Sabtu, 11 Februari 2012

SAMBUT-PISAH ROMO MSF SUNGAILIAT

Kendaraan parkir di depan gereja dengan rapi, seperti misa pada malam minggu. Umat dari komunitas-komunitas berdatangan. Mereka menempatkan kursi-kursi yang telah disusun di lapangan badminton, depan aula paroki. Tidak disangka bahwa antusias umat pada acara pisah-sambut pastor MSF yang bertugas di Paroki Sungailiat, begitu banyak. Lebih kurang tiga ratusan umat yang hadir pada Rabu malam (1/2/2012)

“Kami bersyukur atas kehadiran umat yang begini banyak. Acara ini tidak ada panitia khusus. Protokolnya pun main tembak saja tadi. Kami senang dan bangga karena umat menanggapi undangan kami walaupun hanya lewat warta paroki saja”, ungkap Pastor Kris, parochus Sungailiat dalam kata sambutan pisah-sambut Rm. Vincentius Wahyu Harjanto MSF dan Rm. Fransiscus Asisi Budyono MSF.

Sejak 1 Maret 2011, Rm. Vincentius Wahyu Harjanto, MSF bertugas di Sungailiat, sebagai pastor pembantu paroki. Rm. Wahyu, begitulah yang sering disapa umat, lebih kurang setahun bertugas di Paroki yang berpelindungkan Santa Maria Pengantara Segala Rahmat. Walau hampir setahun menjalankan tugas, sudah merasa krasan. Sudah betah. Karena Sungailiat cukup menarik, cetus romo doktor spiritualitas ini.
  
”Saya teringat Rm. Wahyu, setiap kali kalau mau misa komunitas di St. Gabriel. Romo selalu telephon saya. Karena, romo belum hapal jalan dan rumah-rumah umat komunitas Gabriel,” ungkap Paulus, seorang fasilitator dari Bukit Betung, ketika memberikan kesan dan pesannya. ”Apalagi Rm. Wahyu seorang figur kebapaan yang dekat dengan umat, humor dan penyampaian kotbahnya singkat namun berisi,” lanjut seorang anggota umat yang hadir, enggan disebut namanya. Tidak heran jika ada banyak simpatisan yang hadir.

Rm. Wahyu pandai masak. Ketika ibu masak di pastoran libur imlek, romo yang pernah bertugas di Filipina ini berinisiatip untuk mengurus dapur dan masak. Selain hobi masak, juga berbakat seni. Bakat seni dapat dirasakan ketika natal 2011 yang lalu. Rm. Wahyu mengolah secara kreatif kertas-kertas dan barang-barang plastik yang telah dibuang menjadi bermacam barang-barang hiasan di gereja. Bahkan barang-barang bekas seperti kertas-kertas itu dihancurkan atau dipadatkan lalu dibentukya menjadi arca-arca Yesus, Maria, Tiga Raja, gembala, dan lain-lain lalu dicat kemudian diletakkan di kandang natal.

Bakat seninya diterima bukan hanya orang tua tapi juga anak-anak. Anak-anak rajin mengikuti latihan tablo natal dan dengan percaya diri tampil pembuka upacara natal 2011. Sehingga tidak heran, ketika acara penyerahan kado, Lorens Djanu Rombang (4) dengan senyum menyerahkan kado keluarganya untuk Rm. Wahyu. Sebuah ungkap perhatian dan daya tarik tersendiri baginya.

”Rasanya begitu cepat kebersamaan Rm. Wahyu dengan umat Sungailiat. Bagiamana pun ada saat untuk perjumpa, ada saatnya untuk berpisah, pindah tugas. Pindah tugas, suatu hal yang biasa. Artinya dengan pindah tugas, umat di tempat lain mendapat pelayanan.

Kata Wililem, salah seorang peserta komunitas St. Theresia 1 yang hadir, “Iyalah, mana mau lagi romo disini. Apalagi di Tarakan romo ini bukan kapten, tapi seorang jendral. Lebih tinggi pangkatnya. Makanya perlu pindah.” Mungkin inspirasi ini muncul ketika kata sambutan Rm. Wahyu yang menyampaikan tugasnya di Tarakan, yaitu sebagai pastor di paroki dan menjadi staf pengajar di seminari. Wah...benar juga kata pak Wililem tadi. Rm. Wahyu akan mengajar calon pastor. Benar, sesuai dengan bidang Rm. Wahyu yang selama ini menjadi dosen untuk para calon imam.

Rm. Wahyu telah berangkat ke Jakarta (2/2/2012) dan akan ke Keuskupan Tanjung Selor Kalimantan Timur. Tapi kita ingat bahwa Rm. Wahyu telah menjadi teladan bagi kita, kata pak Ardijanto. Romo telah menunjukan banyak hal untuk umat Sungailiat. Tidak heran kalau malam itu anak muda jadi iklan di baju yang kemudian diberikan kepada Rm. Wahyu biar ketika Rm. Wahyu di Tarakan tidak melupakan mereka. Bukan hanya anak muda St. Aloysius Gonzaga, ibu-ibu paroki tampil dengan suara emasnya untuk memberi kenangan tersendiri bagi romo. Hanya satu ucapan untuk Rm. Wahyu, terima kasih dan Tuhan memberkati. Untuk Rm. Budi, selamat datang dan selamat bertugas di Paroki Sungailiat. *al*

Kamis, 02 Februari 2012

DESTINATION KE SITUS MEGALITIK KAWALIWU

Jalan masuk ke "Lango Bele" hampir 1,5 kilo meter dari jalan raya Kawaliwu-Larantuka.Pohon-pohon di sekitarnya masih asli. Kata orang Kawaliwu, pohon-pohon itu secara alamiah tidak pernah ditebang atau disentuh oleh tangan manusia. Kalau pohon-pohon itu tumbang artinya secara alamiah karena sudah rapuh dan mati sendiri.

Rata-rata pohon-pohon itu terdiri dari pohon beringin, rita, dan pohon-pohon lain yang ditanam oleh orang Kawaliwu, termasuk pohon kepala, jambu mete dan kemiri.

Perjalanan dari jalan raya ke lango bele, lebih kurang 20 menit, jika kita berjalan santai. Kalau mau cepat mungkin hanya 10 menit. Jalan masuk ke lango bele, jalan setapak, berbatu-batu dan lumayan mendaki. Jika kita sudah masuk dalam "kawasan hutan asli" dari jauh kita sudah mendengar suara-suara alam semakin terasa, seperti di hutan belantara. Dari jauh kita melihat atap "koko" atau korke dan "Lango Bele". Juga ada sebuah rumah klan di sebelah kanan, rumah klan larita (Lango suku Ritan). Selain lango dan koko, juga ada hoku. Hoku adalah rumah kecil yang dipakai untuk menyimpan hasil kebun.

Koko atau korke, rumah tua, peninggalan nenek moyang Kawaliwu. Rumah ini sebagai tempat "penyatuan ide, pikiran, dan membuat kesepakatan." Atau sekarang boleh kita sebut sebagai "rumah demokrasi". Rumah "pupu taan uin tou, gaan taan gewahan ehan." Artinya di dalam rumah ini, seluruh kepala klan yang hadir membuat sepakat untuk suatu keputusan. Setelah keputusan itu sudah diputuskan oleh pemimpin lewotana atau kepala penatua, keputusan itu diangkat ke pada Rera wulan Tana Ekan. Seluruh kepala klan mengangkat keputusan kepada Tuhan untuk diberkati, dilindungi dan direstui sehingga dapat terlaksana dengan baik dan lacar.

Keputusan yang telah menjadi sebuah kesepakatan dinyatakan dalam suatu upacara khusus di dalam "megalitik Kawaliwu". Tempat menyembahkan kepada nenek moyang. Agar keputusan yang sudah diambil tadi direstui.

 Sebuah upacara khusus yang didalamnya, para penatua yang berkumpul, mengangkat doa-doa secara ceremonial. Doa-doa itu biasanya dipimpin oleh pemimpin, atau penatua yang mampu "mara".

Ceremonial ini disertai dengan pemecahan telur dan pemotongan binatang. Suatu upacara korban yang menyatakan bahwa Rera Wulan dan Tana Ekan, bertautan erat yang tak boleh dipisahkan. Tautan erat ini melambangkan persatuan dan karena itu, persatuan Rera Wulan Tana Ekan, perlu diikuti oleh seluruh klan (suka) yang ada di Kawaliwu. Meminjam kalimat biblis, "barangsiapa yang melekat dengan Aku, ia berbuah banyak. Barangsiapa yang menjauh dari Aku, akan Kubuang."

Situs megalitik, sebuah situs prasejarah di Kawaliwu. Batu-batu tipis yang berukuran besar, disusun membentuk sebuah ruang dengan ukuran yang diperkirankan lebar 13 meter dan panjang 25 meter dengan ketinggian 1,5  meter. Ruang seluas ini sebagai tempat pemujaan terhadap nenek moyang Kawaliwu.

Dikeliling ruang megalitik itu berdiri batu-batu yang dipasang tegak disetiap sudut dan pertengahan situs. Situas megatilik Kawaliwu diperkiran berumur 4.0000 tahun. Sampai dengan saat ini banyak wisatawan asing datang melihat dan sekaligus merayakan pemujaan bersama di dalam situas ini. Orang Kawaliwu, hampir setiap tahun menerima wisatawan asing yang berkunjung ke situs Kawaliwu.

Bagi wisatawan asing yang mau berkunjung bisa dengan pesawat terbang dari Den Pasar ke Maumere kemudian dengan mobil ke Larantuka. Dari Larantuka ke Kawaliwu hanya 15 km. Di Kawaliwu wisatawan dapat menikmati panorama alam situs Kawaliwu, Sun Set Kawaliwu dan Air Panas Kawaliwu dengan pemandangan indah pantai Kawaliwu. Selamat datang dan menikmatinya. ***

Jumat, 13 Januari 2012

KUNJUNGAN PROVINSIAL MSF KE PAROKI SUNGAILIAT

Kunjungan Romo Provinsial MSF ke Sungailiat mulai 9-12 Januari 2012. Kunjungan pimpinan MSF bermaksud untuk membangun relasi antar sesama anggota MSF. Sehingga persaudaraan antar mereka tetap terjalin. 

Selain Rm. Purnomo juga bertemu dengan kedua rekannya, Rm. Kriswinarto dan Rm. V. Wahyu, juga pada malam 11 Januari 2012, Rm. Pur pun sempat bertemu dengan anggota Dewan Pastoral Paroki Sungailiat. Dalam kesempatan itu, Rm Pur mengucapkan terima kasih kepada anggota DPP dan umat yang telah menerima kedua rekannya dengan baik secara lebih kurang 4 tahun untuk Rm Kris dan hampir setahun untuk Rm. Wahyu. Rm. Pur mengharapkan supaya kehadiran kedua rekan dapat membantu umat untuk menghayati imannya agar mampu hidup seturut teladan Keluarga Kudus Nasaret.

Pada kesempatan itu juga Rm. Pur menginformasikan bahwa Rm. Wahyu akan berpindah ke Keuskupan Tanjung Selor pada bulan Fberuari 2012.  ***



Senin, 21 November 2011

AsIPA II INTERNATIONAL DI BATAM (13-21 NOVEMBER 2011)

SHARING PENGALAMAN
“VISITASI PESERTA AsIPA II INTERNASIONAL
KE KBG BATAM”

AsIPA II di Batam Harumkan Nama Keuskupan Pangkalpinang di Level International” saya ingin mensharingkan pengalaman selama mengikuti proses pertemuan AsIPA II tersebut. Mudah-mudahan sharing pengalaman saya ini berguna bagi kita semua yang membacanya.

Pertemuan AsIPA II di Batam

Selama ini pertemuan AsIPA berpindah-pindah dari satu negara ke negara lain di Asia. Tanggal 13-21 Oktober 2011, Indonesia khususnya Keuskupan Pangkalpinang didaulatkan menjadi tuan rumah temu AsIPA II. Karena menjadi tuan rumah, maka tuan rumah pun membutuhkan waktu dan tenaga untuk pelaksanaan temu AsIPA II. Rm. Frans Mukin dan Rm. Poya selaku Deken Selatan dan Utara ditugaskan Bapa Uskup untuk menyiapkan kepanitiaan pelaksanaan pertemuan. Tidak heran, pertemuan yang berlevel International itu berjalan dengan lancer dan aman-aman saja.

Pertemuan dilaksanakan di Hotel Pasific Sei Jodoh Batam. Peserta pertemuan sebanyak 62 orang yang berasal dari 11 negara di Asia seperti Korea, Singapura, India, Srilanka, Taiwan, Philipina, Thailand, Malaysia, Hongkong, Mynmar dan Indonesia. Peserta terbanyak yang diutus dari Indonesia, Pangkalpinang, 18 orang, menyusul dari Thailand sebanyak 16 orang. Sedangkan negara-negara lain hanya mengirim 1 sampai 5 orang. Banglades yang seharusnya mengutus 9 orang, dinyatakan batal karena terkendala visa masuk ke Indonesia.

AsIPA: apa itu?

Asian, Integral, Pastoral, Approach atau sering disebut Pendekatan Pastoral secara Integral di Asia. AsIPA lahir pada tahun 1993 di Malaysia. Produk dari kerjasama Federation Asian Bishop’s of Conferences (FABC) khususnya Komisi Perkembangan Manusiawi dan Komisi Awam. Lahirnya AsIPA mendukung pernyataan akhir para uskup Asia  dalam Sidang Paripurna kelima di Bandung, Indonesia tahun 1990.

Hampir kebanyakan orang di komunitas basis kita ketika mendengar AsIPA, pikiran terarah kepada metode sharing Injil 7 Langkah. Benar! Tapi, sebenarnya sharing Injil 7 langkah hanyalah satu bagian kecil dari modul-modul yang disiapkan oleh para anggota tim AsIPA.

Dalam AsIPA, dikenal empat modul yaitu modul A-D. Modul A sebanyak delapan kali pertemuan yang membahas langkah demi langkah sharing Injil, metode bercermin pada Kitab Suci dan metode melihat-mendengar-mencintai Sharing Injil atau sering dikenal kesadaran-refleksi-aksi. Modul B sebanyak dua belas kali pertemuan. Modul ini mengajak peserta mengerti dan memahami apa itu Komunitas Basis Gerejawi. Bagaimana sebuah komunitas basis dikelola dengan baik dan bertumbuh dalam relasi dengan Allah dan keterkaitannya yang erat dengan Gereja universal.

Selain modul tadi, masih ada modul C dan D. Modul C mengajak para peserta pelatihan untuk mengerti dan memahami sebuah Gereja Partisipatif. Bahwa Gereja Partisipatif adalah Umat Allah. Para pastor, biarawan-biarawati, dan kaum awam bersama-sama dalam persekutuan mengambil bagian dalam tugas perutusan Kristus baik di komunitas basis maupun di paroki. Bersama-sama mempunyai tanggung jawab untuk mengembangkan dan mewujudkannyatakan Gereja Partisipatif. Dalam kebersamaan itu, karunia-karunia Roh yang ada dalam diri tiap-tiap pribadi memungkinkan untuk berpartisipasi dalam sebuah Gereja Partisipatif. Dan modul D berbicara tentang Kepemimpinan dalam Gereja Partisipatif. Modul ini tidak mengenal kepemimpinan otoriter atau yang mendominasi, namun kepemimpinan yang partisipatif, yang memberi arah. Kepemimpinan yang mampu mengumpulkan banyak kharisma dan mampu membedakan kemampuan setiap anggota untuk menangani bermacam karya pelayanan berdasrkan kharisma-kharisma yang diterima dari Allah.

Dari modul-modul yang disiapkan oleh Tim AsIPA, cocok untuk kita di Keuskupan Pangkalpinang. Cocok karena hasil Sinode II kita pun mempunyai arah yang sama yaitu pemberdayaan Komunitas Basis sebagai bagian yang utuh dari paroki dengan berpusat pada Tritunggal Maha Kudus. Modul ini hemat saya, sangat cocok untuk membangun kesadaran agen pastoral khususnya para pastor yang menangani parokial. Tanpa keterlibatan para pastor akan kesadaran baru dalam modul-modul AsIPA, saya pikir agen pastoral yang lain akan “macet.”


Visitasi Peserta AsiPA II ke Paroki dan KBG Paroki Damian

Ke-62 peserta AsIPA II dibagi dalam tiga kelompok, berdasarkan tiga paroki di Batam yang mau dikunjungi. Ada 16 peserta mengungjungi KBG-KBG di Paroki Damian. 16 peserta lagi mengunjungi paroki Tembesi dan 23 peserta yang lain mengungjungi paroki Tiban.

Kunjungan peserta AsIPA ke ketiga paroki disambut hangat oleh umat di masing-masing paroki. Mengana tidak? Peserta dijemput pakai mobil-mobil pribadi di hotel pada minggu pagi (16/10). Setelah sampai di paroki, disambut oleh para penerima tamu di gereja. Ada peserta yang masih menunggu waktu misa sambil duduk di pastoran, tapi ada yang langsung masuk ke dalam Gereja. Tempat duduk pun disiapkan secara khsusus. Sedangkan peserta pastor langsung masuk sakristi memakai perlengkapan misa untuk misa konselebran. Suasana di dalam Gereja menjadi lain. Apalagi koor misa minggu itu, misalnya di Paroki Damian begitu merdu dan membahana dalam Gereja. Sampai-sampai Rm. Frans Mukin pun mengakui kehebatan koor yang menyanyikan lagu-lagu Gregorian. “Koor itu begitu hebat, tapi bukan koor paroki. Koor itu dari Stasi Kabil."


Kunjung ke KBG-KBG

Kunjung ke KBG-KBG adalah suatu kesempatan yang bagus. Mengapa? Karena di sana, di KBG-KBG kami menyaksikan kehidupan berkomunitas secara lebih dekat. Kami melihat bahwa umat yang tiap hari minggu ke gereja paroki, mereka menjalankan misi hidup sebagai satu anggota komunitas. Misalnya, tiap-tiap anggota bekerjasama untuk mensukseskan sharing Injil di komunitas dengan keterlibatan semua anggota keluarga untuk hadir dalam sharing Injil, orangtua mengantar anak-anak mereka untuk mengikuti sekolah minggu di komunitas pada setiap hari minggu siang atau sore. Bp. Ruben Tarigan, salah satu anggota dan pengurus KBG St. Kanisius Botanawa, menceritakan seputar keterlibatannya. "Saya sudah aktif di KBG sejak 1989 saat itu saya dan tiga keluarga lain membentuk KBG Kanisius ini. Waktu itu kami baru empat KK sekrang sudah 90-an KK. Komunitas ini semakin berkembang. Disamping itu kami juga tiap sore antar anak-anak untuk ikut sekolah minggu. Kelihatan kami begitu sibuk, tetapi kami percaya bahwa Allah selalu hidup dalam diri kami."

Berbeda dengan pengalaman Bp. Ruben, Bp. Marianus Aritonang, salah seorang pengurus KBG Kanisius bahwa ketrlibatan kami karena panggilan Yesus terhadap diri saya. Saya bekerja dan bekerja tetapi tidak melupakan Tuhan, juga kegiatan KBG. 

Mudah-mudahan kedepan KBG St. Kanisius pun semakin berkembang.
Salam!

Rabu, 28 September 2011

"JANGAN ANGGAP REMEH LEBAH HUTAN"

Ufuk timur Bedukang, sebuah desa di Kecamatan Riau Silip, Kabupaten Bangka berawan gelap. Tanda alam ini bukan mau hujan. Tapi kemarau. Rumah-rumah yang berada di pinggir jalan itu, sepi. Tak satu orang pun lalulalang disitu. Jalan raya yang berhubungan dengan tepi pantai Bedukang itu, berdebu tebal. Memang setengah beraspal tetapi terlihat kecoklatan, warna asli tanah di desa itu.

Masyarakat diaspora Maumere Flores yang menempati rumah-rumah di pinggir jalan setengah beraspal dan setengah tanah merah menuju pantai Bedukang itu, telah berangkat kerja. Hampir semua penduduk diaspora asal Maumere Flores itu, setiap hari meramu biji timah di Camuy. Biji timah, menjadi sumber penghasilan bagi mereka. Jika mereka ke Camuy dan tidak menghasilkan biji timah, itu artinya mereka tidak bisa makan. Timah, menjadi tempat tumpuan harapan hidup mereka bahkan menjadi penghasilan yang bisa mereka tabung untuk bisa mudik ke kampong halaman dan membangun rumah yang layak untuk mereka tinggal.

Mateus Madong, (46) salah seorang bapak diapora Hale Hebing Maumere Flores pun pergi bekerja, pagi itu. Bapak yang sehari-hari bekerja sebagai petani kelapa sawit yang ada di samping rumahnya itu, kali ini dia bukan pergi ke kebun sawitnya tetapi dengan mengendarai honda Supra Fit berwarna merah yang berpadu dengan hitam menuju kebunnya yang hampir setahun lebih ini tidak dikunjunginya. Dia pergi dengan maksud menebas rumput dan mau menanamnya dengan tanaman sengon. Dia melihat seluruh lahannya. Dia memastikan bahwa lahannya itu masih utuh, tidak diramba pengeruk timah ilegal. Estela memeriksa seluruh lahan hampir dua hektar itu, om Mateus mulai menebas disekitar beberapa pohon kayu besar.

Rumput kekuningan akibat kemarau itu telah diratakannya, dengan parang dan diinjak-injak supaya cepat hancur. Beberapa menit kemudian, om yang bernama lengkap Mateus Modang, menebas lagi disebelah pohon yang lain. Dalam sekejap mata, ia mendengar suara begitu besar dan kencang, semacam suara jet atau kapal terbang. Selang beberapa detik, kepala dan seluruh badannya telah dikeroyok ribuan lebah hitam yang sedang bersarang dibawah pohon yang dikelilingi oleh rerumputan. Matanza gelap. Terasa bahwa badannya seperti ditusuk jarum suntik. Terasa sakit sebentar tapi sejenak lagi terasa gatal dan mulai membengkak.

Om Mateus Modang pun tidak mau kalah. Ia melawan dengan melarikan dirinya. Ia lari sambil menutup muka, walaupun dalam keadaan yang payah, ia terus berlari di jalan raya yang sepi. Naas memang nasibnya. Bukan hanya mengeroyok bapak satu anak itu, tetapi mengejarnya hingga 2 km jauhnya, hingga bapak Mateus kehabisan akal untuk menyelamatkan dirinya. Dalam pelarian itu, ia berharap ada orang yang menolongnya. Namun harapan itu, tidak kesampaian. Dengan daya kekuatan yang ada, ia melihat di sebelah kanannya sebuah lubang Camuy, bekas galian tambang timah yang masih banyak air. Om itu langsung menceburkan seluruh badannya ke dalam air Camuy. Dalam kesakitan itu, ia berjuang untuk beberapa kali turun-naikan kepala, agar riduan lebah itu bisa lari menjauhi dari dirinya.

Apa yang selalu diharapkan dalam perjuangannya itu, tercapai. Ribuan lebah itu lari. Tapi tidak semuanya. Masih ada yang belum lari tapi sudah setengah mati di atas permukaan air. Ia pun keluar dari lubang Camuy, lari ke tepi jalan dan berjalan menuju sepeda motornya yang terparkir di pinggir kebun tadi. Ia cepat-cepat naik motor dan langsung lari pulang ke rumahnya. Di rumahnya, om Mateus yang telah merantau di Bangka hampir 20-an tahun itu lemas dan pingsan. Om tidak sadarkan diri lagi. Karena racun ribuan lebah yang mengeroyoknya telah bekerja secara cepat dalam badannya.

Kerumunan orang Flores di rumahnya itu terlihat hiruk pikuk. Mereka keluar masih rumah menunggu om itu sadar. Hampir 7 jam kemudian, ia sadar. ”Rasanya saya ini melayang di udara. Saya tidak melihat siapa-siapa saja yang datang dan pergi dari rumah ini. Saya bukan hanya tidak melihat, tetapi tidak mendengar apa-apa lagi. Tapi satu hal yang saya lihat terakhir, rumah saya ini telah terbalik”, cerita om Mateus yang hampir 7 jam lamanya, tidak sadarkan diri.

Tubuhnya bengkak dan berlubang-lubang akibat masih ada jarum lebah yang menancap. Jarum lebah itu perlu dicabut perlahan-lahan sehingga tidak patah.

Kejadian itu tepatnya pada 21 Maret 2010 lalu. Dengan ceritera ini, diharapkan agar orang yang bepergian ke hutan seperti tamasya atau pun heching baik siang maupun malam, bersikap waspada dengan bitang-bitang hutan. Waspadalah....waspadalah...Lebah bukan hanya enak madunya tetapi racunnya berbahaya untuk tubuh manusia jika ia sudah menyengatnya. ***

Rabu, 21 September 2011

MENGENANG GEMPA DAN TSUNAMI '92

Pesisir pantai Sinar Hading berubah wajah karena gempa & tsunami '92
Siang itu pukul 14.00 witeng. Tepatnya tanggal 12 bulan 12 tahun 1992. “Gelombang laut di Pantai Sinar Hading Kecamatan Lewolema, Kabupaten Flores Timur Nusa Tenggara Timur, mencapai belasan meter. Bahkan pucuk-pucuk pohon kelapa, tanaman khas di tepi pantai itu bisa dijangkau oleh gelombang laut, kenang aku ketika itu diucap oleh Kornelius Reket Ritan (60), salah seorang penduduk Sinar Hading yang waktu itu berada di tepi pantai.


“Sebelum gelombang laut itu menjulang tinggi, lebih kurang lima belas menit telah terjadi gempa yang besar sekali. Gempa besar saya lihat dari pohon-pohon kelapa dan pohon-pohon lain di tepi pantai bergoyang layak penari “tripping”. Selain tanda itu bahwa ada gempa besar, tanda yang tidak lazim yang dilihat waktu itu bahwa mendadak laut Teluk Hading mengering. Baru saya sadar bahwa mengering karena sebuah gunung dasar laut di Pantai Sinar Hading yang selama ini disebut ”Belang” tenggelam akibat gempa. Karena tenggelam, maka air laut yang ada tersedot masuk ke dalam kubangan. Coba bayangkan bagaimana air laut yang banyak itu tersedot masuk ke dalam kubangan, sehingga sejenak menjadi daratan”, cerita om Nelis yang sering disapa penduduk setempat.

Itu berarti bahwa “gunung dasar laut” yang selama ini disebut penduduk Sinar Hading sebagai “Belang” begitu besar. Akibat dari gempa, gunung dasar laut tenggelam. Air laut yang tersedot masuk ke dalam kubangan secara cepat mengakibatkan desakan dari dalam kubangan itu. Karena terjadi desakan itu maka air laut dari kubangan itu tersembur keluar dengan begitu kuat dan hebat. Penduduk Kawaliwu - Sinar Hading yang berada dibukit, di kebun menyaksikan semburan air laut dari dalam kubangan itu.

Jalan Lintas Kawaliwu-Belogili dibuka karna bencana alam 92 kini telah rusak parah.
Petrus Suban Liwun (53) menjelaskan gempa dan tsunami 92, ”semburan air laut itu mempunyai lima arah penjuru. Semburan warna merah seperti jet-roket, begitu kencang dan hebat menuju langit. Tidak tahu lagi apakah air laut yang disembur ke langit itu sudah jatuh dimana. Semburan berwarna hijau ke arah barat, menghantam ke wilayah Maumere. 

Semburan warna kuning ke arah Tanjung Bunga, menghantam Tanjung Bunga, sehingga tanjung itu bergoyang seenak saja seperti orang menggoyang daun di pohon. Semburan berwarna putih ke arah laut Flores. Semburan itu kelihatan dari jauh seperti dinding tembok yang terus bergeser semakin jauh dan akhirnya hilang dari pandangan mata. Dan semburan berwarna coklat menghantam daratan, di desa Sinar Hading. Akibatnya gunung Wai Kerewak dan bukit-bukit disekitarnya bergoyang ria. Asap kabut keluar dari gunung dan bukit. Terdengar suara batu-batu menggelinding jatuh ke tempat yang paling rendah.

Bahkan lebih jauh ke belakang, Hendrikus Haju Liwun (85) mengatakan bahwa nenek moyang kami sudah memberikan peringatan begini. ”Mio eka onok senang nawa kia, suu ara pira, mio be moi. Pi depan tite ile belang pi. Nae bela tajak, lango mio pe seng, kaca, dll pasti bela rusak.” (jangan senang dulu sekarang, beberapa tahun ke depan, gunung belang akan hancur maka tempat tinggal kalian akan rusak semua).

Efek dari gempa dan tsunami ’92, menyadarkan penduduk Sinar Hading, supaya lebih hati-hati menghadapi bencana. Bencana alam menurut penduduk setempat sebagai sebuah hukuman alam untuk manusia. Karena manusia sudah merusak alam dan tidak mampu memperbaiki alam. Setelah bencana, orang Sinar Hading, memanfaatkan lahan yang selama ini menjadi ladang berpindah-pindah menjadi lahan perkebunan dengan menanam kelapa, jambu mete, jati, lamatoro, dll. Selain itu, rumah-rumah penduduk yang rusak dibangun kembali dengan dinding papan dan keteka (bambu). Memang adanya dari tembok tetapi tidak penuh.

Dengan bencana alam (gempa dan tsunami ’92), Kawaliwu menjadi sebuah desa yang susah sekali bangkit dari kehancuran itu. Masyarakat masih trauma. Trauma mereka terobati manakala, tempat ibadat, Gereja mereka mulai dibangun kembali setelah 12 tahun gemba dan tsunami. ***

Senin, 19 September 2011

KEMURAHAN HATI ALLAH BAGI ORANG LAIN DISEKITAR KITA

dari kiri ke kanan: Bp. John Dj. R, A. Liwun dan Rm. A. Kriswinarto, MSF
”Kemurahan hati Allah bagi orang lain di sekitar kita, terkadang membuat kita iri hati”, ungkap Pastor Aloysius Kriswinarto, MSF dihadapan umat Katolik Komunitas Sta. Lusia, Tuing Paroki Sungailiat pada kunjungan bulanan (18/9/2011) di halaman kamp perumahan para pekerja PT. GPL. Kunjungan sebulan sekali itu, selain misa juga diisi dengan beberapa model pembinaan, yaitu pembinaan bagi orangtua yang mau membaptis anak-anaknya juga pembinaan bagi keluarga muda yang ”convalidatio” perkawinan mereka.

dari kiri: karyawan kebun sawit, Bie Lie, Bp. John Dj. R dan Lektor
Selain beberapa pola pembinaan kepada umat Katolik di Tuing yang telah disebutkan tadi, juga rencana ke depan akan diberi pembinaan yang lebih intensip tentang keterlibatan umat Tuing dalam kesatuannya dengan umat Paroki Sungailiat dan Keuskupan Pangkalpinang, kehidupan sosial, ekonomi dan kependudukan yaitu menyangkut membangun rencana keluarga yang bahagia.

Kunjungan bulanan kali ini, Romo Kris, pastor Paroki Sungailiat didampingi oleh Bapak John Djanu Rombang, koordinator seksi kerasulan keluarga dan komunitas basis gerejani, Alfons Liwun dan Bie Lie. Kami berangkat dari pastoran Sungailiat pukul 13.00 wib dan sampai di Tuing, mess Perkebunan Sawit PT. Gunung Pahlawan Lestari pukul 14.30 wib. Perjalanan cukup melelahkan karena jalan ke Tuing lumayan berat akibat beberapa bagian jalan yang telah rusak. Rusak akibat alat berat yang lewat untuk menggusuran lahan untuk TI atau perkebunan sawit.***