Sabtu, 01 Maret 2014

Gereja Dibangun Diatas Dasar Para Rasul



Ketika ada yang mau belajar untuk masuk menjadi anggota Gereja Katolik, saya selalu ingat akan kalimat yang diucapkan Yesus kepada Petrus. Kalimat itu demikian. “Engkau adalah Petrus dan di atas batu karang ini, Aku akan mendirikan jemaat-Ku, alam maut tidak akan menguasainya.” (Mat. 16:18).



Refleksi Atas Sabda Yesus
Ketika saya merefleksikan kalimat Yesus ini dalam keheningan, ada tiga hal yang saya temukan. Pertama, mengapa Yesus mengungkapkan kalimat ini kepada Rasul Petrus? Dalam kisah Injil Matius, diceritakan bahwa setelah Yesus dan rombongan-Nya sampai di Kaiserea Filipi, Yesus angkat bicara kepada para Rasul-Nya. Menurut kalian, siapakah Aku ini? Dan saat itu, banyak diantara mereka menyebut Yesus dengan jati diri yang berbeda-beda. Yesus dihubungan dengan para nabi dan nama nenek moyang bangsa Yahudi. Dalam situasi yang boleh dibilang, galau, si pemimpin rombongan para Rasul itu berkata kepada Yesus. “Engkau adalah Mesias, Anak Allah yang hidup.” Sebuah ungkapan mirip spontan itu, ternyata adalah sebuah kebenaran. Kebenaran yang diucapkan Petrus, Petrus mendapat gelar baru yaitu sebagai pemimpin jemaat dan diatas pundaknya itu jemaat akan dibangun secara sah.

Kedua, apa yang dimaksudkan dengan Jemaat yang disebutkan Yesus? Jemaat adalah kumpulan orang yang percaya kepada Yesus karena pemberitaan para Rasul. Kumpulan orang yang menjadi pengikut baru Yesus itulah yang dalam ekklesiologi disebut Jemaat atau Gereja. Para rasul dengan pemimpinnya adalah Petrus, adalah tiang-tiang hidup yang menyanggah hidup jemaat baru dengan warta Yesus. Petrus diangkat oleh Yesus menjadi pemimpin pertama, paus pertama dalam Gereja Katolik. Maka sampai sekarang Gereja Katolik yang begitu banyak dimana-mana, di seluruh dunia ini, Paus menjadi pemimpinnya. Paus meneruskan kepemimpinan dalam Gereja Katolik dengan mengangkat para uskup untuk memimpin Gereja-gereja lokal (keuskupan). Dan di dalam keuskupan, uskup mengangkat pastor dengan tahbisan imamat untuk meneruskan kepemimpinan di Gereja-gereja Paroki.

Ketiga, mengapa kalimat Yesus tadi ditutup dengan kalimat penegasan, alam maut tidak akan menguasainya? Yesus menyadari bahwa anggota-anggota Jemaat yang dibangun di atas para Rasul, berasal dari berbagai suku, budaya, etnis, daerah, dan lain-lain. Anggota yang plural itu, secara manusiawi, sangat rawan untuk pecah belah, entah karena kekuasaan, finansial, entimental pribadi, ataupun karena sikap-sikap yang lain yang mengarah kepada perpecahan. Namun, secara spiritual-teologisnya, semuanya itu dapat dihalaukan karena Yesus Kristus adalah pusatnya dan janjinya senantiasa menyertai Jemaat-Nya. “... akan diberi nama Imanuel-Allah menyertai kita” (Mat. 1:23), “Dimana dua atau tiga orang berkumpul dalam nama-Ku, disitu Aku ada ditengah-tengah mereka” (Mat. 18:20), dan “... Aku menyertai kamu senantiasa sampai akhir zaman” (Mat.28: 20). Janji Yesus untuk menyertai Jemaat-Nya ini, tentu akan membuat segala bencana dan petaka, baik dari dalam diri Jemaat maupun dari luar Jemaat akan dihalaukan oleh Yesus Kristus. Biduk Rasul Petrus akan sampai pada tujuan yaitu Rumah Bapa dengan selamat.

Dari ketiga hal dasar ini, kita boleh bertanya diri, “mana sih Gereja yang dibangun oleh Yesus?” Sebuah barang yang asli, tidak gampang orang membawa keluar dari tempatnya lalu ditawarkannya kepada orang-orang di pinggir-pinggir jalan. Karena efeknya jelas, orang akan mencuri atau merampok. Dan harganya tidak akan dipermainkan oleh harga-harga pasar. Dan sebaliknya, barang-barang yang diobralkan atau dijualkan di pinggir-pinggir jalan atau dari satu rumah ke rumah yang lain dan harganya boleh ditawarkan, jelas bahwa orang-barang itu adalah barang-barang palsu. Tidak original.

Benturan Keinginan dan Beriman pada Yesus
Di tengah era globalisasi yang mahadahsyat dewasa ini, persaingan antar pribadi dan kelompok atau komunitas, tidak terelakan. Pribadi dan kelompok atau komunitas yang kuat, akan menjadi penguasa baru. Sedangkan pribadi dan kelompok atau komunitas yang lemah, akan kalah dan mundur bahkan terpinggirkan. Dalam hal hidup beriman pun akan menjadi sesuatu yang terbalik, dipersoalkan. Hidup beriman bisa saja dikalahkan dan akan muncul penghayatan iman yang baru yaitu kepada keinginan diri sendiri. Yesus yang menjadi penjamin hidup, de facto diakui, namun dalam riil hidup sehari-hari, keinginan diri sendiri menjadi hal yang diutamakan. Yesus hadir dan menjadi penonton bagi hidupnya. Yesus hanya diikuti ketika hari minggu, hari-hari raya besar, dan pada masa-masa tertentu saja. Kebersamaan hanya karena rutinitas bukan karena kebutuhan keselamatan hidup bersama Yesus.

Apa Solusinya?
Berani mengambil keputusan yang jelas dalam hidup ini. Keberanian ini telah dicontohi oleh Petrus. Ia berani mengungkapkan apa yang dikatakan Roh Kudus didalam dirinya. Dengan modal keberanian ini, Yesus tahu bahwa didalam hatinya, bersinar cahaya abadi yang berasal dari Bapa di Surga. Keberanian Petrus mencerminkan keberanian Yesus. Yesus mengambil sikap jelas, diri-Nya dirampas habis-habisan oleh para algoju ketika di Taman Getsemani, ketika berada di rumah bawah tanah, ketika berada di depan Pilatus dan Herodes, ketika berada di pinggir-pinggir jalan menelusuri jalan menuju Golgota dan bahkan di atas puncak salib. Dari sikap keberanian atau dewasa ini disebut patriotisme, Jemaat-Nya pun harus berani mengambil keputusan hidup bersama Yesus dan berbuah atau hidup dalam kutukan seperti pohon ara yang tidak berbuah.

Kesetiaan pada iman. Kesetiaan telah ditunjukkan oleh Rasul Petrus, cs. Mereka setia pada Yesus hingga mati baik sebagai martir maupun mati karena dianggap sebagai penjahat dan tidak taat kepada para raja dunia ini. Kesetiaan yang diteladani oleh Petrus, cs karena mereka mau belajar dari kesetiaan Yesus kepada Bapa-Nya. Ketika Dia dihadapkan pada Pilatus, Dia sungguh berjuang untuk menunjukkan kebenaran, karena kebenaran adalah kesetiaanan-Nya pada Bapa-lah yang menyelamatkan hidup-Nya.***

Selasa, 18 Februari 2014

Photo-Photo Pra RAT Kopdit Kabari Pangkalpinang

Rapat Anggota Tahunan (RAT) Kopdit Kabari Pangkalpinang dilaksanakan pada tanggal 2 Maret 2014 bertempat di Pangkalpinang. Sebelum RAT, Kabari pun hampir tiga tahun terakhir ini melaksanakan Pra RAT, suatu kegiatan bersama seluruh anggota sebelum pelaksanaan RAT. Kegiatan Pra RAT ini, lebih pada "melempar isu". Mengapa? Karena bukan RAT tetapi melaksanakan kegiatan untuk membangun kebersamaan dengan cara makan bersama, undian berhadiah, dan mensosialisasikan beberapa informasi seadanya sebelum RAT. Pra RAT tahun buku 2013 dilaksanakan di Green Garden, 16 Februari 2014, sekaligus merayakan 25 tahun Kopdit Kabari hadir di Pangkalpinang, 15 Februari 1989. Selamat Kopdit Kabari atas tegak berdiri selama 25 tahun. 25 Tahun sangat muda, banyak tantangan dan godaan, umur demikian rasanya seperti di tengah gelombang samudra.

Anggota Pra RAT berdesakan mengikuti Registrasi, karena hujan lebat

Pra RAT diikuti orangtua, kaum muda, anak-anak. Anggota dari berbangai lapisan masyarakat
Mega, dkk lagi berpose dulu ahhhh, dari pada pusing melayani anggota yang datang membeludak registrasi
Serius ahhhh, biar cepat diundikan. Soalnya ribut benar kalau banyak orang....
Setiap anggota Registrasi mendapat nomor undian seperti ini. Nomor undian ini tidak pernah beruntung....
Sedang undian berjalan di depan, beberapa anggota sedang sibuk bertanya dan mengkritisi hasil laporan RAT. Mereka ini tidak peduli dengan undian, mereka peduli terhadap laporan RAT. Diskusi ko biar sampai RAT 2 Maret nanti bisa banyak bertanya....

Anggota Kabari cabang Sungailiat pun ikut hadir. Mereka malahan lagi membaca hasil laporan para pengurus. Sibuk John Djanu Rombang: Kok...kredit laluinya besar kali. Tapi "uang tidur pun banyak, tidur sampai ngorok kok banyak anggota yang tidak dengar ya untuk pinjam. Tetangganya menjawab: lebih bagus tidur ngorok dari pada dipinjam tapi lalai...."
Terlihat Beni Chandra mendapat undian kompor gas yang bagus merek Einstein...
Terlihat ada pengurus yang sibuk mengurus Pra RAT tetapi ada juga yang duduk sebagai penonton. Mereka adalah tim pengamat lalu lintas Pra RAT. 
Kenangan Kabari berupa payung, ketika meminjam. Tahun ini tidak ada lagi undian hadiah payung, padahal hujan di Bangka cukup banyak bahkan saat Pra RAT hujan lebat sekali, banyak anggota yang basah kuyup karena tidak ada payung.
Terima kasih Kopdit Kabari, sampai jumpa di RAT 2 Maret 2014. Salam harmoni!

Rabu, 29 Januari 2014

Arak: Penopang Ekonomi Warga Kecil



Saya memulai tulisan kecil ini dengan sebuah sharing pribadi tentang situasi ekonomi dalam keluarga saya. Keluarga saya adalah keluarga petani kampungan. Dari pagi hingga sore, pasti di kebun. Lahan garapan berpindah-pindah, setahun sekali. Hidup betul-betul sangat bergantung pada kebaikan dan kemurahan hati alam. Keluarga petani, dengan pekerjaan sampingan mengiris tuak-marak. Sebutan “tuak” karena rasanya asam kalau diminum. Sedang “marak” rasanya manis. Tuak akan disuling dengan teknologi sederhana menjadi ARAK. Sedangkan marak kalau dimasak menjadi “tnasu” (kalau masih kental) dan jika dipadatkan atau dikeringkan, orang bilang “gula doko”, atau bahasa krennya “gula lontar”.



Semua hasil penyadapan ini, kalau tidak dipakai habis dalam kebutuhan rumah tangga, maka keluarga mencari jalan keluar untuk pergi menjualnya. Tempat penjualan yang dapat dijangkau dengan jalan kaki saat itu adalah “Pasar Oka” di Oka atau lebih dekat “Pasar Belo Bare” di Desa Sinar Hading, Kecamatan Lewolema, sekarang. Tujuan penjualan hasil penyadapan lontar ini, jelas menyanggah ekonomi dalam keluarga. Maklumlah, ekonomi keluarga kami, masih selaras alam.



Sharing kecil saya di atas, kemudian saya membuat refleksi. Refeksi saya itu, saya skemakan dalam sebuah tulisan mini ini, yang mungkin membantu kita semua untuk memaknai kekayaan alam, baik itu hasil alam ala Flotim maupun hasil alam yang lahir dari imajinasi dan diungkapkan melalui kreativitas orang dulu, yang hingga sekarang menjadi budaya lokal Flores Timur (Flotim).



Kembali pada sharing saya tadi. Herannya bahwa, saat itu tidak ada satu lembaga atau orang-perorang yang melarang penjualan hasil penyadapan ini, termasuk ARAK dan tuak. Mengapa? Apakah pola berpikir orang dulu belum terlalu maju? Ataukah telah terjadi “perselingkuhan” antara si penjual dan si pembeli, sehingga sama rasa, sama suka, sama enaknya? Tentu tidak! Yang ada saat itu adalah kearifan lokal yaitu penggunaan tuak-ARAK, benar-benar sesuai dengan kebutuhan baik fisik maupun budaya dan spiritual. Tidak ada orang yang berjalan terombang-ambing di jalan karena minum tuak-ARAK. Mungkin ada tetapi itu orang gila, bukan gila karena tuak-ARAK.



Tuak-Arak: Kreativitas Nenek Moyang yang Hebat

Dari mana nenek moyang, kita tahu bahwa pohon lontar itu menyimpan banyak kekayaan yang terkandung didalam dirinya? Mungkin ini butuh ahli khusus yang membedahnya melalui penelitian yang lebih ilmiah. Yang kita tahu dan paham saat ini adalah bahwa nenek moyang kita, mampu menemukan harta karun yang begitu banyak yang ada di dalam pohon lontar, yang mampu menyanggah hidup mereka, sesuai dengan situasi mereka saat itu. Mungkin, “Rera Wulan Tanah Ekan”, menulis didalam hati mereka bahwa pohon ini akan membantu kehidupan mereka sehingga mereka beranak-binak memenuhi bumi Flotim.



Tuak-ARAK, adalah hasil kreativitas nenek moyang yang hebat, mengapa? Ada dua hal dasar yang boleh kita mengerti disini. Pertama, kreativitas nenek moyang menciptakan sarana penyadapan seperti pisau, tangga naik untuk sampai pada pucuk pohon lontar, batang bambu untuk menjadi tempat penyimpanan hasil sadapan, dan keahlian dalam pemotong “uba” (batang kecil yang keluar dari lontar jantan untuk keluarnya tuak-marak), dan alat pembersih tempat penyimpanan tuak-marak. Keahlian nenek moyang ini, tidak ada bandingnya karena air tuak-marak yang dihasilkan itu sangat-sangat bersih, dan menyehatkan tubuh orang yang minum. Minuman alami seperti ini, hemat saya sudah jarang ditemukan masa kini. Hasilnya apa, tubuh dan kesehatan nenek moyang kita, jauh lebih kuat ketimbang generasi kita saat ini.



Kedua, kehebatan nenek moyang dulu, tidak hanya sampai disitu. Mereka mampu menciptakan sarana baru lagi, untuk mengubah tuak-marak menjadi sebuah hasil domestik Flotim yang kita kenal sekarang “ARAK” dan “gula doko”. Saya bisa tahu sarana-sarana pengubah tuak-marak ini, karena nenek moyang saya juga meneruskan kreativitas ini kepada keluarga saya. Bapak saya adalah seorang petani, tetapi juga penyadap lontar dan memproduksikan TUAK-ARAK. Sampai disini, kita boleh bertanya sejenak dalam hati kita, apakah teknologi selaras alam Flotim ini, sampai sekarang masih ada? Masih berlaku? Masih harus diteruskan oleh kita generasi kontemporer ini? Mungkin sangat bijak bagi kita jika teknologi sederhana hasil rekayasa nenek moyang kita dimasukan dalam sebuah hasil kebudayaan. Karena itu, tugas kita semua perlu melestarikannya, dan untuk wakil-wakil rakyat kita di DPRD, sangat perlu membuat PERDA untuk melindungi dan mungkin mengusahakan supaya mempatenkan teknologi selaras alam ini sebagai harta budaya warga Flotim.



Tuak-Arak: Pekerjaan Sampingan Menunjang Pendidikan Anak

Ketika saya tamat SD dan melanjutkan di SMP, kebetulan di Larantuka, saya baru tahu bahwa saya disebut “anak belakang gunong”. Saya tersontak, karena yang menyebut itu dengan logat, sinis. Tapi bagi saya, tidak ada persoalan. Mengapa, saya harus jujur bahwa saya orang belakang gunong, kalau dipandang dari Kota Larantuka. Kalau saya ada di kampung, belakang gunong Mandiri, saya pun bisa katakan, mereka juga dari belakang gunong. Iya...sama-sama belakang gunong, tergantung dari posisi mana, cara kita memandang.



Tetapi bukan ini yang saya maksudkan. Yang lebih mendasar dari itu adalah bahwa ketika saya masuk SMP di Larantuka, satu kalimat yang keluar dari bibir bapak saya, “moe pana sekolah, a di hala, tuak-ARAK bisa bantu moe”. Dalam perjalanan sekolah saya, ternyata hasil pekerjaan sampingan (penyadap tuak-ARAK) mampu membantu proses pendidikan saya. Sesuatu yang luar biasa sekali. Bibir orang belakang gunong, setia pada komitmennya untuk meningkatkan proses pendidikan anaknya. Perjalanan yang luar biasa ini, semakin menguatkan saya. Sehingga satu komitmen yang hadir dalam diri saya, walau jatuh-bangun dalam melewati proses pendidikan, saya terus berusaha.



Menjadi petani adalah pekerjaan yang mulia sekali. Dan pekerjaan sampingan, penyadap lontar tidak kalah mulia. Karena mampu menghasil tuak-ARAK dengan teknologi selaras alam Flotim. Bukan hanya itu, tetapi tuak-ARAK menjadi bermakna spiritual dan budaya Lamaholot hingga saat ini. Satu hal yang saya mau tegaskan disini adalah bahwa pekerjaan sampingan sebagai penyadap lontar, mampu menyekolahkan anak-anak. Tidak gampang tetapi itulah sebuah kepastian yang saya alami, mungkin ada banyak saudara-saudariku juga mengalami hingga saat ini.



Selain itu, kerja sampingan, penyadap lontar suatu teknik kreatif orang tua untuk menyanggah ekonomi dalam rumah tangga, jika hasil kebun tidak maksimal mereka peroleh. Sebuah teknik kreativitas yang lahir dari diri sendiri, yang mampu memanfaatkan alam sekitarnya. Jauh berbeda dengan teknik kreatif orang-orang berpendidikan dewasa ini. Karena teknik kreatif orang berpendidikan, merekayasa banyak hal untuk mengelabuhi banyak orang sehingga peluang untuk berbuat salah secara sistemik, seperti korupsi semakin hari semakin merambat dalam negeri ini. Mudah-mudah hal ini tidak terjadi di negeri saya, Flotim yang tahu tentang Tuhan Yesus dan Bunda Maria.



Pohon Lontar dalam Masa Kini

Di kampung saya, Kawaliwu, Desa Sinar Hading, pohon lontar sudah mulai jarang ada. Kalau ada pun, tidak terlalu banyak seperti saya lihat di masa kecil. Mengapa? Pohon lontar yang sudah besar ditebang dan dibersihkan sebagai pengganti kayu untuk membangun rumah. Kebutuhan akan bangunan ini, semakin hari semakin besar. Dan jika pohon lontar itu tidak dilestarikan dewasa ini, satu saat akan punah. Hilang. Dan kalau hilang, teknologi sederhana-yang selaras alam tadi pun, ikut sirna, tidak berbekas lagi.



Refleksi dari hal ini, mungkin satu usul yang lebih menarik yaitu wakil-wakil rakyat di DPRD kita supaya membuat sebuah PERDA untuk melindungi pohon lontar dan sekaligus melestarikannya dengan menanam kembali pohon-pohon lontar sehingga jaringan kerja dan pelestarian teknologi selaras alam tadi, tetap terpelihara. Dan hal ini menjadi lebih menarik lagi, jika bisa dieksposkan ketika para wisatawan datang berkunjung ke wilayah Flotim. Sebuah budaya lokal, akan menghasilkan devisa untuk pembangunan Flotim.



Bukan hanya itu, hasil lain dari pohon lontar seperti seni mengayam dan lain-lain, bisa mendatangkan ekonomi keluarga dan devisa pembangunan daerah Flotim. Semua hal di atas tadi, hanya bisa dilakukan jika pemerintah dan wakil-wakil rakyat serta warga berpikir secara bijak dan kreatif untuk membangun “Lewotanah tercinta”, Flotim.



Ini satu-dua refleksi saya, yang boleh dibaca dan boleh menjadi bahan refleksi bagi siapapun lebih lanjut. Salam harmoni dari negeri diaspora. ***