Jumat, 20 Maret 2015

Jadwal Misa Pekan Suci 2015 Paroki Sungailiat



JADWAL PERAYAAN EKARISTI
TRIHARI SUCI PASKAH

A. Gereja Paroki Sungailiat.
1. Kamis Putih                     : Kamis, 2 April 2015
Waktu Misa : Pukul 18.00 - 21.00 WIB
Pemimpin :Rm. Budi
2. Jumat Agung : Jumat, 3 April 2015
Waktu Misa : Pukul 15.00 - 18.00 WIB
Pemimpin :Rm. Koko
3. Malam Paskah : Sabtu, 4 April 2015
Waktu Misa : Pukul 19.00 - 21.00 WIB
Pemimpin : Rm. Koko
4. Minggu Paskah : Minggu, 5 April 2015
Waktu Misa : Pukul 08.00 - 10.00 WIB
Pemimpin :Rm. Budi

B. Gereja Stasi Pemali.
1. Kamis Putih : Kamis, 2 April 2015
Waktu Misa : Pukul 18.00 - 21.00 WIB
Pemimpin : Rm. Koko
2. Jumat Agung : Jumat, 3 April 2015
Waktu Misa : Pukul 15.00 - 18.00 WIB
Pemimpin :Rm. Budi
3. Malam Paskah : Sabtu, 4 April 2015
Waktu Misa : Pukul 18.00 - 20.00 WIB
Pemimpin :Rm. Budi
4. Minggu Paskah : Minggu, 5 April 2015
Waktu Misa : Pukul 17.00 - 18.30 WIB
Pemimpin :Rm. Koko

Rabu, 18 Maret 2015

Tim KPP Paroki Mendapat Pembekalan dari Komisi Keluarga Keuskupan



Puri Shadana: Rumat Retret

Puri Shadana, rumah retret milik Keuskupan Pangkalpinang, dihiasi bunga-bunga hijau di sekelilingnya. Teduh dan tenang, aroma suasana yang terasa ketika para peserta tim Kursus Persiapan Perkawinan (KPP) separoki Bangka Belitung selama dua hari (14-15/3) menginap disana. Terdengar suara tawa para peserta yang saling berjumpa dan menikmati manuman sore sebelum acara pembekalan dimulai.

Tepat pukul 16.30 wib, para peserta diundang untuk masuk ke ruang pertemuan. Acara dimulai dengan sepatah kata dua dari RP. Aloysius Lioe Fut Khin, MSF. RP. Fut Khin begitulah sapaan khas sehari-hari oleh umat Keuskupan Pangkalpinang, mengungkapkan kepada para peserta yang hadir bahwa pertemuan selama dua hari ini, dengan tujuan menyamakan materi Kursus Persiapan Perkawinan (KPP) di setiap paroki. Karena selama ini disetiap paroki materi KPP yang diberikan ragam variasinya.

RP. Fut Khin, Ketua Komisi Keluarga Keuskupan Pangkalpinang
Selain tujuan tadi, lanjut RP. Fut Khin, anggota Kongregasi MSF asal Pangkalpinang Bangka, menyebutkan kehadiran tim dari setiap paroki ini juga sekaligus untuk penyegaran materi KPP dan kaderisasi tim KPP Paroki. Juga diharapkan agar tim-tim KPP selepas pulang dari rumah retret ke paroki-parokinya, sungguh-sungguh menjalankan tugasnya sebagai pengajar dan pendamping calon mempelai yang mau mengurus perkawinan secara Katolik. Harapan RP. Fut Khin, supaya satu anggota tim KPP hanya boleh mengajar salah satu materi KPP di parokinya. Hal ini dengan maksud agar tim benar-benar menguasai materi pengajarannya.

Selanjutnya rangkaian acara pembekalan tim KPP Paroki dimulai dengan pembicaraan seputar ‘seksualitas dalam Perkawinan Katolik' dengan pembicara dr. Clara Ramandhani Agustiawan. dr Dhani membedah tema ini dalam subtopik yang menarik: Seksualitas menurut pandangan Gereja Katolik, Anatomi dan Fisiologi Alat Reproduksi, Pemeriksaan Pra Nikah, Pengertian, Tujuan dan Pandangan Gereja Tentang KB, dan Pandangan Gereja Katolik mengenai Aborsi. Pemateri berikutnya tentang hakikat, tujuan, dan sifat-sifat Perkawinan yang dibawakan oleh RP. Fut Khin. Setelah selesai materi ini, para peserta diajak untuk santap malam bersama.

Pasutri Benny - Lusia
Setelah santap malam bersama, acara dilanjutkan dengan materi tentang komunikasi keluarga yang diisi oleh dua pasang pasutri, Bpk. Marcel - Ibu Susan dan Bpk. Benny - Ibu Lusia. Pasutri Marcel-Susan berbicara seputar membangun relasi dengan komunikasi dalam keluarga, komunikasi untuk membangun relasi, unsur-unsur komunikasi yang harus dibangun agar keluarga dapat berjalan dengan baik dan bertahan dalam segala tantangan hidup. 

Sementara Pasutri Benny-Lusia memfokuskan pada dimensi sakramental dalam komunikasi yang terungkap dalam relasi suami-isteri dan anak-anak serta anggota keluarga lainnya, dan yang lebih pokok sekaligus sebagai sumber utama relasi dalam keluarga adalah bagaimana anggota keluarga membangun relasi dengan Tuhan: kapan dan dimana saja anggota keluarga itu ada. Tak terasa, sudah malam. Apalagi lagi di luar rumah retret saat itu, hujan cukup lebat. Udara dingin menghantar peserta pembekalan materi KPP ke pembaringan tidur malam, biar besok pagi merayakan ekaristi hari minggu prapaskah keempat pada jam 06.00 wib.

Setelah merayakan ekaristi minggu pagi, peserta langsung sarapan. Pukul 07.30-09.00, RD. Fenantius Manse, mengajak para peserta untuk memahami perkawinan menurut Ajaran Gereja Katolik. RD. Manse, mengajak peserta untuk mengerti lebih baik tentang apa itu perkawinan menurut kan. 1055 dan mengetahui dua belas halangan nikah (kan. 1083-1094) bagi orang Katolik.

Peserta Tim KPP dari Paroki-Paroki SeBaBel
Setelah peserta diajak memahami perkawinan menurut Hukum Gereja Katolik, peserta diajak pasutri Suhardono-Mala melihat dan memahami materi Ekonomi dalam Rumah Tangga. Pasutri Suhardono-Mala mensharingkan banyak pengalaman yang mereka alami dalam keluarga yang berhubungan dengan ekonomi rumah tangga. Ekonomi Rumah Tangga berjalan baik dan lancar jika pasutri selalu membuat perencanaan anggaran yang disesuaikan dengan pendapatan keluarga. Rencana anggaran melebihi pendapatan keluarga itu namanya besar pasak dari tiangnya. Keluarga bisa mengalami krisis ekonomi dan karena itu, rencana untuk pendidikan anak akan terbengkelai.

Setelah peserta mendapat input tentang ekonomi rumah tangga, peserta rehat sebentar untuk makan siang. Selanjutnya, RP. Fut Khin menjelaskan materi tentang Psikologi Pria dan Wanita yang sebenarnya diberikan oleh RD. Servasius Samuel. Setelah itu, RD. Fut Khin, mengajak para peserta untuk melihat secara global tentang beberapa hal yang menjadi catatan dari para narasumber sebelumnya seperti perkawinan sakramen dan tidak sakramen, gender, siapa yang sebenarnya yang membuat perkawinan itu sah, dan lain-lain. 

Model Keluarga Kudus dari Nasaret, Menjadi model keluarga Katolik
Setelah itu, RD. Fut Khin memberikan waktu kepada Mas Sulistyo (sekretariat Paroki Sta. Bernardeth Pangkalpinang) memberikan beberapa catatan menyangkut urusan administrasi sebelum dan sesudah menikah di Gereja Katolik. Urusan administrasi kata Mas Sulistyo, di paroki-paroki masing-masing sangat berbeda satu dengan lain. Namun, menjadi catatan bahwa setiap pasangan yang menikah secara Katolik tidak langsung ikut KPP dan menikah. Pasangan yang mau menikah juga harus mengurus administrasi sebagai syarat-syarat administrasi seperti berbagai urusan lain. Urusan administrasi itu mulai dari isi formulir KPP, wajib ikut KPP, sertifikat KPP, kanonik, dan hingga mengurus tata perayaan perkawinan. Hal ini tidak bisa tidak, tentu harus diperhatikan oleh setiap pasangan yang mau menikah secara Katolik maupun nanti dicatat di catatan sipil. Urusan di catatan sipil adalah urusan pasangan masing-masing.

Sebelum ditutup acara pembekalan materi KPP ini, RP. Fut Khin menyampaikan bahwa paroki-paroki boleh menambah materi muatan lokal seperti KBG, dan lain-lain. Tetapi, yang terpenting materi-materi pokok yang sudah disampaikan tadi menjadi acuan bersama dalam KPP di paroki-paroki se-Babel. Materi-materi pokok tadi, diambil dari buku:

dengan demikian buku ini menjadi acuan bahan pengajaran dan pendampingan calon-calon yang mau menikah secara Katolik di Gereja Katolik. ***

Jumat, 27 Februari 2015

Siswa-siswi Katolik SMKN 1 dan SMAN1 Sungailiat: Sharing Injil Di Aula Paroki



Kuzuk dalam saat hening

Siang bolong pada hari Jumat (27/2) arakan sepeda motor siswa-siswi SMK Negeri 1 dan SMA Negeri 1 Sungailiat memasuki halaman Aula Gereja Katolik Sungailiat di Jalan Jendral Sudirman. Arakan siswa-siswi itu dikomandani oleh Bpk. Elias Fransiscus Sitinjak, guru PNS agama Katolik di SMKN 1 dan Bpk. Ferdiro, guru PNS agama Katolik di SMAN1 serta guru BP di SMKN1 Bpk. Ignatius Graha  Primayoga. Ketiga komandan ini dikenal sebagai fasilitator Sharing Injil. Kali ini mereka membawa 20-an siswa-siswi ke Aula Paroki untuk mengadakan Sharing Injil bersama. Terlihat siswa-siswi itu masih berseragam sekolah. Rupanya, hari panas di siang itu, tidak mengendorkan semangat mereka.

Mengapa tidak, jika saudara-saudari kita muslim hari Jumat ke Mesjid, maka siswa-siswi Katolik pun kami ajak untuk hari Jumat berkumpul di Aula untuk melaksanakan Sharing Injil, tandas Bpk. Elias Sitinjak. Lanjut Elias, Sharing Injil bukan suatu kegiatan baru bagi siswa-siswi kami, kegiatan yang selama ini kami lakukan di sekolah setiap Jumat setelah pulang sekolah selama ini, mungkin seterus kegiatan ini akan kami lakukan terus di Aula Paroki.

Peserta aktif dalam Sharing Injil
Sharing kali ini berdasarkan pada bahan Aksi Puasa Pembangunan, Minggu pertama dengan bacaan Surat Rasul Paulus kepada Jemaat di Galatia 5: 16-26. Dalam sharing itu, rasanya sangat menarik sekali, karena setiap peserta yang hadir mempunyai kemampuan untuk mengungkapkan ayat-ayat atau kata atau kalimat yang menarik dan menantang dirinya sendiri. Selain dapat memilih kata, kalimat atau ayat singkat, mereka juga mempunyai kesanggupan untuk mensharingkannya. Peserta terlihat ansusias dan dengan lugas mereka mengungkapkan apa yang mereka dengar dari Allah pada saat hening. Dan selanjutnya, mereka pun mengungkapkan aksi nyata secara pribadi yang akan mereka lakukan dalam hidup mereka, didalam keluarga, di sekolah dan di dalam pergaulan mereka setiap hari.

Membuat Rencana Aksi Nyata
Setelah selesai sharing Injil, mereka melepaskan situasi hening dalam doa dengan suasana santai sambil mengobrol dan menikmat pisang goreng dan minuman air mineral Bolesa yang telah mereka persiapkan sendiri sebelumnya. RP. Bernardus Windyatmoko, MSF mengapresiasi kegiatan ini. Rm. Koko, sapaan sehari-hari oleh Umat Paroki Sungailiat, mengungkapkan harapannya kepada para pembimbing siswa-siswi ini bahwa ke depan, bisa dijalankan terus kegiatan ini. Aula Paroki selalu terbuka. Supaya siswa-siswi ini pun akan membantu kegiatan Sharing Injil didalam KBG-KBG masing-masing, paling kurang mereka akan terlibat sebagai fasilitator juga didalam KBG-KBG mereka. Jadikanlah, sharing Injil dan setiap hari Jumat siang menjadi sebuah kebiasaan untuk berkumpul di Aula Paroki, pesan akhir Rm. Koko kepada para pendamping siswa-siswi ini.

Mendengar suara dukungan Rm. Koko, Elias pun tersenyum dan ingin membuat sebuah tekad bahwa akan melanjutkan kegiatan ini dengan mengumpulkan anak-anak Katolik di tingkat SMA-SMK Negeri dan swasta untuk melanjutkan harapan Rm. Koko ini.

Akhirnya, hanya dalam waktu yang berproseslah, tenunan rencana-rencana baik untuk membangun masa depan ‘bangunan Petrus’ ini menuju communio dengan Sang Sabda. Relasi yang baik dan terus dalam proses akan menghasilkan buah yang baik yang berasal dari Roh Kudus. Salam harmoni. ***

Senin, 23 Februari 2015

Berani Mengendalikan Diri: Itulah seorang Kristiani (Prapaskah I 2015)



Renungan Minggu Prapaskah I 2015
Bacaan I                : Kej. 9: 8 – 15
Bacaan                  : 1Ptr. 3: 18 – 22
Bacaan Injil          : Mrk. 1: 12 - 15

Bacaan pertama, dalam Kitab Kejadian menceritakan tentang Nabi Nuh sekeluarga selamat dari air bah. Nabi Nuh sekeluarga diselamatkan karena berperilaku selalu baik dan benar dihadapan Allah. Keselamatan Nuh sekeluarga inilah menjadi janji Allah kepada manusia. Bahwa tidak akan ada lagi air bah yang menghayutkan manusia. Air tidak hanya menghayutkan ciptaan Allah tetapi air juga yang menjadi tanda keselamatan manusia yang selalu baik dan benar dihadapan Allah. Dalam artian ini, fungsi air adalah akan terus membersihkan manusia sehingga manusia tetap selamat menjumpai Allah. Disinilah makna air, disatu sisi bisa menghayutkan (menghancurkan) manusia namun disini lain, makna air itu membersihkan-menyelamatkan manusia.

Rasul Petrus dalam bacaan kedua, menegaskan kepada para pengikut dan murid Yesus bahwa dulu air bah menghayutkan manusia lalu yang selamat hanya keluarga Nuh. Sekarang ini, para murid dan pengikut Yesus diselamatkan karena air baptis yang dituangkan diatas dahi-air baptis. Lebih lanjut Rasul Petrus menasihati bahwa melalui pembaptisan, orang yang sudah diselamatkan ini berjuang dengan sabar dalam hidupnya untuk mencapai keselamatan kekal dalam Allah.

Rasul Petrus memberikan contoh teladan Yesus sendiri. Bahwa Yesus yang telah mati untuk dosa manusia supaya manusia yang percaya kepada Bapa-Nya, tetap selamat. Karena itu, pembaptisan itu tidak untuk membersihkan kenajisan-dosa-dosa melainkan untuk memurnikan hati setiap orang yang beriman dalam Kristus yang bangkit untuk hidup yang baru dalam kedamaian, keadilan, kesetiaan dan membawa Kabar Sukacita kepada semua orang. Disinilah, Rasul Petrus memberikan makna air secara rohani, yaitu air yang diterima dalam pembaptisan tidak membersihkan dosa secara fisik tetapi membaharui diri, untuk tumbuh dan mekar dalam kedamaian, kebaikan, keadilan, dan berani membawa misi sukacita Yesus kepada segenap manusia.

Dalam bacaan Injil, Markus menceritakan pergulatan fisik dan batin Yesus di Padang Gurun. Yesus yang dibaptis oleh Yohanes Pembaptis, menjalankan makna air secara radikal, yaitu air yang diterima-Nya menumbuhkan ‘tunas-tunas yang subur’ yaitu Ia memiliki kemampuan diri untuk berani mengendalikan diri untuk tidak jadi dalam godaan walaupun secara fisik, Ia merasa sangat lapar. Dibalik secara fisik Ia lemah-kemanusiaan-Nya bangkit jiwa rohani, Ia yang selalu bersatu dalam Bapa, yang menguatkan Dia untuk dapat menguasai diri-Nya dan mampu menolak godaan untuk tidak mau menjadi penguasa dunia.

Disinilah, kita menemukan bahwa kekuatan pembaptisan diperjuangkan dengan sabar untuk memenangkan sebuah pertarungan keinginan diri yang bernilai pendek dan mengalahkan hawa napsu untuk berkuasa dalam hal apa saja dalam communio dengan Bapa-Nya.

Maka, pertanyaan refleksi untuk kita adalah bagaimana memaknai pembaptisan yang kita terima untuk kepentingan bersama dalam keluarga, KBG dan Gereja kita? Karena pembaptisan merupakan gerbang masuk untuk menghadirkan Kerajaan Allah ditengah dunia ini disatu sisi, dan disisi lain, menghadirkan communio Allah untuk memurnikan hidup ditengah ganas dunia, adalah tujuan hidup kekristianian kita. ***