Jumat, 07 September 2012

EFATA: TERBUKALAH...


Pastoran Stasi Air Sena Paroki Tanjungpinang
Dalam Lukas 11:20 bdk. Matius 12:28, terdapat kalimat Yesus yang mengagumkan soal jawaban-Nya terhadap tuduhan orang Farisi ketika Yesus mengajar dan membuat mukjizat. Kalimatnya demikian: ”Tetapi jika Aku mengusir setan dengan kuasa Allah, maka sesungguhnya Kerajaan Allah sudah datang kepadamu.”

Kalimat yang diucapkan Yesus di atas sinkron dengan kalimat yang ada didalam bacaan pertama yang diambil dari Kitab Yesaya (Yes. 35: 4—7a). Bahwa keselamatan itu terjadi jika Allah hadir didalam peristiwa dunia. Tanda-tandanya ialah orang lumpuh berjalan, orang buta melihat, orang tuli mendengar... Tindakkan nyata dialami oleh manusia, selamat dari suatu peristiwa.

Tanda-tanda yang diberikan Yesaya, tertuju pada pribadi Yesus. Kehadiran-Nya menandakan bahwa Allah yang diimani itu hadir dan berada didalam peristiwa hidup manusia. Karena itu, manusia yang beriman seperti yang dikisahkan Yakobus (Yak. 2: 1—5) dalam bacaan kedua hendaknya tidak boleh takut dengan apa yang sudah dimiliki didalam dirinya yaitu iman itu sendiri. Iman membantu kita untuk hidup bersama walaupun berasal dari berbegai latar belakang hidup. Iman mempersatukan kita semua dalam satu kawanan Kristus yaitu Gereja.

Iman, sejatinya mengundang kita untuk ”efata”, terbukalah dengan diri sendiri dan dengan Allah (Mrk. 7: 31—37) yang senantiasa hadir dan berada menyertai Gereja-Nya. Dengan iman, kita membuka diri, untuk bermisi.

Dalam kehidupan nyata kita, sesering mungkin kita lupa akan hal ini, iman kita. Kita menjadi tuli, tuli terhadap jeritan sesama kita yang meminta pertolongan dan tuli terhadap sapaan/undangan Yesus untuk bersama Dia. Kini, saat-Nya Yesus hadir dan menyapa kita ”terbukalah...” kepada sesama dan kepada Allah. Dengan kita membuka hati, kita mampu mengaamalkan iman kita,  dalam kata dan perbuatan. ***

Selasa, 04 September 2012

OMONG DOANK: SHARING INJIL


Kelompok IV Bahas Sidang Sinode II Tingkat Paroki
Agenda utama di setiap Komunitas Basis Gerejawi Paroki-paroki Keuskupan Pangkalpinang yang sekarang diminta oleh “Pedoman Pastoral Keuskupan Pangkalpinang, Post Sinode II adalah “Sharing Injil.” Sharing Injil bukan ibadat sabda. Sharing Injil amat jauh berbeda dengan ibadat Sabda. Sharing Injil, sebuah cara kita secara partisipatif membaca, merenung, menghayati dan melaksanakan Sabda Allah. Dalam sharing Injil ada banyak metode. Namun, berdasarkan Pedoman Pastoral Keuskupan Pangkalpinang No. 206.3 Metode 7 Langkah adalah cara bagi KBG untuk membaca, merenung, menghayati dan melaksanakan Injil.

Sharing Injil, cara kita terhubung dengan Yesus. Hubunganya, kita membaca, merenung, menghayati dan melaksanakan Sabda Allah dalam tindakan nyata. Langkah demi langkah dalam sharing Injil adalah sharing. Jika sharing maka kita memakai kata aku atau saya. Karena yang disharingkan adalah pengalaman pribadi. Bukan pengalaman orang lain.

Karena sharing injil merupakan agenda utama KBG, maka peran fasilitator dan pengurus KBG sangat penting. Karena mereka adalah ujung tombaknya KBG. Firman Allah itu, dinyatakan dalam tindakan, tergantung komitmen anggota KBG. ***