Selasa, 01 Desember 2015

BAHAN KATEKESE MASA ADVEN 2015:TAHUN KERAHIMAN ILAHI



Bahan Bacaan Kitab Suci:

Minggu Adven I            : Imamat 25: 10-18
Minggu Adven II           : Lukas 4:16-21
Minggu Adven III          : Lukas 15: 11-32
Minggu Adven IV           : Matius 1: 18-25

Metode Pertemuan KBG: Sharing Injil Tujuh Langkah
(Langkah 1-4 seperti biasa, langkah ke-5 diganti dengan langkah katekese, kemudian langkah ke-6 dan ke-7 seperti biasa lagi).

Bahan Katekese Umat Masa Adven 2015:  Tahun Yubeleum: Tahun Kerahiman Ilahi

------------------

PENGANTAR

Bapak-ibu dan Saudara-saudari terkasih, dalam rangka menyongsong Tahun Yubileum Agung Kerahiman Ilahi 2016, kita semua diajak dalam pertemuan komunitas / KBG di masa adven ini untuk mempersiapkan diri kita memasuki Tahun Suci atau Tahun Yubileum ini. Tema tahun yubileum ini adalah Kerahiman Ilahi, yang dirumuskan: MISERICORDES SICUT PATER (Luk. 6:36), yang diindonesiakan menjadi: “Murah-hatilah Seperti Bapa” atau “Berbelaskasih Seperti Bapa” atau juga ”Maharahim Seperti Bapa”. Bapak Uskup dalam Surat Gembala Tahun Yubileum Kerahiman Ilahi, dengan judul: “Murah-hatilah Seperti Bapa”, menghendaki agar Tahun Yubileum ini, umat Keuskupan Pangkalpinang diharapkan untuk menjadi rasul-rasul bekaskasih Bapa dan Kerahiman Ilahi dimanapun kita berada - dalam hidup keseharian kita.
Untuk maksud ini, bahan pendalam iman di komunitas atau KBG selama masa adven diharapkan dapat membantu kita sebagai persiapan memasuki Tahun Yubileum Kerahiman Ilahi. Adapun tema-tema yang  hendak kita dalami dan sharing adalah:

1. Tahun Yubileum sebagai Tahun Rahmat Tuhan: kita diajak untuk memahami apaitu Yubileum, mulai dari makna alkitabiah dan praktek Gereja sepanjang sejarahnya dalam merayakan Tahun Yubileum.

2. Tahun Yubileum sebagai Tahun Kerahiman Ilahi: inilah tema sentral Tahun Yubileum ini. Pertemuan II ini mengajak kita untuk memahami apa itu kerahiman dan kerahiman Ilahi? Kerahiman itu terjadi dalam situasi apa? Kita akan memdalami lebih lanjut dalam pertemuan II.

3. Tahun Yubileum sebagai Tahun Indulgensi: salah satu manfaat untuk menjalani Tahun Yubileum adalah agar orang mendapatkan indulgensi. Apakah indulgensi itu? Apa makna dan faedanya? Bagaimana orang bisa mendapatkan indulgensi itu? Inilah yang hendak kita dalami dan pahami dalam pertemuan III.

4. Inkarnasi Allah, wujud nyata dari Kerahiman Ilahi: Peristiwa Allah menjadi manusia, Sang Sabda menjadi daging merupakan wujud nyata dari Kerahiman Ilahi. Bagaimana kita menyambut peristiwa inkarnasi ini? Apa persiapan kita menyambut Hari Raya Natal. Itulah yang hendak kita sharing dalam pertemuan IV.

Bapak-ibu dan Saudara-saudari terkasih, langkah-langkah pertemuan kita, memakai metode sharing tujuh langkah, namun pada langkah kelima kita bukanlah sharing injil, tetapi kita mendengarkan katekese atau pengajaran iman perihal tentang tema pertemuan. Hal ini dimaksud agar kita lebih memahami istilah-istilah dalam khasanah iman kita yang selama ini kita tidak begitu paham makna yang terkandung di dalamnya. Karena istilah-istilah ini merupakan anugerah rahmat dan kerahiman Allah yang harus kita tanggapi dengan iman. Hal inilah yang akan kita peroleh sepanjang Tahun Yubileum Kerahiman Ilahi.
Bapak-ibu dan saudara-saudari terkasih, Tema  pertemuan I di awal masa adven ini adalah: Tahun Yubileum sebagai Tahun Rahmat. Sebelum kita memperoleh rahmat apa saja yang kita dapatkan dari Allah Bapa yang maharahim, kita diajak terlebih dahulu untuk memahami apa itu YUBILEUM dan TAHUN YUBILEUM. Inilah yang kita bahas dan dalami di pertemuan kita pertama ini.
=***=

MINGGU PERTAMA ADVEN:
TAHUN YUBELEUM SEBAGAI TAHUN RAHMAT

Bapak-ibu, Saudara-saudari terkasih,
Paus Fransiskus, pada tahun kedua masa pontificatnya, memaklumkan tahun 2016 sebagai  Tahun Yubileum Kerahiman Ilahi bagi Gereja, yakni, mulai tanggal 8 Desember 2015, pada Hari Raya santa Perawan Maria Dikandung Tanpa Noda, sampai tanggal 20 November 2016, Hari Raya Tuhan Kita Yesus Kristus Raja Semesta Alam.  Sepanjang tahun ini disebut Tahun Yubileum Kerahiman Ilahi, suatu Tahun Suci dan Tahun Rahmat Tuhan. Untuk lebih mendalami apa makna Tahun Yubileum Kerahiman Ilahi ini, dalam pertemuan Adven I ini kita di ajak untuk memahami:  apa itu Tahun Yubileum  atau disebut juga Tahun Yobel? Kita mendalami dan merenungkannya dari arti alkitabiah : dari Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru, serta apa yang dipraktekan gereja sepanjang sejarahnya.

Apa itu Tahun Yubileum?
Dalam perikope Kitab Imamat yang kita dengarkan dan bacakan tadi menunjukan kepada kita apa itu Tahun Yubileum. Suatu perayaan tahun ke lima puluh (50), setelah tujuh kali tujuh tahun sabat, yaitu tahun ke 49. Maka tahun ke-50 disebut Tahun Yubileum.

Hukum Tahun Yubileum dalam Kitab Imamat
Kata ‘Yubileum’ berasal dari bahasa Ibrani yobel. Yobel adalah tanduk kambing yang digunakan sebagai terompet, yang dibunyikan (ditiup) pada awal tahun suci di Israel. Dari kitab imamat bab 25 yang kita dengarkan tadi menunjukan suatu hukum perdata yang disimpulkan dalam dua hal, yakni : pembelian kembali properti (rumah, dsb.) yang dulu dijual dan pembebasan para budak.
Struktur soasial bangsa Israel didasarkan pada kepemilikan suku, klan dan keluarga. Sumber kekayaan keluarga berasal dari harta kekayaan atau rumah yang telah ditetapkan. Maka tanah atau rumah yang telah dijual karena berbagai alasan, harus kembali ke pemilik asli pada tahun yobel. Para budak-belian harus dibebaskan dan memperoleh kemerdekaan.
Aturan atau hukum ini dimaksudkan untuk penyegaran kembali  tingkat hidup sosial atau strata hidup sosial; dan jugauntuk  mencegah pemiskinan dan kemiskinan, serta mencegah kosentrasi kekayaan hanya berada di segelintir orang kaya, yang menunjukan ketidaksetaraan dan ketidakadilan. Maka dengan maksud inilah tahun yobel harus diulang setiap 50 tanun.
Praktek pelaksaan Tahun Yubileum sebagaimana ditetapkan hukumnya di atas juga menunjukan otoritas Allah atas alam ciptaan dan apa yang terkandung di dalamnya dan manusia itu sendiri. Seluruh alam semesta adalah milik Tuhan,  manusia dipercayakan untuk mengelola bukan menjadi hak milik. Manusia adalah orang asing (ay. 23), para pekerja dan penggarap di tanah milik Tuhan. Demikian juga para hamba dan budak-belian mendapat kembali kebebasan, karena Allah mengatakan “mereka adalah hamba-Ku” (ay. 42 dan 50). Maka tiada yang harus tetap menjadi hamba bagi orang lain, karena mereka semua adalah hamba Allah. Tuhan Allah berhak  campur tangan untuk menegakkan ketertiban, keadilan dan kesetaraan.

Yubileum menurut nabi Yesaya
Sayangnya, aturan hukum tersebut dalam Imamat 25 ini tidak cukup untuk memecahkan masalah ketidakadilan sosial, bahkan praktek hukum ini kurang dan tidak diperhatikan dengan serius. Namun dalam hati setiap orang israel tetap berharap bahwa keadilan sosial dan kebebasan dipulihkan. Para nabi terus-menerus mendesak dan mengobarkan warta kenabian agar bangsa Israel mengakui Allah dan bahwa Allah adalah Tuhan atas langit dan bumi dan segala isinya serta manusia yang berdiam di atasnya, sebagaimana diamanatkan dalam Tahun Yubileum.
Nabi Yesaya melukiskan Tahun Yubileum sebagai berikut :
Roh Tuhan ALLAH ada padaku, oleh karena TUHAN telah mengurapi aku; Ia telah mengutus aku untuk menyampaikan kabar baik kepada orang-orang sengsara, dan merawat orang-orang yang remuk hati, untuk memberitakan pembebasan kepada orang-orang tawanan, dan kepada orang-orang yang terkurung kelepasan dari penjara, untuk memberitakan tahun rahmat TUHAN dan hari pembalasan Allah kita, untuk menghibur semua orang berkabung. (Yes 61:1-2)

Nabi Yesaya menegaskan bahwa tahun yubileum akan terpenuhi dengan campur tangan Allah. Hal ini tidak akan diulang dalam setiap 50 tahun sebagai tahun Yobel, tetapi Tuhan Allah sendiri turun tangan dan mengintervensi secara paripurna dan sangat menentukan, yang disebut “Tahun rahmat Tuhan” (ay. 2). Selama tahun rahmat Tuhan ini tak ada hukum manusia, yang ada adalah hukum Allah, yakni Allah sendiri yang mengembalikan orang-orang yang berada di bawah kuk kemiskinan dan perhambaan, dan mengembalikan martabat mereka, baik pribadi maupun sosial.

Yubileum dalam Perjanjian Baru
Perjanjian Baru tidak ada refrensi yang eksplisit dari tahun yobel menurut Kitab Imamat 25. Namun kita menemukan kutipan langsung dari Yesaya 61:1-2, tentang nubuat mesianik dalam Lukas  4: 16 - 22. Di Sinagoga, Yesus membaca kutipan dari nubuat nabi Yesaya ini, dan menempatkan diri-Nya dan karya-Nya terpenuhi pada “hari ini”. Dari teks yang dibacakan,  Yesus  mengatakan bahwa Ia diutus untuk mewartakan kabar gembira kepada kaum miskin (mereka yang menerima manfaat dari Tahun Yobel), dan untuk membebaskan mereka yang tertindas (suatu manfaat lain yang fundamental dari Tahun Yobel). Yesus menyatakan juga bahwa penerima anugerah rahmat Tuhan tidak hanya orang Israel tetapi juga untuk semua orang, seluruh umat manusia. Maka para murid mendapat tugas pewartaan kabar gembira Injil ini ke seluruh dunia (bdk. Mat. 28: 29).
Melalui Yubileum sebagaimana dalam Kitab Imamat 25, kita lebih memahami karya Tuhan Yesus Kristus. Dalam Yesus kita memperoleh syarat-syarat penting dari Tahun Yobel ini, yakni :
·     Pembelian kembali tanah, rumah dan harta milik, mendapat jaminan dari Tuhan Yesus yang menjadi kekayaan rahmat yang tak terhingga bagi mereka yang percaya (bdk. Ef. 1: 7,18 ; 3: 8, 16). Mereka mendapat ahli waris dari pemerintahan-Nya yang mulia (bdk. Yak. 2: 5).
·     Pembebasan para budak belian dalam Tahun Yobel, menunjuk kepada karya Kristus yang membebaskan kaum beriman dari perbudakan dosa (bdk. Gal. 5: 1), dan juga membebaskan alam ciptaan dari pengaruh dosa (bdk. Rom. 8: 21).

Tahun Yobel yang diatur dalam Kitab Imamat 25, atau Tahun Rahmat Tuhan yang dinubuatkan oleh nabi Yesaya, digenapi dan terpenuhi pada “hari ini” dengan kedatangan Sang Mesias. Kristus memaklumkan kedatangan Tahun Rahmat Tuhan (bdk. Luk. 4: 19). Tuhan Yesus Kristus adalah pemenuhan, pencapaian dan pelaksanaan Tahun Yobel. Jadi sebagai orang kristen, hendaknya kita hidup dan menghidupi tahun yobel, dan hari ini Tuhan tidak meminta kita untuk mengamati tahun yobel ini hanya sebagai bayangan dari ralitas dimana hidup dan keberadaan kita.

Tahun Yubileum dalam Perjalanan Sejarah Gereja
Gereja Katolik telah memulai tradisi Tahun Kudus sejak Paus Bonifasius VIII, yakni tahun 1300; Yubileum kedua dilaksanakan tahun 1350. Para peziarah, selain Basilika Santo Petrus, mengunjungi juga Basilika Santo Paulus di Luar Tembok, juga Basilika santo Yohanes Lateran. Dengan berakhirnya skisma di Barat, tahun 1425, Paus Martinus V memaklumkan Tahun Yubileum. Saat itu beliau memperkenalkan dua hal penting, yakni : Medali Yubileum sebagai kenangan tahun yubileum dan  Pembukaan Pintu Suci (porta santa) di Basilika Santo Yohanes Lateran. Sejak saat itu ada rencana dan usulan bahwa tahun yubileum dilaksanakan 25 tahun sekali. Baru pada masa kepausan Paus Paulus II, dalam bullanya pada tahun 1470, menetapkan bahwa Tahun Yubileum dilaksanakan setiap 25 tahun. Hal ini dimaksud agar setiap generasi setidak-tidaknya dapat mengalami satu Tahun Kudus. Ini disebut tahun yubileum ordinary. Pada tahun 1500, Paus Alexander VI menghendaki empat basilika di Roma memiliki Porta Santa dan dibuka untuk para peziarah yang berkunjung pada tahun yubileum.
Meskipun Tahun Yubileum diadakan 25 tahun sekali, tetapi juga dirayakan secara luar-biasa atau extra ordinary. Hal ini  berkenaan dengan kesempatan atau perayaan tertentu yang dianggap penting, maka Paus dapat memaklumkan suatu tahun yubileum. Tahun yubileum extra ordinary atau luar- biasa ini dimulai sejak abad XVI. Tahun Kudus Luar Biasa yang terakhir adalah tahun 1933, dicanangkan oleh Pius XI untuk 1900 Tahun Penebusan,  dan tahun 1983, dicanangkan oleh Yohanes Paulus II untuk 1950 tahun Penebusan (atau ulang tahun kebangkitun Tuhan Yesus Kristus ke-1950).
Di tahun 2016 ini, Paus Fransiskus memaklumkan suatu tahun yubileum extraordinary atau tahun yubileum luar-biasa untuk mengenangkan 50 tahun penutupan Konsili Vatikan II. Momentum ini memiliki makna khusus yakni dorongan kepada Gereja untuk melanjutkan misi yang sudah dimulai oleh Konsili Vatikan II. Tema untuk tahun yobel 2016 ini adalah Kerahiman Ilahi atau lebih tepatnya: Tahun Yubileum Kerahiman Ilahi (kita akan mendalaminya di pertemuan II).

Rahmat Tahun Yubileum
Yubileum berarti saat pengampunan publik, diberikan dalam bentuk indulgensi yang terbuka kepada semua orang, sebagai kesempatan untuk memulihkan kembali hubungan dengan Allah dan sesama. Tahun Kudus menjadi kesempatan untuk memperdalam iman dan hidup dengan komitmen baru terhadap kesaksian Kristiani.
Pada hari tersebut, setiap orang Katolik dapat menerima indulgensi penuh (tentang apa itu indulgensi akan kita dalami dan renungkan di pertemuan III), dengan memenuhi syarat-syarat yang biasa (syarat umum menerima Indulgensi Penuh), yaitu:
    Menerima Sakramen Tobat
    Menerima Komuni pada Hari Minggu Kerahiman Ilahi
    Berdoa untuk intensi Bapa Suci. (berdoa 1x Bapa Kami dan 1x Salam Maria.)

Refleksi dan syaring bersama :
    Sebetulnya perayaan ‘yubileum’ atau ‘yobel’ tidak asing bagi kita. Ada perayaan 25 tahun, yang disebut pesta perak. Ada juga perayaan 50 tahun yang disebut pesta emas, dst. yang mengungkapkan syukur, sukacita dan kegembiraan. Ada ungkapan saling memaafkan dan mengampuni satu sama lain. Dan yang punya pesta atau orang yang dirayakan pestanya disebut “Sang Yubilaris”. Bagaimana kita memaknai perayaan ini? Apakah ada kaitannya dengan tahun yubileum atau tahun yobel?
    Di Keuskupan kita Pangkalpinang, pembukaan Tahun Yubileum Kerahiman Ilahi, pada hari Minggu, 13 Desember 2015, di Gua Maria Ratu Para Imam - komplek keuskupan. Semua umat, khusus umat di Pulau Bangka wajib mengikuti perayaan pembukaan ini. Tidak ada misa hari Minggu III Adven di Paroki dan Stasi. Yuk, kita ke sana, berpartisipasi dalam perayaan pembukaan Tahun Yubileum. Kita akan memperoleh rahmat khusus dari Allah yang maharahim, yakni rahmat pengampunan publik atau indulgensi.
    Kesempatan untuk interaksi antar peserta, baik diskusi dan sharing, berdasarkan katekese atau pengajaran di atas.


=***=

MINGGU KEDUA ADVEN:
TAHUN YUBILEUM
SEBAGAI TAHUN KERAHIMAN ILAHI

Bapak-ibu dan Saudara-saudari terkasih,
Dalam Sharing Kitab Suci Metode Tujuh Langkah, pada Langkah V ini biasanya kita membagikan pengalaman kita (sharing) tentang alasan mengapa kata atau kalimat tertentu dari Firman Tuhan tersebut berkesan bagi kita. Namun sepanjang Masa Advent ini, Langkah V ini kita isi dengan Kateksese tentang Kerahiman Ilahi, yang merupakan tema sentral dalam Tahun Jubileum, yang akan dibuka secara resmi di Roma pada tanggal 8 Desember 2015 ini dan akan berakhir pada tanggal 20 Nopember tahun 2016.
Bersama-sama, kita akan melihat apa saja Latar Belakang Tahun Jubileum Kerahiman Ilahi ini, dari berbagai sisi-tilik atau sudut pandang, yakni : 
a.      dari sisi-tilik Alkitabiah atau Ajaran Firman Tuhan,
b.     dari Ajaran Paus atau sisi-tilik Magisterium, dan
c.   dari sisi-tilik pastoral-sakramental, yaitu Ajaran Pemimpin Gereja Lokal dalam Surat Gembala Bapa Uskup Keuskupan Pangkalpinang.
d. Setelah mengikuti paparan dari berbagai sisi-tilik ini, akan ada Pertanyaan Refleksi, yang dimaksudkan untuk membant kita mendalami tema Pertemuan Advent ini lebih jauh,-
e.   Akhirnya, kita akan membuat Rencana Aksi yang terdiri dari rencana aksi pribadi dan juga rencana aksi bersama-sama sebagaisatu komunitas.

Penjelasan perbagian:
a)    “Kerahiman Ilahi” dari sisi-tilik Alkitabiah atau Ajaran Firman Tuhan.
Dari sisi ini, kita melihat bahwa Kerahiman Ilahi itu tidak berdiri sendiri. Kerahiman Ilahi itu selalu terarah kepada manusia. Kerahiman Ilahi itu ditawarkan oleh Allah kepada manusia, khususnya ketika manusia mengalami kemalangan. Kemalangan ini berarti bahwa manusia hidup jauh dari Allah: melawan perintah-Nya atau menutup diri terhadap kasih dan rancangan keselamatan Allah. Karena menjauh dari Allah, maka manusia juga menjauh dari sesamanya. Mereka hidup dalam permusuhan satu sama lain, dan juga permusuhan dengan Allah karena dosa-dosa yang telah dilakukan manusia itu.
Kita akan melihat dua contoh Kerahiman Ilahi, dari sekian banyak tawaran tentang Kerahiman Ilahi, yang tersebar sepanjang halaman Alkitab dari Perjanjian Lama hingga Perjanjian Baru. Secara khusus kita akan merenungkan Panggilan Musa (Keluaran 3: 1-12) dan Panggilan Yesus (Lukas 4: 16-21). Mari kita lihat bersama-sama : dari kedua teks ini, apa saja situasi malang yang dialami oleh umat manusia? Dan apa saja wujud ‘kerahiman’ yang ditawarkan Allah sebagai jalan keluar untuk mengatasi situasi malang tersebut?
Baiklah kita memberi kesempatan kepada salah seorang umat untuk membacakan Teks Panggilan Musa dalam Keluaran 3: 1-12, dan kemudian seorang yang lain membacakan bagi kita teks tentang PanggilanYesus dalam Lukas 4: 16-21.
(Setelah kedua teks dibacakan).
Sekarang mari kita lihat apa saja situasi atau nasib malang yang menimpa manusia di dalam kedua teks Firman Tuhan tersebut?
Kita lihat bersama Keluaran Bab 1 yang menjadi konteks untuk Panggilan Musa, khususnya Keluaran 1: 15. Bentuk kemalangan yang ada di dalam teks ini adalah penindasan, kerja paksa, dan bahkan pembunuhan.
Kemudian dalam Panggilan Yesus pada teks Lukas 4: 18-19. Di sini, bentuk kemalangan yang dialami manusia adalah: hidup miskin, hidup sebagai orang tawanan, cacat fisik (buta), dan penindasan.
Terhadap situasi dan nasib malang ini, apa yang ditawarkan oleh Allah sebagai solusinya? Pertama, sebagai solusi atau jalan keluar dari situasi malang yang dialami oleh Umat Israel di Mesir, Allah memanggil dan mengutus Musa, untuk membebaskan mereka. Kita bacakan bersama Keluaran 3: 7-10. (teks dibacakan!) Teks ini mnunjukkan bahwa Allah memperhatikan penderitaan umat-Nya, dan bahwa Allahlah yang pertama-tama mengambil inisiatif untuk membebaskan umat itu. Pembebasan dari kerja paksa dan penindasan inilah wujud Kerahiman Allah terhadap umat-Nya.
Hal yang sama, berlaku juga untuk teks Luk. 4: 16-21. Mengatasi nasib malang yang dialami manusia dalam ayat 18-19 itu, Yesus menyediakan diri sebagai pembebas, ketika Tuhan kita memberikan penegasan atas teks itu pada ayat 21, “Pada hari ini genaplah nas ini, sewaktu kamu mendengarnya!”
Demikian, dari sisi-tilik Alkitabiah atau Ajaran Firman Tuhan, kita melihat bahwa Kerahiman Allah selalu terikat-erat dengan situasi malang yang dialami manusia. Mengatasi kemalangan manusia, Allah menghadirkan Musa dan Yesus sebagai pekerja kerahiman-Nya.

b)    “Kerahiman Ilahi” dari sisi-tilik Ajaran Magisterium atau Ajaran Para Paus.
Perayaan Tahun Jubileum Kerahiman Ilahi ini  telah ditetapkan oleh Bapa Suci Paus Fransiskus dalam suatu seruan apostolik (=Bulla) berjudul WAJAH KERAHIMAN (=Misericordiae Vultus). Perayaan Tahun Jubileum Kerahiman Ilahi ini mengambil tema:  “Bermurah hati seperti Bapa”.
Dalam bahasa resmi Gereja, yaitu Bahasa Latin, tema yang diambil dari Lukas 6: 36 itu berbunyi, “Misericordes sicut Pater”.  Kata “misericordes” merupakan gabungan dari kata “miserere” yang berarti  kemalangan” dan kata “Cor/Cordis” yang berarti “hati”.  Ketika digabungkan, kedua kata ini  menjadi “misericordes” yang mengandung makna: “Belas-kasih yang mengalir keluar dari hati yang penuh kasih, terutama ketika melihat aneka nasib malang yang menimpa manusia”.
Para Paus yang memiliki Kuasa Mengajar di dalam Gereja (=Megisterium) secara berturut-turut menegaskan kaitan alkitabiah antara Kerahiman Ilahi dengan kemalangan manusia tersebut, dan kaitan antara kerahiman ilahi dengan Gereja dan karya-karya Gereja.
Bapa Suci, Santo  Yohanes Paulus II berbicara mengenai aneka situasi malang yang menimpa manusia secara berkelanjutan, sebagai “budaya kematian, (= a culture of death).”  Dalam ensiklik-nya, Dives in Misericordia, St Yohanes Paulus II menegaskan tentang perlunya pewartaan tentang kerahiman ilahi sebagai upaya untuk menangkal bahaya besar yang dihadapi oleh umat manusia: “Hal ini ditentukan oleh kasih kepada manusia, kepada semua yang bersifat manusiawi dan yang, menurut intuisi banyak orang sezaman kita, terancam oleh sebuah bahaya besar. Misteri Kristus ... mewajibkan saya untuk mewartakan ketika kasih Allah yang penuh kerahiman, terungkap dalam misteri Kristus yang sama. Ia juga mewajibkan saya untuk meminta bantuan kepada kerahiman itu dan meminta-minta kepadanya pada tahap sulit, kristis dari sejarah Gereja dan sejarah dunia. ... Gereja mnghayati sebuah kehidupan yang otentik ketika ia meng-aku-kan dan mewartakan kerahman, sifat yang luar biasa dari Sang Penciota dan Sang Penebus – dan ketika ia membawa orang-orang dekat dengan sumber kerahiman Sang Juruselamat, adalah sang wali dan sang pemberi, (Lihat : Misericodiae Vultus artikel 11 alinea 2).” Selain itu, Paus Yohanes Paulus II juga telah berbicara tentang Evangelium Vitae, yang menempatkan Injil sebagai ‘pembawa kehidupan.’
Paus Fransiskus kemudian menegaskan kembali peran Injil sebagai solusi atas situasi malang umat manusia ini melalui ensiklik Sukacita Injil (= Evangelii Gaudium). Selanjutnya agar supaya sukacita ini menjadi penuh, juga bagi para pemilik kehidupan yang telah digerogoti oleh budaya kematian ini, Paus Fransiskus menawarkan ‘kerahiman ilahi’ sebagai obat penyembuhnya, mengutip Mazmur 103 : 3-4 (Lihat : Bulla ‘Wajah Keriman’ / ‘Misericordiae Vultus’ artikel 6 alinea 2).
Oleh karena situasi malang ini terus-menerus menggerogoti kehidupan manusia, maka ada kebutuhan untuk terus-menerus merenungkan misteri kerahiman ilahi ini, sebab di dalam Kerahiman Allah ini tersedia dan tergantung keselamatan kita (Lihat : Bulla ‘Wajah Keriman’ / ‘Misericordiae Vultus’ artikel 2).
Dalam Tahun Suci ini”, demikian Paus Fransiskus, “kita megharapkan pengalaman membuka hatinkitauntuk mereka yang tinggal di pinggiran terluar masyarakat : pinggiran yang tercipta oleh masyarakat modern itu sendiri. Betapa banyak situasi yang tidak pasti dan menyakitkan ada di sunia saat ini! Berapa banyak luka-luka yang ditanggung oleh tubuh mereka, yang tidak memiliki suara karena jeritan mereka teredam dan tenggelam oleh ketidak-pedulian orang kaya. Selama Jubileum ini, Gereja akan lbih dipanggil untuk enyembuhkan luka-luka tersebut, untuk meredakan mereka dengan minyak penghiburan, untuk membebat mereka dengan kerahiman dan menyembuhkan mereka dengan kesetiakawanan dan kepedulian ..., (Misecordiae Vultus artikel 15 alinea 1).”
Dengan demikian, dari sisi-tilik Magisterium atau Ajaran Para Paus, kita melihat penegasan bahwa Tahun Jubileum sungguh merupakan Tahun Kerahiman Ilahi, atau tahun untuk saling menyembuhkan. Dan sarana penyembuhan yang paling tepat dan pas untuk umat manusia dewasa ini adalah Sakramen Tobat. Demi memberi kesempatan kepada umat manusia untuk mengalami Kerahiman Ilahi  yang dikerjakan Yesus di dalam Gereja-Nya melalui tindakan-tindakan sakramental para pelayan jemaat, Paus Fransiskus akan berbagi kewenangannya dengan mengangkat para Misionaris Kerahiman, untuk menjadi Confesores (Bapa-bapa Pengakuan) dengan tugas untuk menjembatani perjumpaan antara Allah dengan manusia (Misericordiae Vultus artikel18).

c)     “Kerahiman Ilahi” dari sisi-tilik Pastoral-Sakramental menurut Surat Gembala Bapa Uskup Pangkalpinang.
Di sini kita akan melihat latar belakang Tahun Jubileum sebagai Tahun Kerahiman dari sudut pandang Ajaran Pemimpin Gereja Lokal, yakni Surat Gembala Bapa Uskup Keuskupan Pangkalpinang, yang akan dibacakan pada Minggu, 13 Desember 2015.
Langsung pada point pertama, Bp. Uskup Pangkalpinang menegaskan tentang karakter asli Gereja, yang terus-menerus perlu membaharui diri (=ecclesia semper reformanda). Dikaitkan dengan Tahun Jubileum, penegasan ini mengandung panggilan kepada para putera-puteri Gereja di Keuskupan Pangkalpinang untuk membaharui diri, atau dengan kata lain ‘memenuhi diri dengan Kerahiman Ilahi’ agar supaya melalui kehadiran-Nya, mereka – sebagai Gereja, - mampu menjadi pembawa penyembuhan kepada aneka situasi malang yang melanda masyarakat dewasa ini (Surat Gembala alinea 1). Selanjutnya, Bapa Uskup mengajak seluruh umat di Keuskupan kita untuk melaksanakan upaya pembahauan diri ini, dengan memohon pertolongan Bunda Maria sebagai Bunda Kerahiman (Surat Gembala artikel 1 alinea 2-3).
Secara pastoral-sakramental, wujud pembaharuan diri yang direkomendasikan adalah Jalan Pertobatan.  Ditegaskan, bahwa ‘Pertobatan Rohani merupakan Jalan kepada Kerahiman Allah’ (Surat Gembala artikel 2). Menegaskan kembali artikel 17 dari Misericodiae Vultus dari Paus Fransiskus, Bp. Uskup berpesan kepada kita tentang pentingnya menerima Sakramen Tobat, sebagai jalan sekaligus sarana untuk mengalami KerahimanAllah.

d)    Pertanyaan refleksi :
·     Apakah bapak/ibu tahu tentang kerahiman Allah?
·     Apa yang bapa/ibu rasakan ketika melihat siuasi malang yang terjadi dalam masyarakat, misalnya sakit-penyakit dll.-sb?

 
=***=

 MINGGU KETIGA ADVEN:
TAHUN YUBELEUM SEBAGAI TAHUN INDULGENSI

Saudara-saudari yang dikasihi Tuhan.
Pertemuan kita pada Minggu Adven III ini dengan tema: ‘Tahun Yubeleum Sebagai Tahun Indulgensi.’ Bacaan Injil yang akan kita baca dan renungkan dengan metode 7 Langkah ialah Injil Lukas 15: 11-32. Kita mempraktekkan Sharing Injil 7 Langkah, langkah 1-4, kemudian langkah ke-5 kita mengisinya dengan katekese tentang tema pertemuan kita. Kemudian kita lanjut ke langkah ke-6 dan ketujuh.
Dalam pertemuan ini, yang akan kita pahami bersama ialah apa itu indulgensi, bagaimana cara kita memperoleh indulgensi, dan bagaimana keikutsertaan kita dalam memperoleh indulgensi ini dalam rangkaian seluruh perayaan Yubeleum Kerahiman Ilahi nanti.

Bapak-Ibu, saudara-saudari yang terkasih.
Pada minggu adven pertama, kita sudah merenungkan Tahun Yubeleum sebagai Tahun Rahmat Tuhan. Dan pada pertemuan kedua, kita merenungkan tema Tahun Yubeleum sebagai Tahun Kerahiman Ilahi. Pada pertemuan adven ketiga kita merenungkan tema Tahun Yubeleum sebagai Tahun Indulgensi. Tema minggu ketiga adven ini, ada tiga hal pokok yang boleh kita renungkan bersama.

a)    Apa itu Indulgensi?
Kata indulgensi berasal dari kata Latin, indulgentia yang artinya hasil. Katekismus Gereja Katolik (KGK) 1471 mengartikan indulgensi sebagai berikut: ‘penghapusan hukuman sementara di hadapan Allah sebagai akibat dari dosa-dosa yang kesalahannya sudah diampuni’. Sementara Kitab Hukum Katolik (KHK) 992 menyebut indulgensi adalah penghapusan di hadapan Allah dari hukuman-hukuman sementara untuk dosa-dosa yang kesalahannya sudah dilebur, yang diperoleh oleh orang beriman kristiani yang berdisposisi baik serta memenuhi syarat-syarat tertentu, diperoleh dengan pertolongan Gereja yang sebagai pelayan keselamatan, secara otoritatif membebaskan dan menerapkan harta pemulihan Kristus dan para kudus".
Dari dua pengertian tentang indulgensi tersebut di atas, kita boleh mencatat ada tiga hal yang mendasar: Pertama, indulgensi adalah penghapusan hukuman sementara (temporal) di hadapan Allah sebagai akibat dari dosa-dosa yang kesalahannya sudah diampuni. Disini Gereja bermaksud bukan saja menolong umat beriman untuk menyilih hukuman sementara atas dosa yang telah diampuni kesalahannya, tetapi Gereja juga mendorong kaum berimannya agar melakukan perbuatan-perbuatan saleh, tobat, dan cinta kasih, terutama perbuatan-perbuatan yang semakin mengembangkan iman dan kebaikan bersama.
Kedua, Indulgensi diterima oleh umat beriman kristiani - Katolik  yang berdisposisi baik dan dengan syarat-syarat tertentu. Yang dimaksudkan umat kristiani yang berdisposisi baik disini ialah seseorang yang Katolik, yang dalam hubungan yang baik dengan Gereja, dan dalam keadaan rahmat; artinya tidak dalam keadaan berdosa berat, atau mempunyai dosa berat yang belum diakui dalam Sakramen Pengakuan Dosa. Seseorang yang Katolik yang mau memperoleh indulgensi memenuhi syarat-syarat tertentu, seperti memiliki kebiasaan berdoa sepanjang hidup mereka, melakukan kebaikan dan cinta kasih kepada semua orang, dan lain-lain.
Ketiga, indulgensi diberikan oleh Yesus sebagai wujudnyata Kerahiman Bapa di Surga melalui Gereja yang adalah pelayan keselamatan, yang mengambil tugas Kristus dan para Rasul-Nya (bdk. Mat.18:18; Yoh. 20:22-23).

b)    Bagaimana cara memperoleh Indulgensi?
Indulgensi terdiri atas dua, yaitu indulgensi sebagian (partial indulgence), kalau menghapus sebagian dari hukuman sementara, dan indulgensi penuh (plenary indulgence) kalau membebaskan manusia dari seluruh hukuman sementara (bdk. kan 993).  Indulgensi sebagian dapat diperoleh lebih dari satu kali sehari, kecuali ada ketentuan lain. Indulgensi penuh yang berkaitan dengan sebuah gereja atau "tempat ibadat / ziarah" (oratorium), perbuatan yang harus dikerjakan adalah: mengunjungi tempat suci itu dan mengucapkan doa Bapa Kami satu kali dan Aku Percaya satu kali.
Setiap orang beriman dapat memperoleh indulgensi, entah sebagian atau penuh, bagi dirinya sendiri, atau menerapkannya sebagai permohonan bai orang-orang yang telah meninggal (bdk. kan 994).
Hanya otoritas Gereja yang dapat memberikan indulgensi dan menentukan perbuatan-perbuatan mana yang harus dilakukan orang untuk mendapatkan indulgensi (bdk. kan. 995).
Untuk memperoleh indulgensi penuh, harus memenuhi persyaratan: pertama, menerima sakramen tobat: dapat dilaksanakan beberapa hari sebelum atau sesudah melaksanakan perbuatan yang ditentukan Gereja dengan satu Sakramen Tobat dapat diperoleh lebih dari satu indulgensi penuh. Kedua, menerima komuni kudus : sangat diharapkan diterima pada hari yang sama dengan pelaksanaan perbuatan yang ditentukan Gereja. Satu komuni kudus hanya dapat diperoleh satu indulgensi penuh. Ketiga, mendoakan intensi Sri Paus: mendoakan satu kali ‘Bapa Kami’ dan satu kali ‘Salam Maria’, dan diberi kebebasan mengucapkan doa lain menurut kesalehan dan devosi masing-masing sangat diharapkan diterima pada hari yang sama dengan pelaksanaan perbuatan yang ditentukan Gereja, satu intensi Sri Paus hanya dapat diperoleh satu indulgensi penuh. Keempat, tidak lekat pada dosa apapun.
Yubileum berarti saat pengampunan publik, diberikan dalam bentuk indulgensi yang terbuka kepada semua orang, sebagai kesempatan untuk memulihkan kembali hubungan dengan Allah dan sesama. Tahun Kudus menjadi kesempatan untuk memperdalam iman dan hidup dengan komitmen baru terhadap kesaksian Kristiani.

c)     Kita dipanggil Bapa untuk ikutserta dalam Tahun Yubeleum Sebagai Tahun Indulgensi
Bapak-ibu, saudara-saudari yang terkasih. Setelah kita mengerti tentang apa itu indulgensi dan bagaimana cara kita memperoleh indulgensi, sekarang kita diajak untuk merenungkan Sabda Yesus yang tadi kita dengar bersama.
Dalam bacaan Injil Lukas 15:11-32, kita mendengarkan kisah Bapa yang baik hati, yang mempunyai dua anak laki-laki (si sulung dan si bungsu). Kedua anaknya memiliki kepribadian yang berbeda. Si sulung tinggal bersama Bapanya sedang si bungsu pergi keluar dari rumah Bapanya-merantau.
Si sulung tinggal bersama Bapanya menggambarkan tetap terikat dengan Bapanya. Keterikatan dengan Bapanya namun si sulung tetap berada pada sikapnya sendiri. Ia tidak mau bertobat, ia hanya berada dalam naungan Bapanya tetapi secara kepribadian ia tidak berkembang. Ia menutup diri dari belaskasih Bapanya. Karena itu, si sulung pun membutuhkan pertobatan diri. Bapanya yang baik hati, menerimanya juga dengan penuh kebaikan.
Si bungsu keluar dari rumah-pergi dari hadapan Bapanya, efeknya merasa tidak nyaman, melarat, tidak mampu mengurus hidup yang diberikan Bapanya, akibat paling jauh ialah jatuh dalam lumpur dosa, melarat, dan kehilangan orientasi hidup. Dalam situasi yang mahaberat dialami si bungsu, ia menyadari diri, mempunyai niat baik untuk kembali kepada Bapanya. Bapa yang baik tetap pada hakekatnya, dengan penuh belaskasih, penuh kerahiman menerima si bungsu, anaknya.

d)    Pertanyaan refleksi untuk kita:
1.   Si sulung, anak yang selalu terikat dengan Bapanya, selalu ada di dekat Bapanya setiap saat, sepanjang tahun. Namun, ia sendiri menutup dirinya, menolak kebaikan Bapanya. Maka ia pun membutuhkan pertobatan. Terkadang, kita seperti si sulung, keras hati dan tidak mau bertobat. Gengsi! Tahun Jubeleum Tahun Kerahiman Ilahi, kita dipanggil untuk mengalami ke rahiman Ilahi.
2.   Si bungsu, anak yang keluar dari rumah Bapanya-melarat. Keluar dari rumah Bapa, dari hadapan Bapa, kehilangan jati diri, kehilangan orientasi hidupnya. Dalam situasi itu, Bapa yang mahabaik sangat mengharapkan kehadirannya. Bapa yang penuh belas kasih menantinya kepulangan si bungsu. Terkadang kita pun seperti si bungsu.
=***=

MINGGU KEEMPAT ADVEN:
INKARNASI WUJUD NYATA KERAHIMAN ILAHI

Bapak-ibu dan Saudara-saudari terkasih.
Pada pertemuan Adven keempat ini berbeda dengan tiga pertemuan kita sebelumnya. Pada pertemuan sebelumnya, kita mempersiapkan diri untuk memasuki Tahun Sulci, Tahun Yubileum, namun pada pertemuan keempat di masa adven ini, kita diajak untuk mempersiapkan diri kita untuk merayakan Peristiwa Inkarnasi Allah, sebagai wujud nyata dari Kerahiman Ilahi. Dengan kata lain pertemuan kita keempat ini mempersiapkan kita untuk merayakan Hari Raya Natal. Mari kita mempersiapkan diri kita, menyadari kehadiran Tuhan di tengah kita, dengan doa mengundang Tuhan.\
Pada bagian ini kita tidak mensharingkan sentuhan sabda Tuhan tetapi kita akan melanjutkan permenungan kita mengenai kerahiman Ilahi. Tetapi kali ini kita akan secara khusus merenungkan bagaimana wujud nyata kerahiman ilahi yang kita temukan dalam diri Tuhan yang menjadi manusia dalam diri Yesus.
Pada pertemuan yang ke empat ini kita akan secara khusus merenungkan tema tentang Natal sebagai wujud nyata kerahiman Ilahi. Bagi umat Katolik, perayaan Natal didahului dengan persiapan masa Natal, yaitu Masa Adven yang merupakan masa persiapan kedatangan Kristus. Bagi banyak orang, Natal dan Adven identik dengan pohon natal, kandang natal, dan hadiah natal. Namun, lebih daripada itu, hal yang terpenting dilakukan adalah persiapan rohani untuk menyambut Kristus. Namun sayangnya, banyak orang kurang mengetahui alasan dan makna di balik semua persiapan rohani yang dilakukan.

Masa Adven
Begitu pentingnya peristiwa kelahiran Yesus Sang Putera, sehingga Gereja mempersiapkan umatnya untuk memperingatinya; dan masa persiapan ini dikenal dengan masa Adven. Kata “adven” sendiri berasal dari kata “adventus” dari bahasa Latin, yang artinya “kedatangan”. Masa Adven yang kita kenal saat ini sebenarnya telah melalui perkembangan yang cukup panjang. Pada tahun 590, sinode di Macon, Gaul, menetapkan masa pertobatan dan persiapan kedatangan Kristus. Kita juga menemukan bukti dari homili Minggu ke-2 masa Adven dari St. Gregorius Agung (Masa kepausan 590-604). Sampai sekarang, masa Adven ini dimulai dari hari Minggu terdekat dengan tanggal 30 November (hari raya St. Andreas) selama 4 minggu ke depan sampai kepada hari Natal pada tanggal 25 Desember.
Masa Adven ini berkaitan dengan permenungan akan kedatangan Kristus. Kristus memang telah datang ke dunia, Ia akan datang kembali di akhir zaman; namun Ia tidak pernah meninggalkan Gereja-Nya dan selalu hadir di tengah- tengah umat-Nya. Maka dikatakan bahwa peringatan Adven merupakan perayaan akan tiga hal: peringatan akan kedatangan Kristus yang pertama di dunia, kehadiran-Nya di tengah Gereja, dan penantian akan kedatangan-Nya kembali di akhir zaman. Maka kata “Adven” harus dimaknai dengan arti yang penuh, yaitu: dulu, sekarang dan di waktu yang akan datang.
Ini adalah dasar dari pengertian tiga macam kedatangan Kristus yang dipahami Gereja Katolik. Pemahaman ini menjiwai persiapan rohani umat; dan hal ini tercermin dalam perayaan liturgi dalam Gereja Katolik. Sebab di antara kedatangan-Nya yang pertama di Betlehem dan kedatangan-Nya yang kedua di akhir zaman, Kristus tetap datang dan hadir di tengah umat-Nya. Hanya saja, masa Adven menjadi istimewa karena secara khusus Gereja mempersiapkan diri untuk memperingati peristiwa besar penjelmaan Tuhan, menjelang peringatan hari kelahiran-Nya di dunia.
Pada masa Adven, umat Katolik sering melakukan ulah kesalehan yang baik, yang berakar selama berabad-abad. Ulah kesalehan ini bertujuan untuk membantu mempersiapkan umat dalam menyambut kedatangan Sang Mesias. Semua ulah kesalehan ini mengingatkan umat akan Sang Mesias yang sebelumnya telah dinubuatkan melalui perantaraan para nabi dalam Perjanjian Lama. Ulah kesalehan ini juga mengingatkan umat Allah akan Kristus yang lahir dari Perawan Maria dengan begitu banyak kesulitan, yang akhirnya terlahir, namun Ia lahir di kandang, di tempat yang kurang layak.
Mari sekarang kita membahas persiapan rohani yang terkait dengan masa Adven.

1. Persiapan spiritual
Karena masa Adven adalah masa penantian yang harus diisi dengan pertobatan, sehingga kita mempersiapkan diri kita untuk menyambut kedatangan Kristus, maka sudah seharusnya umat Allah mempersiapkan diri secara spiritual. Persiapan yang terbaik adalah dengan lebih sering menerima Sakramen Ekaristi dan juga menerima Sakramen Tobat.
Sakramen Ekaristi menyadarkan kita akan kasih Allah yang memberikan Putera-Nya untuk bersatu dengan kita, yang dimulai dengan peristiwa Inkarnasi. Sakramen Tobat menyadarkan kita bahwa kita sebenarnya tidak layak menyambut Kristus karena dosa-dosa kita, namun Kristus datang ke dunia untuk menyelamatkan kita dari belenggu dosa. Masa Adven adalah waktu yang tepat untuk terus bertekun dalam doa-doa pribadi dan membaca Kitab Suci. Sungguh baik kalau kita dapat mengikuti bacaan Kitab Suci mengikuti kalender Gereja, karena bacaan-bacaan telah disusun sedemikian rupa untuk mempersiapkan kita menyambut Sang Mesias.

2. Lingkaran Adven
Lingkaran Adven adalah satu lingkaran yang biasanya terbuat dari daun-daun segar, dengan empat lilin. Pada awal mulanya, sebelum kekristenan berkembang di Jerman, orang-orang telah menggunakan lingkaran daun, yang atasnya dipasang lilin untuk memberikan pengharapan bahwa musim dingin yang gelap akan lewat.
Di abad pertengahan, umat Kristen mengadaptasi kebiasaan ini dan memberikan makna yang baru pada lingkaran daun ini menjadi lingkaran Adven, untuk menantikan kedatangan Mesias, Sang Terang – matahari sejati. Dikatakan bahwa penyalaan lilin yang bertambah minggu demi minggu sampai hari Natal merupakan permenungan akan tahapan karya keselamatan Allah sebelum kedatangan Kristus, yang adalah Sang Terang Dunia, yang akan menghapuskan kegelapan.
Di dalam dokumen Direktorium tentang Kesalehan Umat dan Liturgi, tidak disebutkan warna lilin yang digunakan, sehingga umat dapat menggunakan lilin warna putih ataupun ungu. Karena masa Adven juga menjadi masa pertobatan, maka lilin dapat menggunakan warna ungu, yang menjadi simbol pertobatan. Kemudian di Minggu ke-3, atau disebut minggu Gaudete atau minggu sukacita, dipasang lilin berwarna merah muda, yang menyatakan sukacita karena masa penantiaan akan telah berjalan setengah dan akan berakhir.

3. Antifon  ‘O’
Pada periode kedua atau periode langsung menantikan HR Natal, dari tanggal 17-23 Desember, Antifon Maria pada Offisi Vesper/ Ibadat Sore (dalam doa Brevir) ataupun dalam Bait Pengantar Injil dalam Misa harian (dalam bahasa Latin) merupakan antifon sapaan kepada gelar-gelar mesianis, yang diawali seruan ‘O’. Maka ketujuh antifon ini disebut Antifon O atau Antifon Agung O. Setiap antifon terdiri dari dua bagian; pertama diambil dari teks Kitab Suci, yakni gelar-gelar Mesianis dari nubuat nabi Yesaya. Bagian kedua, semacam sebuah litani, dengan seruan  “Veni! Datanglah...” yang disertai variasi permohonan dari masing-masing antifon.  Dengan demikian, masing-masing antifon menggaris-bawahi suatu gelar bagi Mesias yang diambil dari Kitab Suci dan yang berhubungan dengan nubuat Yesaya mengenai kedatangan Mesias.
Antifon O menggambarkan kerinduan hati umat manusia akan kedatangan Sang Mesias. Dia, yang merupakan Sabda Kebijaksanaan Allah (O, Sapientia), akan mengajarkan kepada manusia jalan Allah dengan cara Sang Sabda menjadi manusia (lih. Yoh 1:1). Pemenuhan janji ini secara bertahap, dengan menggambarkan beberapa karakter.
Kalau sebelum-Nya Allah menyatakan hukum-hukumnya dalam dua loh batu, maka nanti Dia akan menyatakannya lewat seorangPribadi (O Adonai). Pribadi ini akan datang dari keturunan Daud (O Radix Jesse), yang menyatakan Inkarnasi Allah, di mana para raja akan bertekuk lutut di hadapanNya. Dia mempunyai kekuasaan tak terbatas, yang digambarkan sebagai kunci Daud (O Clavis David), yang akan membuka rantai-rantai belenggu dan akan mengangkat manusia dari keterpurukan. Dia akan membawa terang (O Oriens) kepada bangsa-bangsa. Terang ini menyinari semua orang, dan Dia akan menjadi raja segala bangsa (O Rex Gentium). Dia akan datang kepada umat manusia dan akan tinggal menyertai umat manusia (O Emmanuel). Itulah harapan dari umat manusia akan kedatangan Sang Juru Selamat. 
Cukup menarik bahwa bila kita beribadat menyambut HR Natal sampai pada Antifon O ketujuh yakni “O Emmanuel” pada tanggal 23 Desember, dan melihat kembali seluruh antifon dengan menghitung mundur, yakni : Emmanuel – Rex – Oriens – Clavis – Radix – Adonai – Sapientia, maka huruf pertama dari antifon-antifon itu membentuk  suatu kalimat dalam  bahasa Latin : ERO CRAS, yang berarti : Esok, Aku akan datang. Tuhan Yesus, yang kedatangannya kita persiapkan sepanjang Masa Adven dan yang kita sapa dengan ketujuh gelar Mesianis ini, sekarang menjawab kerinduan kita, dengan mengatakan, “ERO CRAS”, ‘Besok, Aku akan datang’. Esok di Malam Natal, Sang Mesias akan datang dan tinggal beserta kita. Suatu sapaan dari Tuhan yang Maharahim, menanggapi permohonan dan kerinduan umat-Nya, yang menantikan kedatangan Sang Juruselamat pada saat Natal.
Dengan mengikuti rangkaian ibadat menyambut peristiwa inkarnasi Allah ini, Yesus sendiri berkata kepada kita : “Besok, di Malam Natal, Aku akan berada di sana.” Iya, esok Sang Emanuel akan berada di setiap gereja, terbaring di Palungan. Esok, di Hari Natal, Kanak Yesus akan berada di setiap rumah dan keluarga, serta di setiap hati yang pantas menyambut kedatanganNya.

Mempersiapkan Natal dengan sungguh dan menangkap arti Natal

Adven adalah masa persiapan untuk menyambut kedatangan Kristus, yang harus diisi dengan pertobatan, yaitu membersihkan rumah hati kita, agar Kristus dapat lahir kembali di hati kita. Kalau kita mempersiapkan diri dengan baik, maka kita akan mengalami Kristus yang hadir di dalam hati kita, sehingga kita juga akan mempunyai tujuan yang sama dengan Inkarnasi Kristus, yaitu untuk mengasihi dengan memberikan diri kepada sesama kita. Dengan kata lain, Natal mengingatkan kita untuk dapat berbagi kasih dengan sesama. Mari, pada masa Adven ini, kita mempersiapkan diri kita dengan sebaik-baiknya. Dengan penuh iman kita memohon: “Datanglah ya Tuhan, lahirlah secara baru di dalam hatiku”.

Apa yang perlu kita siapkan untuk perayaan Natal ini sebagai satu komunitas?

Sabtu, 21 November 2015

KELUARGA KATOLIK: SUKACITA INJIL



Hasil Sidang Agung Gereja Katolik Indonesia IV
Via Renata – Cimacan, 2-6 November 2015

Testimoni Beberapa Pasutri dalam SAGKI 2015

 Pengantar

1.      Sidang Agung Gereja Katolik Indonesia (SAGKI) IV yang diadakan pada 2–6 November 2015 di Via Renata – Cimacan mengambil tema “Keluarga Katolik: Sukacita Injil, Panggilan dan Perutusan Keluarga dalam Gereja dan Masyarakat Indonesia yang Majemuk”.

Dengan mengangkat tema itu, Gereja Katolik Indonesia bersehati dan seperasaan dengan Gereja Universal yang membahas tema keluarga dalam Sinode Para Uskup (2015) kelanjutan Sinode Luar Biasa Para Uskup (2014). SAGKI yang mendalami tema keluarga sebagai hal penting dan mendesak ini diikuti oleh 569 peserta yang terdiri dari uskup, imam, biarawan-biarawati, perwakilan umat dari 37 keuskupan, perwakilan keuskupan TNI, dan kelompok kategorial.

2.      Keluarga sebagai “sel pertama dan sangat penting bagi masyarakat” (Familiaris Consortio42) dan “sekolah kemanusiaan” (Gaudium et Spes 52) menjadi tempat pertama seseorang belajar hidup bersama orang lain serta menerima nilai-nilai luhur dan warisan iman. Di situlah seseorang menjadi pribadi matang yang menggemakan kemuliaan Allah. Keluarga katolik menjadi tempat utama, dimana doa diajarkan, perjumpaan dengan Allah yang membawa sukacita dialami, iman ditumbuhkan, dan keutamaan-keutamaan ditanamkan.

3.    SAGKI 2015 mendalami kehidupan keluarga melalui kesaksian beberapa keluarga tentang buah-buah sukacita Injil dalam keluarga dan tantangan keluarga ketika memperjuangkan sukacita Injil serta melalui paparan tentang membangun wajahecclesia domestica di Indonesia. Pengalaman tersebut diteguhkan oleh para ahli, didiskusikan dalam 17 kelompok dari segi spiritual, relasional, dan sosial, dipresentasikan dalam pleno, dan akhirnya dipersembahkan dengan penuh syukur dalam Perayaan Ekaristi.

4.   Selama SAGKI 2015, dialami rasa syukur dan gembira serta rasa haru dan air mata saat mendengarkan dan menyaksikan sukacita dan pengalaman jatuh-bangun keluarga-keluarga katolik dalam memperjuangkan kekudusan perkawinan dan keutuhan keluarga.

Buah-buah Sukacita Injil dalam Keluarga
5.  Dengan penuh iman, Gereja mensyukuri perkawinan katolik sebagai sakramen, yaitu tanda kehadiran Allah Tritunggal dalam hidup berkeluarga. Perjumpaan dengan Kristus membawa sukacita Injil (bdk.Evangelii Gaudium1). Pasangan suami-istri percaya bahwa Allah menghendaki, memberkati, dan mencintai keluarganya. Keyakinan ini meneguhkan suami-istri untuk setia dalam untung dan malang serta menambah sukacita dalam keluarga baik secara spiritual, relasional, maupun sosial.

6.      Bercermin dari hidup Keluarga Kudus Nazaret, keluarga katolik dihayati sebagai ladang sukacita Injil yang paling subur, tempat Allah menabur, menyemai, dan mengembangkan benih-benih sukacita Injil. Di dalam keluarga, suami-istri dan anak-anak saling mengasihi, membutuhkan, dan melengkapi. Kesabaran, pengertian, dan kebersamaan saat makan, doa, dan pergi ke gereja adalah wujud nyata kasih sayang tersebut. Kasih yang dibagikan tidak pernah habis, tetapi justru meningkatkan sukacita dalam keluarga. Oleh karena itu, ketika para anggota keluarga terpaksa terpisah dari pasangan atau dari anak-anak karena alasan pekerjaan atau sekolah, mereka berusaha mencari cara bagaimana kasih satu sama lain tetap dapat terjalin dan keutuhan keluarga dapat diwujudkan.

7.      Sukacita keluarga dialami secara spiritual dalam hubungan dengan Allah melalui kegiatan rohani sehingga kerinduan akan Sabda Allah tumbuh, iman makin tangguh, kepasrahan meningkat, dan pengalaman dicintai Allah dirasakan. Sukacita keluarga dialami secara relasional saat menjalin perjumpaan dan kebersamaan hidup yang bermutu, mempererat relasi kasih, saling memaafkan, menunjukkan sikap tenggang-rasa dan keberanian berkorban, serta sadar akan tanggungjawab pada generasi selanjutnya. Sukacita keluarga dialami secara sosial melalui kepedulian terhadap orang lain, pelayanan tulus terhadap sesama, pekerjaan sesuai panggilan, dan keteladanan hidup. Sukacita makin sempurna saat keluarga disapa dan diteguhkan oleh Gereja dalam pelayanannya.

8.      Sukacita yang dinikmati di dalam keluarga juga menjadi kekuatan untuk mengasihi Allah dan sesama melalui pelayanan di Gereja dan masyarakat tanpa memperhitungkan perbedaan suku, agama, ras, dan antargolongan serta kepentingan material. Keyakinan ini diteruskan kepada anak-anak lewat pendidikan iman yang menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan agar mereka mencintai Allah dan sesama.

Tantangan Keluarga dalam Memperjuangkan Sukacita Injil
9.   Sukacita dialami oleh keluarga yang mewujudkan rencana Allah atas perkawinan dan keluarganya. Sebagian keluarga membutuhkan perjuangan lebih karena menghadapi aneka tantangan dan kelemahan. Tantangan itu antara lain: kesulitan ekonomi, situasi sosial, budaya, agama dan kepercayaan yang tidak selaras dengan nilai-nilai perkawinan katolik seperti poligami, mahalnya mas kawin, dan kuatnya tuntutan pernikahan adat, hidup sebagai keluarga migran atau rantau, perkembangan media informasi yang menggantikan perjumpaan pribadi, dan pemujaan kebebasan serta kenikmatan pribadi. Kelemahan itu antara lain: kekurang-dewasaan pribadi dan kepicikan wawasan, penyakit dan meninggalnya pasangan, keterbatasan kemampuan orang tua untuk mengikuti perkembangan dan pendidikan anak-anak, ketidak-tahuan tentang makna dan tujuan perkawinan katolik, kesulitan dan ketidakmampuan untuk hidup bersama karena perbedaan agama dan budaya, hidup dalam perkawinan tidak sah, ketidak-setiaan dalam perkawinan, hadirnya orang ketiga (idaman lain atau keluarga besar pasangan), dan perpisahan yang tak terelakkan. Tantangan dan kelemahan ini menyebabkan perasaan terbeban, bingung, sedih, sepi, dan bahkan putus-asa bagi anggota keluarga. Tantangan dan kelemahan itu bisa membawa keluarga pada krisis iman yang merintangi, membatasi, dan bahkan menghalangi keluarga untuk setia kepada iman katolik dan untuk menghidupi nilai-nilai luhur perkawinan.

10. Di tengah pergumulan memperjuangkan sukacita Injil, keluarga mesti datang penuh kerendahan-hati untuk dikuduskan oleh Allah yang berbelas-kasih yang melampaui kelemahan dan kedosaan manusia. Pembelaan Allah yang begitu besar ini merupakan sukacita yang patut disadari dan disyukuri. Kekudusan keluarga merupakan rahmat sekaligus tugas bagi keluarga untuk dipertahankan. Oleh karenanya, keluarga diundang untuk bersikap dewasa, bertindak bijaksana, dan tetap beriman dengan tidak menyalahkan situasi, tetapi setia mencari kehendak Allah melalui doa dan Sabda Allah, mengutamakan pengampunan dan peneguhan di antara anggota keluarga, serta pergi menjumpai pribadi atau komunitas beriman yang mampu membangkitkan harapan. Keluarga yang mengandalkan Allah percaya bahwa Allah tidak pernah meninggalkannya. Selalu ada jalan keluar. Tantangan adalah kesempatan untuk bertumbuh dalam kepribadian serta iman, harapan, dan kasih. Tantangan tidak harus menyuramkan nilai-nilai perkawinan dan hidup berkeluarga. Melalui tantangan itu, Allah mengerjakan karya keselamatanNya di dalam dan melalui keluarga.

11. Gereja terpanggil untuk bersama-sama mencari, menyapa, mendengarkan dan bersehati dengan keluarga yang sedang menghadapi tantangan, termasuk mereka yang tidak sanggup mempertahankan nilai-nilai hidup perkawinan dan keluarga. Di sinilah Gereja hadir untuk menampilkan wajah Allah yang murah hati dan berbelas kasih, terutama bagi keluarga yang berada dalam situasi sulit. Dalam kemurahan dan belas kasih Allah, keluarga-keluarga tidak akan mengalami kebuntuan dalam perjalanannya meraih kebahagiaan.

Gerak Bersama: Membangun Ecclesia Domestica di Indonesia

12. “Keluarga merupakan buah dan sekaligus tanda kesuburan adikodrati Gereja serta memiliki ikatan mendalam, sehingga keluarga disebut sebagai Gereja Rumah-Tangga (ecclesia domestica). Sebutan ini sudah pasti memperlihatkan eratnya pertalian antara Gereja dan keluarga, tetapi juga menegaskan fungsi keluarga sebagai bentuk terkecil dari Gereja. Dengan caranya yang khas keluarga ikut mengambil bagian dalam tugas perutusan Gereja, yaitu karya keselamatan Allah” (Pedoman Pastoral Keluarga KWI 2010, No 6). Sebagai Gereja Rumah-Tangga, keluarga menjadi pusat iman, pewartaan iman, pembinaan kebajikan, dan kasih kristiani dengan mengikuti cara hidup Gereja Perdana (Kis 2: 41-47; 4: 32-37). Gereja Rumah-Tangga mengambil bagian dalam tiga fungsi imamat umum Yesus Kristus, yaitu guru untuk mengajar, imam untuk menguduskan, dan gembala untuk memimpin. Gereja Rumah-Tangga di Indonesia dibangun berdasarkan nilai-nilai kristiani yang diwujudkan dalam masyarakat yang majemuk.

13. Dalam reksa pastoral keluarga, Gereja mesti berangkat dari keprihatinan dan tantangan keluarga zaman ini yang semuanya membutuhkan kerahiman Allah. Gereja dipanggil untuk menunjukkan wajah Allah yang murah hati dan berbelas kasih melalui pelayanan, terutama kepada mereka yang paling lemah, rapuh, terluka, dan menderita. Kerahiman Allah tidak pernah bertentangan dengan keadilan dan kebenaran, tetapi bergerak melampauinya karena “Allah adalah kasih” (1Yoh 4: 8).

14. Demi menggiatkan pastoral keluarga yang berbelas kasih dan penuh kerahiman, Gereja dipanggil melakukan pertobatan pastoral secara menyeluruh. Pertobatan dimulai dari pelayan-pelayan pastoral yang berkarya dalam pelbagai lembaga pelayanan. Dengan demikian, pastoral keluarga dapat menanggapi persoalan keluarga secara tepat. Untuk itu:

a.   Pedoman Pastoral Keluarga KWI yang diterbitkan tahun 2010 harus diperhatikan dan dilaksanakan;
b.  Reksa pastoral keluarga terpadu dan berjenjang mulai dari persiapan perkawinan sampai pada pendampingan keluarga pasca nikah, termasuk pertolongan pada keluarga dalam situasi khusus harus dibentuk dan dihidupkan kembali;
c.   Katekese keluarga harus dikembangkan;
d.  Kebijakan dan koordinasi perangkat pastoral keluarga baik di tingkat KWI, regio, keuskupan, maupun paroki harus ditegaskan dan disosialisasikan;
e.   Keuskupan-keuskupan se-Indonesia harus bekerjasama dan solider dalam sumber daya manusia, ilmu pengetahuan dan teknologi, serta keuangan;
f.    Pelayanan perangkat pastoral seperti Komisi Keluarga dan Tribunal Gerejawi harus mendapat perhatian dan diberdayakan;
g.  Lembaga dan pelayan pastoral keluarga, termasuk kelompok-kelompok kategorial dan pemerhati keluarga serta para ahli harus diikutsertakan;
h.  Komunitas basis keluarga dan institusi pendidikan katolik harus dilibatkan;
i.    Ekonomi keluarga harus ditingkatkan melalui lembaga-lembaga ekonomi dan keuangan;
j.    Data-data yang berkaitan dengan kepentingan pastoral keluarga harus dimanfaatkan;
k.  Lembaga Hidup Bakti harus diikut-sertakan dalam pastoral keluarga dengan tetap menghormati kekhasan karismanya.

Dalam gerak bersama tersebut, kita perlu juga terbuka untuk bekerja-sama dengan lembaga swadaya masyarakat, lembaga adat, lembaga keagamaan, dan bahkan pemerintah.

15. Keluarga katolik dipanggil untuk mewartakan sukacita Injil dengan kesaksian hidupnya dan kepeduliannya kepada keluarga-keluarga lain. Dengan demikian, keluarga sungguh menjadi Gereja Rumah-Tangga yang tidak terkungkung dalam dirinya sendiri, tetapi menjalankan tugas perutusannya dalam memajukan Gereja dan menyejahterakan masyarakat (bdk.Familiaris Consortio 42).

Penutup

16. Kekayaan pengalaman dan aneka diskusi selama SAGKI 2015 tak mungkin dirangkum seluruhnya dalam rumusan hasil Sidang ini. Namun, kesaksian keluarga, diskusi kelompok, peneguhan dari ahli, kebersamaan, dinamika kerja panitia, dan kreasi bersama tim animasi dalam SAGKI tetap akan terdokumentasikan dalam bentuk buku, video, dan foto. Kita semua yakin bahwa para peserta SAGKI IV inilah yang sepantasnya berperan sebagai “dokumen” dan saksi hidup yang kaya akan pengalaman sukacita Injil dalam keluarga.

17. Pada akhir Sidang Agung Gereja Katolik Indonesia ini, marilah kita semakin percaya bahwa Allah menjumpai para anggotanya untuk membimbingnya menuju kesempurnaan kasih dan kepenuhan hidup kristiani. Kita bersyukur kepada Allah karena keluarga katolik mengalami sukacita baik dalam kesetiaan perkawinannya maupun dalam perjuangan menghadapi tantangan. Kita percaya bahwa Roh Kudus menyertai keluarga memelihara dan merawat kesuciannya. Kita turut prihatin bersama keluarga yang berada dalam situasi sulit. Semoga Gereja sebagai sumber air hidup dapat menjadi Guru bijaksana dan Ibu pemberi harapan bagi keluarga.

Keluarga Kudus Nazaret, doakanlah kami untuk mewujudkan keluarga katolik yang memancarkan sukacita Injil.

Peserta SAGKI 2015

Via Renata Cimacan Jabar