Sabtu, 20 Agustus 2011

BUDAYA LOKAL KAWALIWU: " LODO ANA"


Photo / Leo Hurit (8/2011)
Bangsa Indonesia mempunyai banyak sekali budaya daerah. Hampir di setiap daerah di pelosok Nusantara ini memiliki budaya tersendiri. Budaya daerah itu kini mati suri dan bahkan telah tergusur oleh nikmatnya budaya moderen seperti materialisme, hedonisme, apatisme, dan lain-lain. Dan anak-anak muda zaman sekarang, lebih in dengan budaya moderen dan lupa akan budaya asal sendiri. Bagaikan sumur tanpa dasar, begitu bila saya mengandaikan hidup anak-anak moderen sekarang.

Masyarakat Kawaliwu di Flores Timur, sampai dengan saat ini boleh terbilang masih setia pada budaya daerahnya sendiri. Kadang-kadang, memang menjadi kesulitan dalam mewariskan budaya daerah, karena ada banyak hal yang menjadi kendala, selain sikap apatis anak-anak muda moderen yang mempunyai pola pandang tersendiri dengan budaya daerah versus budaya moderen yang lebih pada happy always ketimbang hidup perlu perjuangan.

Photo Leo Hurit (8/2011)
Kawaliwu, masyarakat Lamaholot, hampir setiap tahun mempublikasikan sebuah budaya daerah yang melibatkan banyak suku-suku didalam masyarakat itu. Budaya daerah itu dalam masyarakat Kawaliwu disebut 'Lodo ana'. Lodo berarti dikeluarkan, Ana berarti anak. Lodo anak berarti proses dikeluarkan anak yang telah 1-2 bulan dilahirkan dan yang terkurung dari ruang persalinan, ruang terkurung kepada publik. Anak yang sudah hampir 2 bulan dikurung dibawa keluar untuk diperlihatkan kepada masyarakat. Anak digendong oleh bibi (isteri opu) dan diantar oleh ibunya (ibu anak) ke sebuah halaman luas yang telah dipersiapkan oleh masyarakat. Halaman luas itu berada di rumah besar (lango bele) suku Liwun, kalau di Kawaliwu.

Photo Leo Hurit (8/2011)
Lodo Ana, merupakan sebuah budaya, mengapa? Karena upacara ini telah diturun temurunkan dari nenek moyang Kawaliwu. Selain itu, dengan upacara lodo ana, anak-anak Kawaliwu yang belum sah secara adat untuk suatu "wungu nuran" maka pada kesempatan itu anak-anak yang belum sah adat itu boleh disahkan. Anak-anak duduk berbaris/berkumpul dan ditutup dengan kewatek dan kemudian diatas kepala anak-anak tadi seseorang memecahkan buah kelapa. Fungsinya adalah agar air buah kelapa tadi menyirami kepala anak-anak, mendinginkan kepala-agar anak tumbuh dan berkembang dalam budaya Kawaliwu. Selain itu, secara sosial, anak-anak dapat bergaul dengan siapa saja dalam masyarakat itu tanpa ada rasa takut dan cemas. Karena anak-anak itu sama-sama lahir dari suatu budaya yang sama, Lamaholot.

Photo Leo Hurit (8/2011)
Budaya Lodo Ana di Kawaliwu selalu dilaksanakan pada bulan Juli atau Agustus setiap tahun. Upacara sebelum Lodo Anak adalah upacara mura hama, di elabele (di suatu halaman yang luas) di lango bele (rumah besar suku Liwun). Upacara mura bre itu dilakukan oleh tua-tua / ibu-ibu masyarakat Kawaliwu. Dalam upacara itu, tua-tua / ibu-ibu menceritakan sejarah lodo ana dan sejarah anak yang akan dilodo. Upacara ini dilakukan satu malam dan paginya orang tua masak laki rusa untuk siap disantap, sebagai upacara penutup. 

Lebih lanjut Upacara Lodo Ana, saya serahkan kepada para peneliti budaya atau agama yang berminat untuk mendalami upacara ini. Saya berharap para generasi muda Kawaliwu terlibat untuk mewariskan budaya ini. ***

Selasa, 16 Agustus 2011

SIDANG SINODE II TINGKAT PAROKI STA. MARIA PSR SUNGAILIAT

Sidang Sinode II Tingkat Paroki, khususnya Paroki Sta. Maria Pengantara Segala Rahmat Sungailiat dilaksanakan pada hari Minggu sore, jam 17.00 - 22.30 di Aula Paroki Sungailiat pada tanggal 5 Juni 2011. Sidang itu dihadiri oleh 28 orang yang terdiri dari utusan komunitas basis, biara suster Abdi Kristus, kelompok kategorial dan kaum muda serta anggota DPP. Rm. Dr. Vincentius Wahyu Hardijanto MSF membuka dan memimpin secara langsung Sidang Sinode II Paroki Sungailiat.

Acara Sidang Sinode II Paroki Sungailiat dibuka dengan doa pembuka dari Doa Sinode II Keuskupan Pangkalpinang dari Juni - Desember 2011. Kemudian ada pengantar dari Rm. Dr. Vincent Wahyu H MSF dan selanjutnya peserta Sidang Sinode II Paroki dibagi dalam kelompok kecil untuk mendalami Instrumen Laboris yang telah disiapkan oleh Tim perampung dan Sekretaris Jenderal Sinode II, Rm. Beni Balun, Pr.

Setiap kelompok yang dibagikan itu mendalami subtema sinode II. Pembagian Kelompok diskusi itu sebagai berikut:

Kelompok 1 terdiri dari Rm. Wahyu MSF, Bp. Paulus Benediktus, Bp. Leo Agung Heriyanto, Bp. Sitanjak, Bp. Parulian Silalahi. Kelompok ini mendiskusikan materi Gereja Partisipatif dalam kaitannya dengan Visi Keuskupan Pangkalpinang dan Kristus adalah Pusat Hidup Gereja Partisipatif.










Kelompok 2 terdiri dari Bp. Kristiawan Wardana, Bp. Yulianus Susantoyo, Bp. Yohanes sagyo, Ibu Sri Winarti, Bp. Slamet Sudharso, dan Bp. Alfons Liwun. Kelompok ini berdiskusi tentang subtema "Meneladani Communio Allah Tritunggal dan Gereja Partisipatif dan Kepemimpinannya."





Kelompok 3 terdiri dari Bp. John Lasong, Bp. Napitupulu, Nn. Yovita Yati, Sdr. Hilarius Asta, Bp. Bernardus Djaimin, dan Bp. Slamet Martin. Kelompok ini berdiskusi tentang "Gereja Partisipatif dan Pengelolaan Harta Benda."










Kelompok 4 terdiri dari Bp. John Djanu Rombang, Bp. Yosef Ardyanto Totong, Bp. Servinus Sero, Sr. Gregoriana Ak dan sdri. Dewi Susanti. Kelompok ini membahas tentang Kristus Pusat Hidup Gereja Partisipatif dan Komunitas Basis Gerejani.






Setelah dibahas di kelompok kecil, kemudian diplenokan. Didalam pleno ini anggota kelompok memberikan menajaman dan berdiskusi lagi. hasil diskusi dari setiap subtema akan menjadi hasil definitif Sidang Sinode tingkat Paroki. Hasil dari Sidang Paroki ditandatangani atau disahkan oleh tiga orang: Rm. Dr. Vincentius Wahyu H MSF, Bp. Leo Agung Heriyanto dan Bp. John Djanu Rombang. Hasil sidang Sinode II tingkat paroki kemudian menjadi bahan laporan dalam Sidang Sinode II tingkat Dekenat (Selatan atau Utara). ***

Senin, 15 Agustus 2011

SINODE II KEUSKUPAN PANGKALPINANG SEJAK JANUARI 2009

Sinode II Keuskupan Pangkalpinang mulai dijalankan oleh umat Katolik keuskupan Pangkalpinang sejak Januari 2009 dengan pertemuan antar umat Katolik di komunitas basis gerejani masing-masing paroki. Sejak Januari 2009 itu, umat merefleksikan perjalanan hidupnya sebagai umat Allah, satu keuskupan melalui tujuh subtema Sinode II. Ketujuh subtema itu antara lain: (1). Gereja Partisipatif dalam kaitannya dengan Visi Misi Kesukupan Pangkalpinang 2000 (2). Kristus adalah Pusat Hidup Gereja Partisipatif (3). Meneladani Commnio Allah Tritunggal (4). Gereja Partisipatif Melaksanakan Misi Yesus Kristus (5). Gereja Partisipatif dan Kepemimpinannya (6). Gereja Partisipatif dan Pengelolaan Harta Bendanya (7). Komunitas Basis Gerejani.

Selama hampir lebih kurang dua tahun, umat di komunitas basis bertemu dan sharing Kitab Suci dengan bimbingan ke-7 subtema tadi. Selain itu, umat pun diminta untuk mengisi formulir dan angket penelitian berdasarkan ke-7 subtema tadi. Memang selama hampir 2 tahun itu umat sungguh sungguh berjuang untuk menemukan jati dirinya. Bahwa jati dirinya sebagai umat Allah, sungguh-sungguh dibimbing oleh Roh Kudus, bersama sama melangkah maju menuju Allah Bapa.


Setiap kali selesai satu subtema umat komunitas mengadakan refleksi penilaian dan kemudian melanjutkan pada pertemuan subtema berikutnya. Ujung tombak dari setiap pertemuan umat di KBG-KBG adalah fasilitator, pengurus kelompok dan pastor dalam perayaan ekaristi bulanan komunitas.***



Senin, 01 Agustus 2011

ANAK-ANAK FLORES DIASPORA - HIDUP DENGAN BEBAS

= Mehan dan Lado bermain di kebun sawit =
Laurensius Nong Mehan (3thn) dan adiknya, Kristoforus Lado (2thn), merupakan anak dari bapak Kornelius (45) dan ibu Maria (35). Yang kakak sering disapa ”Mehan” dan yang adik sering dipanggil ”Lado”. Mereka adalah keluarga Katolik di komunitas Yohanes Pemandi-Bedukang Sungailiat Bangka. Kakak-beradik, Mehan dan Lado adalah anak laki-laki. Keduanya hanya beda satu tahun kelahiran.

Kedua anak ini, setiap hari pada jam sore, dengan berpakaian rapih dan bersih selalu datang ke rumah ketua komunitas Yohanes Pemandi. Mereka bertanya apakah hari ini ada sembayang atau tidak. Setiap kali keduanya datang ke rumah ketua kelompok basis selalu bertanya ”hari ini ada sembayang atau tidak.” Terkadang karena saking sering datang dan bertanya ”ada sembayang atau tidak” Ibu Maria Bona, ketua komunitas itu pun menjadi bingung. Kok kedua kakak beradik masih kecil-kecil begitu sibuk benar dengan sembayang atau doa?

= Mereka bermain dengan bebas =
Kalau mereka tidak ke rumah ketua kelompok maka Mehan dan Lado itu setiap hari mengamati mobil pastor atau sekurang-kurangnya bertanya kepada ibu mereka, apakah hari ini ada doa atau sembayang atau tidak. Kalau ada mobil pastor, keduanya cepat-cepat mandi dan pergi ke gereja atau diminta diantar ibunya. Keduanya selalu berpikir, setiap hari ada doa atau sembayang di gereja. Karena kebiasaan seperti itu, kedua anak ini selalu merepotkan orangtua mereka khususnya ibu mereka. ***

Sabtu, 09 Juli 2011

KIBARKAN BENDERA THS-THM DI TEREMPA KEP. ANAMBAS RIAU

= Photo di Air Terjun Batu Bela *dokumen alfons liwun =
Bendera THS-THM berdiri di Terempa, Pulau Siantan sejak tahun 2002, bulan Oktober tanggal 15. Dengan anggota hampir 20-an orang, yang terdiri dari anak-anak dan remaja. Angkatan pertama, Michael, Ferdi, Jauhari, Pampang dan Agustina serta Dewi. Mereka ini adalah anak-anak suku laut dan tionghoa. Mereka belajar di Gereja Katolik Stasi Terempa.

Dalam refleksi kami, kami meremukan bahwa THS-THM saat yang tepat berkibar di "pulau naga" itu. Karena bertepatan dengan itu, ada banyak bela diri yang ada di Pulau Siantan. Berdirinya THS-THM sebagai penangkal untuk anak-anak Katolik tidak belajar di perguruan yang bukan Katolik. Disini kami menemukan bahwa anak Katolik yang baru berkembang perlu juga diberdayakan agar masa depan Katolik di pulau itu tetap ada dan hidup terus. 

= Di Pelabuhan Batu Bela *dukumen alfons Liwun=
Di Pantai Batu Bela, anggota THS-THM selalu berekreasi. Mereka menikmati pemandangan dan cinta akan alam hidup di Terempa dan sekitarnya. Menikmat alam dan persaudaraan antar mereka merupakan suatu anugerah. Anugerah karena sesuatu yang sebelum tidak dinikmat dan dirasakan. Dengan adanya THS-THM kami bisa berbagi kasih dan penuh rasa bersaudara. Kami menaburkan benih "kekeluargaan, menghargai perbedaan, dan saling berbagi walaupun dalam kekurangan.Kami mersakan ini semua dengan cinta yang muncul dalam diri kami. Refleksi kami adalah merasakan cinta sejati dan rasa persaudaraan antar kami padahal kami bukan hanya dari Terempa tetapi dari Air Sena dan Mengkait serta Flores.

= Pendekar Siantan =
Keempat pendekar dari kiri ke kanan sdr. Dori, Sdr. Ferdi, sdr. Alfons Liwun dan sdr. Michael. Mereka adalah inspirator THS-THM di Termpa.
Kini ketiga saudaraku berada di Terempa.

Kami bergaya, kami sedang menikmat pemandangan yang indah. Pemandangan itu merupakan karya Allah. Karya Allah, bukti tanda kehadiran Allah yang selalu menyertai umat-Nya.
Allah selalu mengatakan kepada kami, "jangan takut..., bangkit dan bergerak...Aku menyertai engkau sampai akhir zaman. Kami yakin bahwa dimana kami bertemu dan berkumpul, kami merasakan kehadiran Allah yang mengagumkan.

= Pendekar Perdana =
Dari belakang ke depan: Sdr. Juni, Sdri. Dewi, Sdri Agustina, Sdr. Yudas, dan paling depan pendekar Eman; yang sering diantara kami menyebutnya "pendekar Boboho.."

Kelima pendekar Senior, pendadaran pertama, ini merupakan anggota resmi THS-THM Terempa. Gambar ini nampak bahwa mereka dalam perjalanan ke gunung. Mereka melintasi batu besar dan akan mendaki ke  gunung Batu di Tanjung Batu Balai. Refleksi kami adalah dakilah ke gunung Tuhan walaupun gak bisa didaki. Berusahalah sekuat tenaga agar bisa sampai puncak. Di puncak itulah, kegembiraan dan kebahagian telah menanti engkau. Dia sedang menyapa anda, "datanglah ke gunung Tuhan, ketemulah Dia yang sedang menatapmu. Peluklah Dia dan Dia akan memberkati engkau.

Salam Gloria et Patria
**al**




Kamis, 23 Juni 2011

GILA NONTON BOLA PS. KAB. BANGKA VERSUS PERSIB BANDUNG

Gonzales, cs dari Persib Bandung adu tenaga dengan Hudi, cs PS Bangka di Orom, stadion Kabupaten Bangka Sungailiat (22/6/2011). Pertandingan dimulai jam 15.30-16.30.Pertandingan itu diakhiri dengan 1-1. Seri!
Pertandingan PS Kab. Bangka versus Persib Bandung dinonton oleh lebih kurang lima ribuan orang, dewasa, remaja, kaum muda. bahkan anak-anak dan kakek-kakek. Para menonton bukan hanya memadati podium yang disediakan oleh panitia tetapi menempati tembok dan pepohonan yang ada disekitar stadion Kab. Bangka, Sungailiat, Orom.
Sungguh mengagumkan. Warga Kabupaten Bangka begitu antusias.
Bahkan ada penonton yang menonton dari atas pohon kelapa di samping bawah, dekat bambu.
Selain di atas pohon kelapa, ada juga yang diatas pohon seru kecil. Menonton bola sambil kotak-katik hape. Rasanya seru tetapi menakutkan. Begitulah kalau orang sudah gila bola dan gila idola, Gonzales.
Bukan hanya penonton saja yang gila bola. Bahkan penjual makanan-minuman bagi para penonton pun gila-gilaan. Para penjual makanan-minuman (penjaja), pedagang sederhana pun merauk duit-duit para penonton. Gilaanya mereka pun bisa mengantar makanan-minuman para penonton di atass tembok yang tinggi dan di pohon-pohon.


Pertandingan persahabatan ini merupakan suatu kerjasama, untuk meningkat kualitas permainan sepak bola dan sekaligus meningkatkan nasionalisme, rasa persaudaraan. ***

Senin, 20 Juni 2011

WISATA ALAM "MAHAYANA" BUKIT BETUNG

Bukit Betung, tempat wisata religi alam yang dikelola oleh agama Budha. Bpk. Herianto Liudra pernah mengundang kami pada Sabtu, 18/6/2011, jam 10.00 wib untuk mendengarkan sosialisasi wisata alam Bukit Betung. Dalam dengar sosialisasi itu, ako Herianto menjelaskan bahwa nanti di Bukit Betung ini akan dibangun sebuah patung Budha setinggi 39 meter. Tempat Wisata Alam Bukit Betung ini, bukan sebagai tempat doa bagi umat Budha. Namun sebagai wisata alam bagi siapa saja. Orang-orang akan datang menikmat pemandangan yang indah. Orang-orang akan datang dan merasakan hembusan angin yang segar. 
Di Bukit Betung itu, ada sebuah gua yang dibangun selaras alam. Bagi umat Budha yang berwisata di sana, jika pingin doa bisa, karena ada gua, tempat doa. Suasana alam terasa nyaman, sejuk dan hembusan angin yang segar. 
Sebuah kolam di dekat wisata alam Mahayana, Bukit Butung. Kolam ini sebelumnya meerupakan bekas tambang timah ilegal. Kolam TI itu diolah untuk menjadi sebuah kolam ternak ikan mas. Kata Bpk. Herianto Liudra, kolam itu bekas tambang timah. Ada banyak timah didalam itu. Para pekerja mulai merambah hutan dan menggali mengambil timah. Namun, apalah daya, kami lebih dulu berinisiatip untuk terpanggil mengolah lahan ini untuk menjadi alam wisata.

Bpk. Herianto Liudra sedang bersosialisasi tentang Wisata Alam Mahayana Bukit Betung (18/6/2011). Yang hadir dalam sosialisasi wakil Dinas Pariwisata Kab Bangka, Bpk. Ir. Agung Setiawan 9Anggota DPRD Kab. Bangka), Sekcam Sungailiat, Pembimas Budha PropinsiKep. Babel, Lurah Parit Padang, Utusan Gereja Katolik Sungailiat, dan beberapa pimpinan lainnya. ***