Sabtu, 13 April 2013

“BELAJAR PADA SANTA PERAWAN MARIA PENGANTARA SSEGALA RAHMAT (PSR) UNTUK MEMBANGUN KELUARGA DAN KBG”

Modul Katekes Umat, 8 Mei 2013
Pesta Pelindung Paroki Sungailiat, Santa Perawan Maria “PSR”

Pengantar
Tema umum modul ini adalah “Belajar pada Santa Perawan Maria “PSR” untuk Membangun Keluarga dan KBG.” Didalam tema umum ini termaktup dua hal, yaitu (1). diajak untuk kita membangun keluarga dan KBG dan (2). kita bisa membangun keluarga dan KBG bila kita belajar dari santa pelindung paroki kita, Santa Perawan Maria Pengantara Segala Rahmat.


Mgr. Hilarius Moa Nurak SVD resmi Gua Maria PSR Sungailiat
Walau ada dua hal yang boleh kita dapat dari tema umum ini, tetapi harus dipikirkan bahwa tema umum itu pun harus dilihat dalam konteks kekinian. Apa yang dimaksudkan dengan konteks kekinian? Bahwa tema itu dibicarakan dalam kurun waktu bulan Mei 2013. Di bulan Mei, tuntutan universal adalah Tahun Iman, karena itu dalam tema itu perlu disandingkan dengan Tahun Iman yang sudah dimulai oleh Paus Emiritus Benediktus XVI pada tahun 2012. Selain Tahun Iman, bulan Mei pun bulan Maria. Dalam konteks nasional, bulan Mei adalah bulan liturgi (Bulinas). Karena itu, tema umum tadi diharapkan mencakup pula beberapa tema khusus yang telah disampaikan itu.

Berdasarkan tema umum, modul pertemuan dibuat dalam empat subtema sekaligus empat kali pertemuan. Pertemuan pertama dengan subtema pertama terjadi tanggal 8 Mei diseluruh KBG. Artinya pertemuan pertama ini sekaligus menjadi kebersamaan untuk kita dalam KBG. Di tiap-tiap KBG serentak diadakan pertemuan dan karena itu akan ada juga pendamping tambahan yang berasal dari KBG lain jika di KBG bersangkutan tidak ada atau ada fasilitator tetapi dalam arti belum siap.

Keempat subtema itu adalah: (1). “Maria PSR : Teladan Orang Yang Beriman” (2). “Maria: Ibu Yang Berani Membuka Hati” (3). “Keluarga Katolik Dewasa ini Bercermin pada Keluarga Kudus Nasareth” (4). “Maria: Teladan Partisipatif dalam Komunitas Basis Perdana” Dalam konteks keempat subtema inilah, harus kita sadar bahwa kita patut belajar dari Maria tentang pengalaman-pengalaman hidupnya baik bersama Yesus, Puteranya maupun bersama para rasul dan para gembala serta masyarakat Yahudi pada umumnya.

Makna dan Nilai:
Belajar berarti mau menjadi murid. Dalam belajar, murid sungguh-sungguh ikutserta dalam pertemuan dan pokok pembicaraan yang dibahas. Sehingga makna dari belajar betul-betul dihayati dan nilai-nilai dari belajar bisa dihidupkan dalam setiap perjalanan hidup yang dijalankan oleh orang tersebut. Dalam konteks belajar, sesuai dengan tema umum kita, kita mempunyai dua hal dasar yaitu diajak untuk membangun keluarga dan KBG dan sebelumnya kita belajar dari Santa Maria PSR.

Belajar pada Santa Perawan Maria PSR, sesuatu yang semestinya dilakukan. Sehingga semangat pelindung menjadi semangat semua umat katolik Paroki Sungailiat. Terus terang saja bahwa, sejak saya datang ke Paroki Sungailiat (3/1/2005), belum pernah Paroki Sungailiat merayakan pesta pelindungnya, apalagi dengan katekese tentang pelindung paroki. Mungkin ini baru pertama kali. Selama ini yang sering kita rayakan adalah pesta ulang tahun paroki yang biasanya jatuh pada tanggal 16 Juli. Pesta ini konon, sebagai pesta “peletakan batu pertama pembangunan gereja” Paroki Sungailiat. Peletakkan batu yang pertama pembangunan gereja itu ternyata bukan sesungguh gereja sebagai bangunan. Namun, justru pada tanggal itu orang katolik yang pertama dibaptis di Stasi Sungailiat (16/7/1933). Waktu itu Sungailiat masih sebagai salah satu stasi Paroki Katederal St. Yosep Pangkalpinang.

Belajar pada Santa Perawan Maria, kita memulainya dengan “Maria PSR: Teladan Orang Beriman.” (Yoh.2:1-11). Maria, orang pertama yang beriman kepada Yesus. Tanpa beriman pada Yesus, tidak ada kata-kata Maria yang diucapkan kepada para pelayan. Maria bisa berkata-kata kepada para pelayan, “apa yang dikatakan kepadamu, buatlah itu”, lahir dari bukan karena kedekatan biologis tetapi karena percaya kepada Yesus. Kepercayaannya membakar semangat untuk berani mengatakan kepada para pelayan. Dan hebatnya, para pelayan pun melakukan apa yang diperintahkan kepada Yesus. Maria sungguh beriman, dan imannya telah membawa para pelayan, tuan pesta serta para tamu undangan untuk bertemu dengan Yesus. Mereka semua menyadari bahwa dalam pesta itu, ternyata Yesus hadir dan menyertai mereka. Iman tumbuh dalam diri sendiri berkat orang lain. Iman menghantar orang lain bertemu dengan Yesus. Iman, menyelamatkan diri sendiri dan sesama.


KBG Sta. Theresia 2 Pemali
Selain kita belajar pada Maria soal bagaimana iman atau beriman, kita pun belajar lagi pada Maria tentang iman atau beriman itu, semestinya sampai pada membawa perubahan didalam diri sendiri. Iman menggoncangkan diri sendiri dan berakar didalam diri sendiri. Iman atau beriman membawa perubahan yang positif. Perubahan itu adalah “Maria: Ibu Yang Berani Membuka Hati”. (Luk.2:13-20). Dalam kesederhanaannya, Maria mau menerima para tamu yang datang mengunjunginya. Dalam situasi yang miskin dan tidak punya apa-apa, keluarga kudus khususnya Maria mau menerima para gembala yang datang menemui Yesus. Kekuatan iman Maria, mengubah cara pikirnya untuk menerima siapa saja yang mau datang kepada Yesus. Dan ini ditiru Yesus selama hidupnya. Yesus mau menerima dan bergaul dengan siapa pun juga, baik yang baik dan bijak maupun yang kotor dan bodoh. Benarkah bahwa iman atau beriman membawa perubahan dalam diri sendiri seperti Maria?


Aksi Tiga Raja di KBG-KB
Dari hasil belajar “Maria PSR: Teladan Orang Beriman” dan “Maria: Ibu Yang Berani Membuka Hati” , kita coba melihat situasi keluarga katolik dalam paroki kita dewasa ini. (sejenak merenungkan keadaan keluarga masing-masing). Dari hasil permenungan sejenak, kita diajak sebagai satu keluarga untuk mengupas “Keluarga Katolik Dewasa ini Bercermin pada Keluarga Kudus Nasareth”. (Mat. 2:13-15). Ternyata untuk membuktikan iman itu kuat atau tidak, keluarga kudus Nasareth dituntut oleh kekuatan dan kekuasaan Herodes untuk mengungsi ke Mesir. Mengungsi ke Mesir dalam waktu yang singkat, sebuah perjuangan yang tidak mudah. Apalagi jalannya jauh dan menjadi orang asing disana. Karena itu, Maria dan Yusuf sekali-kali harus berjuang untuk merawat dan menjaga sang bayi Yesus. Jika “kekuatan dan kekuasaan Herodes” diandaikan dengan kekuatan dan pengaruh globalisasi dewasa ini yang menerobos masuk ke dalam keluarga katolik, apa yang terjadi? Apakah keluarga katolik harus membiarkan begitu saja? Tentu tidak! Keluarga katolik dewasa ini perlu dan harus membutuhkan “payung” yang tahan uji.

Terakhir yang patut kita belajar dari Maria adalah “Menjadi Teladan Partisipatif dalam Komunitas Basis Perdana” (Kis.2:41-47). Memang peran Maria tidak banyak dikisahkan dalam Kitab Suci kita, setelah Yesus naik ke Surga. Namun, kita perlu menggalinya dengan lebih jauh lagi. Kisah “Cara Hidup Jemaat Perdana” merupakan cara hidup yang didorong dan didukung oleh kehadiran Maria dalam setiap perjalanan hidup komunitas basis perdana. Kehadiran Maria disana, tentu membangkitkan semangat hidup para rasul dan keluarga Maria. Sehingga mereka sehati sejiwa membangun komunitas basis bahkan membawa misi keluar dari Yerusalem untuk bangsa-bangsa lain. Sekali lagi, semangat Marianis mengantar orang lain untuk berjumpa dengan Yesus, Sang Juruselamat.

Spiritualitas
Makna dan nilai-nilai yang kita belajar dari Maria, kita boleh merumuskan apa yang sebenarnya menjadi spiritualitas atau semangat Marianis untuk kita melanjutkan karya sebagai satu umat Paroki Sungailiat yang berpelindungkan Maria. Rumusan spiritualitas Marianis boleh kita deretkan satu persatu di bawah ini:

1. ....................................................................................................................................

2. ....................................................................................................................................

3. ....................................................................................................................................

4. ....................................................................................................................................

5. ....................................................................................................................................

Pastoral Gereja / Katekese Berlanjut...
Setelah kita belajar pada Maria dari subtema yang satu ke subtema yang lain, sampai subtema ke-4, satu pertanyaan dasar untuk kita “apa yang semestinya kita buat bersama-sama” untuk membangun hidup beriman dalam keluarga dan komunitas basis kita dewasa ini? Rencanakan dengan matang apa yang perlu dilakukan.

Rencana itu harus berjangka pendek dan panjang sehingga merangkul semua keluarga dan anggota KBG. Bila ini diperhatikan dan tekun untuk membicarakan rencana serta dengan sekuat tenaga mau maju membangun KBG, maka saya dan anda yakin KBG kita akan setara dengan Komunitas Basis Perdana.

Penutup
Belajar pada Maria adalah suatu pekerjaan yang mudah. Merasa sulit bila hasil dari belajar berupa makna dan nilai-nilai dipraktekkan dalam hidup. Lebih banyak berjalan dijalan Tuhan tetapi berjalan dalam kesendirian. Merasa sulit jika semangat hidup Maria yang sudah kita akui dan paham, tidak dilaksanakan baik dalam keluarga maupun dalam KBG. Jika dalam keluarga dan KBG tidak dijalankan, apakah betul bahwa dalam diri kita sungguh-sungguh dijalankan? Mari, kita terus menerus belajar pada Maria. Biar iman kita semakin hari semakin maju, berubah dalam deretan waktu. **al**

Selasa, 26 Maret 2013

PRA-RAT DAN RAT KOPDIT KABARI 2013:“SALING MELAYANI”

‘Saling melayani’, itulah tema Pra-RAT dan Rapat Anggota Tahun (RAT) tahun buku 2012 Koperasi Kredit Karya Bersama Lestari (Kopdit Kabari) Pangkalpinang Bangka. Pra-RAT dilaksanakan pada 12 Maret 2013 bertempat di gedung Setya Bhakti Kelurahan Pasir Putih Pangkalpinang. Pra-RAT yang dihadiri sekitar 600-an anggota dari total keseluruhan anggota Kopdit Kabari 2012, 1.599 orang. Sedang RAT diselenggarakan pada 24 Maret 2013 di Hotel Aston Pangkalpinang, dari pukul 13.00-15.00 wib. Target jumlah anggota yang hadir dalam RAT sebanyak 200-an orang, namun kenyataannya hanya hadir sekitar 100-an orang.

Melayani dalam kebersamaan
Pendaftaran peserta RAT pada saat Pra-RAT
Dalam acara pra-RAT, anggota diajak untuk menikmati kebersamaan dengan sambil makan bersama ada sosialisasi beberapa hal seperti investasi tanah kavling, kepengurusan baru 2013-2015, pengundian beberapa doorprize dan informasi lain berupa pelaksanaan RAT Kopdit Kabari. Siang itu (12/3/2013) nampak berdatangan anggota Kabari ke gedung Setya Bhakti Kelurahan Pasir Putih, baik orang per orang maupun rombongan dengan menumpang mobil atau motor. Mereka adalah anggota yang menetap di beberapa daerah di sekitar Pangkalpinang dan Sungailiat. Mereka datang dan mau merasakan kebersamaan setahun sekali sebagai satu anggota dibawah naungan Kopdit Kabari yang sudah berbadan hukum sejak tahun 9 Agustus 2001.

Rasa kebersamaan itu bukan hanya dalam acara-acara yang diatur para pengurus tetapi juga suatu kesempatan kebersamaan antar anggota yang mungkin saja sudah lama tidak berjumpa. Mengobrol begitu asyik namun telinga tetap bersending selalu untuk mendengar suara panggilan undian doorprize, sehingga tidak ada yang terlewatkan. Soalnya jika dipanggil satu sampai tiga kali, tidak maju, maka nomor undian yang bersangkutan dinyatakan hangus. Asyik mengobrol namun mulut tetap merasakan makanan khas Bangka, sehingga para anggota tidak saling mengeluh. Satu hal yang menarik dari obrolan itu, tentu sama-sama berharap agar anggota pun selalu mempunyai komitmen untuk saling melayani dengan rajin menabung, mengangsur, dan meminjam. Acara pra-RAT berakhir pada jam 15.30. wib. Para anggota pun pulang dengan wajah penuh kegembiraan. Mukin servive pra-RAT sangat membanggakan anggota apalagi ketika pulang membawa kado menang undian berupa kulkas, tv, happy call, dll.

Melayani dengan adil
Rapat Anggota Tahunan (RAT) merupakan suatu kesempatan tiap tahun untuk anggota menjalankan hak suaranya dalam forum resmi sebagai anggota sah Kabari. Bapak Ignasius Sumardi, wakil BK3D Pangkalpinang, dalam kata sambutan RAT Kabari di Hotel Aston (24/3/2013) mengetengahkan prinsip dasar jati diri koperasi. Mardi, yang biasa disapa sehari-hari, lebih lanjut mengungkapkan bahwa RAT adalah kesempatan semua anggota menjalankan prinsip jati diri kopdit.

Skors minum setelah sidang I setelah
Bahwa dalam Kopdit, anggota menginves uang. Uang lalu dikembangkan. Perkembangannya itu dinilai sehat atau tidak bila dianalisa melalui analisa PEARLS (Protection, effective financial, asset quality, rates retur and costs, liquidity, dan sign of Growth). Selain uang, prinsip dasar Kopdit juga adalah jati diri orang. Orang bukan modal. Persatuan orang secara suka rela mau menjadi anggota kopdit. Orang-orang itu memiliki mimpi. Mimpi setiap orang itulah yang perlu diberdayakan sehingga Kopdit hidup dan mempunyai pertumbuhan yang mantap. Pemberdayaan didalam Kopdit muncul dari suatu keprihatinan. Keprihatinan itulah yang menjadi daya dorong insan Kopdit untuk tumbuh dan maju bersama.

Sementara itu wakil Dinas Koperasi dan UKM Propinsi Kepulauan Bangka Belitung, bapak Nazir mengungkapkan bahwa peserta RAT Kabari terlihat banyak anggota yang hadir. Kursi-kursi terisi penuh, apalagi RAT diselenggarakan di hotel. Memang tidak banyak koperasi yang menjalankan RAT. Harapan Nazir, mudah-mudahan kehadiran anggota yang ada saat ini adalah bisa mewakili suara dari anggota-anggota yang tidak hadir sekarang.

Suasana ruang pertemuan menjadi diam, setelah RAT dinyatakan bapak Nazir dibuka. Kadang terdengar suara tepuk tangan. Namun suara tepuk tangan itu, tidak terlalu lama terdengar. Mungkin peserta kedinginan karena AC. Tepuk tangan dan sedikit yel-yel yang dibawakan oleh Ignasius Sumardi dan pemimpin sidang RAT, Andreas Budiono sebagai olah tangan-penghangat badan yang lagi diselimuti dinginnya AC.

RAT menjadi ramai kembali ketika peserta diberi kesempatan oleh pemimpin sidang untuk mengajukan bertanyaan atas presentasi laporan yang dibawakan oleh F. Darmanto (bendahara), Y. Widodo (ketua pengawas), A. Lioe Men Kie (ketua tim kredit), T. Lioe Na Wie (ketua proyek tanah kavling), dan Pascal Joemadi (ketua pengurus) tentang sasaran, strategi dan kegiatan yang direncanakan pada tahun 2013.

Peserta RAT dalam ruang Hotel Aston
Nampak bahwa ada banyak anggota yang tidak bertanya. Hanya beberapa anggota yang bertanya soal mengapa dana cadangan umum, khusus, dan resiko dimasukan menjadi satu dana cadangan yaitu cadangan resiko. Juga ada yang bertanya soal mengapa Simpanan Hari Tua Indah (SIMPHATI) mulai 2013 ditutup dan yang sudah berjalan selama ini terus berjalan? Quo vadis dengan produk Kabari semacam ini? Menawarkan produk kepada anggota tetapi belum matang dianalisa dengan baik, sehingga terkesan hanya satu saja jalannya, dihapus! Apakah hanya dengan jalan dihapus? Padahal bisa saja persentasinya diturunkan dan batasi anggota membuka simpanan ini selama tahun, atau dengan cara lain yang mungkin diusul oleh anggota lain. Produk semacam ini menjadi nilai jual bagi anggota. Mudah-mudahan saja, pengurus tidak mencari jalan lain dengan “mengasurasikan” simpanan anggota di asurasi-asurasi swasta.

Bahkan ada anggota sampai meminta supaya Bab II, pasal 5 ayat 6 yang tertulis ‘dipilih mana lebih kecil’ dihapuskan. Karena tulisan itu mengganggu pemikiran anggota bahwa BJS atau BJP selalu dipilih untuk dibagi kepada anggota yang paling kecil. Diskusi menjadi hangat. Jawaban yang diberikan beberapa pengurus belum memuaskan anggota. Terasa bahwa banyak anggota tidak paham benar dengan nilai perhitungan semacam ini. Mengapa? Apakah anggota masa bodoh dengan nilai-nilai perhitungan itu? Tidak! Justru anggota percaya kepada pengurus. Percaya bukan meyakini. Percaya terberesit nilai mendidik. Disinilah pola pikir yang harus dibentuk bahwa pendidikan itu penting. Sehingga anggota pun tahu dan paham akan hitung-menghitung anggka yang ada didalam laporan bahkan menghitung analisa PEARLS.
Skors pengurus lagi diskusi kecil
Dalam kebingungan anggota yang diselimuti suasana yang dingin didalam ruang itu, muncul pemikiran bapak Ignasius Sumardi, salah seorang aktifis koperasi di Pangkalpinang, memberikan dasar pemikiran tentang empat rasa keadilan yang harus dipikirkan Kabari. Keempat rasa keadilan itu adalah rasa keadilan untuk lembaga dan jaringan kerja, rasa keadilan untuk anggota, rasa keadilan untuk karyawan/wati dan rasa keadilan untuk para pengurus. Kita tentu berharap, buah-buah pemikiran semacam ini direnungkan dan dihayati sebagai insan koperasi yang bersama-sama saling melayani.

Selain peserta bertanya soal beberapa hal tadi, masih ada anggota lain lagi yang mencoba menajamkan lagi dengan bertanya, melalui pertanyaan yang sederhana ‘mengapa uang disimpan di bank begitu besar?’ Ini menandakan Kabari untung atau rugi? Memang, pertanyaan semacam ini, sudah mudah ditebak jawabannya, bahwa yang jelas, Kopdit untung. Namun sebenarnya bukan itulah yang dimaksud. Jika diteliti dengan saksama, bukan sebenarnya begitu, yang harus dijawab. Maksudnya ialah mengapa uang begitu banyak “tidur” di bank? Apa usaha dari pengurus supaya uang tidak terlalu banyak disimpan di bank? Karena sekitar 7M lebih di bank, tentu pajak dan biaya administrasi pun besar, bisa saja potongan di bank mampu untuk satu orang meminjam. Bagi si penanya, semestinya lebih banyak yang meminjam itu lebih bagus daripada lebih banyak disimpan.

Peminjam tahun 2012, menurut laporan Tim Kredit sebanyak 815 orang (bdk laporan hal. 5). Namun setelah diteliti dan dihitung lagi jumlah peminjam 2012 sebesar 818 orang (bdk. Laporan hal. 8), kekurangan atau salah catat dihalaman 5, terletak pada bulan Juli, sebenarnya 133 orang bukan 130 orang. Dan rata-rata peminjam lebih banyak pada bulan Juli untuk keperluan beli laptop, tv, dll dan modal operasional kerja. Dan herannya tidak banyak peminjam memanfaatkan pinjaman untuk modal usaha.

Ada dua poin lagi yang harus dipikirkan dengan matang. Pertama, ketika para pengurus mengajak anggota lama untuk membawa calon anggota baru lagi. Metode AMAL tetap menjadi prioritas. Metode AMAL dulunya amal, sekarang metode AMAL akan tidak amal lagi. Karena setiap anggota lama yang akan membawa satu calon anggota baru akan dihargai tiga puluh ribu rupiah. Jadi jika satu anggota selama setahun membawa 10 calon anggota, akan mendapat tiga ratus ribu rupiah. Dulu, AMAL, selalau dipercaya. Saling percaya menguatkan komitmen AMAL tapi jika AMAL, tidak beramal lagi, tapi dihargai, apakah masih ada rasa saling percaya diantara satu anggota dengan anggota yang lainnya? Saling percaya ternyata berubah menjadi saling “menghargai” yaitu dengan “bayaran.” Maka pertanyaan muncul, apakah yang dibawa itu, calon anggota yang nantinya tidak bermasalah dalam mengangsur bila meminjam dan mengeluh dan ngotot mengancam keluar dari anggota bila pinjamannya tidak dicairkan atau dicairkan tapi tidak sesuai dengan jumlah pinjaman?

Pengurus baru periode 2013-2015 siap-siap membaca Pakta Integritas
Kedua, model RAT yang sekarang dipakai. Jujur bahwa setiap kali RAT dengan jumlah anggota yang hadir sebanyak itu, saya selalu bertanya didalam hati: apakah kehadiran anggota dalam RAT sungguh mewakili anggota lain yang tidak hadir? Karena keputusan yang diambil dalam RAT dengan jumlah kehadiran anggota demikian, ternyata jauh sekali dari kuorum yang semestinya diharapkan. Coba cara semacam ini diubah dengan membuat RAT diwilayah-wilayah. RAT diwilayah-wilayah mengandaikan ada pemetaan wilayah tempat tinggal anggota. Wilayah anggota ialah tempat tinggal anggota yang berdekatan baik dalam satu wilayah kelurahan/desa atau kecamatan. Jika pemetaan wilayah ini sudah dibuat maka pengurus bisa mendampingi anggota per setiap wilayah. Pembagian berdasarkan wilayah sangat membantu koordinasi dalam pendidikan anggota, kontrol pinjaman, dan mudah membangun relasi antar anggota. Walau demikian, ini tidak gampang. Tergantung keberanian dan komitmen pengurus untuk membuat terobosan semacam ini. Jika tidak, tidak akan membantu pengurus yang akan datang. Atau bisa juga cara lain, yang terpenting ketika RAT, suara untuk mengambil keputusan benar-benar mewakili anggota.

Sebelum berakhir acara RAT, para pengurus baru diajak untuk berdiri di depan ruang sidang. Para pengurus baru periode 2013-2015 akan dikukuhkan dihadapan anggota dengan membuat pernyataan komitmen “Pakta Integritas” sebagai berikut:

Saya yang bertanda tangan dibawah ini, berkaitan dengan kesediaan saya mengemban tugas sebagai Pengurus/Pengawas Koperasi Kredit (Kopdit) KABARI  yang dipercayakan oleh Anggota kepada saya, maka dengan ini  menyatakan  bahwa saya :
1.      Akan melaksanakan tugas dan fungsi saya sebagai Pengurus/Pengawas secara profesional dan bertanggung jawab.
2.      Tidak akan melakukan praktek Nepotisme atau bersekongkol demi keuntungan keluarga, saudara, maupun rekan se-daerah.
3.      Tidak akan melakukan praktek Kolusi  atau bekerjasama dengan pihak/anggota lain dengan tujuan untuk memperoleh  keuntungan pribadi dan merugikan Kopdit Kabari.
4.       Tidak akan melakukan praktek Korupsi atau mengambil barang atau uang milik Kopdit Kabari dengan niat untuk kepentingan pribadi, dengan cara  mark up pembelian barang  dan cara-cara yang lainnya.
5.      Akan mematuhi dan menjalankan ketentuan/ketetapan serta kewajiban sebagai Pengurus/Pengawas dalam hal : rapat-rapat, survey/tinjauan lapangan.
6.      Akan berperan aktif dalam rapat-rapat dengan memberikan masukkan dan sumbang saran yang positif demi kemajuan dan perkembangan Kopdit Kabari.
7.      Akan mengundurkan diri apabila secara berturut-turut ..... kali tidak dapat hadir dalam rapat-rapat Pengurus.
8.      Apabila saya melanggar hal-hal yang telah saya nyatakan dalam PAKTA INTEGRITAS ini, saya bersedia dikenakan sanksi moral, sanksi administratip dan dituntut ganti rugi serta  diberhentikan sebagai Pengurus/Pengawas.


                                                                         Pangkalpinang, 24 Maret 2013.
                                                  
                                                    Nama, meterai, td,tangan
Saya yang menyatakan :  .................................................

Saksi – saksi :
1.Ketua Kopdit (periode 2013-2015)                : ................................. Yakobus Widodo.

2.Ketua Formatur pemilihan calon                  : .................................. YD. Irwanto.

3.Ketua  Kopdit (periode 2010-2012)               :................................... Pascal Joemadi

**catatan , untuk ketua yang baru, saksinya di tanda tangani oleh
     Ketua Formatur dan Ketua lama.

Tentu anggota berharap komitmen yang bersama-sama diucapkan ini, akan bersama-sama pula dihayati dan ditaati pula. Karena apalah gunanya, jika diucapkan dan dihayati tapi tidak dihidupkan dan tidak ditaati. Acara RAT kemudian diakhir dengan doa penutup dan peserta satu per satu keluar dari ruang ber-AC. Modal lima puluh ribu rupiah untuk ongkos pulang ke rumah masing-masing. Semoga RAT tahun buku 2013 masih tetap berjalan dan di ruang tidak ber-AC. ***

Rabu, 20 Maret 2013

AsIPA: Kunjungan Mgr. Hilarius Moa Nurak SVD ke Sungailiat Bangka



Bapa Uskup hadir dalam perttemuan para fasilitator Paroki Sungailiat di susteran AK, Jumat, 18 Januari 2013, pukul 16.30—18.00. Terlihat tidak galau. Terus senyum dan matanya bersinar tajam. Begitu fit fisiknya. Inilah ungkapan kegembiraan Bapa Uskup, saat muncul karena dalam pertemuan fasilitator itu ada banyak fasilitator yang hadir. Apalagi Bapa Uskup melihat kehadiran satu atau dua anak kecil berumur SD ikut hadir dalam Sharing Injil bahkan anak-anak itu ikut memilih teks atau kalimat singkat yang menyentuh hati. Bacaan Injil pada Sharing Injil adalah Markus 2: 1-12.

Ungkapan Bapa Uskup dalam sharing itu menunjukkan sikap simpati dan bangga dengan hasil penerapan 7 langkah dalam sharing Injil. Tentu, kita berharap supaya di KBG-KBG, tiap kali ada pertemuan KBG, sharing Injil dengan 7 Langkah menjadi agenda utama. Karena 7 Langkah adalah Spiritnya KBG itu sendiri. ***



JADWAL MISA TRI HARI SUCI

PAROKI ST. PERAWAN MARIA “PSR” SUNGAILIAT
BANGKA KEUSKUPAN PANGKALPINANG

Gereja Katolik Sta. Perawan Maria Pengantara Segala Rahmat Sungailiat
Jl. Jend. Sudirman No. 87/36 Sungailiat 33211 Telp. 0717-92268,
Email: sungailiatparoki@ymail.com
Kamis Putih, 28 Maret 2013:
Waktu Misa: pukul 18.00 wib

Jumat Agung, 29 Maret 2013:
Jalan Salib: pukul 08.00 wib.
Waktu Ibadat: pukul 15.00 wib.

Malam Paskah, Sabtu, 30 Maret 2013:
Waktu Misa: pukul 19.00 wib

Minggu Paskah, 31 Maret 2013:
Waktu Misa: pukul 08.00 wib.

Gereja Katolik Sta. Theresia dari Kanak-kanak Yesus Stasi pemali,
Jl. K.H. Agus Salim Pemali Sungailiat Bangka

Jumat Agung, 29 Maret 2013:
Waktu Ibadat: pukul 15.00 wib

Minggu Paskah, 31 Maret 2013:
Waktu Misa: pukul 17.00 wib.

Catatan: untuk Stasi Pemali, misa Kamis Putih dan Malam Paskah terjadi di Pusat Paroki. Jadi semua umat diharapkan untuk ikut misa di pusat paroki, sebagai tanda persatuan dengan umat paroki yang lain.
Sungailiat, 20 Maret 2013
Ttd.
Alfons Liwun




Sabtu, 05 Januari 2013

KAMI DATANG DARI TIMUR UNTUK MENYEMBAH SANG RAJA BARU



Yerusalem, kota yang sekarang diperebut oleh dua negara (Israel dan Palestina) Kota ini kini menjadi bulan-bulanan. Karena di kota itu, terjadi peperangan yang besar dari zaman dulu hingga dengan sekarang ini. Terkadang menjadi pertanyaan: mengapa kota Yerusalem ini terus menerus diperebut oleh para penguasa?

Bacaan pertama (Yes. 60: 1-6), pada minggu ini mengetengahkan seruan Yesaya mengenai Yerusalem, kota yang sekarang diperebut banyak orang. Yesaya menandaskan bahwa di Yerusalem akan muncul kemuliaan Tuhan. Dan benar bahwa seorang Raja Baru muncul di Yerusalem. Raja baru ini akan menjadi terang yang bercahaya menerangi bumi. Terang itu telah ada, dan akan terus ada.

Terang itu, dalam bacaan kedua (Ef. 3: 2-3a, 5-6), diungkapkan sebagai pembuka rahasia. Dan rahasia itu diwahyukan didalam diri seorang putera yaitu Yesus sendiri. Ia menampakan diri-Nya dan para bangsa akan menjadi pewaris perjanjian itu. Dan dengan perjanjian itu bukan hanya orang Yahudi saja yang menjadi pewarisnya tetapi seluruh umat yang percaya akan Injil dan setia pada perjanjian Allah itu yaitu setia pada iman akan Kristus.

Bukti bahwa seluruh umat akan percaya akan Injil dan setia pada perjanjian Allah, terberesit dalam Injil Matius (Mat.2:1-12). Matius menampilkan Yesus sebagai Raja Baru, perjanjian Allah yang dipercaya oleh seluruh umat. Buktinya, tiga sarjana dari wilayah Arab-Persia datang untuk mencari dan menyembah Sang Raja Baru.

Berfokus pada tiga majus dari timur yang berani mencari Yesus dengan ditemani bintang, kita pun harus berani dan gigih mencari Yesus dalam perjuangan hidup kita. Mencari dan jika menemukan-Nya, kita menyembah Dia. Kita menjadikan Yesus, fokus hidup kita. Kita menjadikan Yesus, pendorong misi dalam karya kita. Dan dengan begitu, hidup kita adalah terang Kristus dan karya kita adalah cahaya Kristus bagi sesama kita. ***

Sabtu, 10 November 2012

GO, YOU ARE SENT FORTH! FOLLOWING JESUS IN MISSION: SMALL CHRISTIAN COMMUNITIES SERVING AND MINISTERING


AsIPA General Assembly VI
Chintana Center, Nainamadama, Sri Lanka 18-24 October 2012

FINAL STATEMENT

1.      COMING TOGETHER
1.1. We the participants of the AsIPA General Assembly VI of the Asian Integral Pastoral Approach (AsIPA) - 57 lay people, 71 clergy, 11 bishops, 12 religious from 16 countries (Bangladesh, India, Indonesia, Korea, Malaysia, Mongolia, Myanmar, Pakistan, Philippines, Singapore, Sri Lanka, Taiwan, Thailand; also from Germany, South Africa, Switzerland) came together here at Chintana Center, Nainamadama in Sri Lanka from 18-24 October 2012, to share our experiences, to deepen communion among us and to reflect on the theme of mission.
1.2. The Federation of Asian Bishops’ Conferences Office of Laity and Family (FABC OLF), AsIPA (BEC) Desk and participants of this assembly express our deep gratitude to the Church in Sri Lanka, especially the local organizers of this event led by the Most Reverend Kingsley Swampillai, Bishop of Trincomalee, for the warm hospitality extended to us, the efficient rendering of logistic and technical support and the edifying experience of Church as communion evident in the daily process of the assembly and especially through the exposure in the Small Christian Communities/Basic Ecclesial Communities (SCCs/BECs) in the dioceses of Chilaw, Kurunegala and Colombo. We also thank our host diocese, Chilaw, especially Most Reverend Valence Mendis, Bishop of Chilaw for the warm welcome extended to us.
1.3. We also would like to thank the Papal Nuncio His Excellency, Joseph Spiteri for gracing our event and imparting a Papal blessing. We remember with gratitude the late Bishop Oswald Hirmer for journeying with us till his death on 5 March 2011. We deeply appreciate Most Reverend Bishop Emeritus Fritz Lobinger for accompanying us. We thank Propaganda Fidei and MISSIO for long years of friendship and support.
1.4. It is providential that we could gather in the midst of important events and celebrations in the Catholic Church all over the world: the 50th year of Vatican II, the 20th year of the Catechism of the Catholic Church, the Year of Faith October 11 2012 – November 2013), the Synod of Bishops on the New Evangelization for the Transmission of Faith and the 40th anniversary of the FABC. We hope that our ecclesial gathering here in Asia contributes to the discernment and renewal happening in the universal church as it strives to be more faithful to Jesus and at the same time responsive to the challenges of our world.
1.5. We are conscious of the painful realities that continue to exist in some of our countries but are also encouraged by the positive developments we have strived hard to achieve. We are aware of the abject and ever deepening poverty even as we acknowledge how extensive economic growth has benefitted our people especially the poor and the young. We are heirs to ancient traditions and bearers of cultures so varied and rich and we are so saddened by the threat and damage to our Asian cultures brought about by materialism, secularization and individualism that accompanies distorted economic development, together with the negative effects of migration and globalization. We are pained by the growing fundamentalist tendencies in some religious traditions even as great strides have been made in inter-faith harmony and solidarity. We are appalled by the continued existence of corrupt governments, politicians, judiciary officials, administrators and businessmen; the degradation of our women, young girls and even children, even as people especially through peoples’ and non-governmental organizations have become more ardent in promoting human rights and social justice.
1.6. It is to be admitted that many problems exist in the church. Clericalism and hierarchical dominance as well as the apathy of a majority of the baptized to the mission of the Church continue to exist. However we have seen much growth in grassroot Christian communities, in the way they live their faith.
1.7. In the midst of these socio-political and religious realities, we in this 6th AsIPA General Assembly took upon ourselves the theme: “Go, You are Sent Forth. Following Jesus in Mission: Small Christian Communities Serving and Ministering”.  We wanted to seriously take the challenge of responding to the local as well as global realities that are experienced in the daily lives of our peoples in grassroot settings and make our SCCs/BECs sincerely follow the footsteps of Jesus in our life of communion and mission.

2. JOURNEYING IN FAITH
2.1. In our on-going faith journey towards a participatory church, we looked critically into our work in AsIPA by going through the research done in SCCs/BECs in five parishes from five dioceses in five Asian countries that have been using AsIPA to build up a participatory church.
2.2. In the spirit of the theme of the 5th AsIPA General Assembly: “Bread Broken and Word Shared”, we saw in the research data how our SCCs/BECs live as Eucharistic communities - people growing in their faith and life of discipleship, in their relationships within the family, in the neighborhood, in their involvement in parish life and especially in their participation in Eucharistic celebrations. They see this growth as a direct result of their regular sharing on the Word of God and the constant effort to live the Christian faith.
2.3. However, the research findings on the AsIPA process made us realize that in the life of the SCCs/BECs, we need to give greater emphasis to the area of mission. Although certain efforts towards reaching out to neighbours in need and joining neighbours of different religious traditions in social events (such as weddings, birthdays, feasts, burials) are made, much of these are done as individual efforts. The growth in spiritual life achieved in the SCCs/BECs has yet to sufficiently flow into active mission towards the needy, marginalized, oppressed and people of other faiths.  
2.4. The country reports presented in the assembly also affirmed the results of the research and highlighted new initiatives taken in the SCCs/BECs. Gospel Sharing continues to invite people into a more faithful following of Jesus. Formation and awareness programmes continue to be designed to deepen people’s understanding and living out of the faith. Additional training for new parish formation teams and diocesan teams is being done. Increase in the attendance and participation in Eucharistic celebrations is noted. Strengthening of political and social action in SCCs/BECs is also reported.
2.5. Some new initiatives were noted in the following areas: focusing on the formation of the clergy and religious, as well as the youth; new bible formation programmes and bible sharing methods; new areas of ministry such as those serving prisoners and migrants; restructuring parish life, Parish Pastoral Councils and leadership systems to serve the Church in the neighbourhood.
2.6. The most inspiring part of our journey here in the AsIPA General Assembly VI was the exposure experience in twenty one parishes. They showed how the AsIPA methodology helped the people to be rooted in the Word of God. It also revealed that a sense of belonging as Church had increased and they experience a greater level of Christian communion. Familiarity and knowledge of the bible has increased among the people and they are learning to seek answers to their struggles in the light of the Word of God. We were inspired by the family-oriented leadership and touched by the culture in the daily lives of people, in their joys, hopes and celebrations.

3. FOLLOWING JESUS IN MISSION
3.1. God has called us not as individuals but as a community (LG,9). Through baptism the Lord has invited and commissioned all the faithful to be at the service of the Church and humanity (cf. 2Pet.2:9; LG,31; AA,3).
3.2. We affirmed that SCCs/BECs are a force for mission and evangelization in the Church and they are an effective means of promoting communion and participation (RM,51;EA,24,25). SCCs/BECs are “solid starting points of a new society based on a civilization of love” (RM,51).
3.3. Faith has to be lived, shared, witnessed to and proclaimed simultaneously. One should not think that SCCs/BECs are just programs and activities but are to be experienced as a participatory Church in our daily life. In a situation where human dignity and environmental ecology are not respected, the life and mission of SCCs/BECs should flow from a deeper sense of charity and social justice towards the building up of God’s kingdom.
3.4. Being sensitive to Asian realities - multi-religious, multi cultural, multi-lingual – we are called to link our SCCs/BECs with people of other faiths so that SCCs/BECs can become salt and light to the world (cf.Mt.5:13-16).  The people of other faiths are our neighbours and the Lord has given us the command to love our neighbours as ourselves (cf.Lk.10:29-37). In response to the Lord’s command, SCCs/BECs in the long run can help in developing small neighbourhood/human communities. These communities promote peace, justice and harmony in society.

4. SERVING AND MINISTERING
4.1. Since the church is communion, there should be participation and co-responsibility in mission and ministries. The multifaceted Asian realities create unique ministerial situations in Asia that call our SCCs/BECs to evolve new forms of pertinent ministries. Moreover many Asian countries have their own unique problems, which demand contextual ministries. The ministry of healing, dialoguing with other Christians and people of other faiths, helping migrants and internally displaced people, providing homes for orphans of war, empowering abandoned women, fighting against nuclear power, working for justice, peace and reconciliation, defending the rights of individuals, groups and nationalities, creating new opportunities for the unemployed, fighting against corruption, ministering to youth gone astray, taking care of the abandoned elderly, are some examples of such new ministries. Thus an explosion of lay ministries is experienced in the churches of Asia thanks to the SCCs/BECs which have become the birthplace of such new ministries, enfleshing in our time the Pauline understanding of the Body of Christ (cf.1Cor. 12).
4.2. Many new ministries cannot be satisfactorily done at the level of the SCCs/BECs alone. National and diocesan SCCs/BECs teams should enable more networking with other SCCs/BECs within the local church and even across the world as well as joining hands with other agencies working in the same direction.
4.3. New ministries are emerging as a response to the needs of the time and place and are essentially spontaneous and local. Ministries are to be exercised at different levels – SCCs/BECs, parish and diocese - and must be done as a team so that we avoid individual domination and eliminate the fear of creating parallel structures to that of ordained ministries. These ministries must be practiced on a rotating basis so that many get a chance to participate and the local church becomes truly a participatory church. These new ministries demand proper training and formation so that ministers become truly equipped followers of Jesus in mission (cf. Eph. 4:7-16).
4.4. In animating and forming these new ministries that emerge from the interaction of SCCs/BECs and the contextual realities of Asia, the role of bishops, priests and religious is vital. It should be that of enabling. They become ‘servant leaders’ and ‘people growers’. They inherit the vision of a participatory church in their formation and are equipped with the skills necessary to become enabler priests and religious (cf.Jn.13:1-20, Mk 10:35-45).
4.5. In this way, the vision of Vatican II with regard to mission and ministries can be materialized through the SCCs/BECs. The One mission of Christ can be achieved through the exercise of a variety of ministries (AA, 2,10). The church through SCCs/BECs can truly become a communion that is sent forth following Jesus in mission; serving and ministering.

5. GO, YOU ARE SENT FORTH
As we move forward in our journey towards a participatory Church, we recommend the following.
5.1. That SCCs/BECs be called upon to become homes for migrants and the displaced as they experience a sense of loss and confusion in leaving behind their own communities.
5.2. That SCCs/BECs, while fighting the consumerist and individualistic values brought about by globalization, be called to embrace the people who are affected by it and work hard to bring them into the civilization of love.
5.3. That SCCs/BECs realize that one of their important duties is to form good social and political leaders with Christian values and vision, in a society where we see corruption at various levels of leadership,
5.4. That SCCs/BECs be called to work for Christian unity (ecumenism) and be agents of interfaith dialogue within families and in the neighborhood in the context of religious pluralism.
5.5. That SCCs/BECs facilitate a deeper ownership of the vision of a participatory Church and co-responsibility.
5.6. That Church and SCC leaders recognize the gifts and talents of all, to build up the body of Christ by exercising an enabling leadership style.
5.7. That SCCs/BECs motivate the participation of non-active members such as the men and youth by listening to them first and engaging them in ways that they find meaningful. 
5.8. That SCCs/BECs members and leaders are given theological and pastoral formation so that the sensus fidelium is promoted and strengthened.  
5.9. That SCCs/BECs work hard to deepen the faith of their members by providing them better catechesis on the deposit of faith in this Year of Faith as the Holy Father invites the Church to go through a new evangelization,.
5.10. That SCCs/BECs make use of the Group Response Gospel Sharing Method and Amos Programmes whereby they can become real prophetic communities.

SCCs/BECs are sent forth to follow Jesus in mission serving and ministering. This is a long but rewarding journey that can be made only in the power of the Risen Lord. May Mary who by her presence inspired the first community of disciples to be a true community, guide and accompany our SCCs/BECs on the way to the Kingdom of God. And the Spirit of the Lord who calls us to a new evangelization, energize our SCCs/BECs towards a deeper and more courageous following of Jesus in our world. “Go, and I will be with you always until the end of time!” (cf.Mt. 28:20)