Postingan

PANORAMA SINAR HADING 2011

Gambar
Pantai Wai Krewak Kawaliwu Sinar Hading. Seorang ibu duduk membelakangi sumur Wai Krewak, menghadap pantai sedang mencuci baju.Pantai Laut Kawaliwu biru, belum tercemar limbah. Sungguh indah pesona Kawaliwu.  Musim panen masyarakat Kawaliwu sekitar bulan pertengahan April hingga bulan Mei. Terlihat kelompok ibu-ibu Kawaliwu memanen padi secara bergilir dari kebun ke kebun. Mereka dibiaya oleh pemilik kebun seharian bekerja.  Jambu mete, salah satu tanaman produktif di Kawaliwu. Jambu mete ditanam selama tiga tahun akan berbuah. Musim bunga pada pertengahan April dan berbuah pada bulan Mei. Bulan Juli hingga september, musim petik. Lahan di Kawaliwu lebih banyak ditanam jambu mete. Sayangnya dalam 5 tahun terakhir ini harga biji gelondongan jambu mete sepuluh ribu rupiah per kilo. Harga yang tidak sesuai dengan kerja perawatan dan kesibukan petik. Jambu mete terlihat ini di kebun Bpk. Andreas Wato Liwun di Wai Pleme Kawaliwu. Lango Bele - Liwun, sebuah rumah yang telah dipugar dengan si

LIMA ENTRY POIN PENTING YANG PERLU DIREFLEKSIKAN WARGA SINAR HADING

Gambar
Selama hampir lebih kurang dua setengah minggu di kampong halaman, Kawaliwu-Sinar Hading, (13-28/4/2011), ada lima entry poin dalam pernak pernik situasi Kawaliwu; yang muncul ke permukaan situasi sosial; juga menjadi prioritas untuk kita refleksikan bersama. Saya mengundang generasi muda, pemuda-pemudi anak cucu Wolosina untuk merefleksikan lima entry poin penting yang sekarang real muncul dalam situasi sosial Kawaliwu. (1). Jumlah pertumbuhan penduduk semakin tinggi. Tampak bahwa di lorong-lorong, di sumur air dan di gereja, terlihat begitu banyak anak kecil yang berusia sekolah. Hal positip yang ada sekarang yang mendukung anak-anak kecil adalah adanya TK “Fajar Budi” dan Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) selain sudah ada Sekolah Dasar Katolik Kawaliwu. Sekarang sedang direncanakan akan adanya SMA/SMK Lewolema di Kawaliwu. Ingat bahwa dengan semakin besar jumlah penduduk di Kawaliwu dan secara geografi semakin sempit lahan produksi serta tidak ada ruang untuk pendidikan anak-anak,

“AKSI DAMAI” WARGA WOLOSINA KE KANTOR CAMAT LEWOLEMA KAWALIWU

Gambar
Pertemuan Kepala Desa (Kepdes) Sinar Hading dan Ile Padung dalam bulan Maret 2011 menghasilkan antara lain: kedua kepala Desa setempat menyepakati “berdirinya papan / pembatas wilayah Sinar Hading dan Ile Padung di Lungun Wai Mape” (berdasarkan tuturan histories Wolo Sina, atas wilayah Nara Eban dan Lakmau).   Berdasarkan hasil itu, maka beberapa anak muda dari Desa Sinar Hading kemudian memancang papan / pilar batas kedua wilayah tersebut. Pemasangan papan / pilar batas wilayah Sinar Hading dan Ile Padung itu, rupanya dikomplain oleh masayakat dan Kepala Desa Riangkotek. Dasar komplain masyarakat / kepala Desa Riangkotek adalah bahwa batas wilayah yang dipasang Sinar Hading dan Ile Padung, masih di atas wilayah Riangkotek. Dasar komplain mereka ini ditujukan kepada Camat Lewolema melalui surat, tertanggal 22 April 2011. Dengan berdasarkan surat Kepala Desa Riangkotek itu, Camat Lewolema, Drs. Ramon Ile Mandiri Piran kemudian memerintahkan kepada beberapa staffnya untuk mencabut papan

BERGAM: AKSI DAMAI ANAK WOLOSINA DI KANTOR CAMAT LEWOLEMA KAWALIWU

Gambar
  Di rumah Bpk. Pati Goleng, warga Wolosina menyiapkan diri untuk "Aksi Damai Di Kantor Camat Lewolema" Kawaliwu (28/4/2011) pukul 09.00. Warga Wolosina di simpang tiga Kawaliwu. Menunggu anggota berkumpul untuk melangkah maju bersama ke Kantor Camat Lewolema. Seruan Aksi Damai Anak Wolosina "Pulihkan Haknya Wolosina" Di depan Kantor Camat Lewolema, disaksikan oleh para staff dan keamanan (polisi dan tentara) anak Wolosona menunjukan "titik-titik kejanggalan kerja penghuni rumah kecamatan lewolema" Siang-siang para penghuni rumah Kecamatan main Kartu ya...alias bejudi. Potret yang memalukan bangsa dan negara ini. Tuntutan kami ini walaupun tertera di atas bekas sak semen. Jujur dan jernih dalam menuntut dan gegap gempita dalam menyuarakan apa yang menjadi hak kami, anak-anak Wolosina. Pilar/papan batas wilayah Sinar Hading-Ile Padung yang telah dicabut Camat Lewolema dan staffnya kemudian diletakan di ruang tengah belakang Kantor Camat Lewolema Kawaliwu. C

REFLEKSI DAN REKAB SUBTEMA SINODE II PAROKI SUNGAILIAT

Gambar
Anggota DPP, ketua dan fasilitator kelompok kembali berkumpul di ruang pastoran Paroki Sungailiat (27/3/2011). Pastor Aloysius Kriswinarto, MSF, penanggung jawab Tim Sinode II Paroki Sungailiat menyampaikan maksud pertemuan itu. “Kita diundang untuk mendengarkan hasil refleksi dan rekap sub-sub tema Sinode II yang selama ini sudah kita jalankan di kelompok basis. Nanti, pak Alfons akan memandu kita untuk melihat kembali hasil refleksi dan rekap sub-sub tema Sinode. Selain itu, dihadapan para ketua kelompok, pastor paroki pun menyampaikan keprihatiaannya mengenai jumlah kehadiran anggota kelompok dalam setiap kegiatan kelompok yang tidak sebanding dengan jumlah keseluruhan dari tiap-tiap anggota kelompok. Ke depan, jika ada anggota kelompok yang kurang atau tidak aktif dalam kegiatan kelompok, ketua kelompok tidak usah memberikan rekomendasi untuk pelayanan sakramen baptis, komuni pertama, krisma dan perkawinan. Rekomendasi diberikan jika anggota kelompok yang bersangkutan sungguh-sungg

LANGO BELE: SIMBOL KEBERSAMAAN DAN PERSAUDARAAN SEJATI

Gambar
1 Lewo Goe Igo Rian Sina, punya makna histories dan selalu menyejarah dalam kalbu warga Kawaliwu. Lahirnya “lewo” bukan berasal dari langit. Lahirnya “lewo” bukan karena hebat perang yang pernah ada dan selalu diceriterakan oleh para penyejarah Kawaliwu. Tetapi selalu diingat bahwa lahirnya “lewo” karena “pupu taan uin tou-genahan taan uin ehan, yang lahir dari kebersamaan dan persaudaraan sejati. Nilai kebersamaan dan persaudaraan sejati inilah yang menjadi dasar yang kokoh bagi hidup warga Kawaliwu. “Pupu taan uin tou-genahan taan uin ehan”, lahir didalam suatu kebersamaan dan persaudaraan sejati di dalam “langö belé.” Di dalam “lango bele” ini setiap saudara-saudari dari satu suku dipertemukan, saling berbicara-mendengarkan-dan mencari jalan keluar serta lebih dari itu, bersama-sama menjalankan hasil kesepatan. Percayakah bahwa dari dalam “lango bele” itu muncul adanya kebersamaan dan persaudaraan ssejati? Yakinkah kita bahwa “lango bele” menjadi tempat membangun rasa kebersamaan

SUMUR KAWALIWU : SUMBER KEHIDUPAN

Sinar Hading memiliki “sumur kehidupan” yang sepanjang tahun memberikan hidup bagi masyarakatnya. “Sumur kehidupan” itu adalah sumur “wai bao” dan sumur “wai hading.” Kedua sumur ini tertua adalah sumur “wai hading.” Kemudian baru sumur “wai bao.” Nama kedua sumur  ini berdasarkan nama yang diberi berdasarkan kedekatan sumur tersebut dengan sesuatu. Sumur “wai hading” berdekatan dengan atau di teluk hading. Sedang sumur “wai bao” karena sumur tersebut ada dibawah pohon bao (bao = pohon beringin) Kedua sumur ini menjadi tempat pertemuan orang Kawaliwu dari berbagai keluarga dan suku. Dan karena hanya dua sumur maka hampir setiap saat di sumur tersebut selalu ada orang “datang dan pergi” mengambil air baik untuk mencuci maupun untuk kebutuhan pokok yaitu masak, mandi dan minum. Di kedua sumur ini selain orang “datang dan pergi” untuk mengambil dan mengantar air, juga menjadi tempat curhat bagi siapa saja, dan dengan siapa saja serta tentang apa saja. Bahkan jika mau mendengar berita t