Selasa, 23 November 2010

RESENSI BUKU 75 TAHUN JUBILEE PAROKI SUNGAILIAT

Buku Kenangan 75 Thn. Paroki Sungailiat.
Ukuran: Panjang: 20 cm dan lebar: 14 cm.
Jumlah halaman: 256  dan 12 halaman plus iklan.
Percetakan: Sumber Sarana Prima (SSP)
Jl. Melintang 49, Telp. 0717-432134 Pangakalpinang Bangka
Harga per buku: Rp. 50 ribu rupiah, belum ditambah biaya ongkos kirim

Suara dari editor:
Sejarah Gereja Katolik Sungailiat:
Anugerah dan Tanggungjawab
In Memoriam 75 tahun Paroki Sungailiat dibawah perlindungan Sta. Maria Pengantara Segala Rahmat (Sta. Maria PSR Sungailiat) merupakan suatu anugerah dan tanggungjawab. Anugerah Allah menuntut tanggungjawab manusia yang menjawab panggilan-Nya. Sebagai suatu anugerah karena didalam perjalanan sejarahnya, walaupun ada begitu banyak kerikil-kerikil tajam baik yang datang dari dalam (internal) maupun dari luar (ekternal) namun semuanya itu telah menuai kesuksesan yang gemilang. Kesuksesan yang gemilang karena anugerah Allah. Kesuksesan telah dibuktikan dengan kekokohan kesatuan umat sebagai satu komunitas paroki yang besar, juga sampai dengan sekarang arah prioritas pembangunan umat jelas kepada keluarga, komunitas basis, kaum muda dan anak dan remaja (BIAR). Itu artinya bahwa dalam sejarah pembangunan, kita telah menempatkan subyek-subyek sebagai prioritas utama. Sebab subyek-subyek (manusia) adalah makhluk bermartabat yang mengarah pada tiga dimensi masa (masa lalu, masa sekarang, dan masa depan). Atau dengan kata lain, prioritas pembangunan jemaat telah menghidupkan manusia yang menyejarah yang mengarah kepada sebuah masa depan, namun tidak mengabaikan masa lalu dan saat ini. Kesuksesan juga telah dibuktikan dengan kehadiran secara fisik sebuah gereja paroki dan stasi yang kokoh, yang membuat kita merasa nyaman dalam setiap kegiatan perayaan gerejani.

Dari perjalanan ziarah umat dalam sejarah yang menuai keberhasilan, tentu kita yang menjadi anak-anak sejarah saat ini, dituntut untuk bertanggungjawab. Tanggungjawab kita pertama-tama melanjutkan karya perutusan Kristus bagi sesama sesuai dengan tritugas Kristus yang telah kita terima dalam Sakramen Pembaptisan. Tanggungjawab kita juga perlu diejawantahkan dalam keikutsertaan kita dalam proses pembangunan hidup iman baik secara pribadi maupun komunal di paroki dan di komunitas basis. Tanggungjawab kita pun dinyatakan secara jelas dalam pemeliharaan secara fisik gedung gereja dan sekitarnya sebagai wujud rasa hormat perjuangan para tokoh terdahulu yang dengan susah payah mendapat sebuah gedung gereja. Juga tanggungjawab kita tunjukkan dalam kebersamaan sebagai satu keluarga iman yang selalu menghormati heterogen bakat-talenta, suku, ras, dan golongan. Dan dalam segala tanggungjawab positif yang lain, kita perlu nyatakan kepada sesama kita yang lebih luas.

Buku Kenangan Jubille 75 Tahun Paroki Sungailiat

Proses Hadirnya Buku Kenangan:
Berawal dari keprihatinan para mantan panitia 68 tahun Paroki Sungailiat yang mengumpulkan data-data dan gambar-gambar kenangan paroki beberapa tahun terdahulu bahwa penyimpanan data dan gambar tidak maksimal baik. Banyak data dan gambar kenangan tidak terurus bahkan berserakan. Keprihatinan ini kemudian diungkapkan oleh Bpk. Cornelius Yohanan, salah seorang panitia pameran 68 tahun dalam rapat panitia jubilee 75 tahun. Bahwa ada baiknya juga dalam peristiwa jubilee 75 tahun paroki kita, diterbitkan semacam ”album kenangan” untuk peristiwa-peristiwa sejarah gereja kita yang telah lewat. Ide yang menarik ini ternyata mendapat sambutan hangat dari panitia jubilee 75 tahun. Ide tadi kemudian berkembang dalam rapat panitia menjadi sebuah diskusi hebat.

Memang diakui bahwa ada beberapa anggota panitia jubilee 75 tahun yang pro dan kontrak akan ide tadi. Pihak yang pro mendukung penerbitan album kenangan. Sedangkan pihak lain yang kontra, bukan album kenangan tetapi lebih baik dan bermutu jika diterbitkan ”buku kenangan”, sebagai hadiah untuk umat. Album kenangan yang dimaksud ialah proses pengumpulan/penyatuan kembali data-data dan gambar dengan menyusun setiap peristiwa dan diberi catatan refleksi atas peristiwa-peritiwa dan gambar yang mendukung. Dan proses ini dirasa tidak terlalu susah amat dalam pengerjaan. Sedang ”buku kenangan” adalah proses penulisan kembali sejarah Gereja Katolik Sungailiat baik berupa ceritera-ceritera lepas narasumber maupun studi pustaka (tertulis) yang dilengkapi data-data, gambar-gambar, dan komentar umat tentang kehidupan menggereja selama ini dan harapan kehidupan menggereja di masa depan.

Entah bagaimana terjadi sampai kehadiran buku kenangan, ini suatu proses yang menurut hemat saya merupakan tuntutan keberanian panggilan jiwa saya untuk membuat sebuah terobosan. Terobosan yang saya lalui pertama-tama membuat kerangka atas buku kenangan. Kerangka yang dibuat disidangkan didepan para Tim Buku. Ada beberapa pergeseran kerangka, namun tidak menjadi masalah. Intinya kerangka yang diajukan itu, tidak ada yang hilang. Hasil kerangka buku seperti terlihat dalam daftar isi buku kenangan ini.

Kerangka Buku Kenangan
Kerangka yang ada didalam daftar isi buku ini, hemat saya merupakan sebuah kerangka yang cukup sistimatis. Kerangka yang sistimatis itu mempunyai tekanan utama pada bagian ”Napak Tilas Sejarah Gereja Katolik Paroki Sungailiat” dan ”Pasca 75 Tahun Gereja Paroki Sungailiat:
Komentar, Kesan, Pesan, Dan Harapan Ke Depan Bagi Gereja Kita.”  Kedua inti tulisan ini dilengkapi dengan “Arti Logo Sta. Maria Pengantara Segala Rahmat Sungailiat dan Visi - Misi Paroki Sungailiat” dalam bagian pendahuluan.

Selain itu, juga dilengkapi dengan bagian sambutan-sambutan dari beberapa tokoh Gereja kita dan bagian Sekilas Jejak Sta. Maria Pengantara Segala Rahmat berupa “Doa Sta. Maria Pengantara Segala Rahmat Sungailiat” yang diedit kembali oleh Pastor Aloysius Kriswinarto, MSF dan “Lagu Himne Sta. Maria Pengantara Segala Rahmat karya Rm. Frans Mukin, Pr” Hemat saya kerangka Buku Kenangan semakin sempurna lagi ketika ditambah photo-photo kenangan beberapa tahun yang silam yang menggambarkan bahwa ada berbagai kegiatan yang pernah dilaksanakan umat dalam paroki, juga data-data pembaptisan, krisma, perkawinan, dan lain-lain. Dan untuk mengenangkan para donatur baik dari kelompok basis maupun pribadi umat dalam dan luar paroki, dimasukkan juga ucapan selamat jubilee 75 tahun dan iklan-iklan Usaha Kecil dan Menengah (UKM) komunitas tertentu ataupun pribadi.

Membaca Buku Kenangan Jubilee 75 Tahun Paroki Sungailiat:
Isi, bahasa, bentuk tulisan, dan penulis:

Dalam bagian napak tilas sejarah Gereja Katolik Sungailiat secara umum, tercatat ada tiga belas tulisan. Tulisan (1-2) mengulas sepintas sejarah berupa terlibatan kaum tertahbis dan awam dalam mengokohkan kiprah Gereja Katolik di Sungailiat walaupun ada begitu banyak halangan baik secara interen maupun eksteren terkhusus dari pemerintah penjajah saat itu. Setiap kejadian yang dilengkapi dengan penyebutan tempat menandakan bahwa penulis memberikan suatu ingatan kepada kita bahwa di tempat itu, pernah direncanakan dan dilaksanakan oleh umat suatu karya sosial karikatip Gereja berdasarkan petunjuk hierarkis kita.

Tulisan (3-5) menceriterakan bahwa sekitar tahun 60-an, Gereja sungguh-sungguh hadir dengan bidang karya nyata untuk membantu kehidupan sosial ekonomi umat dan masyarakat pada umumnya, dan karya itu kini sirna. Selain itu, dengan karya karikatip yang sirna, pastoral Gereja kembali mengambil arah baru dalam keterlibatan umat. Penulis menceriterakan karya pastoral baru itu dengan keterlibatan umat yang nyata untuk membantu umat sendiri. Hal yang tidak kala penting juga adalah bahwa keterlibatan umat ternyata membuahkan hasil yang gemilang yaitu mengurus proses pendapatan sebuah gedung gereja.

Tulisan (6-12) memberikan kita satu hal penting bahwa ketika kita terlibat dalam membangun diri kita, kita punya arah yang jelas. Kemana kita tuju dan bagaimana cara kita mencapai tujuan itu. Ada beberapa karya nyata berupa DPP, jadwal pelayanan kelompok, Kartu Persembahan, Kesejahteraan, dan pelayanan kepralayaan, dan lain-lain  sebagai bukti karya kita mendukung tujuan yang mau dicapai.

Tulisan (13), penulis adalah seoarang tertahbis yang pernah bertugas di Sungailiat. Beliau menceriterakan bahwa umat Sungailiat sungguh-sungguh peduli dengan karya Gereja baik karya kecil maupun karya besar. Dengan mengatakan bahwa umat Sungailiat sungguh-sungguh terlibat dalam karya pastoral, penulis ingin menyampaikan bahwa keterlibatan awam dan kaum tertahbis merupakan doa Bunda Maria. Hal ini ditegaskannya dalam ”Madah Sta. Maria PSR Sungailiat.”  

Dalam bagian komentar, kesan, pesan, dan harapan umat Katolik dan beberapa pihak lain yang mengetahui karya pastoral Gereja Katolik Sungailiat, lebih banyak mempunyai komentar, kesan, dan pesan serta harapan yang cukup positip untuk kita. Para pembaca akan menemukan komentar umat kelompok seputar keterlibatan umat sendiri di kelompok basis dan paroki. Banyak tulisan komentar umat dalam bentuk tulisan hasil wawancara. Hanya ada beberapa saja yang berhasil ditulis oleh umat sendiri. Bagian ini pembaca juga akan menemukan suatu harapan umat akan karya pastoral Gereja yang semestinya mengena pada umat sendiri. Keterlibatan kaum tertahbis sangat dirindukan umat di kelompok hingga saat ini. Umat masih sangat menunggu kunjungan pastor dan petugas pastoral yang lain. Kunjungan bagi mereka adalah sebuah sapaan kedekatan yang mampu ”memuaskan” dahaga iman.

Tentang bahasa dan bentuk tulisan dari keseluruhan isi buku kenangan boleh terbilang sederhana. Secara linguistiknya, kadang struktur bahasanya merupakan struktur dan bahasa populer. Struktur dan bahasa yang mudah dimengerti oleh para pembaca. Hal ini dilatar belakangi oleh para penulis sendiri lebih banyak berpengalaman di Paroki Sungailiat. Karena pengalaman itu, para penulis bisa mengetahui situasi Sungailiat dan umat serta masyarakat pada umumnya.

Tentang para penulis buku ini, lebih banyak ditangani oleh kaum awam dengan latar belakang pendidikannya sendiri. Sehingga hasil tulisan mereka adalah khas mereka sendiri. Para penulisan sendiri adalah orang-orang dalam, orang-orang yang pernah berkarya di Sungailiat. Kepada para penulis dan responden yang telah diwawancarai, kita patut mengacungkan jempo karena mereka sendiri telah ikutserta dalam mengumpulkan data, sebagai pemerhati dan peduli akan situasi Gereja kita.

Sebagai akhir dari ”Suara Editor”, saya mengajak para pembaca untuk lebih tekun membaca, merenung, dan mudah-mudahan apa yang menjadi harapan untuk karya Gereja kita ke depan, bisa terjawab dan menjadi tanggungjawab bersama. Karya kita adalah karya Gereja, wujud penghayatan iman kita. Karya Gereja adalah suatu anugerah Allah. Dan karena suatu anugerah, maka menuntut tanggungjawab bersama dari kita. Akhir kata, saya atas nama seluruh panitia Tim Buku dan para panitia jubilee 75 tahun mengucapkan banyak terima kasih kepada bapa uskup, bimas katolik, para pastor, suster, bruder, tim percetakkan SSP Pangkalpinang, redaktur tabloi BERKAT, dan segenap umat. Mereka telah membantu TIM buku dengan caranya masing-masing. Selain itu, saya atas nama semua teman-teman Panitia Jubilee 75 memohon maaf atas segala kekurangan informasi dan yang menjadi isi buku ini. Kami mengharapkan ada kritik dan saran yang membangun yang bisa menyempurnakan buku ini.
Sungailiat, 17 Juli 2009
Editor: Alfons Liwun

Rabu, 17 November 2010

PHOTO-PHOTO REHAB TEMPAT IBADAT SEKAMI UMAT KATOLIK ST. YOHANES PEMANDI BEDUKANG -SUNGAILIAT

Dena rehab bangunan tempat doa SEKAMI-Umat Katolik St. Yohanes Pemandi, Paroki Sungailiat.
Bahan material untuk rehab tempat doa SEKAMI-Umat Katolik Bedukang Sungailiat. Tampak tukang, Bpk. Silvester Nong Manis, umat setempat.

Fondasi mulai dibangun. Lihat juga beberapa gambar berikutnya.

Perehaban tempat doa ini, mendapat gotongroyong dari umat setiap hari, dengan jadwal khusus. Sehaari umat yang membantu tukang sebanyak 5/6 orang. Semoga sukses selalu. **fbr**

PHOTO-PHOTO TEMPAT IBADAT SEKAMI UMAT KATOLIK ST. YOHANES PEMANDI BEDUKANG -SUNGAILIAT


Tampak dari depan. Dibangun oleh umat Katolik St. Yohanes Pemandi Bedukang Paroki Sungailiat. 

Tampak dari samping kiri
Tampak dari samping kanan
Tampak dari dalam.
Partisipasi umat dari yang sederhana ini ditanggapi oleh Gereja Paroki. Dengan berusaha kembali merehabnya. rehabnya kini sejak 15 November 2010 sedang dalam perehaban. 
Mudah-mudahan proses rehab berjalan dengan lancar. ***

TEMPAT IBADAT SEKAMI-UMAT KATOLIK ST. YOHANES PEMANDI BEDUKANG

Gereja Katolik Paroki Sta. Maria Pengantara Segala Rahmat Sungailiat, dalam pemetaan wilayah kepemerintahan, Paroki Sungailiat termasuk dalam wilayah pemerintahan Kabupanten Bangka Propinsi Kepulauan Bangka Belitung. Dalam pembagian wilayah karya pastoral, Paroki Sungailiat terdiri dari 15 Komunitas Basis Gerejani (KBG) dan 4 stasi. Salah satu stasinya adalah Stasi Bedukang yang masuk dalam wilayah Kecamatan Riau Silip Kabupaten Bangka.

Dari segi geografisnya, Stasi Bedukang terletak ± 20 km dari Kota Sungailiat, Kabupaten Bangka. Dari segi demografisnya, anggota Stasi Bedukang terdiri dari orang-orang perantauan asal Maumere Flores NTT, yang mayoritasnya beragama Katolik. Sehari-hari, masyarakat ini bekerja sebagai penambang timah inkonvensional (TI). Boleh dibilang kehidupannya pas-pasan. Jumlah anggota Stasi Bedukang : ± 32 KK dengan 120 jiwa.

Dalam pemetaan karya pastoral Gereja Paroki Sungailiat, Stasi Bedukang memiliki satu KBG yang disebut KBG St. Yohanes Pemandi. Pelayanan iman khususnya Misa untuk anggota stasi ini, dilaksanakan pada setiap Hari Minggu ke-2 setiap bulan. Sedangkan pertemuan KBG dilaksanakan pada setiap minggu pada Hari Sabtu Sore, jam 16.00.

Sedangkan pelayanan khusus kepada Anak dan Remaja yaitu SEKAMI adan BIAR dilaksanakan pada setiap Hari Jumat dan Sabtu Sore. Awalnya pertemuan ini dilaksanakan di rumah ketua KBG. Tetapi seiring dengan semangat Sinode I dan Sinode II yang akan dilaksanakan pada 2011, sejak Januari 2010, umat Stasi Bedukang berencana untuk membangun sebuah ”tempat ibadah SEKAMI”. Rencana itu semakin diperteguhkan pada bulan Maret 2010. Dan akhirnya pada April 2010, rencana itu terrealisasi dengan membangun ”tempat ibadah SEKAMI” dalam kondisi apa adanya.

Ketika ”tempat ibadah SEKAMI” itu telah berdiri dan telah dipakai, rasanya tempat ibadah ini kurang memadai, karena kondisi tempat ibadah itu cukup memprihatinkan. Pertama, karena kondisi atapnya mudah rusak ketika dihantam angin dan hujan. Kedua, tempat ibadah itu tidak memiliki fondasi sehingga kalau ada hujan, banjir akan masuk di daalam tempat itu. Ketiga, pintu dan jendelanya belum memiliki daunnya sehingga sering menjadi tempat bermainnya binatang-binatang sehingga kondisinya kotor.

Tempat Ibadat ini dibangun oleh umat sendiri, sebagai bentuk partisipasi mereka sebagai anggota Gereja yang berwajah partisipatif. Dengan dimulai dari umat, para pimpinan Paroki menanggapinya sebagai suatu partisipasi yang positif. Maka tanggapan paroki ialah memotivasi seluruh umat untuk kembali merehabnya kembali. dan sejak awal November 2010 rencana perehaban kembali terorganisir. Mudah-mudahan berjalan dengan baik berdasarkan rencana yang telah digariskan. ***

Jumat, 05 November 2010

PHOTO MISA ARWAH 2 NOVEMBER 2010 DI KUBUR KATOLIK SUNGAILIAT

Rm. Aloysius Kriswinarto, MSFselebran utama memimpin misa arwah 2 November di kubur Katolik Paroki Sungailiat, Jl. Kemujan Sungailiat pada jam 15.00-18.00
Dalam Misa Arwah itu, Bapak Bambang sebagai Petugas Pembagian Komuni Tak Lazim (kiri), di tengah bapak F. Sumanto sebagai  pemazmur dan Sdr. F. Dewi Susanti (kanan) sebagai lektor sedangkan pemandu lagu adalah Kaka Yovita DJR. 
Umat yang hadir dalam misa arwah baik dari luar Bangka maupun di Bangka sendiri. Umat serius mengikuti misa tersebut.
Selebran utama doa pemberkatan kembang-kembang yang dibawa umat untuk ditaburkan di kubur sanak saudara yang telah meninggal dunia. Bunga simbol kesuburan doa dari umat untuk umat beriman dalam perjalanan ziarahnya menuju Bapa.

Rm. Kris dibantu oleh Pastor Pembantu Paroki Sungailiat, Rm. Stefanus Ruswan Budi Sunaryo MSF sedang mereciki kembang dengan air berkat. Agar kembang yang telah diberkati itu menghiasi doa melambung tinggi menuju Bapa.
Rm. Kris memberkati kembang. Umat berpartisipasi dengan doa-doa.

Rm. Kris memberkati kubur dan di bantu oleh ajuda Pandu dan Lusia (anak-anak PA/PI Paroki Sungailiat)

Kubur Katolik bersih dan rapih. Koordinator Pralaya Paroki Sungailiat, Bapak Servinus Sero, punya peran penting disana. Beliau mengatur dan berusaha untuk menata kubur ini. Tidak heran jika ketika acara pemunguman, om guru Sero begitu tegas menyatakan agar ahli warisnya yang masih hidup, peduli pada kebersihan kubur-kubur yang ada. Jangan heran kalau kubur ahli warisnya tidak terawat. Karena peran kita kurang. Terima kasih banyak om guru. Tuhan memberkatimu. **fbr**

Rabu, 03 November 2010

PHOTO KUNJUNGAN MSF KE KBG PAROKI SUNGAILIAT BANGKA

 Rm. Fadjarianto MSF berdialog dengan umat di Kampung Jawa (12/10/10), Bpk. Stefanus Supardjono jadi moderator.

Umat KBG duduk mendengarkan Rm. Fadjarianto sharing pengalamannya menjadi imam Tuhan.

Rm. Aloysius Kriswinarto pun hadir dalam pertemuan itu. Lihat serius mendengarkan teman sharing.

Para sesepuh pun serius mendengarkan. Sr. Yasintha AK pun hadir. Terima kasih atas sharingnya Romo. Salam dari Sungailiat Bangka. **fbr**

Senin, 01 November 2010

TOURNE PASTOR MSF KE KBG PAROKI SUNGAILIAT

KELUARGA: BASIS KBG DAN PANGGILAN KHUSUS
Oleh: Kontributor "BERKAT" Sungailiat

Umat Katolik Paroki Sungailiat merasa bersyukur dan gembira atas kunjungan kedelapan pastor dari kongregasi Missionarii a Sacra Familia, atau yang sering dikenal kongregasi MSF, pada 12 Oktober 2010. Kegembiraan umat baik yang dewasa maupun anak-anak, nampak dari kehadiran mereka dengan wajah yang murah senyum dan sukacita, ketika sampai di tempat pertemuan. 

Kongregasi MSF yang berkarya di Keuskupan Pangkalpinang, tepatnya di Paroki Sungailiat telah berusia dua tahun (7/9/2008). Kunjungan kongregasi Para Misionaris Keluarga Kudus kali ini merupakan kunjungan mereka untuk kedua kalinya. Kunjungan kali ini, sebenarnya merupakan safari liburan bersama dengan seting panorama Pulau Bangka. Seperti pepatah mengatakan, sambil menyelam minum air, para romo dari Misionaris Keluarga Kudus, sambil menikmati panorama nan indah di Pulau Bangka, mereka pun menyempatkan diri membantu sesama rekan mereka, Rm. Aloysius Kriswinarto dan Rm. Stefanus Ruswan Budi Sunaryo yang sudah dua tahun bertugas di Paroki Sungailiat, untuk tourne ke komunitas-komunitas basis Paroki Sungailiat. Dalam kunjungan kedua ini merupakan para romo yang bertugas di paroki-paroki dan rumah retret wilayah Gerejani Keuskupakan Agung Jakarta. 

Rm. Mikael Walidi, MSF yang sekarang bertugas di Paroki Rawamangun Jakarta, dihadapan umat komunitas St. Yosep, Sta. Elisabeth dan St. Thomas Aquino memulai sharing pengalamannya. “Saya hadir disini, tidak membawa teori. Saya bawa pengalaman hidup dan pengalaman berpastoral selama saya menjadi pastor. Saya menjadi pastor, karena keluarga saya. Keluarga saya, keluarga Katolik. Jadi kalau sharing saya ini tidak menjawabi kebutuhan pembangunan KBG, pertama-tama saya mohon maaf.”

Lebih lanjut lagi, romo yang disapa umatnya dengan Rm. Walidi, meneruskan sharing pengalamannya bahwa KBG, memiliki anggotanya dari keluarga. Prinsipnya, bahwa beberapa keluarga, jarak yang berdekatan berkumpul bersama dan membentuk sebuah komunitas kecil. Karena itu, akar dari KBG adalah keluarga. Keluarga perlu memiliki suasana yang damai dan tenang dalam berbagai relasi baik interen anggota keluarga maupun tetangganya. Keluarga mendapat porsi yang proposional dalam KBG. Spirit keluarga kudus Nasareth, juga spirit MSF, tentu juga menjadi spirit kita bersama.

Sejalan dengan sharing pengalaman Rm. Walidi, Rm. Agus, dengan nama lengkapnya Yohanes Agus Rianto, MSF menambahkan sharingnya bahwa keluarga memiliki peran yang sangat penting sekali, bukan hanya dalam KBG, tetapi dalam komunitas yang besar seperti paroki. Setiap anggota keluarga memotivasi anggota keluarganya untuk berpartisipasi dalam komunitas baik di KBG maupun di paroki. Saling memotivasi merupakan bentuk panggilan kita bermisi. Bahkan keluarga pun punya peran penting sebagai seminari kecil dalam hal panggilan khusus menjadi imam, bruder dan suster. Orangtua dalam keluarga, tidak hanya mendoakan anak orang lain untuk panggilan khusus ini. Tetapi keluarga perlu sekali memiliki kerelaan dan pengorbanan untuk berani mendorong dan mendoakan anggota keluarganya untuk menjalani panggilan khusus itu.

Romo yang pernah bertugas di Paroki Lewolaga, Keuskupan Larantuka, Flores ini dengan antusias dan murah senyum, membagikan pengalaman yang unik dalam hidup keluarganya. “Dalam hal panggilan khusus, karena bapak saya tidak Katolik, ibu saya, dalam setiap perayaan ekaristi di gereja dan dalam doa bersama di keluarga, ibu saya selalu mendaraskan doa untuk anak-anaknya agar di antara anak-anaknya ada yang dipilih Tuhan untuk bekerja di kebun anggur-Nya. Ternyata, doa seorang ibu yang terus menerus dipanjatkan, terjawab oleh Tuhan. Bukti jawaban Tuhan adalah saudari saya, saudari satu-satu, yang menjadi pendengar keluh kesah kami, kini menjadi suster dan saya pun ikut dipilih Tuhan menjadi pastor MSF.  Jadi didalam keluarga kami, ada yang menjadi suster dan menjadi pastor.”

Dalam waktu yang bersamaan (18.00wib), para romo anggota pendiri MSF, Pater J.B. Berthier (1808-1908) pun berkunjung ke komunitas basis yang lain. Rm. Ignasius Tari dan Rm. Yusuf Winarto berkunjung ke komunitas basis gabungan St. Gabriel dan Sta. Theresia 2, di rumah Petrus Supardjo, Pohin Pemali. Komunitas gabungan St. Fransiskus Xaverius, St. Petrus, Sta. Maria Goretti dan Sta. Theresia 1, di rumah Johanes Sagyo, Kampung Jawa dikunjungi Rm. Stephanus Fadjarianto dan pastor Paroki Sungailiat, Rm. Aloysius Kriswinarto, menggantikan Rm. Celsus Winarno Hardosuyatno, MSF yang lebih dahulu kembali ke Jakarta, pagi (12/10/10). 

Sedangkan Rm. Bernardus Realino Agung Prihartanaa dan Rm. Aloysius Suharihadi, bertatapmuka dengan umat dari komunitas gabungan St. Yohanes Pamandi-Bedukang, St. Dominikus-Deniang, St. Vincentius-Kuday, St. Don Bosco-Hakok, dan Sta. Sisilia-Jalan Laut, di rumah ibu Bernadettha Ai Ai, Hakok.

Suasana kekeluargaan dan proses pertemuan umat komunitas basis, hampir sama dengan kunjungan pertama kali, para anggota MSF yang seangkatan dengan Rm. Stefanus Ruswan Budi Sunaryo MSF, pastor pembantu Paroki Sungailiat, pada bulan Juli 2009 lalu. 

Laporan Frans Subiyantoro dan Maya Agustina, anggota kontributor BERKAT di Sungailiat mengatakan bahwa ada banyak pertanyaan muncul dari beberapa umat di KBG tentang bagaimana masuk ke seminari dan lamanya menjalankan proses pembinaan yang dijalankan calon imam, di panti pendidikan seminari. Pertanyaan-pertanyaan itu, menurut mereka, mungkin sebagai tanda bahwa para orangtua pun mulai merespons dengan rencana Bapa Uskup Pangkalpinang membangun seminari setingkat SMA di Kebun Sahang.**fbr/frans/maya**