Senin, 01 Agustus 2016

KBG: LABORATORIUM PENGHARAPAN BAGI KELUARGA DAN GEREJA DI MASA DEPAN





A.      KELUARGA
1.          Keluarga adalah sel dasar Komunitas Basis Gerejawi. Sebagai sel dasar, keluarga adalah sekolah kemanusiaan yang menjadi tempat pertama seseorang belajar hidup bersama dengan orang lain dan menerima nilai-nilai luhur dan warisan iman (GS 53). 
2.        Keluarga, tempat anggota keluarga belajar hidup bersama, maka relasi-komunikasi didalam keluarga menjadi unsur yang sangat pokok. Relasi yang baik, yang menghidupkan, dan yang membangun, diungkapkan secara nyata didalam komunikasi etis dan bertanggungjawab.
3.       Dalam relasi-komunikasi yang bersifat membangun, nilai-nilai luhur diungkapkan serta warisan iman dihidupkan, maka keluarga menjadi penentu masa depan Gereja Katolik. Karena itu, keluarga-keluarga saat ini, perlu sekali didampingi dan diberdayakan untuk aktif dalam hidup menggereja dan dalam masyarakat.
4.        Keluarga adalah sel pertama yang sangat penting bagi masyarakat (bdk. FC 42). Karena menjadi sel pertama untuk menentukan suatu masa depan masyarakat secara umum, maka anggota-anggota keluarga perlu sekali diberdayakan untuk menggali potensi-pontensi bawaan didalam diri anggota keluarga, khususnya potensi bawaan anak-anak; yang meliputi: berpikir (cognitive), merasa (affective), dan berperilaku (psychomotoric).
5.  "Keluarga adalah tempat pertama dimana doa diajarkan, iman ditumbuhkan  dan keutamaan-ketutamaan ditanamkan.”(SAGKI 2015, 2). Maka keluarga-keluarga kita perlu memperhatikan secara serius proses perkembangan kepercayaan dasar khususnya pada anak-anak yang berusia: 0-3 tahun. Keluarga membangunkan kebiasaan berdoa dalam keluarga, KBG, dan paroki secara rutin. Dari kebiasaan yang potif ini diharapkan anak-anak mempunyai potensi untuk beriman.
6.    Kebiasaan-kebiasaan positip yang perlu selalu dibangun dalam keluarga antara lain: doa bersama dalam keluarga (sebelum/setelah makan, tidur, doa pribadi dan doa pribadi, memimpin doa), belajar bekerjasama dalam keluarga, belajar jujur, sopan santun, keatif, belajar mengontrol emosi (kesabaran), membiasakan membaca Kitab Suci, anak dibiasakan memberi (kolekte), orangtua memberi teladan (di depan anak melakukan yang baik), kebiasaan memaafkan (mengalah), kebiasaan peduli pada kebersihan, kebiasaan merencanakan ekonomi, dll.
7.        Keluarga adalah ‘rahim sosial’ (bdk. Luk. 1: 39-58). Kunjungan Maria kepada Elisabet, ternyata tidak hanya mendapat respons oleh kedua orangtua, tetapi juga oleh kedua anak mereka yang masih dalam kandungan. Keduanya saling respons atas perjumpaan kedua orangtua mereka, sangat diyakini bahwa Maria dan Elisabet sudah membangun komunikasi sosial melalui rahim mereka.
8.       Dari pengalaman Maria dan Elisabet, kita menemukan bahwa ‘rahim’ adalah sekolah komunikasi yang pertama. Anak didalam kandungan mengalami pengalaman secara personal, dan ini merupakan wujud asali dan simbol dari semua bentuk komunikasi.
9.       Pengalaman komunikasi secara personal yang dialami didalam keluarga merupakan komunikasi dasar yang membentuk dasar kepribadian seseorang dan akan menjadi “karakter imannya” seumur hidupnya.
10.    Keluarga adalah ‘benih ketrampilan sosial’. Tempat dimana seseorang anggota keluarga mengalami keterbatasan diri sendiri dan diri orang lain. Dan sekaligus, sebagai medan seseorang belajar mendengarkan orang lain.
11.       Karena ‘keluarga-keluarga’ itu begitu penting dan sentral dalam KBG-Gereja, maka tidak heran Bapa Suci Fransiskus mengeluarkan Surat Apostoliknya pada tanggal 19 April 2016, bertepatan dengan Pesta St. Yosep, Pelindung para pekerja keluarga.
12.     Bapa Paus meminta kepada para pelayan rohani untuk setia mendampingi dan mengarahkan ‘manusia’ pada setiap situasi hidupnya, untuk bertumbuh lebih baik. Sehingga ikatan kasih sayang dalam membangun keluarga yang kokoh, terwujud dalam KBG-Gereja dan masyarakat. Karena hal ini merupakan tantangan bagi keadaan keluarga-keluarga modern abad ini.

B.      KOMUNITAS BASIS GEREJAWI (KBG)
13.    Komunitas Basis Gerejawi (KBG) ialah kumpulan keluarga-keluarga kristiani yang saling berdekatan satu sama lain, bertetangga baik, untuk melakukan pertemuan rutin, sharing Injil, aksi nyata dan selalu terikat dengan paroki.
14.     Melihat situasi jumlah keluarga dalam satu KBG di setiap paroki, ternyata masih banyak KBG yang jumlah KK-nya di atas 20, maka sangat dianjurkan supaya para pastor, tim PIPA dan DPP serta para fasilitator KBG hendaknya membantu proses pemekaran dalam KBG.
15.    Proses pemekaran KBG dimulai dengan pendataan jumlah KK, pemetaan wilayah untuk lebih bertetangga dekat, dan proses penyadaran terhadap para pengurus, anggota seksi, para fasilitator, dan kemudian seluruh umat di dalam KBG. Untuk itu, modul proses pemekaran perlu dipikirkan dengan baik kemudian disusun untuk ditindak lanjutinya.
16.    Tuntutan Sinode II tentang jumlah KK dalam satu KBG: 15-20 KK. Jika jumlah ini dalam satu keluarga lebih kurang 4 orang katolik maka jumlah anggota sebuah KBG pun masih terlalu besar. Jumlah yang besar ini, akan sangat sulit dalam efektivitas perjumpaan rutin, mengingat kondisi rumah, persiapan keluarga, serta kondisi ekonomis dalam sebuah keluarga.
17.     Paroki-paroki sekevikepan Bangka Belitung selama ini telah mengikuti pelatihan:
a.   Modul A tentang Sharing Injil (A1-A6) (Tanjungpandan, Mentok, Katedral, Koba, Sungailiat, Belinyu, dan Bernadeth). Sedang untuk A7-A8 belum sama sekali.
b.   Modul B (B1-B4) sudah dilaksanakan di Katedral, Tanjungpandan dan Sungailiat. Sedangkan paroki-paroki lain belum dilaksanakan.
c.   Paroki-paroki akan melanjutkan pelatihan modul-modul yang belum lengkap dan kemudian bersama-sama ke modul C dan D.
18.    KBG-KBG di paroki-paroki sekevikepan Bangka Belitung, sedang dalam proses mengembangkan diri baik di dalam keluarga maupun di KBG itu sendiri. Dalam membangun diri, KBG diharapkan untuk mengarah pada TIGA BINTANG: berpusat pada Kristus, membangun komunio, dan melaksanakan misi Kristus.
19.    KBG-KBG di setiap paroki di Bangka Belitung telah mempunyai fasilitator yang rata-rata lebih dari satu atau dua orang. Jumlah para fasilitator di setiap paroki, sudah mulai banyak dan kualitasnya mulai muncul.

C.      FASILITATOR
20.      Fasilitator KBG ialah orang yang sangat menentukan keberhasilan sebuah pertemuan rutin seperti pendalaman iman, sharing Injil, ibadat, dan lain-lain di dalam KBG.
21.         Telah disepakati bersama dalam diskusi tentang menghidupkan KBG melalui Sharing Injil 7 langkah dan metode-metode lain, serta mengerti dengan baik akan KBG, Gereja Partisipatif dan Kepemimpinan yang bersifat partisipatif, modul-modul AsIPA menjadi sumber pertama yang dibutuhkan dalam pelatihan fasilitator di KBG-KBG.
22.       Setiap KBG hendaknya mempunyai fasilitator, idealnya per KBG maksimal 5-10 orang. Karena fasilitator adalah cikal bakal menjadi pengurus KBG dan seksi-seksi di DPP di masa yang akan datang.
23.       Profil fasilitator dalam KBG-Gereja, ialah orang yang memiliki kemampuan untuk:
a.   peduli terhadap kebutuhan keluarga (di KBG-nya pun di luar KBG); bisa membantu keluarga bermasalah.
b.   mengajak anggota KBG untuk acara kebersamaan, kegiatan bersama (dalam hal ekonomi, usaha bersama, doa bersama).
c.   mengunjungi keluarga-keluarga anggota KBG, saling meneguhkan.
d.   menjadi panutan, contoh, teladan (hidup dalam keluarga).
e.   mampu mengubah pola berpikir keluarga.
f.     mampu menanamkan sikap kasih sayang dalam keluarga.
g.   menjadi orangtua yang mampu menanamkan hal-hal positif sejak dini (sabar menghadapi anak-anak, memberi berkat setiap hari).
h.   membiasakan diri membaca Kitab Suci bersama anak-anak (dalam keluarga) dan sharingkan KS
i.     menjadi orang tua yang mau membantu mengembangkan bakat dan talenta anak.
j.     memberi kepercayaan kepada anak.
k.   memberi bantuan dalam bentuk (doa, hiburan, sharing materi, dll)
l.     memahami dan mempraktekkan hidup kasih dalam keluarga sendiri.
m.     rela berkorban (waktu, perhatian dan materi)
n.   menyiapkan materi binaan yang kontekstual (sesuai dengan subyek bina).
24.       Para fasilitator di setiap paroki harus perlu bertemu secara periodik, entah seminggu sekali, dua minggu sekali, atau pun sebulan sekali. Karena melalui pertemuan periodik antar fasilitator, mereka dapat memperkaya diri dengan berbagi sharing pengalaman hidup yang mereka alami dalam KBG masing-masing.
25.       Para fasilitator perlu bekerjasama dengan kelompok kategorial, untuk membangun KBG-KBG. Mengingat kelompok-kelompok kategorial adalah ‘vitamin’ bagi KBG-nya.

D.      CITA-CITA YANG DIHARAPKAN:
26.      Komunitas Basis Gerejawi (KBG) ialah wadah baru yang sedang membentuk ‘struktur hidup baru’ dalam Gereja dan masyarakat. Mengapa? Karena keluarga-keluarga yang merupakan sel terkecil dalam KBG sedang dalam proses perkembangan iman, membangun sebuah masyarakat dasar yang saling berbagi satu sama lain, bagaikan sebutir ragi yang merombak dari dalam.
27.       Jika KBG terus menerus melaksanakan aksi nyatanya setelah melaksanakan sharing injil atau pendalaman iman, bagaikan ‘kandang domba’ KBG akan menjadi ‘rumah kedua’ bagi setiap keluarga yang sedang mengalami ‘letih lesu’ dan ‘berbeban berat’ dan ‘rumah’ bagi ‘para peziarah’ yang sedang dalam perjalanan hidupnya.
28.      Fasilitator dari KBG akan berkualitas dalam jumlahnya, jika Tim PIPA Paroki berusaha untuk melakukan pendampingan dan pembinaan secara maksimal tentang beberapa bidang berikut ini:
a.        Spiritualitas atau kehidupan rohani
~   Bagaimana fasilitator hidup dalam imannya akan Kristus?
~   Bagaimana fasilitator tetap berkomitmen pada tugas dan imannya?
~   Bagaimana fasilitator mengembangkan doa-doa pribadinya?
~   Bagaimana fasilitator memurnikan motivasi untuk melayani dan memimpin?
~   Bagaimana fasilitator mendewasakan iman dan mampu beralih dari religiusitas alami kepada Kristus?
~   Bagaimana memadukan kebudayaan dan iman kristiani?
b.       Psikologis atau perilaku, nilai dan kesadaran
~   Bagaimana fasilitator memiliki kesadaran akan tanggungjawab sosial?
~   Bagaimana fasilitator membangun relasi dalam persekutuan dengan anggota KBG dan sesama fasilitator dan para imam?
~   Bagaimana fasilitator memiliki kemampuan bekerja dalam tim?
~   Bagaimana fasilitator membangun kemitraan dengan pemimpinan yang lain dengan anggota umat?
~   Bagaimana fasilitator menyadarkan dirinya akan pelayanan bukan unjuk kekuatan?
c.       Ketrampilan
~   Bagaimana fasilitator dilatih untuk mempermudah proses dialog didalam sebuah pertemuan rutin?
~   Bagaimana fasilitator membangun sebuah persekutuan yang lebih besar?
~   Bagaimana fasilitator membangunkan potensi dirinya untuk mengajak dan mempengaruhi anggota KBG?
~   Bagaimana melatih fasilitator untuk mampu memimpin berbagai pertemuan didalam KBG?
~   Bagaimana fasilitator mengatasi konflik baik internal KBG maupun lintas KBG?
~   Bagaimana fasilitator trampil dalam komunikasi dengan anggota KBG atau dengan orang lain?
d.       Scientific atau pengetahuan, informasi dan wawasan
~   Bagaimana fasilitator dibina supaya dapat mengetahui tentang Kitab Suci, ajaran Gereja, dan tradisi-tradisi Gereja kita?
~   Bagaimana fasilitator berkembang didalam pengetahuan umum seperti ilmu sosial, ekonomi, budaya, informatika, dan ilmu-ilmu lainnya?

E.       Narasumber Pertemuan:
1.          Bp. Fidelis Wariuwu
2.      Bp. Yohanes Bosco Otto
3.        RD. Stanis Bani - Komisi KBG Kevikepan BaBel
4.     Komisi Pengembangan KBG Kevikepan Babel

Pangkalpinang, 16 Juli 2016

Alfons Liwun

Senin, 04 April 2016

KOMUNITAS BASIS GEREJAWI: PARADIGMA FUNDAMENTAL DALAM GEREJA



Oleh Uskup Peter Kang,
Uskup Keuskupan Cheju, Korea Selatan
Disampaikan pada Program Exposure untuk Uskup Jerman,
14-22 April 2009



Pemberdayaan Anak Sekami di KBG St. Yoh. Pemandi Bedukang

A. Gereja Awal
Yesus tidak bekerja sendiri tetapi selalu bekerja sama dengan rekan-rekannya untuk membentuk sebuah komunitas murid. Ia mengirim orang-orang ini ke dunia sebagai rasul.  Para rasul pertama tidak memiliki tempat yang stabil untuk mengatur pekerjaan evangelisasi-pewartaan mereka. Mereka selalu mewartakan Injil, hanya dengan bepergian dari satu tempat ke tempat lain.

B. Mereka berkumpul di rumah.
Mereka berkumpul di rumah-rumah keluarga rekan mereka untuk mendengarkan Firman Tuhan, berbagi roti, dan berdoa bersama-sama. Perkumpulan keluarga ini dalam Gereja adalah unit dasar dari kekristenan perdana.
Dalam rumah tangga Helenis - Romawi, tuan rumah, ayah dalam keluarga, mempunyai otoritas yang tak terucapkan, dan struktur keluarga di zaman kuno adalah bentuk hierarki yang nyata. Sebaliknya, dalam komunitas rumah tangga atau rumah Kristen ini, model hierarki secara radikal rusak. Karena kekristenan awal adalah persaudaraan dari mitra sejajar.

C. Ekklesiologi Perjanjian Baru
Dalam Kis. 2: 1-11: "Ketika tiba saatnya hari Pentakosta terpenuhi, ... tindakan Tuhan yang kuat." "Dan tiba-tiba datanglah dari langit suatu bunyi seperti angin pendorong yang kuat, dan itu memenuhi seluruh rumah di mana mereka tinggal."

Jika kita ingin memiliki pemahaman yang komprehensif tentang deskripsi Pentakosta ini, kita juga perlu merujuk ke Kitab Kejadian 1: 1-2. "Pada awalnya, ketika Allah menciptakan langit dan bumi, bumi adalah gurun tanpa bentuk, dan kegelapan menutupi jurang, sementara angin kencang menyapu atas perairan."

Ada apa? Yang terjadi kecuali kegelapan di awal, tetapi ketika Tuhan Allah mengatakan dengan kekuatan kreatif–Nya: 'Jadilah terang', maka cahaya, diciptakan dan ketika Dia meniup
nafas hidup ke dalam lubang hidung manusia yang dibentuk dari tanah liat, manusia telah dibuat-Nya hidup! Kuasa kreatif Allah diterima oleh manusia. Ini berarti bahwa daya kreatif Allah telah datang untuk para rasul pada hari Pentakosta. Dan jika kita melihat ke dalam Kis. 2: 3 'ada di dekat mereka lidah-lidah seperti nyala api, yang bertebaran terpisah-pisah dan datang untuk beristirahat di masing-masing dari mereka."

Lukas menggunakan kalimat '... lidah-lidah sebagai api ...' untuk mengekspresikan penampilan Roh Kudus. Lukas ingin menyiratkan dengan kalimat ini, bahwa kekuatan kreatif dari Firman Allah yang telah memerintahkan segala sesuatu yang akan terjadi, kini telah datang kepada para Rasul sehingga mereka bisa berpartisipasi dalam penciptaan dunia baru. Fakta bahwa para Rasul bisa berbicara dalam banyak bahasa, menandakan bahwa mereka diberi kuasa kreatif Allah. Lukas menjelaskan dalam bab-bab berikutnya bagaimana Roh Kudus mulai mengubah dunia.

D. Perubahan Para Rasul:
Rasul Petrus dan sebelas lainnya berdiri dan mewartakan Injil. Selama Yesus ditangkap dan sengsara, mereka lari tersebar dan mengkhianati Yesus. Dan bahkan setelah kebangkitan Tuhan, mereka pun masih menyembunyikan diri di rumah-rumah dengan mengunci pintu.

Tapi sekarang dengan kuasa Roh, mereka dengan tanpa rasa takut, mewartakan bahwa Yesus dibunuh oleh para pemimpin Yahudi, sekarang telah bangkit.

E. Perubahan Jemaat Kristiani-Masyarakat
Kisah Para Rasul 2: 42. "... mereka tetap setia pada ajaran para rasul, dalam persaudaraan, untuk memecahkan roti dan doa-doa." Keempat elemen: bersama-sama, pengajaran para rasul, persaudaraan, yang memecahkan roti dan doa adalah paradigma fundamental dan konstitutif komunitas Kristen, yang berbeda dengan gaya kontemporer Yahudi lainnya.

Karena ini 4 tema yang sangat penting untuk komunitas Kristen, Lukas mengembangkan lagi dengan tema-tema yang sama dalam ayat 46, dengan mengatakan: 'Setiap hari, dengan satu hati, mereka secara teratur pergi ke Bait Allah tapi bertemu di mereka rumah untuk memecahkan roti; mereka berbagi makanan mereka dengan senang hati dan murah hati; mereka memuji Allah. Lukas mencoba untuk menekankan bahwa empat unsur ini membentuk struktur dasar dari Gereja yang ingin dibangun oleh Roh Kudus.

Dalam Injil Markus 6: 34-44. "Jadi Dia naik ke darat, Ia melihat orang banyak; dan Ia merasa kasihan pada mereka .... Mereka itu berjumlah lima ribu orang. Yesus menyebut mereka sebagai: ‘... orang-orang yang seperti domba tanpa gembala...’ Firman Allah adalah roti yang paling penting dari kehidupan. Yang paling penting saat Yesus ingin memberikan kepada orang-orang yang ia kasihi adalah firman Allah.

Tetapi, satu-satunya hal yang para murid khawatir tentang makanan fisik, bahwa roti untuk mengisi perut mereka itu, kosong!. Walau demikian, Yesus mengatakan kepada mereka: 'Beri mereka sesuatu untuk dimakan sendiri.’ Maka, ini adalah misi murid Yesus, untuk memberikan sesuatu kepada orang-orang untuk dimakan, tidak meninggalkan mereka. Kapan Yesus berkata 'sesuatu untuk dimakan', itu berarti tidak hanya roti, makanan yang satu dimulut, melainkan makanan yang benar yang memperkaya seluruh hidup kita.

Lalu Yesus memerintahkan para Rasul untuk mendapatkan semua orang dan meminta semua orang untuk duduk berkelompok-kelompok, di atas rumput hijau, dan mereka duduk di tanah di kotak ratusan dan lima puluhan. .... kata simposium yang dimaksudkan didalam teks tersebut' adalah ungkapan yang sangat menarik dan inspiratif.

Dalam New Jerusalem Bible itu diterjemahkan sebagai 'kelompok'. Dalam beberapa versi bahasa Inggris lainnya itu diterjemahkan lebih harfiah sebagai 'ia memerintahkan mereka untuk berbaring semua perusahaan perusahaan pada rumput hijau. '

Simposium' berarti bukan hanya kelompok. Makna asli dari kata Yunani ini adalah 'untuk minum bersama-sama '. Kata 'Simposium' berarti bukan hanya makanan berbagi bersama. Saya khusus menandakan 'untuk minum bersama-sama'. Untuk minum bersama-sama menyiratkan bahwa orang merayakan bersama-sama dalam sebuah pertemuan seperti pesta.

Orang minum bersama-sama biasanya dalam peristiwa gembira seperti pesta. Oleh karena itu 'Simposium' bukan hanya kelompok atau orang banyak tapi kelompok yang anggotanya begitu intim bahwa mereka merayakan pesta, minum bersama-sama. Kelompok ini yang bisa merayakan pesta bersama-sama akan disebut 'Komunitas'.

Hal ini tidak hanya cerita keajaiban mengalikan roti dan ikan, karena dalam episode ini Markus juga menyiratkan antisipasi simbolis Ekaristi oleh modalitasnya distribusi roti. 'maka ia mengambil lima roti dan dua ikan, mengangkat matanya ke langit dan berkata berkat; maka ia memecahkan roti dan mulai menyerahkan kepada murid-murid-Nya untuk mendistribusikan di antara orang-orang."

Dan Yesus akhirnya melengkapi dasar ini, Gereja, komunitas kecil dengannya 12 belas rasul bersama Yesus melalui lembaga Ekaristi dalam perjamuan terakhir.

F. Konsili Vatikan II
Pada abad pertama, Gereja ada sebagai sebuah pertemuan jemaat di rumah tangga dari kota atau kota. Dengan meningkatnya komunitas Kristen itu diperlukan untuk memberikan pelayanan pastoral yang setia konstan untuk mendampingi mereka secara permanen di daerah sekitar mereka bukan hanya mengunjungi mereka secara teratur.

Pada awal, Gereja di luar Rasul, ada beberapa orang yang bebas dan sukarela bertugas di Komunitas Gereja sesuai dengan karisma khusus mereka seperti: sebagai rasul, guru, nabi, pekerja mukjizat, penyembuh. Gereja yang diperlukan untuk membangun hirarki tertentu berwewenang untuk menghindari konflik yang muncul antara karisma yang berbeda.

Semua faktor-faktor baru membawa sistematisasi tertentu dan struktur hirarkis Gereja yang solid. Saya percaya bahwa ini adalah sangat diperlukan dalam situasi ini untuk melindungi dan melestarikan Komunitas Kristen dari gerakan sesat yang beragam dan gangguan. Tetapi juga, benar bahwa ini menyebabkan kerusakan tertentu dari komisi / seksi-seksi yang setia dalam partisipasi aktif dan kharismatik dalam Gereja, yang menang untuk 20 abad berikutnya sampai Konsili Vatikan II.

Pada tahun 1960, Paus Yohanes XXIII menyadari bahwa Gereja terlalu banyak telah dibatasi dan ditutupi dari dunia sedangkan dunia telah melalui perubahan ekstrim. Mengalami dua perang dunia, gelombang kedua industrialisasi, ideologis konflik antara kapitalisme dan sosialisme, promosi demokrasi dan HAM, dll. Yang dibutuhkan Gereja adalah untuk melakukan dialog dengan benar perubahan dunia dan untuk menyelenggarakan sebuah aggiornamento dalam budaya modern.

Bapa-bapa Konsili Vatikan II, dengan bantuan banyak teolog ingin menjelmah Firman Allah ke dalam dunia modern. Melihat kembali seluruh sejarah Gereja, kemudian mereka merumuskan dengan renovasi lengkap kehidupan iman dan struktur kita dengan menghasilkan 4 konstitusi: (1). Konstitusi tentang Liturgi Suci: Sacrosanctum Concilium. (2). Konstitusi Dogmatis tentang Gereja: Lumen Gentium. (3). Konstitusi tentang Wahyu Ilahi: Dei Verbum. (4). Konstitusi Pastoral tentang Gereja di Dunia Modern: Gaudium et Spes.
 
a. Dei Verbum
Gereja mengabaikan Firman Tuhan di masa lalu. Kita mungkin telah menekankan terlalu banyak pentingnya Sakramen dan Hukum Gereja dan kami tidak membayar cukup memperhatikan Firman Allah yang merupakan dasar nyata kehidupan iman kita.

Oleh karena itu Dokumen menyimpulkan bahwa pertama-tama yang mendesak itu adalah membaca, berdoa, belajar, dan memberitakan Firman Allah (DV No. 10, 22, 25).

b. Lumen Gentium
Selama berabad-abad Gereja menekankan terlalu banyak karakter langit dan kesucian Gereja dengan menggunakan bahasa mistis, seperti tubuh Kristus sebagai tubuh mistik yang termasuk persekutuan orang kudus dengan Kristus sebagai kepala. Tuhan tidak mengundang beberapa individu yang benar tetapi seluruh umat Allah menjadi saksi keselamatan bagi seluruh umat manusia.

Oleh karena itu, Gereja perlu memberikan kesaksian dan hidup persekutuan (koinonia) yang disimpan dari masyarakat. Sacrosanctum Concilium, Liturgi terutama telah dipahami sebagai ritus kurban dan doa; yang dipercayakan semata-mata untuk imam tanpa partisipasi aktif dari kaum awam. Selama berabad-abad orang awam yang menjadi penonton dalam Liturgi.

Oleh karena itu dokumen ini mendesak kita untuk menghidupkan kembali liturgi melalui keterlibatan spontan lebih banyak anggota masyarakat yang mengekspresikan kasih karunia dan keselamatan Allah melalui bahasa lokal mereka, seperti musik dan mereka mewariskan budaya sendiri. Liturgi menjadi lebih komunitarian dari individu.

c. Gaudium et Spes
Yesus Kristus adalah Firman Allah menjelmah ke dalam dunia; yang mengubah dunia dari segala macam ketidakadilan dan kejahatan menjadi Kerajaan Allah. Yesus tinggal di dunia ini dan menawarkan seluruh hidupnya untuk benar-benar membebaskan orang dari dosa-dosa dan kejahatan dunia ini. Tetapi Gereja mengakui dunia hanya sebagai jahat dan sekuler dan tidak melakukan usaha apapun untuk mengubah dunia.

Dokumen ini mendorong kita untuk melawan jahat dan mengubah dunia menjadi Kerajaan Allah; mewujudkan keadilan dan perdamaian dalam kehidupan sehari-hari kita.

Meskipun Konsili Vatikan II telah dirancang seperti cetak ideal biru pembaruan Gereja, tapi sebenarnya setiap Gereja Lokal tertentu yang harus menyelenggarakan realisasi cetak biru itu.

Selama 40 tahun terakhir, setelah Dewan kita telah belajar dan mempelajari semangat dasar dokumen-dokumen ini, namun pada kenyataannya, kita tidak berhasil memiliki pengembangan rencana pastoral; yang terpisahkan dari semua unsur didalam keempat konstitusi.

Namun, trend baru komunitas Kristen kecil yang telah muncul secara terpisah di benua yang berbeda, Amerika Latin, Afrika, Asia, dan Amerika Utara, memberikan kontribusi yang cukup besar dalam mewujudkan integral cetak ideal biru dari 4 konstitusi di atas tadi. Komunitas Kristen kecil yang sedikit berbeda satu sama lain sesuai dengan tempat dan budaya mereka. Di Amerika Latin mereka menyebutnya Komunitas Kristen Basis.

Di Afrika atau di Asia mereka disebut Komunitas Kristen Kecil, atau Komunitas Basis Gerejawi-ni. Meskipun setiap tempat telah mengembangkan beberapa variasi sendiri, orang Kristen yang kecil Komunitas, memiliki empat faktor penting yang sama:

Pertama, mereka bertemu bersama dengan kuasa Firman Allah: Di Komunitas Kristen Kecil firman Allah selalu di tengah. Kristus adalah Firman Tuhan menjelmah ke dunia. Oleh karena itu dimanapun Kristen bertemu bersama-sama, Firman Tuhan harus mengambil tempat pertama dan menjadi pusat (fokus). Mendengarkan Firman Allah, berbagi pengalaman mereka, umat Allah yang dewasa sebagai anak-anak Tuhan dan mereka mengembangkan perspektif pewartaan untuk melihat, membedakan dan menilai realitas yang kompleks dari dunia kita. Ini menyadari ajaran Dei Verbum.

Kedua, mereka bertemu dalam kelompok kecil yaitu bangunan Komunitas. Dalam menetapkan paroki kita, sebenarnya tidak mungkin untuk mengembangkan hubungan yang setia antar pribadi dengan yang lainnya. Tapi dalam Komunitas Kristen kecil orang Kristen memiliki kontak kedekatan dengan sejumlah anggota dan merasakan ikatan hidup komunitas yaitu dengan memiliki rasa dan solidaritas berdasarkan iman yang umum. Inilah yang diajarkan oleh Lumen Gentium dan sekaligus menyadari keinginan kita.

Ketiga, mereka berdoa bersama dalam persekutuan dengan Gereja Universal: Sementara mayoritas Kristen merasa cukup sulit untuk berdoa secara pribadi dalam kehidupan biasa, komunitas Kristen kecil membantu orang untuk tumbuh bersama dalam kehidupan spiritual: berdoa bersama secara teratur dengan mengikuti kalender liturgi Gereja universal. Dalam komunitas Kristen kecil, anggota sangat dipengaruhi dalam kehidupan spiritual mereka dengan orang lain dalam masyarakat melalui berbagi pengalaman hidup dalam kehidupan sehari-hari. Masyarakat kecil menyajikan lingkungan untuk spiritualitas komunitarian. Inilah yang diberitahukan oleh Sacrosanctum Concilium untuk kita capai.

Keempat, mereka menyadari Injil dalam kehidupan mereka. Komunitas Kristen Kecil mencoba untuk mempraktekkan Firman Allah dalam kehidupan mereka sehari-hari. Ada beberapa metode berbagi Injil tetapi mereka semua bertujuan tidak hanya untuk merenungkan Firman Tuhan, tetapi juga untuk hidup dalam kehidupan sehari-hari melalui pengetahuan yang mereka terima dari Injil sehingga mereka bisa berkontribusi mewujudkan Kerajaan Allah di dunia ini. KBG menempatkan kita dalam konteks yang kuat untuk menantang realitas yang tidak adil dalam masyarakat modern sehingga kita bisa mengubah dunia menjadi Kerajaan Allah seperti yang diingini Yesus untuk menyelesaikan-Nya. Ini menyadari ajaran Gaudium et Spes.

G. Kesimpulan
Melihat kembali dari awal Gereja Kristen, awal kita melihat inspirasi intervensi dari Roh Kudus yang tak terbantahkan, yang menciptakan masyarakat yang baru, Umat ​​Allah. Dan kita semua tahu bahwa Tuhan ingin memanggil bukan hanya beberapa orang yang dipilih tapi seluruh umat manusia untuk keselamatan dan hidup kekal. Bahwa melalui struktur masyarakat, Allah menghendaki supaya kita diselamatkan.

Komunitarian ini struktur Gereja ada dari awal dan bertahan berabad-abad tetapi berkembang di zaman modern setelah Konsili Vatikan II, terutama dalam KBG-KBG. Hal ini mengejutkan untuk melihat bahwa KBG muncul secara bersamaan tetapi terpisah di semua benua tanpa kepemimpinan buatan Hirarki Gereja.

Tidak ada induk atau pusat KBG di dunia, sementara gerakan seperti Legio Maria, Focolare, atau Cursillo memiliki kantor pusat mereka sendiri di beberapa tempat. Roh Kudus, yang mendirikan komunitas Rasul pada saat Pentakosta, selalu mendampingi Gereja melalui sejarah dan memimpin Gereja modern palung Konsili Vatikan II dan sekarang bekerja sama dalam KBG mendukung communitaria mereka.

Sungailiat, 4 April 2016,

Terjemahan,

AL

Rabu, 02 Maret 2016

Doa 24 Jam Untuk Tuhan di Paroki Sungailiat



Paus Fransiskus, sejak setahun menjadi pimpinan tertinggi Gereja Katolik sedunia, merencanakan doa 24 jam untuk Tuhan. Rencana itu pernah dijalankan pada tanggal 13-14 Maret 2015 yang lalu. Dasar yang disampaikan untuk umat berdoa 24 jam ialah untuk mengenang hari pengangkatan menjadi Paus, mau memberi makna baru pada masa prapaskah 2016 ini. Doa 24 jam untuk Tuhan dijalankan pada tanggal 4-5 Maret 2016 dengan cara: pintu gereja dibuka selama 24 jam, kesempatan umat untuk mengaku dosa secara pribadi, berdoa secara komunitas dan pribadi dihadapan Allah, dan bahkan diberi kesempatan kepada setiap umat untuk membuat percakapan / spiritual counseling dengan para imam. Juga, bapa Paus Franiskus meminta para imam untuk siap melayani para peniten yang mencari pengampunan Tuhan.

Waktu doa 24 jam untuk Tuhan yang dimaksud Paus Fransiskus, selain sudah disebutkan tadi bisa juga sebagai kesempatan untuk refleksi dan doa, untuk menemukan kembali rahmat besar Allah di jantung Iman Katolik bahkan Bapa Paus Fransikus menambahkan bahwa doa 24 jam adalah kesempatan berdoa bersama-sama seluruh Gereja, seluruh dunia. Tak tahukah kamu, betapa kuat dan dahsyatnya kekuatan doa bersama dan serentak ini?

Dipihak yang lain, Bapa Paus Fransikus memiliki sejumlah bahan ajaran kateketisnya tentang Sakramen Tobat. Sakramen Tobat ialah mengaku dosa bukanlah memasuki sebuah ruang penghakiman/pengadilan yang mengerikan; justru disana gunung kerahiman Allah begitu besar, kita saja yang malas untuk datang memohon kerahiman Tuhan. Jangan takut untuk mengaku dosa. Manusia bisa saja jatuh dalam dosa, pergilah menyesal, bertobat, kita diampuni, kita lalu bangkit lagi. Saya  sendiri setiap 15 hari mengaku dosa, karena Paus juga orang berdosa, ungkap Sang Paus.

Paus Fransiskus menceriterakan pengalaman doa 24 jam pada tahun lalu (2015), di Eropa dan belahan dunia lainnya, inisiatif doa 24 jam disambut hangat dan gereja-gereja sepanjang malam terbuka bagi siapa saja. Hal ini telah membangkitkan optimisme bahwa tahun ini pun, apalagi di tahun Jubileum belas kasih, akan dirayakan penuh antusiasme. Sangat menonjol dan menyolok adalah peranan dan kehadiran orang muda yang memberi makna lebih pada inisiatif ini.

4-5 Maret 2016: 24 Jam untuk Tuhan Sang Belas Kasih
Dalam MV 17, Paus Fransiskus meminta supaya Doa 24 Jam untuk Tuhan pun dijalankan pada tahun Yubileum Kerahiman Ilahi 2016, tepatnya pada tanggal 4-5 Maret 2016. Selama 24 Jam, Paus Fransikus meminta supaya semua Gereja terbuka 24 jam bagi umat Katolik entah mau berdoa, bermeditasi, berdialog dengan imamnya, entah menerima sakramen pertobatan, dll.

Dalam konteks Keuskupan Pangkalpinang, Mgr. Hilarius Moa Nurak SVD, dalam Surat Gembala Prapaskah 2016, pun menegaskan: ‘Di masa Prapaskah di tahun Yubileum ini, saya menegaskan, sebagaimana diserukan Paus Fransiskus dalam Bulla Misericordia Vultus, dan ditegaskan lagi dalam pesan Masa Prapaskahnya di Tahun 2016 ini: “Masa Prapaskah selama Tahun Yubileum ini juga seharusnya dihayati dengan lebih intens sebagai momen istimewa untuk merayakan dan mengalami kerahiman Allah” (MV no 17). Saya mengajak agar kita lebih intens membaca Kitab Suci, mendengarkan Sabda Allah yang menyelamatkan dan berbelas-kasih, semuanya ini dapat  membantu kita untuk menemukan kembali wajah Bapa yang penuh kerahiman. Sri Paus juga menyerukan kepada kita untuk mendengarkan Sabda Allah dengan penuh perhatian. Beliau memprakarsai  "24 Jam bagi Tuhan", yang akan dilaksanakan pada hari Jumat dan Sabtu sebelum Minggu Prapaskah IV, harus dilaksanakan di setiap keuskupan. Atas prakarsa Sri Paus Fransiskus ini, saya pun menghimbau untuk diadakannya “24 jam bagi Tuhan” di paroki-paroki dan stasi-stasi. Hal ini dimaksud agar kitapun memupuk keutamaan mendengarkan dan merenungkan dengan penuh doa terhadap Sabda Allah.’

24 Jam untuk Tuhan di Paroki Sungailiat Bangka
Berdasarkan hasil pertemuan pastor paroki dengan para ketua KBG, kelompok kategorial, dan seksi liturgi paroki serta para fasilitator KBG yang dilaksanakan pada hari/tanggal Minggu, 28 Februari 2016, disepakati beberapa hal dasar sebagai berikut:

Hari Jumat, 4 Maret 2016         :
17.00 – 18.00                               Jalan Salib Kerahiman Ilahi (Gereja Paroki, Pemali, dan Bedukang).
8.00 – 19.00                                 Perayaan Ekaristi (di Gereja Paroki, Pemali dan Bedukang).
20.00 – 21.00                               Pentahtaan Sakramen Mahakudus (hanya di Gereja Paroki)
Jam 21.00 – 21.30                        Ibadat tobat (di Gereja Paroki dan Pemali-bagi yang lanzia).

Jadwal Adorasi dan Pengakuan dosa setiap KBG dan Kelompok Kategorial:
nota bene (nb): selama Adorasi berjalan, bagi umat KBG yang sedang tidak mendapat giliran adorasi dapat mengaku dosa secara pribadi dengan pastor. Juga bagi umat yang mau berkonsultasi para pastor dapat melayani umat.
21.00 – 21.30                               KBG Sta. Theresia 2.
21.30 – 22.00                               KBG Sta. Elisabeth
22.00 – 22.30                               KBG Sta. Theresia 1 dan St. Petrus
22.30 – 23.00                               KBG St. Yosep
23.00 – 24.00                               OMK St. Aloysius Gonzaga
24.00 – 24.30                               CFC dan Pelayan Komuni Tak Lazim
24.30 – 01.00                               Para Fasilitator dari KBG-KBG.
01.00 – 01.30                               Para Pastor
01.30 – 02.00                               Para Suster
02.00 – 02.30                               KBG St. Fransiskus Xaverius
02.30 – 03.30                               Kelompok AsIPA Paroki
03.30 – 04.00                               KBG St. Gabriel
04.00 – 04.30                               KBG St. Don Bosco
04.30 – 05.00                               KBG St. Antonius
05.00 – 05.30                               KBG St. Vincentius
05.30 – 06.00                               KBG Sta. Maria Goretti dan Kelompok Anak dan Remaja.

Hari Sabtu, 5 Maret 2016          :
Jadwal Adorasi dan Pengakuan Dosa KBG dan kelompok Kategorial:
nota bene (nb): selama Adorasi berjalan, bagi umat KBG yang sedang tidak mendapat giliran adorasi dapat mengaku dosa secara pribadi dengan pastor. Juga bagi umat yang mau berkonsultasi para pastor dapat melayani umat.
06.00 – 07.00                               Kelompok Ibu-Ibu dan seluruh umat – Ibadat Pagi – Misa Pagi
07.30 – 10.00                               Salve – adorasi untuk semua umat yang berkenan hadir.
10.00 -  11..00                              Siswa/i Katolik SMA/K Negeri dan Swasta di Sungailiat
11.00 – 12.00                               SD dan SMP Sta. Maria Goretti
12.00 – 14.00                               KBG St. Yohanes Pemandi, St. Thomas Aquino, Sta. Sisilia dan St. Dominikus
14.00 – 15.00                               Legio Mariae Sungailiat
13.00 – 15.00                               Ibadat siang - Koronka Kerahiman Ilahi
15.00 – 17.00                               Ibadat Tobat dan pengakuan dosa untuk umum.
17.00 – 18.00                               Ibadat Sore I
18.00 – selesai                              Ekaristi Sabtu sore (Minggu Prapaskah IV).

Catatan:
Ibadat Jalan Salib akan dipakai teks Jalan Salib Kerahiman Ilahi. Teksnya akan disiapkan oleh seksi liturgi paroki. Bagi umat Pemali dan Bedukang diharapkan supaya bisa mengambilnya di sekretariat paroki pada jam kerja.
Jadwal Ibadat Tobat disediakan pada beberapa waktu baik di hari Jumat maupun hari Sabtu. Hal ini dimaksudkan supaya umat bagi menyesuaikan pengakuannya dengan waktu yang ditawarkan ini.

Doa selama Adorasi Sakramen Mahakudus memakai buku Ibadat Adorasi Ekaristi hal. 19-29 yang beberapa bulan lalu dibeli di Gereja. Karena itu, diharapkan waktu adorasi umat membawa Puji Syukur dan buku adorasi masing-masing.

Diberitahukan kepada ketua-ketua KBG dan kelompok kategorial bahwa hari Rabu, 2 Maret 2016 bertempat di aula paroki jam 16.00 wib mohon kehadirannya untuk pelatihan pemimpin adorasi dan jalan salib kerahiman ilahi dan informasi lebih lanjut lainnya.

Jadwal adorasi per setiap KBG / kelompok diberi waktu 30 menit. Karena itu, bagi KBG atau kelompok yang mendapat jadwal giliran doa adorasi diharapkan minimal 30 menit sebelum mulai adorasi sudah ada di lingkungan Gereja Paroki.

Sesuai dengan permintaan Bapa Paus Fransiskus dan Bapa Uskup Keuskupan Pangkalpinang bahwa 24 jam Gereja dibuka untuk seluruh umat Paroki, maka pada tanggal itu, Gereja kita akan dibukakan untuk umat. Karena itu dihimbau supaya bagi umat yang mau ikut kegiatan umum bersama KBG atau kelompok sebelum atau sesudah kegiatan tersebut umat diberi kesempatan untuk doa atau meditasi atau refleksi secara pribadi di Gereja.

Pondopo dan aula akan disiapkan sebagai tempat istirahat ala kadarnya bagi KBG atau kelompok yang menanti jadwal adorasinya.***