Rabu, 13 November 2013

Refleksi: Pejabat Negeri Ini Semestinya Belajar Dari Pertobatan Zakheus




Refleksi ini ditulis berdasarkan bahan bacaan Minggu Biasa XXXI pada Penanggalan Liturgi 2013, Tahun C/1
 


Ceritera tentang Zakheus, bagi orang Kristen, tidak asing lagi. Karena ceritera ini sudah ditulis oleh Penginjil Lukas dalam Kitab Suci Perjanjian Baru, bab 19 ayat 1 sampai dengan ayat 10. Ceritera tentang Zakheus hanya ada dalam Lukas. Dan karena itu adalah salah satu kekhasan Lukas yang melukiskan bagaimana pertobatan itu terjadi. Bisa saja Lukas menulis hal ini karena pada zamannya, pertobatan itu rasanya sulit dilakukan oleh para penguasa, khususnya para kepala pajak seperti Zakheus, kepala pajak di Yerikho.


Zakheus: Kepala Pajak Di Yerikho
Nama Zakheus sama dengan kata Zakkay, yang artinya bersih dan benar. Ia orang Yahudi yang bertugas sebagai kepala pajak di Yerikho. Zakheus merupakan pejabat pajak Yerikho, yang merupakan perpanjangan tangan kepala pajak penjajah Romawi. Salah satu pertanyaan yang menyentil diri Zakheus adalah mengapa banyak orang mengucilkan dirinya dan keluarganya? Pertanyaan ini, sederhana sekali untuk dijawab. Karena masyarakat Yerikho sedikitnya mengenal cara kerjanya. Apa cara kerjanya? Rupanya, kerja Zakheus, menagih pajak di Yerikho melebihi wajib pajak yang sudah ditetapkan oleh pemerintahan Romawi. Karena menagih lebih dari itu, masyarakat Yerikho pasti akan marah. Ungapan rasa dan sikap marah ialah mengucilkan dirinya dan keluarganya.

Refleksi kita adalah masih adakah cara kerja Zakheus ini, di negeri ini yang bernota bene beragama yang mengajarkan berdosa bila menagih lebih dari target yang sudah ditentukan? Jika ada, maka hukuman yang ditanggungnya harus melebihi pasal-pasal dari regulasi hukum negeri ini. Karena pembuat regulasi bernuansa “muatan” tertentu.

Zakheus: “mengapa saya dan keluarga saya dikucilkan?”
Rupanya berbulan-bulan mungkin juga bertahun-tahun Zakheus menyadari akan situasi hidupnya. Bahwa ia dan keluarganya dikucilkan oleh banyak orang, karena gaya hidup dan harta kekayaan yang ia miliki. Kesadaran Zakheus ini menandakan bahwa ia tidak baik hidup dengan cara dan kerja yang demikian. Berangkat dari kesadaran dirinya ini, Zakheus nekad untuk keluar dari dirinya dan lingkungan keluarganya dengan tidak tahu malu lagi, berlari dalam kerumunan banyak orang untuk melihat atau bertemu dengan Yesus. Kerumunan banyak orang, membuatnya tidak dapat bertemu Yesus, apalagi badannya pendek. Situasi ini membuatnya nekad lagi. Nekadnya ialah ia berlari cepat-cepat mendahului kerumuman banyak orang dan memanjat pohon ara, supaya dapat melihat Yesus dari atas pohon.

Refleksi kita adalah, apakah ada pejabat publik atau sekurang-kurangnya kepala pajak yang kaya berperilaku seperti Zakheus di negeri ini yang mampu menyadari dirinya lalu berusaha untuk berjumpa dengan Tuhan-nya? Jika ada, maka mungkin saja tidak ada slogan basmi koruptor. Mungkin lebih jauh, tidak ada sekolah hukum dan tidak ada ruang pengadilan di negeri ini.

Perjumpaan Zakheus dengan Yesus: suatu perjumpaan intim
Usaha Zakheus untuk berjumpa dengan Yesus, merupakan suatu usaha yang tidak gampang. Karena usaha yang tidak gampang, tentu mendatangkan hasil. Apa hasilnya? Zakheus tidak hanya berjumpa dengan Yesus, tetapi juga Yesus berjumpa dengan dia. Terkadang kita sudah berusaha untuk berjumpa dengan Yesus, tetapi Yesus belum mempunyai waktu yang cocok untuk menemui kita. Bisa saja, Yesus sudah mempunyai waktu yang pas untuk bertemu dengan kita, tetapi kita-lah yang selalu sibuk sehingga Yesus hadir dalam hidup kita hanya sebagai penonton doank.

Perjumpaan Zakheus dengan Yesus dan Yesus pun mau berjumpa dengan Zakheus, merupakan suatu pertemuan yang sungguh-sungguh intim. Keintiman perjumpaan kedua belahpihak ini, diminta oleh Yesus sendiri. “Zakheus, turunlah engkau, hari ini SAYA mau menumpang di rumahmu.” Permintaan Yesus ini, bagi Zakheus merupakan suatu moment perubahan arah hidupnya. Dan ternyata benar! Ketika sampai di rumah, Zakheus dengan kekuatan seluruh dirinya menyatakan dengan tegas komitmen perubahan hidupnya. “Jika seluruh kekayaan yang kumiliki ini, kudapat dengan tidak benar, setengahnya akan kuberikan kepada orang-orang miskin.” Ungkapan Zakheus ini menandakan bahwa pertobatannya tidak main-main. Pertobatannya bukan hanya diujung bibir, dengan janji yang muluk-muluk. Tetapi pertobatannya dilanjutkan dengan aksi nyata. Setengah harta miliknya akan diberikan kepada orang-orang miskin.

Refleksi kita adalah adakah para pejabat di negeri ini yang mau menerima Tuhan-nya dan menjadikan Tuhan-nya pusat seluruh hidupnya, yang mampu mengubah arah hidupnya? Jika ada dan mampu, mungkin saja di negeri ini tidak ada orang yang disebut miskin, terlantar, dan kaum papa.

Rumah: tempat pendidikan pribadi-pribadi yang berkualitas
Mungkin satu pertanyaan ini, yang harus kita dalami dengan lebih jernih. Mengapa Yesus mengajak Zakheus untuk menumpang di rumahnya? Yesus tentu menyadari akan peran sebuah rumah. Yesus tahu bahwa diri-Nya pernah dibesarkan dan dididik oleh Maria dan Yosep dalam rumah. Sehingga Dia marah jika rumah dijadikan sarang penyamun, seperti Bait Allah. Alasan ini mendasar sehingga Dia harus menyucikan Bait Allah dengan cara yang luhur.

Yesus mengajak Zakheus untuk menumpang di rumahnya, Yesus tahu bahwa rumah sebagai tempat pertama dan utama panti pendidikan itu, telah sirna. Karena itu, Yesus pergi ke rumah Zakheus untuk menyucikan rumah itu sehingga rumah kembali berfungsi sebagai rumah yang suci dan mampu menjadi tempat untuk menyucikan seluruh anggota keluarganya. Karena mampu menyucikan anggota keluarga, maka Zakheus dan seisi rumahnya memiliki kekuatan penuh untuk menyatakan komitmen memberikan setengah dari milikinya untuk orang-orang miskin. Rumah disini, kembali bermanfaat untuk membangkitkan semangat hidup baru, dan menjadikan manusia yang tinggal dan bertamu di rumah itu, bermanfaat untuk banyak orang.

Refleksi kita adalah masih adakah pejabat di negeri ini yang menjadikan rumahnya bersih dan suci, sehingga tidak menjadi sarang penyamun bagi dirinya dan orang lain yang datang di rumahnya? Jika ada, mungkin saja tidak ada rumah yang digrebek para aparat dan penegak hukum.

Kompendium:
Zakheus, pejabat publik di Yerikho yang boleh kita sebut “Raja maling” pajak rakyat. Dengan cara dan strateginya, ia berusaha untuk memperkaya dirinya dan keluarganya. Rupanya cara dan strategi yang dibuatnya, ia mendapat hukuman secara sosial. Ia dikucilkan oleh masyarakat setempat. Hukuman sosial, membuatnya jerah. Sikap jerahnya, ia buktikan dengan pergi keluar dari rumah dan keluarganya dan mau berjumpa dengan Yesus. Usahanya tidak sampai disitu. Ia berlari dalam kerumunan banyak orang yang mengucilnya dengan tidak tahu malu. Ia ingin mengubah cara hidupnya. Ia mau menjadikan Yesus sebagai pusat hidup dan dimulai dari rumahnya sendiri.

Usahanya menjadikan Yesus sebagai pusat hidup yang dimulai dari rumah, menguatkan diri dan keluarganya untuk berkarya bagi orang lain, yaitu dengan cara membagikan setengah dari hak miliknya untuk rakyat kecil. Cara mengubah hidup Zakheus ini, menjadikan dirinya “sehat kembali” dengan masyarakat. Ia kembali hidup bersama-sama dengan masyarakat.

Para pegawai pajak atau pejabat publik di negeri ini, ada yang mau seperti Zakheus? Rasanya sulit sekali. Mengapa? Karena pertobatan mereka tidak seperti Zakheus. Pertobatan mereka tidak terjadi. Kalau terjadi, itu hanya diadili di depan penegak hukum. Ketika diadili toh masih mau membela diri. Kalau diputuskan di depan hukum pun, di sel masih meneruskan “rumah sebagai sarang penyamun”. Jika sudah genap waktu ketika dihukum pun tidak jerah, semakin membuat rakyat marah. Pertobatan sungguh-sungguh tidak terjadi. Pertobatan hanya janji dibibir saja. Sedangkan, rakyat selalu dikondisikan dengan raskin, dana pembangunan daerah tertinggal, dan lain-lain.

Kapan Zakheus di negeri ini, yang lama dipenjarakan berdasarkan tahun penangkapannya atau tahun diadilinya? ***

Selasa, 08 Oktober 2013

PROGRAM PENYADARAN DI KBG DIBAHAS SEPANJANG HARI



(Laporan Hari Kedua -8 Oktober 2013)

Peserta Workshop ketiga AsIPA di Bangkok bangun pagi siapkan diri (8/10/2013) kemudian jam 7.00-8.00 langsung mengadakan Sharing Injil Tujuh Langkah di dalam kelompok-kelompok kecil yang telah dibagi oleh Panitia. Peserta dari setiap negara dibagi menjadi delapan kelompok kecil. Menariknya bahwa setiap peserta dapat mensharekan bagaimana disentuh oleh teks Kitab Suci baik itu meneguhkan, menegur, dan menantang untuk dilakukan para peserta saat itu.

Setelah Sharing Injil, peserta melanjutkan dengan mensharekan pengalaman hidup tentang komunitas-komunitas basis di setiap paroki. Sekali lagi peserta yang tadinya dibagi dalam delapan kelompok kecil, dilebur lagi menjadi empat kelompok kecil. Situasi komunitas-komunitas basis dari setiap paroki di setiap negara ini akan dibahas dalam tema khusus yaitu program penyadaran. Disinilah, para nara sumber Fr. Rohan dari Sri Lanka dan Fr. Athur dari India mengantar peserta untuk masuk dalam ceritera penyadaran Nathan ke Raja Daud, ketika Raja Daud berada dalam situasi kerajaannya yang mau hancur.

Menarik dari program penyadaran ialah bahwa bagaimana peserta diajak oleh narasumber untuk menyadari situasi-situasi krisis yang ada dalam komunitas-komunitas, lalu didalami kemudian dibuat semacam modul untuk menyadari kembali anggota komunitas bahwa situasi-situasi krisis dalam komunitas harus perlu menemukan jalan keluar sehingga komunitas itu tetap berada dalam situasi normal dan bangkit kembali menjadi sebuah komunitas pengharapan. Pada tingkat kesadaran baru, teks Kitab Suci dimasukan untuk menemukan langkah baru untuk dilaksanakan oleh anggota komunitas.

Dengan kata lain, peserta diajak untuk memikirkan dan membuat modul penyadaran kepada komunitas basis sehingga anggota komunitas itu mampu melihat situasi riil yang sedang dihadapi oleh komunitas itu sendiri.

Sessi ini dibahas sepanjang hari kedua worshop. Untung ada istirahat selama dua jam karena peserta harus merayakan ekaristi. Ekaristi kali ini disiapkan oleh negara Pakistan, India, Malaysia dan Thailand.

Diakhir sessi, ada banyak peserta bertanya bagaimana kesulitan memikirkan dan menyusun modul penyadaran untuk komunitas. Walau pun sulit, kata Fr. Vijie dari India, “memang program penyadaran ini sulit, tetapi kita perlu membuatnya sebab kita mempunyai misi untuk membantu anggota komunitas kita. Tidak perlu mengeluh, Tuhan akan membantu kita. Tuhan akan menyempurnakan program penyadaran yang kita susun. Maka kesempurnaan program penyadaran kita susun, akan dilengkapi oleh Tuhan.”

Berakhirnya sessi ini, situasi Bangkok sedang dilanda hujan yang lebat. Hujan seakan memberikan kesegaran baru untuk peserta yang mungkin lagi galau karena penasaran menyusun program penyadaran bagi komunitas-komunitasnya. Salam dari Bangkok.**al**

WORKSHOP III AsIPA DI BANGKOK THAILAND




(Laporan Hari Pertama-7 Oktober 2013)



Bangkok, Ibu Kota negara Thailand atau yang dulu sering kita kenal Muangthai. Sebuah negara di Asia Tenggara yang tidak pernah dijajah oleh bangsa manapun. Thailand, negara penghasil beras di Asia Tenggara, termasuk pengekspor beras untuk Indonesia.

Ketika rombongan Indonesia sampai bandara Bangkok (7/10/2013), jam menunjukkan pukul 16.15. Waktu Bangkok sama dengan waktu Jakarta, wib. Tidak ada perbedaan waktu dengan Jakarta.

Rombongan Indonesia ada lima orang, Rm. Frans Mukin, (Vikep Babel), Rm. Stanis Bani (Pastor Paroki Koba), Mbah Indri (Paroki Katederal Pangkalpinang), Pak Anton Sudarmedi (Paroki Tembesi Batam) dan Alfons Liwun (Paroki Sungailiat). Kami dijemput oleh Panitia Workshop ke-3 AsIPA di bandara Bangkok. Kami kemudian diantar Panitia menuju tempat pertemuan di Camillian Pastoral Care Center, Bangkok. Bangkok, ibu kota negara yang dikelilingi sungai-sungai kecil. Sungai-sungai inilah yang menjadi sumber air bagi pertanian masyarakat Thailand. Tidak heran jika Thailand menjadi penghasil terbesar pertanian, perkebunan, dan perikanan.

Acara Workshop mulai jam 19.30 (7/10/2013), yang dihadiri oleh beberapa negara Asia, yaitu Taiwan: 12 peserta, Sri Lanka: 3 peserta, Banglades: 2 peserta, Korea: 6 peserta, Pakistan: 3 peserta, Vietnam: 3 peserta, Myanmar: 5 peserta, dan Indonesia 5 peserta, serta Thailand, negara tuan rumah: 26 peserta. Narasumber AsIPA Trainning: 5 orang.

Bangkok, kota yang bersih dan rapih. Sebuah ibu kota negara yang lumayan modern bila dilihat dari arsitektur penataan kotanya. Masyarakat setempat lebih menghormat rajanya, karena Bangkok merupakan negara kerajaan. Salam harmoni, dari Bangkok-Thailand. Salam harmoni dari Bangkok-Thailand. ***

Kamis, 26 September 2013

KBG ST. DOMINIKUS SHARING INJIL TUJUH LANGKAH BERSAMA TIM AsIPA PAROKI SUNGAILIAT



Rencana Tim AsIPA Paroki Sungailiat untuk berkumpul bersama anggota KBG St. Dominikus terwujud pada Selasa, 24 September 2013, dari pukul 16.00-17.30 wib.KBG St. Dominikus adalah sebuah wilayah di Paroki Sungailiat yang cukup luas. Wilayah ini terbentang dari Kampung Deniang hingga Kampung Kayu Arang, terletak di sepanjang jalan Sungailiat menuju Kota Belunyu. Wilayah ini terdiri dari tiga kampung yaitu Kampung Deniang, Kampung Cit dan Kampung Kayu Arang. KBG yang dipimpin oleh Don Pedro Efendi ini dihuni oleh 21 Keluarga dengan jumlah anggota umat 63 orang. Di wilayah Kampung Dening ada 10 KK, Kampung Cit ada 6 KK dan Kampung Kayu Arang ada 5 KK. 

Rupanya masih ada lagi yang belum terdaftar di statistik Paroki Sungailiat. Menurut ibu Agnes Mang Sioe Ngian, salah satu anggota KBG yang hadir saat itu, menyampaikan bahwa sebenarnya lebih kurang ada satu atau dua KK yang belum terdaftar. Mungkin terlupakan. Walau demikian, dalam perayaan ekaristi sebulan sekali pada selasa minggu ketiga, satu atau dua keluarga ini sering mengikutinya. Jadi mungkin ke depan akan didaftarkan ulang lagi anggota KBG St. Dominikus supaya jumlah KK dan umatnya diketahui secara pasti.

Sharing Injil 7 Langkah, satu cara yang simpel untuk anggota KBG membaca, merenungkan dan mensharingkan pengalaman Injil dan hidup sehari-hari. Dengan sharing Injil ini kita dibantu untuk terlibat dalam doa dan sharing Injil di KBG. Maka pemimpin yang selama ini ditugaskan memimpin ibadah hanya sebagai fasilitator, pemandu atau pelancar saja. Tidak ada kotbah lagi dalam ibadah. Kotbah hanya saat misa, begitulah isi singkat yang disampaikan Alfons Liwun dalam pengantar memulai Sharing Injil bersama umat KBG St. Dominikus.

Rm. Koko hadir mendampingi Tim AsIPA Paroki
Sharing Injil 7 langkah berjalan lancar. Dilangkah keenam tentang tugas apa yang mau dilaksanakan, umat KBG St. Dominikus sepakat untuk menjalankan Sharing Injil pada selasa kedua dan keempat tiap bulan. “Sharing semacam ini perlu dilakukan terus. Dengan kita melakukan sharing injil, tiap-tiap anggota KBG akan berjumpa terus untuk saling berbagi pengalaman. Dengan begitu, kita akan saling kenal satu sama lain,” ungkap ibu Franses Kabrini Novialy, ibu Alexander Giovanini yang sedang belajar di SMA St. Yosep Pangkalpinang. Lebih lanjut, ibu yang sering disapa Novi ini meminta kepada Tim AsIPA Paroki agar KBG St. Dominikus harus didampingi terus hingga bisa melakukan sendiri Sharing Injil 7 Langkah. Harapan KBG ini disambut baik oleh Tim AsIPA.

Sharing Injil dengan topik Yesus berumur 12 tahun diajak orangtua-Nya merayakan paskah di Yerusalem (Luk.2:41-52), kemudian KBG St. Dominikus memilih Sabda Kehidupan, “pergilah jadikanlah Keluarga Kudus Nazaret menjadi teladan hidup”. Melalui Sabda Kehidupan yang dipilih ini, Romo Bernardus Windyatmo, MSF, Romo yang sering dikenal kartunis di Majalah Hidup dengan nama Romo Koko ini, menegaskan bahwa kita adalah saudara-saudari Yesus. Menjadi saudara-saudari Yesus adalah mereka yang melakukan Sabda-Nya dalam hidup setiap hari. Rupanya Sharing Injil kali ini terhubung dengan bacaan harian pada hari Selasa (2/09/2013).Sharing Injil 7 langkah kemudian ditutup dengan berkat penutup oleh Romo Koko, yang hadir mendampingi Tim AsIPA Paroki Sungailiat. **al**