Kamis, 24 Februari 2022

Pertemuan KBG Kedua APP 2022

Pertemuan Kedua KBG:

KBG Membangun Solider dan Peduli Dalam Perahu Yesus

Persiapan: Kitab Suci dan Buku Puji Syukur.

Tujuan: Agar KBG membangun Solider dan peduli dalam Perahu Yesus melalui sikap dan tindakan murah hati kepada sesama kita.

 

1.      PENGANTAR

F:         Bapak-ibu, saudara-saudari yang terkasih dalam Kristus. Pertemuan kita kali ini dengan tema KBG Membangun Solider dan Peduli Dalam Perahu Yesus. Melalui tema ini, kita akan membaca, merenungkan, dan mendalami teks Kitab Suci yang diambil dari Injil Markus 3: 35-41.

 

            Angin ribut dan ombak danau Galie yang dahsyat menerpa perahu Yesus. Air masuk dalam perahu Yesus. Para murid ketakutan akan peristiwa di tengah danau Galilea. Sementara peristi itu terjadi, Yesus sedang tidur. Peristiwa itu mengarahkan mata para murid tertuju pada Yesus. Mereka membangunkan Yesus. Keselamatan mereka terjadi. Mereka sampai ke seberang danau.

 

            Mari, Bapak-Ibu, saudara-saudari, kita membuka pertemuan kita ini dengan sebuah lagu pembuka. PS No. …….. (menyanyikan lagu pembuka)

 

F:         Mari kita berdiri, kita memberikan hormat kepada Sang Sabda….. (semua menundukkan kepala hormat Kitab Suci)

 

2.      LANGKAH-LANGKAH PENDALAMAN

 

(1). Doa Mengundang Yesus

F:         Saya persilakan salah seorang untuk doa mengundang Tuhan. Saya persilakan ……

 

(2). Code:[1]

 


F:           Mari, kita perhatian secara saksama sebuah gambar berikut ini.

              Kemudian jawab beberapa pertanyaan berikut.

Pertanyaan:

a.    Apa yang sedang terjadi dalam gambar ini?

b.    Menurut ANDA, apa kiranya yang menjadi rencana Allah bagi dunia?

c.    Apakah rencana Allah bagi dunia ini, terlaksana juga dalam lingkungan hidup kita sebagai KBG?

 

Tambahan:

§  Rencana Allah bagi dunia adalah keselamatan. Keselamatan secara bersama bukan keselamatan orang perorang atau pribadi (bdk. LG 9).

§  Karena keselamatan itu, Allah mengutus Tuhan Yesus kepada kita agar membawa kita dan seluruh dunia ini kembali kepada Allah (makna ikan dan roti, ekaristi).

§  Dengan menyembuhkan orang-orang sakit, memberi makan kepada yang lapar dan membagi-bagikan kasih-Nya kepada kita, Yesus mewahyukan rencana Allah itu. Inilah cara Yesus memperbaiki situasi alam sekitar kita.

§  Yesus mengharapkan dari kita, para murid dan sahabat-Nya, untuk ambil bagian dalam karya-Nya. Yesus berkata, Sama seperti Bapa Mengutus Aku, demikian juga sekarang Aku mengutus kamu” (Yoh. 20:21).

 

(3). Membaca dan mendalami Teks Kitab Suci

 

F:     Mari, kita membaca teks Kitab Suci yang diambil dari Injil Markus 4: 35-41.

 

Saya persilakan salah seorang membaca teks ini dengan suara yang lantang dan perlahan-lahan.

 

Kita yang lain, mengikutinya dengan melihat teks yang dibaca dengan saksama.

 

Setelah itu, bisa minta lagi salah seorang yang lain, untuk membaca teks yang sama.

 

Beri waktu jedah selama 2 menit untuk semua anggota merenungkan teks yang sudah dibacakan tadi.

 

Lalu, menjawab pertanyaan-pertanyaan berikut.

 

Pertanyaan:

  1. Siapa saja yang pergi bertolak ke seberang Danau?
  2. Apa yang sedang terjadi tengah laut danau Galilea?
  3. Apa usaha para murid ketika menghadapi angin ribut?
  4. Apa makna kata Yesus “Jangan Takut” kepada mereka yang ikut bertolak ke seberang?

 

PENEGASAN[2]:

a.   Angin ribut dan ombak yang dahsyat menyembur masuk dalam perahu. Tanda alam bahwa Bumi kita sedang krisis. Bagaimana pun semua kita yang merasakan itu harus mengambil langkah untuk bersahabat dengan situasi alam dan langkah konkrit untuk memulihkannya secara terus menerus dan berkelanjutan.


b. Walau dalam situasi Bumi kita yang demikian, “mata kita harus tertuju kepada Yesus” (Ibr.12:2). Yesus meminta setiap orang beriman supaya tidak takut (Mrk. 4:35-41). Iman dimulai ketika kita menyadari bahwa kita membutuhkan keselamatan. Keselamatan tidak untuk diri sendiri tetapi untuk semua.

c.    Ketika kita hanya mengandalkan kekuatan sendiri maka kita sendiri akan ketakutan dan jika kita hanya mau selamat sendiri maka yang akan terjadi adalah kehancuran. Kita harus mengundang Yesus dan membiarkan-Nya masuk ke dalam “perahu” dan “KBG” kehidupan ini. Sebab:

-     Iman Paskah, kita dikuatkan dari kesengsaraan dan menderitaan dalam hidup kita. Sebab Yesus yang bangkit merupakan kemudi hidup kita dan KBG kita.

-     Iman Salib, adalah jangkar keselamatan kita. Sebab jangkar salib-Nya kita berteduh sejenak menghadapi situasi penderitaan.

-     Arah mata kita tetap tertuju kepada Yesus, akan memberikan kita selalu harapan. Harapan bahwa kita setia dalam “perahu-Nya” siap untuk terus disembuhkan dan dipeluk-Nya, demi untuk bersatu, persekutuan dengan kasih-Nya.

 

d.   Ungkapan makna yang lebih dalam dari kata-kata Yesus “Jangan Takut” memberikan kita cara hidup:

-     Tetap bersahabat alam dan berjuang untuk memulihkan alam. Sikap murah hati, solider, dan peduli kepada orang yang berkekurangan ketika kita mendapatkan “ikan dan roti” dari danau dan alam kehidupan kita.

-     Berinisiatip membangunkan Yesus agar menyelamatkan kita semua yang berada dalam “perahu KBG” kita. Sikap murah hati, solider, dan peduli kepada saudara-saudari kita yang berbeda agama, politik, kepentingan, dll untuk menyelamat dunia dari egoisme agama, politik, dan kepentingan pribadi / kelompok tertentu.

 

(4). Melaksanakan Aksi Nyata

 

F:         Mari, kita merencanakan aksi nyata yang hendak kita jalankan bersama dalam hidup.

Siapa, kapan, dimana, dan bagaimana yang harus kita lakukan supaya “KBG dapat membangun sikap murah hati, solider, dan peduli dalam perahu Yesus?”

 

3.   PENUTUP

a.    Doa spontan (mohon salah seorang dari antara kita untuk menutup pertemuan kita ini)

b.    Kolekte (diedarkan pada saat lagu penutup).

c.    Lagu penutup (pilih sebuah lagu yang bisa dinyanyikan oleh semua anggota KBG). 

=***=


Salah satu KBG di Paroki Regina Pacis - Belitung

 Copyarigth@PIPA Keuskupan Pangkalpinang, 2022



[1]Gambar sebagai Code ini diambil dari Modul C2 AsIPA.

[2]bdk. beberapa poin dari Leaflet APP KWI 2022, Mata tertuju sampai panggilan untuk bertindak.

Pertemuan KBG Pertama APP 2022

Pertemuan Pertama KBG APP 2022:

KBG Berjalan Bersama Alam Semesta Menuju Allah

Perlu disiapkan: Kitab Suci dan Buku Puji Syukur.

Tujuan: Supaya KBG berjalan bersama alam semesta menuju Allah melalui pemulihan alam yang rusak.

 

1.      PENGANTAR

F:         Bapak-ibu, saudara-saudari yang terkasih! Pertemuan kita kali ini, kita mempersiapkan diri merayakan Paskah Tuhan. Pertemuan ini dengan tema “KBG berjalan Bersama alam semesta menuju Allah”. Tema setiap pertemuan selama masa Prapaskah terinspirasi dari tema umum APP 2022 “Memulihkan Kehidupan – Bumi Sehat Manusia Sejahtera”

 

      Tema pertemuan kita ini, akan kita membaca, merenungkan, dan mendalam teks Kitab Suci yang diambil dari Yohanes 3: 1-7. Kisah Nikodemus, salah seorang Farisi datang malam-malam untuk menjadi “katekumen’ Yesus. Dalam kegelapan malam, Nikodemus menemukan Cahaya menerangi hati dan budinya sehingga ia dilahirkan kembali dalam kerohaniannya. Tentu kita akan belajar dari Nikodemus ini.

 

      Mari, kita membuka pertemuan kita dengan sebuah lagu pembuka. PS No….. (nyanyikan lagu pembuka).

 

F:        Mari kita bangkit berdiri. Kita memberikan hormat kepada Sang Sabda dengan menundukkan kepala.

 

2.      LANGKAH-LANGKAH PENDALAMAN

 

(1).       Doa Mengundang Tuhan

 

F:         Saya persilakan salah seorang dari kita berdoa, doa mengundang Tuhan. Saya persilakan….

 

(2).       Code[1]

 


F:         Mari, kita memperhatikan secara saksama sebuah gambar berikut ini.

                  Kemudian menjawab beberapa pertanyaan dibawah ini.

Pertanyaan:

a.    Apa yang ANDA lihat pada gambar ini?

b.    Apa dampak keuntungan dan kerugian membangun pabrik seperti terlihat pada gambar?

c.    Apa yang harus semestinya kita lakukan untuk pembangunan seperti ini, jika mirip seperti dalam gambar ini ada di sekitar kita?

 

Tambahan:

§  Gedung-gedung pabrik yang sedang beroperasi di tengah kota dengan padat penduduknya.

§  Membangun pabrik-pabrik untuk mengejar kesukses hidup secara pribadi dan hanya segelintir orang yang bermodal.

§  Membangun pabrik-pabrik seperti itu, membawa polusi udara, suara, penglihatan bagi penduduk sekitar yang padat. Pemukiman kota sangat tidak layak untuk berdiri gedung-gedung pabrik apapun alasannya.

           

(3).    Membaca dan mendalami Teks Kitab Suci

 

F:   Kita mendengarkan Sabda Tuhan yang diambil dari Injil Yohanes 3: 1-7.

 

Saya persilakan salah seorang membaca teks ini dengan suara yang lantang dan perlahan-lahan.

 

Kita yang lain, mengikutinya dengan melihat teks yang dibaca dengan saksama.

 

Setelah itu, bisa minta lagi salah seorang yang lain, untuk membaca teks yang sama.

Beri waktu jedah selama 2 menut untuk semua anggota merenungkan teks yang sudah dibacakan  tadi.  Lalu, menjawab pertanyaan-pertanyaan berikut.

 

Pertanyaan:

a.   Siapa saja tokoh yang kita temukan dalam bacaan tadi? Siapakah mereka itu?

b.   Menurut ANDA kata-kata mana dari dialog mereka itu yang memberikan inspirasi kepada ANDA?

c.    Apa makna yang lebih dalam dari kata “dilahirkan kembali” bagi Nikodemus?

d.   Apa makna yang lebih dalam dari kata “dilahirkan kembali” bagi hubungan manusia dan alam semesta?

 

PENEGASAN:

a.   Nikodemus, salah seorang Farisi yang bersimpatik secara diam-diam pada Yesus. Karena itu, ia datang pada malam hari dan menjadi “katekumen” pada Yesus.

 

b.   Malam hari, simbol kegelapan. Kegelapan identik dengan kurang bercahaya, kesulitan mencari jalan pemecahan, dan kurang pengetahuan.

-     Kegelapan, kurang bercahaya berarti alam yang kurang/tidak bercahaya. Kegelapan alamiah, kegelapan yang wajar akibat bergerakan matahari. Bulan dan bintang-bintang bercahaya terang. Yesus hadir dalam malam itu menjadi sumber terang bagi Nikodemus.

-     Kurang bercahaya juga akibat kerusakan alam, sebagai akibat dari ulah manusia, seperti pembangunan pabrik-pabrik, menebang kayu berlebihan, penambangan, dll. Kegelapan hati Nikodemus karena menghayati ragi orang Farisi.

-     Kegelapan, kesulitan mencari jalan pemecahan karena sikap ragu-ragu, rasa takut, dan kurang pengetahuan. Nikodemus termasuk dalam kategori ini. Karena itu, ia datang kepada Yesus. Ia menemukan jawaban pada Yesus sebagai sumber yang mengatasi kegelapan, keraguraguan, dan kurang pengetahuannya.

 

c.    Wabah Pandemi Covid-19, diungkapkan Paus Fransikus sebagai salah satu bentuk kerusakkan alam. Covid-19, salah satu bentuk Bumi yang rusak merespons ulah manusia selama ini. Solusi atas ulah manusia, Paus memberikan solusi demikian:[2]

-     Diperlukan pemulihan segera, terpadu, global dan inklusif; karena pemulihan yang dilakukan bukan hanya untuk saat ini, tetapi juga perlu membangun kehidupan masa depan yang lebih sehat, lebih sejahtera dan adil serta egenerative.

-     Pemulihan dilakukan dalam terang Injil, keutamaan-keutamaan iman dan prinsip-prinsip ajaran sosial Gereja.

-     Umat manusia harus membangun “ekologi integral” sebagai upaya serius untuk menyelamatkan bumi rumah kita bersama dan memulihkan kehidupan pasca pandemi.

 

d.   Jika makna “dilahirkan kembali” bagi Nikodemus mengerti kelahiran secara rohani yaitu pembaharuan hidup, berbalik kepada Allah, Sang Pencipta alam semesta. Maka bagi kita, “kelahiran kembali” ialah “bertobat” menerima alam semesta sebagai teman seperjalanan untuk berjumpa Sang pencipta.

e.    Relasi manusia dan alam, sebuah relasi yang erat, saling membangun diri untuk mencapai maksud dan tujuan penciptaan alam semesta dan segala isinya oleh Allah (Kej. 1 dan Mzr. 8).

 

(4). Melaksanakan Aksi Nyata:

F:   Mari, kita merencanakan aksi nyata yang hendak kita jalankan bersama dalam hidup.

 

      Siapa, kapan, dimana, dan bagaimana yang harus kita lakukan supaya “kita dapat berjalan bersama alam semesta dengan bijaksana” untuk memulihkan Bumi kita?”

 

3.   PENUTUP

 

a.    Doa spontan (mohon salah seorang dari antara kita untuk menutup pertemuan kita ini)

b.    Kolekte (diedarkan pada saat lagu penutup).

c.    Lagu penutup (pilih sebuah lagu yang bisa dinyanyikan oleh semua anggota KBG).

=***=

 

Salah satu KBG di Paroki Sungailiat Bangka

Copyright@PIPA Keuskupan Pangkalpinang, 2022

[1]Code diambil dari Copyright  AP Photo

[2]bdk. Leaflet APP 2022 KWI Pengantar sampai dengan Tantangan yang dihadapi.

Kamis, 17 Februari 2022

Menumbuhkan Kembali Iman di Asia melalui KBG Dengan menggunakan Metode AsIPA, 2004

Bahan ini diterjemahkan dari

 Judul Asli: Re-rooting the Faith in Asia through SCCs using the AsIPA Method

(Foto: Ms. Cora Mateo, dokumen GA VI di Sri Lanka)

Oleh Cora Mateo *)

Banyak aktivis Gereja sering memulai sesi perencanaan pastoral mereka dengan mengajukan pertanyaan: Bagaimana kita dapat membuat umat lebih aktif terlibat dalam misi Gereja, dalam kegiatan dan program paroki? Bagaimana kita bisa menciptakan suasana di mana orang-orang merasa memiliki paroki mereka? Beberapa mengajukan pertanyaan lebih lanjut mengenai peran Gereja di lingkungan sekitar, dalam dialog antaragama dan upaya bersama untuk kegiatan ini. Bagi para Uskup di Asia, satu pertanyaan yang sangat menantang adalah: “Bagaimana Kekristenan dapat menemukan tempatnya di Asia?”

Selama Sinode di Asia pada tahun 1998, para Uskup mengakui bahwa Yesus yang lahir di Asia, paling tidak dikenal di antara orang Asia. Statistik menunjukkan bahwa pengikut agama Kristen kurang dari 3% di Asia, di mana agama-agama lain juga berasal dan berakar. Bagi banyak orang Katolik Asia yang dibaptis, rekan-rekan mereka (bahkan anggota keluarga mereka) masih menganggap mereka sebagai orang yang telah memeluk agama 'asing'.

Selama Konsili Vatikan II, para Uskup Asia bertemu satu sama lain dan menyadari bahwa di antara mereka sendiri, hubungan mereka sangat sedikit. Keinginan mereka untuk “menumbuhkan solidaritas dan tanggung jawab bersama di antara mereka untuk kesejahteraan Gereja dan masyarakat di Asia,” dimulai ketika mereka bertemu di Manila selama kunjungan Paus Paulus VI pada tahun 1970. Ini adalah “kebangkitan untuk melihat wajah Asia, akhirnya lahir sebagai komunitas orang-orang yang sejati” dan dianggap sebagai awal dari Federasi Konferensi Waligereja Asia (FABC), satu-satunya badan yang diakui yang dapat mewakili Gereja-Gereja Partikular di Asia.

FABC memiliki 14 anggota penuh yang terdiri dari Konferensi Waligereja dan memiliki 10 anggota asosiasi dari negara-negara; tidak ada Konferensi Waligereja seperti Hong Kong, Nepal, dll…, yang tidak bergabung didalamnya. Badan tertinggi adalah Sidang Majelis Pleno yang bertemu sekali dalam 4 tahun. Ada tujuh Kantor untuk melaksanakan rekomendasi Sidang Paripurna: Kantor Pengembangan Manusia, Kantor Urusan Ekumenis dan Antar-Agama, Kantor Pendidikan dan Kerohanian Mahasiswa, Kantor Komunikasi Sosial, Kantor Evangelisasi, Kantor Awam dan Kantor Teologi.

Dalam Sidang Pleno FABC ke-5 di Bandung, Indonesia, 1990, para Uskup berbicara tentang tantangan evangelisasi di Asia pada milenium mendatang dan tanggapan terhadap tantangan tersebut. Tanggapannya tidak begitu banyak berbicara tentang Gereja atau mengorganisir tindakan atau proyek, atau mendirikan lembaga, tetapi tanggapan yang datang dari inti, dari MENJADI GEREJA.

Mereka kemudian mengungkapkan pembaruan menuju “Cara Baru Menjadi Gereja”, Gereja yang: Partisipatif, Persekutuan Komunitas, Gereja Profetik, dan Gereja dalam Dialog. Sebelum Sidang Pleno itu berakhir, mereka mengartikulasikan perlunya memiliki program formasi yang akan membawa pembaruan ini dan Kantor Awam FABC ditunjuk untuk mengambil ini sebagai tugas khusus.

Lokakarya formasi internasional pertama berlangsung pada tahun 1991, di Hua Hin, Thailand. Bahan yang digunakan berasal dari Lumko Institute di Afrika Selatan. Kita mengadakan lokakarya lain dalam bahasa Cina dan Inggris dan di tempat lain: Taiwan, Malaysia, Filipina, dan India. Pada tahun 1993, mereka yang terlibat dalam refleksi tentang pengalaman ini berkumpul untuk berbagi evaluasi mereka. Bahan apa yang dapat kita gunakan sehingga orang Asia yang menggunakannya akan merasa bahwa itu adalah untuknya, bahwa itu dapat diterapkan untuk kebutuhan mereka, dan situasi kehidupan mereka dapat diterima dengan mudah. Saat itulah akronim AsIPA (Asian Integral Pastoral Approach) diciptakan yang berarti: Pendekatan Pastoral Integral Asia. Melihat situasi Asia, kontekstualisasi iman menjadi salah satu perhatian utama.

Asia               berarti mencerminkan situasi kehidupan dan budaya Asia. Ini adalah teks yang bisa berdialog dengan masyarakat miskin dan dapat mengintegrasikan konteks multi-agama dan kemajuan sosial-ekonomi yang terjadi di Asia. Ini bertujuan untuk menemukan wajah Yesus di Asia.

Integral    mengacu pada integrasi sosial dan sakral, individu dan komunitas-komunitas, tanggung jawab bersama hierarki dan kaum awam dan teori dan praktik. Iman kemudian dihidupkan dalam situasi manusia.

Pastoral       memberikan perhatian khusus pada peran umat awam dalam mengemban misi, untuk mewujudkan mimpi Yesus dengan terlibat secara aktif. Ini berkaitan dengan metode untuk membangkitkan tanggung jawab   bersama kaum awam dan hierarki pada saat yang sama, membawa upaya bersama di mana imam dan kaum awam dapat bekerja sama. Ini menawarkan cara bagi imam untuk belajar bagaimana bekerja dalam tim dan memperoleh jenis kepemimpinan yang memungkinkan.

Pendekatan mengacu pada proses spesifik yang melibatkan orang-orang dalam pencarian bersama. Dia  berpusat pada Kristus dan pada saat yang sama membangun komunitas yang tidak hidup untuk dirinya sendiri tetapi mengemban misi. Ini meningkatkan kesadaran tentang situasi di mana pesan Injil harus dihayati dan membawa tanggapan komunitas-komunitas terhadap kebutuhan lingkungan dan masyarakat yang lebih luas. 

Teks dasar untuk menjalankan sesi pelatihan di KBG adalah modul yang memiliki kode untuk mengangkat masalah, teks Kitab Suci yang terkait dengannya, beberapa ajaran Gereja bila diperlukan, dan pertanyaan panduan untuk direnungkan oleh kelompok. Juga dilengkapi dengan Suplemen untuk melengkapi jawaban yang diberikan oleh peserta. Rangkuman yang bersifat seperti masukan. Modul adalah panduan dan dengan pelatihan minimal, fasilitator dapat menjalankan sesi. Ada empat seri yang berhubungan dengan itu adalah:

Seri A             Topik yang terkait dengan metode membagikan Injil (A/1 hingga A/8)

Seri B              Topik yang berkaitan dengan memulai dan memelihara Komunitas Kecil Kristen (B/1 hingga B/7)

Seri C              Topik Refleksi Visi Gereja Partisipatif (C/1 hingga C/6)

Seri D             Topik Pelatihan Tim Paroki (D/1 s/d D/9)

Ada juga "Katalog" yang membahas masalah khusus yang tidak termasuk dalam 4 seri, yaitu tentang:

1.      Asuhan / Bimbingan / Arahan

2.      Kehidupan Keluarga

3.      Pertanyaan-pertanyaan tentang sosio-ekonomi

4.      Cinta dan Pelayanan

5.      Masalah wanita

6.      Dialog Antar Umat Beragama

Yang sangat penting bagi KBG adalah kebersamaan untuk melakukan Syering Injil, dengan menggunakan metode 7 langkah,   yang dimulai oleh Lumko Institute. Teks seri AsIPA A menjelaskan setiap langkah dengan cara yang disederhanakan sehingga seorang fasilitator dapat menjalankan sesi dengan pelatihan yang minimal. Syering Injil memelihara spiritualitas KBG dan visi Gereja Partisipatif. Ini adalah titik awal bagi KBG dan mempertahankan respons yang penuh keyakinan terhadap tantangan untuk menjadi instrumen transformasi. Dalam Syering Injil, mereka mempersiapkan liturgi hari Minggu dan mereka merenungkan pesan Injil untuk masing-masing dari mereka dan sebagai komunitas di lingkungan mereka dan dengan demikian memungkinkan Injil menjadi hidup dalam budaya dan lingkungan di mana mereka berada. Selama kunjungan pastoral seorang Uskup di Sri  Lanka yang bergabung dalam kegiatan Syering Injil di KBG dan mendengarkan syering tentang bagaimana Sabda menyentuh kehidupan mereka, Uskup itu mengatakan: “Inilah cara untuk menjadi Gereja.” Di Jepang, setelah satu sesi Syering Injil, seorang imam mengungkapkan: “Jika saya memiliki KBG di paroki saya, saya tahu saya tidak akan pernah kesepian lagi.” Pemberitaan Injil sebagai doa dasar untuk KBG, menawarkan momen sakral di mana komunitas berkumpul untuk mempersiapkan Ekaristi hari Minggu dan membiarkan Sabda menyentuh hidup mereka dan menggerakkan mereka untuk mewujudkannya.

Selain Metode 7 Langkah, kita juga menggunakan metode “Bercermin pada Kitab Suci”, metode “Melihat-Mendnegar-dan Mencintai Kitab Suci” dan metode “Respons Kelompok”. Seperti teks AsIPA lainnya, metode Syering Injil sudah diterjemahkan lebih dari 20 Bahasa di Asia.

Setelah sepuluh tahun, di mana kita? Desk AsIPA terus menjadi bagian di bawah Kantor FABC pada bagian Komisi Awam, yang berbasis di Taipei, dan berfungsi menyatu dengan AsIPA Resource Team (ART), saat ini dengan 7 anggota dari India (2), Korea (1), Filipina (1), Singapura (1), Sri Lanka (1) dan Taiwan (1). Tugas utama ART meliputi:

1.      Memfasilitasi pelatihan bagi pelatih di berbagai negara,

2.      Merancang teks, menindaklanjuti proses, dan melakukan pengeditan akhir, dan

3.      Memelihara jaringan yang efektif antara tim nasional dan keuskupan.

Selama pertemuan ART terakhir, mereka menyelesaikan draf untuk “penggunaan percobaan” dari 17 modul baru yang berhubungan dengan KBG dan Evangelisasi, KBG dan Sakramen, KBG dan Keluarga, Kepemimpinan dalam KBG, dan…

Pada bulan September 2003, Sidang Umum Pelatih ketiga yang diadakan di Korea. Tiga belas negara di Asia, Papua Nugini dan Jerman berpartisipasi dengan tema: “KBG / KDG: Memberdayakan Orang untuk Melayani.” Ke-123 peserta termasuk uskup, imam, pemimpin awam dan religius membawa refleksi mereka tentang berapa banyak yang telah dicapai dalam setiap tim nasional atau keuskupan sejak Sidang Umum sebelumnya pada tahun 2000.

Mereka juga membawa salinan bahan-bahan atau modul-modul yang disusun dari negara mereka yang menanggapi kebutuhan khusus itu. Bagian pertama dari Sidang Umum adalah sesi evaluasi tentang seberapa banyak visi yang telah dilaksanakan dan diikuti dengan sub-topik sebagai pengembangan tema:

1.      Keluarga

2.      Kepemimpinan

3.      Pelayanan

4.      Spiritualitas

Dengan metode AsIPA, kita memiliki alat agar ada proses bertahap menghidupkan iman Kristen dalam keluarga, di lingkungan, dan mengakar dalam budaya masyarakat yang hidup sekarang. Bukan budaya Asia yang kita baca, tetapi budaya masa kini yang dibangun oleh orang-orang saat mereka berjuang dan merayakannya, saat mereka menjadi saksi hidup di antara tetangga mereka yang dengannya mereka terlibat dalam upaya bersama untuk meningkatkan kehidupan dan lingkungan mereka. Secara sederhana, AsIPA bertujuan untuk berkontribusi dalam langkah-langkah kecil, tetapi langkah-langkah konstan, untuk membawa wajah Yesus di Asia.

*). Anggota AsIPA Resource Team (ART) sekaligus Fasilitator Senior, asal Taiwan.