Rabu, 03 November 2010

PHOTO KUNJUNGAN MSF KE KBG PAROKI SUNGAILIAT BANGKA

 Rm. Fadjarianto MSF berdialog dengan umat di Kampung Jawa (12/10/10), Bpk. Stefanus Supardjono jadi moderator.

Umat KBG duduk mendengarkan Rm. Fadjarianto sharing pengalamannya menjadi imam Tuhan.

Rm. Aloysius Kriswinarto pun hadir dalam pertemuan itu. Lihat serius mendengarkan teman sharing.

Para sesepuh pun serius mendengarkan. Sr. Yasintha AK pun hadir. Terima kasih atas sharingnya Romo. Salam dari Sungailiat Bangka. **fbr**

Senin, 01 November 2010

TOURNE PASTOR MSF KE KBG PAROKI SUNGAILIAT

KELUARGA: BASIS KBG DAN PANGGILAN KHUSUS
Oleh: Kontributor "BERKAT" Sungailiat

Umat Katolik Paroki Sungailiat merasa bersyukur dan gembira atas kunjungan kedelapan pastor dari kongregasi Missionarii a Sacra Familia, atau yang sering dikenal kongregasi MSF, pada 12 Oktober 2010. Kegembiraan umat baik yang dewasa maupun anak-anak, nampak dari kehadiran mereka dengan wajah yang murah senyum dan sukacita, ketika sampai di tempat pertemuan. 

Kongregasi MSF yang berkarya di Keuskupan Pangkalpinang, tepatnya di Paroki Sungailiat telah berusia dua tahun (7/9/2008). Kunjungan kongregasi Para Misionaris Keluarga Kudus kali ini merupakan kunjungan mereka untuk kedua kalinya. Kunjungan kali ini, sebenarnya merupakan safari liburan bersama dengan seting panorama Pulau Bangka. Seperti pepatah mengatakan, sambil menyelam minum air, para romo dari Misionaris Keluarga Kudus, sambil menikmati panorama nan indah di Pulau Bangka, mereka pun menyempatkan diri membantu sesama rekan mereka, Rm. Aloysius Kriswinarto dan Rm. Stefanus Ruswan Budi Sunaryo yang sudah dua tahun bertugas di Paroki Sungailiat, untuk tourne ke komunitas-komunitas basis Paroki Sungailiat. Dalam kunjungan kedua ini merupakan para romo yang bertugas di paroki-paroki dan rumah retret wilayah Gerejani Keuskupakan Agung Jakarta. 

Rm. Mikael Walidi, MSF yang sekarang bertugas di Paroki Rawamangun Jakarta, dihadapan umat komunitas St. Yosep, Sta. Elisabeth dan St. Thomas Aquino memulai sharing pengalamannya. “Saya hadir disini, tidak membawa teori. Saya bawa pengalaman hidup dan pengalaman berpastoral selama saya menjadi pastor. Saya menjadi pastor, karena keluarga saya. Keluarga saya, keluarga Katolik. Jadi kalau sharing saya ini tidak menjawabi kebutuhan pembangunan KBG, pertama-tama saya mohon maaf.”

Lebih lanjut lagi, romo yang disapa umatnya dengan Rm. Walidi, meneruskan sharing pengalamannya bahwa KBG, memiliki anggotanya dari keluarga. Prinsipnya, bahwa beberapa keluarga, jarak yang berdekatan berkumpul bersama dan membentuk sebuah komunitas kecil. Karena itu, akar dari KBG adalah keluarga. Keluarga perlu memiliki suasana yang damai dan tenang dalam berbagai relasi baik interen anggota keluarga maupun tetangganya. Keluarga mendapat porsi yang proposional dalam KBG. Spirit keluarga kudus Nasareth, juga spirit MSF, tentu juga menjadi spirit kita bersama.

Sejalan dengan sharing pengalaman Rm. Walidi, Rm. Agus, dengan nama lengkapnya Yohanes Agus Rianto, MSF menambahkan sharingnya bahwa keluarga memiliki peran yang sangat penting sekali, bukan hanya dalam KBG, tetapi dalam komunitas yang besar seperti paroki. Setiap anggota keluarga memotivasi anggota keluarganya untuk berpartisipasi dalam komunitas baik di KBG maupun di paroki. Saling memotivasi merupakan bentuk panggilan kita bermisi. Bahkan keluarga pun punya peran penting sebagai seminari kecil dalam hal panggilan khusus menjadi imam, bruder dan suster. Orangtua dalam keluarga, tidak hanya mendoakan anak orang lain untuk panggilan khusus ini. Tetapi keluarga perlu sekali memiliki kerelaan dan pengorbanan untuk berani mendorong dan mendoakan anggota keluarganya untuk menjalani panggilan khusus itu.

Romo yang pernah bertugas di Paroki Lewolaga, Keuskupan Larantuka, Flores ini dengan antusias dan murah senyum, membagikan pengalaman yang unik dalam hidup keluarganya. “Dalam hal panggilan khusus, karena bapak saya tidak Katolik, ibu saya, dalam setiap perayaan ekaristi di gereja dan dalam doa bersama di keluarga, ibu saya selalu mendaraskan doa untuk anak-anaknya agar di antara anak-anaknya ada yang dipilih Tuhan untuk bekerja di kebun anggur-Nya. Ternyata, doa seorang ibu yang terus menerus dipanjatkan, terjawab oleh Tuhan. Bukti jawaban Tuhan adalah saudari saya, saudari satu-satu, yang menjadi pendengar keluh kesah kami, kini menjadi suster dan saya pun ikut dipilih Tuhan menjadi pastor MSF.  Jadi didalam keluarga kami, ada yang menjadi suster dan menjadi pastor.”

Dalam waktu yang bersamaan (18.00wib), para romo anggota pendiri MSF, Pater J.B. Berthier (1808-1908) pun berkunjung ke komunitas basis yang lain. Rm. Ignasius Tari dan Rm. Yusuf Winarto berkunjung ke komunitas basis gabungan St. Gabriel dan Sta. Theresia 2, di rumah Petrus Supardjo, Pohin Pemali. Komunitas gabungan St. Fransiskus Xaverius, St. Petrus, Sta. Maria Goretti dan Sta. Theresia 1, di rumah Johanes Sagyo, Kampung Jawa dikunjungi Rm. Stephanus Fadjarianto dan pastor Paroki Sungailiat, Rm. Aloysius Kriswinarto, menggantikan Rm. Celsus Winarno Hardosuyatno, MSF yang lebih dahulu kembali ke Jakarta, pagi (12/10/10). 

Sedangkan Rm. Bernardus Realino Agung Prihartanaa dan Rm. Aloysius Suharihadi, bertatapmuka dengan umat dari komunitas gabungan St. Yohanes Pamandi-Bedukang, St. Dominikus-Deniang, St. Vincentius-Kuday, St. Don Bosco-Hakok, dan Sta. Sisilia-Jalan Laut, di rumah ibu Bernadettha Ai Ai, Hakok.

Suasana kekeluargaan dan proses pertemuan umat komunitas basis, hampir sama dengan kunjungan pertama kali, para anggota MSF yang seangkatan dengan Rm. Stefanus Ruswan Budi Sunaryo MSF, pastor pembantu Paroki Sungailiat, pada bulan Juli 2009 lalu. 

Laporan Frans Subiyantoro dan Maya Agustina, anggota kontributor BERKAT di Sungailiat mengatakan bahwa ada banyak pertanyaan muncul dari beberapa umat di KBG tentang bagaimana masuk ke seminari dan lamanya menjalankan proses pembinaan yang dijalankan calon imam, di panti pendidikan seminari. Pertanyaan-pertanyaan itu, menurut mereka, mungkin sebagai tanda bahwa para orangtua pun mulai merespons dengan rencana Bapa Uskup Pangkalpinang membangun seminari setingkat SMA di Kebun Sahang.**fbr/frans/maya**

Senin, 25 Oktober 2010

SUANGGI: KEPERCAYAAN PRIMITIF LAMAHOLOT YANG MEMBAWA PETAKA

Oleh: Alfons Liwun

Ceritera Suanggi dari Sinar Hading
Ketika masih kecil, orangtua saya dan bahkan orang-orang yang ada di sekitar saya sering menceriterakan tentang kejahatan, petaka, bahaya, kegagalan dan penderitaan akibat satu jenis makhluk misterius, namanya suanggi atau dalam bahasa Lamaholot dialek Kawaliwu, Menaka. Suanggi, dalam obrolan orang-orang yang ada disekitar saya, dilukiskan dengan sosok yang berjenggot dan berambut panjang menutupi seluruh tubuh. Sosok yang bermata merah, berkuku tangan dan kaki yang panjang serta seluruh badannya berwarna hitam. Lukisan yang demikian, punya warna khas yaitu selalu menakutkan, membuat orang merasa cemas, takut dan menderita dalam hidup.

Lukisan sosok makhluk misterius tadi, bisa saja dalam bentuk gambaran yang lain. Namun, yang terpenting dalam semua bentuk lukisan masyarakat Kawaliwu, mengarah pada suatu pribadi misterius yang mengakibatkan seseorang merasa hidupnya terancam. Bahkan makhluk ini, hadir dalam setiap hidup seseorang, kapan dan dimana saja seseorang itu berada.

Karena lukisan yang demikian menakutkan ini, bila seseorang itu berjalan sendiri entah pada waktu pagi, siang bolong atau pun di malam hari, apalagi ditambah dengan jarak tempuh perjalanan yang begitu jauh dan berkelok-kelik, seseorang selalu dihantui dengan gambaran yang pernah didengarnya itu.

Kawaliwu-Sinar Hading adalah sebuah desa di pesisir Pantai Utara Kabupaten Flores Timur. Suanggi atau dalam bahasa Lamaholot versi Kawaliwu sehari-hari mereka sebut menaka adalah seseorang atau kelompok orang yang berhati jahat dan bertindak buruk secara mistis untuk merugikan seseorang atau sebuah suku. Hendrikus H. Liwun (85), seorang penatua adat dari suku Liwun, Molaluwun,  sering menyebut menaka itu, punya hati yang kotor-jorok, mite bedelang (hitam pekat). Baginya, ciri menaka itu berawal dari sering temaka tèmaö (kerja curi), malas bekerja, iri hati, dendam, ingin dihormati dan yang lebih parah lagi tertutup dari orang lain. Kalau ia bekerja pun, hasilnya tidak ada, karena sikap dan caranya tidak terpuji. Kalau ia bergaul dengan orang lain pun, ia dengan berbagai macam cara yang baik dan sopan, namun hati dan niatnya selalu dirundung iri hati, cemburu, punya strategi sendiri untuk melumpuhkan orang lain, seperti dalam karya Lukas 4:13, “… dan menunggu waktu yang baik.”

Berawal dari ciri hidup tadi, lebih lanjut Hendrikus H. Liwun menjelaskan bahwa menaka mulai beraksi lebih spektakuler untuk menjaga stabilitas pribadinya, ketika ciri-ciri tadi telah menjadi ketakutan public dalam masyarakat. Aksi lanjutan yang spektakuler adalah ketika menaka kemudian pergi ke tempat-tempat yang dipandang masyarakat Kawaliwu sebagai tempat kramat. Dan ditempat itu menaka mengadakan polemaja kepada penjaga tempat kramat tadi. Tempat kramat dalam versi Lamaholot Kawaliwu disebut Duáng. Dua adalah himpunan pepohonan besar yang dipercayai sebagai tempat kramat, tempat tinggal para penjahat yang misterius. Duang, tempat yang dilepas, hutan yang tidak boleh disentuh atau ditebang maupun dipotong. Dan di Duá itu, menaka polemaja.

Polemaja adalah aksi memanggil penjaga-penjaga tempat kramat itu untuk datang kepadanya dan berdialog mistis, bekerjasama. Polemaja ini aksi semacam semedi atau pertapa dalam bahasa Indonesia. Menaka datang ke tempat kramat ini bukan hanya sekali, tetapi beberapa kali, bisa saja sampai tujuh kali. Artinya sampai si polemaja mendapatkan suatu kekuatan dari tempat itu. Kekuatan yang didapat dari tempat kramat itu biasanya dengan suatu perjanjian yang mistis dengan menggantikan nyawa orang. Nyawa orang inilah yang harus didapat dari masyarakat sekitarnya. Kalau nyawa orang lain tidak didapatinya, maka nyawa anggota keluarganya sendiri menjadi taruhannya. Begitu sadis pola tindakan menaka!

Kritik atas Cara hidup Menaka dan membendung cara hidupnya
Si polemaja, berani mempertaruhkan nyawa orang lain dan nyawa anggota keluarganya untuk mendapat suatu kekuatan yang membentengi dirinya. Kalau kita melihat pola aksi dan tindakan menaka yang demikian, boleh kita katakan sebagai suatu cara hidup yang barbarisme, anarkisme, sadisme bahkan dalam pemikiran kristiani, sikapnya merupakan sikap setanisme. Dan tentu, pola ini sangat bertentangan dengan hidup yang diberikan oleh Rera Wulan Tana Ekan.

Bagi Hendrikus H. Liwun, sikap menaka yang demikian harus dilawan. Masyarakat sekitarnya tidak boleh menyerah. Masyarakat harus bersikap tegas atas apa yang dibuat menaka. Walaupun menaka bekerjanya secara misterius, tetapi karena terlalu banyak merugikan orang lain, maka pada suatu saat menaka ini akan ketahuan. Sikap dan pengalaman Hendrikus H. Liwun ini telah dibuktikannya pada sekitar bulan Juni 1993.

Waktu itu di Kawaliwu, sekitar akhir bulan Mei 1993, Opu Regi Hurit sakit. Sakit karena kena buah kepala yang jatuh dari pohonnya. Awalnya, sakit itu suatu peristiwa yang biasa, naas. Opu Regi Hurit dibawa oleh anak-anaknya ke RSU Larantuka. Selama berada di RSU Larantuka, setiap malam Opu Regi Hurit didatangi dalam mimpinya beberapa orang secara bergantian. Setiap kali beberapa orang itu datang, Opu Regi Hurit tidak akan tidur nyenyak. Teriak dan menjerit. Karena peristiwa ini selalu terulang lagi, anaknya Yosep Kesura Hurit bertanya kepada bapaknya. “Pak, ada apa?” Bapaknya katakan ada orang yang datang mengganggunya. Anaknya pun bertanya lagi, siapa orangnya dan dari mana? Bapaknya menjawab, orang kita namanya…(maaf saya tidak menyebutnya di sini).

Keesokan harinya, Yosep Kesura ke Kawaliwu. Dia bertemu dengan orang-orang yang disebut bapaknya dalam mimpi yang mengganggu sakit bapaknya di RSU Larantuka walaupun hanya dalam mimpi. Mungkin karena Yosep Kesura Hurit mendapat respons yang kurang baik, ia pun langsung melaporkan kepada Kepala Desa, Yosep Pulo Liwun (Kades) dan Sekdes, Agustinus Ratu Liwun.  Masalah ini kemudian muncul ke permukaan, ke masyarakat Kawaliwu. Ada banyak masyarakat Kawaliwu yang merasa sakit hati terhadap beberapa orangtua yang selama ini dekat dan bahkan menjadi “tuan raja” dalam hukum adat Kawaliwu. Gerakan masyarakat anti menaka pun muncul. Seluruh pengakuan menaka  atas perbuatan mereka selama ini tampil ke publik masyarakat Kawaliwu.

Gerakan anti menaka dimulai dari kelompok penatua adat. Kelompok yang selama ini menjadi “sang terhormat” hancur lebur karena didalam kelompok tidak ada yang bekerja secara tidak etis dan anti moral masyarakat. Hukuman adat yang diambil, mengusir beberapa orang itu harus keluar dari Kawaliwu. Mereka kemudian diantar ke ibu kota Kecamatan Tanjung Bunga, Waiklibang. Entah bagaimana, mereka itu dibawah pulang lagi. Karena diantara mereka ada keluarga yang anggota tentara. Mereka kemudian dipulangkan ke dalam keluarga masing-masing. Secara adat Kawaliwu, tidak ada upacara penerimaan, yang terpenting mereka telah ditolak secara massa dan adat Kawaliwu. Satu hal yang patut dicatat disini adalah dengan persoalan menaka ini, penatua adat serta struktur adat dalam masyarakat Kawaliwu menjadi hancur. Mosi tidak percaya dari berbagai suku muncul.

Dalam situasi seperti itu, adat (knape, mara beng dan nuke huke), hanya dijalankan oleh suku Liwun Molaluwun dan Liwun, Baeluwun. Kedua marga ini mulai menata baru struktur adat dan berbagai upacara adat dalam masyarakat Kawaliwu. Bagi Hendrikus H. Liwun ini merupakan suatu pengalaman pahit. Pengalaman yang paling buruk. Hendrikus H. Liwun, salah satu tokoh penatua adat yang paling keras kepala melawan untuk menerima menaka. Sikap perlawanannya adalah sikap tegas untuk mengusir beberapa orang yang dikatakan menaka. Bukan hanya usir, tetapi sikap keras kepalanya nampak dalam setiap pola hidupnya untuk tidak memberikan ruang dan waktu lagi untuk beberapa orang itu dalam setiap peran “penatua adat.” Bahkan sampai sekarang, dalam hatinya masih merasa jengkel dan selalu mengutuk sikap jahat menaka.

Dari sikap jengkel dan mengutuk beberapa orang itu, Hendrikus H. Liwun bergabung dengan anggota keluarga Liwun, Bae Luwun, Hoga Liwun di kampong lama, untuk mulai menata dan merehap rumah besar, rumah tempat para penatua, nenek moyang mereka. Tepat bulan Juni sampai Oktober 2000, kedua marga ini membangun Lango Bele dan Korke. Lango Bele dan Korke dibangun dan direhap dalam bentuk moderen, yaitu dengan berfondasi semen dan batu hutan serta beratap seng. Inilah bentuk membentengi kejahatan dan menyelamatkan masyarakat Kawaliwu.

Manusia: gembala tradisi dan nabi masa depan
Dari  Hendrikus H. Liwun di atas, kita boleh mengatakan bahwa, menaka atau suanggi, adalah orang bukan misterius tetapi riil ada disekitar kita, dapat kita ketahui dari ciri-ciri dan cara hidup yang sudah disebut tadi.

Sebagai anak, sikap Hendrikus H. Liwun terhadap menaka, sangat terpuji. Dan inilah juga menjadi sikap saya. Dalam sikap Hendrikus H. Liwun yang demikian, beliau telah menjalankan sikapnya sebagai manusia yang berimaan. Hendrikus telah menjadi gembala tradisi. Artinya, Hendrikus berani meluruskan sikapnya dan menunjukkan kepada banyak orang Kawaliwu bahwa menaka adalah orang yang jahat karena itu harus ditolak dan dikutuk. Sebagai gembala tradisi, ia mengambil sikap tegas bersama Hoga Liwun untuk membangun dan merehap kembali Lango Bele dan Korke Bale. Dengan membangun kembali kedua rumah ini, berarti mereka memulai dan membersihkan diri dan sekaligus membentengi masyarakat Kawaliwu dari kejahatan.

Dengan sikap Hendrikus H. Liwun, beliau telah menjadi seorang nabi di masa depan. Artinya, ia telah menunjukkan sikap tegas dan memberikan pemikiran yang tajam bagi generasi Kawaliwu di masa depan bahwa menaka adalah sesuatu yang jahat karena itu tidak perlu diterima. Dengan sikapnya sebagai nabi di masa depan, ia telah memberikan tonggak sejarah baru bagi keturunannya dan generasi baru bahwa hidup bukan harus dirusaki tetapi dipelihara dan dihargai serta dihormati. Hidup itu mulia. Idup itu pemberian Rera Wulan Tana Ekan. Dengan kita menghidup hidup yang diberikan Rera Wulan Tana Ekan, kita menghidup Rera Wulan di Tana Ekan.

Pola Pandang Gereja terhadap Menaka.
Melihat cara hidup dan ciri menaka, Gereja pasti akan menolak. Bahkan Gereja akan mengutuk sikap dan pola hidup menaka. Sikap Gereja yang demikian karena kehadiran menaka sama dengan cara dan ciri setan. Kalau setan dan musuh paguyuban Gereja dan dunia, maka jelas menaka pun demikian.

Gereja sangat menyayangi umatnya yang selama ini hidup etis dan baik dalam kumpulan umat tetapi hatinya tersayat dan memiliki niat jahat. Kalau ditilik ke-12 rasul Yesus, Yudas lah yang menjadi penjual Yesus. Maka Yudas disebut pengkianat. Menaka, sama dengan Yudas. Menaka pengkianat Yesus, Gereja dan sesama umatnya.**fbr**

Minggu, 10 Oktober 2010

JURNALIS KATOLIK MEMBAWA BERKAT BAGI SEMUA

Utusan dari paroki-paroki Dekenat Bangka Belitung mengikuti latihan jurnalis bagi tabloid Berkat, tabloid milik Keuskupan Pangkalpinang. Latihan diselenggarakan kerjasama antar Komisi Sosial dan Depag Bimas Katolik Propinsi Babel. Latihan di Wisma Aksi 1 Pangkalpinang, 26-28 Agustus 2010.

Bang Gaudiensius, redaktur Media Indonesia sedang memberikan materi "Menulis Berita" kepada peserta.
Peserta utusan dari Paroki Sungailiat (Sta. Maria PSR), Pangkalpinang (St. Yosep), Mentok (Sta. Maria Pelindung Para Pelaut, Belinyu (Sta. Maria Perawan Tak Bercela, Koba (St. F. Xaverius), Tanjung Pandan (St. Regina Pacis) dan beberapa komunitas kategorial. 
Katrin (utusan Tanjung Pandan) sedang praktek mewawancarai Rm Stef Tomeng Pr (direktur Tabloid Berkat)
Saatnya peserta rekreasi dan santai untuk mengopi. Mudah-mudahan setelah dilatih mampu membawa berkat bagi umat paroki masing-masing.
Syalom. fbr



Sabtu, 09 Oktober 2010

FKUB KAB. BANGKA 2010-2015

Pertemuan Forum Komunikasi Antar Umat Beragama Kabupaten Bangka di Kantar Departemen Agama di Sungailiat (06/10/2010)

Para peserta mendengar pengarahan dari ketua FKUB lama (2004-2010). "Pengurus ada tetapi belum dioptimalkan. Ada kegiatan jika ada persoalan. Selain itu, sekretariatnya pun belum ada, masih menumpang."
Utusan dari setiap agama duduk mendengar laporan pengurus lama dan siap untuk memiliki kepengurusan FKUB Kab. Bangka yang baru. Sebelum pemilihan yang baru, setiap utusan diberi waktu untuk mencolonkan diri menjadi pengurus inti.
Utusan dari Mesjid-mesjib di Kab. Bangka duduk berdiskusi, memilih salah beberapa orang menjadi pengurus inti
Utusan dari Konfu Chu dan Budha.
Utusan dari Kristen dan Katolik (Leo Agung Heriyanto dan Alfons Liwun) Utusan dari Hindu tidak hadir.
Inilah wajah baru pengurus FKUB Kabupaten Bangka. Mudah-mudahan ke depan, perannya semakin nampak bagi hidup kerukunan semua umat beragama. *fbr*

Selasa, 05 Oktober 2010

FILOSOFI HUMANIORA DARI MASYARAKAT KAWALIWU


oleh: Alfons Liwun


Seorang warga Kawaliwu di pesisir pantai Kawaliwu
Hantaran:
Kawaliwu, sebuah desa yang dulu menjadi bagian dari Kecamatan Tanjung Bunga, Kabupaten Flores Timur, Propinsi Nusa Tenggara Timur. Dalam kebersamaannya dengan desa-desa lain dalam wilayah Kecamatan Tanjung Bunga, Kawaliwu dikenal dengan nama baru yaitu Desa Sinar Hading. Sebuah desa yang terpatri di sepanjang pantai utara - berhadapan dengan Laut Flores - 20-an kilo meter dari Kota Larantuka, Ibu Kota Kabupaten Flores Timur dan 500-an kilo meter dari Waiklibang, Ibu Kota Kecamatan Tanjung Bunga. 

Kawaliwu dalam Struktur Kecamatan:
Nama baru yang disandang Kawaliwu – Sinar Hading, ketika masih bergabung dengan Kecamatan Tanjung Bunga, hemat saya disebabkan oleh tiga alasan berikut ini. 


Pertama, alasan geografis. Kawaliwu terletak di sepanjang sebuah teluk yang dikenal dengan nama ’Teluk Hading.” Dari nama Teluk Hading ini, ditambah satu kata ”sinar” sinonim dengan cahaya atau nur atau terang. Penempatan ”Sinar” di depan kata Hading dipandang sebagai sesuatu yang nyata bahwa di Kawaliwu tempat terbitnya matahari, sumber sinar atau cahaya bagi bumi.  Dengan begitu nama Kawaliwu dalam perspektif baru adalah ”dari Teluk Hading terpancang cahaya yang terus bersinar, memancarkan cahaya tanpa redup.

Kedua, alasan historis. Menyingkap sejarah Kawaliwu, tidak mudah seperti membalikan telapak tangan. Sejarah Kawaliwu, masih sangat tertutup rapih oleh para leluhur, pemuka adat dan para penatuah dalam masyarakat Kawaliwu. Karena para penatuah dan pemuka masyarakat Kawaliwu sampai dengan saat ini memikirkan dan menghayati satu pemahaman yang ditradisikan oleh nenek moyang mereka (Kaka Bapa) bahwa jika sejarah Kawaliwu diungkapkan maka akan mengalami kehancuran yang meliputi kekacauan antar suku, antar daerah dan bahkan akan ada bencana alam yang hebat dalam dunia ini. Dengan demikian berbicara tentang sejarah di Kawaliwu, pasti akan berbeda dengan sejarah-sejarah desa yang ada di sekelilinginya dan bahkan sejarah-sejarah daerah lain pada umumnya.


Mungkin alasan yang kedua ini untuk menjawabi situasi baru pada tahun 2006, ketika ada pemekaran Kecamatan Tanjung Bunga. Posisi Kawaliwu menjadi ibu kota pemekaran kecamatan dari Kecamatan Tanjung Bunga. Kini Kawaliwu menjadi Ibu Kota Kecamatan Lewolema. 


Sebagai ibu kota Kecamatan Lewolema, Kawaliwu semakin eksis dalam bersinar bagi keempat desa lain yang ada di sekitarnya (Desa Bantala – Lewotala, Desa Balukhering – Belogili, Desa Painnapan – Lamatou, dan Desa Leworahang). Mengapa demikian, karena historisnya berbeda dengan sejarah keempat desa lain. Kelima desa – dalam Kecamatan Lewolema harus bekerjasama untuk membangun masyarakat yang ada di desa-desa ini. Mengapa kerjasama ini penting? Paling kurang ada beberapa alasan yang cukup diterima untuk saling bekerjasama. Alasan yang disampaikan ini merupakan refleksi atas pengalaman hidup selama di Lewolema dan sekaligus memandang baru dalam pola pikir yang luas.


Pertama, alasan geografis. Dari kelima desa dalam Kecamatan Lewolema, ada dua desa yang tidak memiliki laut, yaitu Desa Lewotala dan Desa Lamatou. Ada tiga desa yang memiliki laut yaitu desa leworahang, desa Belogili dan Kawaliwu. Kelima desa memiliki hak tanah diwilayahnya berdasarkan peranan suku-suku yang khas pula. Tanah yang diolah untuk perkebunan dan pertanian.


Rata-rata baik di laut maupun di darat bisa menghasilkan sesuatu untuk kebutuhan perekonomian dalam Kecamatan Lewolema. Selain hasil laut dan hasil darat, masih ada hasil dalam kerak bumi Lewolema yaitu tenaga uap panas dari sumber Ile Kdeka dan Ile Wai Kerewak. Selain itu masih ada barang tambang yang usianya masih muda seperti emas, timah dan minyak bumi di pesisir pantai Kawaliwu, Belogili dan Leworahang. 


Kedua, alasan historis. Dari perjalanan sejarah desa-desa di Lewolema, hampir semua desa memiliki suku raja tua. Suku-suku itu adalah suku Koten, Kelen, Hurit dan Maran. Suku-suku raja tua ini dipandang sebagai suku-suku yang memiliki hak yang besar. Mereka dilihat sebagai pembangun dan pendiri desa-desa tersebut.


Sejarah kelima desa menuturkan bahwa masing-masing desa memiliki pendirinya. Pendirinya itu berasal dari Ile Jadi dan dari Tena Mao. Pertanyaannya muncul, mengapa dari asal usulnya berbeda tetapi di setiap desa memiliki raja tua. Apakah karena tiap-tiap desa itu saling berdekatan? Apakah kelima desa ini telah terjadi suatu urbanisasi yang tersembunyi? Mungkin inilah yang harus digali oleh para penerus Lewolema. 


Bagi saya, ada dua pola pikir yang menetralkan perspektif kelima sejarah desa di Kecamatan Lewolema. Kedua pola berpikir yang netral ini, dasarnya dari tutur kata bapak Hendrikus Haju Liwun (orangtua saya). Bahkan pertanyaan saya tadi pun muncul dari apa yang disampaikan oleh orangtua saya. Maka argumentatifnya sebagai berikut:


Pertama, kalau di kelima desa itu sama-sama punya raja tua, artinya sejarahnya berasal dari asal usul pendiri yang sama. Pendiri itu bisa berasal dari Ile Jadi bisa juga berasal dari Tena Mao. Pendirinya tampil dalam dua wajah. Maksudnya supaya pertambahan anggota dalam setiap desa itu semakin banyak dan bisa mengolah tanah yang ditempati sekarang. Jika kelima desa itu memiliki raja tua yang sama, lalu posisi suku-suku yang lain ada dimana? Inikan ketidakadilan yang dibangun pendiri dalam berbagai hal.


Kedua, agar konteks keadilan antar semua suku, suku raja tua harus mengaturnya secara bijaksana. Konteks pengaturannya adalah semua raja tua yang ada dalam kelima desa berkumpul dan berbicara bersama-sama mencari jalan keluar dari ”benang kusut” dalam sebuah persoalan antar desa. Maka konteks baru yang ditempatkan dalam habitus baru antar desa agar semua suku masuk dalam permainan peranan yang sama dan saling menghargai satu sama lain adalah ”konteks humaniora” atau pola pikir kemanusiaan yang adil dan beradab. Pola itu bisa kita baca dalam contoh gambar berbentuk manusia berikut ini:

Folosofis Kemanusiaan Kawaliwu menuju keadaban publik 
Sejak dulu filosofis kemanusiaan Kawaliwu ini telah muncul dalam setiap derak langkah manusia Kawaliwu. Bukti yang paling riil dan nyata yang sampai sekarang hidup dalam desa ini adalah:

Pertama, ”kawin mawin”. Kawin mawin selain untuk menambah hidup keberlangsungan sebuah suku tetapi juga menambah jumlah sebuah desa. Dalam kawin-mawin, pihak Opu (pihak laki-laki) datang kepada pihak Blake (pihak perempuan). Kehadiran Opu menjalankan proses kawin-mawin dengan pihak Blake yang dimulai dengan ”hupo sura”, pinang hingga menjalankan perkawinan.

Dalam proses ”hupo sura” Opu dan Blake berjumpa, membicarakan soal kecocokan atau tidak kedua pasangan yang mau menikah. Selain berbicara soal hal tadi, Blake akan berbicara soal belis (mas kawin). Bagi masyarakat Kawaliwu, mas kawin berupa gading dan sarung tenun khas Kawaliwu atau khas desa lain kalau salah satu pihak berasal dari luar Kawaliwu. Mas kawin pertama-tama dipandang bukan harga seorang perempuan tetapi lebih dari itu sebagai pengikat tali kekerabatan antar suku. Setelah proses ini mencapai kata sepakat biasanya Blake akan mengeluarkan ”sirih pinang” untuk dimakan, sebagai tanda bahwa kesepakatan telah sampai finis dan siap untuk tahap berikutnya yaitu meminang. 

Proses meminang adalah proses Opu mengantar hasil kesepakatan sebelumnya. Yang diantar adalah berapa banyak dan besar gading yang telah disepakati. Selain itu, ada beberapa sarung tenun khas desa yang bersangkutan dan sirih pinang serta bahan makanan untuk makan bersama. Opu akan dijemput oleh Blake di depan rumah dan siap dengan sirih pinang sebagai tanda penjemputan. Sebelum diberi sirih pinang, pihak Blake akan mengecek apakah hasil kesepakatan itu telah dibawa semua atau belum. Dalam tahap meminang ini Opu dan Blake akan berbicara soal waktu dan tempat kedua pasang akan menikah. Ini tahap terakhir dalam proses adat perkawinan. Selanjutnya perkawinan akan diurus oleh Opu dengan pihak Gereja. Opu akan menyerahkan proses keberlangsungan perkawinan kepada pihak Dewan Pastoral Paroki/Stasi yang siap untuk mengurusnya. 

Kedua, ”kesuburan pengolahan tanah.” Mayoritas masyarakat Kawaliwu adalah petani, berkebun di atas lahan garapan miliki suku. Mengapa? Karena pola pikir masyarakat Kawaliwu bahwa segala hak milik tanah (=eta/newa) adalah hak milik adat, bersama. Yang mengatur di dalamnya adalah pihak raja tua.

Dan dalam proses pengolahan tanah, raja tua begitu penting, karena mereka adalah pemilik otonomi ”nuke-huke” Maka jelas bahwa didalam sistem pengolahan tanah, paling kurang ”raja tua” harus ada. Proses demikian, kita belum menemukan peran perempuan yang adalah simbol kesuburan. Memang, kesuburan bukan hanya pada pihak laki-laki tetapi juga perempuan. Lalu pertanyaan kita, dimana peran perempuan dalam kesuburan tanah? 

Sebelum kita melihat peran perempuan, saya mengajak anda untuk melihat keberadaan sebuah ”lahan olahan/kebun” masyarakat Kawaliwu.
Melihat gambar tadi, sebagai masyarakat Kawaliwu, langsung mengetahui letak pusat kesuburan sebuah kebun-lahan garapan. Hedik Era, dalam dialek bahasa Lamaholot, terdiri dari dua kata. Kata ”Hedik” artinya berdiri tegak sedangkan kata Era artinya bibit. Maka secara sederhana ”Hedik Era” adalah pusat pembibitan/persemaian yang merupakan pusat kesuburan dalam sebuah lahan garapan/kebun. Dari ”Hedik Era” akan mengalir kesuburan bagi semua tanaman yang ada dalam sebuah lahan garapan/kebun.

”Hedik Era” adalah simbol persemaian bibit-bibit yang baik dan unggul. Hedik Era dalam istilah masyarakat Kawaliwu, ”Nuba Nogo Gunu”, Tempat Ratu Kesuburan. ”Hedik Era” terbuat dari beberapa lempeng batu yang menjadi lantai/tempat pijakan ”Era”, sebatang kayu yang sudah dikupas kulitnya lalu dipancang ke dalam tanah di bagian kepala batu tempengan tadi, sebagai simbol aliran rahmat kesuburan yang dihasilkan antara ”Rera Wulan Tana Ekan.” (Kaka Bapa). Di ujung bagian atas kayu tadi terdapat sabut kelapa bagian dalam yang diikat kuat menutup ujung kayu, sebagai simbol pertemuan - persekutuan Rera Wulan Tana Ekan.

”Hedik Era” boleh kita sebut sebagai ”Nuba Nogo Gunu”. Sebagai ”Nuba Nogo Gunu”, tempat Ratu Kesuburan” peran perempuan ada disana. Peran perempuan dapat kita lihat dalam ritus kesuburan sebuah lahan garapan/kebun. Seorang Raja tua akan memakaikan sarung (=kewatek) kepada seorang perempuan di Hedik Era. Sebagai tanda bahwa kesuburan sudah ada. Sehingga seluruh tanaman perlu dirawat dengan baik. Inilah tugas selanjutnya bagi si pemilik lahan garapan/kebun.

Penutup 
Masih banyak contoh dalam kehidupan masyarakat Kawaliwu yang mencermin hidup damai baik antar suku maupun antar keluarga. Folosofi humaniora Kawaliwu memberikan kepada publik ramai bahwa masyarakat Kawaliwu sangat menghargai manusia, laki-laki dan perempuan. Kehadiran manusia, laki-laki dan perempuan merupakan kehadiran yang saling melengkapi. Kehadiran keduanya saling memberikan makna tersendiri. Maka segala hak dan kewjiban yang ada dalam suku perlu dipertimbangkan dan dimaknai secara seimbang. Hak dan kewajiban laki-laki dan perempuan sama. Tidak ada yang lebih besar dan tidak ada yang lebih tinggi atau rendah. Sama-sama mempunyai peran yang khas dalam suku dan keluarga.

Hak dan kewajiban yang selama ini diatur secara dipaksakan harus dibedakan dari hak dan kewajiban Raja tua. Kalau Raja tua dalam sebuah desa maka laki-laki dan perempuan ada dalam suku dan keluarga. Tidak etis jika laki-laki dinomorsatukan dan perempuan dinomorduakan.

Mudah-mudahan dengan sepotong refleksi atas realitas yang hidup dalam masyarakat Kawaliwu ini memberikan angin segar bagi laki-laki yang selama ini dituanagungkan. Dan memberikan pencerahan baru bagi keberanian perempuan untuk mendapat hak dan kewajibannya secara seimbang. ”Sama-sama punya ”Rera Wulan Tana Ekan”, dan sama-sama pula dalam melayani ”Rera Wulan Tana Ekan.” ***

Sabtu, 25 September 2010

OLAH ALAM SELARAS ALAM

Senja terpatri. Mengukir panorama senja yang misterius. Alam menunjukan keindahannya, dengan bahasa yang bisu. Senja mulai berlalu, pratanda hari menjelang malam. Kicauan burung bergembira ria, menghantar senja menuju kegelapan malam.

Di depan gubuk tua itu, berdiri tegak, sebatang pohon "khas Bangka". Ranting-ranting telah mulai rontok, kulit terkelupas, rumput menjalar dan alang-alang mengelilinginya. Di samping pohon yang berusia tiga tahun hanyut dilalap api, membisu-menampakan suatu misteri yang harus direfleksikan.

Apa yang harus direfleksikan pada pohon itu? Velly, asal Hakok, istri Arjuno memberikan tanggapan atas pohon ini sebagai "salib yang berdiri tegak dan awan putih mengelilinginya." Suatu tanggapan rohani. Membahasakan sebagai seorang yang memiliki kerohanian yang baik.

Bagi saya, pohon ini punya bahasa misteri. Apa yang misteri? Pohon pernah hidup. Hidupnya memberikan keteduhan bagi siapa saja yang pernah berteduh di bawahnya. Pohon ini pernah punya daun, dan daunnya kini menjadi pupuk yang memberikan kesuburan bagi tanaman yang ada di sekitarnya. Alang-alang, rumput-rumput dan segala jenis tanaman kecil lainnya di sekitar, menghijau. Menghijau, tanda bahwa pohon itu memberikan kesuburan bagi sesamanya.

Pohon itu, punya dahan dan ranting-ranting. Bagi saya, dahan menjadi bahan material seperti balok atau papan untuk manusia yang membutuhkan membangun rumah. Ranting-rantingnya memberikan petunjuk akan ada kehidupan baru. Tanpa sadar, ranting-ranting itu seakan memohon datangnya air kehidupan. Tanpa sadar, ia memohon kepada Sang Khalik akan panas yang membantu fotosintesis bagi tanaman lain.

Walaupun, telah tiada, telah diganti dengan pohon lain yang telah hidup menggantikan hidupmu. Pohon sengon, jenis tanaman yang cocok untuk menggantikannya. Daunnya lebat hijau. Ranting-rantingnya banyak. Tunasnya manis, sehingga kedatangan banyak semut yang mau mencicipi gula yang sengon hasilkan. Sengon, pohon yang cocok untuk menyuburkan tanah, memberikan kehidupan baru.

Sengon, jenis tanaman untuk bahan baku triplex, untuk keperluan bahan bangun rumah penduduk. Sengon, tanaman alternatif Pulau Bangka yang gersang oleh serakahnya manusia, penambang legal dan illegal timah.Sengon lebih gampang diurus ketimbang pohon sawit yang kini menjadi prioritas para pengusaha pertanian dan perkebunan di Bangka. Sengon cocok untuk memulihkan ekosistem tanah Bangka. Sengon yang subur di Bangka, akan membantu dunia yang kini panas. Pemanasan global telah merusak alam. Tapi pemanasan global bisa diatasi dengan menanam jenis pohon hijau, salah satunya adalah sengon.

Mari, kita tanam sengon di Pulau Bangka untuk menyelamatkan banyak kehidupan termasuk penduduk Pulau Bangka dan penduduk dunia. **fbr**