Rabu, 01 April 2015

Mgr. Hilarius Moa Nurak, SVD: Surat Gembala Paskah 2015 Keuskupan Pangkalpinang



Dibacakan dalam malam Vigili Paska
 
Mgr. Hilarius Moa Nurak, SVD, uskup Keuskupan Pangkalpinang


Bapak/Ibu/Saudara/Saudari
Umat Allah Keuskupan Pangkalpinang yang dikasihi Tuhan
Malam Vigili dan Kuasa Sabda Allah
Malam ini, kita mengakhiri seluruh perjalanan tobat selama masa Pra Paska, untuk memulai sebuah babak perjalanan iman yang baru dalam Kristus yang bangkit. Perjalanan iman yang baru itu, tampak dalam keseluruhan liturgi vigili Paska, bila dibandingkan dengan perayaan liturgi selama masa pra paska.
Kalau kita mengawali masa tobat dengan urapan salib abu di dahi, untuk menyadarkan kita akan identitas sebagai  insan debu tanah yang diselamatkan oleh salib; maka  malam ini, karya penyelamatan Allah kepada manusia itu, dirayakan dari luar Gereja, dan dalam suasana gelap. Dalam kegelapan itu, sebuah api baru bercahaya pada  Lilin Paska. Semua orang yang berkumpul dalam kegelapan, mengarahkan perhatiannya pada satu titik pusat, yakni lilin paska.
 Lilin Paska yang bercahaya itu kemudian mendahului kita, dan  kita semua berjalan mengikuti terang itu, memasuki Gereja yang merupakan lambang Yerusalem baru, seraya menyerukan kata-kata sukacita:”Cahaya Kristus, Syukur kepada Allah,” karena cahaya Kristus mempersatukan kita menjadi anak-anak Allah, Gereja.
Kegembiraan itu kemudian kita ungkapkan dalam Pujian Paska, karena cahaya Kristus membawa kita yang berada dalam kegelapan masuk dalam kemuliaan kebangkitan-Nya, sehingga kita pun boleh memiliki cahaya Kristus dan berada dalam semarak cahaya-Nya.
Apa yang kita ungkapkan dalam ritus pembuka vigili Paska itu, kemudian mendapatkan pemakluman dari Allah, saat Sabda Allah dikumandangkan ke tengah kita:” Jadilah Terang.” Itulah kuasa Sabda yang pertama kali keluar dari mulut Allah saat segala sesuatu belum terbentuk; saat bumi masih kosong; saat kegelapan meliputi samudera raya, ketika Roh Allah melayang-layang di atas permukaan air. Kitab Kejadian mengisahkan bahwa ketika Allah berfirman “Jadilah Terang”, terang pun terjadi, karena Sabda Allah memiliki kuasa  yang mencipta, dari tidak ada menjadi ada; sekaligus sebuah kuasa yang mengubah, dari gelap kepada terang.
Kuasa Sabda yang mencipta dan menghidupkan itu, diwartakan oleh St. Yohanes sebagai pembuka injilnya. “Segala sesuatu dijadikan oleh Dia dan tanpa Dia tidak ada suatupun yang telah jadi dari segala yang telah dijadikan. Dalam Dia ada hidup dan hidup itu adalah terang manusia (Yoh. 1: 3-4). Dalam ilmu Kitab Suci, gelap berarti kematian, sedangkan terang berarti kehidupan. Hal itu berarti sukacita penciptaan, yang diwartakan kembali oleh St. Yohanes ini, menegaskan bahwa  hanya dalam Allah ada hidup; sebaliknya berpisah dari Allah berarti kematian. Oleh karena itu pula, dosa sebagai peristiwa putusnya hubungan manusia dengan Allah, yang membawa penderitaan dan maut, hanya bisa diubah ke dalam hidup dan keselamatan, bila Allah sendiri yang bertindak. Dengan kata lain, tak ada satu kuasa pun yang sanggup mengubah kondisi manusia yang berada dalam gelap dan maut untuk berada dalam situasi terang dan hidup,  kecuali Allah dan hanya Allah.
Pengalaman iman itulah yang dialami dan diwartakan oleh Israel dalam ziarahnya; sebagaimana dikisahkan  dalam seluruh pewartaan Perjanjian Lama malam ini. Sebuah pewartaan yang membawa sukacita, karena Allah sendiri membawa kembali manusia dari kematian kepada hidup, dari kegelapan menuju terang, dari derita menuju kebahagiaan, dari perbudakan menuju kemerdekaan.
Kemilau Cahaya Kebangkitan sebagai Sukacita Injil
Puncak dari seluruh kuasa Sabda Allah untuk menyelamatkan manusia itu terjadi saat Kristus bangkit dari alam maut. Itulah sukacita Injil: Evangelii Gaudium. Santo Matius melukiskan pengalaman iman akan kebangkitan Kristus itu sebagai berikut: Kubur Yesus ditutup rapat dengan batu yang begitu besar, dijaga ketat oleh para penjaga kubur, sehingga jasad Tuhan Yesus Kristus yang disemayamkan di dalamnya tidak mungkin diambil, selain berada dalam kuasa maut.
Namun setelah hari Sabath lewat, ada beberapa perempuan pergi ke kubur Yesus. Mereka pergi menjelang fajar menyingsing; yaitu saat gelap sudah berangsur pergi dan cahaya matahari mulai tiba. Saat itu, gempa bumi yang dahsyat terjadi, karena malaikat Tuhan sendiri datang menggulingkan batu penutup kubur yang tak bisa diguling itu. Wajah malaikat itu berkilat, pakaiannya putih bagaikan salju, sehingga kegelapan berubah menjadi cahaya terang benderang. Dalam cahaya yang terang benderang itu, sukacita injil diwartakan kepada para perempuan: Jangan takut. Fajar telah menyingsing, Kristus sudah bangkit.
Warta jangan takut, Kristus sudah bangkit dalam kemilau cahaya surgawi ini; menjadi warta pertama para malaikat, untuk menegaskan bahwa dalam Kristus, maut sudah dikalahkan dan tidak lagi berkuasa. Dalam Kristus, kegelapan dan kematian tidak lagi menjadi warna kehidupan manusia, karena oleh kebangkitan-Nya, manusia kembali memiliki hidup; manusia kembali diselubungi cahaya. Oleh karena itu satu-satunya tugas yang harus diemban para perempuan itu adalah pergi dan wartakan  sukacita kebangkitan itu kepada para murid. Mereka disuruh pergi dan member kesaksian bahwa Yesus  tidak ada di kubur; Ia yang bangkit hanya mau dijumpai di Galilea.  
Pertanyaannya adalah mengapa Yesus tidak mau dijumpai di kubur melainkan di Galilea? Karena kubur adalah lambang kematian, penderitaan, tangisan dan kegelapan. Sebaliknya Galilea adalah tempat hidup, tempat para murid beraktifitas, tempat di mana suka duka kehidupan dirasakan dan dialami. Yesus yang bangkit memerintahkan agar di tempat seperti ini, para murid mengalami dan merasakan kehadiran-Nya; di tempat seperti ini, para murid mengalami dan merasakan kuasa kebangkitan-Nya; di tempat seperti ini, para murid memberi kesaksian tentang Dia yang bangkit; sekaligus memberi warna kehidupan dengan daya dan  semangat kebangkitan Tuhan sendiri. Itulah sukacita Injil di malam vigili ini.
Dari Pra Paska Menuju Paska
Walau demikian, sukacita injil yang kita rayakan malam ini, tidak berdiri sendiri. Sukacita itu harus merupakan ungkapan akan kelahiran baru sebagai manusia baru, dalam perjalanan tobat selama 40 hari masa pra paska.
Sebagaimana kita ketahui bersama bahwa sepanjang masa tobat, kita secara khusus merenungkan tentang situasi riil Keuskupan kita, terutama bagaimana kebutuhan ekonomi berimbas pada pemerkosaan martabat perempuan demi uang. Refleksi Sinode II Keuskupan Pangkalpinang, memberikan gambaran kepada kita bahwa situasi Keuskupan Pangkalpinang yang merupakan pusat pengembangan kawasan pertambangan dan industri sering tidak memberi nilai tambah bagi peningkatan kesejahteraan masyarakat lokal. Area Batam dan sekitarnya disinyalir menjadi pusat perdagangan manusia (Human Trafficking) (MGP, art. 98). Pengalaman ini sungguh nyata, sehingga banyak perempuan migran yang dikorbankan dan mengalami situasi  penderitaan dan traumatis, akibat dari pelecehan terhadap martabat perempuan itu.
Apa yang direfleksikan oleh Umat Keuskupan Pangkalpinang ini juga diangkat Bapa Suci Fransiskus. Dalam Seruan Apostoliknya, Bapa Suci Fransiskus mengingatkan bahwa krisis di seluruh dunia yang memberi kekuasaan kepada keuangan dan ekonomi telah berakibat pada kurangnya perhatian kepada manusia; manusia telah ditempatkan pada titik yang paling rendah, yakni sekedar menjadi kebutuhan konsumsi (bdk. Evangelii Gaudium, art. 55).
Pengalaman yang sama juga kita temukan dalam warta Sabda Allah yang dikumandangkan malam ini. Peristiwa Paska Israel dari Mesir bermula dari penjualan Yosef, oleh saudara-saudaranya,  kepada para saudagar Midian, dengan 20 syikal perak (Kej.  37: 25-28). Bahkan Paska Kristus sendiri bermula dari penjualan Yesus dengan harga 30 keping perak, oleh murid-Nya sendiri, Yudas Iskariot.
Pengalaman Kitab Suci ini memberi signal bahwa para pelaku bisnis trafficking di kawasan Keuskupan kita, kebanyakan adalah anggota keluarga sendiri, entah itu dalam arti hubungan darah, maupun dalam arti anggota Gereja-sebagai keluarga Allah, yakni kita; entah itu bersifat langsung, menjadi agen, atau melalui sikap masa bodoh terhadap situasi yang sedang terjadi.
Pengalaman Kitab Suci, yang mengisahkan tentang pelecehan martabat manusia, demi uang, yang juga merupakan pengalaman Gereja semesta dewasa ini, maupun  pengalaman konkret kita di Keuskupan Pangkalpinang; membuat kita perlu bertanya diri di malam vigili paska ini:” Bagaimana kita semua, Umat Allah Keuskupan Pangkalpinang ikut terlibat melaksanakan tugas perutusan untuk memelihara dan mengangkat martabat perempuan, sehingga mereka tidak menjadi korban dari kekuasaan ekonomi?”
Dengan kata lain, bagaimana keberpusatan kita pada Kristus yang bangkit malam ini, menguatkan kita untuk membangun komunio di antara kita supaya terlibat bermisi menanggulangi persoalan pelik yang dihadapi oleh Kristus sendiri, Gereja dan dunia?
Pembaharuan Janji Baptis dan KBG sebagai Medan  Misi
Setiap malam vigili Paska, setelah Allah memaklumkan Sabda-Nya “Jadilah Terang” dan Cahaya kebangkitan Kristus dinyatakan kepada Gereja, kita semua dengan lilin bernyala, yang diambil dari cahaya lilin paska, membangun komitmen baru untuk hidup baru melalui pembaharuan janji baptis. Pembaharuan janji baptis merupakan satu kesatuan makna dengan kebangkitan Kristus, karena dengan lilin baptis yang cahayanya mengalir dari Lilin Paska menegaskan satu komitmen iman bahwa manusia lama kita telah mati dalam kematian Kristus dan yang kini hidup adalah manusia baru yang lahir dari kebangkitan Kristus.
Kesatuan integral antara vigili Paska dengan pembaharuan janji baptis, dengan lilin paska yang bernyala ini, mmberi dua pesan penting bagi kita.
Pertama, Jadilah Terang. Maklumat Allah ini hendaknya menjadi titik tolak hidup baru bagi kita malam ini. Roh Allah yang melayang-layang di atas permukaan air, yang mengubah dari gelap kepada terang, yang membebaskan dari perbudakan dosa dan menghidupkan kaum peziarah dalam perjalanan, sebagaimana diwartakan malam ini, haruslah membawa kita masing-masing yang malam ini memperbaharui janji baptis, untuk menjadi cahaya bagi sesama kita, yang dibelenggu oleh kegelapan dan penderitaan. Percikan air ke atas kita yang memegang  lilin bernyala, yang sumbernya berasal dari Lilin Paska Kristus, harus menjadikan kita masing-masing menjadi pembawa terang bagi orang lain; bukan tanda kegelapan bagi sesama. Hal ini harus menjadi komitmen perjanjian kita malam ini,  karena banyak di antara kita, kendati telah dibaptis, namun dalam kehidupan nyata  telah menjadi saudara-saudara
Yosef, telah menjadi Yudas, telah menjadi agen-agen trafficking dalam aneka bentuk, entah berupa agen promosi, pegiat, maupun ketidakpedulian untuk bertindak, kendati mengetahui peristiwa trafficking itu sendiri. Keterlibatan kita baik langsung maupun tak langsung menghancurkan jatidiri baptisan kita sendiri, karena kita telah menjadi tanda kegelapan, tanda kematian, tanda penderitaan untuk diri sendiri dan untuk orang lain.
Oleh karena itu, kuasa Sabda :Jadilah Terang” yang dikumandangkan pada malam pembaharuan janji baptis ini hendaknya menolong orang  yang fasik meninggalkan jalannya dan orang yang jahat meninggalkan rancangannya (Bdk. Yes. 55: 1-11-Bacaan ke V), dan membawanya dari kegelapan menuju terang; dari sekedar debu tanah kepada Citra Allah (Kej.1, Bacaan I) dan membangun cara baru hidup beriman, seperti Bapa Abraham, yakni hidup yang dikuasai oleh Firman Tuhan (Kej. 22: 18, Bacaan II).
Kedua, Jadikan KBG sebagai Galilea bagi sesama untuk mengalami  Kristus yang bangkit. Maklumat malaikat kepada para perempuan “ jangan takut. Ia telah bangkit. Dia tidak ada di sini, Dia mendahului kamu ke Galilea, di sana kamu akan menjumpai Dia; yang dikumandangkan pada malam pembaharuan janji baptis, saat mengenangkan Kebangkitan Kristus ini, harus menjadi sukacita injil bagi para korban trafficking. Sebab KBG merupakan tempat hidup kita para murid Yesus. Di KBGlah kita mengalami dan menjumpai aneka warna kehidupan, kegembiraan dan harapan, duka dan kecemasan. Dalam situasi seperti ini, KBG jangan dijadikan  kubur bagi orang yang menderita melainkan menjadi tanda harapan, tanda sukacita, tanda kegembiraan; tanda kedamaian dan harapan bagi mereka yang mengalami duka dan kecemasan.
Pedoman Pastoral Menjadi Gereja Partisipatif menegaskan bahwa tidak mudah bagi setiap orang untuk bertindak melawan kejahatan social sendirian. Komunitas yang diberdayakan oleh Sabda Allah dapat menyebabkan pertobatan pribadi dan mendorongnya bertindak sebagai nabi untuk pembaharuan masyarakat (MGP, 217).  Sri Paus Fransiskus mengatakan:”Setiap orang yang mulai melangkah dengan berbuat baik kepada orang lain, telah mendekat pada Allah, telah ditopang dengan pertolongan-Nya, sebab cirri khas terang ilahi ialah menerangi mata kita kemanapun kita berjalan menuju kepenuhan kasih (Lumen Fide, art. 35)
Akhirnya Selamat Pesta Paska bagi anda semua. Selamat memperbaharui janji baptis. Jadilah Terang dan jadikanlah KBGmu sebagai Galilea bagi para korban.
Pangkalpinang, Minggu Pra Paska ke-4
Ego Autem Rogavi Pro Te
ttd
Mgr. Hilarius Moa Nurak, SVD
Uskup Pangkalpinang

Selasa, 31 Maret 2015

Nanda Ramdhani - KDI 2015

Sebuah Refleksi Perjalanan penuh tantangan

Nanda dan Ibunya, Marlina
Biasa disapa Nanda. Tetapi pria cilik ini memiliki nama lengkap 'Nanda Ramdhani'. Anak ketiga dari ayah Anang Ramdhani dan ibunya Marlina. Sekarang keluarga ini menetap di Bekasi-Jawa Barat. Nanda, sekarang berumur enam belas tahun. Muncul di layar MNCTV pada Minggu, 29 Maret 2015, malam dalam acara KDI, Konser Dangdut Indonesia 2015. Dalam tuturnya ketika ditanya oleh reporter acara KDI 2015 soal kapan hobi menyanyi, Nanda dengan lugas menjawab bahwa sejak TK, ia sudah bisa menyanyi. Tetapi, waktu itu masih sering bernyanyi lagu-lagu pop. Hanya sejak SMP Nanda mulai menyanyi lagu-lagu dangdut. 

Nanda tampil dalam acara KDI setelah calon pedangdut Ima dari Demak. Berbalut open jas berwarna putih-silver yang menutupi kemeja biru muda dengan tampilan celana hitam, Nanda tampil dengan suara merdu dan memikat perhatian banyak penonton, dengan tembang yang menarik berjudul 'Tabir Kepalsuan'. Dengan pakaian yang santun dan dengan suara emas, tim juri pun membuka pintu KDI, dengan menambah bintang penghargaan untuk tampil di depan publik. Sautan para penonton dan suara musik dangkut pun bergelora membangkit rasa hati penonton sambil berteriak: Nanda....Nanda..., kau pasti menang.' Memang, menang malam itu, Nanda dan Ima. 

Ayah, Ibu dan Nanda
Lebih menarik dari konser dangdut malam itu, dengan menampilkan Nanda Ramdhani, ada beberapa hal yang tersembunyi pun ikut terkenal. Pertama, Marlina, ibunya pun bangkit dari tempat duduk dan berjalan menelusuri lorong podium dan tampil di atas panggung. Iya...itulah kerinduan Marlina, ibu Nanda, yang sudah memiliki harapan besar bahwa anaknya akan memang KDI malam itu. Kedua, Kawaliwu-Flores Timur, Propinsi NTT. Hal yang hebat muncul disini, Kawaliwu yang tidak terkenal selama ini pun, ikut termuncul di layar kaca MNCTV. Ternyata Kawaliwu, jauh di sudut timur Pulau Flores pun ikut terekspos. Inilah suatu cara, memperkenalkan Kawaliwu, yang saat ini menjadi ajang pariwisata yang cukup terkenal dengan sunset.

Nanda, orang Kawaliwu, Flores Timur? Iya...karena dari ibunya, Marlina, ada aliran darah yang ada didalam tubuh Nanda. Bapak Marlina, Markus Menue Liwun, asal Kawaliwu, kini tinggal di Pulau Batam, ibunya Marlina, mama Paulina Emi, asal Jawa yang sudah lebih dahulu dipanggil Tuhan pada 12 tahun silam dan dikuburkan di Temiang, Pulau Batam. 

Nanda bersama ayah dan ibunya dan bersama reporter MNCTV
Sekilas infor inilah, yang menjadikan kita untuk mendukung Nanda Ramdhani KDI 2015 untuk menjadi seorang seniman khususnya dalam tarik suara emasnya. Di profil BB Nanda Ramdhani tertulis: 'Bantu aku tuk bersabar dalam menghadapi pujian, cercaan, dari orang lain, ya allah. amin'. Sepenggal bait ini, ditulis Nanda sejak 30-31 Maret 2015 yang terbaca di profil BB-nya. Tulisan ini, mau mengatakan kepada warga Bekasi, Kawaliwu Flores Timur pada khususnya dan seluruh masyarakat Indonesia pada umumnya untuk mendukung Nanda dalam konser dangdut Indonesia 2015. Dukungan berupa kirim sms dan memberikan ruang bagi Nanda untuk tampil di layar kaca sebagai pedangdut, pewaris lagu dan musik Melayu Indonesia.

Nanda, perjuanglah terus. Pintu keberhasilan akan menjemput anda untuk mengalami keberhasilan yang cermelang. Kami mendukungmu. ***

Jumat, 20 Maret 2015

Jadwal Misa Pekan Suci 2015 Paroki Sungailiat



JADWAL PERAYAAN EKARISTI
TRIHARI SUCI PASKAH

A. Gereja Paroki Sungailiat.
1. Kamis Putih                     : Kamis, 2 April 2015
Waktu Misa : Pukul 18.00 - 21.00 WIB
Pemimpin :Rm. Budi
2. Jumat Agung : Jumat, 3 April 2015
Waktu Misa : Pukul 15.00 - 18.00 WIB
Pemimpin :Rm. Koko
3. Malam Paskah : Sabtu, 4 April 2015
Waktu Misa : Pukul 19.00 - 21.00 WIB
Pemimpin : Rm. Koko
4. Minggu Paskah : Minggu, 5 April 2015
Waktu Misa : Pukul 08.00 - 10.00 WIB
Pemimpin :Rm. Budi

B. Gereja Stasi Pemali.
1. Kamis Putih : Kamis, 2 April 2015
Waktu Misa : Pukul 18.00 - 21.00 WIB
Pemimpin : Rm. Koko
2. Jumat Agung : Jumat, 3 April 2015
Waktu Misa : Pukul 15.00 - 18.00 WIB
Pemimpin :Rm. Budi
3. Malam Paskah : Sabtu, 4 April 2015
Waktu Misa : Pukul 18.00 - 20.00 WIB
Pemimpin :Rm. Budi
4. Minggu Paskah : Minggu, 5 April 2015
Waktu Misa : Pukul 17.00 - 18.30 WIB
Pemimpin :Rm. Koko

Rabu, 18 Maret 2015

Tim KPP Paroki Mendapat Pembekalan dari Komisi Keluarga Keuskupan



Puri Shadana: Rumat Retret

Puri Shadana, rumah retret milik Keuskupan Pangkalpinang, dihiasi bunga-bunga hijau di sekelilingnya. Teduh dan tenang, aroma suasana yang terasa ketika para peserta tim Kursus Persiapan Perkawinan (KPP) separoki Bangka Belitung selama dua hari (14-15/3) menginap disana. Terdengar suara tawa para peserta yang saling berjumpa dan menikmati manuman sore sebelum acara pembekalan dimulai.

Tepat pukul 16.30 wib, para peserta diundang untuk masuk ke ruang pertemuan. Acara dimulai dengan sepatah kata dua dari RP. Aloysius Lioe Fut Khin, MSF. RP. Fut Khin begitulah sapaan khas sehari-hari oleh umat Keuskupan Pangkalpinang, mengungkapkan kepada para peserta yang hadir bahwa pertemuan selama dua hari ini, dengan tujuan menyamakan materi Kursus Persiapan Perkawinan (KPP) di setiap paroki. Karena selama ini disetiap paroki materi KPP yang diberikan ragam variasinya.

RP. Fut Khin, Ketua Komisi Keluarga Keuskupan Pangkalpinang
Selain tujuan tadi, lanjut RP. Fut Khin, anggota Kongregasi MSF asal Pangkalpinang Bangka, menyebutkan kehadiran tim dari setiap paroki ini juga sekaligus untuk penyegaran materi KPP dan kaderisasi tim KPP Paroki. Juga diharapkan agar tim-tim KPP selepas pulang dari rumah retret ke paroki-parokinya, sungguh-sungguh menjalankan tugasnya sebagai pengajar dan pendamping calon mempelai yang mau mengurus perkawinan secara Katolik. Harapan RP. Fut Khin, supaya satu anggota tim KPP hanya boleh mengajar salah satu materi KPP di parokinya. Hal ini dengan maksud agar tim benar-benar menguasai materi pengajarannya.

Selanjutnya rangkaian acara pembekalan tim KPP Paroki dimulai dengan pembicaraan seputar ‘seksualitas dalam Perkawinan Katolik' dengan pembicara dr. Clara Ramandhani Agustiawan. dr Dhani membedah tema ini dalam subtopik yang menarik: Seksualitas menurut pandangan Gereja Katolik, Anatomi dan Fisiologi Alat Reproduksi, Pemeriksaan Pra Nikah, Pengertian, Tujuan dan Pandangan Gereja Tentang KB, dan Pandangan Gereja Katolik mengenai Aborsi. Pemateri berikutnya tentang hakikat, tujuan, dan sifat-sifat Perkawinan yang dibawakan oleh RP. Fut Khin. Setelah selesai materi ini, para peserta diajak untuk santap malam bersama.

Pasutri Benny - Lusia
Setelah santap malam bersama, acara dilanjutkan dengan materi tentang komunikasi keluarga yang diisi oleh dua pasang pasutri, Bpk. Marcel - Ibu Susan dan Bpk. Benny - Ibu Lusia. Pasutri Marcel-Susan berbicara seputar membangun relasi dengan komunikasi dalam keluarga, komunikasi untuk membangun relasi, unsur-unsur komunikasi yang harus dibangun agar keluarga dapat berjalan dengan baik dan bertahan dalam segala tantangan hidup. 

Sementara Pasutri Benny-Lusia memfokuskan pada dimensi sakramental dalam komunikasi yang terungkap dalam relasi suami-isteri dan anak-anak serta anggota keluarga lainnya, dan yang lebih pokok sekaligus sebagai sumber utama relasi dalam keluarga adalah bagaimana anggota keluarga membangun relasi dengan Tuhan: kapan dan dimana saja anggota keluarga itu ada. Tak terasa, sudah malam. Apalagi lagi di luar rumah retret saat itu, hujan cukup lebat. Udara dingin menghantar peserta pembekalan materi KPP ke pembaringan tidur malam, biar besok pagi merayakan ekaristi hari minggu prapaskah keempat pada jam 06.00 wib.

Setelah merayakan ekaristi minggu pagi, peserta langsung sarapan. Pukul 07.30-09.00, RD. Fenantius Manse, mengajak para peserta untuk memahami perkawinan menurut Ajaran Gereja Katolik. RD. Manse, mengajak peserta untuk mengerti lebih baik tentang apa itu perkawinan menurut kan. 1055 dan mengetahui dua belas halangan nikah (kan. 1083-1094) bagi orang Katolik.

Peserta Tim KPP dari Paroki-Paroki SeBaBel
Setelah peserta diajak memahami perkawinan menurut Hukum Gereja Katolik, peserta diajak pasutri Suhardono-Mala melihat dan memahami materi Ekonomi dalam Rumah Tangga. Pasutri Suhardono-Mala mensharingkan banyak pengalaman yang mereka alami dalam keluarga yang berhubungan dengan ekonomi rumah tangga. Ekonomi Rumah Tangga berjalan baik dan lancar jika pasutri selalu membuat perencanaan anggaran yang disesuaikan dengan pendapatan keluarga. Rencana anggaran melebihi pendapatan keluarga itu namanya besar pasak dari tiangnya. Keluarga bisa mengalami krisis ekonomi dan karena itu, rencana untuk pendidikan anak akan terbengkelai.

Setelah peserta mendapat input tentang ekonomi rumah tangga, peserta rehat sebentar untuk makan siang. Selanjutnya, RP. Fut Khin menjelaskan materi tentang Psikologi Pria dan Wanita yang sebenarnya diberikan oleh RD. Servasius Samuel. Setelah itu, RD. Fut Khin, mengajak para peserta untuk melihat secara global tentang beberapa hal yang menjadi catatan dari para narasumber sebelumnya seperti perkawinan sakramen dan tidak sakramen, gender, siapa yang sebenarnya yang membuat perkawinan itu sah, dan lain-lain. 

Model Keluarga Kudus dari Nasaret, Menjadi model keluarga Katolik
Setelah itu, RD. Fut Khin memberikan waktu kepada Mas Sulistyo (sekretariat Paroki Sta. Bernardeth Pangkalpinang) memberikan beberapa catatan menyangkut urusan administrasi sebelum dan sesudah menikah di Gereja Katolik. Urusan administrasi kata Mas Sulistyo, di paroki-paroki masing-masing sangat berbeda satu dengan lain. Namun, menjadi catatan bahwa setiap pasangan yang menikah secara Katolik tidak langsung ikut KPP dan menikah. Pasangan yang mau menikah juga harus mengurus administrasi sebagai syarat-syarat administrasi seperti berbagai urusan lain. Urusan administrasi itu mulai dari isi formulir KPP, wajib ikut KPP, sertifikat KPP, kanonik, dan hingga mengurus tata perayaan perkawinan. Hal ini tidak bisa tidak, tentu harus diperhatikan oleh setiap pasangan yang mau menikah secara Katolik maupun nanti dicatat di catatan sipil. Urusan di catatan sipil adalah urusan pasangan masing-masing.

Sebelum ditutup acara pembekalan materi KPP ini, RP. Fut Khin menyampaikan bahwa paroki-paroki boleh menambah materi muatan lokal seperti KBG, dan lain-lain. Tetapi, yang terpenting materi-materi pokok yang sudah disampaikan tadi menjadi acuan bersama dalam KPP di paroki-paroki se-Babel. Materi-materi pokok tadi, diambil dari buku:

dengan demikian buku ini menjadi acuan bahan pengajaran dan pendampingan calon-calon yang mau menikah secara Katolik di Gereja Katolik. ***