Senin, 02 Mei 2011

BERGAM: AKSI DAMAI ANAK WOLOSINA DI KANTOR CAMAT LEWOLEMA KAWALIWU

Di rumah Bpk. Pati Goleng, warga Wolosina menyiapkan diri untuk "Aksi Damai Di Kantor Camat Lewolema" Kawaliwu (28/4/2011) pukul 09.00.
Warga Wolosina di simpang tiga Kawaliwu. Menunggu anggota berkumpul untuk melangkah maju bersama ke Kantor Camat Lewolema.
Seruan Aksi Damai Anak Wolosina "Pulihkan Haknya Wolosina"
Di depan Kantor Camat Lewolema, disaksikan oleh para staff dan keamanan (polisi dan tentara) anak Wolosona menunjukan "titik-titik kejanggalan kerja penghuni rumah kecamatan lewolema" Siang-siang para penghuni rumah Kecamatan main Kartu ya...alias bejudi. Potret yang memalukan bangsa dan negara ini.
Tuntutan kami ini walaupun tertera di atas bekas sak semen. Jujur dan jernih dalam menuntut dan gegap gempita dalam menyuarakan apa yang menjadi hak kami, anak-anak Wolosina.
Pilar/papan batas wilayah Sinar Hading-Ile Padung yang telah dicabut Camat Lewolema dan staffnya kemudian diletakan di ruang tengah belakang Kantor Camat Lewolema Kawaliwu.
Camat Lewolema, (RP) didampingi tentara, di dalam ruang kantor camat Lewolema, sedangkan diluar kantor warga Wolosina sedang berorasi meminta camat memancang kembali batas wilayah Sinar Hading - Ile Padung.
Panas mentari 28/4/2011 sungguh luar biasa. Namun demikian, tidak seganas mentari di dalam lubuk hati warga Wolosina di depan kantor camat lewolema. Salam dari Pangkalpinang Bangka. ***al***

Senin, 28 Maret 2011

REFLEKSI DAN REKAB SUBTEMA SINODE II PAROKI SUNGAILIAT

Anggota DPP, ketua dan fasilitator kelompok kembali berkumpul di ruang pastoran Paroki Sungailiat (27/3/2011). Pastor Aloysius Kriswinarto, MSF, penanggung jawab Tim Sinode II Paroki Sungailiat menyampaikan maksud pertemuan itu. “Kita diundang untuk mendengarkan hasil refleksi dan rekap sub-sub tema Sinode II yang selama ini sudah kita jalankan di kelompok basis. Nanti, pak Alfons akan memandu kita untuk melihat kembali hasil refleksi dan rekap sub-sub tema Sinode. Selain itu, dihadapan para ketua kelompok, pastor paroki pun menyampaikan keprihatiaannya mengenai jumlah kehadiran anggota kelompok dalam setiap kegiatan kelompok yang tidak sebanding dengan jumlah keseluruhan dari tiap-tiap anggota kelompok. Ke depan, jika ada anggota kelompok yang kurang atau tidak aktif dalam kegiatan kelompok, ketua kelompok tidak usah memberikan rekomendasi untuk pelayanan sakramen baptis, komuni pertama, krisma dan perkawinan. Rekomendasi diberikan jika anggota kelompok yang bersangkutan sungguh-sungguh sudah aktif di kelompok basisnya. Gereja semakin berkembang pesat, karena didukung oleh KBG-KBG yang kokoh.

Saat yang bersamaan itu, di aula Paroki Sungailiat, Kaum Muda St. Aloysius Gonzaga Sungailiat mendapat siraman pengalaman pastoral kaum muda dari Pastor Vincentius Wahyu Harjanto, MSF, pastor pengganti Rm. Wawan, MSF. Dihadapan ke-28, anggota St. Aloysius Gonzaga yang hadir, Rm. Wahyu, menegaskan “Kaum muda memang selalu sibuk kerja. Kita memang butuh kerja. Tapi disisi lain, kita pun butuh waktu dan wadah untuk berkumpul bersama-sama. Kini kita sudah mulai membangun wadah kita. Jika kita sudah memulainya, jangan kita putus ditengah jalan. Selain itu, wadah kita bersama adalah kelompok basis. Di kelompok basis kita bisa berkumpul dengan anggota kelompok kita. Karena itu, kita membagi waktu dengan baik. Dan kalau kita sudah aktif di kelompok basis, kita akan dipermudah dalam banyak urusan, seperti krisma dan perkawinan. Kita tidak aktif di kelompok, tentunya kelompok belum bisa juga memberikan rekomendasi untuk kita bila kita mau krisma dan mau menikah katolik.

Acara kaum muda yang dipimpin oleh Tyas Podo, PNS RSJ Sungailiat ditutup dengan doa dan makan mie bersama. **al**

Selasa, 22 Maret 2011

LANGO BELE: SIMBOL KEBERSAMAAN DAN PERSAUDARAAN SEJATI

1
Lewo Goe Igo Rian Sina, punya makna histories dan selalu menyejarah dalam kalbu warga Kawaliwu. Lahirnya “lewo” bukan berasal dari langit. Lahirnya “lewo” bukan karena hebat perang yang pernah ada dan selalu diceriterakan oleh para penyejarah Kawaliwu. Tetapi selalu diingat bahwa lahirnya “lewo” karena “pupu taan uin tou-genahan taan uin ehan, yang lahir dari kebersamaan dan persaudaraan sejati. Nilai kebersamaan dan persaudaraan sejati inilah yang menjadi dasar yang kokoh bagi hidup warga Kawaliwu.

“Pupu taan uin tou-genahan taan uin ehan”, lahir didalam suatu kebersamaan dan persaudaraan sejati di dalam “langö belĂ©.” Di dalam “lango bele” ini setiap saudara-saudari dari satu suku dipertemukan, saling berbicara-mendengarkan-dan mencari jalan keluar serta lebih dari itu, bersama-sama menjalankan hasil kesepatan.

Percayakah bahwa dari dalam “lango bele” itu muncul adanya kebersamaan dan persaudaraan ssejati? Yakinkah kita bahwa “lango bele” menjadi tempat membangun rasa kebersamaan dan saling mengikat perasaan satu dengan yang lain? (refleksikan…..)

Lewo Goe Igo Rian Sina, memiliki banyak “lango bele.” Hampir setiap suku ada. Dan dari semua suku itu, kemudian berkumpul dalam satu “lango bele” di “lewo oki.” Suatu pola kepemimpinan dari bawa menjadi hidup. Dan seorang pemimpin utama mendengarkan suara dari bawa melalui system peradaban dalam “lango bele.”

Sistem yang sudah dibentuk demikian lama, perlahan-lahan sirna. Kehancuran sistem kebersamaan itu bukan karena factor dari luar. Ingat, sepenggal lagu Ebit G. Ade, berbunyi demikian. “….tengoklah ke dalam sebelum bicara…” Jangan pula kita menyalahi pihak yang menjadi pusat persoalan ketika kita mendengar bahwa tokoh-tokoh yang bersangkutan adalah biangkeladinya. Tetapi, hendaknya kita bersahaja, mendengar dan mendengar. Kemudian mengolah diri, mengambil sebuah makna yang menjadi prinsip dalam menjalankan kehidupan ini. ***

2
Refleksi kita adalah ”mengapa ”lango bele” tidak menjadi pusat ”pupu taan uin tou-genahan taan uin ehan?” Jika ”lango bele” tidak menjadi tempat yang strategis untuk warga Kawaliwu berkumpul, adakah tempat lain yang bisa menjadi pusat pertemuan dan membangun kebersamaan serta persaudaraan sejati bagi warga Kawaliwu?

Generalisasi – sebuah perbandingan:
Sinagoga adalah tempat ibadat kecil masyarakat Yahudi di pedesaan atau dusun atau di tingkat lingkungan. Di dalam sinagoga ini selain sebagai tempat ibadat, masyarakat Yahudi pedesaan/pedusunan juga berkumpul untuk suatu proses pendidikan-pengajaran Kitab Taurat. Bahkan menjadi tempat pertemuan masyarakat untuk membicarakan berbagai masalah entah itu ekonomi, sosial budaya, edukasi, kemanusiaan, dll. Di dalam sinogoga anggota masyarakat Yahudi saling belajar untuk membangun kebersamaan dan persaudaraan di antara para anggota masyarakat. Kebersamaan itu dan persaudaraan itu bukan hanya di tingkat pedesaan/pedusunan tetapi bahkan di tingkat yang lebih besar. Masyarakat pada perayaan-perayaan tertentu mereka semua berkumpul di Yerusalem, di tempat doa yang besar, di Bait Allah. Misalnya pada perayaan musim panen, dll. Dengan tingkat perayaan/kegiatan semacam ini, mereka membangun kebersamaan dan persaudaraan di antara suatu masyarakat. Tidak heran, pengalaman kebersamaan dan persaudaraan itu, selalu terus hadir dalam setiap hidup dan perjuangan mereka.

Dalam refleksi saya selama ini, Kawaliwu punya pengalaman yang sama. Punya banyak ”lango bele” karena punya banyak suku. Kemajemukan ini telah meng-adab-kan kita. Keragaman ini telah menunjukan bahwa kita punya potensi untuk maju.

Tetapi sayang, bahwa masih adakah ”lango bele” di setiap suku menjadi ”rumah singgah bagi siapapun dalam satu suku” untuk membangun kebersamaan dan persaudaraan? Adakah peluang untuk membangun kedamaiaan ide, ketenangan jiwa dan kebeningan budi bagi masyarakat untuk maju selangkah menenun pengalaman masa lalu, merajut masa depan dengan merefleksikan masa sekarang? Beranikah orang Kawaliwu sekarang berhati tenang dan kesehajaan jiwa untuk menerima serta merangkul banyak pihak yang berbeda  untuk maju menuju ”peradaban cinta.” Dan demikian, Kawaliwu menjadi sebuah ”laboratorium pengharapan” bagi siapapun juga. ***

SUMUR KAWALIWU : SUMBER KEHIDUPAN

Sinar Hading memiliki “sumur kehidupan” yang sepanjang tahun memberikan hidup bagi masyarakatnya. “Sumur kehidupan” itu adalah sumur “wai bao” dan sumur “wai hading.” Kedua sumur ini tertua adalah sumur “wai hading.” Kemudian baru sumur “wai bao.”

Nama kedua sumur  ini berdasarkan nama yang diberi berdasarkan kedekatan sumur tersebut dengan sesuatu. Sumur “wai hading” berdekatan dengan atau di teluk hading. Sedang sumur “wai bao” karena sumur tersebut ada dibawah pohon bao (bao = pohon beringin)

Kedua sumur ini menjadi tempat pertemuan orang Kawaliwu dari berbagai keluarga dan suku. Dan karena hanya dua sumur maka hampir setiap saat di sumur tersebut selalu ada orang “datang dan pergi” mengambil air baik untuk mencuci maupun untuk kebutuhan pokok yaitu masak, mandi dan minum.

Di kedua sumur ini selain orang “datang dan pergi” untuk mengambil dan mengantar air, juga menjadi tempat curhat bagi siapa saja, dan dengan siapa saja serta tentang apa saja. Bahkan jika mau mendengar berita terbaru di seputar Kawaliwu, orang bisa-bisa saja ke sumur dan sialahkan duduk dan mendengar ceritera apa saja dari orang-orang yang datang dan pergi mengambil air.

Sisi lain dari kedua sumur ini adalah, sebagai tempat tumbuh-kembangnya bibit-bibit perasaan sayang dan cinta pada “temona” (gadis) dari suku mana menjadi “muro-kemamu.”

Dari sisi ini, kita boleh terpanggil untuk menjadi seorang “arkeolog” – menggali kembali pengalaman kita di tepian sumur “wai hading” dan “wai bao.” Apakah masih ada pengalaman baik yang masih ada, dan bahkan sampai sekarang masih terus menerus ditumbuh-kembangkan. ***

Sabtu, 19 Maret 2011

RANCANGAN BUKU KAWALIWU - SINAR HADING

Saudara-saudariku yang tercinta.
Rencana "Buku Kawaliwu-Sinar Hading" dengan kerangkanya sebagai berikut:
KATA SAMBUTAN
Nanti bisa ditentukan oleh penulis, kira-kira berapa orang yang bisa beri kata sambutan. Kita bisa pilih siapa saja.

ISI BUKU meliputi:
a. Kawaliwu diteropong dari sisi sejarah
b. Kawaliwu diteropong dari sisi sosial
c. Kawaliwu diteropong dari sisi budaya
d. Kawaliwu diteropong dari sisi ekonomi
e. Kawaliwu diteropong dari sisi politik dan keamanan
f. Kawaliwu diteropong dari sisi intevestasi pariwisata
g. Kawaliwu diteropong dari sisi ..........
(penulis bisa tambahkan sendiri....)
Atau sesuai dengan bidang ilmu yang sedang digeliti sekarang.

SISI TOKOH
SIAPA SAJA YANG MAU BERKATA TENTANG KAWALIWU DULU SEKARANG DAN AKAN DATANG

Setiap tulisan lebih kurang 10 halaman dgn spasi 1,5 dan model huruf Time Roman, besar huruf 12.
Tulisan boleh berupa roman dan pusi, serta bisa berupa karya ilmiah dgn studi banding dan wawancara dari tokoh2 Kawaliwu atau tetangga kawaliwu.
usul lain.................?

Setiap tulisan perlu juga ada catatan kaki.

Rabu, 02 Maret 2011

PHOTO-PHOTO KAPEL BEDUKANG (2)

Photo 1 Kondisi Kapel Bedukang akhir Februari 2011. Kondisi belum punya atap.

 Bpk. John Djanu Rombang dihadapan umat Bedukang mengevaluasi persiapan Sinode 2 selama ini di Kapel Bedukang.

Hadir dalam pertemuan itu, Bpk. Petrus Don Pedro Efendi (berbaju hitam dan berkera putih), ketua dan fasilitator KBG St. Dominikus Sungailiat.
Photo depan kapel Bedukang. Terlihat dalam photo itu, Bpk. John Djanu Rombang, om Mateus Modang, dll.
Mudah-mudahan ke depan semakin maju umat dalam hidup rohaninya. **al**


alfons liwun: KABARI: PEDULI ANAK BEDUKANG

alfons liwun: KABARI: PEDULI ANAK BEDUKANG