Jumat, 27 Juni 2014

Mari, Belajar dari Yesus Supaya Mampu Bersyukur kepada Bapa

(refleksi hidup hari ini)

1.     Teks Kitab Suci Hari Ini: Matius 11: 25-30
25Pada waktu itu berkatalah Yesus: "Aku bersyukur kepada-Mu, Bapa, Tuhan langit dan bumi, karena semuanya itu Engkau sembunyikan bagi orang bijak dan orang pandai, tetapi Engkau nyatakan kepada orang kecil. 26Ya Bapa, itulah yang berkenan kepada-Mu. 27Semua telah diserahkan kepada-Ku oleh Bapa-Ku dan tidak seorangpun mengenal Anak selain Bapa, dan tidak seorangpun mengenal Bapa selain Anak dan orang yang kepadanya Anak itu berkenan menyatakannya.

28Marilah kepada-Ku, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu. 29 Pikullah kuk yang Kupasang dan belajarlah pada-Ku, karena Aku lemah lembut dan rendah hati dan jiwamu akan mendapat ketenangan. 30Sebab kuk yang Kupasang itu enak dan beban-Kupun ringan."

2.     Penjelasan Teks Kitab Suci:
Membaca dan merenungkan teks ini, termaktub dua hal yang mendasar. Pertama, tentang ajakan bersyukur kepada Allah (ayat 25-27). Ajakan ini telah ditunjukkan Yesus dalam doa-Nya kepada Bapa di Surga. Isi doa-Nya adalah ucapan syukur, karena Bapa telah mengutus Dia sebagai Anak-Nya yang hidup bersama dengan manusia dan makhluk ciptaan Bapa. Kedua, setelah Yesus berdoa kepada Bapa-Nya, Ia mengajak kita untuk belajar dari Dia (ayat 28-30). Tujuan dari belajar dari Dia adalah supaya mampu bersyukur kepada Bapa, karena dengan belajar dari Dia, kita umat-Nya telah diberi kuasa yang kuat.

Dalam ayat 25, terbaca doa syukur Yesus. Doa syukur Yesus itu dialamatkan kepada Bapa. Sapaan Bapa, mengungkapkan rasa keakraban, kedekatan, sahabat karip, sudah saling kenal secara lebih mendalam satu sama lain. Karena sudah saling kenal maka tidak ada rahasia (Yunani: mysterion) lagi. Dan Bapa yang diungkapkan oleh Yesus itu adalah Penguasa langit dan bumi. Menjadi Penguasa langit dan bumi berarti Bapa menjadi Pemilik tunggal seluruh alam semesta. Ketersingkapan misterion Allah itu, disebut Yesus bukan untuk orang yang bijak dan pandai tetapi justru untuk orang kecil.

Disini Yesus membedakan orang bijak dan pandai, dengan orang kecil. Maksud Yesus orang bijak adalah orang yang mempunyai pengetahuan atau orang yang berilmu. Sedang orang pandai adalah orang yang pintar atau orang yang ber-IQ (intelek). Mengapa Yesus mengapakan bahwa misterion Allah tidak disingkapkan untuk mereka ini? Jelas bahwa dalam hidup mereka, karena merasa sudah bijak dan pandai, mereka tidak lagi mengandalkan Bapa di Surga. Bahkan mereka tidak lagi mengucapkan syukur kepada Bapa, mereka lebih mengandaikan kemahiran, kepintaran, kebijaksanaan diri sendiri, ketimbang mau mendengarkan dari Bapa.

Misterion Allah dinyatakan kepada orang kecil. Maksud Yesus orang kecil adalah orang-orang yang tertindas, tak berdaya, tidak memiliki kekuatan untuk berkarya, apalagi berkuasa. Dan dalam diri orang-orang seperti inilah, Yesus mengungkapkan diri sebagai Pembela dan bersedia membuka hati untuk mendengar dan mau menyelamatkan mereka. Tujuan misterion Allah tadi supaya rahasia Bapa yang menjadi Pemiliki alam semesta itu juga akan mereka rasakan juga. Ini sikap belarasa Yesus terhadap orang-orang kecil. Sikap belarasa Yesus terhadap orang-orang kecil inilah, ditegaskan oleh Yesus kepada Bapa-Nya sebagai sesuatu yang menyenangkan Bapa (ayat 26).

Yesus memiliki sikap belarasa kepada orang-orang kecil ini, karena Dia sendiri mengenal Bapa-Nya. Yesus dan Bapa benar-benar saling kenal, terungkap dalam ayat 27: bahwa Bapa menyerahkan semuanya kepada Yesus, Hanya Bapa yang mengenal Yesus, dan hanya Yesus yang mengenal Bapa, karena itu hanya Yesus-lah yang mengenal Bapa sehingga apa yang diungkap-Nya itu adalah ungkapan Bapa-Nya.

Karena misterion Bapa hanya Yesus yang mengenal dan mengungkapkan-Nya, Yesus lalu mengajak para murid-Nya untuk datang belajar dari Dia bagaimana mengenal Bapa yang dikenal Yesus itu. Ajakan Yesus ini ternyata ditujukan kepada para murid-Nya yang letih lesu dan berbeban berat; iya...ajakan untuk orang kecil supaya datang kepada-Nya. Karena Yesus tahu bahwa dalam diri mereka yang letih lesu dan berbeban berat ini, mereka sedang menginginkan-memimpikan kelegaan, kepuasan fisik dan mental, keselamatan secara keseluruhan dalam hidup mereka (ayat 28).

Kepada orang-orang kecil ini, Yesus meminta supaya belajar dari Yesus. Tidak hanya datang diberi makan-minum lalu pulang, setelah puas tidak datang lagi. Ini bukan maksud Yesus. Yang dimaksudkan Yesus ialah datang, duduk dekat kaki Yesus, belajar bagaimana menjadi murid yang setia dan taat kepada Sabda-Nya lalu pulang menjadi pelaksana Sabda-Nya yang setia dan taat. Setelah itu datang dan menimbah lagi kekuatan dari Yesus. Sebuah proses belajar yang terus menerus-tidak terputuskan oleh situasi apapun. Proses belajar lalu melaksanakan secara terus menerus adalah sebuah ‘kuk’. Yesus memakai kata ‘kuk’, kata ini sebenarnya cocok dipasang pada leher kerbau, agar kerbau itu bisa memikul beban sehingga bisa berjalan, tanpa beban itu jatuh dan menimpah kerbau (ayat 29).

Proses belajar pada Yesus yang terus menerus ini merupakan ‘kuk’ yang dipasang Yesus. Sehingga Sabda Yesus yang ada didalam hati dan pikiran kita menjadi penuntun dalam hidup dan bertahan dalam segala badai yang menghadangi kita. Karena dalam proses belajar pada Yesus bukan dengan cara kekerasaan tetapi dengan cara lemah lembut dan rendah hati. Sikap Yesus ini pun menjadi pedoman hidup kita ketika kita melaksanakan Sabda-Nya dalam hidup kita. Melaksanakan Sabda-Nya dengan lemah lembut dan rendah hati, bukan secara fanatik dan apalagi fundamentalis. Dengan menjadi pelaksana Sabda-Nya yang bersikap lemah lembut dan rendah hati, tentu diri sendiri pun merasa aman dan nyaman bahkan orang-orang yang kita jumpapun akan mengalami ungkapan sikap kita dengan rasa yang sama. Ketika kita murid-Nya memiliki kemampuan yang demikian ini, tentu Yesus pun akan merasa senang dan bahagia. Karena proses belajar pada Dia, tidak sia-sia (ayat 30).

3.     Implementasi Untuk Hidup Kita:
a.    Banyak orang beriman rajin berdoa kepada Yesus. Namun doa-doa mereka itu dengan topik utama ‘meminta dan memohon’. Bisa jadi jarang tema doanya ucapan syukur kepada Dia. Hari ini Yesus mengajak kita untuk selalu bersyukur kepada-Nya atas apa yang diperoleh dari Dia. Syukur karena kepada saya dan anda, diajak-Nya untuk selalu bersyukur kepada Bapa-Nya. Juga bersyukur karena dalam diri Yesus, satu-satunya orang yang mengenal secara mendalam tentang Bapa. Bersyukur kepada Yesus karena dalam diri-Nya, wujud Bapa yang tak kelihatan itu menjadi nampak nyata.

b.    Cara berdoa yang baik. Bahwa doa yang baik adalah doa kepada Bapa di Surga melalui Anak-Nya, Yesus. Dan isis doa yang pertama adalah ucapan syukur setelah itu mengungkapkan isi-isi doa yang lain.

c. Menjadi murid Yesus adalah datang kepada-Nya, belajar dari kelemahlembutan-Nya dan sikap kerendahan hati-Nya. Dengan begitu, kita murid-Nya menjadi pelaku Sabda-Nya dengan sikap dan cara yang sama seperti yang ditunjukkan kepada kita. Karena apa yang ditunjukkan-Nya itu berasal dari Bapa di Surga. Hanya Dia-lah yang menjadi wujud Allah yang dekat dengan kita umat-Nya.

d.  Menjadi murid-Nya, bukan hanya sekali saja datang kepada Dia. Sekali datang kemudian menghilang. Tidak seperti ini. Yesus justru mengajak para murid-Nya untuk datang dan belajar secara terus menerus, kapan dan dimana saja. Karena Dia ada melintasi segala ruang dan waktu. Belajar daripada-Nya tidak mengenal her atau remedial atau karena gagal lalu Dia berhentikan atau dipecat. Tidak. Sikap lemah lembut dan rendah hati-Nya akan menjadi ‘rahim’ yang mampu membuat para murid-Nya merasa aman dan nyaman menjadi pelajar dan pelaku Sabda-Nya.

e.  Datang dan belajar pada Yesus bukan seperti orang bijak dan pandai, tetapi seperti orang kecil, yang polos, yang mau belajar tanpa berkomentar dan protes kepada Yesus. Sikap rendah hati, itulah yang menjadi tuntutan ‘sekolah’ Yesus.

f.  Bagaimana cara kita datang dan belajar pada Yesus? St. Hieronimus mengatakan, barangsiapa tidak membaca Kitab Suci, ia tidak mengenal Kristus. Dalam Kitab Suci, Yesus sedang berbicara kepada kita. Ia sedang mengajarkan kita tentang Sabda-Nya. Karena mengenal Kristus jauh lebih mulia daripada segala pengenalan kita yang lain.


Akhirnya, kita mau menjadi ‘pelajar’ yang tanpa mengenal remedial dan menjadi pelaku Sabda-Nya dalam hidup penuh perjuangan ini. Karena dengan menjadi ‘pelajar’ yang setia dan rajin, tentu akan dipasang ‘kuk’ yang kuat sehingga mampu menjadi pelaku Sabda Yesus tanpa mengalami kesulitan dalam hidup ini. **al**

Bukan Hanya Sebatas Mendengar Tapi Melakukan

(refleksi hidup hari ini)

1.  Teks Kitab Suci Hari ini Matius 19: 21-29:
21Bukan setiap orang yang berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan! akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga, melainkan dia yang melakukan kehendak Bapa-Ku yang di sorga. 22Pada hari terakhir banyak orang akan berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan, bukankah kami bernubuat demi nama-Mu, dan mengusir setan demi nama-Mu, dan mengadakan banyak mujizat demi nama-Mu juga? 23Pada waktu itulah Aku akan berterus terang kepada mereka dan berkata: Aku tidak pernah mengenal kamu! Enyahlah dari pada-Ku, kamu sekalian pembuat kejahatan!"

24"Setiap orang yang mendengar perkataan-Ku ini dan melakukannya, ia sama dengan orang yang bijaksana, yang mendirikan rumahnya di atas batu. 25Kemudian turunlah hujan dan datanglah banjir, lalu angin melanda rumah itu, tetapi rumah itu tidak rubuh sebab didirikan di atas batu. 26Tetapi setiap orang yang mendengar perkataan-Ku ini dan tidak melakukannya, ia sama dengan orang yang bodoh, yang mendirikan rumahnya di atas pasir. 27Kemudian turunlah hujan dan datanglah banjir, lalu angin melanda rumah itu, sehingga rubuhlah rumah itu dan hebatlah kerusakannya."

28Dan setelah Yesus mengakhiri perkataan ini, takjublah orang banyak itu mendengar pengajaran-Nya, 29sebab Ia mengajar mereka sebagai orang yang berkuasa, tidak seperti ahli-ahli Taurat mereka.

2.  Penjelasan Teks Kitab Suci:
Ketika membaca dan merenungkan Sabda Yesus ini dengan lebih teliti, secara garis besar, muncul dalam benak saya pertanyaan berikut ini yang menggesek hati saya. ‘Siapa sih sebenarnya menjadi murid Yesus?’ ‘Apakah murid Yesus itu adalah pendengar setia Sabda-Nya atau pelaksana yang rajin dan setia Sabda Yesus, ataukah menjadi pendengar dan pelaksana Sabda Yesus itu?’

Ternyata seorang murid Yesus rupanya tidak hanya sebatas ‘berdoa’ melulu. Memang dalam ‘doa-doa’ baik doa secara pribadi atau doa-doa dalam kebersamaan, selalu kita menyapa Yesus dengan sapaan yang khas. Ayat 21 teks ini, Yesus menyebut bahwa dalam doa-doa itu kita menyapa-Nya dengan Tuhan. Menyapa-Nya dengan Tuhan, tidak salah. Tepat sekali, karena ketika kita mengucapkan ini, Yesus telah dimuliakan dalam Surga. Dan tentu ucapan atau sapaan kita ini berangkat dari ungkapan hati yang tulus ikhlas sebagai berimanan kita.

Kata Tuhan yang dipakai Matius berasal dari kata Yunani ‘kyrios’ yang artinya ‘tuan.’ Kata kyrios disebut Matius dalam hubungan dengan penghakiman. Maka pada ayat ke-22-23, Yesus menyebut ‘pada hari terakhir’... Itu artinya bahwa sebagai murid Yesus selama hidupnya, titik ukur keberimanan kita kepada Yesus, hanya Dia-lah yang tahu. Namun titik ukur ini secara jelas sudah ditegaskan pada awal ayat 21. Bukan setiap orang yang berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan, Tuhan, masuk ke Surga tetapi mereka yang melakukan Sabda Tuhan. Disini jelas sekali, Yesus mengetahui siapa sih sebenar menjadi murid-Nya. Maka kita boleh merumuskan disini, siapa sih menjadi murid Yesus itu? Murid Yesus sejati ialah mereka yang beriman kepada-Nya dengan sepenuh hati. Maksud adalah mereka yang tidak hanya mendengarkan Sabda Tuhan dengan setia tetapi dengan setia juga melaksanakan dalam hidup riil setiap hari. Lalu menjadi murid Yesus hanya sebatas mendengar atau melakukan saja, ia bukan menjadi murid Yesus yang sejati. Karena titik ukurnya ialah mendengar dan melakukan sebagai suatu kesatuan proses yang nyata-dan timbal balik, maka boleh jadi siapapun boleh menyatakan diri sebagai murid Yesus, namun titik ukuran ini terbongkar ketika hari penghakiman. Di hari inilah, kesejatian sebagai murid akan diketok palu, masuk surga atau neraka.

Lalu pada ayat 24-27, Yesus menyampaikan kejelasan lagi soal menjadi murid-Nya dengan membandingkan orang yang membangun rumah di atas batu atau di atas pasir. Yesus memuji kesejatian murid-Nya bahwa siapa pun murid-Ku yang mendengar dan melakukan Firman, dialah orang yang bijaksana. Karena apa yang dilakukannya itu sama dengan orang yang membangun rumah di atas batu. Pasalnya, ia sudah melihat ke depan situasi hidupnya. Bahwa selama hidup ini pasti saja ada tantangan dan halangan yang bisa saja datang baik secara alamiah maupun secara buatan tangan orang-orang lain atau nabi-nabi palsu. Dengan cara berpikir dan berpola hidup untuk masa depan, jelas bahwa apa yang telah dilakukannya itu mampu mengatasi segala cobaan dalam hidup.

Hal ini jauh berbeda sekali dengan orang yang mengatakan diri sebagai murid Yesus, tetapi ia hanya mendengarkan Sabda Tuhan atau hanya melakukan Sabda Tuhan. Lalu ia berpresiden bahwa Yesus itu adalah mahakasih karena itu Yesus pasti mengampuni kesalahan orang. Orang yang hanya mampu memilahkan ini, Yesus menyamakannya dengan orang bodoh, yang memabngun rumah di atas pasir. Dan jelas bahwa ketika rintangan dan halangan apa saja yang datang, tentu akan roboh dan hancur berantakan. Biasanya orang seperti ini lalu memiliki kemampuan untuk menyalahkan Tuhan. Mengapa Tuhan tidak ada saat aku mengalami situasi seperti ini? Dan lain-lain lagi pertanyaan yang memojokan Tuhan.

Pengajaran Yesus tentang siapa sih murid-Nya ternyata membuka mata hati para pendengar-Nya, tentu termasuk kita-kita ini. Sikap para pendengar yang muncul adalah mengagumi dan tercengang akan pengajaran Yesus, karena pengajaran-Nya itu amat berwibawa, punya otoritas yang berasal dari Bapa-Nya. Sikap ini mau menyampaikan kepada kita bahwa ternyata menjadi murid-Nya tidak hanya sebagai pendengar setia dan rajin berdoa, tetapi sebenarnya setia dan rajin juga dalam melaksanakan Sabda Tuhan yang sudah didengar itu. Bisa beriman kepada Yesus karena mendengarkan, tetapi iman tanpa berbuatan adalah mati. Dengan pengajaran Yesus ini, sebenarnya mau mengkritik para ahli Taurat yang hanya hebat membuat banyak aturan dan menjadi pengajar yang hebat tentang Taurat tetapi tidak mampu melakukannya dalam hidup mereka.

3.  Relevansinya Untuk Hidup Kita:
a.    Berdoa yang terus menerus dan rajin, ternyata tidak menjamin masuk Surga. Berdoa yang terus menerus dan rajin itu sangat baik. Tetapi bukan hanya sebatas itu. Berdoa adalah menambah ‘amunisi’ untuk menjadi kekuatan dalam melakukan isi doa. Atau dengan bahasa Matius tadi, bukan hanya mengambil Tuhan, tetapi juga melakukan Sabda Tuhan. Hubungan doa dan kenyataan hidup adalah satu kesatuan yang utuh.

b.    Kesejatian menjadi murid Yesus hanya diketahui oleh Yesus ketika kita sudah meninggal. Tidak ada orang yang mampu mengetahui atau mengukurnya. Ukurannya memang jelas ‘mendengar dan melakukan Sabda Tuhan secara nyata dalam hidup. Tetapi untuk mengetahui, hanya pada Yesus sendiri. Kalau dipikir-pikir menjadi murid Yesus yang sejati (bijaksana-orang yang membangun rumah di atas batu) dan menjadi murid Yesus yang tidak sejati (bodoh-orang yang membangun rumah di atas pasir), hanya ukuran tipis didalam batin setiap orang. Karena ukurannya ada didalam batin, sangat sulit diketahui oleh sesama, hanya dapat diketahui oleh Yesus sendiri.

c.    Perziarahan hidup manusia beriman kepada Yesus, tentu mengimpikan keselamatan abadi. Supaya dapat mencapai hal itu, Yesus mengatakan seorang murid-Nya harus mendengarkan dan menjadi pelaku Sabda-Nya. Yang mendengar dan menjadi pelaku Sabda-Nya adalah orang yang bijaksana, sedang yang tidak melakukan kedua-duanya atau hanya satu diantara keduanya itu disebut-Nya sebagai orang bodoh.

Orang bijak akan masuk Surga dan orang bodoh akan diusir-Nya. Bukan hanya diusir-Nya tetapi bahkan Yesus pun tidak mengenal orang itu atau menyangkalnya. Kalau dipikir-pikir, sudah menjadi murid-Nya: sudah hanya mendengarkan Sabda-Nya atau hanya melakukan Sabda-Nya, malah diusir dan disanksikan-Nya serta dianggap sebagai pelaku kejahatan pula. Untuk hal ini, yang mau ditegaskan Yesus disini ialah bagaimana cara berpikir dan memahami secara mendalam menjadi murid Yesus secara holistik.


Akhirnya, dengan kita membaca dan memahami dengan lebih baik Sabda Tuhan hari ini, kita dapat menghayati bagaimana menjadi murid-Nya yang sejati. Bahwa kesejatian menjadi murid Yesus ialah mendengarkan Sabda-Nya dan melakukan Sabda-Nya itu dalam hidup sehari-hari. **al**

Senin, 23 Juni 2014

Yesus Memberikan Peringatan kepada Manusia yang tidak mau Mengintrospeksi Dirinya

(refleksi hidup hari ini)

Teks Kitab Suci hari ini: Matius 7: 1-5
1"Jangan kamu menghakimi, supaya kamu tidak dihakimi. 2Karena dengan penghakiman yang kamu pakai untuk menghakimi, kamu akan dihakimi dan ukuran yang kamu pakai untuk mengukur, akan diukurkan kepadamu. 3Mengapakah engkau melihat selumbar di mata saudaramu, sedangkan balok di dalam matamu tidak engkau ketahui? 4Bagaimanakah engkau dapat berkata kepada saudaramu: Biarlah aku mengeluarkan selumbar itu dari matamu, padahal ada balok di dalam matamu. 5Hai orang munafik, keluarkanlah dahulu balok dari matamu, maka engkau akan melihat dengan jelas untuk mengeluarkan selumbar itu dari mata saudaramu."

Penjelasan Teks Kitab Suci:
‘Menghakimi’ sama katanya dengan ‘mendiskreditkan’, ‘menghukumi’, dan ‘membuat seseorang malu atau terpojok’. Apalagi, tindakan ini dilakukan di depan beberapa orang atau publik. Perilaku semacam ini tentu tidak bersikap bijak, intoleran, dan lebih dari itu memunculkan sikap sombong angkuh, dan mau menang sendiri dari orang yang melakukan, disatu sisi. Dan disisi yang lain, akan memunculkan sikap benci, jengkel, amarah, dan dendam kusumat dari yang mengalami tindakan itu. Tidak heran, jika Yesus memberikan peringatan kepada kita pada ayat 1, ‘Jangan kamu menghakim, supaya kamu tidak dihakimi.’ Pernyataan Yesus ini terasa sepele namun memiliki efek yang besar untuk hidup sebagai satu masyarakat Allah.

Tindakan menghakimi, akan memunculkan efek balas dendam di masa yang akan datang (ayat 2). Seolah-olah, seseorang yang mengalami akibat penghakiman itu, dalam hati dan pikirannya akan berkata, ‘tunggu saatnya kamu, pasti kamu akan mengalami hal yang sama pada suatu saat’. Ungkapan ini pun terlihat sepele. Namun, punya efek juga pembalasan yang akan dialami. Jika ungkapan ini didengung terus menerus, iya....semacam ‘doa’ yang berisi negatif-kutukan yang akan terjadi. Mengapa? Dalam hidup manusia tidak terlepas dari gejolak hal positip dan negatif. Bagaikan sebuah roda yang terus berputar dan pada saatnya akan mengalami sikap hidup negatif.

Karena itu, harus perlu bersikap hati-hati dan bijaksana dalam hidup ini. Sikap hati-hati ialah sikap diri yang mampu mengendalikan sesuatu keinginan. Sikap hati-hati sama dengan sikap waspada. Ini hal positip yang perlu dilakukan. Karena itu, dalam mengungkapkan atau mengambil tindakan sesuatu kepada orang lain, perlu dipikirkan dan dibarengi dengan sebuah pertimbangan yang matang, soal efektivitas hidup ke depan. Sikap bijaksana ialah sikap mempertimbangkan hal positip yang seharusnya lebih banyak dari pada hal negatif, sehingga yang muncul adalah positip thinking. Terhadap sikap hati-hati dan bijaksana ini, (ayat 3-4), Yesus mendukung dengan mendalami kedua sikap ini dengan sebuah solusi yang amat efektif, yaitu lebih baik dan bijak bila diri sendiri mengoreksi diri terlebih dahulu, sebelum keluar dari diri mengoreksi orang lain yang ada disekitar kita. Karena bukan orang lain tidak mampu mengoreksi diri orang lain, tetapi justru dia tahu diri, bahwa dirinya juga tidak lebih baik dari orang lain.

Jika sikap keberanian kita tidak mengoreksi diri sendiri, itu artinya bahwa kita membiarkan diri untuk tetap berada dalam ‘lumpur’ lalu tanpa sadar mengajak orang lain, masuk dalam lumpur yang sama. Jika inilah yang dilakukan, Yesus akan menyapa kita dengan sebutan yang sangat tidak manusiawi: ‘hai kamu orang munafik’ (ayat 5). Munafik adalah sikap menggeneralisasi kebenaran dalam dirinya dan dengan sikap berani mempersalahkan orang lain.

Relevansinya Untuk Hidup kita hari ini:
a.     Introspeksi diri sama dengan memeriksa batin. Introspeksi diri ialah usaha untuk masuk ke dalam diri sendiri. Masuk ke dalam diri lalu mengenal diri dengan segala kelebihan dan kekurangannya. Keduanya harus diakui, harus diterima dengan sikap jujur dan tawakhal. Kelebihan ditingkatkan dalam membangun relasi baik dengan Tuhan maupun dengan sesama. Kekurangan diri juga harus berani untuk diperbaiki. Memperbaiki sendiri tentu banyak orang akan berpikir gampang. Jika ini yang selalu dipikirkan maka perbaikan tidak akan terjadi. Memperbaiki diri pun harus dalam relasi dengan Allah, sehingga kita mampu dan jujur dihadapan Allah. Perbaikan diri dalam relasi dengan Allah itu, harus nyata bahwa benar sudah diperbaiki dalam hidup dengan sesama. Ini wujud konkrit.

Ternyata tindakan mengintrospeksi diri tidak gampang dilakukan. Bahkan tidak terus menerus dijalankan. Ini kesulitan. Sehingga terkadang banyak orang jatuh dalam sikap lebih mudah menghakimi atau mempersalahkan orang lain, ketimbang diri sendiri. Lebih parah lagi, karena situasi menjepitnya, seseorang lalu mempermalukan seseorang atau orang lain di depan publik. Tidak mudah orang mempersalahkan dirinya sendiri. Selalu mencari jalan untuk mempersalahkan orang lain.

Hari ini, warta Yesus mengingatkan kita, supaya lebih giat berusaha untuk mengenal diri sendiri sebelum mengenal diri orang lain. Memang terkadang orang lain terlihat lebih ‘menarik’, lebih dibilang ‘seksi’ karena gemuk, kurus, ramping sehingga mau mengenal orang lain lebih dalam lagi. Namun, ini terasa hanya lahiriah saja. Lebih bijaksana diri sendiri perlu berusaha untuk mengenal diri sendiri. Mungkin lebih baik dan bermartabat, semestinya setiap saat selalu mempunyai waktu luang walau hanya sedetik atau semenit melihat dan memahami diri dan tindakan kita. Sehingga apa yang dibuat nanti, tidak menjadi batu sandungan untuk orang lain bahkan bagai bumerang yang kembali menghantam diri sendiri.

b.     Introspeksi diri bukan kemudian menjadi bersikap egoisme diri atau menjadi orang yang tertutup. Karena itu, dalam berpola pikir tentang manusia, manusia adalah dinamis bukan statis. Manusia dinamis, adalah manusia yang berziarah meningkatkan kelebihan dan memperbaiki kekurangan. Tidak ada manusia yang tidak mampu memperbaiki kelemahan atau meningkatkan kelebihan. Yang tidak mampu itu adalah makhluk infrahuman. Karena itu, tentu membutuhkan orang lain untuk menyemangati bukan mengkerdilkan atau mengotak-kotaknya.

Akhirnya, selamat mengintrospeksi diri dan selamat berziarah untuk menjadi manusia yang dinamis yang melihat kehidupan baru di masa depan.***