DESTINATION KE SITUS MEGALITIK KAWALIWU

Jalan masuk ke "Lango Bele" hampir 1,5 kilo meter dari jalan raya Kawaliwu-Larantuka.Pohon-pohon di sekitarnya masih asli. Kata orang Kawaliwu, pohon-pohon itu secara alamiah tidak pernah ditebang atau disentuh oleh tangan manusia. Kalau pohon-pohon itu tumbang artinya secara alamiah karena sudah rapuh dan mati sendiri.

Rata-rata pohon-pohon itu terdiri dari pohon beringin, rita, dan pohon-pohon lain yang ditanam oleh orang Kawaliwu, termasuk pohon kepala, jambu mete dan kemiri.

Perjalanan dari jalan raya ke lango bele, lebih kurang 20 menit, jika kita berjalan santai. Kalau mau cepat mungkin hanya 10 menit. Jalan masuk ke lango bele, jalan setapak, berbatu-batu dan lumayan mendaki. Jika kita sudah masuk dalam "kawasan hutan asli" dari jauh kita sudah mendengar suara-suara alam semakin terasa, seperti di hutan belantara. Dari jauh kita melihat atap "koko" atau korke dan "Lango Bele". Juga ada sebuah rumah klan di sebelah kanan, rumah klan larita (Lango suku Ritan). Selain lango dan koko, juga ada hoku. Hoku adalah rumah kecil yang dipakai untuk menyimpan hasil kebun.

Koko atau korke, rumah tua, peninggalan nenek moyang Kawaliwu. Rumah ini sebagai tempat "penyatuan ide, pikiran, dan membuat kesepakatan." Atau sekarang boleh kita sebut sebagai "rumah demokrasi". Rumah "pupu taan uin tou, gaan taan gewahan ehan." Artinya di dalam rumah ini, seluruh kepala klan yang hadir membuat sepakat untuk suatu keputusan. Setelah keputusan itu sudah diputuskan oleh pemimpin lewotana atau kepala penatua, keputusan itu diangkat ke pada Rera wulan Tana Ekan. Seluruh kepala klan mengangkat keputusan kepada Tuhan untuk diberkati, dilindungi dan direstui sehingga dapat terlaksana dengan baik dan lacar.

Keputusan yang telah menjadi sebuah kesepakatan dinyatakan dalam suatu upacara khusus di dalam "megalitik Kawaliwu". Tempat menyembahkan kepada nenek moyang. Agar keputusan yang sudah diambil tadi direstui.

 Sebuah upacara khusus yang didalamnya, para penatua yang berkumpul, mengangkat doa-doa secara ceremonial. Doa-doa itu biasanya dipimpin oleh pemimpin, atau penatua yang mampu "mara".

Ceremonial ini disertai dengan pemecahan telur dan pemotongan binatang. Suatu upacara korban yang menyatakan bahwa Rera Wulan dan Tana Ekan, bertautan erat yang tak boleh dipisahkan. Tautan erat ini melambangkan persatuan dan karena itu, persatuan Rera Wulan Tana Ekan, perlu diikuti oleh seluruh klan (suka) yang ada di Kawaliwu. Meminjam kalimat biblis, "barangsiapa yang melekat dengan Aku, ia berbuah banyak. Barangsiapa yang menjauh dari Aku, akan Kubuang."

Situs megalitik, sebuah situs prasejarah di Kawaliwu. Batu-batu tipis yang berukuran besar, disusun membentuk sebuah ruang dengan ukuran yang diperkirankan lebar 13 meter dan panjang 25 meter dengan ketinggian 1,5  meter. Ruang seluas ini sebagai tempat pemujaan terhadap nenek moyang Kawaliwu.

Dikeliling ruang megalitik itu berdiri batu-batu yang dipasang tegak disetiap sudut dan pertengahan situs. Situas megatilik Kawaliwu diperkiran berumur 4.0000 tahun. Sampai dengan saat ini banyak wisatawan asing datang melihat dan sekaligus merayakan pemujaan bersama di dalam situas ini. Orang Kawaliwu, hampir setiap tahun menerima wisatawan asing yang berkunjung ke situs Kawaliwu.

Bagi wisatawan asing yang mau berkunjung bisa dengan pesawat terbang dari Den Pasar ke Maumere kemudian dengan mobil ke Larantuka. Dari Larantuka ke Kawaliwu hanya 15 km. Di Kawaliwu wisatawan dapat menikmati panorama alam situs Kawaliwu, Sun Set Kawaliwu dan Air Panas Kawaliwu dengan pemandangan indah pantai Kawaliwu. Selamat datang dan menikmatinya. ***

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Refleksi pribadi atas Tulisan Bambang Harsono tentang doa Singkat THS-THM

AsIPA-PIPA dan KBG-SHARING INJIL

Tinjauan Komunitas Basis Gerejawi Menurut Dokumen Resmi Gereja Katolik