Selasa, 22 Maret 2011

LANGO BELE: SIMBOL KEBERSAMAAN DAN PERSAUDARAAN SEJATI

1
Lewo Goe Igo Rian Sina, punya makna histories dan selalu menyejarah dalam kalbu warga Kawaliwu. Lahirnya “lewo” bukan berasal dari langit. Lahirnya “lewo” bukan karena hebat perang yang pernah ada dan selalu diceriterakan oleh para penyejarah Kawaliwu. Tetapi selalu diingat bahwa lahirnya “lewo” karena “pupu taan uin tou-genahan taan uin ehan, yang lahir dari kebersamaan dan persaudaraan sejati. Nilai kebersamaan dan persaudaraan sejati inilah yang menjadi dasar yang kokoh bagi hidup warga Kawaliwu.

“Pupu taan uin tou-genahan taan uin ehan”, lahir didalam suatu kebersamaan dan persaudaraan sejati di dalam “langö belĂ©.” Di dalam “lango bele” ini setiap saudara-saudari dari satu suku dipertemukan, saling berbicara-mendengarkan-dan mencari jalan keluar serta lebih dari itu, bersama-sama menjalankan hasil kesepatan.

Percayakah bahwa dari dalam “lango bele” itu muncul adanya kebersamaan dan persaudaraan ssejati? Yakinkah kita bahwa “lango bele” menjadi tempat membangun rasa kebersamaan dan saling mengikat perasaan satu dengan yang lain? (refleksikan…..)

Lewo Goe Igo Rian Sina, memiliki banyak “lango bele.” Hampir setiap suku ada. Dan dari semua suku itu, kemudian berkumpul dalam satu “lango bele” di “lewo oki.” Suatu pola kepemimpinan dari bawa menjadi hidup. Dan seorang pemimpin utama mendengarkan suara dari bawa melalui system peradaban dalam “lango bele.”

Sistem yang sudah dibentuk demikian lama, perlahan-lahan sirna. Kehancuran sistem kebersamaan itu bukan karena factor dari luar. Ingat, sepenggal lagu Ebit G. Ade, berbunyi demikian. “….tengoklah ke dalam sebelum bicara…” Jangan pula kita menyalahi pihak yang menjadi pusat persoalan ketika kita mendengar bahwa tokoh-tokoh yang bersangkutan adalah biangkeladinya. Tetapi, hendaknya kita bersahaja, mendengar dan mendengar. Kemudian mengolah diri, mengambil sebuah makna yang menjadi prinsip dalam menjalankan kehidupan ini. ***

2
Refleksi kita adalah ”mengapa ”lango bele” tidak menjadi pusat ”pupu taan uin tou-genahan taan uin ehan?” Jika ”lango bele” tidak menjadi tempat yang strategis untuk warga Kawaliwu berkumpul, adakah tempat lain yang bisa menjadi pusat pertemuan dan membangun kebersamaan serta persaudaraan sejati bagi warga Kawaliwu?

Generalisasi – sebuah perbandingan:
Sinagoga adalah tempat ibadat kecil masyarakat Yahudi di pedesaan atau dusun atau di tingkat lingkungan. Di dalam sinagoga ini selain sebagai tempat ibadat, masyarakat Yahudi pedesaan/pedusunan juga berkumpul untuk suatu proses pendidikan-pengajaran Kitab Taurat. Bahkan menjadi tempat pertemuan masyarakat untuk membicarakan berbagai masalah entah itu ekonomi, sosial budaya, edukasi, kemanusiaan, dll. Di dalam sinogoga anggota masyarakat Yahudi saling belajar untuk membangun kebersamaan dan persaudaraan di antara para anggota masyarakat. Kebersamaan itu dan persaudaraan itu bukan hanya di tingkat pedesaan/pedusunan tetapi bahkan di tingkat yang lebih besar. Masyarakat pada perayaan-perayaan tertentu mereka semua berkumpul di Yerusalem, di tempat doa yang besar, di Bait Allah. Misalnya pada perayaan musim panen, dll. Dengan tingkat perayaan/kegiatan semacam ini, mereka membangun kebersamaan dan persaudaraan di antara suatu masyarakat. Tidak heran, pengalaman kebersamaan dan persaudaraan itu, selalu terus hadir dalam setiap hidup dan perjuangan mereka.

Dalam refleksi saya selama ini, Kawaliwu punya pengalaman yang sama. Punya banyak ”lango bele” karena punya banyak suku. Kemajemukan ini telah meng-adab-kan kita. Keragaman ini telah menunjukan bahwa kita punya potensi untuk maju.

Tetapi sayang, bahwa masih adakah ”lango bele” di setiap suku menjadi ”rumah singgah bagi siapapun dalam satu suku” untuk membangun kebersamaan dan persaudaraan? Adakah peluang untuk membangun kedamaiaan ide, ketenangan jiwa dan kebeningan budi bagi masyarakat untuk maju selangkah menenun pengalaman masa lalu, merajut masa depan dengan merefleksikan masa sekarang? Beranikah orang Kawaliwu sekarang berhati tenang dan kesehajaan jiwa untuk menerima serta merangkul banyak pihak yang berbeda  untuk maju menuju ”peradaban cinta.” Dan demikian, Kawaliwu menjadi sebuah ”laboratorium pengharapan” bagi siapapun juga. ***

SUMUR KAWALIWU : SUMBER KEHIDUPAN

Sinar Hading memiliki “sumur kehidupan” yang sepanjang tahun memberikan hidup bagi masyarakatnya. “Sumur kehidupan” itu adalah sumur “wai bao” dan sumur “wai hading.” Kedua sumur ini tertua adalah sumur “wai hading.” Kemudian baru sumur “wai bao.”

Nama kedua sumur  ini berdasarkan nama yang diberi berdasarkan kedekatan sumur tersebut dengan sesuatu. Sumur “wai hading” berdekatan dengan atau di teluk hading. Sedang sumur “wai bao” karena sumur tersebut ada dibawah pohon bao (bao = pohon beringin)

Kedua sumur ini menjadi tempat pertemuan orang Kawaliwu dari berbagai keluarga dan suku. Dan karena hanya dua sumur maka hampir setiap saat di sumur tersebut selalu ada orang “datang dan pergi” mengambil air baik untuk mencuci maupun untuk kebutuhan pokok yaitu masak, mandi dan minum.

Di kedua sumur ini selain orang “datang dan pergi” untuk mengambil dan mengantar air, juga menjadi tempat curhat bagi siapa saja, dan dengan siapa saja serta tentang apa saja. Bahkan jika mau mendengar berita terbaru di seputar Kawaliwu, orang bisa-bisa saja ke sumur dan sialahkan duduk dan mendengar ceritera apa saja dari orang-orang yang datang dan pergi mengambil air.

Sisi lain dari kedua sumur ini adalah, sebagai tempat tumbuh-kembangnya bibit-bibit perasaan sayang dan cinta pada “temona” (gadis) dari suku mana menjadi “muro-kemamu.”

Dari sisi ini, kita boleh terpanggil untuk menjadi seorang “arkeolog” – menggali kembali pengalaman kita di tepian sumur “wai hading” dan “wai bao.” Apakah masih ada pengalaman baik yang masih ada, dan bahkan sampai sekarang masih terus menerus ditumbuh-kembangkan. ***

Sabtu, 19 Maret 2011

RANCANGAN BUKU KAWALIWU - SINAR HADING

Saudara-saudariku yang tercinta.
Rencana "Buku Kawaliwu-Sinar Hading" dengan kerangkanya sebagai berikut:
KATA SAMBUTAN
Nanti bisa ditentukan oleh penulis, kira-kira berapa orang yang bisa beri kata sambutan. Kita bisa pilih siapa saja.

ISI BUKU meliputi:
a. Kawaliwu diteropong dari sisi sejarah
b. Kawaliwu diteropong dari sisi sosial
c. Kawaliwu diteropong dari sisi budaya
d. Kawaliwu diteropong dari sisi ekonomi
e. Kawaliwu diteropong dari sisi politik dan keamanan
f. Kawaliwu diteropong dari sisi intevestasi pariwisata
g. Kawaliwu diteropong dari sisi ..........
(penulis bisa tambahkan sendiri....)
Atau sesuai dengan bidang ilmu yang sedang digeliti sekarang.

SISI TOKOH
SIAPA SAJA YANG MAU BERKATA TENTANG KAWALIWU DULU SEKARANG DAN AKAN DATANG

Setiap tulisan lebih kurang 10 halaman dgn spasi 1,5 dan model huruf Time Roman, besar huruf 12.
Tulisan boleh berupa roman dan pusi, serta bisa berupa karya ilmiah dgn studi banding dan wawancara dari tokoh2 Kawaliwu atau tetangga kawaliwu.
usul lain.................?

Setiap tulisan perlu juga ada catatan kaki.

Rabu, 02 Maret 2011

PHOTO-PHOTO KAPEL BEDUKANG (2)

Photo 1 Kondisi Kapel Bedukang akhir Februari 2011. Kondisi belum punya atap.

 Bpk. John Djanu Rombang dihadapan umat Bedukang mengevaluasi persiapan Sinode 2 selama ini di Kapel Bedukang.

Hadir dalam pertemuan itu, Bpk. Petrus Don Pedro Efendi (berbaju hitam dan berkera putih), ketua dan fasilitator KBG St. Dominikus Sungailiat.
Photo depan kapel Bedukang. Terlihat dalam photo itu, Bpk. John Djanu Rombang, om Mateus Modang, dll.
Mudah-mudahan ke depan semakin maju umat dalam hidup rohaninya. **al**


alfons liwun: KABARI: PEDULI ANAK BEDUKANG

alfons liwun: KABARI: PEDULI ANAK BEDUKANG

KABARI: PEDULI ANAK BEDUKANG

BEDUKANG – SUNGAI LIAT KABUPATEN BANGKA
”Jangan lihat barang atau harga dari barang yang diberikan oleh Kabari, karena itu bukan tujuan. Lihatlah tujuannya, yaitu mendukung dan mendorong anak-anak dan orangtua supaya setiap bulan giat menabung”, ungkap John Djanu Rombang kepada orang tua anak-anak yang hadir dalam temu anak-anak yang selama ini menabung di Kopdit Kabari Pangkalpinang (1/3/2011)

Anak-anak Bedukang sebanyak 8 orang yang selama ini dengan tekun setiap bulan menabung di Kopdit Kabari Pangkalpinang. Kedelapan anak itu terdiri dari: 3 anak sekolah di SD Negeri 8 Bedukang dan 5 orang lainnya masih anak-anak yang belum sekolah.

Afraela Ivemia Lala atau sering disapa Welci, salah seorang anak perempuan SD Kelas 3 mengungkapkan pengalaman menabung yang selama ini digelutinya sebagai berikut. ”Saya menabung hampir setahun. Sama dengan teman-teman saya yang lain. Saya menabung dari uang saya. Uang, saya dapat dari pemberian bapak dan ibu karena saya membantu mereka mengangkat tandan sawit untuk dijual. Nanti, kalau duit saya sudah banyak, akan saya pakai untuk biaya sekolah saya. Kan saya mau jadi perawat. Itu cita-cita saya.”

Beda dengan Lukas John, anak SD Kelas 5. John, yang sering disapa oleh teman-temannya itu menceriterakan ”Saya bisa menabung karena pulang sekolah saya ikut bapak dan ibu ke TI. Di sana saya ngelimbang timah. Timah yang saya dapat, saya jual dan kemudian saya menabung. Paling kurang setiap bulan Rp. 50.000 saya tabung. Mudah-mudahan uang itu bisa membiayai sekolah saya yang lebih tinggi lagi.”

Acara ”Kopdit Kabari Peduli Anak Bedukang” itu dihadiri belasan anak-anak dan orangtua anak. Kepedulian Kabari kepada anak-anak yang selama ini menabung berupa pemberiaan meja kecil untuk belajar kepada Lukas John, Welci dan Diana Mardiana. Juga berupa alat-alat makan-minum bagi Martinus Riandika Ariel, Elisabeth Lia Yunita, Romanus Viki Farel, Maria Nona Fransika, dan Claudya Yuni Asticha, anak-anak yang belum sekolah. Anak-anak itu, selama ini aktif menabung. Perlengkapan itu semua diserahkan Ibu Bie Lie kepada anak-anak di rumah Ibu Maria Bona di Bedukang.

Wajah anak-anak begitu antusias menerima pemberiaan Kabari. Bahkan  setelah menerima pemberiaan, barang-barang yang diterimakan itu langsung diperagakan di depan orangtua dan para peserta yang hadir.

”Menabung itu penting. Kalau sejak kecil sudah terbiasa dengan menabung, kalau anak-anak sudah besar, pasti tidak akan boros, ungkap Ibu Bie Lie ketika memberikan semua perlengkapan itu kepada anak-anak.

Maria Bona, ketua KBG di St. Yohanes Pemandi, respons dengan begitu baik akan acara sederhana itu. Bona menegaskan bahwa menabung untuk anak-anak di sini, dalam waktu akan datang kami usahakan agar, semakin giat. Bukan hanya jumlah delapan orang saja, tetapi akan ada beberapa anak lagi yang akan bergabung di Kabari. Kalau untuk orangtua, kami punya tempat menabung sendiri yaitu di ”CU Sako Seng” yang setiap bulan dengan iuran bulanan Rp. 15.000.

Menabung sekarang, membebaskan hidup kelak. Menuai sekarang, tanpa menabung, durhaka di masa depan. Menabung itu membebaskan. **abl**

Selasa, 18 Januari 2011

AKSI TIGA RAJA PAROKI SUNGAILIAT

AKSI TIGA RAJA
“JADILAH PEWARTA CILIK DI KOMUNITAS BASIS”
 
“Pembaptisan merupakan penyucian dosa atas seseorang. Pembaptisan sah secara Katolik terdiri dari dua unsur. Unsur format (rumusan dalam nama Bapa, Putra dan Roh Kudus) dan material (air mengalir, dan air yang dikucurkan). Pembaptisan bukan hanya dilakukan oleh imam tetapi bisa juga oleh orang awam, bila dalam keadaan mendesak. Misalnya seorang bayi yang terlahir lemah dan tidak dapat hidup lama lagi, dapat dibaptis oleh orangtuanya ataupun orang lain, bila orang itu dalam satu iman dan ini merupakan pembaptisan darurat,” ungkap Romo Aloysius Kriswinarto, MSF, dalam kotbahnya pada misa Pembaptisan Tuhan Yesus (9/1/2011).
 Lebih lanjut, Romo Kris, yang telah dua tahun berkarya di Paroki Sungailiat itu, dihadapan umat Katolik Sungailiat mengungkapkan bahwa bacaan Injil pada pesta Penampakan Tuhan menunjukan kepada kita dilematis. Yohanes berkata kepada Yesus, ”Akulah yang seharusnya dibaptis oleh Engkau, bukan Engkau yang harus kubaptis.” Yohanes menganggap bahwa Yesus adalah seorang Mesias yang tak berdosa. Jadi tidak pantas Yesus dibaptis oleh Yohanes. Namun demikian, dengan pembaptisan Yesus oleh Yohanes, Yesus ”seolah-olah berdosa”. Hal yang sama pun ketika Yesus disalibkan. Bagi orang Pelestina, seseorang mati disalibkan adalah penjahat. Yesus, dianggap sebagai seorang penjahat. Dengan ungkapan yang demikian, Injil Matius mau mengungkapkan bahwa solidaritas atau kesetiakawanan Allah dengan manusia terlaksana dalam seluruh hidup manusia. Allah selalu hadir dalam hidup manusia. Allah menyertai umat-Nya.

Sebelum berkat penutup, Rm. Kris memanggil anak-anak yang selama ini aktif sekolah minggu baik di paroki maupun stasi untuk tampil di depan altar. Romo mengajak mereka berdoa bersama Doa Anak Misioner Indonesia. Setelah itu, pastor paroki memberikan berkat perutusan sambil berpesan anak-anak dan remaja yang terkasil, jadilah pewarta kecil di komunitas masing-masing.

Menjadi Misionaris Cilik di KBG
Semangat Natal bagi anak-anak dan remaja di paroki yang berpelindungkan Sta. Maria Pengantara Segala Rahmat, berkelanjutan dalam acara Pesta Keluarga Kudus. (26/12/2010). Semangat yang sama, anak-anak dibawah bimbingan orangtua diajak untuk membawakan nyayian dan tarian dalam pesta bersama kelaurga besar MSF.

Bukan hanya itu saja, tetapi lebih lanjut lagi, semangat anak-anak dan remaja itu berkesinambungan untuk menjadi misionaris cilik di komunitas basis, setelah misa pesta penampakan Tuhan Yesus (9/12/2010).
Untuk menjadi pewarta kecil di KBG, anak-anak sekolah minggu dan remaja dibagi dalam beberapa kelompok. Setiap kelompok didampingi oleh para pembina masing-masing. Kelompok St. Dominikus dan Yohanes Pemandi, langsung menjalankan misinya setelah pulang dari Gereja Paroki. Begitupun kelompok basis Sta. Maria Goretti, St. Theresia 1, St. Vincentius, St. Don Bosco, dan Stasi Pemali. Sedangkan kelompok St. Yosep, St. Petrus, St. Fransiskus Xaverius, Sta. Elisabeth, melaksanakan misinya pada sore hari.
Berdasarkan laporan Ibu Yovita Djanu Rombang, salah seorang pendamping aksi tiga raja, bahwa anak-anak yang berumur SEKAMI begitu banyak di KBG. Aksi tiga raja mereka begitu antusias. Mereka pingin tampil. Mereka pingin menyanyi bersama-sama. Dan bahkan mereka pingin untuk bersama dengan teman-temannya yang lain dari komunitas lain. Ke depan, aksi tiga raja perlu didamping dengan baik. Sejak kecil dilatih untuk membawa misi Yesus. ***maya – alf***