MEMBANGUN KEAKRABAN PUTERA PUTERI ALTAR


Sebuah bus pariwisata berwarna biru berpaduan hijau meluncur ke arah bukit Fat Chin San. Sebuah bukit yang dikenal oleh warga Sungailiat sebagai tempat wisata alam yang bernuansa religi Kong Fu Chu. Bus yang mengantar lebih kurang 70-an putera puteri altar Paroki Sungailiat itu diiringi empat buah mobil avanza dan belasan kendaraan beroda dua. Iring-iringan kendaraan itu, akhirnya berhenti di kaki bukit.

Rombongan putera-puteri altar atau yang sering disebut PA-PI, kemudian ramai-ramai mendaki ke atas bukit. Putera-puteri altar yang terdiri dari anak-anak SD dan SMP itu, setelah sampai di atas bukit, mereka saling sharing soal perjalanan itu. Banyak anak yang selama ini tidak berjalan kaki sejauh itu, ngomel dan mengeluh letih. Namun, satu hal yang menarik dari itu adalah mereka begitu bersemangat mencapai puncak bukit dan menikmati panorama alam nan sejuk.

Mereka datang ke bukit Fat Chin San, tidak untuk berwisata ria. Mereka datang untuk mengalami kebersamaan yang selama ini terputus oleh karena rutinitas kegiatan sekolah masing-masing dan sibuk dengan berbagai privat mata pelajaran. Putera-puteri altar paroki dan stasi berkumpul, membangun komitmen menjalankan tugas pelayanan membantu imam di altar ketika misa.

Komitmen putera-puteri altar semakin kuat karena mereka didampingi oleh dua pastor dan satu suster, para guru pastoral sekolah serta para senior putera-puteri altar yang kini tergabung dalam Mudika St. Aloysius Gonzaga. Pastor paroki Sungailiat yang sering disapa umat, Rm. Kris, dalam kesempatan itu mendorong putera puteri altar dengan menceriterakan semangat pelayanan St. Tarsisius.

Lebih lanjut, pastor MSF yang sudah empat tahun berkarya di Sungailiat ini menuturkan bahwa St. Tarsius menjadi pelindung putera-puteri altar karena dia berani mempertahankan tubuh Kristus yang dibawanya dari sergapan penjahat. Tubuh Kristus yang dibawanya itu, untuk paus dan uskup yang ada didalam penjara karena ditawan oleh tentara.

Diakhir ceritera tentang St. Tarsisius, Rm. Kris menantang ke-70-an putera-puteri altar yang antusias mendengar itu dengan sebuah pertanyaan. Apakah kalian pun berani seperti St. Tarsisius untuk melayani Tuhan?  Paduan suara PA-PI pun bergema, kami siap melayani! Sebagai sebuah refleksi atas jawaban PA-PI, kami siap melayani, prochus Sungailiat meminta mereka untuk menulis satu jawaban atas pertanyaan mengapa selama ini putera puteri altar mulai berkurang menjalankan tugas pelayanan dalam misa?

Harus diakui bahwa jawaban terbanyak yang ditulis putera-puteri altar yang rata-rata anak-anak SD dan SMP, bahwa mereka capek, malas dan bangun tidur kesiangan. Jelas bahwa anak-anak terbebani karena dari senin sampai sabtu, sibuk sekolah dan sorenya harus mengikuti pelajaran tambahan. Selain itu, ada pula anak-anak yang memberikan jawaban bahwa mereka malu, takut salah, kurang tahu urutan misa, dan kurang ada latihan. Semua jawaban PA-PI itu, kembali ditegaskan oleh Ibu Yovita Djanu Rombang, mantan pendamping PA-PI Sungailiat, bahwa ke depan seluruh jawaban tadi akan diperhatikan oleh kakak-kakak pendamping PA-PI. Kesempatan yang bagus itu juga, diberikan kepada para senior PA-PI untuk menceritera semangat mereka dalam pelayanan yang sudah mereka laksanakan dalam beberapa tahun yang lalu. Hadir dalam sharing pengalaman itu seniores PA-PI seperti dr. Aditya, Nora Sylvia, Agustina Erawati, Asta Hilarius dan Rm. Budiyono MSF.

Semangat putera-puteri altar di atas bukit itu, seakan-akan direstui oleh Tuhan. Mengapa tidak, hari minggu siang (4/3/2012) itu panas, tiba-tiba mendung dan hujan pun mengguyur bukit Fat Chin San. Hujan rahmat memberikan harapan baru, bahwa putera-puteri altar siap melayani Tuhan dan siap untuk mengikuti temu akrab berikutnya di Belinyu setelah paskah nanti.

Acara membangun keakraban PA-PI, diakhir dengan makan bersama dan berkat perutusan oleh Rm. Kris. Selamat bertugas PA-PI, sampai jumpa setelah paskah. ***

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Refleksi pribadi atas Tulisan Bambang Harsono tentang doa Singkat THS-THM

AsIPA-PIPA dan KBG-SHARING INJIL

Tinjauan Komunitas Basis Gerejawi Menurut Dokumen Resmi Gereja Katolik