Senin, 21 November 2011

AsIPA II INTERNATIONAL DI BATAM (13-21 NOVEMBER 2011)

SHARING PENGALAMAN
“VISITASI PESERTA AsIPA II INTERNASIONAL
KE KBG BATAM”

AsIPA II di Batam Harumkan Nama Keuskupan Pangkalpinang di Level International” saya ingin mensharingkan pengalaman selama mengikuti proses pertemuan AsIPA II tersebut. Mudah-mudahan sharing pengalaman saya ini berguna bagi kita semua yang membacanya.

Pertemuan AsIPA II di Batam

Selama ini pertemuan AsIPA berpindah-pindah dari satu negara ke negara lain di Asia. Tanggal 13-21 Oktober 2011, Indonesia khususnya Keuskupan Pangkalpinang didaulatkan menjadi tuan rumah temu AsIPA II. Karena menjadi tuan rumah, maka tuan rumah pun membutuhkan waktu dan tenaga untuk pelaksanaan temu AsIPA II. Rm. Frans Mukin dan Rm. Poya selaku Deken Selatan dan Utara ditugaskan Bapa Uskup untuk menyiapkan kepanitiaan pelaksanaan pertemuan. Tidak heran, pertemuan yang berlevel International itu berjalan dengan lancer dan aman-aman saja.

Pertemuan dilaksanakan di Hotel Pasific Sei Jodoh Batam. Peserta pertemuan sebanyak 62 orang yang berasal dari 11 negara di Asia seperti Korea, Singapura, India, Srilanka, Taiwan, Philipina, Thailand, Malaysia, Hongkong, Mynmar dan Indonesia. Peserta terbanyak yang diutus dari Indonesia, Pangkalpinang, 18 orang, menyusul dari Thailand sebanyak 16 orang. Sedangkan negara-negara lain hanya mengirim 1 sampai 5 orang. Banglades yang seharusnya mengutus 9 orang, dinyatakan batal karena terkendala visa masuk ke Indonesia.

AsIPA: apa itu?

Asian, Integral, Pastoral, Approach atau sering disebut Pendekatan Pastoral secara Integral di Asia. AsIPA lahir pada tahun 1993 di Malaysia. Produk dari kerjasama Federation Asian Bishop’s of Conferences (FABC) khususnya Komisi Perkembangan Manusiawi dan Komisi Awam. Lahirnya AsIPA mendukung pernyataan akhir para uskup Asia  dalam Sidang Paripurna kelima di Bandung, Indonesia tahun 1990.

Hampir kebanyakan orang di komunitas basis kita ketika mendengar AsIPA, pikiran terarah kepada metode sharing Injil 7 Langkah. Benar! Tapi, sebenarnya sharing Injil 7 langkah hanyalah satu bagian kecil dari modul-modul yang disiapkan oleh para anggota tim AsIPA.

Dalam AsIPA, dikenal empat modul yaitu modul A-D. Modul A sebanyak delapan kali pertemuan yang membahas langkah demi langkah sharing Injil, metode bercermin pada Kitab Suci dan metode melihat-mendengar-mencintai Sharing Injil atau sering dikenal kesadaran-refleksi-aksi. Modul B sebanyak dua belas kali pertemuan. Modul ini mengajak peserta mengerti dan memahami apa itu Komunitas Basis Gerejawi. Bagaimana sebuah komunitas basis dikelola dengan baik dan bertumbuh dalam relasi dengan Allah dan keterkaitannya yang erat dengan Gereja universal.

Selain modul tadi, masih ada modul C dan D. Modul C mengajak para peserta pelatihan untuk mengerti dan memahami sebuah Gereja Partisipatif. Bahwa Gereja Partisipatif adalah Umat Allah. Para pastor, biarawan-biarawati, dan kaum awam bersama-sama dalam persekutuan mengambil bagian dalam tugas perutusan Kristus baik di komunitas basis maupun di paroki. Bersama-sama mempunyai tanggung jawab untuk mengembangkan dan mewujudkannyatakan Gereja Partisipatif. Dalam kebersamaan itu, karunia-karunia Roh yang ada dalam diri tiap-tiap pribadi memungkinkan untuk berpartisipasi dalam sebuah Gereja Partisipatif. Dan modul D berbicara tentang Kepemimpinan dalam Gereja Partisipatif. Modul ini tidak mengenal kepemimpinan otoriter atau yang mendominasi, namun kepemimpinan yang partisipatif, yang memberi arah. Kepemimpinan yang mampu mengumpulkan banyak kharisma dan mampu membedakan kemampuan setiap anggota untuk menangani bermacam karya pelayanan berdasrkan kharisma-kharisma yang diterima dari Allah.

Dari modul-modul yang disiapkan oleh Tim AsIPA, cocok untuk kita di Keuskupan Pangkalpinang. Cocok karena hasil Sinode II kita pun mempunyai arah yang sama yaitu pemberdayaan Komunitas Basis sebagai bagian yang utuh dari paroki dengan berpusat pada Tritunggal Maha Kudus. Modul ini hemat saya, sangat cocok untuk membangun kesadaran agen pastoral khususnya para pastor yang menangani parokial. Tanpa keterlibatan para pastor akan kesadaran baru dalam modul-modul AsIPA, saya pikir agen pastoral yang lain akan “macet.”


Visitasi Peserta AsiPA II ke Paroki dan KBG Paroki Damian

Ke-62 peserta AsIPA II dibagi dalam tiga kelompok, berdasarkan tiga paroki di Batam yang mau dikunjungi. Ada 16 peserta mengungjungi KBG-KBG di Paroki Damian. 16 peserta lagi mengunjungi paroki Tembesi dan 23 peserta yang lain mengungjungi paroki Tiban.

Kunjungan peserta AsIPA ke ketiga paroki disambut hangat oleh umat di masing-masing paroki. Mengana tidak? Peserta dijemput pakai mobil-mobil pribadi di hotel pada minggu pagi (16/10). Setelah sampai di paroki, disambut oleh para penerima tamu di gereja. Ada peserta yang masih menunggu waktu misa sambil duduk di pastoran, tapi ada yang langsung masuk ke dalam Gereja. Tempat duduk pun disiapkan secara khsusus. Sedangkan peserta pastor langsung masuk sakristi memakai perlengkapan misa untuk misa konselebran. Suasana di dalam Gereja menjadi lain. Apalagi koor misa minggu itu, misalnya di Paroki Damian begitu merdu dan membahana dalam Gereja. Sampai-sampai Rm. Frans Mukin pun mengakui kehebatan koor yang menyanyikan lagu-lagu Gregorian. “Koor itu begitu hebat, tapi bukan koor paroki. Koor itu dari Stasi Kabil."


Kunjung ke KBG-KBG

Kunjung ke KBG-KBG adalah suatu kesempatan yang bagus. Mengapa? Karena di sana, di KBG-KBG kami menyaksikan kehidupan berkomunitas secara lebih dekat. Kami melihat bahwa umat yang tiap hari minggu ke gereja paroki, mereka menjalankan misi hidup sebagai satu anggota komunitas. Misalnya, tiap-tiap anggota bekerjasama untuk mensukseskan sharing Injil di komunitas dengan keterlibatan semua anggota keluarga untuk hadir dalam sharing Injil, orangtua mengantar anak-anak mereka untuk mengikuti sekolah minggu di komunitas pada setiap hari minggu siang atau sore. Bp. Ruben Tarigan, salah satu anggota dan pengurus KBG St. Kanisius Botanawa, menceritakan seputar keterlibatannya. "Saya sudah aktif di KBG sejak 1989 saat itu saya dan tiga keluarga lain membentuk KBG Kanisius ini. Waktu itu kami baru empat KK sekrang sudah 90-an KK. Komunitas ini semakin berkembang. Disamping itu kami juga tiap sore antar anak-anak untuk ikut sekolah minggu. Kelihatan kami begitu sibuk, tetapi kami percaya bahwa Allah selalu hidup dalam diri kami."

Berbeda dengan pengalaman Bp. Ruben, Bp. Marianus Aritonang, salah seorang pengurus KBG Kanisius bahwa ketrlibatan kami karena panggilan Yesus terhadap diri saya. Saya bekerja dan bekerja tetapi tidak melupakan Tuhan, juga kegiatan KBG. 

Mudah-mudahan kedepan KBG St. Kanisius pun semakin berkembang.
Salam!

Rabu, 28 September 2011

"JANGAN ANGGAP REMEH LEBAH HUTAN"

Ufuk timur Bedukang, sebuah desa di Kecamatan Riau Silip, Kabupaten Bangka berawan gelap. Tanda alam ini bukan mau hujan. Tapi kemarau. Rumah-rumah yang berada di pinggir jalan itu, sepi. Tak satu orang pun lalulalang disitu. Jalan raya yang berhubungan dengan tepi pantai Bedukang itu, berdebu tebal. Memang setengah beraspal tetapi terlihat kecoklatan, warna asli tanah di desa itu.

Masyarakat diaspora Maumere Flores yang menempati rumah-rumah di pinggir jalan setengah beraspal dan setengah tanah merah menuju pantai Bedukang itu, telah berangkat kerja. Hampir semua penduduk diaspora asal Maumere Flores itu, setiap hari meramu biji timah di Camuy. Biji timah, menjadi sumber penghasilan bagi mereka. Jika mereka ke Camuy dan tidak menghasilkan biji timah, itu artinya mereka tidak bisa makan. Timah, menjadi tempat tumpuan harapan hidup mereka bahkan menjadi penghasilan yang bisa mereka tabung untuk bisa mudik ke kampong halaman dan membangun rumah yang layak untuk mereka tinggal.

Mateus Madong, (46) salah seorang bapak diapora Hale Hebing Maumere Flores pun pergi bekerja, pagi itu. Bapak yang sehari-hari bekerja sebagai petani kelapa sawit yang ada di samping rumahnya itu, kali ini dia bukan pergi ke kebun sawitnya tetapi dengan mengendarai honda Supra Fit berwarna merah yang berpadu dengan hitam menuju kebunnya yang hampir setahun lebih ini tidak dikunjunginya. Dia pergi dengan maksud menebas rumput dan mau menanamnya dengan tanaman sengon. Dia melihat seluruh lahannya. Dia memastikan bahwa lahannya itu masih utuh, tidak diramba pengeruk timah ilegal. Estela memeriksa seluruh lahan hampir dua hektar itu, om Mateus mulai menebas disekitar beberapa pohon kayu besar.

Rumput kekuningan akibat kemarau itu telah diratakannya, dengan parang dan diinjak-injak supaya cepat hancur. Beberapa menit kemudian, om yang bernama lengkap Mateus Modang, menebas lagi disebelah pohon yang lain. Dalam sekejap mata, ia mendengar suara begitu besar dan kencang, semacam suara jet atau kapal terbang. Selang beberapa detik, kepala dan seluruh badannya telah dikeroyok ribuan lebah hitam yang sedang bersarang dibawah pohon yang dikelilingi oleh rerumputan. Matanza gelap. Terasa bahwa badannya seperti ditusuk jarum suntik. Terasa sakit sebentar tapi sejenak lagi terasa gatal dan mulai membengkak.

Om Mateus Modang pun tidak mau kalah. Ia melawan dengan melarikan dirinya. Ia lari sambil menutup muka, walaupun dalam keadaan yang payah, ia terus berlari di jalan raya yang sepi. Naas memang nasibnya. Bukan hanya mengeroyok bapak satu anak itu, tetapi mengejarnya hingga 2 km jauhnya, hingga bapak Mateus kehabisan akal untuk menyelamatkan dirinya. Dalam pelarian itu, ia berharap ada orang yang menolongnya. Namun harapan itu, tidak kesampaian. Dengan daya kekuatan yang ada, ia melihat di sebelah kanannya sebuah lubang Camuy, bekas galian tambang timah yang masih banyak air. Om itu langsung menceburkan seluruh badannya ke dalam air Camuy. Dalam kesakitan itu, ia berjuang untuk beberapa kali turun-naikan kepala, agar riduan lebah itu bisa lari menjauhi dari dirinya.

Apa yang selalu diharapkan dalam perjuangannya itu, tercapai. Ribuan lebah itu lari. Tapi tidak semuanya. Masih ada yang belum lari tapi sudah setengah mati di atas permukaan air. Ia pun keluar dari lubang Camuy, lari ke tepi jalan dan berjalan menuju sepeda motornya yang terparkir di pinggir kebun tadi. Ia cepat-cepat naik motor dan langsung lari pulang ke rumahnya. Di rumahnya, om Mateus yang telah merantau di Bangka hampir 20-an tahun itu lemas dan pingsan. Om tidak sadarkan diri lagi. Karena racun ribuan lebah yang mengeroyoknya telah bekerja secara cepat dalam badannya.

Kerumunan orang Flores di rumahnya itu terlihat hiruk pikuk. Mereka keluar masih rumah menunggu om itu sadar. Hampir 7 jam kemudian, ia sadar. ”Rasanya saya ini melayang di udara. Saya tidak melihat siapa-siapa saja yang datang dan pergi dari rumah ini. Saya bukan hanya tidak melihat, tetapi tidak mendengar apa-apa lagi. Tapi satu hal yang saya lihat terakhir, rumah saya ini telah terbalik”, cerita om Mateus yang hampir 7 jam lamanya, tidak sadarkan diri.

Tubuhnya bengkak dan berlubang-lubang akibat masih ada jarum lebah yang menancap. Jarum lebah itu perlu dicabut perlahan-lahan sehingga tidak patah.

Kejadian itu tepatnya pada 21 Maret 2010 lalu. Dengan ceritera ini, diharapkan agar orang yang bepergian ke hutan seperti tamasya atau pun heching baik siang maupun malam, bersikap waspada dengan bitang-bitang hutan. Waspadalah....waspadalah...Lebah bukan hanya enak madunya tetapi racunnya berbahaya untuk tubuh manusia jika ia sudah menyengatnya. ***

Rabu, 21 September 2011

MENGENANG GEMPA DAN TSUNAMI '92

Pesisir pantai Sinar Hading berubah wajah karena gempa & tsunami '92
Siang itu pukul 14.00 witeng. Tepatnya tanggal 12 bulan 12 tahun 1992. “Gelombang laut di Pantai Sinar Hading Kecamatan Lewolema, Kabupaten Flores Timur Nusa Tenggara Timur, mencapai belasan meter. Bahkan pucuk-pucuk pohon kelapa, tanaman khas di tepi pantai itu bisa dijangkau oleh gelombang laut, kenang aku ketika itu diucap oleh Kornelius Reket Ritan (60), salah seorang penduduk Sinar Hading yang waktu itu berada di tepi pantai.


“Sebelum gelombang laut itu menjulang tinggi, lebih kurang lima belas menit telah terjadi gempa yang besar sekali. Gempa besar saya lihat dari pohon-pohon kelapa dan pohon-pohon lain di tepi pantai bergoyang layak penari “tripping”. Selain tanda itu bahwa ada gempa besar, tanda yang tidak lazim yang dilihat waktu itu bahwa mendadak laut Teluk Hading mengering. Baru saya sadar bahwa mengering karena sebuah gunung dasar laut di Pantai Sinar Hading yang selama ini disebut ”Belang” tenggelam akibat gempa. Karena tenggelam, maka air laut yang ada tersedot masuk ke dalam kubangan. Coba bayangkan bagaimana air laut yang banyak itu tersedot masuk ke dalam kubangan, sehingga sejenak menjadi daratan”, cerita om Nelis yang sering disapa penduduk setempat.

Itu berarti bahwa “gunung dasar laut” yang selama ini disebut penduduk Sinar Hading sebagai “Belang” begitu besar. Akibat dari gempa, gunung dasar laut tenggelam. Air laut yang tersedot masuk ke dalam kubangan secara cepat mengakibatkan desakan dari dalam kubangan itu. Karena terjadi desakan itu maka air laut dari kubangan itu tersembur keluar dengan begitu kuat dan hebat. Penduduk Kawaliwu - Sinar Hading yang berada dibukit, di kebun menyaksikan semburan air laut dari dalam kubangan itu.

Jalan Lintas Kawaliwu-Belogili dibuka karna bencana alam 92 kini telah rusak parah.
Petrus Suban Liwun (53) menjelaskan gempa dan tsunami 92, ”semburan air laut itu mempunyai lima arah penjuru. Semburan warna merah seperti jet-roket, begitu kencang dan hebat menuju langit. Tidak tahu lagi apakah air laut yang disembur ke langit itu sudah jatuh dimana. Semburan berwarna hijau ke arah barat, menghantam ke wilayah Maumere. 

Semburan warna kuning ke arah Tanjung Bunga, menghantam Tanjung Bunga, sehingga tanjung itu bergoyang seenak saja seperti orang menggoyang daun di pohon. Semburan berwarna putih ke arah laut Flores. Semburan itu kelihatan dari jauh seperti dinding tembok yang terus bergeser semakin jauh dan akhirnya hilang dari pandangan mata. Dan semburan berwarna coklat menghantam daratan, di desa Sinar Hading. Akibatnya gunung Wai Kerewak dan bukit-bukit disekitarnya bergoyang ria. Asap kabut keluar dari gunung dan bukit. Terdengar suara batu-batu menggelinding jatuh ke tempat yang paling rendah.

Bahkan lebih jauh ke belakang, Hendrikus Haju Liwun (85) mengatakan bahwa nenek moyang kami sudah memberikan peringatan begini. ”Mio eka onok senang nawa kia, suu ara pira, mio be moi. Pi depan tite ile belang pi. Nae bela tajak, lango mio pe seng, kaca, dll pasti bela rusak.” (jangan senang dulu sekarang, beberapa tahun ke depan, gunung belang akan hancur maka tempat tinggal kalian akan rusak semua).

Efek dari gempa dan tsunami ’92, menyadarkan penduduk Sinar Hading, supaya lebih hati-hati menghadapi bencana. Bencana alam menurut penduduk setempat sebagai sebuah hukuman alam untuk manusia. Karena manusia sudah merusak alam dan tidak mampu memperbaiki alam. Setelah bencana, orang Sinar Hading, memanfaatkan lahan yang selama ini menjadi ladang berpindah-pindah menjadi lahan perkebunan dengan menanam kelapa, jambu mete, jati, lamatoro, dll. Selain itu, rumah-rumah penduduk yang rusak dibangun kembali dengan dinding papan dan keteka (bambu). Memang adanya dari tembok tetapi tidak penuh.

Dengan bencana alam (gempa dan tsunami ’92), Kawaliwu menjadi sebuah desa yang susah sekali bangkit dari kehancuran itu. Masyarakat masih trauma. Trauma mereka terobati manakala, tempat ibadat, Gereja mereka mulai dibangun kembali setelah 12 tahun gemba dan tsunami. ***

Senin, 19 September 2011

KEMURAHAN HATI ALLAH BAGI ORANG LAIN DISEKITAR KITA

dari kiri ke kanan: Bp. John Dj. R, A. Liwun dan Rm. A. Kriswinarto, MSF
”Kemurahan hati Allah bagi orang lain di sekitar kita, terkadang membuat kita iri hati”, ungkap Pastor Aloysius Kriswinarto, MSF dihadapan umat Katolik Komunitas Sta. Lusia, Tuing Paroki Sungailiat pada kunjungan bulanan (18/9/2011) di halaman kamp perumahan para pekerja PT. GPL. Kunjungan sebulan sekali itu, selain misa juga diisi dengan beberapa model pembinaan, yaitu pembinaan bagi orangtua yang mau membaptis anak-anaknya juga pembinaan bagi keluarga muda yang ”convalidatio” perkawinan mereka.

dari kiri: karyawan kebun sawit, Bie Lie, Bp. John Dj. R dan Lektor
Selain beberapa pola pembinaan kepada umat Katolik di Tuing yang telah disebutkan tadi, juga rencana ke depan akan diberi pembinaan yang lebih intensip tentang keterlibatan umat Tuing dalam kesatuannya dengan umat Paroki Sungailiat dan Keuskupan Pangkalpinang, kehidupan sosial, ekonomi dan kependudukan yaitu menyangkut membangun rencana keluarga yang bahagia.

Kunjungan bulanan kali ini, Romo Kris, pastor Paroki Sungailiat didampingi oleh Bapak John Djanu Rombang, koordinator seksi kerasulan keluarga dan komunitas basis gerejani, Alfons Liwun dan Bie Lie. Kami berangkat dari pastoran Sungailiat pukul 13.00 wib dan sampai di Tuing, mess Perkebunan Sawit PT. Gunung Pahlawan Lestari pukul 14.30 wib. Perjalanan cukup melelahkan karena jalan ke Tuing lumayan berat akibat beberapa bagian jalan yang telah rusak. Rusak akibat alat berat yang lewat untuk menggusuran lahan untuk TI atau perkebunan sawit.***

Sabtu, 17 September 2011

JADWAL MISA HARI MINGGU BIASA PAROKI KATEDRAL ST. YOSEP PANGKALPINANG

Jadwal Misa pada Minggu Biasa:

Untuk Gereja Katedral St. Yosep:
Misa malam minggu            : 18.00
Misa 1 hari Minggu pagi    : 06.00
Misa 2 hari Minggu Pagi    : 08.00
Misa hari Minggu sore       : 17.00

Untuk Stasi-stasi:
Misa stasi Kampung Jeruk : 08.00
Misa stasi Mesu Laut         : 08.00
Misa stasi Batu Rusa          : 08.00

Jadwal Misa khusus seperti hari raya dan lain-lain akan diatur sendiri oleh panitia.
Terima kasih atas perhatian kita semua. ***

Kamis, 15 September 2011

SOSIALISASI KEPENDUDUKAN DAN KELUARGA BERENCANA DI GEDUNG WANITA KABUPATEN BANGKA

Gudung Wanita di Jalan Pemuda Sungailiat Kabupaten Bangka masih terlihat sepi. Padahal waktu pertemuan yang telah diinformasikan yaitu pukul 07.15 sudah lewat 45 menit. Bahkan jarum pendek tepat angka delapan dan jarum panjang menunjuk angka 12, pukul 08.00 wib pun belum ada panitia penyelenggara pertemuan sosialisasi kependudukan dan keluarga berencana. Herannya, rencana pertemuan yang mulai pukul 07.15 berjalan begitu saja tanpa diisi dengan kegiatan. Waktu yang disediakan untuk dimanfaatkan, rasanya begitu terbuang. Terabaikan.

Carpe Diem - Tangkaplah hari:
“Carpe diem”, tangkaplah hari – manfaatkan waktu yang berguna, rasanya telah terabaikan oleh banyak pihak, termasuk penyelenggara pertemuan itu.Tepat pukul 08.15, para peserta mulai berbondongan datang ke halaman Gedung Wanita. Para peserta mulai bertanya satu sama lain, jam berapa pertemuan itu dimulai. Rasanya tidak mungkin, para peserta bertanya soal waktu memulai pertemuan, sedang para penyelenggaranya belum juga muncul. Rupanya waktu pertemuan yang disampaikan melalui SMS dari satu peserta kepada peserta yang lain, berbeda.

Halim Setiawan, utusan Kong Fu Chu,  mengungkapkan bahwa memulai pertemuan yang disampaikan kepada saya pukul 08.00 wib. Para ibu, utusan Islam yang berada di dekat itu, menyatakan bahwa kepada kami diberitahu bahwa mulai pertemuan pukul 07.30 wib. Sedang kepada Lusia, utusan Katolik diberitahu bahwa mulai pertemuan pukul 07.15 wib. Dari segi waktu saja, pertemuan sosialisasi itu penuh ketidakpastian. Bahkan ketika memulai pertemuan pada pukul 08.30 ruang pertemuan di Gedung Wanita, belum dibuka dan masih dalam keadaan berantakan. Ruang belum diatur untuk siap pertemuan. Beruntung, ada beberapa ibu yang inap bersebelahan dengan Gedung Wanita itu datang untuk membersihkan.

Terhadap situasi awal semacam ini, saya mau katakan bahwa pertemuan sosialisasi itu, benar-benar miss comunication antara panitia penyelenggara dengan pengatur atau pelaksana lapangan bahkan telah membuat para peserta kebingungan untuk mengikuti sosialisasi. Apa yang mau diharapkan yaitu supaya pertemuan itu berbuah yang lebih lebat, mungkin hanya idealisme. Realisasi dari hasil pertemuan menjadi sebuah permenungan bagi saya secara pribadi.

Peserta Pertemuan :
Pertemuan sosialisasi itu baru dimulai pada pukul 09.15 wib. Peserta yang diundang 18 orang utusan dari Islam. Utusan Kristen Protestan dan HKBP sebanyak 5 orang. Kongfu Chu mengutus 10 orang sedang Katolik 2 orang. Perwakilan dari Departemen Kementerian Agama Kabupaten Bangka 5 orang. Sedangkan peserta lain yaitu 5 orang merupakan staff dari Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Propinsi Kepulauan Bangka Belitung.

Pertemuan yang diwarnai urutan protekoler itu dimulai dengan sambutan dari wakil Departemen Kementerian Agama Kkabupaten Bangka. Warna khas yang terungkap adalah mohon maaf karena terlambat memulai pertemuan dan ketidakjelasan dalam waktu yang tidak disampaikan dalam surat undangan pertemuan. Karena memang informasi yang diterima dari propinsi belum jelas juga. Lebih jelas ketika lagi dua hari mulai mengedar surat undangan baru mendapat faxkan surat dari propinsi. Kami bersyukur bahwa kegiatan ini bisa dilaksanakan dan ini karena dukungan peserta yang bersedia hadir dan ikut sosialisasi ini.

Lebih lanjut, wakil Depag Kabupaten Bangka itu mengungkapkan penduduk Kabupaten Bangka 299.109 orang. Laju pertumbuhan penduduk pun begitu cepat. Pertumbuhan penduduk semakin bertambah dari tahun ke tahun karena ada yang kawin resmi, kawin tidak resmi dan migrasi dari daerah lain, karena mencari pekerjaan. Dengan melihat persoalan ini, kami mengundang tokoh agama di Kabupaten Bangka untuk hadir dalam sosialisasi kependudukan dan keluarga berencana. Maksudnya supaya setelah selesai pertemuan nanti, tokoh agama dengan bahasa yang lemah lembut akan mengajak umat beragama untuk memikirkan pertumbuhan dan perlambat penduduk sehingga hidup semakin sejahtera. Karena pertumbuhan dan pengaturan pendudukan dan keluarga berencana yang hidup sejahtera, tentu merupakan keinginan kita semua.

Kependudukan dan Keluarga Berencana:
Mediheryanto, SH mengawali penjelasan tentang Kependudukan dan Keluarga Berencana di depan 40-an peserta yang hadir di Gedung Wanita Sungailiat (12/9/2011) bahwa pembangunan Kependudukan dan Keluarga Berencana 2010-2014 merupakan salah satu program strategis. Hal ini dimaksudkan untuk menyiapkan sumber daya manusia yang berkualitas, berdaya saing dan berkarakter. Diakuinya bahwa hasil sensus penduduk 2010 mengindikasikan bahwa pertambahan dan pertumbuhan penduduk melebihi proyeksi maka perlu upaya percepatan dan strategi yang lebih inovatif.

Untuk mengendalikan kuantitas penduduk, Kabid Advokasi Penggerakan dan Informasi Perwakilan BKKBN Propinsi Babel, menyebutkan bahwa supaya visi BKKN yaitu penduduk tumbuh seimbang 2015, bisa dicapai, diperlukan pengendalian kelahiran, penurunan angka kematian, pengarahan mobilitas penduduk. Berbeda dengan kependudukan, Mediheryanto yang telah dikaruniahi dua anak, meyakinkan para peserta bahwa untuk kependudukan yang tumbuh seimbang maka diperlukan keluarga berencana yang mampu meningkatkan ketahanan keluarga dan meningkatkan kesejahteraan keluarga.

Mediheryanto mengingatkan peserta bahwa Propinsi Kep. Bangka Belitung, sebuah propinsi baru. Tentu banyak ”gulanya” sehingga tidak heran ada begitu banyak orang yang datang dari luar masuk ke propinsi kita. Sebelum tahun 2000-an tidak banyak orang menjual bakso di pinggir jalan macam sekarang ini. Sekarang, hampir dimana-mana selalu ada orang yang mendorong gerobak untuk menjual bakso, memikul tempat sol sepatu untuk sol sepatu dan di pinggir jalan telah begitu banyak para penjual pecel lele dan lebih dari itu di lobang camuy ada banyak orang yang menggali timah. Sykur kalau yang mengerjakan ini hanya beberapa orang. Jika mereka ini datang membawa keluarga artinya bahwa laju pertumbuhan penduduk di propinsi Babel sangat tinggi. Ini sebuah tantangan tetapi perlu diperhatikan supaya ditanggunglangi dengan baik.

Lebih lanjut, Mediheryanto menjelaskan bahwa masalah kependudukan bukan masalah yang gampang. Karena kependudukan adalah hal ihwal yang berkaitan dengan jumlah penduduk, struktur penduduk, pertumbuhan penduduk, mobilitas penduduk, kualitas penduduk dan kondisi kesejahteraan yang menyangkut: poleksosbud, agama serta lingkungan penduduk setempat.

Karena berhubungan dengan masalah kependudukan ini, akan berdampak pada penyediaan pangan, penyediaan perumahan, penyediaan sarana kesehatan, penyediaan sarana pendidikan dan penyediaan kesempatan kerja.

Terhadap permasalahan itu, setiap orang perlu diberikan sosialisasi menyangkut kependudukan dan keluarga berencana. Misi BKKN yaitu mewujudkan pembangunan yang berwawasan kependudukan dan mewujudkan keluarga kecil bahagia sejahtera, perlu digaungkan sampai ke pelosok-pelosok daerah sehingga lebih dikenal seperti pada masa ORDE BARU.

Untuk perkembangkan kependudukan dan pembangunan keluarga berencana, BKKN memiliki strategi pokok yaitu Menekan Laju pertumbuhan penduduk, dan merencanakan kelahiran dengan mewujudkan Keluarga Kecil Sehat Bahagia dan Sejahtera (KKSBS).

Dari strategi pokok ini kemudian dirumuskan beberapa strategi secara lebih rinci sebagai berikut: (1). Menggerakkan dan memberdayakan seluruh masyarakat dalam program Kependudukan dan Keluarga Berencana. Untuk mensukseskan strategi tadi diperlukan kegiatan advokasi dan KIE, penguatan lini lapangan, perkuatan kemitraan antar lembaga dan penyebarluasan data dan informasi.

(2). Penataan pengendalian kependudukan, perlu dijalankan penyerasian program kependudukan, penyiapan indikator dan parameter kependudukan yang akurat, penguatan analisis dampak kependudukan dan pemantapan program pendidikan kependudukan. (3). Peningkatan akses dan kualitas KB-KR, dibutuhkan kegiatan berupa: peningkatan akses dan kualitas pelayanan KB jalur pemerintah, peningkatan akses dan kualitas KB jalur swasta, peningkatan akses dan kualitas pelayanan KB di galcitas dan pengangulangan masalah-masalah kesehatan reproduksi.

(4). Memperkuat SDM operasional program KKB, untuk bisa menjalankan strategi di atas dibutuhkan pengelolaan SDM yang profesional dan penguatan SDM lini lapangan. (5). Meningkatkan ketahanan dan kesejahteraan keluarga,diperlukan kegiatan berupa membina keluarga Balita, membina keluarga remaja, membina keluarga lansia, dan meningkatkan usaha keluarga melalui pemberdayaan ekonomi keluarga.  (6). Meningkatkan pembiayaan program KKB, diperlukan prioritas anggaran pemerintah pusat dan daerah, terciptanya sistem jaminan pembiayaan program kependudukan dan KB khususnya bagi rakyat miskin, dan terjaminnya ketersediaan alat / obat kontrasepsi.

Peran Tokoh Agama dalam Kependudukan dan Keluarga Berencana
Mengapa para tokoh agama di Kabupaten Bangka diundang oleh Departemen Kementrian Agama Bangka untuk bertemu di Gedung Wanita? Ini satu pertanyaan yang muncul dalam diri dua peserta dari Katolik, Alfons Liwun dan Theresia Lusia Napitupulu.

Pertanyaan itu rupanya dijawab dalam paparan makalah H. Suhadi, S. Ag yang berjudul Peran Tokoh Agama dalam Program Kependudukan dan Keluarga Berencana. Dalam penjelasan ketua FAPSEDU Propinsi Kep. Babel, program kependudukan dan keluarga berencana yang dicanangkan dengan sasaran langsung PUS dan sasaran tidak langsung pada kelompok remaja dengan usia 15-19 tahun, organisasi-organisasi, tokoh agama, dan wilayah dengan laju pertumbuhan penduduk yang tinggi, perlu melibatkan para tokoh agama di Kabupaten Bangka. Peran tokoh agama sangat penting. Karena mereka mempunyai akses langsung kepada umat beragama baik melalui pendampingan sebelum menikah maupun berbagai kegiatan pembinaan seperti dakwah, kotbah, dan lain-lain.

Suhadi, yang sehari-hari bekerja di Depag Propinsi itu mendorong para tokoh agama untuk terlibat dalam program kependudukan dan keluarga berencana melalui tugas sebagai bidan KB, suatu tugas untuk membidani kelahiran keluarga baru. Selain tugas tadi, para tokoh agama pun bisa terlibat sebagai pelopor KB, sosialisator KKB, sebagai opinion leader KKB dan bisa sebagai tempat bertanya bagi keluarga-keluarga. Disinilah peran sesungguhnya, tokoh agama sebagai married conseling, sebagai penasihat bagi remaja atau keluarga atau pasangan yang akan menikah dengan harapan pasangan akan mempunyai pengetahuan dan pemahaman yang cukup dalam membentuk keluarga yang bahagia dan kualitas.

Pertemuan sosialisasi Kependudukan dan Keluarga Berencana selesai pada pukul 15.30. Sebelum pertemuan itu ditutup, BKKN Propinsi dan ketua Forum Antaragama Peduli Kesejahteraan dan Kependudukan (FAPSEDU) Propinsi menghendaki membentuk FAPSEDU Kabupaten Bangka, yang pertama di Indonesia untuk tingkat kabupaten. Rencana ke depan, para pengurus FAPSEDU Kabupaten Bangka akan menindak lanjuti hasil pertemuan sosialisasi ini. Semoga forum peduli kependudukan dan kesejahteraan bagi semua masyarakat ini dapat berjalan dan membantu banyak pihak. ***

Sabtu, 10 September 2011

SEMINARI MENENGAH MARIO JOHN BOEN KEUSKUPAN PANGKALPINANG

PENDIRI SEMINARI MENENGAH MARIO JOHN BOEN (SMMJB): Seminari Menengah Mario John Boen didirikan oleh Uskup Pangkalpinang, Mgr. Hilarius Moa Nurak SVD melalui SK nomor: 100/A.1b/2011 yang dikeluarkan di Pangkalpinang tanggal 30 Maret 2011.
SPIRITUALITAS SMMJB: Seminaris menjadi Garam dan Terang Dunia, mengikuti Cara hidup Rm. Mario John Boen dan Bp. Paulus Cen On Ngie yaitu: (1). openness, sacrifice and adventure; (2). fortiter in re (3). suaviter in modo.
VISI SMMJB: (1). Mengembangkan kualitas hidup fisik dan mental (sanitas / sebagai wujud kasih kepada diri sendiri) (2). Mengembangkan kualitas hidup spirualitas (sanctitas = hidup beriman / sebagai wujud kasih kepada Allah) (3). Menguasai ilmu pengetahuan (scientia = sebagai wujud kasih kepada ilmu pengetahuan dan peradaban) (4). Mengembangkan hidup berkomunikasi (socialites / sebagai wujud kasih kepada sesama).

TUJUAN SMMJB: (1). Seminaris menjadi pribadi yang sehat secara mental. (2). Seminaris menjadi pribadi yang matang dalam hidup doa dan kesaksian iman. (3). Seminaris menjadi pribadi yang memiliki ilmu pengetahuan dan menguasai teknologi. (4). Seminaris mampu menghayati hidup sosial, baik dalam hidup berkomunitas maupun hidup bermasyarakat.
STRATEGI SMMKB: Strategi untuk mencapai visi, misi dan tujuan tersebut tadi, diperjuangkan melalui bidang-bidang berikut: (a). Kesehatan Fisik dan Mental, melalui (1). Kurikulum pendidikan jasmani, kesehatan dan olaraga (2). Bimbingan dan konseling (3). Pendidikan seni dan budaya (4). Latihan kepemimpinan. (b). Kematangan dalam hidup rohani, meliputi: (1). Pembinaan rohani pribadi dan bersama-sama via rekoleksi dan retret (2). Pendalaman iman, KS, hidup doa, meditasi dan latihan rohani.
Memiliki ilmu pengetahuan dan menguasai teknologi, meliputi: (1). Kurdiknas dan kurikulum seminari (2). Kegiatan ilmiah: diskusi, seminar, dll. (c). Kemampuan Hidup Sosial, meliputi: (1). Pendidikan etika, disiplin dan tanggungjawan (2). Pendidikan karakter bangsa (3). Pendidikan ekologi (mulok) (4). Pendidikan budaya dan bahasa daerah. (d). Penyediaan sarana dan prasarana, melalui: (1). Sarana fisik (2). AD+ART dan pedoman hidup seminari (e). Tenaga pendidikan dan kependidikan, melalui: (1). Staff (2). Guru /tenaga pendidi (3). Tenaga kependidikan. (f). Pembiayaan, melalui: (1). Orangtua siswa/masyarakat (2). Bantuan pemerintah (3). Bantuan lembaga-lembaga gereja (4). Donatur tetap dan tidak tetap. (g). Proses, meliputi: (1). Proses belajar mengajar (2). Semua kegiatan extra kurikuler (3). Planning monitoring-supervise.

PENDAFTARAN: Pendafataran dimulai Agustus 2011 sampai dengan Januari 2012 di paroki masing-masing. Informasi selanjutnya melalui pastor/sekretariat paroki. Pendaftaran bagi siswa tamatan SMP***

Kamis, 08 September 2011

MARILAH KITA BERUBAH...

Kita berubah dalam hidup rohani, dalam hidup ekonomi, dan lain-lain”, ajak Bapa Uskup Pangkalpinang untuk umat Paroki Sungailiat, khususnya ke-43 penerima Sakramen Krisma, dalam kata pengantar misa Krisma di Gereja Paroki Sungailiat (28/8/2011). Ajakan Bapa Uskup berlandas pada surat rasul Paulus kepada umat di Roma. “Persembahkan dirimu untuk kemuliaan Allah.” (Rm. 12:1).

Lebih lanjut dalam kotbah, Mgr. Hila menjelaskan bahwa persembahkan diri merupakan ungkapam cinta, yaitu cinta kepada Allah dan cinta kepada manusia. Cinta diungkapkan dengan pelayanan. Dan pelayanan membutuhkan pengorbanan. Seseorang yang telah menerima sakramen krisma, ia telah dewasa. Ia secara penuh menjadi anggota Gereja. Maka ia mengungkapkan tanggungjawabnya dalam pelayananya dengan penuh pengorbanan.

Misa Krisma yang dipimpin Bapa Uskup Pangkalpinang itu dihadiri oleh umat Paroki Sungailiat termasuk umat yang berasal dari Stasi Pemali dan Bedukang. Karena minggu itu hanya ada sekali misa di Gereja Paroki.

Setelah misa, ke-43 penerima Krisma melanjutkan ramahtamah sederhana dengan Bapa Uskup, anggota DPP dan para pelayan tak lazim di aula paroki. Acara ramahtamah, diisi dengan dialog – persuasif antara Bapa Uskup dan peserta yang hadir. Dialog itu lebih pada umat bertanya, Bapa uskup menjawab.

Dialog persuasif: mendidik anak hingga tobat dan ekaristi
Peserta penerima sakramen Krisma telah berkumpul di aula. Juga anggota DPP Sungailiat dan beberapa pelayan tak lazim, terlihat di sana. Mudika St. Aloysius Gonzaga pun tak ketinggalan, walaupun masih duduk nongol di bangku luar aula sambil main hape. Bahkan anak SMP Maria Goretti yang berseragam sekolah pun hadir untuk mengisi acara dengan tarian dan nyanyian.

Walau demikian, pastor paroki dan Mgr. Hila belum sempat hadir. Yosef Syukur, juru photo moment krisma itu, kemudian menyampaikan kepada beberapa umat yang hadir bahwa pastor dan bapa uskup masih istirahat sebentar. Bapa Uskup masih capek. Mendengar itu, Paulus Pie Pie, koordinator sound system merespons dengan menghibur umat yang hadir dengan beberapa tembang lagu rohani. Tidak terasa bahwa hari itu sudah cukup siang.

Setengah jam kemudian, rombongan bapa uskup bersama para pastor dan ketua DPP pun memasuki aula. Umat yang hadir menyambut kehadiran bapa uskup dengan memberikan salam. Protokol, mas Wawan Kristian mempersilakan bapa uskup dan para pastor serta umat untuk duduk. Acara dialog antara Bapa uskup dan umat pun dimulai.

Leo Rahmat Wisman, salah seorang peserta asal komunitas St. Thomas Aquino, mengungkapkan suka duka yang dialami dalam mendidik anak bersama isterinya, Anastasia Marlita, juga peserta penerimaan krisma. Bahwa selama ini kami sudah mendidik anak kami dengan banyak cara namun hasilnya belum terlalu diharapkan. Kira-kira menurut bapa uskup, apa tips yang perlu untuk orang katolik dalam mendidikan anak? ”Banyak orang tua selama ini sudah rajin mendidik anak-anaknya. Hal ini saya yakin sekali. Namun hal yang lain yang tidak kalah penting adalah bahwa bagaimana pun juga kita perlu membuka hati, membiarkan Roh Kudus bekerja untuk kita. Dia datang ke dalam hati dan keluarga kita dan akan mengubah hidup kita. Kita perlu percaya akan hal ini”, tegas Mgr. Hila untuk untuk mensuport para bapa dan ibu.

Berbeda dengan Leo tadi, ketua DPP, Leo Agung Heriyanto meminta Bapa Uskup memberikan motivasi kepada umat supaya lebih rajin lagi melakukan pengakuan dosa secara pribadi. Karena menurut ketua DPP, yang akrab disapa Pak Heri, pengakuan dosa pribadi kelihatannya semakin mundur. Pastor sudah menyediakan waktu 45 menit sebelum misa, tetapi rata-rata umat tidak mengiyakan kesempatan ini. Pengakuan dosa pribadi bukan hanya sebelum natal dan paskah.

Terhadap pertanyaan Pak Heri, Bapa Uskup menjelaskan. ”Kalau kita lapar, kita butuh makanan dan minuman. Kita makan-minum bukan hanya untuk memuaskan rasa lapar tetapi untuk sehat. Ketika kita makan atau minum, makanan atau minuman kita, ditaruh ditempat (piring-glas) yang bersih. Tidak mungkin di tempat yang kotor. Tentu hal yang sama juga kalau kita mau menyantap tubuh Kristus.

Tentu,  kita membutuhkan hati yang bersih. Untuk itu, kita yang berdosa perlu tobat atau melakukan pengakuan dosa pribadi sehingga tubuh Kristus pun masuk ke dalam hati yang bersih.  Setiap kita pasti ada dosanya. Kata rasul Yohanes, barangsiapa yang mengatakan bahwa dia tidak berdosa, adalah pembohong.

Tanya jawab bapa uskup siang itu semakin menarik perhatian umat. Tanya jawab yang dipandu John Djanu Rombang ternyata mengugah Jesica, anak kelas 2 SMP Maria Goretti untuk bertanya. ”Kalau sakit kita butuh doa pada Tuhan. Teman saya orang Budha pernah sakit dan mendoakannya. Tapi Tuhan belum juga menjawabi doanya.” ”Memang, Tuhan berikan bantuan kepada siapa saja dan kapan saja kita tidak tahu. Sakit bukan kutukan Allah. Tetapi kita perlu mengambil hikmah dari sakit. Orang kaya dan miskin semuanya dikasih Allah,” ungkap Bapa Uskup dengan senyum.

”Kenapa waktu sinode 2 tidak ada misa pada malam minggu dan hari minggu. Dengan itu, umat tidak terima tubuh dan darah Kristus”, tanya Kristi, salah seorang anak SMP Margot kepada Bapa Uskup. ”Umat yang tidak sinode meeka ibadat Sabda. Dalam misa selain kita terima tubuh dan darah Kristus, kita juga menerima Sabda Allah. Sabda Allah lebih dahulu kita terima baru sesudah itu kita terima tubuh Kristus. Sinode itu, 10 tahun sekali, jadi karena itu seluruh imam harus ikut, acara per acara.” jelas Mgr. Hila dengan penuh kebapaan.

Berlanjut dari pertanyaan Kristi, Sr. Greegoriana, AK kemudian meminta kejelasan Mgr. Hila mengenai pembagian komuni kudus pada hari minggu oleh prodiakon, tanpa misa. Kenyataannya bahwa sudah beberapa kali prodiakon bisa membagi komuni suci. Apakah diperbolehkan? Bagaimana peraturan dari Bapa Uskup?

Dihadapan para pastor, DPP, dan seluruh umat yang hadir, Mgr. Hila  menjelaskan bahwa hal ini sudah ditegaskan dalam instruksinya yang ke-2 tentang Tata Perayaan Ekaristi 2005. Pertanyaan suster tadi, komuni boleh dibagikan asalkan komuni suci itu telah dikonsekrir dalam misa pada hari  minggu itu. Misalnya, pada hari minggu itu ada misa, lalu di stasi tidak ada misa, maka komuni suci bisa dibagikan prodiakon di stasi. Para pastor perlu membaca kembali instruksi itu. Sayang kalau pastornya gak baca.

Acara ramahtamah itu diselangselingi dengan beberapa acara hiburan baik dari kaum muda St. Aloysius Gonzaga maupun dari SMP Maria Goretti untuk mengisi acara makan bersama. Sebelum acara ramahtamah itu berakhir, bapa uskup memberikan kado dan piagam krisma secara simbolis kepada Andreas Laurentius Ten Yung sambil berpesan. “Saudara Andreas, kamu adalah pengikut Kristus. Kamu pun memakai nama Laurentius, seorang martir yang dibunuh dengan cara digoreng. Saudara adalah pengikut Kristus. Amin? Ten Yung pun menjawab dengan ksatria, amin. Peserta yang hadir pun bertepuk tangan dan sambil memberikan salam kepada peserta penerima krisma. ***al**

Rabu, 07 September 2011

SERAHTERIMA PAROKI SUNGAILIAT KE KONGREGASI KELUARGA KUDUS (MSF)

Congregatio  Missonariorum a Sacra Familia (MSF) merupakan sebuah kongregasi baru yang berkarya di Keuskupan Pangkalpinang khususnya di Paroki Sungailiat. Demi pengesahan karya pewartaan MSF di Keuskupan Pangkalpinang, 7 September 2008 Bapa Uskup Pangkalpinang memberikan “serahterima” kegembalaan umat Katolik Sungailiat dari pastor projo kepada para pastor Keluarga Kudus. Serahterima dilaksanakan dalam Misa Kudus di Gereja Paroki Sungailiat. Hadir dalam peristiwa itu pemimpin MSF propinsi Jawa, Pater Y.M. Mulyono, Bapa Uskup Pangkalpinang, Mgr. Hilarius Moa Nurak, SVD, Pastor Andreas Naraama Lamoro, Pr (Ketua Komisi PSE Keuskupan Pangkalpinang), Pastor Pieter, Pr (Ketua YTK Pangkalpinang), Pastor Daniel Dionisius (pastor paroki Sungailiat) dan pastor Stefanus Ruswan Budi Sunario, MSF dan Pastor Aloysius Kriswinarto, MSF (pastor Paroki Sungailiat). Serahterima Paroki Sungailiat disaksikan oleh Umat Katolik Sungailiat.

Bapa Uskup dalam kotbahnya menegaskan latar belakang pemikiran tentang kehadiran para pastor MSF di Keuskupan Pangkalpinang. “Selama ini keuskupan kita kurang sekali adanya pelayanan umat dalam bidang-bidang khusus. Dulu memang ada SSCC, namun sekarang mereka sudah berpindah ke wilayah utara. Maka di wilayah selatan tidak ada pelayanan dari para pastor seperti SSCC. Maka dicari dan kemudian diadakan kerjasama. Syukurlah MSF mau untuk ke keuskupan kita. Saya bersama Pater Mul sudah keliling Paroki di Keuskupan Pangkalpinang, kami mencari tempat yang cocok untuk para pastor MSF. Pilihannya jatuh pada paroki Sungailiat. Dengan demikian, ada warna yang lain (variasi) dalam pelayanan untuk umat, khususnya Paroki Sungailiat. Para pastor MSF pelayanan khusus pada kerasulan keluarga sesuai dengan spirit mereka. Mudah-mudahan pelayanan mereka khusus untuk keluarga bisa mewarnai keuskupan kita. Dari Sungailiat mampu mewarnai keuskupan Pangkalpinang. (Sliat 7/09/2008) ***

Sabtu, 03 September 2011

JADWAL MISA HARI MINGGU BIASA PAROKI SUNGAILIAT

Misa Mingguan
Misa Sabtu, Jam 18.00 wib. : Di Gereja Paroki
Sebelum Misa umat diberi kesempatan untuk Pengakuan Dosa pribadi, Jam 17.00-17.45 wib.
Misa Minggu, Jam 07.45 wib. : di Gereja Paroki
Misa Minggu, Jam 08.00 wib. : di Gereja Stasi Pemali




Catatan: Jadwal misa hari raya dan pesta akan diatur tersendiri oleh panitia.

Misa Harian
Misa hari Senin, Jam 05.45 wib : di Susteran AK
Misa hari Selasa, Rabu, Jumat, Sabtu, Jam 05.45 wib: di Kapel Gereja Paroki
Misa hari Kamis, Jam 17.00: di Kapel Gereja Paroki
Misa hari Kamis minggu ke-4, Jam 17.00 : di Gua Maria Paroki Sungailiat.

Keterangan:
Gua Maria Paroki Sungailiat berpelindungkan Sta. Maria Pengantara Segala Rahmat Sungailiat.Jl. Jend. Sudirman No. 36 / 87 Telp. 0717-92268.

Biara Susteran di Sungailiat adalah Biara Susteran Abdi Kristus (AK) berada di Jl. Maria Goretti 5 Sungailiat 33211 Bangka Telp. (0717) 93458

Sabtu, 20 Agustus 2011

BUDAYA LOKAL KAWALIWU: " LODO ANA"


Photo / Leo Hurit (8/2011)
Bangsa Indonesia mempunyai banyak sekali budaya daerah. Hampir di setiap daerah di pelosok Nusantara ini memiliki budaya tersendiri. Budaya daerah itu kini mati suri dan bahkan telah tergusur oleh nikmatnya budaya moderen seperti materialisme, hedonisme, apatisme, dan lain-lain. Dan anak-anak muda zaman sekarang, lebih in dengan budaya moderen dan lupa akan budaya asal sendiri. Bagaikan sumur tanpa dasar, begitu bila saya mengandaikan hidup anak-anak moderen sekarang.

Masyarakat Kawaliwu di Flores Timur, sampai dengan saat ini boleh terbilang masih setia pada budaya daerahnya sendiri. Kadang-kadang, memang menjadi kesulitan dalam mewariskan budaya daerah, karena ada banyak hal yang menjadi kendala, selain sikap apatis anak-anak muda moderen yang mempunyai pola pandang tersendiri dengan budaya daerah versus budaya moderen yang lebih pada happy always ketimbang hidup perlu perjuangan.

Photo Leo Hurit (8/2011)
Kawaliwu, masyarakat Lamaholot, hampir setiap tahun mempublikasikan sebuah budaya daerah yang melibatkan banyak suku-suku didalam masyarakat itu. Budaya daerah itu dalam masyarakat Kawaliwu disebut 'Lodo ana'. Lodo berarti dikeluarkan, Ana berarti anak. Lodo anak berarti proses dikeluarkan anak yang telah 1-2 bulan dilahirkan dan yang terkurung dari ruang persalinan, ruang terkurung kepada publik. Anak yang sudah hampir 2 bulan dikurung dibawa keluar untuk diperlihatkan kepada masyarakat. Anak digendong oleh bibi (isteri opu) dan diantar oleh ibunya (ibu anak) ke sebuah halaman luas yang telah dipersiapkan oleh masyarakat. Halaman luas itu berada di rumah besar (lango bele) suku Liwun, kalau di Kawaliwu.

Photo Leo Hurit (8/2011)
Lodo Ana, merupakan sebuah budaya, mengapa? Karena upacara ini telah diturun temurunkan dari nenek moyang Kawaliwu. Selain itu, dengan upacara lodo ana, anak-anak Kawaliwu yang belum sah secara adat untuk suatu "wungu nuran" maka pada kesempatan itu anak-anak yang belum sah adat itu boleh disahkan. Anak-anak duduk berbaris/berkumpul dan ditutup dengan kewatek dan kemudian diatas kepala anak-anak tadi seseorang memecahkan buah kelapa. Fungsinya adalah agar air buah kelapa tadi menyirami kepala anak-anak, mendinginkan kepala-agar anak tumbuh dan berkembang dalam budaya Kawaliwu. Selain itu, secara sosial, anak-anak dapat bergaul dengan siapa saja dalam masyarakat itu tanpa ada rasa takut dan cemas. Karena anak-anak itu sama-sama lahir dari suatu budaya yang sama, Lamaholot.

Photo Leo Hurit (8/2011)
Budaya Lodo Ana di Kawaliwu selalu dilaksanakan pada bulan Juli atau Agustus setiap tahun. Upacara sebelum Lodo Anak adalah upacara mura hama, di elabele (di suatu halaman yang luas) di lango bele (rumah besar suku Liwun). Upacara mura bre itu dilakukan oleh tua-tua / ibu-ibu masyarakat Kawaliwu. Dalam upacara itu, tua-tua / ibu-ibu menceritakan sejarah lodo ana dan sejarah anak yang akan dilodo. Upacara ini dilakukan satu malam dan paginya orang tua masak laki rusa untuk siap disantap, sebagai upacara penutup. 

Lebih lanjut Upacara Lodo Ana, saya serahkan kepada para peneliti budaya atau agama yang berminat untuk mendalami upacara ini. Saya berharap para generasi muda Kawaliwu terlibat untuk mewariskan budaya ini. ***