Kamis, 12 September 2013
Selasa, 20 Agustus 2013
SHARING INJIL TUJUH LANGKAH DI KBG ST. THERESIA KANAK-KANAK YESUS 1 PAROKI SUNGAILIAT
Tim AsIPA Paroki Sungailiat Bangka berkunjung ke KBG Sta. Theresia Kanak-Kanak Yesus 1 Paroki Sungailiat. Kunjungan itu terasa hangat. Tim disambut oleh belasan orang Fasilitator KBG Sta. Theresia di rumah Bapak Thomas Jusman, Hari Minggu, 18 Agustus 2013, pukul 18.00 wib. Kunjungan ini merupakan suatu kunjungan yang membahagiakan. Karena Fasilitator KBG ini mau menerima Tim dan sekaligus mau merasakan kebersamaan dengan Tim menjalankan Sharing Injil Tujuh Langkah, yang sedang hangat dianjurkan oleh Post Sinode II Keuskupan Pangkalpinang.
Dalam kunjungan itu, Tim menyampaikan bahwa Sharing Injil Tujuh Langkah merupakan Sharing Yesus kepada Umat-Nya. Jadi Sharing Injil bukan hal baru dalam Gereja Katolik. Karena bukan hal baru, dan merupakan cara Yesus sendiri menyampaikan ajaran-Nya, maka KBG pun semestinya mengikuti cara Yesus ini. Supaya umat di KBG mampu mendengarkan Sabda Yesus, merenungkannya, menghayatinya dan melaksanakan misi Yesus itu dalam kehidupan sehari-hari.
Dengan pengantar singkat, kemudian dilanjutkan dengan animasi Sharing Injil Tujuh Langkah bersama Fasilitator KBG Sta. Theresia 1. Fasilitator terlihat begitu antusias mengikuti langkah demi langkah yang dipandu secara bergilir oleh Bapak Leo Agung Heriyanto dan Bapak John Djanu Rombang. Setelah tahap demi tahap dilaksanakan ternyata, Fasilitator KBG Sta. Theresia 1 mampu mengikuti dan mensharingkan pengalaman hidup yang begitu mendalam. Bahwa selama ini, KBG kami telah menjalankan Sharing Injil Tujuh Langkah, hanya pada langkah ke-6 dan ke-7 kami masih bingung dan belum paham pada langkah ini, ucap Bapak Yosef Ardiyanto Totong, ketua KBG dan Bapak Ferdinand, salah seorang Fasilitator KBG Sta. Theresia 1. Karena itu, Tim pun mencoba mempraktekan langkah ke-6 dan ke-7 dengan melibatkan Fasilitator KBG itu.
Apa hasilnya? Ternyata mereka pun mengikutinya dengan baik dan lancar. Karena mereka pun dilibatkan dalam langkah ke-6 dan ke-7. Berpartisipasi pada langkah yang menjadi halangan bagi mereka, ternyata dilalui dengan mudah tanpa banyak pertanyaan. Bagus dan begitu indah rasanya, ucap kalimat pujian dari Bapak Yosef Ardiyanto Totong demikian. Lanjut Bapak Ardiyanto: "O...bagus sekali langkah ini. Ternyata selama ini rupanya metode ini jauh lebih membawa orang pada keheningkan dan membagikan Sharing Injil antar anggota KBG. Dan syukur bahwa sharing-sharing yang kita dengar tadi, jauh lebih meneguhkan harapan anggota KBG ketimbang kotbah yang dibawakan dalam ibadat sabda tanpa imam. Luar biasa!". KBG Sta. Theresia 1 berencana untuk mengundang lagi Tim untuk kunjung ke KBGnya untuk anggota KBGnya yang lebih banyak lagi."
Dalam kunjungan Tim itu, teks Kitab Suci yang dibacakan adalah Injil Markus, 9:33-37. Langkah ke-6, tahap Sabda Kehidupan, Fasilitator KBG Sta. Theresia 1 memilih kalimat "Menjadi Pelayan bagi sesama." Kalimat inilah yang mendorong Fasilitator KBG Sta. Theresia 1 untuk terus melayani supaya dalam nama Yesus, karya pelayanan kita semakin mengedepankan Kristus sendiri.Selamat melaksanakan Sabda Kehidupan semoga semakin semangat untuk menjadi pelayan baik untuk diri sendiri, keluarga, KBG dan Gereja Universal. ***
SAMBUT RP. BERNARDUS WINDYATMOKO, MSF DAN PISAH RP. ALOYSIUS KRISWINARTO, MSF
Pisah sebuah moment yang berharga untuk selalu dikenang. Mengapa selalu dikenang? Tentu meninggalkan sesuatu yang menjadi kenangan itu sendiri. Paling kurang ada peristiwa-peristiwa hidup yang telah menggoreskan sebuah pisah yang membahagiakan atau pun pedih. Namun peristiwa-peristiwa pedih itu akan terhapuskan bila peristiwa-peristiwa yang membahagiakan itu lebih mendominasi sebuah peristiwa hidup itu sendiri.
Peritiwa-peristiwa pedih pun akan menjadi sebuah kebahagiaan bila orang yang ditinggalkan akan selalu belajar dan terus belajar untuk menimbah peristiwa itu untuk semakin memaknai hidup itu sendiri.
Mgr. Hilarius Moa Nurak, SVD memimpin misa serah teriama pastor Paroki Sungailiat Bangka, dari RP. Aloysius Kriswinarto, MSF kepada RP. Bernardus Windyatmoko, MSF.
Dalam Kotbah Uskup Pangkalpinang menyampaikan kepada umat Sungailiat bahwa RP. Win telah berpartisipasi secara tidak langsung kepada umat Katolik Keuskupan Pangkalpinang melalui gambar karikaturnya dalam buku Marilah Melangkah Maju Dalam Persaudaraan-Pedoman Umat Katolik Keuskupan Pangkalpinang 2000-2010. Dan kini RP. Win sendiri memberikan diri secara langsung dalam pelayanan hidupnya bagi umat Paroki Sungailiat. Jadi RP. Win bukan orang baru. Beliau orang lama, kita patut bersyukur, beliau mau hidup dan melayani kita saat ini.
Dalam kata sambutan RP. Aloysius Kriswinarto, MSF, mengucapkan terima kasih banyak atas perhatian dan kerjasama umat yang mendukung karya pelayanannya selama lebih kurang lima tahun di Paroki Sungailiat. Kerjasama kita akan berlanjut baik dalam doa maupun dalam karya pelayanan kita. RP. Kris berkarya di Paroki Keluarga Kudus Banteng, Yogjakarta. Jika ada yang mau ke Yogjakarta, jangan lupa singgah di Paroki tempat karya saya yang baru, undang RP. Kris untuk umat Sungailiat.
RP. Bernardus Windyatmoko, MSF, yang sering dikenak Rm. Koko kini menjadi pastor Paroki Sungailiat sejak 1 Agustus 2013. Beliau adalah seorang imam yang dikenal sebagai karikartunis di Majalah Hidup. Dengan karikartunis beliau sudah menyapa banyak umat termasuk umat Paroki Sungailiat. Kerjasama antar kita, itulah ajakannya untuk membangun Paroki Sungailiat. Semoga ke depan Gereja Paroki Sungailiat semakin maju dalam karya pelayanan bagi sesama.
Bpk. Yosep Ardiyanto Totong, wakil umat dalam kata sambutannya, beliau mengucapkan terima kasih yang berharga untuk Rm. Kris yang sudah setia dan dengan gigih berjuang untuk melayani umat Sungailiat selama lebih kurang 5 tahun (7 September 2008-1 Agustus 2013). Mudah-mudahan pelayanan Rm. Kris selalu dikenang dan membuat umat yang ditinggalkan ini semakin meneladani hidup Yesus sendiri.
Kepada Rm. Koko (Win), beliau mengucapkan selamat datang dan selamat berkarya di Paroki Sungailiat. Umat kami terkadang unik Romo. Walau demikian, Rm. Koko harus berani merasakan kerjasama umat Sungailiat yang unik ini.
Dalam misa serah terima (17/8/2013), koor yang disersembahkan oleh OMK St. Aloysius Gonzaga, sangat memuaskan umat yang hadir. Komentar Pak Pie Pie, salah satu umat Sungailiat, misa kita malam ini sangat membahagiakan karena suara koor begitu bagus dan indah. Paroki kita mempunyai warna yang khas dan lain, ketika ada anak muda yang ikut berpartisipasi dalam Gereja. Apalagi, kehadiran dokter Bernadeth, yang sekarang berkarya di RS Arsani Sungailiat Bangka, yang menjadi dirigen koor OMK. Beliau peduli dan mau melayani umat khususnya OMK. Luar biasa dokter...., ungkap salah seorang umat yang tidak mau menyebut namanya. Jika setiap minggu ada koor semacam ini, mungkin Gereja Sungailiat semakin bersemangat untuk menghayati makna Ekaristi. Oh....rupanya, OMK, sebagai kelompok kategorial, semestinya menjadi "vitamin" dalam KBG, sehingga KBG itu sendiri semakin memberikan makna perwujudan sebuah Gereja secara riil di tengah kehidupan umat Katolik.
Setelah misa serah terima Pastor Paroki yang baru, bersama umat dari 16 KBG mengadakan ramah tamah bersama bapak uskup, pastor, suster dan seluruh umat yang hadir di halaman Gereja. Pada kesempatan itu, OMK tampil lagi dengan beragam kostum budaya dan lagu-lagu daerah berdasarkan asal usul umat Katolik Sungailiat. Ada lagi dari Timur, ada lagu di Jawa, ada lagu dari Sumatera dan lebih hebat lagi OMK menyanyikan lagi Tiong Hoa. Terlihat Robert, salah seorang anak muda dari Flores, begitu susahnya menyanyikan lagu Tiong Hoa. Kesannya, seakan lidahnya bolak balik dan melengkung sana sini, tapi vokalnya terbata-bata. Wo....susah be menyanyikan lagu ini. Hebat, begitu pede Robert bersemangat menyanyikan lagu itu.
Selain acara ramah tamah dibawakan oleh OMK, tak ketinggalan anak-anak Katolik yang selama ini bersekolah di SMP St. Maria Goretti, membawakan tarian sebagai bentuk doa yang ditarikan untuk para hadirin yang hadir. Bukan hanya itu, mereka pun melalui Ibu Veronika Sulistyowati mengajak umat yang hadir untuk ikut berdoa dalam bentuk tarian secara bersama-sama. Iya...makna Gereja Partisipatif muncul, semua anggota umat berperan dan mengambil bagian dalam karya pelayanan hidup bersama. Salut dech....Kapan-kapan bisa muncul lagi dengan beragam gerak tari. Qui Benecantat bis orat. Siapa yang bernyanyi bagus, ia berdoa dua kali.
Diakhir acara ramah tamah, mbah Pardi, muncul dan memberikan salam kepada Rm. Kris. Entah pesan apa yang disampaikan mbah Pardi, hanya mereka berdualah yang tahu. Tuhan hanya menyaksikan saja. Namun yang jelas, mbah Pardi mengucapkan terima kasih atas pelayanan Romo Kris dan secara khusus berdoa untuk keluarga beliau.
Rupanya, cinta Tuhan selalu bersemi dalam hati setiap orang. Orang tergerak untuk berkarya hanya karena cinta Yesus itu. Cintalah yang mempertemukan kita semua dalam beragam bahasa, cara berpikir dan cara pandang. Cintalah yang menyatukan berbagai orang dengan latar belakang yang berbeda-beda. Namun jauh dari itu, cinta pulalah yang menghidupkan semua orang yang percaya kepada Kristus untuk tetap mencintai Allah dalam mencintai sesama. Mat jalan Rm. Kris, semoga tetap semangat berkarya dan melayani umat di Paroki Banteng, Yogjakarta. Salam harmoni untuk communio. ***
Rabu, 12 Juni 2013
SHARING PENGALAMAN RD. LUCIUS POYA HOBAMATAN: INSPIRASI UNTUK KBG DI KEUSKUPAN LAIN
Komunitas Basis Gerejawi: Cara Baru Hidup Menggereja di Abad 21, merupakan tema
utama yang menjadi refleksi para peserta dari Keuskupan Agung Makasar,
Keuskupan Agung Jakarta, Keuskupan Agung Semarang, Keuskupan Agung Ende,
Keuskupan Agung Pontianak, Keuskupan Pangkalpinang, Keuskupan Tanjung Karang,
Keuskupan Bandung, Keuskupan Purwokerto, Keuskupan Denpasar, Keuskupan
Banjarmasin, Keuskupan Tanjung Selor, Keuskupan Manado, Keuskupan Larantuka, dan
Keuskupan Jayapura. Pertemuan itu diselenggarakan oleh Komisi Kateketik (Komkat)
KWI pada 20-23 Mei 2013 di Wisma Kare Makasar, Sulawesi Selatan. Melalui
pertemuan ini, Komkat mengajak animator dan animatris atau dalam istilah
Gerejawi kita, fasilitator untuk merefleksi kembali bagaimana menghidupi KBG di
setiap keuskupan di Indonesia.
Hadir dalam pertemuan itu selain peserta sebanyak 42, juga para staff Komkat KWI dan RD. M. Purwatma sebagai pemberi catatan kritis dan proses pertemuan. Yang lebih menarik dan khusus lagi RD. Lucius Poya Hobamatan, Pastor Paroki Tembesi Batam. Pada kesempatan malam
harinya (21/5/2013), RD. Lucius Poya diberi kesempatan untuk mensharekan pengalaman ber-KBG selama ini di Pulau Batam. Beliau menyampaikan sharing pergulatannya merintis dan
mengembangkan KBG di tempat tugasnya, Paroki Tembesi, Batam. Rm. Poya, dengan gaya
rambutnya yang khas memulai sharing pengalamannya dengan refleksi demikian.
Situasi
umat Paroki Tembesi, kebanyakan buruh galangan kapal dan
industri elektronik. Upah minimum buruh
Rp 1.150.000. Untuk buruh yang masuk dari jasa outsourcing. Upahnya bisa hanya tinggal sekitar 750 ribu rupiah.
Upah yang minim seperti itu, maka buruh cenderung mengejar lembur untuk
menambah penghasilan. Maka mereka pun mengabaikan soal iman.
Banyak
juga dari antara umat di paroki merupakan orang-orang buangan yang menghuni
rumah-rumah liar. Mayoritas umat berpendidikan SMP ke bawah. Kebanyakan umat
beretnis Batak, Flores, Jawa, dan lain-lain. Maklumlah Batam, banyak orang
pingin datang mencari pekerjaan. Pada saat awal kedatangan saya, ada trauma
karena pernah ada ‘perang etnis’ antara Batak dan Flores. Jumlah umat 7.500
jiwa dengan 1.500 keluarga muda. Tuntutan kerja yang tinggi melemahkan
perhatian pada iman. Iman pun sekedar menjadi obat bius. Dari situasi umat
semacam itu, saya diminta mempersiapkan tempat tersebut menjadi paroki. Dari
tugas menjadi pastor paroki di situ, saya merenung: untuk apakah imamat saya?
Apakah cukup hanya menjadi pelayan sakramen? Apakah juga menjadikan Gereja
menjadi sakramen keselamatan bagi dunia? Apa prioritas pelayanan: membangun gedung
gereja atau membangun communio? Apa
yang mau dilakukan bagi umat: memberi kail atau memberi ikan?
Berdasar
data riil, saya mengunjungi umat. Kunjungan untuk membangun visi paroki. Dalam
refleksi bersama umat ketika kunjungan, muncul jawaban-jawaban umat yang
menjadi kondisi riil dan dambaan umat. Mereka mengalami bahwa di wilayah itu
primoldialisme tinggi dan kehidupan iman lemah karena tuntutan hidup tinggi.
Gereja ya hanya soal sakramen dan mingguan. Kurang percaya diri karena
pemahaman iman lemah. Apatisme tinggi: urusan gereja adalah urusan pastor,
uskup, bruder, dan suster.
Dari
kunjungan itu lahirlah agenda pertama: membentuk tim, awalnya lima orang, untuk
menganimasi pembentukan communio yang
sudah menjadi visi keuskupan sejak Sinode tahun 2000. Umat menanggapi dengan
mengusulkan adanya Kotak Persembahan Keluarga, Kotak 1000. Spiritualitas janda
miskin menumbuhkan solidaritas untuk menjadi persekutuan. Meski ada respon
positif, toh tetap ada yang tidak setuju.
Tahap
berikutnya adalah membentuk 4 KBG. Keempatnya mendapat
kunjungan ekstra. Dengan kunjungan, banyak hal bisa didapatkan. Ketika keempat
KBG ini mulai bertumbuh, wilayah-wilayah lain diberi cerita untuk menyemangati
membangun komunitas. Ketika paroki
diresmikan, baru ada 12 KBG. Mereka ini juga yang menjadi Dewan Pastoral
Paroki. Dalam perjalanan, muncul masalah ada banyak umat yang tidak mau masuk
KBG. Mereka ini ditangani langsung oleh saya. KBG pun berkembang menjadi 24. KBG bertemu
setiap minggu malam karena hanya di hari itulah mereka mempunya kesempatan
untuk bertemu. Hari lain mereka lembur. Umat mendapat keuntungan ekonomis dengan masuk komunitas. Ketika tidak
bersatu dalam komunitas, mereka sulit cari kerja. Namun karena masuk komunitas,
mereka bisa saling berbagi informasi kerja.
Sejak
2004, saya mengembangkan KBG. Saya terbantu dengan metode AsIPA. Dengan pengalaman mini yang saya terima ketika belajar AsIPA di Paroki Tanjungpinang. Dari pengalaman yang sedikit itu saya mencoba. Dalam refleksi saya, KBG tanpa AsIPA tidak mungkin,
sebab bahan-bahan AsIPA sederhana dan dapat membantu
membentuk komunitas, membangun iman serta mendorong aksi sosial berdasarkan iman Katolik dan Magisterium Gereja. Bahan-bahan AsIPA dikembangkan di dekenat. 2005-2006 dengan mengajak tim untuk melatih
bahan-bahan AsIPA.
Bagi
saya, kalau hanya menjadi peserta, bahan AsIPA baru diinternalisasikan 35%. Namun
ketika menjadi fasilitator, saya dan fasilitator lain bisa menangkap 100% karena
membantu peserta memahami. Setelah selesai proses pelatihan, fasilitator mengikuti retret dan Jalan Salib, baru kemudian peserta menerima salib perutusan. Disinilah fasilitator telah siap untuk masuk ke dalam KBG.
Di
tahun berikut, terbentuklah 48 KBG baru. Selama 10 tahun ini, setiap tahun saya
melatih utusan komunitas-komunitas untuk berlatih AsIPA. Sekarang sudah ada
sekitar 400 fasilitator. Munculnya KBG membawa efek besar dalam kehidupan
paroki. Hampir di semua KBG ada pendampingan anak dan remaja. Mereka mempunyai
modul-modul sendiri berdasarkan tahun liturgi. Muncul juga dengan sendirinya
kebutuhan akan pelatihan liturgi yang baik dan benar. Setiap hari Minggu
keempat, KBG-KBG kumpul dan membahas permasalahan yang ada. Muncul juga
pemberdayaan sosial ekonomi lewat Credit
Union.
Kotak
Persembahan Keluarga, yang umumnya berisi Rp 1.000 rupiah dipergunakan untuk
pembangunan gereja dan karya kasih. Dengan KBG, sudah ada gereja yang cukup
memadai bagi umat. Dananya 100% dari umat sendiri. Dana tersebut juga bisa
untuk memberi beasiswa sekolah, bahkan sudah bisa menyekolahkan seorang anak
menjadi katekis. Dengan KBG, reaksi tanggung jawab sosial umat bisa sangat
cepat. Memang aksi keluar umat belum banyak. Tetapi sekarang
mulai berkembang kesadaran politis. Salah satu aksi sosial dari KBG yang biasa dan mempersatukan mereka adalah KBG menyepakati bahwa apapun
yang terjadi harus selalu berbahasa Indonesia. Di
KBG ada legio, dan
lain-lain. Kelompok kategorial terjadi dan ada di Komunitas Basis Gerejawi.
Dari
pengalaman yang demikian, muncul juga tantangan. Karena pekerjaan sistem
kontrak, mobilitas umat sangat tinggi: datang dan pergi. KBG bukan hal mudah
bagi para (calon) imam. Kehadiran saya di Paroki Tembesi sekarang, untuk memelihara para fasilitator. Setiap
bulan ada rekoleksi, memelihara skill dan pemahaman baru. Dengan pertumbuhan
KBG, imamnya juga semakin sibuk. Sebab, kebutuhan akan iman semakin tinggi.
Sehingga imam pun semakin berfungsi sebagai gembala dan harus mau belajar
banyak hal.
Dari rangkaian pengalaman saya, saya menemukan hal yang mendasar, ternyata KBG menolong memaknai kegembalaan saya.
Sebagai gembala, saya tidak hanya memberi makan umat, namun datang dan memahami
situasi umat. KBG juga menolong memahami Gereja sebagai kandang, suatu tempat
di mana gembala dan domba berada bersama. KBG juga menolong memahami tema SAGKI
2000, “Gereja yang mendengarkan”. KBG juga menolong memahami semangat Gaudium
et Spes, “kegembiraan dan harapan, suka dan duka manusia adalah kegembiraan dan
harapan, suka dan duka Gereja”. KBG juga menolong tetap menjadi murid.
Dihadapan orang yang pendidikannya rendah, sungguh terpahami mengapa Yesus
menggunakan perumpamaan. KBG menolong membangun kepemimpinan bersama umat: ada
bersama umat, bekerja sama dengan umat, dan lain-lain. Maka jelaslah KBG sebagai cara
hidup menggereja yang baru: harus mempunyai dua sisi kebutuhannya, imamnya merasa butuh
dan awam juga merasa butuh. ***
Rabu, 29 Mei 2013
RUMUSAN HASIL AKHIR DAN REKOMENDASI PERTEMUAN ANIMATOR DAN ANIMATRIS KBG
KBG: Cara Baru Hidup Menggereja Abad 21
Dengan
Semangat Konsili Vatikan II, Kita Mengungkapkan
dan
Mewujudkan Iman Melalui Komunitas Basis
Komisi Kateketik KWI mengadakan pertemuan animator dan animatris Komunitas
Basis Gerejawi (KBG) di Wisma Kare – Makasar selama empat hari,
Senin – Kamis, 20-23 Mei 2013. Pertemuan
ini diikuti oleh 42 peserta dari 15 Keuskupan di Indonesia, yaitu Keuskupan
Agung Makasar, Keuskupan Agung Jakarta, Keuskupan Agung Semarang, Keuskupan
Agung Ende, Keuskupan Agung Pontianak, Keuskupan Pangkalpinang, Keuskupan
Tanjung Karang, Keuskupan Bandung, Keuskupan Purwokerto, Keuskupan Denpasar,
Keuskupan Banjarmasin, Keuskupan Tanjung Selor, Keuskupan Manado, Keuskupan
Larantuka, Keuskupan Jayapura. Para peserta dari 15 Keuskupan ini diundang
untuk merefleksikan bagaimana KBG dihidupi.
A. LATAR
BELAKANG PERTEMUAN
Tahun ini, Gereja Katolik
mencanangkan Tahun Iman
untuk memperingati 50 tahun Konsili Vatikan II. Salah satu buah
pemikiran dari Konsili Vatikan II adalah Gereja
sebagai Umat
Allah. Untuk melihat Gereja sebagai Umat
Allah, kita melihatnya secara konkrit dalam pertemuan-pertemuan di mana jemaat berkumpul
dalam komunitas
basis. Namun
tidak semua pertemuan kelompok kecil adalah yang dicita-citakan sebagai KBG.
Yohanes Paulus II mengatakan
bahwa KBG adalah cara hidup menggereja abad 21 yang didasarkan cara hidup Jemaat Perdana. Cara hidup gereja perdana
adalah cara hidup menggereja yang otentik. Maka, KBG bukanlah organisasi namun
suatu cara hidup menggereja. Tentang sebutannya, bisa bermacam-macam. Intinya,
yang disebut KBG adalah kelompok kecil, umat
di tingkat akar rumput yang berupaya menghidupi cara hidup sebagaimana
ditunjukkan oleh cara hidup Jemaat
Perdana. Itulah yang kami
gumuli dalam pertemuan ini. Dari proses tersebut, kami diharapkan semakin memahami
KBG sebagai cara hidup menggereja.
Komunitas Basis di tingkat ASIA
lahir dalam pertemuan FABC di Bandung pada tahun 1990-an dengan istilah communion of communities. FABC membentuk suatu
desk untuk mengembangkan komunitas
basis. Desk ini dinamakan AsIPA (Asian
Integral Pastoral Approach). Karena di tingkat ASIA saja ada koordinasi,
maka di tingkat nasional pun kita perlu membentuk semacam ‘kepengurusan’ yang
mengelola dan mengembangkan gerakan KBG.
SAGKI 2000 mengamanatkan
pengembangan Komunitas Basis Gerejawi sebagai cara hidup menggereja menuju
Indonesia baru. Karena itu, dibentuklah Lembaga Pelayanan Komunitas Basis
(LPKB). Namun pada tahun 2005, LPKB dibubarkan dan kemudian pengelolaan KBG
menjadi salah satu desk dari Komisi Kateketik KWI. Sejak itu, pengembangan KBG
secara nasional tidak terkoordinasikan dengan baik. Disadari bahwa setelah 12
tahun berjalan, ternyata perkembangan sangat beragam dan cenderung stagnan.
Berdasarkan keprihatinan tersebut, Komisi Kateketik KWI mengundang para
animator dan animatris KBG dari 15 Keuskupan untuk berproses dalam sharing,
refleksi, dan
penyegaran kembali tentang KBG.
B. TUJUAN
PERTEMUAN
1.
Penyegaran
kembali para animator dan animatris KBG dari 15 Keuskupan dalam proses sharing
dan refleksi untuk menemukan hal-hal pokok yang bisa ditimba untuk
mengembangkan KBG.
2. Membangun
koordinasi dan komitmen untuk menghidupkan kembali KBG sebagai cara hidup
menggereja dengan berpedoman pada cara hidup Jemaat Perdana.
C. PROSES
PERTEMUAN
Pertemuan
diawali dengan perayaan
ekaristi
yang dipimpin oleh Mgr. John Liku Ada’ (Ketua Komisi Kateketik KWI) didampingi
Rm. FX. Adisusanto,
SJ (mewakili
Sekretaris Eksekutif Komkat KWI) dan Rm. Sani Saliwardaya, MSC (Ketua Komkat Keuskupan
Agung Makasar).
Mengawali
keseluruhan proses sharing dan refleksi, Ibu Affra Siowarjaya dan Rm. Lucius
Poya, Pr menjelaskan alat yang simpel namun terbukti berhasil membangun KBG.
Alat itu berupa metode yang dikembangkan oleh AsIPA, yaitu Sharing Injil 7
langkah. Sharing injil 7 langkah menjadi salah satu cara untuk menumbuhkan 3
bintang dalam KBG: persaudaraan mendalam, berpusat pada diri Yesus dalam Sabda-Nya, dan melaksanakan aksi
bersama dalam kehidupan sehari-hari. Maka, aksi yang dibuat oleh KBG sungguh
berhubungan dengan inspirasi dari Sabda
Allah sendiri.
Proses
hari kedua diawali dengan Sharing
Injil 7 Langkah
dalam kelompok-kelompok kecil dengan mengambil bacaan dari Markus 9:30-37. Kemudian
kami melanjutkannya dengan perayaan
ekaristi.
Sesi pertama hari ini diawali dengan ibadat singkat penghormatan Kitab Suci.
Lalu kami dibagi dalam enam kelompok untuk mensharingkan pengalaman menghidupi
dan mengembangkan KBG di masing-masing keuskupan.
Hasil dari sharing itu kami bawa dalam pertemuan pleno. Dari hasil pertemuan
pleno, ditemukan hal-hal pokok pemahaman dan penghayatan ber-KBG. Sore harinya,
kami diajak untuk mendalami bersama dalam kelompok besar modul AsIPA model B/1
tentang “Jemaat Kristen Basis adalah Sebuah Rumah Tangga dan Keluarga bagi
Siapa pun juga”. Kemudian dalam kelompok kecil, kami diajak mendalami modul AsIPA
model B/2 tentang “Komunitas Basis Gerejawi Merupakan Suatu Perwujudan Konkrit
Gereja”.
Malam
harinya, Rm. Lucius Poya, Pr menyampaikan sharing pergulatannya merintis dan mengembangkan
KBG di paroki
tempat tugasnya. Beliau adalah seorang Imam Diosesan Keuskupan Pangkalpinang yang sekarang
bertugas di Paroki Tembesi, pulau Batam, dan menjadi Pastor Vikep Kevikepan
Kepulauan Riau. Dalam merintis dan mengembangkan KBG di tengah situasi umat parokinya yang
kebanyakan merupakan kaum buruh dan berpendidikan rendah, beliau menemukan nilai-nilai
pelayanan imamatnya, makna kepemimpinan partisipatif dan juga semangat Gaudium
et Spes dari Konsili Vatikan II. Kemudian, Rm.
Purwatma, Pr memberikan refleksi teologis tentang KBG berdasarkan
dokumen-dokumen FABC dan Ecclesia in Asia (EA).
Menurut Rm. Purwatma, Pr, KBG sebagai cara baru hidup menggereja dimaksudkan
agar Gereja lebih mampu menghadirkan Kerajaan Allah di tengah dunia. Maka
indikator yang ditunjukkan FABC maupun EA perlu dipertimbangkan secara serius
dalam pengembangan KBG. KBG berpusat
pada iman. KBG harus
menjadi persekutuan yang berdialog dan bekerjasama dengan semua orang, bahkan
persekutuan yang menjadi ragi yang merubah masyarakat dari dalam.
Proses
hari ketiga diawali dengan perayaan ekaristi yang digabungkan dengan Sharing Injil 7 Langkah. Kemudian kami
dibawa kepada pendalaman tentang kepemimpinan partisipatif dengan modul AsIPA
model B/7b tentang “Sikap-sikap dari Seorang Pemimpin yang Memberi Arah”. Dalam
modul ini, kami pertama-tama diajak menimba inspirasi sikap-sikap kepemimpinan
yang memberi arah dari Yesus berdasarkan beberapa teks Kitab Suci (Mat. 20:25-26; 2Kor. 1:24; Gal. 2:11; Luk. 23:34; Mrk. 3:20). Ketika sungguh
didalami dalam kebersamaan, teks-teks Kitab Suci tersebut sungguh kaya
inspirasi akan sikap-sikap pemimpin yang memberi arah. Selanjutnya, kami diajak
berproses membangun sikap-sikap dari pemimpin yang melihat dirinya sebagai
pemimpin yang memberi arah atau animator. Lalu sikap-sikap tersebut kami
sampaikan dalam role play. Setelah
penampilan role play masing-masing
kelompok, kami berdialog tentang berbagai hal tentang KBG.
Proses
hari keempat diawali dengan merancang tindak lanjut dari pertemuan ini bagi
pengembangan KBG di masing-masing keuskupan.
Setelah itu, kami pun menyepakati rekomendasi-rekomendasi untuk pengelolaan dan
pengembangan KBG selanjutnya.
D. HAL-HAL
POKOK YANG KAMI TEMUKAN
Berdasarkan proses sharing dan
refleksi selama pertemuan ini, kami menemukan beberapa hal pokok, yaitu:
1. Pemahaman
dan penghayatan ber-KBG di masing-masing Keuskupan sangat beragam
a. Beragamnya
istilah untuk menyebut KBG: KBG, KUB (Kelompok Umat Basis), Kombas (Kelompok
Basis), Mawar (Lima Warga), Lingkungan, Kring, Blok, Rukun, WR (Wilayah
Rohani), Kampung, Sektor, Komsel (Komunitas Sel).
b. Beragamnya
penghayatan KBG: ada yang memahami KBG sebagai cara hidup menggereja dalam
lingkup teritorial tertentu dan tempatnya berdekatan, ada pula yang memahami
KBG sebagai cara hidup menggereja berdasarkan kategori tertentu dan lintas
teritori.
c. Meskipun
ada beragam pemahaman dan penghayatan tentang KBG, namun ada modal untuk
mengembangkan KBG, yaitu kemauan untuk berkumpul secara rutin dalam kelompok
kecil.
2. Ciri-ciri
pokok KBG
Meneladan
cara hidup Gereja Perdana sebagai cara hidup menggereja yang otentik, ada 4
ciri pokok KBG, yaitu:
a.
Anggota
KBG hidup dalam suatu lingkungan tertentu.
b.
Sharing
Injil sebagai dasar pertemuan dalam KBG.
c. KBG
bertindak secara nyata dan melakukan segala sesuatu secara bersama berdasarkan
iman.
d.
KBG
harus berhubungan dengan Gereja Universal.
3. Perlunya
kepemimpinan yang partisipatif dan memberi arah untuk menggerakkan dan
mengembangkan KBG
Beberapa
unsur sikap kepemimpinan semacam itu yang kami pandang penting untuk
dikembangkan oleh para fasilitator KBG:
a. Seorang
pemimpin suka melatih orang-orang meskipun memakan banyak waktu dan sering kali
mengalami kegagalan.
b. Seorang
pemimpin mempercayai orang lain. Ia yakin semua orang bahkan orang yang sangat
miskin sekalipun memiliki banyak talenta (kharisma) dan kehendak baik.
c. Seorang
pemimpin mengisi suatu komunitas dengan semangat antusiasme, keyakinan dan
komitmen. Ia memberi jiwa dan roh ke dalam komunitas.
4. Perlunya
dukungan penuh dari seluruh lapisan umat beriman
Belajar
dari beberapa keuskupan
yang telah mengembangkan dan menghidupi KBG dengan baik, ternyata kunci
keberhasilannya terletak pada adanya dukungan penuh dari seluruh lapisan umat
beriman, mulai dari Uskup, para imam, para fasilitator / penggerak KBG dan umat
beriman lainnya. Hal tersebut nampak dalam:
a. Dukungan
penuh Uskup menggerakkan para imam dan umat untuk mengembangkan dan menghidupi
KBG.
b. Sinode
atau Musyawarah Pastoral se-keuskupan
menyepakati KBG sebagai cara hidup menggereja yang mau diterapkan di keuskupannya. Sehingga,
disusun pula strategi-strategi pastoral yang relevan, misal: pembentukan
kelompok, pelatihan fasilitator terus menerus, mendorong para imam dan calon
imam untuk menggerakkan KBG.
c. Kunjungan,
sapaan dan kehadiran para imam di tengah jemaat memberikan dukungan dan
menggerakkan umat untuk membentuk KBG.
d. Dukungan
segenap lapisan umat beriman secara konsisten mendukung tetap diupayakannya
pembentukan KBG meski harus melalui proses dan perjuangan yang tidak mudah dan
memakan waktu yang lama, entah lima atau sepuluh tahun.
5. Hal-hal
positif yang terjadi dengan bertumbuhkembangnya KBG
Dengan
bertumbuhkembangnya KBG, ada beberapa hal positif yang sungguh dirasakan di paroki-paroki yang
mengembangkan KBG:
a. Semangat
persaudaraan dan saling memperhatikan dalam kehidupan jemaat di paroki semakin kuat.
b.
Keberanian
anggota KBG untuk mengemukakan pendapat dan memimpin orang lain.
c.
Saling
mengenal satu sama lain antar anggota KBG.
d.
Keterlibatan
dan partisipasi umat dalam kehidupan menggereja semakin meningkat.
e. Solidaritas
internal jemaat paroki
maupun eksternal dalam kehidupan masyarakat semakin bertumbuh.
f. Terjadi
kemandirian ekonomi dan pemberdayaan masyarakat yang sangat nyata.
6. Tantangan
ke depan bagi pengembangan KBG
a.
Mobilitas
tinggi
Globalisasi yang dimotori oleh
dunia komunikasi membuat percepatan dalam banyak hal. Orang dengan mudah
bergerak dari tempat yang satu ke tempat yang lain, orang menjadi tidak mudah
menetap di suatu tempat. Ini tentu menjadi suatu tantangan dalam membangun KBG
yang didasarkan pada lingkup teritorial tertentu dan tempatnya berdekatan.
b.
Generasi
informasi di era digital.
Umat
di masa depan adalah generasi informasi di era digital, dengan model perjumpaan
yang baru dan cara komunikasi baru. Era digital menawarkan semua dalam
genggaman, informasi dapat diakses di manapun juga, tanpa perlu perjumpaan langsung.
Ini tentu menjadi tantangan dalam komunikasi iman, khususnya komunikasi iman
dalam KBG yang mengandalkan perjumpaan secara langsung.
E. RENCANA
TINDAK LANJUT
Setelah mengalami proses melalui
sharing dan refleksi selama empat hari, para peserta pertemuan animator dan
animatris KBG merencanakan tindak lanjut sebagai berikut:
1.
Keuskupan Agung
Makasar
·
Menyampaikan
hasil pertemuan kepada Uskup, Vikep dan Pastor Paroki.
·
Mempraktekkan
pengembangan KBG dan menambah jumlah fasilitator.
·
Pembekalan
fasilitator di tingkat Kevikepan dan Paroki.
2.
Keuskupan Agung
Jakarta
· Membawa
hasil refleksi bersama tentang KBG ini untuk disampaikan kepada Uskup, Kuria
dan Tim Pastoral Keuskupan.
· Visitasi
ke dekenat untuk mengumpulkan ketua-ketua lingkungan untuk mensosialisasikan
kepada ketua-ketua lingkungan tentang Sharing Injil 7 langkah.
·
Meningkatkan
intensitas pelatihan fasilitator.
3.
Keuskupan Agung
Semarang
·
Memperkenalkan
dan melatih metode AsIPA sebagai modul pertemuan-pertemuan kelompok kecil.
·
Menyampaikan
hasil pertemuan ini kepada Dewan Karya Pastoral Keuskupan.
·
Membuat
tulisan berdasarkan pengalaman dalam pertemuan ini: “Metode AsIPA sebagai roh
dan penggerak paguyuban
umat di tingkat basis”.
4.
Keuskupan Agung Ende
·
Menyampaikan
hasil pertemuan ini kepada Uskup.
·
Mengadakan
pelatihan fasilitator KBG dengan metode AsIPA.
·
Mendampingi
fasilitator KBG.
5.
Keuskupan Agung
Pontianak
·
Merevitalisasi
kelompok-kelompok KBG yang sudah ada.
·
Mengadakan
pelatihan dan kaderisasi fasilitator KBG dengan menggunakan metode AsIPA.
6.
Keuskupan Pangkalpinang
·
Memantapkan
hasil sinode kedua yang sudah memberi isyarat bahwa KBG menjadi prioritas
Keuskupan.
·
Sharing
Injil menjadi agenda wajib pertemuan KBG. Maka, metode AsIPA menjadi metode
utama pertemuan KBG.
·
Mengoptimalkan
tempat pelatihan KBG yang sudah ada.
7.
Keuskupan Tanjung
Karang
·
Menyampaikan
hasil pertemuan ini kepada Uskup dan para imam.
8.
Keuskupan Bandung
·
Menyampaikan
hasil pertemuan kepada Dewan Karya Pastoral.
·
Mengintensifkan
lagi gerakan KBG yang sudah dimulai tahun 2011.
·
Menentukan
paroki/lingkungan tertentu sebagai pilot
project.
·
Menyelenggarakan
pelatihan dan pendampingan penggerak KBG.
9.
Keuskupan Purwokerto
·
Sejalan
dengan arah haluan Keuskupan dan fokus pastoralnya, tahun 2014 menjadi titik
tolak mengembangkan KBG sebagai gerakan bersama di seluruh Keuskupan
Purwokerto.
· Mengusulkan
untuk dibentuknya desk KBG di bawah Dewan Pastoral Keuskupan yang memelihara
pengembangan KBG secara berkesinambungan di Keuskupan Purwokerto.
·
Mengusulkan
kepada Dewan Imam untuk memasukkan tema “Kepemimpinan dan Peran Imam dalam KBG”
sebagai bahan retret, pelatihan maupun triduum persiapan pembaharuan janji
imamat.
·
Metode
AsIPa menjadi model bagi modul-modul pertemuan KBG.
10.
Keuskupan Denpasar
·
Mensosialisasikan
hasil pertemuan ini lewat majalah Keuskupan (Agape).
· Mengadakan
training fasilitator tingkat keuskupan: “Pemberdayaan dan Pengembangan KBG melalui
metode AsIPA”.
·
Mengembangkan
metode AsIPA sesuai konteks Keuskupan Denpasar.
11.
Keuskupan Banjarmasin
·
Melaporkan
hasil pertemuan kepada Bapa Uskup dan para Pastor Paroki.
·
Mengadakan
pelatihan fasilitator di tingkat Keuskupan dan paroki.
·
Mengadakan
evaluasi hasil yang telah dicapai.
·
Menerapkan
metode AsIPA.
12.
Keuskupan Tanjung
Selor
·
Melaporkan
hasil pertemuan kepada Uskup.
·
Menyampaikan
hasil pertemuan ini pada para Imam dan Dewan Pastoral Paroki.
·
Membentuk
tim pelatih fasilitator dan mengadakan pelatihan fasilitator di tingkat
Keuskupan dan Dekenat.
13.
Keuskupan Manado
·
Melaporkan
hasil pertemuan ini kepada Uskup.
· Memulai
pembentukan dan membina KBG sampai jadi dengan pilot projectparoki Kakaskasen.
·
Menggunakan
metode AsIPA untuk pengembangan KBG.
14.
Keuskupan Larantuka
· Menambah
tim fasilitator dengan pelatihan-pelatihan AsIPA di tingkat Keuskupan dan
Dekenat.
·
Mendampingi
fasilitator di KBG.
15.
Keuskupan Jayapura
·
Penguatan
KBG di setiap paroki dengan mengadakan pelatihan penggerak KBG.
·
KBG
menggunakan metode AsIPA.
·
Komitmen
terus mengembangkan KBG sebagai cara baru hidup menggereja.
F. REKOMENDASI
Para peserta pertemuan animator
dan animatris KBG menyampaikan rekomendasi sebagai berikut:
1. Untuk
Keuskupan-keuskupan:
·
Uskup
dan para Imamnya mendukung dan memfasilitasi pengembangan KBG dan penggunaan
metode AsIPA serta
menjadikannya sebagai prioritas dan fokus pastoral Keuskupan.
· Membentuk
divisi / desk yang secara
khusus menangani KBG. Divisi / desk ini tidak cukup
hanya di bawah Komkat Keuskupan namun perlu di bawah Tim / Dewan yang mempunyai
jaringan langsung dengan para pastor Paroki.
·
Mengadakan
pelatihan fasilitator KBG di tingkat Keuskupan / Kevikepan / Dekenat / Paroki.
·
Memberikan
dukungan dana untuk pengadaan modul dan pelatihan.
· Dewan
Imam Keuskupan memasukkan tema “Kepemimpinan dan Peran Imam dalam KBG” sebagai
bahan retret, pelatihan maupun triduum persiapan pembaharuan janji imamat.
2. Untuk
Komkat KWI:
·
Menyampaikan
hasil pertemuan ini kepada semua Uskup se-Indonesia.
· Memberi
dukungan dana dan memfasilitasi pelaksanaan pengembangan KBG di setiap
Keuskupan.
·
Mengembangkan
metode AsIPA sesuai konteks Indonesia.
·
Menyiapkan
materi / bahan-bahan AsIPA yang
lengkap untuk pelatihan-pelatihan Fasilitator.
·
Secara
berkala, mengevaluasi pelaksanaan KBG di tingkat nasional.
·
Secara
berkala, mengadakan pertemuan dan pelatihan fasilitator KBG di tingkat
nasional.
·
Melibatkan
diri secara serius dalam pengelolaan dan pengembangan KBG secara nasional.
·
Bekerja
sama dengan Komisi Seminari untuk memperkenalkan KBG kepada Seminari-seminari
Tinggi sebagai cara bereklesiologi, merenungkan Kitab Suci, mempersiapkan
homili dan mengembangkan spiritualitas.
3. Untuk
KWI:
· Perlu
lembaga / komisi khusus yang
mengembangkan KBG atau
menghidupkan kembali LPKB.
· Para
Uskup yang berhasil mengembangkan KBG mensharingkan kepada semua Uskup buah
perkembangan KBG bagi dinamika hidup menggereja di Keuskupannya.
Demikian
rumusan hasil akhir dan rekomendasi pertemuan animator
dan animatris KBG. Semoga berguna bagi pengembangan dan pengelolaan KBG yang
lebih baik lagi di Keuskupan-keuskupan Indonesia. Tuhan memberkati.
Wisma
Kare – Makasar, 23 Mei 2013
Para
Peserta Pertemuan Animator dan Animatris KBG KomKat KWI
Langganan:
Postingan (Atom)
-
Catatan kecil ini dibuat oleh Alfons Liwun dari Pengantar RD. Frans Mukin pada pelatihan fasilitator KBG-KBG Paroki Regina Pacis-T...
-
Isi tulisan Mas Bambang Harsono: Saya kutip kembali isi tulisan Mas Bambang Harsono berikut ini: DOA HORMAT THS-THM. Manakah yang be...




