Senin, 30 Desember 2013

MITRA TIARA: MELEMAHKAN SEMANGAT PERKOPERASIAN NEGERI FLOTIM




http://harissparepart.blogspot.com/

Membaca segala berita di internet dan mendengar obrolan dari keluarga saya tentang Mitra Tiara (MT) sebagai sebuah Koperasi Simpan Pinjam (KSP), hati saya sendiri tersentuh untuk menulis sebuah artikel mini ini. Artikel ini ditulis bukan sebagai pengungkapan unek-unek saya atau pun berita-berita yang saya baca dan saya dengar langsung dari anggota keluarga saya yang menyimpan uangnya di MT, tetapi lebih pada sebuah permenungan hati menjelang tutup tahun 2013.

Permenungan saya ini menyorot dua hal dasar yang merupakan sendi hidup sebagai manusia, makhuluk peziarah (homo viator) dalam dunia ini.

Pertama, Mitra Tiara: mengubah cara pandang Masyarakat Flotim tentang Koperasi. Ketika sebagai siswa SMP di SMPK San Pankratio Larantuka, sekarang sudah tutup, (1987-1991), saya mendapat pelajaran tentang Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS). Didalam ilmu ini berbicara juga tentang Perkoperasian di Indonesia yang dicetus oleh Bung Moh. Hatta, sebagai bentuk pembangunan perekonomian kerakyatan yang cocok. Mengapa? Sederhana sekali jawabannya. Karena didalamnya termaktup nilai-nilai yang sudah lama dihidupi oleh nenek moyang kita. Nilai-nilai itu seperti gotong royong, kekeluargaan, kerjasama, dan lain-lain. Nilai-nilai dalam perkoperasian kita ini mengatakan bahwa nilai-nilai ini adalah milik bangsa.

Milik bangsa berarti nilai-nilai ini lahir dari kandungan bangsa sendiri. Lahir dari kandungan bangsa sendiri bermakna bahwa nilai-nilai ini merupakan ungkapan jati diri manusia Indonesia termasuk saudara-saudariku di Flotim. Mengungkapkan jati diri sebagai manusia Indonesia lebih dalam lagi, mau menyatakan bahwa segala kekayaan baik kekayaan yang diciptakan oleh manusia Flotim maupun kekayaan yang dihasilkan oleh alam Indonesia, khususnya Flotim mempunyai martabat yang luhur. Keluhuran martabat sebagai manusia dan alam inilah yang merupakan harga yang tak ternilaikan dengan uang dan materi. Keluhuran martabat manusia dan alam ini, terkait erat dengan pola berpikir kreatif dan cerdas masyarakat setempat.

Karena itu, tidak elok jika membangun perekonomian Flotim dengan cara berkoperasi lalu menghasilkan “cara-cara yang tidak fair” adalah bertentangan dengan martabat jati diri manusia. Mungkin satu aspek yang bagus yang perlu kita bangkitkan di sini adalah bagaimana peran dinas Koperasi dan UKM Flotim untuk menangkal pembentukan koperasi yang berinvestasi dengan dua wajah, suatu bentuk cara yang tidak biasanya demikian ini.

Juga akan merusak cara pandang masyarakat kita tentang arti dan nilai-nilai yang ada di dalam koperasi itu sendiri. Mungkin saja, orang akan berpolapikir, jangan-jangan koperasi sebagai kedok penipuan terhadap masyarakat. Lebih tragis lagi, jika ada yang berpikir, mungkin ini cara baru hidupnya korupsi di negeri ini.

Konsekuensi logis dari cara berkoperasi yang dibentuk MT ini, menambah aroma ketidakpercayaan pada masyarakat semakin luas. Bahkan banyak masyarakat akan berpikir dua sampai tiga kali untuk masuk berinvestasi dengan wajah perekonomian lain, seperti Credit Union (CU) yang sedang tumbuh subur di Pulau Bunga ini. Konsekuensi logis lain adalah kesadaran masyarakat kita untuk menyimpan uang, berkurang. Mungkin lebih aman, walaupun tidak efektif, menyimpannya di rumah sendiri.

Kedua, Mitra Tiara: menghancurkan pola pendidikan masyarakat Flotim Saudara-saudariku berceritera demikian. Mungkin uang itu saya bisa menyekolahkan anak. Tapi saya lebih berkeinginan untuk menabung di MT. Anak saya sebenarnya tahun ini bisa melanjutkan ke PT, hanya saya tundakan dulu supaya uang biaya masuk ke PT bisa terbayarkan. Namun, apa yang mau dibilang? Galau..., uang bayar PLN saja nunggak beberapa bulan. Padahal, PLN baru masuk ke kampung. Natal 2013 ini saja listrik mati total. Misa dalam kegelapan “paskah”. Mungkin ke depan kami kembali memasang pelita lagi. Karena matinya pelita tergantung ekonomi hidup sehari-hari.

Pernyataan di atas ini termaktup di dalamnya dua hal mendasar. Pertama, kebutuhan untuk pendidikan akhirnya, sirna. Harus pergi merantau dulu ke negeri jihan sebagai “budak” supaya bisa mendapat uang lagi. Iming-iming mempunyai anak untuk melanjutkan pendidikan yang lebih tingga, kandas. Duduk menerawang jauh, seperti seorang pecandu. Kedua, kebutuhan akan penerangan dalam RT, perlahan-lahan putus. Pihak PLN mulai menagih listrik dari rumah ke rumah setiap bulan, tetapi juga belum dibayar. Apakah PLN mau memutuskan kabel-kabel listrik yang sudah terpasang? PLN, mungkin kebingungan? Karena takut gejolak dari masyarakat yang menyimpan uangnya di MT. Mungkin bukan karena takut, tetapi bahasa halusnya “memahami kesulitan” yang dialami masyarakat. Tetapi, sampai kapan PLN harus memahami kesulitan ini?

Dalam kesulitan yang diakibatkan oleh “cara MT berkoperasi” mungkin saja akan muncul “sang ratu adil”. Sang Ratu Adil ini akan menawarkan banyak hal termasuk, hal mau menyelamatkan kesulitan yang disebabkan oleh MT. Di sinilah masyarakat perlu bersikap cerdas dan kritis. Kecerdasan dan kekritisan masyarakat harus dibangun dengan cara kolektif supaya tidak merugikan lagi secara kolektif. Kecerdasan dan kekritisan juga diusahakan untuk mencari solusi baru. Solusi baru yang ditemukan harus lebih pada “tiga tungku”. Dan ketiga tungku ini, saling terkait erat satu sama lain. Ketiga tungku itu adalah membangun masyarakat dengan cara pendidikan yang berkelanjutan, meningkatkan solidaritas yang berwajah kekeluargaan dan kerja sama, jujur dan adil, dan yang terakhir adalah swadaya dari masyarakat itu sendiri. Swadaya dari masyarakat sendiri bermakna tidak tergantung kepada lembaga dan pihak mana pun. Swadaya di sini juga berarti ungkapan jati diri yang bermartabat tadi, dikelola secara swadaya dan bermanagemen transparan, bukan telanjang.

Akhirnya, saya mengajak saudara-saudariku, mari, kita belajar banyak hal dari pengalaman hidup setiap hari, dalam konteks berelasi dengan sesama. Berelasi dengan MT telah menyebabkan keterpuruknya perekonomian kerakyatan kita, telah membangun relasi yang bertransendius buruk dengan banyak pihak termasuk lembaga-lembaga yang selama ini mengayomi hidup kita. Mari kita angkat topik, menunduk kepala, menyimpul tangan di dada dan mulut kita berteriak: “Aku tak berdaya ketika engkau menipu aku. Aku belajar dari cara engkau penipu aku. Cukup sampai disini! Please...!” ***

Jumat, 27 Desember 2013

MARILAH KITA PERGI KE BETLEHEM



Bapa Uskup Keuskupan Pangkalpinang

Begitulah bunyi judul ”Surat Gembala Natal 2013, Mgr. Hilarius Moa Nurak, SVD, Uskup Keuskupan Pangkalpinang. Judul ini terinspirasi dari teks Injil Lukas 2: 15.

Lebih lanjut Mgr. Hila menyampaikan bahwa ”adat hidup saling kunjung mengunjung” ketika ada keluarga yang dikarunia seorang anak, sahabat kenalan, rekan kerja, dan kerabat dekat, dan lain, pasti akan datang mengunjungi keluarga yang sedang bersukacita itu. Bukan hanya itu, bahkan keluarga yang bersangkutan itu akan merayakan syukuran atas berkat Allah yang telah mereka terima. Kebiasaan saling kunjung ini, kini telah ada dalam praktek hidup ber-KBG kita. Disana kita menhayati kata-kata Rasul Paulus, ”bersukacitalah dengan orang yang bersukacita” (Rom. 12:15).

Dalam rangkaian perayaan Natal, Uskup Pangkalpinang menegaskan bahwa setiap tahun kita merayakan Natal Yesus, 25 Desember. Natal Yesus adalah peristiwa kegembiraan yang dialami oleh Yosep dan Maria. Bukan hanya mereka tetapi juga semua makhluk, baik di surga mapun di bumi.  Dalam Injil Lukas 2:13-15 dan Inil Matius 2:1-12. Bahwa di surga para Malaikat bersukaria, sedang di bumi, para gembala dan tiga majus dari Timur datang dan menyembah Dia yang barusan hadir didalam keluarga Yosep dan Maria. Para Malaikat mempersembahkan kidung kemuliaan dan bunyian sangkakala sedang para gembala berkunjung dan menyembah Dia dengan memberikan anak-anak gembala yang tambun untuk Yesus, dan para maju menyembah Dia dengan membawa emas, kemenyan, dan mur. Persembahan yang mereka berikan, merupakan ungkapan kegembiraan dan sukacita (Mat.2:10).

Kunjunga Bapa Uskup ke KBG St. Dominikus dan Yoh. Pemandi
Ajakan para gembala untuk pergi ke Betlehem, juga ditujukan kepada kita manusia yang hidup pada zaman ini. ”Marilah, kita pergi ke Betlehem”, dengan hati gembira, kita mengunjungi keluarga kudus: Yesus, Maria dan Yosep.

Kunjungan kita ke Betlehem, apa yang harus kita bawa untuk sukacita bersama keluarga kudus Nasareth? Bapa Uskup mengajak kita untuk membawa hati yang penuh dengan pertobatan, bukan materi. Karena tobat merupakan hadiah yang paling berharga untuk Yesus. Di hadapan Yesus dengan hati yang tobat, Yesus akan memberikan nasihat kepada kita. Nasihat Yesus akan menjadi souvenir pada HUT-Nya, sehingga souvenir itu bukan hanya dikenang tetapi Dia meminta kita untuk memiliki, membaca, merenungkan, dan menghayatinya.

Apa souvenir yang kita bawa pada HUT-Nya itu? Bapa Uskup menegaskan bahwa souvernir itu tidak lain adalah nasihat-Nya yang sudah ada di dalam Kitab Suci. Karena didalam Kitab Suci terdapat inti iman kita dengan Yesus, yang adalah pusat. Disinilah kekuatan kita, kalau kita mau berhasil mengalahkan dunia dengan banyak problema dewasa ini.

Lebih dalam lagi, Mgr. Hila mengungkapkan bahwa ada satu hal yang tidak kalah penting untuk kita renungkan adalah apa yang dikatakan oleh Injil Matius 2:12. “Maka pulanglah mereka ke negerinya melalui jalan lain”. Ungkapan teks Matius ini  terlihat secara fisik, bahwa tiga majus itu tidak singgah di istana Herodes. Karena janji Herodes untuk menyembah Yesus adalah “akal-akalan.” Namun, lebih secara rohani, teks ini mau mengatakan kepada kita bahwa “mereka kembali ke negerinya melalui jalan lain” adalah suatu semangat yang baru, dengan cara hidup yang baru, dengan roh pertobatan sebagai orang beriman.
Apa yang dilakukan oleh para majus patut kita teladani. Kita datang ke Betlehem untuk menemui Yesus dan mempersembahkan hati yang penuh tobat. Maka sesuai nasihat malaikat kepada para majus, kita pun harus kembali ke rumah kita masing-masing melalui jalan lain, yaitu jalan pertobatan untuk menghayati iman yang lebih murni dan kuat.

Apa gunanya berkunjung ke Betlehem, tetapi kembali melewati jalan yang sama? Kembali mengikuti jalan yang sama ketika datang, berarti menuruti permintaan Herodes. Permintaan Herodes kepada para Majus merupakan taktik Herodes mau membunuh Yesus. Taktik Herodes sama dengan taktik Iblis dunia ini, yang mau menghancurkan sang kebenaran dan keadilan.

Permintaan Herodes tidak dituruti para Majus, anak-anak di Betlehem menjadi korban. Untung bahwa melalui mimpi Yosep dan Maria membawa Yesus ke Mesir. Usaha Herodes gagal. Maka suatu pertanyaan refleksi untuk kita saat ini: apakah kita mau seperti Herodes dewasa ini, jika kita pergi ke Betlehem dan kembali melewati jalan yang sama?

Jelas bahwa kita bukan Herodes. Kita adalah pengikut Yesus seperti para gembala dan para majus yang penuh sukacita yang datang mengunjungi Yesus karena percaya. Maka kita pun pulang dengan tingkah laku dan cara hidup yang baru sesuai dengan ajaran dan tuntunan Yesus. Kita semua pasti mau supaya Yesus menjadi penghuni dan pusat didalam hati kita.

Sharing Injil 7 Langkah Tim AsIPA bersama KBG Sta. Sisilia pada masa adven 2013
Bagaimana caranya supaya Yesus menjadi penghuni dan pusat didalam hati kita? Hasil Sinode II telah menetapkan misi kita yaitu: membentuk KBG. Didalam KBG kita membangun rasa persaudaraan, kekeluargaan, dan solidaritas antar semua anggota yang dijiwai tiga bintang. Bintang berpusat pada Kristus, menjadikan nasihat Yesus, maka Kitab Suci menjadi pusat, sumber, dan misi kita. Karena itu, ajakan yang paling sederhana adalah kita pergi ke KBG, disana kita menemui Yesus dalam Sabda-Nya.

Kita mampu membaca dan merenungkan serta menghayati Sabda-Nya melalui Sharing Injil. Sharing Injil cara yang paling tepat, sederhana, dan dapat diikuti oleh semua lapisan umat dengan latar belakang pendidikan yang berbeda-beda.

Sharing Injil dengan tujuh Langkah merupakan cara yang cocok untuk menumbuhkembangkan KBG dan aksi nyata sebagai anggota Gereja, pengikut Yesus. Melalui langkah demi langkah  dalam Sharing Injil, kita sharingkan dan kita melakukan aksi nyata sehingga problem-problem dalam KBG dan Gereja kita, dapat teratasi dengan baik dan benar.

Selamat Natal 2013
dan
Salam Bahagia Tahun Baru 2014
Semoga selalu dilindungi dan diberkati Tuhan
Pangkalpinang, 1 Desember 2013,

Mgr. Hilarius Moa Nurak, SVD 
Uskup Keuskupan Pangkalpinang

Rabu, 18 Desember 2013

Membangun KBG: Kerjasama Kaum Tertahbis dan Keluarga

Pastor: "Linda, nanti pastor kunjung ke rumahmu"
Berawal dari kunjungan kaum tertahbis, umat akan mengetahui bahwa kaum tertahbis adalah yang pertama agen pastoral Gereja, walaupun Gereja itu sendiri dipahami sebagai "Umat Allah".

Melalui kunjungan kepada keluarga-keluarga, umat akan merasa disapa dan terpanggil untuk hidup dalam persekutuan dengan Gereja Universal. Kunjungan kaum tertahbis merupakan cara pastoral awal ketika Gereja sebagai Umat Allah hadir secara lokal.

Mama: Pak, kata Linda nanti malam Pastor kunjung ke rumah kita
Menerika kaum tertahbis dalam sebuah keluarga, sama dengan menerima "anggota keluarga sendiri"? Mengapa? Karena kaum tertahbis berasal dari anggota keluarga. Keluarga adalah seminarium kecil, menjadi bibit unggul untuk menjadi Gembala Umat.

Gereja tanpa kaum tertahbisa sama dengan "sumur tanpa dasar". Begitu juga, kaum tertahbis tanpa keluarga sama dengan "sayur tanpa garam". Maka enaknya adalah berjalan bersama-sama membangun persekutuan sejati yaitu "Gereja Abadi" dimana Yesus adalah tuan rumah Gereja itu sendiri.

Pastor mengobrol dengan keluarga Linda
Panggilan hidup untuk membangun persekutuan merupakan panggil Roh Kudus. Panggilan ini membutuhkan jawaban dari semua Umat Allah: kaum tertahbis dan awam. Panggilan menuju partisipasi bersama merupakan cara yang pas untuk membangun Gereja. Maka visi-misi-spitirtualitas Keuskupan Pangkal pinang yang baru "Menjadi Gereja Partisipatif" merupakan sebuah gerak bersama menjadi anggota Gereja yang partisipatif.
Jadi Gereja Partisipatif bukan hanya kaum tertahbis tetapi semua umat beriman yang telah dibaptis turut ambil bagian dalam membangun Gereja Partisipatif dengan tiga bintang menjadi misi utama kita, berpusat pada Kristus, membangun persekutuan dalam KBG dan melaksanakan misi Yesus membangun Kerajaan Allah.

Natal: kerjasama keamanan dengan sesama yang lain
Natal, pesta dan peringatan Yesus lahir, masuk dan hidup bersama seluruh makhluk. Kehadiran-Nya disambut gegap gempita oleh para Malaikat di Surga. Wakil para kudus yang menghuni Surga. Kehadiran-Nya juga disambut dengan penuh keserhanaan dan gegap dan kegembiraan oleh para gembala dan para ahli perbintangan dari Timur Tengah, wakil sukacita makhluk di bumi.

Maka pesta dan peringatan Natal, moment membangun kebersamaan, menuju misi Gereja yang melaksanakan tiga bintang tadi. Langkah demi langkah Gereja melaksanakan kebersamaan dengan semua manusia agar damai seperti di surga hadir juga dalam bumi ini. 

Selamat Natal 2013 dan Tahun Baru 2014.

Selasa, 19 November 2013

HASIL LOMBA KBG ST. ANDREAS PANGKALPINANG

Christo, Juara 1 Lomba Melukis

Laurensius Patrick, Juara II Melukis
Wiro, Juara III Melukis
Maria Nurdiana, Juara I Mewarna Tingkat SD Kelas 1-3

 
Natashia, Juara II Mewarnai Tingkat SD Kelas 1-3
Edward, Juara III Mewarnai Tingkat SD kelas 1-3
Klara, Juara I Mewarnai Tingkat TK

Carlos Fernando, Juara II Mewarnai Tingkat TK
Nesia, Juara III Mewarnai Tingkat TK

Peserta Lomba Lektor
Peserta Lomba Mewarna bersama pendampingnya

Peserta Lomba Melukis bersama pendampingnya

Orangtua menghantar anaknya untuk ikut perlombaan

Ketua KBG memberikan pengantarahan untuk acara perlombaan

Peserta mendengarkan penganrahan ketua KBG

Nauli, peserta terkecil ikut lomba mewarnai.

Peserta terkecil mewarnai gambar dengan gonta-ganti tangan. Kalau tangan kiri capek, ganti tangan kanan. Ha....
 Terima kasih adik2ku yang sudah meluangkan waktu untuk ikut dalam perlombaan ini. KBG itu milik kita semua, anak-anak, laki-laki, perempuan, remaja, kaum muda dan orang dewasa.
Mari kita membangun KBG kita ke arah tiga bintang: berpusat pada Kristus, membangun persekutuan, dan menjalankan misi bersama-sama.