Rabu, 14 Mei 2014

Paskah Ekuimene Bersama SMK Negeri 1 Sungailiat Kabupaten Bangka



Hidup rukun dan toleransi umat beragama di SMK Negeri 1 Sungailiat, sangat dijunjung tinggi oleh para guru, karyawan, dan para siswa-siswi SMK Negeri 1 Sungailiat, Kabupaten Bangka, kian tampak. Pasalnya, untuk perayaan Paskah Ekuimene tahun 2014 ini, justru masuk dalam program kegiatan OSIS SMK Negeri 1 yang bersangkutan. Sekolah melalui OSIS-nya memfasilitasi kegiatan ini. Pengurus OSIS terlihat sibuk mempersiapkan ini tatkala berada di lokasi Paskah Ekuimene bersama antar siswa-siswi dan para guru kristen, di Pantai Matras, salah satu pantai yang menjadi ajang pariwisata bagi masyarakat Pulau Bangka.

Keterlibatan pengurus OSIS mendukung kegiatan Paskah Ekuimene, antara lain: ketika siswa-siswi dan para guru kristen beribadah, mereka mengambil telur paskah lalu menyembunyikan di beberapa titik tempat, yang akan menjadi acara cari telur bersama antar siswa-siswi kristen. Selain itu, keterlibatan pengurus OSIS juga nampak dalam menyiapkan makanan untuk makan bersama dan memanggang ikan untuk menjadi santap bersama, ungkap Elias Sitinjak, S.Ag, guru agama Katolik di SMK Negeri 1 dan sekaligus menjadi ketua panitia Paskah Ekuimene bersama.

Lebih lanjut, Pak Elias, menegaskan bahwa kegiatan ini didukung oleh Kepsek dan para guru yang lain. Dukungan sekolah itu berupa dana. Dana itulah yang kami kelola untuk melaksanakan kegiatan ini. Bagi saya, ini sesuatu yang luar biasa. Karena sekolah memberikan kesempatan bagi anak-anak didik kami yang beragama kristen untuk merayakan Paskah Ekuimene ini (29/4). Inilah yang patut kami banggakan.

Kegiatan Paskah Ekuimene bersama bertempat di Pantai Matras itu, diikuti oleh lebih kurang 40-an siswa-siswi yang beragama kristen dan ditambah dengan tiga guru yang mengajar agama kristen di SMK Negeri 1. Paskah Ekuimene diawali pada pukul 09.30 yang dimulai dengan ibadat ekuimene bersama. Lagu-lagu pujian kepada Tuhan Yesus dikomandankan bersama-sama, kemudian doa, dan selanjutnya pembacaan Firman bersama lalu pujian dan doa penutup. Dalam pembacaan Firman bersama yang dipimpin oleh Alfons Liwun, katekis di Paroki Sungailiat, diambil dari Injil Yohanes 20: 24-29. Setelah baca Firman bersama, Alfons Liwun mengajak siswa-siswi untuk memetik ayat-ayat, atau kata-kata yang mengesan atau menantang atau menarik untuk dibaca secara lantang, supaya para peserta lain ikut merasakan ayat atau kata-kata itu. Setelah proses itu berakhir, baru diberikan penegasan tentang teks Injil yang dibacakan bersama itu.

Alfons Liwun mengajak para siswa-siswi yang merayakan Paskah Ekuimene bersama itu untuk melihat dan memahami tiga hal pokok yang disampaikan Penginjil Yohanes. Pertama, tentang Rasul Tomas. Tomas adalah salah satu dari deretan ke-12 rasul. Tomas memiliki kepribadian yang berbeda dengan ke-11 rasul lain. Kepribadian macam mana yang ditunjukan Tomas ketika Yesus menampakan diri-Nya kepada para rasul lain? Tomas, seorang yang bersikap ragu-ragu. Ia mau melihat Yesus yang bangkit jika ada buktinya. Dan buktinya itu, tidak main-main. Yesus harus menampakan diri-Nya lagi, supaya ia bisa menyentuh  luka-luka Yesus. Meminta bukti menandakan bahwa Tomas tidak bersikap rendah hati. Tomas terkesan orang sombong, tidak mau mendengarkan pewartaan para rasul yang lain. Ia merasa diri lebih hebat, ketimbang para rasul lain. Pertanyaan refleksi untuk kita adalah adakah diantara kita yang bersikap dan berjiwa seperti Tomas? Memang terkadang, kita merasa bahwa kita memiliki ilmu yang hebat. Ilmu yang menunjukkan kebenaran jika ada bukti yang pasti. Ilmu semacam ini baik, tetapi ada ilmu keimanan yang terkadang tidak perlu bukti, tetapi kita perlu menerima pewartaan kebenaran dari orang lain.

Kedua, membangun persekutuan atau dalam ilmu ekklesiologi sering disebut membangun communio. Unsur ‘communio’ ini sangat penting. Tomas dalam Injil Yohanes tadi, dia tidak ada ketika Yesus menampakkan diri-Nya. Penginjil Yohanes tidak menyebutkan pada waktu itu Tomas pergi ke tempat lain. Namun, satu hal yang pasti bahwa dalam persekutuan yang dijanjikan Yesus, Tomas tidak ada. Karena tidak ada maka ketika Yesus yang sudah bangkit itu menampakkan diri-Nya, Tomas tidak tahu.

Efek dari ketidakhadiran Tomas dalam persekutuan itu ialah bahwa Tomas tidak dapat menerima karya pewartaan para rasul lain bahwa Yesus sudah bangkit. Selain itu, syallom yang dibawakan Yesus pun tidak dialami Tomas. Tidak heran kalau hati Tomas mengalami kegetiran, ketakutan, dan kecemasan. Perasaan Tomas ini diungkapkannya, dengan bersikap tidak percaya. Kalau pun percaya, ia butuh bukti.

Pertanyaan refleksi untuk kita adalah apakah ‘percaya’ perlu membutuhkan bukti-fakta nyata? Tidak! Percaya adalah ungkapkan hati kepada Yesus Kristus. Percaya memang terkadang butuh bukti. Tetapi berbeda dengan ‘percaya’ yang satu ini. Percaya ini membutuhkan ‘persekutuan’ atau ‘communio’. Selain itu, pertanyaan refleksi lain adalah apakah kita sering hadir sebagai umat kristen, dalam ibadat pada hari Minggu atau hari-hari lain yang diperintahkan oleh Gereja kita masing-masing? Kehadiran kita bersama adalah wujudnyata dalam membangun persekutuan. Dalam persekutuan itulah, Yesus yang bangkit itu hadir dan membawa syallom untuk kita. Dalam persekutuan, itulah Kristus menunjukkan janji-Nya yang tak pernah dibatalkan oleh kuasa manusia. Janji Yesus boleh kita baca dalam Mat. 1: 23; 18: 20; 28: 20b.

Terkadang, kita banyak omong tentang Yesus, tetapi tidak percaya, tidak beriman. Omong tentang Yesus hanya sebatas ilmu yang kita peroleh. Bukan berasal dari ungkapan iman kita. Orang yang banyak omong tentang Yesus, mengatakan bahwa ia percaya, tanpa berkomunio dengan Yesus dan sesama adalah plin plan. Ia sama dengan Tomas.

Ketiga, Berbahagialah orang yang tidak lihat namun percaya. Perkataan Yesus ini, bertolak belakang dengan sikap dan cara berpikir Tomas. Tentu, Yesus yang bangkit juga mau mengkritik kita yang hanya mengandalkan ilmu pengetahuan dan pembuktian-pembuktian ilmu yang rational. Pernyataan Yesus ini mengetuk pintu hati kita dengan satu pertanyaan ini. Apakah para pengikut Yesus zaman sekarang ini pernah melihat Yesus secara langsung? Jelas bahwa hanya para rasul dan murid perdana Yesus, yang mengalami kehadiran Yesus secara langsung. Tentu kita pengikut-Nya zaman ini, tidak. Tetapi mengapa kita mau menjadi pengikut Yesus atau mengapa kita percaya kepada Yesus? Hal ini karena janji-Nya. Bahwa janji-Nya untuk senantiasa menyertai orang yang percaya kepada-Nya selalu tepat. Janji-Nya tidak pernah terbatalkan oleh siapapun dan oleh apapun. Janji-janji Yesus itu, seperti dikisahkan penginjil Matius dalam Injil, 1:23; 18: 20, dan 28: 20b. Dia senantiasa menyertai umat-Nya sampai akhir zaman. Dengan janji-Nya ini, banyak orang menaruh harapan, menaruh kepercayaan bahwa akan selamat setelah hidup ini.

Acara Paskah Ekuimene bersama anak-anak SMK Negeri 1 yang beragama Katolik dan Kristen itu, kemudian dilanjutkan dengan pelbagai games yang telah disiapkan oleh Panitia. Selanjutnya, sebagai tanda kebersamaan sebagai satu komunitas SMK Negeri 1, mereka makan bersama. Makan bersama membangun keutuhan persaudaraan dan sekaligus meningkatkan toleransi antar siswa-siswi Kristen dan OSIS SMK Negeri 1 Sungailiat. Syallom dan terima kasih SMK Negeri 1 Sungailiat Kabupaten Bangka. ***

Selasa, 29 April 2014

Paroki Sungailiat Menghayati 'Communion of Communities' Dalam Paskah Bersama Antar KBG-KBG

Memaknai Gereja tidak hanya sebatas fisik. Diharapkan pemaknaan Gereja harus sampai pada Gereja adalah 'communio', persekutuan umat Allah yang telah dibaptis dalam Nama Bapa, Putera dan Roh Kudus. Sebagai sebuah persekutuan, Kristus adalah pusatnya. Kristus adalah fokus yang daripada-Nya umat Allah belajar tentang berpusat pada Allah, communio, dan bermisi. Belajar pada Allah berarti belajar bagaimana Allah Bapa, Putera dan Roh Kudus bersekutu dan hidup sepanjang masa dalam wujudnya Cinta Kristus yang telah tanpa pamrih menebus dosa umat manusia.

Sebagai sebuah persekutuan yang menghidupkan Cinta Kasih Kristus yang bangkit, Paroki Sungailiat melaksanakan aksi nyata bersama yaitu perayakan paskah bersama. Paskah bersama tahun ini (2014) bernuasa agak lain. Bahwa setiap umat yang ada di dalam KBG-KBG membangun kebersamaan dalam melaksanakan Aksi Puasa Pembangunan (APP) melalui puasa dan pantang serta mati raga. Jalan yang diambil ini sebagai ungkapan fisik umat KBG untuk bersekutu dalam Kristus menyongsong Paskah 2014.

Kebersamaan dalam KBG-KBG terungkap secara nyata dalam kebersamaan selama pekan suci. Kebersamaan ini tidak hanya sampai disitu. Kebersamaan berlanjut terus hingga puncak kebersamaan yang dirayakan pada 'pesta paskah bersama' di Tanjung Pesona pada minggu, 27 April 2014. Acara kebersamaan ini dimulai pukul 10.00 wib. Acara kebersamaan itu terungkap dalam partisipasi dari setiap KBG-KBG baik KBG yang berdekatan dalam kota hingga KBG-KBG yang berada di luar kota Sungailiat. KBG Sta. Lucia dari Tuing hadir dengan lima mobil. KBG St. Yoh. Pemandu Bedukang hadir dengan dua mobil. Sedangkan KBG-KBG dalam kota dan sekitarnya hadir baik dengan kendaraan pribadi maupun dengan kendaraan carteran KBG-KBG yang bersangkutan.

KBG-KBG datang dengan baju berwarna merah, sehingga Pantai Tanjung Pesona siang itu disulap menjadi 'Pantai Merah Meriah' alias laskar Roh Kudus. Tidak hanya itu, 'laskar merah' hadir dan membangun kebersamaan melalui berbagai game yang disiapkan oleh Panitia Paskah, yang dikomando oleh Bpk. Leo Rachman, cs. Tim game yang dipimpin oleh Bpk. Adrianus Djanu Rombang terlihat tersenyum ria pratanda bahwa kegembiraan dan harapan adalah kegembiraan dan harapan bersama. Kebersamaan dalam game menandakan kebersamaan dalam membangun KBG-KBG. Dengan kebersamaan membangun KBG-KBG, maka secara tidak langsung wajah KBG adalah juga wajah Paroki. Iya...begitulah Paroki adalah communio of communities, persekutuan dari komunitas-komunitas yang ada didalam paroki. 

Dalam kebersamaan ini hadir anggota KBG tua-muda, anak dan remaja dan kaum muda, merasakan sebuah persekutuan yang telah lebih dahulu ditunjukkan oleh Kristus sendiri. Kebersamaan itu tidak hanya sampai pada kebersamaan di Pantai Tanjung Pesona. Kebersamaan itu terus menerus dibangun dan dihidupkan sehingga Gereja yang adalah communio terus eksis sebagai ungkapan communio abadi kita kelak di Surga. Hallelu......




Photo-photo lain dalam Perayaan paskah bersama KBG-KBG Paroki Sungailiat di Pantai Tanjung Pesona 27 April 2014:

Paskah Merah Ibu2 Paroki Sungailiat



Panitia Perayaan Paskah Bersama Paroki 2014

KBG-KBG berpartisipasi dalam game2




Sabtu, 26 April 2014

Kanonisasi Paus Yohanes XXIII dan Paus Yohanes Paulus II Oleh Paus Fransiskus 27 April 2014 Di Vatikan Roma



(Tulisan ini hanya mengenal pribadi kedua pribadi Paus)
 
Paus Yohanes XXIII lahir di Sotto il Monte, Italia, 25 November 1881 dengan nama aslinya Angelo Guiseppe Roncali. Paus Yohanes XXIII dipilih menjadi Paus menggantikan Paus Pius XII, 28 Oktober 1958 dalam usia 77 tahun, dan menjadi Paus dalam Gereja Katolik ke-261. Setelah menjadi Paus, ia sendiri merasa bahwa Gereja Katolik yang dipimpinnya ‘pengap’ karena itu Gereja akan menjadi lebih segar jika ‘jendela-jendela dibuka’ ungkap Paus Yohanes XXIII kepada salah seorang stafnya, pada awal 1959, ketika ia sedang membuka jendela-jendela di kamarnya.

Gagasannya untuk membuka jendela-jendela, ternyata bukan hanya sebuah gagasan kosong. Dalam bimbingan Roh Kudus, bertempat di Basilika St. Paulus, 25 Januari 1959, Paus Yohanes XXIII mengumumkan akan diadakan sebuah Konsili. Maka mulailah ia membentuk komisi-komisi untuk persiapan Konsili. Setelah semua komisi menyiapkan diri dengan matang, tepat pada tanggal 11 Oktober 1962, bertempat di Basilika St. Petrus-Roma,  Konsili dinyatakan secara resmi dibuka. Konsili yang kita kenal sampai dengan sekarang ini adalah Konsili Vatikan II.

Namun, sementara Konsili Vatikan II sedang berlangsung, pada tanggal 3 Juni 1963, Paus Yohanes XXIII meninggal dunia. Pada tanggal 3 September 2000, bersama dengan Paus Pius IX, ia dibeatifikasi oleh Paus Yohanes Paulus II, peringatan Paus Yohanes XXIII, setiap tahun tanggal 11 Oktober, sekaligus peringatan pembukaan secara resmi Konsili Vatikan II. Dokumen-dokumen Konsili Vatikan II hingga sekarang menjadi sebuah dokumen Gereja Katolik yang sangat terkenal baik bagi umat Katolik maupun bagi umat dari agama-agama lain.

Paus Yohanes Paulus II, lahir di Wadowice-Polandia, 18 Mei 1920, dengan nama kecil Karol Jozef Wojtyla. Selama menjadi Uskup Polandia, Paus Yohanes Paulus II turut berpartisipasi dalam Konsili Vatikan II. Dua dokumen hasil Konsili Vatikan II yang merupakan pokok-pokok pikirannya yang berdasarkan pengalaman hidupnya selama masa Nazi di Polandia adalah ‘pernyataan tentang kekebasan beragama’ (Dignitatis Humanae) dan ‘Konstitusi Pastoral tentang Gereja dalam dunia modern (Gaudium et Spes). Kedua dokumen ini sangat aktual untuk dunia dewasa ini.

Karol Jozef Wojtyla atau Paus Yohanes Paulus II dipilih menjadi Paus sejak 16 Oktober 1978. Dalam sejarah Gereja Katolik, Paus Yohanes Paulus II adalah Paus ke-264. Dan selama menjadi Paus, Karol Jozef Wojtyla merupakan Paus yang paling banyak berkunjung ke negara-negara lain. Ada sekitar 129 negara yang dikunjunginya selama menjadi Paus. Termasuk didalamnya negara Indonesia, yang dikunjungi Paus Yohanes Paulus II pada tanggal 8-12 Oktober 1989 di beberapa kota di Indonesia: Jakarta, Medan, Maumere, Yogjakarta, dan Dilli (sekarang Timor Leste). Ketika kunjungannya ke Indonesia, Paus memuji toleransi hidup beragama di Indonesia. Katanya, ‘Di muka bumi ini, tidak ada negara yang begitu toleransi seperti Indonesia.’

Selama menjadi Paus, Paus Yohanes Paulus II membeatifikasi 1.340 orang dan mengkanonisasi 483 beata-beato, dan ini merupakan yang paling banyak selama lima abad terakhir. Paus Yohanes Paulus II, meninggal pada tanggal 2 April 2005, dalam usia 84 tahun, 319 hari. Belum sampai 5 tahun, penggantinya, Paus Benediktus XVI memberikan sebuah gelar venerabillis kepadanya. Dan bertepatan dengan pesta Kerahiman Ilahi, kedua Paus, Paus Yohanes XXIII dan Paus Yohanes Paulus II dikanonisasi menjadi santo oleh Paus Fransiskus, 27 April 2014 di Vatikan Roma.

Kita sebagai satu Umat Allah dalam bahtera Santo Petrus, patut bersyukur dan bersukacita kepada Allah atas karya agung yang dialami oleh kedua Paus kita. Kepada kedua Paus kita, telah berkarya dalam Kristus dan keduanya telah menjawabi panggilan suci Allah untuk melayani seluruh umat manusia. Kita patut berdoa bagi kedua paus ini dan sekaligus kita mohon kepada kedua Paus ini untuk terus mendoakan Gereja kita.

*). dari berbagai sumber.

Rabu, 23 April 2014

Fasilitator KBG Perlu Menghindari Sikap Kesombongan dan Keangkuhan Diri



(materi pertemuan KBG, hasil 2 Tim AsIPA Paroki Sungailiat)
Tujuan Pertemuan: mendorong fasilitator untuk menyiapkan diri sebelum melaksanakan tugasnya dalam pertemuan di KBG.
 A.  Pembuka:
1. Fasilitator mengajak anggota KBG untuk membuka pertemuan ini dengan sebuah lagu pembuka.
2.   Fasilitator meminta salah seorang diantara anggota KBG untuk berdoa mengundang Tuhan.
3.   Fasilitator mengundang anggota KBG untuk terlibat dalam pendalaman materi pertemuan.

B.  Pendalaman Materi:















CODE




















Perhatian Fasilitator untuk ‘code’ ini antara lain: (1). Pelaku yang berpakaian yang sama menandakan bahwa mereka mempunyai tugas yang sama, yaitu sebagai seorang fasilitator. Semestinya sebagai seorang fasilitator dia menjalankan tugasnya dimulai dengan menyiapkan diri-membaca dan memahami materi pertemuan sehingga dia tidak ‘meraba-raba’ atau ‘menduga-duga’ tentang isi modul yang akan dibawakan. Fasilitator yang tidak menyiapkan diri sama dengan pelaku dalam modul yang menutup matanya dengan kain pengikat. (2). Bagi fasilitator yang merasa diri sudah tahu segalanya, sebenarnya memunculkan sikap kesombongan dan keangguhan dirinya. Menjadi fasilitator tidak boleh menganggap reme akan bahan yang akan dibawakannya. (3). ‘Gajah’ melambangkan kondisi/situasi KBG yang terkadang sulit dipahami oleh fasilitator.
DECODE
1.  Apa yang ANDA lihat dalam ‘code’ ini? Apa yang sedang terjadi?
2.  Mengapa fasilitator bisa berpendapat yang berbeda tentang seekor gajah?
3. Mengapa fasilitator menutup dirinya dengan mengikat selembar kain pada matanya, padahal ia pun sudah tahu tugasnya di KBG?
4.    Apa makna sikap menutup diri seorang fasilitator KBG?
TEKS KITAB SUCI
Teks Kitab Suci: Yesaya 2: 11 – 12.
PENDALAMAN TEKS
KITAB SUCI
1. Apa akibatnya jika seseorang (fasilitator) merasa diri sombong dan angkuh?
2.   Apa makna kata ‘direndahkan’ dan ‘ditundukan’?
3.  Bagaimana supaya kita semua baik anggota KBG maupun fasilitator) hidup sebagai satu Umat Allah?
TAMBAHAN
1.    Sejak kita hidup dalam Kristus, kita telah menerima karunia dari Allah. Kita telah menerima karunia berlain-lainan menurut kasih karunia yang dianugerahkan kepada kita. Karunia untuk melayani baiklah kita melayani. Karunia untuk mengajar baiklah kita mengajar. Karunia untuk menasihati baiklah kita menasihati. (Rm. 12:6-8). Semuanya ini dapat dijalankan jika kita memiliki kerelaan hati, meluangkan waktu dan tenaga untuk menyiapkan diri sebelum menjalankan tugas perutusan, sebagai keikutsertaan kita dalam tritugas (nabi, imanm, dan raja) Yesus.
2.  Kompendium Katekismus Gereja Katolik (KKGK No. 67): Allah menciptakan manusia untuk mengenal, melayani, dan mencintai Allah, untuk mempersembahkan semua ciptaan di dunia ini sebagai rasa syukur dan berterima kasih kepada-Nya dan untuk mengangkatnya ke dalam hidup bersama Dia di sorga. Pelaksanaan tugas kita yang dimulai dari persiapan diri hingga selesai menjalankan tugas, adalah tujuan Allah menciptakan manusia.
3.    Konsili Vatikan II, khususnya dalam dekrit tentang Kerasulan Awam (Apostolicam Actuositatem-AA, art. 6) mengajak kaum awam, masing-masing menurut bakat-pembawaan dan pendidikan pengetahuannya, supaya lebih sungguh menjalankan peran dalam menggali dan membela azaz-azaz kristiani serta menerapkannya dengan cermat pada masalah-masalah dewasa ini. Artinya, tugas fasilitator sebagai pemandu dalam KBG, sungguh-sungguh dijalankan dengan cermat dan baik.
4.  Amanat Sinode II dalam MGK No. 180-1187: jika sikap sombong dan angkuh masih menggerogoti hati fasilitator dan anggota KBG maka tugas sebagai Umat Allah untuk melanjutkan misi Kristus membangun Kerajaan Allah, pengembangan eksistensi sakramental persekutuan dengan Kristus, dan mengembangkan misi Gereja sebagai Tubuh Mistik Kristus yang terwujud didalam KBG, hampir pasti tidak akan tercapai dan tidak akan Menjadi Gereja Partisipatif seperti yang kita impikan bersama.
5.Dalam ‘Berpastoral Secara Integral Untuk Mengembangkan KBG’ khusus bagian tentang Fasilitator Ujung Tombak KBG, kita bisa mengetahui bagaimana menjadi seorang fasilitator yang baik yang dimulai dari awal sebelum pertemuan hingga akhir pertemuan di KBG, apa yang mau dilakukan seorang fasilitator.
 C.  Penutup:
1.   Fasilitator mengundang anggota KBG untuk mengungkapkan doa-doa umat berupa pujian, syukur, dan permohonan.
2.   Fasilitator mengajak anggota KBG berdoa Doa Bapa Kami, sebagai doa penyatuan semua doa yang telah diungkapkan secara spontan.
3.   Lagu Penutup
=****=