Sabtu, 09 Agustus 2014

Membangun Gereja Partisipatif Melalui Sharing Injil (Pemberdayaan Fasilitator Se-Bangka Belitung)

Hari Kedua, Jumat, 1 Agustus 2014

RD. Felix Atawoolo
Pagi Jumat, 1 Agustus 2014, di Sun Jaya Hotel terlihat sepih. Sepih bukan berarti tidak ada aktivitas. Tetapi dalam sepih itu para fasilitator bergegas dari kamar masing-masing menuju ruang pertemuan. Pagi itu, RD. Felix Atawollo, Pastor Paroki Mentok, telah bersiap-siap dengan pakaian khasnya sebagai seorang imam Tuhan. Perayaan Ekaristi pagi itu didaulatkan kepada Paroki Mentok dan Tanjungpandan, paroki Mentok bertugas memimpin perayaan ekaristi dan paroki Tanjungpandan ditugaskan untuk mengatur lagu, disana ada Sr. Angelina Sinaga dan Ibu Elisabeth Erny Susanto. Misa pagi itu pun dimulai, lagu pembukaan dikumandankan dan RD. Felix berjalan menuju meja pertemuan yang dijadikan altar.

Pastor Paroki Mentok, dalam kata pengantar dan kotbahnya mengulas tentang teks Kitab Suci Injil Matius 13:54-58 tentang Yesus ditolak dari Nasaret dan bertepatan dengan tanggal itu (1/8) Kalenderi Liturgi mencatat pesta Santo Alfonsus Maria de Liguori. Dan Rd. Felix, mantan pastor rekan Paroki Sungailiat, 2004-2007, mengulas sedikit tentang materi pertemuan pada hari sebelumnya. Sedikit menyentuh riwayat hidup Santo Alfonsus, mantan pastor rekan Paroki Koba (2007-2014) ini menandaskan bahwa Santo Alfonsus adalah seorang imam, uskup dan pujangga Gereja. Dia telah menunjukkan teladannya hingga akhir hayatnya sebagai seorang imam yang baik. Lalu teks Matius menggambarkan situasi Yesus ditolak oleh orang Nasaret, karena mereka tahu Yesus itu seorang anak tukang kayu dan ibunya seorang ibu rumah tangga biasa. Menyinggung soal ‘Gereja Bagai Pohon’, RD. Felix memunculkan sebuah pertanyaan nakal untuk direnungkan para fasilitator yang hadir saat itu. Bagaimana kalau KBG itu bagai sebuah pohon atau bunga bongsai atau bunga plastik yang ada dirumah kita masing-masing. Itu artinyanya KBG diatur sesuka hati kita. Ini yang tidak boleh terjadi. Jika sekarang masih ada, inilah yang perlu diadakan perubahan. Karena KBG hidup dari Kitab Suci, Yesus Kristus, Allah Tritunggal Mahakudus.

Mgr. Hilarius Moa Nurak, SVD
Setelah selesai perayaan, seluruh peserta diajak untuk sarapan dan kemudian dilanjutkan dengan materi lanjutan Mgr. Hilarius Moa Nurak, SVD. Dalam pertemuan lanjutan itu, Bapa Uskup Keuskupan Pangkalpinang tetap berpedoman pada materi sebelumnya yaitu Gereja Bagai ‘Pohon’. Beliau menekankan bahwa sudah terlalu lama fokus perhatian kita pada struktur per struktur dalam Gereja kita. Memang ini baik. Tetapi lebih baik lagi, struktur perlu diperbaharui, supaya spiritualitas pelayanan selalu dijalankan. Inilah satu hal yang mendorong Gereja kita sehingga hasil Sinode II telah menggariskan perubahan struktur di Keuskupan Pangkalpinang turun ke bawah ke kevikepan. Sehingga komisi-komisi di keuskupan dulu, sekarang ditarik turun ke kevikepan, dengan begitu spiritualitas pelayanan semakin lebih dekat di paroki dan KBG-KBG.

Perubahan semacam ini memang beresiko, tetapi lebih beresiko lagi kalau tidak berubah. Memang ketika KBG-KBG dikembangkan ada banyak masalah yang muncul dan dari banyak masalah itu tentu menjadi penghalang untuk tumbuhnya KBG-KBG. Namun, Gereja bagaimanapun selalu terus menerus berubah (ecclesia semper reformanda). Karena lebih baik berubah daripada tidak berubah, karena akan lebih beresiko ke depannya. Menungkapkan Mgr. Hila ini terbaca sebagai ‘suara kenabian’ bagi situasi Gereja kita di masa depan.

Mgr. Hilarius Moa Nurak, SVD
New Way of Beeing Church-Cara Baru Hidup Menggereja
Mgr. Hilarius lebih lanjut menunjukkan perubahan hidup itu dalam Kitab Suci. Bahwa ternyata Yesus Kristus telah memulai hal yang baru. Yesus memulainya dengan mengajak orang-orang disekitarnya untuk bertobat. ‘Bertobatlah, sebab Kerajaan Allah sudah dekat’ (Mat. 4:17). Ternyata ajakkan Yesus ini mendapat tantangan lebih besar dari lingkungan mereka, orang Yahudi. Terhadap berubahan hidup ini, Mgr. Hila menunjukkan beberapa teks Kitab Suci yang diajarkan oleh Yesus supaya melaksanakan perubahan dalam hidup itu: Mat. 5: 38-39; Mat. 5: 43-44; Mat.  6: 1-4; Mat. 6: 19-21, dll. Lalu perubahan itu dilanjutkan oleh para Rasul Yesus. Perubahan aktivitas hidup Para Rasul terlihat secara fisik ada, sebagai contoh tempat berkumpul Gereja Perdana. Ditunjukkan para Rasul disana dengan beralih dari sinagoga-sinagoga ke rumah masing-masing para pengikut Yesus. Inilah muncul yang kita sebuah sebagai ‘Gereja Rumah Tangga’ (Kis. 2: 41-47; 4:32-37). Para rasul menyadari bahwa berubah itu sangat bermanfaat untuk hidup Gereja Perdana ke depan, sehingga lebih berkembang dan maju lagi.

Iya...benar sekali. Ternyata perubahan itu juga dilanjutkan Rasul Paulus dengan membentuk komunitas Kristen di Antiokhia (Kis.11:26). Perubahan ini yang membawa kekristenan dapat keluar dari lingkungan satu budaya kepada bangsa-bangsa lain. Rasul Paulus menjadi Rasul para bangsa.

Hal lain yang ditegaskan Mgr. Hila dalam pertemuan hari kedua, sambil mengutip buku Sri Paus Fransiskus: 'Evangelii Gaudium' adalah bahwa gerakkan-gerakkann kecil seperti ME, CFC, dan lain-lain dalam Gereja adalah sumber daya yang memperkaya Gereja. Karena gerakkan-gerakkan ini pun merupakan daya Roh Kudus. Melalui perubahan dengan muncul banyak gerakkan dalam Gereja, akan muncul mula misi Gereja. Gereja akan selalu membuka pintu bagi orang lain, bagaikan seorang Bapa yang baik yang senantiasa menunggu anaknya yang hilang pulang kembali ke Rumah-Nya (Luk. 15:11-32).

Setelah bersama fasilitator selama dua hari (31 Juli-1 Agustus), Mgr. Hila siang itu juga, langsung ke Batam, berdasarkan jadwal kunjungan pastoralnya yang telah dijadwalkan selama setahun.

Gereja Partisipatif dan Sharing Injil
Ini tema pokok yang mau digarisbawahi oleh RD. Frans Mukin, pastor paroki Katerdral St. Yosef Pangkalpinang dan sekaligus sebagai vikep Kevikepan Selatan, Bangka Belitung. Tema kedua setelah Mgr. Hila ini, disampaikan oleh RD. Frans dengan empat hal dasar dalam tulisannya untuk 50-an fasilitator se-Babel yang hadir dalam pertemuan tersebut.

RD. Frans Mukin, Vikep Kevikepan Selatan (Ba-Bel)
Pertama, Gereja Partisipatif. Gereja partispatif adalah Visi Gereja Keuskupan Pangkalpinang yang disepakati melalui Sinode II Keuskupan Pangkalpinang. Untuk membangun Gereja Partisipasi, salah satu tantangan yang muncul saat ini ialah modernitas. Moderenitas dalam banyak hal menjadi ancaman terhadap penghayatan iman Katolik. Gereja Partisipatif (GP) memberi gambaran mengenai semangat kebersamaan dalam kerja sama dan persaudaraan sejati dalam cara hidup menggereja. Gereja Partisipatif juga memberi gambaran perilaku saling membagi, dan memberi kontribusi untuk kepentingan bersama. Perilaku saling berbagi melahirkan rasa kebersamaan yang tinggi dan itu menjadi modal untuk mewujudkan tugas perutusan gereja sebagaimana dikehendaki oleh Kristus sendiri. Gereja Partisipatif yang membuka peluang kepada banyak anggota bekerja sama dan berpartisipasi. Namun, jika modernitas yang kian kuat ini dalam bentuk seperti kurang kebersamaan lagi dalam keluarga-makan bersama dalam keluarga, maka akan berpengaruh pada ketidakaktif anggota dalam hidup ber-KBG dan menggereja.

Kedua, KBG (Komunitas Basis Gerejani). Merupakan  perwujudan gereja yang kongkrit di level akar rumput, yakni di teritori-ketetanggan. KBG yang kongkrit berpusat pada Kristus, melalui Perayaan Sakramen dan Pertemuan Pendalaman Firman Tuhan, dan lain-lain. Melalui berbagai kegiatan ini, KBG akan menjadi ‘bangunan’ communion, bersosok komunitas yang mengedepankan spirit pesekutuan. KBG sebagai Wujud Gereja yang kongkrit melaksanakan misi yang diberikan oleh Kristus.

Ketiga, Membangun Partisipatif. Gereja Partisipatif adalah visi Gereja Keuskupan Pangkalpinang, ia seperti Mimpi Kehidupan Menggereja yang hendak dibawa kepada kenyataan. Partisipasi bukan sesuatu yang mudah, apalagi untuk agenda hidup menggereja. Partisipasi dan kerjasama mengandaikan kemampuan untuk berkorban demi kepentingan bersama, kesanggupan untuk tidak ingat diri, mengesampingkan kepentingan diri sendiri. Mengingat perilaku partisipastif tidak mudah dimiliki, dan harus diperjuangkan, maka memang ia harus dipelajari dan dilatih.  Belajar berpartisipasi di dalam KBG yang kecil lebih mudah dibandingkan mempelajarinya di ruang yang luas seperti Paroki. Mempertimbangkan betapa tidak mudah berlangkah menuju Visi Gereja Partisipatif, maka Sinode Keuskupan mematok sebuah Misi yang harus dilaksanakan untuk meraih Visi. Misi itu adalah Pengembangan KBG.

Keempat, Sharing Injil. KBG bukan sebuah kelompok di dalam Gereja, ia adalah Gereja itu sendiri, meskipun di tatanan akar rumput. Sebagai gereja para anggotanya berkumpul di dalam Nama Tuhan, menjadikan kehidupannya berpusat pada Kristus, melalui perayaan-perayaan Sakramen dan Sabda Tuhan yang dibaca dan direfleksikan bersama.  Tantangan dalam membangun partisipasi di dunia modern membuat orang kebanyakan lebih tertarik hidup bagi dirinya sendiri. Salah satu jalan yang ditempuh agar warga KBG sungguh dapat belajar mempraktekkan partisipasi dalam konteks kehidupan bersama sebagai Gereja adalah pelaksanaan Sharing Injil. Dalam AsIPA, terdapat beberapa Sharing Injil. Salah satunya ialah Sharing Injil Tujuh Langkah. Dengan sharing injil, anggota KBG mendapatkan inspirasi yang mendorong mereka untuk melakukan aksi nyata, partisipasi dipraktekan atau dilaksanakan melalu aksi dan program. Metode sharing Injil Tujuh Langkah, dikemas sedemikian rupa untuk memungkinkan para anggota berjumpa dengan Kristus, terutama melalui ayat-ayat yang dipetik, lalu dijadikan sebagai mutiara bagi kehidupan untuk menjadi inspirasi dan motivasi bagi pelaksanaan aksi nyata yang direncanakan nanti. Tidak ada inspirasi yang lebih sempurna untuk mendorong kepada pelaksanaan aksi atau agenda KBG selain Sabda Tuhan sendiri. Sasaran Sharing Injil adalah pertemuan pribadi dengan Kristus melalui ayat-ayat yang dipilih, yang diyakini bahwa Kristus memberi pesan kepadanya untuk sesuatu yang harus menjadi perhatiannya, oleh sebab itu Sharing Injil terus menerus dipelajari dengan baik.

Ekspos Ke KBG-KBG Paroki Sungailiat
Peserta yang terdiri dari 6 orang dari 6 paroki dan Tim SC serta peserta sebelas orang dari Paroki tuan Rumah, Paroki Sungailiat mulai jam 16.00-21.00 diutus ke KBG-KBG. http://alfonsliwun.blogspot.com/?zx=e7f1af6bd2c123b4 Peserta dari paroki tuan rumah, akan turun ke KBG-KBGnya. Tujuan kunjung ke KBG-KBG adalah supaya para peserta dapat berjumpa dengan anggota KBG-KBG. Peserta membangun kebersamaan dengan KBG-KBG yang dikunjungi mereka. Dalam kunjungan itu, peserta mengadakan Sharing Injil bersama anggota KBG-KBG. Peserta mengalami langsung Sharing Injil dengan anggota KBG. Disinilah, mereka saling belajar satu sama lain. Saling bertumbuh bersama sebagai satu anggota Gereja.

Ibu Agustina Elis, fasilitator KBG St. Don Bosco Sungailiat
Salah seorang fasilitator KBG di KBG St. Don Bosco menceritakan bahwa memang benar, disana kami saling belajar. KBG kami belum sempurna. Maka kami mau disempurnakan oleh peserta yang datang ke KBG kami. Siapa tahu peserta membawa ‘angin segar’ bagi KBG kami. KBG kami dikungjuungi oleh RD. Markus Malu, pastor paroki Regina Pacis Tanjungpandan dan Ibu Agnes Ese Belen, fasilitator dari Paroki Koba. Sebagai fasilitator Sharing Injil dalam pertemuan KBG itu, Agustina Elis, yang juga salah satu anggota Tim AsIPA Paroki, terus menceritakan bahwa saling belajar itu penting sehingga ke depan kita semakin sempurna, dan sebagai anggota KBG, akan mendorong KBG untuk lebih maju lagi. Sehingga segala masukan dari fasilitator yang berkunjung ke KBG kami, akan kami terima demi untuk memperbaiki pertemuan di KBG kami.

Mas Sulityo Benediktus, staaf sekretariat Paroki Bernardet
Lain hal dengan cerita dari seorang peserta pertemuan, Mas Sulistio Benediktus, mantan staff Majalah Berkat dan kini staff di sekretariat Paroki Bernardeth Pangkalpinang. Mas Sulist menceritakan bahwa di salah satu KBG yang ia kunjung, fasilitator KBG-nya mensharingkan pesan teks Injil begitu panjang. Banyak waktu yang tersita sehingga anggota KBG lain pun harus menunggu sharingnya. Proses Sharing Injil Tujuh Langkah, kan tidak ada rangkuman, tetapi di KBG itu, malahan fasilitator KBG itu meminta salah seorang anggota KBGnya untuk memberikan rangkuman. Inilah yang perlu diperhatikan, supaya langkah demi langkah itu, dapat dijalankan dengan baik.


Akhirnya, para peserta yang pulang dari KBG-KBG, tempat ia diutus mengalami banyak pengalaman hidup. Sebuah pengalaman yang perlu selalu disempurnakan agar tiap-tiap orang sungguh-sungguh mengalami Kristus yang bangkit itu. Acara hari kedua, diakhiri dengan membawa seribu satu pengalaman dari setiap KBG dalam mimpin indah di malam hari kedua itu. Semoga impi indah itu berdayaguna untuk feedback di KBG-KBG masing-masing di setiap paroki nanti. Salam harmoni. ***

Rabu, 06 Agustus 2014

Peserta Pertemuan Fasilitator Sekevikepan Bangka Belitung Kunjung Ke KBG-KBG Paroki Sungailiat

KUNJUNGAN KE KBG-KBG PAROKI SUNGAILIAT
01-Agust-14
KBG TUJUAN WAKTU TEMPAT NO NAMA PESERTA ASAL PAROKI KETERANGAN
Sta. Elisabeth 17.00 Ibu Afan 1 RD. Fidelis S. Atawollo Mentok  
2 Nn. Cintiawati Bernardeth  
3 Bpk. Petrus Kusnadi Belinyu  
St. Yosep 19.00 Bpk. Yosep Servino 1 Sr. Blandina Katedral  
2 Bpk. Pagar A. Tamanggor Koba  
3 Sdri. Monike Belinyu  
St. Antonius 18.00 dr. Mulyono 1 RD. Yosef Setiawan Belinyu  
2 Ibu Theresia Fani Koba  
3 Ibu Shito Katedral  
St. Petrus 18.00 Bpk. Yohanes 1 Sr. Eligia Katedral  
2 Bpk. Antonius Siagian Tanjung Pandan  
Sta. Theresia 1 18.00 Bpk. Guntoro 1 Bpk. Ignasius Sunarno Bernardeth  
2 Ibu Agustina Nona Sina Koba  
3 Sr. Anjelina Sinaga Tanjung Pandan  
Sta. Maria Goretti 17.00 Ibu Diana 1 RD. Stanis Bani Koba  
2 Sdri. Katarina Ratih Belinyu  
3 Bpk. Yohanes Mudadi Tanjung Pandan  
St. Fransiskus Xaverius 19.00 Bpk. Bambang R 1 RD. Vincent Tamba Bernardeth  
2 Bpk. Herman Mentok  
3 Bpk. Marcel Supartono Bernardeth  
St. Vincentius 18.30 Bpk. Simon 1 Sr. Ernesta, PRR Koba  
2 Bpk. Michael Bekti Katedral  
3 Bpk. Agust Supriyanto Bernardeth  
St. Sisilia 18.00 Ibu F. Cit Lan 1 Bpk. Tarsisius Sumarlan Belinyu  
2 Elisabeth Erny Susanto Tanjung Pandan  
3 Bpk. Alfons Liwun Sungailiat  
St. Don Bosco 18.00 Ibu Afa 1 RD. Markus Malu Tanjung Pandan  
2 Ibu Agnes Ese Bolen Koba  
St. Dominikus 16.00 Bpk. V. Edie Amuk 1 Ibu Indri Katedral  
2 Bpk. Silvester Mentok  
3 Bpk. Yohanes Bernardeth  
St. Gabriel 19.00 Bpk. F. Edi 1 RD. Frans Mukin Katedral  
2 Bpk. Alfin Mentok  
3 Ibu Veronika Yuliana Belinyu  
Sta. Theresia 2 18.00 Ibu Abi 1 Nn. Kristina Roulina B. Katedral  
2 Bpk. Adi Mentok  
3 Bpk. Stefanus Sutikno Tanjung Pandan  
St. Yohanes Pemandi 16.30 Kapel 1 Bpk. Thomas Sugito Bernardeth  
2 Bpk. Hartono Mentok  
3 Fr. Alfons Mentok  

Selasa, 05 Agustus 2014

Membangun Gereja Partisipatif Melalui Sharing Injil

(Pemberdayaan Fasilitator Se-Bangka Belitung)
Hari Pertama, Kamis 31 Juli 2014

Sun Jaya Hotel Sungailiat, Hotel ditengah Kota Sungailiat
Sun Jaya Hotel, yang terletak di belakang SPBU Kota Sungailiat atau di samping tugu Pahlawan Kota Sungailiat, siang itu (31/7) mulai dipadati para peserta fasilitator yang berasal dari paroki-paroki sekevikepan Selatan, Bangka Belitung. Para peserta fasilitator sebanyak lima orang setiap paroki bersama pastor parokinya, memasuki pintu gerbang Sun Jaya Hotel. Mereka disambut oleh Panitia Organizing Commitee (OC) Paroki Sungailiat, yang dikomandani oleh Bpk. John Djanu Rombang. Para peserta dipersilakan meregistrasi dan kemudian panitia mengantar satu persatu peserta menuju kamar penginapan masing-masing. Selanjutnya para peserta diantar untuk makan siang bersama. Suasana hotel siang itu, begitu ramai.

Peserta yang hadir diajak untuk melihat pameran photo turba Mgr. Hilarius Moa Nirak SVD
Candatawa memecahi suasana panas siang bolong itu. Pasalnya, dari sekian banyak peserta yang berkumpul, mereka saling bertemu kangenria karena hampir beberapa tahun belakangan ini baru ketemu lagi. Persaudaraan terlihat begitu indah. Mereka saling merangkul, cipika-cipiki, ketika saling berjumpa satu sama lain. Panitia OC terus menerus melayani para peserta yang datang. Ada peserta yang langsung diantar masuk kamar makan, dan yang lainnya mulai istirahat siang untuk siap-siap melanjutkan acara pada pukul 16.00wib yang diawali pertemuan fasilitator ini dengan misa pembukaan.

Konsebrasi para pastor bersama Bapak Uskup
Sekitar pukul 16.00 wib, para peserta sudah berkumpul di ruang metting, siap-siap untuk membuka pertemuan fasilitator se-kevikepan Bangka Belitung dengan misa pembukaan. Misa pembukaan langsung dipimpin oleh Mgr. Hilarius Moa Nurak, SVD, Uskup Keuskupan Pangkalpinang dan didampingi oleh para pastor paroki se-kevikepan Bangka Belitung; Pastor RD. Markus Malu, pastor paroki Sta. Regina Pacis-Tanjungpandan Belitung, Pastor RD. Stanis Bani, pastor paroki St. Fransiskus Xaverius Koba, sekaligus sebagai Ketua Komisi KBG Kevikepan Bangka Belitung, Pastor RD. Vincentius Tamba, pastor paroki Sta. Bernardeth Pangkalpinang, pastor RD. Frans Mukin, pastor Paroki Katedral St. Yosep, sekaligus sebagai Vikep Kevikepan Selatan, Bangka Belitung, RD. Fidelis Serani Atawollo, pastor Paroki Sta. Maria Pelindung Para Pelaut Mentok, Pastor RD. Yosef Setiawan, pastor Paroki Sta. Maria Dikandung Tanpa Noda Belinyu, RP. Bernardus Windyatmo, MSF, pastor Paroki Sta. Maria Pengantara Segala Rahmat Sungailiat, dan hadir juga pastor RD. Philipus Seran, sekretaris Uskup dan sekaligus sekretaris Pangkalpinang Integral Pastoral Approach (PIPA).

Bpk Uskup Keuskupan Pangkalpinang, Mgr. Hilarius Moa Nurak, SVD
Dalam kata pengantar misa pembukaan, Mgr. Hila, mengucapkan selamat datang para bapak dan ibu, suster dan pastor yang mau datang untuk mengikuti acara pertemuan fasilitator ini. Kehadiran kita saat ini merupakan suatu bentuk partisipasi kita. Lebih jauh, kehadiran kita ini merupakan tanda bahwa kehidupan Gereja saat ini dan akan datang, membutuhkan keterlibatan kita semua. Apalagi, visi Gereja kita adalah ‘Menjadi Gereja Partisipatif’’. Melalui visi ini, arah misi kita adalah memberikan peluang pengembangan KBG-KBG di Paroki kita. Pengembangan KBG-KBG saat ini dan ke masa depan, akan membutuhkan kita-kita ini menjadi fasilitator. Fasilitator menjadi ujung tombaknya KBG-KBG kita. Karena itu, kehadiran kita ini juga adalah tanda bahwa kita mau belajar, mau meningkatkan kualitas sebagai seorang fasilitator KBG.

Bpk Uskup memotong tumpeng HUT
Setelah selesai misa pembukaan, acara dilanjutkan dengan makan bersama. Kesempatan makan bersama inilah, para fasilitator membangun keakraban dan persaudaraan dengan bapak Uskup Keuskupan Pangkalpinang, yang pada tanggal 2 Agustus merayakan 27 menjadi Uskup Keuskupan Pangkalpinang dan 43 tahun tahbisan Imamat, serta berumur 72 tahun. Kesempatan ini juga diberi kesempatan bagi seorang imam, seorang suster, dan seorang awam berbagi pengalaman perjumpaan mereka bersama bapak Uskup selama ini. Panitia OC dengan dukungan KBG Paroki Sungailiat telah menyiapkan tumpeng HUT dan kue HUT.

Bpk. Uskup, Narasumber Fasilitator se-Babel
Rangkaian acara pertemuan ini kemudian dilanjutkan pada pukul 19.00 wib dengan narasumber Mgr. Hilarius Moa Nurak, SVD. Mgr. Hila membawakan tema ‘Gereja bagai Pohon’ yang diinspirasi dari dogmatik Gereja, Lumen Gentium No. 6. Seperti dalam Perjanjian Lama wahyu tentang Kerajaan sering disampaikan dalam lambang-lambang, begitu pula sekarang makna Gereja yang mendalam, kita tangkap melalui pelbagai gambaran. Gambaran-gambaran itu diambil entah dari alam gembala atau petani, entah dari pembangunan ataupun dari hidup keluarga dan perkawinan. Semua itu telah disiapkan dalam kitab -kitab para nabi. .... Gereja itu  tanaman atau ladang Allah (lih 1Kor 3:9). Diladang itu tumbuhlah pohon zaitun bahari, yang akar Kudusnya ialah para Bapa bangsa. Disitu telah terlaksana dan akan terlaksanalah perdamaian antara bangsa Yahudi dan kaum kafir (lih Rom 11:13-26). Gereja ditanam oleh Petani Sorgawi sebagai kebun anggur te rpilih (lih Mat 21:33-43 par.; Yes 5:1 dst.). Kristuslah pokok anggur yang sejati.
Dialah yang memberi hidup dan kesuburan kepada cabang-cabang, yakni kita, yang karena Gereja tinggal dalam Dia, dan yang tidak mampu berbuat apa pun tanpa Dia (lih Yoh 15:1 -15).

Ekspresi Bpk. Uskup, mengajak fasilitator untuk melihat Gereja secara baru
Sebuah pohon itu kuat jika ditopang oleh akar yang kuat. Kalau akar sudah kuat, maka batang, cabang, ranting-ranting, daun akan subur dan akan menghasil buah-buah yang baik. Gereja bagai pohon, akar-akar pohon adalah KBG-KBG. KBG-KBG akan hidup dari Kitab Suci, Yesus Kristus, Allah Tritunggal Mahakudus. Persekutuan Trinitas, Bapa, Putra dan Roh Kudus menjadi persekutuan yang hendak dibangun dalam KBG-KBG. Model Gereja yang mendapat perwujudan konkrit dalam KBG-KBG adalah juga inspirasi dari LG No. 1-4, dimana dalam dokumen ini kita temukan fungsi Tritunggal. KBG-KBG mendapat inspirasi Trinitas sebagai model persekutuan. Supaya KBG-KBG itu dapat hidup, Sharing Injil harus dijalankan dengan baik. Sehingga akar-akar pohon yang kuat yang mampu menopong batang, cabang, ranting, daun dan buah bagaikan KBG-KBG pun harus melaksanakan Sharing Injil yang baik sehingga bukan buah yang memberi makan akar, tetapi akar-akar atau KBG-KBG-lah yang memberi makan batang, cabang, ranting, daun, dan buah. Dalam hal ini, KBG akan dapat menjalan missio ke dalam (missio ad intra) dan missio ke luar (missio ad extra).

Diakhir sesi Mgr. Hila, kembali beliau menegaskan bahwa aneka gambaran Gereja, tergantung pola pandang kita tentang Gereja. Sudah saatnya, Gereja mengutamakan communio. Communio itu mulai dari akar hingga batang, cabang, ranting, daun dan buah. Sehingga buah-buah yang nyata akan nampak menjadi misi Gereja yang nampak pula. Jika kita mengutamakan struktur, maka akan berpengaruh juga pada cara pandang kita tentang struktur.


Dalam proses sehari ini, terlihat fasilitator begitu antusias karena acara dikemas dengan baik dan berjalan dengan lancar. ***

Rabu, 02 Juli 2014

Hidup adalah Pilihan: Mau selamat atau Terus Dikuasai Setan?

(refleksi hidup hari ini dan besok)

1.   Teks Kitab Suci Matius 8: 28-34:
28Setibanya di seberang, yaitu di daerah orang Gadara, datanglah dari pekuburan dua orang yang kerasukan setan menemui Yesus. Mereka sangat berbahaya, sehingga tidak seorangpun yang berani melalui jalan itu. 29Dan mereka itupun berteriak, katanya: "Apa urusan-Mu dengan kami, hai Anak Allah? Adakah Engkau ke mari untuk menyiksa kami sebelum waktunya?"

30Tidak jauh dari mereka itu sejumlah besar babi sedang mencari makan. 31Maka setan-setan itu meminta kepada-Nya, katanya: "Jika Engkau mengusir kami, suruhlah kami pindah ke dalam kawanan babi itu." 32Yesus berkata kepada mereka: "Pergilah!" Lalu keluarlah mereka dan masuk ke dalam babi-babi itu. Maka terjunlah seluruh kawanan babi itu dari tepi jurang ke dalam danau dan mati di dalam air.

33Maka larilah penjaga-penjaga babi itu dan setibanya di kota, diceriterakannyalah segala sesuatu, juga tentang orang-orang yang kerasukan setan itu. 34Maka keluarlah seluruh kota mendapatkan Yesus dan setelah mereka berjumpa dengan Dia, merekapun mendesak, supaya Ia meninggalkan daerah mereka.

2.     Penjelasan Teks Kitab Suci:
Matius menulis kisah Yesus dan para rasul-Nya secara berurutan dalam peristiwa perjalanan berkarya. Mulai dari Yesus berdialog dengan seorang ahli Taurat yang datang untuk menjadi murid-Nya lalu ada ‘orang lain’ juga yang datang memohon supaya menjadi murid Yesus’. Ini terjadi sebelum Yesus menyeberangi danau Genasaret ke Gadara. Berarti peristiwa ini terjadi di tepi danau Genasaret.

Setelah berdilog dengan kedua orang itu, Yesus naik ke perahu lalu menyeberang danau itu. Lalu teks Injil Matius kemarin (Selasa, 1 Juli 2014), mengisahkan angin ribut di tengah danau diredahkan Yesus. Ketika angin ribut itu menghantam perahu dan terombang ambing, perahu mau tenggelam, Yesus sedang tidur. Karena itu para murid-Nya meminta Yesus untuk bangun dan menyelamatkan situasi itu.

Teks Injil Matius hari ini (Rabu, 2 Juli 2014), menceritakan Yesus sampai di seberang danau, nama tempat yang dituju itu adalah ‘Gadara’. ‘Gadara’ lebih dekat dengan ‘Garasa’ (Mrk 5:1). Jadi berbeda dengan Injil Markus dalam bab 5:2, dimana Markus menyebut satu orang kerasukan setan sedang Matius menyebutnya dua orang kerasukan setan yang datang menjumpai Yesus. Perbedaan jumlah orang kerasukan ini, tidak terlalu dihiraukan, tetapi yang terpenting fokus kedua penginjil ini mau menyampaikan apa sebenarnya yang terjadi untuk para pembaca yang beriman.

Ketika Yesus sampai di Gadara, (ayat 28), datang dua orang kerasukan itu menjumpai Yesus. Kedua orang yang kerasukan itu datang dari pekuburan. Kita tentu tahu, pekuburan itu tempat untuk orang-orang yang sudah meninggal. Mengapa kedua orang kerasukan itu berada di pekuburan? Jelas bahwa orang kerasukan setan, seluruh diri orang itu dikuasai oleh setan, si jahat. Setanlah yang menjadi raja dalam hidup kedua orang itu. Karena itu, setan akan mengantar si kerasukan itu kemana saja ia pergi. Bukan hanya itu saja, tetapi menakutkan dan sangat berbahaya bagi siapa saja yang melintasi jalan itu.

Maka disini, kita dapat pahami bahwa, ternyata setan mampu menguasai diri orang lain bahkan apa saja termasuk babi-babi pada ayat berikutnya dan mampu memisahkan si kerasukan dengan orang yang ‘waras’, orang yang tidak kerasukan. Kejahatan mampu memisahkan dari kebaikan, keadilan, kejujuran, dan kesetiaan. Kejahatan memiliki sifat ‘menular’, iya...menular kedalam kawanan babi, pejaga kawanan babi dan masyarakat Gadara. Dengan keberadaan kedua orang kerasukan di pekuburan, menandakan bahwa keduanya itu sudah diambang liang lahat. Kematian sudah dekat. Keselamatan tentu tidak akan mereka alami.

Supaya mereka selamat, ternyata kekuatan dan kekuasaan Yesus mampu mengalahkan si jahat yang ada di dalam diri kedua orang tadi. Mereka datang menjumpai Yesus. Perjumpaan dengan Yesus terjadi dialog yang sangat menarik disini. Dialog itu hemat saya merupakan dialog persuasif. Hebatnya dalam dialog persuasif itu, terkesan terjadi tawar menawar, namun Yesus walaupun ‘ikut’ tetapi tidak merasa dirugikan. Karena dalam diri Yesus, keselamatan harus terjadi agar misi-Nya selalu terrealisasi dalam dunia ini.

Dalam perjumpaan dengan Yesus, si jahat berteriak (ayat 29). Teriakan mereka mengindisikan bahwa mereka menyesal Yesus datang terlalu cepat, padahal kerajaan mereka belum terpenuhi. Maksudnya adalah bahwa kejahatan yang mereka hadirkan untuk kedua orang itu belum sampai pada kematian, si jahat masih dalam proses penyiksaan, masih diambang pintu gerbang pekuburan, sehingga ‘kerajaan si jahat’ belum terpenuhi. Sebelum kedua orang kerasukan itu mati karena si jahat, Yesus menyelamatkan mereka.

Satu hal lagi yang boleh kita pahami disini ialah, bahwa hebatnya, si jahat mengenal Yesus. Bukan hanya mengenal tetapi menyapa dan mengakui kehebatan Yesus dengan memakai kata sapaan ‘Anak Allah’. Itu artinya bahwa Yesus dikenal untuk menyelamatkan manusia yang berasal dari Allah sendiri. Yesus wujudnyata Allah yang sedang berkarya, menghadirkan Kerajaan Allah. Karena itu, apapun bentuk halangan yang merintangi hadirnya Kerajaan Allah, akan dibasmi oleh Yesus.
Ketika terjadi dialog Yesus dengan kedua orang kerasukan setan, rupanya ada di dekat situ, sekelompok babi yang sedang mencari makan (ayat 30). Yang jelas bukan babi hutan. Karena ayat berikutnya kita bisa dapat informasi bahwa kawanan babi itu ada penjaganya. Maka jelas, kawanan babi itu adalah babi peliharaan orang, ada pemiliknya yang jelas. Masyarakat Yahudi tidak memelihara babi, karena menurut peraturan mereka, babi adalah binatang yang najis, kotor, babi termasuk kuku berbelah. Karena itu mereka tidak makan daging babi.

Tetapi kenapa ada yang pelihara babi itu? Hemat saya, ada dua kemungkinan yang boleh kita hadirkan disini. Pertama, Gadara, tidak termasuk dalam wilayah Yahudi. Sehingga masyarakatnya bisa diijinkan untuk memelihara babi. Kedua, Gadara masih dalam wilayah Yahudi. Tetapi ada masyarakat yang memelihara babi bukan untuk dikonsumsikan tetapi hanya untuk dijual, untuk mendatangkan in come keluarga (sisi ekonomis). Mungkin hal kedua ini masuk akal karena kawanan babi itu selalu dikawal oleh penjaganya sehingga kawanan babi itu tidak sembarangan kemana-mana.

Pada ayat 31, para pembaca perlu membaca dan menyimak dengan teliti, sehingga tidak salah memahami ayat ini. Mengapa? Pertama, inisiatip setan-setan adalah mereka mau diusir. Itu artinya bahwa kuasa Yesus jauh melebihi kuasa jahat. Yesus mengalahkan kejahatan. Tanpa inisiatip dari setan-setan itupun, pasti Yesus akan mengusir mereka, mengalahkan mereka. Karena untuk itu pula, misi keselamatan Allah yang dihadirkan oleh Yesus bagi manusia.

Kedua, inisiatip setan-setan itu supaya Yesus memindahkan mereka ke dalam kawanan babi yang ada didekat situ. Inisiatip yang kedua ini memiliki keterkaitan dengan ayat 32. Sekali lagi, para pembaca perlu teliti disini. Jika tidak teliti, terkesan pembaca mengiyakan setan. Bahwa ternyata Yesus mengikuti keinginan setan. Sehingga berdampak negatif bahwa setan-setan itu benar masuk ke dalam kawanan babi.

Kalimat Yesus, ‘pergilah!’ Kata ini tersirat perintah untuk keluar. Perintah pengusiran yang sangat kasar. Tetapi dalam kata ‘pergilah’ Yesus tidak menyebut tujuan bahwa kemana setan-setan itu akan pergi. Yang terpenting bagi Yesus adalah bahwa setan-setan itu harus keluar dari diri kedua orang yang sedang kerasukan itu. Kalau setan-setan itu sudah keluar, jelas bahwa Yesus akan menjadi Raja dalam diri orang-orang itu. Lalu pertanyaannya, mengapa setan-setan itu masuk ke dalam babi? Masuk ke dalam kawanan babi, adalah inisiatip ketiga setan, yaitu kemauan, keinginan dan niat setan-setan sendiri. Ini taktik setan-setan yang cerdik pandai yang bisa merusak relasi baik manusia. Sehingga terlihat kerajaannya sudah kalah atau hilang bersama kematian kawanan babi namun sebenarnya belum selesai. Setan-setan masih ada, masih merajalelah dalam situasi dunia.

Efek dari taktik setan-setan yang cerdik pandai itu ialah penjaga lari terbirit-birit ke dalam kota (ayat 33). Jelas disini bahwa penjaga akan menyampaikan hal buruk kepada masyarakat, bahwa babi-babi yang dijaganya itu, sudah mati semua oleh karena Yesus. Persis, penjaga juga boleh kita sebut ‘sedang kerasukan setan-setan’ itu. Karena penyampaian penjaga yang sedang kerasukan setan itu, membuat masyarakat datang berdialog lagi dengan Yesus (ayat 34).

Hasil dialognya adalah masyarakat lebih memilih percaya kepada penjaga kawanan babi daripada Yesus. Sehingga mereka tidak mau Yesus masuk ke dalam kota mereka untuk berkarya menyelamatkan mereka. Yesus mau masuk ke dalam kota dan menghalaukan pimpinan setan-setan dalam kota itu, tetapi masyarakat lebih memilih untuk menutup diri. Masyarakat menutup diri, tidak mau menerima tawaran keselamatan Allah yang hadir dalam diri Yesus.

Dengan menolak Yesus untuk berkarya di dalam kota itu, jelas bahwa kota dan masyarakatnya tidak mau selamat. Mereka mau lebih memelihara setan-setan. Memang benar, bahwa keselamatan Allah khusus bagi orang-orang yang sungguh-sungguh percaya danmau membuka hati dan seluruh dirinya kepada Yesus. Keselamatan Allah sebuah tawaran, tetapi jika tawaran itu ditolak, jelas bahwa orang-orang tidak mau memilih keselamatan tetapi lebih memilih kemauan setan-setan.

3.     Implementasinya Untuk Hidup Hari ini:
a.    Yesus sampai dengan sekarang dan yang akan datang, masih tetap berkarya di dalam diri orang yang percaya dan menerima tawaran keselamatan Allah. Syaratnya adalah membuka hati, menerima rahmat Allah dan menyakinkan diri bahwa Yesus sedang berkarya dalam hidup kita. Ini sungguh terrealisasi dalam doa-doa, ekaristi dan sakramen yang lain serta perbuatan amal baik kita dengan tulus ikhlas.

b.   Setan-setan bisa saja merasuk setiap orang, baik yang beriman kepada Kristus, ketika lengah maupun orang yang tidak beriman kepada Kristus. Karena setan-setan memiliki kemampuan ‘menular’ baik melalui orang-orang seperti penjaga kawanan babi maupun masyarakat Gadara tadi ataupun melalui barang dan apapun bentuknya. Karena itu, waspadalah...berdirilah teguh dalam iman!

c.    Keselamatan Allah adalah sebuah tawaran bagi siapa saja. Karena merupakan tawaran, maka kita hanya diminta memilih. Pilihan kita memiliki konsekuensi dua sisi. Sisi mau selamat atau sisi tidak mau selamat. Mau selamat berarti akan mengalami kebahagian bersama Allah, tidak mau selamat berarti mau menghidupi cara setan, ‘menular’ kemana-mana, terserah setan.


Akhirnya, Yesus mau mengajak kepada kita yang percaya kepada-Nya, dengan mengatakan ‘pergilah’. Pergilah menjadi kalimat yang menarik untuk orang yang percaya kepada-Nya. Supaya orang yang percaya kepada-Nya itu mampu menularkan keselamatan bagi siapapun juga yang tidak percaya kepada Yesus dan yang sudah percaya kepada Yesus namun masih dalam kungkungan setan. Selamat menempuh karya keselamatan Allah dalam hidup kita masing-masing. **al**

Jumat, 27 Juni 2014

Mari, Belajar dari Yesus Supaya Mampu Bersyukur kepada Bapa

(refleksi hidup hari ini)

1.     Teks Kitab Suci Hari Ini: Matius 11: 25-30
25Pada waktu itu berkatalah Yesus: "Aku bersyukur kepada-Mu, Bapa, Tuhan langit dan bumi, karena semuanya itu Engkau sembunyikan bagi orang bijak dan orang pandai, tetapi Engkau nyatakan kepada orang kecil. 26Ya Bapa, itulah yang berkenan kepada-Mu. 27Semua telah diserahkan kepada-Ku oleh Bapa-Ku dan tidak seorangpun mengenal Anak selain Bapa, dan tidak seorangpun mengenal Bapa selain Anak dan orang yang kepadanya Anak itu berkenan menyatakannya.

28Marilah kepada-Ku, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu. 29 Pikullah kuk yang Kupasang dan belajarlah pada-Ku, karena Aku lemah lembut dan rendah hati dan jiwamu akan mendapat ketenangan. 30Sebab kuk yang Kupasang itu enak dan beban-Kupun ringan."

2.     Penjelasan Teks Kitab Suci:
Membaca dan merenungkan teks ini, termaktub dua hal yang mendasar. Pertama, tentang ajakan bersyukur kepada Allah (ayat 25-27). Ajakan ini telah ditunjukkan Yesus dalam doa-Nya kepada Bapa di Surga. Isi doa-Nya adalah ucapan syukur, karena Bapa telah mengutus Dia sebagai Anak-Nya yang hidup bersama dengan manusia dan makhluk ciptaan Bapa. Kedua, setelah Yesus berdoa kepada Bapa-Nya, Ia mengajak kita untuk belajar dari Dia (ayat 28-30). Tujuan dari belajar dari Dia adalah supaya mampu bersyukur kepada Bapa, karena dengan belajar dari Dia, kita umat-Nya telah diberi kuasa yang kuat.

Dalam ayat 25, terbaca doa syukur Yesus. Doa syukur Yesus itu dialamatkan kepada Bapa. Sapaan Bapa, mengungkapkan rasa keakraban, kedekatan, sahabat karip, sudah saling kenal secara lebih mendalam satu sama lain. Karena sudah saling kenal maka tidak ada rahasia (Yunani: mysterion) lagi. Dan Bapa yang diungkapkan oleh Yesus itu adalah Penguasa langit dan bumi. Menjadi Penguasa langit dan bumi berarti Bapa menjadi Pemilik tunggal seluruh alam semesta. Ketersingkapan misterion Allah itu, disebut Yesus bukan untuk orang yang bijak dan pandai tetapi justru untuk orang kecil.

Disini Yesus membedakan orang bijak dan pandai, dengan orang kecil. Maksud Yesus orang bijak adalah orang yang mempunyai pengetahuan atau orang yang berilmu. Sedang orang pandai adalah orang yang pintar atau orang yang ber-IQ (intelek). Mengapa Yesus mengapakan bahwa misterion Allah tidak disingkapkan untuk mereka ini? Jelas bahwa dalam hidup mereka, karena merasa sudah bijak dan pandai, mereka tidak lagi mengandalkan Bapa di Surga. Bahkan mereka tidak lagi mengucapkan syukur kepada Bapa, mereka lebih mengandaikan kemahiran, kepintaran, kebijaksanaan diri sendiri, ketimbang mau mendengarkan dari Bapa.

Misterion Allah dinyatakan kepada orang kecil. Maksud Yesus orang kecil adalah orang-orang yang tertindas, tak berdaya, tidak memiliki kekuatan untuk berkarya, apalagi berkuasa. Dan dalam diri orang-orang seperti inilah, Yesus mengungkapkan diri sebagai Pembela dan bersedia membuka hati untuk mendengar dan mau menyelamatkan mereka. Tujuan misterion Allah tadi supaya rahasia Bapa yang menjadi Pemiliki alam semesta itu juga akan mereka rasakan juga. Ini sikap belarasa Yesus terhadap orang-orang kecil. Sikap belarasa Yesus terhadap orang-orang kecil inilah, ditegaskan oleh Yesus kepada Bapa-Nya sebagai sesuatu yang menyenangkan Bapa (ayat 26).

Yesus memiliki sikap belarasa kepada orang-orang kecil ini, karena Dia sendiri mengenal Bapa-Nya. Yesus dan Bapa benar-benar saling kenal, terungkap dalam ayat 27: bahwa Bapa menyerahkan semuanya kepada Yesus, Hanya Bapa yang mengenal Yesus, dan hanya Yesus yang mengenal Bapa, karena itu hanya Yesus-lah yang mengenal Bapa sehingga apa yang diungkap-Nya itu adalah ungkapan Bapa-Nya.

Karena misterion Bapa hanya Yesus yang mengenal dan mengungkapkan-Nya, Yesus lalu mengajak para murid-Nya untuk datang belajar dari Dia bagaimana mengenal Bapa yang dikenal Yesus itu. Ajakan Yesus ini ternyata ditujukan kepada para murid-Nya yang letih lesu dan berbeban berat; iya...ajakan untuk orang kecil supaya datang kepada-Nya. Karena Yesus tahu bahwa dalam diri mereka yang letih lesu dan berbeban berat ini, mereka sedang menginginkan-memimpikan kelegaan, kepuasan fisik dan mental, keselamatan secara keseluruhan dalam hidup mereka (ayat 28).

Kepada orang-orang kecil ini, Yesus meminta supaya belajar dari Yesus. Tidak hanya datang diberi makan-minum lalu pulang, setelah puas tidak datang lagi. Ini bukan maksud Yesus. Yang dimaksudkan Yesus ialah datang, duduk dekat kaki Yesus, belajar bagaimana menjadi murid yang setia dan taat kepada Sabda-Nya lalu pulang menjadi pelaksana Sabda-Nya yang setia dan taat. Setelah itu datang dan menimbah lagi kekuatan dari Yesus. Sebuah proses belajar yang terus menerus-tidak terputuskan oleh situasi apapun. Proses belajar lalu melaksanakan secara terus menerus adalah sebuah ‘kuk’. Yesus memakai kata ‘kuk’, kata ini sebenarnya cocok dipasang pada leher kerbau, agar kerbau itu bisa memikul beban sehingga bisa berjalan, tanpa beban itu jatuh dan menimpah kerbau (ayat 29).

Proses belajar pada Yesus yang terus menerus ini merupakan ‘kuk’ yang dipasang Yesus. Sehingga Sabda Yesus yang ada didalam hati dan pikiran kita menjadi penuntun dalam hidup dan bertahan dalam segala badai yang menghadangi kita. Karena dalam proses belajar pada Yesus bukan dengan cara kekerasaan tetapi dengan cara lemah lembut dan rendah hati. Sikap Yesus ini pun menjadi pedoman hidup kita ketika kita melaksanakan Sabda-Nya dalam hidup kita. Melaksanakan Sabda-Nya dengan lemah lembut dan rendah hati, bukan secara fanatik dan apalagi fundamentalis. Dengan menjadi pelaksana Sabda-Nya yang bersikap lemah lembut dan rendah hati, tentu diri sendiri pun merasa aman dan nyaman bahkan orang-orang yang kita jumpapun akan mengalami ungkapan sikap kita dengan rasa yang sama. Ketika kita murid-Nya memiliki kemampuan yang demikian ini, tentu Yesus pun akan merasa senang dan bahagia. Karena proses belajar pada Dia, tidak sia-sia (ayat 30).

3.     Implementasi Untuk Hidup Kita:
a.    Banyak orang beriman rajin berdoa kepada Yesus. Namun doa-doa mereka itu dengan topik utama ‘meminta dan memohon’. Bisa jadi jarang tema doanya ucapan syukur kepada Dia. Hari ini Yesus mengajak kita untuk selalu bersyukur kepada-Nya atas apa yang diperoleh dari Dia. Syukur karena kepada saya dan anda, diajak-Nya untuk selalu bersyukur kepada Bapa-Nya. Juga bersyukur karena dalam diri Yesus, satu-satunya orang yang mengenal secara mendalam tentang Bapa. Bersyukur kepada Yesus karena dalam diri-Nya, wujud Bapa yang tak kelihatan itu menjadi nampak nyata.

b.    Cara berdoa yang baik. Bahwa doa yang baik adalah doa kepada Bapa di Surga melalui Anak-Nya, Yesus. Dan isis doa yang pertama adalah ucapan syukur setelah itu mengungkapkan isi-isi doa yang lain.

c. Menjadi murid Yesus adalah datang kepada-Nya, belajar dari kelemahlembutan-Nya dan sikap kerendahan hati-Nya. Dengan begitu, kita murid-Nya menjadi pelaku Sabda-Nya dengan sikap dan cara yang sama seperti yang ditunjukkan kepada kita. Karena apa yang ditunjukkan-Nya itu berasal dari Bapa di Surga. Hanya Dia-lah yang menjadi wujud Allah yang dekat dengan kita umat-Nya.

d.  Menjadi murid-Nya, bukan hanya sekali saja datang kepada Dia. Sekali datang kemudian menghilang. Tidak seperti ini. Yesus justru mengajak para murid-Nya untuk datang dan belajar secara terus menerus, kapan dan dimana saja. Karena Dia ada melintasi segala ruang dan waktu. Belajar daripada-Nya tidak mengenal her atau remedial atau karena gagal lalu Dia berhentikan atau dipecat. Tidak. Sikap lemah lembut dan rendah hati-Nya akan menjadi ‘rahim’ yang mampu membuat para murid-Nya merasa aman dan nyaman menjadi pelajar dan pelaku Sabda-Nya.

e.  Datang dan belajar pada Yesus bukan seperti orang bijak dan pandai, tetapi seperti orang kecil, yang polos, yang mau belajar tanpa berkomentar dan protes kepada Yesus. Sikap rendah hati, itulah yang menjadi tuntutan ‘sekolah’ Yesus.

f.  Bagaimana cara kita datang dan belajar pada Yesus? St. Hieronimus mengatakan, barangsiapa tidak membaca Kitab Suci, ia tidak mengenal Kristus. Dalam Kitab Suci, Yesus sedang berbicara kepada kita. Ia sedang mengajarkan kita tentang Sabda-Nya. Karena mengenal Kristus jauh lebih mulia daripada segala pengenalan kita yang lain.


Akhirnya, kita mau menjadi ‘pelajar’ yang tanpa mengenal remedial dan menjadi pelaku Sabda-Nya dalam hidup penuh perjuangan ini. Karena dengan menjadi ‘pelajar’ yang setia dan rajin, tentu akan dipasang ‘kuk’ yang kuat sehingga mampu menjadi pelaku Sabda Yesus tanpa mengalami kesulitan dalam hidup ini. **al**