunga, menghantam Tanjung Bunga, sehingga tanjung itu bergoyang seenak saja seperti orang menggoyang daun di pohon. Semburan berwarna putih ke arah laut Flores. Semburan itu kelihatan dari jauh seperti dinding tembok yang terus bergeser semakin jauh dan akhirnya hilang dari pandangan mata. Dan semburan berwarna coklat menghantam daratan, di desa Sinar Hading. Akibatnya gunung Wai Kerewak dan bukit-bukit disekitarnya bergoyang ria. Asap kabut keluar dari gunung dan bukit. Terdengar suara batu-batu menggelinding jatuh ke tempat yang paling rendah.

Bahkan lebih jauh ke belakang, Hendrikus Haju Liwun (85) mengatakan bahwa nenek moyang kami sudah memberikan peringatan begini. ”Mio eka onok senang nawa kia, suu ara pira, mio be moi. Pi depan tite ile belang pi. Nae bela tajak, lango mio pe seng, kaca, dll pasti bela rusak.” (jangan senang dulu sekarang, beberapa tahun ke depan, gunung belang akan hancur maka tempat tinggal kalian akan rusak semua).

Efek dari gempa dan tsunami ’92, menyadarkan penduduk Sinar Hading, supaya lebih hati-hati menghadapi bencana. Bencana alam menurut penduduk setempat sebagai sebuah hukuman alam untuk manusia. Karena manusia sudah merusak alam dan tidak mampu memperbaiki alam. Setelah bencana, orang Sinar Hading, memanfaatkan lahan yang selama ini menjadi ladang berpindah-pindah menjadi lahan perkebunan dengan menanam kelapa, jambu mete, jati, lamatoro, dll. Selain itu, rumah-rumah penduduk yang rusak dibangun kembali dengan dinding papan dan keteka (bambu). Memang adanya dari tembok tetapi tidak penuh.

Dengan bencana alam (gempa dan tsunami ’92), Kawaliwu menjadi sebuah desa yang susah sekali bangkit dari kehancuran itu. Masyarakat masih trauma. Trauma mereka terobati manakala, tempat ibadat, Gereja mereka mulai dibangun kembali setelah 12 tahun gemba dan tsunami. ***

Senin, 19 September 2011

KEMURAHAN HATI ALLAH BAGI ORANG LAIN DISEKITAR KITA

dari kiri ke kanan: Bp. John Dj. R, A. Liwun dan Rm. A. Kriswinarto, MSF
”Kemurahan hati Allah bagi orang lain di sekitar kita, terkadang membuat kita iri hati”, ungkap Pastor Aloysius Kriswinarto, MSF dihadapan umat Katolik Komunitas Sta. Lusia, Tuing Paroki Sungailiat pada kunjungan bulanan (18/9/2011) di halaman kamp perumahan para pekerja PT. GPL. Kunjungan sebulan sekali itu, selain misa juga diisi dengan beberapa model pembinaan, yaitu pembinaan bagi orangtua yang mau membaptis anak-anaknya juga pembinaan bagi keluarga muda yang ”convalidatio” perkawinan mereka.

dari kiri: karyawan kebun sawit, Bie Lie, Bp. John Dj. R dan Lektor
Selain beberapa pola pembinaan kepada umat Katolik di Tuing yang telah disebutkan tadi, juga rencana ke depan akan diberi pembinaan yang lebih intensip tentang keterlibatan umat Tuing dalam kesatuannya dengan umat Paroki Sungailiat dan Keuskupan Pangkalpinang, kehidupan sosial, ekonomi dan kependudukan yaitu menyangkut membangun rencana keluarga yang bahagia.

Kunjungan bulanan kali ini, Romo Kris, pastor Paroki Sungailiat didampingi oleh Bapak John Djanu Rombang, koordinator seksi kerasulan keluarga dan komunitas basis gerejani, Alfons Liwun dan Bie Lie. Kami berangkat dari pastoran Sungailiat pukul 13.00 wib dan sampai di Tuing, mess Perkebunan Sawit PT. Gunung Pahlawan Lestari pukul 14.30 wib. Perjalanan cukup melelahkan karena jalan ke Tuing lumayan berat akibat beberapa bagian jalan yang telah rusak. Rusak akibat alat berat yang lewat untuk menggusuran lahan untuk TI atau perkebunan sawit.***