Sabtu, 01 September 2012

LAKUKAN DENGAN SETIA...

Bersama anak TK berdoa di depan altar
Kitab Suci adalah Allah yang menjelmah dalam Sabda, dan Sabda itu telah hidup dalam diri Yesus, wahyu Allah yang hidup. Maka ketika kita membaca dan mendengarkan Sabda Allah, sebenarnya Allah yang hidup dalam diri Yesus yang sedang bersabda dan mengajarkan kepada kita ajaran-Nya.

Dengan kita membaca, merenungkan, menghayati dan melaksanakan Sabda Allah, Kitab Ulangan (4:1 - 2, 6 – 8) memuji kita sebagai orang yang memelihara Hukum Allah. Kita adalah orang yang meneruskan Sabda Allah itu dalam hidup.

Sepadan dengan Kitab Ulangan, Rasul Yakobus (1:17-18,21b-22,27) pun menekankan makna terdalam dari membaca Kitab Suci. Kita tidak hanya membaca, tetapi hendaklah menjadi pelaku firman Allah. Jika kita hanya sebatas membaca tanpa merenung, menghayati dan melaksanakan firman Allah, kita adalah penipu. Disini, Rasul Yakobus meminta kita, bukan hanya mengajar tetapi teladan hidup,  jauh  lebih  bernilai  bila disandingkan dengan hanya membaca atau pengajar. Dengan kita melakukan Sabda Allah dengan setia dalam tindakan kita, kita adalah murid-Nya.

Mendengar keluh-kesah Lanzia
Injil Markus menyebut kelompok Farisi dan ahli Taurat sebagai contoh pelaku yang tidak melaksanakan Sabda Allah walaupun mereka sendiri penjaga Hukum Taurat. Karena itu Farisi dan ahli Taurat bukan pelaku sabda tetapi pemonitoring yang berhati busuk, yaitu selalu mencari titik cela untuk menghina orang. 

Di zaman ipad ini, banyak sekali orang katolik yang begitu sibuk bekerja lupa akan sesuatu hal yang dibutuhkan dalam hidup, yaitu Kristus yang hidup dan menyertainya. Ini saja susah, apalagi membaca dan seterusnya menjadi pelaku firman Allah. Bisa saja menjatuhkan dan memilih bersikap seperti Farisi dan ahli Taurat modern.

Dengan mengutip nabi Yesaya, Markus mau menegaskan kepada para pengikut Yesus, bahwa percuma bila beribadah dengan mengikuti peraturan yang detail tetapi tidak melakukan hukum Allah itu dalam tindakan nyata. Maka Markus mau menegaskan bahwa teladan hidup itu amat penting bila hanya membaca dan mengajar dengan kata-kata. Aksi nyata, jauh lebih penting. Bukan hanya dengan bibir saja kita mengumandangkan pujian kepada Kristus tetapi lebih jauh dari itu, dengan teladan yang nyata. Tanpa itu pengikut Yesus hanyalah pengajar yang penipu, kata Yakobus. ***

Kamis, 30 Agustus 2012

PERBAHARUI HATI DENGAN ROH KUDUS



Refleksi atas perjalanan hidup bangsa Israel ditemukan ada pasangan surut dalam menjalin hubungan dengan Allah. Ketika mereka hidup dalam sukacita, gembira ria dan hidup dalam kemewahan karena kerja berhasil, Allah menjadi fokus utama dalam relasi hidup mereka.

Misa Pentekosta di Paroki Belinyu Bangka 2012
Namun ketika hidup itu dipenuhi dukacita, penderitaan, dan banyak tantangan untuk meraih kesuksesan, mereka lupa akan Allah. Bahkan mereka mengutuk Allah, karena Allah tidak menolong mereka.

Kitab Yosua (. 24:1-2a, 15-17, 18b) dalam bacaan pertama mengisahkan bagaimana Yosua menjadi pemimpin yang mengatur bangsa Israel untuk kembali membangun ibadah kepada Allah, walaupun hidup selalu dialami tidak seperti yang diharapkan. Membangun perjanjian dengan Allah berarti kembali kepada manusia baru seperti pada awal ciptaan Allah.

Untuk bertahan dalam martabat ciptaan Allah, Paulus (Ef. 5: 21—32) memberikan sekurangnya dua tips dasar agar perjanjian dengan Allah tetap bertahan. Dua tips itu aadalah rendah hati dan saling mengasihi seperti relasi suami isteri. Rendah hati sama dengan tidak sombong. Bisa dijalankan. Tetapi bertahankah kita untuk bersikap rendah hati? Saling mengasihi seperti hidup suami isteri, begitu relasi yang diajar Paulus dan mudah untuk diikuti. Namun, bertahankah kita dalam saling mengasihi satu terhadap yang lain walau dalam penderitaan?

Agar tetap bertahan dalam relasi dengan Allah, Yesus (Yoh. 6: 60—69) tampil dan memberikan diri-Nya. Diri-Nya adalah Roti hidup; yang memberikan semangat untuk tetap bertahan dalam kasih dengan Allah. Roti hidup yang telah disantap akan mengalirkan kekuatan bagi jiwa. Jiwa seperti disegarkan kembali. Roh yang beri hidup. Dalam Roh, raga tertopang dan tegak berdiri dan berkarya. Tanpa Roh, raga tidak mempunyai nilai guna. Karena itu, hendaknya selalu perbaharui hidup dalam Roh. ***

Selasa, 28 Agustus 2012

OMONG DOANK: SUKARELA...


Kata “SUKA RELA” mempunyai nilai yang luar biasa dalam. Suka rela sama katanya dengan gratis. Bila kita memaknai kata ini maka suka rela adalah pemberian diri secara gratis. Wah…sama dengan Yesus. Memberikan diri-Nya secara gratis kepada manusia, menebus dosa-dosa manusia, yang seharusnya ditanggung manusia sendiri.

Coba kata SUKA RELA itu, tidak ada RELA hanya ada SUKA saja, maka secara perlahan-lahan makna yang muncul adalah tidak gratis. Suka mempunyai nilai, mau, perlu dibayar, perlu ada imbalan. Apalagi dunia sekarang, tenaga, pikiran dan waktu selalu diperhitungkan.

Coba kata SUKA RELA itu, tidak ada SUKA, hanya ada RELA aja. Maka yang ada dalam hati kita adalah suatu ketulusan, ikhlas. Rela, jarang terjadi. Tidak mungkin setiap kali, selalu rela. Artinya miskin-lah, tidak punya apa-apa. Jika tidak ada SUKA-RELA, sia-sia-lah penebusan Yesus bagi kita. Suka rela yang ditunjukkan-Nya, tidak kita teruskan. Maka pertanyaannya: bagaimana dengan misi kita sebagai orang kristen? ***