Senin, 17 November 2014

'Batu Hitam' Dari Sawah Lunto Sumatera Barat


'Batu Hitam' Disimpan Dalam Kotak

Disebut ‘Batu Hitam’ sebetulnya bukan berasal dari batu. Menurut cerita salah satu keluarga yang tinggal di Paroki St. Barbara Sawah Lunto, ‘Batu Hitam’ itu berasal dari tulang sapi, dengan proses pembakaran yang cukup memakan waktu selama empat hari.

Proses pembakaran
Tulang sapi dicampur dengan batu-batu dan serbuk-serbuk kayu, kemudian diletakan diatas tanah, lalu ditutup dengan pasir. Diatas pasir ditumpuk kayu-kayu kemudian dibakar. Proses pembakaran demikian terjadi selama empat hari.

Setelah empat hari, tulang sapi yang sudah terbakar yang dalam bentuk arang hitam, digergaji dalam berbagai bentu, misalnya berbentuk segi empat, dan lain-lain, dalam ukuran kecil. Potongan-potongan kecil itu kemudian diambil dan disimpan didalam sebuah kotak untuk dijualkan kepada publik.

Mengapa dijual?
Rupanya ‘Batu Hitam’ ini memiliki khasiat yang cukup ampuh. Menurut kisah salah satu keluarga yang dijumpai di Pastoran Sawah Lunto (13/11/14) yang lalu mengatakan bahwa ‘Batu Hitam’ ini berkhasiat untuk menyembuhkan bagi korban gigitan ular berbisa atau gigitan hewan lain yang berbisa. Juga termasuk orang-orang yang menginjak paku atau duri-duri yang dapat menyebabkan tetanus. Bahkan keluarga itu menegaskan bahwa tidak hanya binatang berbisa, tetapi kena pisau atau parang pun bisa menyembuhkan, bekas-bekas terkena pisau atau parang pun dapat hilang. Tutur keluarga tersebut sambil menunjukkan jati tangannya yang pernah disembuhkan akibat kena pisau dapur.

Binatang Berbisa yang disembuhkan Batu Hitam
Cara Pemakaiannya
Bisa terkenal pisau atau parang, luka yang keluar darah itu langsung ditempelkan dengan ‘Batu Hitam’ tersebut. Batu Hitam itu akan mengisap racun atau kotoran yang mengakibatkan infeksi untuk keluar dari tubuh kita. Untuk gigitan ular atau binatang berbisa, dibantu dengan menggoreskan bekas gigitan sedikit dengan kuku supaya ada luka yang mengeluarkan darah. Bekas goresan yang mengeluarkan darah itu, ditempelkan dengan ‘Batu Hitam’ tersebut sehingga ‘Batu Hitam’ akan meneltralkan atau mengisapkan keluar racun-racun gigitan binatang berbisa hingga Batu Hitam terlepas sendiri. Dijamin akan sembuh dari gigitan ular berbisa atau binatang berbisa.

Cara Merawat ‘Batu Hitam’
Supaya ‘Batu Hitam’ yang sudah dibeli itu tidak pecah dan retak, ‘Batu Hitam’ disimpan didalam sebuah kantong kain atau plastik yang sudah diisi serbuk kayu atau serbuk lainnya. Fungsi serbuk kayu atau serbuk lainnya ini adalah menahan ‘Batu Hitam’ agar ketika kena benturan barang lain, ‘Batu Hitam’ tidak pecah atau retak.

Ketika sudah dipakai untuk mengobati korban gigitan ular atau binatang berbisa atau kena pisau atau parang, ambil ‘Batu Hitam’ tersebut lalu direbuskan kembali dengan air hingga titik didih yang paling maksimal. Sambil ‘Batu Hitam’ direbus, kita menyediahkan sebuah wadah yang berisi air susu asli (ASI, atau susu sapi, dll). Didalam wadah yang terisi susu tadi, kita memasukan ‘Batu Hitam’.

Jual Beli Batu Hitam
Rendamkan ‘Batu Hitam’ lebih kurang satu jam, lalu mengangkatnya dan langsung disampan dalam tempat penyimpanan yang aman, dalam sebuah kotak atau kantong yang berisi serbuk tadi. Ingat, ‘Batu Hitam’ yang sudah direbuskan dan dibersihkan racun dengan susu asli tadi, tidak boleh terkena sinar matahari. Menurut B. Karyadi, salah satu Panitia Pertemuan KomKat seregio Sumatera, jika terkena sinar matahari, bisa-bisa khasiatnya hilang.

Kini ‘Batu Hitam’ dari Sawah Lunto ini sudah terkenal sampai di Kalimantan. Karena dari Kalimantan, ada banyak yang memisannya dan bisa dikirim melalui jasa pengiriman, yang terpenting, alamat tujuan pengiriman diberikan dengan jelas. ‘Batu Hitam’ di Sawah Lunto, merupakan hasil karya RP. Feraro, SX yang kini bertugas di Kalimantan. Harga sekeping ‘Batu Hitam’ sebesar lima puluh ribu rupiah. Yang membutuhkan dapat pesan melalui alamat: Pastoran Katolik Sawah Lunto, Jl. Yos Sudarso 45, Sawah Lunto 27411, Sumatera Barat. Ditunggu ya, pasti sampai tujuan, jika dipesan dengan harga terserah tadi.***

Sabtu, 15 November 2014

Pertemuan Komisi Kateketik se-Regio Sumatera 2014 Di Padang Keuskupan Padang


Latarbelakang Bandara Minangkabau

Tanah Minang, sungguh elok ketika dipandang dari ketinggian udara dengan besi terbang, Lion Air. Bagi saya yang baru pertama kali, masuk Tanah Minang, ini sebuah berkat Tuhan. Karena, saya yang berasal dari Pulau Flores, yang dulu masa belajar hanya tahu dari peta Indonesia, ternyata bisa menginjakan kaki di Tanah Minang, tanah leluhur pahlawan nasional Muh. Yamin, dan penulis terkenal Hamka.

Dari ketinggian udara, terpancar bukit dan gunung yang menghijau mengelilingi Kota Padang. Hamparan tanah leluhur Muh. Yamin, menghijau karena hutan masih terlihat banyak, ketimbang Pulau Bangka. Hamparan sawah yang hijau dan kuning kemuningan, dan rumah-rumah penduduk yang tersusun rapih. Jalur kaki sungai terlihat berkelok mengalir tenang. Padang, kami peserta pertemuan Komisi Kateketik se-regio Sumatera datang, menjumpaimu dalam hening dan tenang.

Ketika pesawat landing di Bandara Minangkabau, terlihat sepi saat itu. Namun, dalam kesepiaan itu, terdengar gelak tawa para tamu dan tuan rumah di bandara dan bunyi gaduh kendaraan yang penuh aktivitas. Sungguh, suatu situasi yang terpancar yang memberikan rasa damai. Saya pun dengan tenang dan penuh semangat turun dari pesawat, lantaran dalam pesawat Lion Air sudah mendapat informasi banyak dari salah seorang penumpang orang Padang yang duduk bersebelahan dengan saya. Ketika turun dari Boeng 737-800 Lion Air, saya meminta Pak Agust Supriyanto, teman seperjalanan utusan Keuskupan Pangkalpinang memotret saya untuk menjadi kenangan di Bandara Minangkabau dengan latar belakang tulisan Bandara Internasional Minangkabau.

Keluar dari bandara, telah ditunggu Pak Eko Cahyo Rudiyanto, siap untuk mengantar kami (bersama RP. Cornelius F, SVD, Yohanes Caesar Kriswanto P) menuju tempat pertemuan, di Puri Dharma Katedral Keuskupan Padang. Rupanya para peserta lain, sudah berada dalam ruang pertemuan, sehingga kami yang datang terlambat gara-gara besi terbang dilay, hanya mengikut dari belakang pserta pertemuan yang lain.

Namun, kami disambut hangat oleh panitia, narasumber dan peserta yang lain. Terlihat di ruang pertemuan, semua peserta masing-masing menghadap laptop yang sedang aktif. RP. HJ. Suhardiyanto, SJ menyapa kami dengan penuh senyum. Peserta yang baru hadir, silakan meletakan tas, ambil laptop dan silakan membuka laptop masing-masing. Tidak usah bingung, buka saja laptop dan silakan ikuti saja. Kami pun baru mulai.....

Peserta Pertemuan dari Tujuh Keuskupan Seregio Sumatera
Saya pun mengikuti saja. Meletakan tas, mengambil laptop dan membukanya. Karena hanya pengenalan saja, saya justru tidak konsen. Menunggu laptop berproses saya mencoba mengangkat muka ke narasumber, terlihat sebuah tulisan dipamflet yang tergantung didinding. Rupanya pertemuan KomKat seregio Sumatera kali ini dengan tema: ‘Menjadi Katekis Handal di Era Digital Lewat Penguasaan Gadget dan Penyiasatan Budayanya.’

Ketika membaca tema ini, dalam hati kecil muncul ide, ini hal baru. Pasalnya selama ini, kalau ikut pertemuan apa saja, paling-paling berhadapan dengan narasumber yang memberikan masukan berupa gagasan dan ide-ide. Kali ini rasanya agak berbeda. Bukan hanya mendengarkan saja, tetapi langsung mempraktekan, berhadapan dengan laptop dan langsung online dan membuka apa yang diberikan. Sungguh, menarik dan bermanfaat. Memang, sudah saatnya, katekispun harus berani masuk dalam dunia baru, dunia belantara, dunia maya, sambil memberikan isi yang berguna dalam dunia maya (dumay). Prinsipnya, warta Yesus yang selama ini diproklamasikan dihadapan komunitas basis, umat di dalam gereja dan dihadapan kelompok kategorial, harus juga disebarkan kepada semua umat Katolik bahkan semua manusia melalui dunia maya. Bahkan lebih dari itu, melalui dunia maya, kita saling berbagi, saling belajar dan memanfaatkan sarana dunia maya sebagai sarana pewartaan Firman Yesus.

Narasumber berbaju putih dan diapiti oleh dari kiri Romo Alex dandari kanan RP. Cornel, SVD
Maka, selama tanggal 10-12 November 2014, para peserta berjumlah 24 orang berasal dari tujuh Keuskupan seregio Sumatera dilatih oleh tiga orang narasumber RP. HJ. Suhardiyanto, SJ (dosen di STKAT Yogjakarta), Mas Djaziudin Ahmad (ahli TI), dan Yohanes Caesar Kriswanto Priatmaja, calon Katekis di STKAT Yogjakarta. Menariknya bahwa semua peserta begitu konsen dengan laptop masing-masing. Sibuk mengikuti tutorial pembuatan email, gmail, blogspot, presentasi melalui powerpoit dengan variasa gambar, lagu dan video, latihan video catter, dan operasi maindmaneger. Lebih menarik lagi, ada peserta yang baru pemula membuka email pun bertanya kepada tetangga tempat duduknya, password email, saya apa ya? Ha.... memang lucu, tapi menarik karena dari pernyataan ini, kita dapat informasi bahwa ada peserta yang baru, benar-benar pemula. Pengalaman lain ialah rupanya selama ini bisa memberi presentasi ke publik melalui power poin tetapi juga ada banyak fasilitas power poin yang belum ditahu dengan baik. Kesempatan itulah, para peserta sungguh-sungguh serius mau belajar, sehingga dalam beberapa hari itu, tidak ada peserta pertemuan yang bolos dan meninggal ruang pertemuan untuk jalan-jalan. Luar biasa, konsen dan serius.

Keluar dari Lubang Mbah Soero Sawah Lunto
Keseriusan pelatihan selama beberapa hari itu, ternyata sudah dibaca oleh Panitia pertemuan. Untuk mencairkan keseriusan beberapa hari pertemuan itu, tanggal 13 November 2014, seharian penuh, para peserta dengan bus pariwisata berekreasi ke Sawah Lunto. Disana peserta diajak Panitia untuk melihat tempat-tempat sejarah seperti Lubang Tambang Embah Soero, markas dapur makan para pekerja tambang Batu Bara zaman Belanda, dan kemudian ke Istano Basa Pagaruyung, Batu Sangkar, Kabupaten Tanah Rata.  Perjalanan yang jauh namun tidak membosankan karena panorama sekeliling Padang yang menghijau memberikan kesejukan baru bagi peserta yang dua tiga hari kemarin penuh keseriusan mengikuti pelatihan.

Akhirnya, seharian penuh dalam perjalanan rekreasi, kembali juga ke Puri Dharma Katedral Padang, langsung makan malam dan kemudian dilanjutkan dengan pertemuan ketua-ketua Komisi Kateketik setiap Keuskupan seregio Sumatera untuk memilih ketua KomKat regio Sumatera yang baru. RP. Octavianus Situngkit, OFMCap dari Keuskupan Agung Sumatera menjadi ketua KomKat Regio Sumatera menggantikan RP. Cornelius Fallo, SVD dari Keuskupan Sibolga. Semua peserta bergembira menerima ketua baru yang begitu energik dan semangat. Pertemuan KmKat Regio Sumatera 10-14 November 2014, akhirnya ditutup pada pagi 14 November 2014. Berpisah dan salam jumpa melalui blog-blog masing-masing. ***

Kamis, 06 November 2014

Kartu Sharing Injil Tujuh Langkah






















































































































Catatan atas sharing Injil Tujuh Langkah:
Membaca Alkitab dengan Metode Sharing Injil Tujuh Langkah, hampir pasti bahwa semua umat Katolik telah mengetahuinya. Namun, satu pertanyaan ini yang boleh saya ajukan disini: apakah setiap orang atau komunitas basis yang menjalankan sharing Injil Tujuh Langkah ini dengan maksimal, yaitu mengikuti langkah demi langkah secara utuh dan penuh kesadaran? 

Jika membaca Alkitab dengan metode ini tidak dijalankan dengan baik, maka hampir pasti orang per orang atau komunitas basis, cepat atau lambat akan merasakan cepat bosan dan mau mencari metode lain lagi. Ingat, metode apapun jika tidak dilaksanakan dengan baik dan tekun, akan sama dengan mentalitas kita yang selalu berubah-ubah. Sharing Injil Tujuh Langkah: duduk bersama Yesus yang bangkit, belajar dari Yesus, membangun komitmen dihadapan Yesus, untuk dengan berani melaksanakan Sabda Yesus. Sehingga Yesus yang sudah bangkit itu yang kini hadir dan menyertai kita, akan selalu hadir dan menyertai kita, ketika Sabda-Nya dilaksanakan dalam hidup baik secara pribadi maupun secara komunitas.

Jika metode ini sudah dijalankan dengan baik dan giat, tentu kita merasakan bahwa metode Sharing Injil Tujuh Langkah, akan kita merasakan bahwa Sabda Tuhan itu sungguh banyak buah, dan buah-Nya itu sangat berguna baik secara pribadi maupun secara komunitas.

Memang bahwa ketika kita tidak tekun menjalankan maka Sabda Tuhan, dirasakan tidak berbuah, kalau berbuah pun, itu hanya pada taraf untuk diri sendiri. ***

Rabu, 24 September 2014

FKUB Bangka Belitung dan FKUB Kabupaten Propinsi Kep. Bangka Belitung

Kegiatan Anjangsana dan Studi Banding yang dilaksanakan pada tanggal 22 September 2014 oleh para tokoh agama yang bergabung dalam FKUB Propinsi Kepulauan Bangka Belitung adalah kegiatan yang diselenggarakan oleh biro Kesra Pronpinsi Kepupauan Bangka Belitung dibawah pimpinan Ibu Sulfa Kalsum, S. Pd., M. Si, cs. Studi Banding tidak selamanya harus pergi ke daerah-daerah lain diluar propinsi. Studi Banding juga dapat dijalankan dalam wilayah-wilayah sendiri. Inilah yang merupakan suatu perhatian yang boleh dibilang jarang dilakukan. Belajar dari dalam dulu, mungkin jika ada kesempatan lain, boleh belajar di tempat-tempat lain dalam wilayah propinsi yang lain.

Tempat anjangsana dan studi banding di Kabupaten Bangka. Kabupaten Bangka dinilai sebagai sebuah kabupaten yang layak dikunjungi dengan alasan yang sederhana, kabupeten yang kondusif, koordinasi antar tokoh agama yang bergabung dalam FKUB Kabupaten Bangka mudah dan cepat menanggapi kegiatan ini. Selain itu juga tempat-tempat ibadah agama-agama pun banyak dan menjadi ajang wisata bagi masyarakat umum.

FKUB Propinsi Kep. Babel pertama berkunjung ke Mesjid Al' Ittihad di Jl. Senang Hati Sungailiat
FKUB Babel diterima dengan hangat dan penuh persaudaraan oleh para pengurus Mesjid Al' Ittihad. Sebuah kebanggaan bagi kami. Diterima dan mendapat informasi yang sangat berarti di aula mesjid ini.

FKUB Babel berpose bersama di depan Gereja Katolik Paroki Sungailiat. Gereja tua yang berawal dari bioskop dan dibeli untuk menjadi Gereja sejak 22 September 1968.
Di Gereja Katolik para rombongan diterima oleh para pastor MSF dan DPP Paroki Sungailiat di aula paroki.

FKUB Babel berkunjung ke GPKris di Jl. Jend. Sudirman Sungailiat.
Di GPKris para rombongan diterima oleh para pendeta dan majelis serta jemaat-jemaat GPKris.

Kebersamaan kami terajut dalam panorama Pantai Tanjung Pesona. Wujud kebersamaan ialah makan bersama. Dalam makan bersama kami saling berbagi satu sama lain.
Dari Pantai Tanjung Pesona anggota FKUB Babel berkunjung ke Rumah Ibadah Cong Fu Chu Pantai Rebo, yang terletak di bukit Rebo Sungailiat. Dari bukit ini kita dapat menikmat panorama pantai tikus.
Dari Pantai Rebo, anggota FKUB Babel berkunjung ke Vihara Air Kenanga Sungailiat di Jl. Depati Amir-Jl. Umum ke Pangkalpinang. Disini para anggota FKUB diterima dengan hangat oleh para penguruh vihara.

FKUB Babel berkunjung ke Kelenteng Kwan Tie Miau Baturusa, sebuah kelenteng tua yang dibangun sejak 1887 baru dipakai pada tahun 1896. Disini juga FKUB Babel diterima dengan hangat oleh para pengurus kelenteng ini.
Tujuan dari anjangsana dan studi banding FKUB Babel ini ditegaskan oleh Ibu Sulfa Kalsum, S.Pd., M.Si bahwa para peserta FKUB Babel menggali sebanyak mungkin informasi yang bisa diperoleh secara teknis real dan empiris, kemudian dapat dijadikan barometer dan pembanding yang kemudian dianalisis untuk menemukan sebuah pembaharuan yang aplikatif, baik untuk depan dalam jangka pendek dan jangka panjang secara futuristik. 

Akhirnya, terima kasih banyak untuk pemerintahan Propinsi Kepulauan Bangka Belitung khususnya Biro Kesra Pemerintah Proponsi Kep. Babel yang berinisiatip mengadakan kegiatan semacam ini. Dengan acara ini, secara pribadi saya mengenal sesama saya dari berbagai agama yang bergabung dalam FKUB Propinsi dan FKUB Kabupaten-kabupaten di Propinsi Kep. Babel. Terima kasih khusus untuk Ibu Sulfa Kalsum, S. Pd., M.Si, dan kawan-kawan di Biro Kesra. Mohon maaf atas kekurangan dalam pelayanan kami di rumah-rumah ibadah yang menjadi tempat kunjungan kali ini. Salam hormat saya. ***

Sabtu, 13 September 2014

AsIPA-PIPA dan KBG-SHARING INJIL



Catatan kecil ini dibuat oleh Alfons Liwun dari Pengantar RD. Frans Mukin
pada pelatihan fasilitator KBG-KBG Paroki Regina Pacis-Tanjungpandan 
Negeri Lansakar Pelangi,
11 September 2014

A.   AsIPA-PIPA
AsIPA sebenarnya adalah sebuah metode pengembangan KBG yang berkonteks Asia. Modul-modul AsIPA ini sangat sederhana. Karena sederhana maka dapat digunakan di negara mana pun di Asia ini, termasuk Indonesia. Bahkan modul-modul ini sudah dikenal secara internasional. AsIPA, kepanjangan dari Asian Integral Pastoral Approach. Penekanan AsIPA ialah pada ‘integral’. Mengapa? Karena di Asia ini ada banyak situasi yang sama yang dialami oleh tiap-tiap negara. Juga di setiap negara di Asia ini terdapat banyak agama dan budaya, didalamnya hidup dan terintegrasi didalam suatu masyarakat dalam sebuah negara. Karena itu untuk memajukan semuanya ini harus harus dicari sebuah ‘jalan baru’, sebuah jalan yang ditempuh dalam berkarya, jalan baru itu disebut pastoral secara terpadu-integral.

Sejak sinode II Keuskupan Pangkalpinang, bahan-bahan AsIPA yang dipakai di Asia, juga dipakai di keuskupan kita. AsIPA untuk nama di Asia sedangkan dalam konteks keuskupan kita dinamakan PIPA (Pangkalpinang Integral Pastoral Approach). Bahannya ambil dari AsIPA dan disusun berdasarkan konteks Keuskupan Pangkalpinang. Bahan-bahan ini dalam bentuk modul. Bahan-bahan ini pun sebagai bahan dasar pembekalan fasilitator untuk pengembangan KBG. Mereka yang menjadi fasilitator di KBG, modul-modul ini wajib untuk didalami bersama. Sehingga para fasilitator akan menjadi ‘penyalur’-pipa-pipa yang mampu menyalurkan untuk hidup KBG dan anggota KBG itu sendiri.

B.  KBG-Sharing Injil
Membangun KBG tidak gampang. Sulit. Walaupun demikian, hasil Sinode II telah menyepakati bahwa dalam misi yang telah dirumuskan, KBG merupakan fokus utama pengembangan menjadi Gereja Partisipatif. Karena itu kelompok-kelompok kita saat ini harus dikembangkan menjadi sebuah KBG. Pengembangan KBG mengarah pada tiga bintang yaitu: berpusat pada Kristus, membangun komunio, dan melaksanakan misi-Kerajaan Allah.

Dalam KBG, kelompok kecil yang paling dasar ialah keluarga. Kenyataan mencerminkan bahwa ada banyak keluarga kita yang tidak semua anggotanya katolik. Ada beragam-ragam agama dan kepercayaannya didalam sebuah keluarga. Syukur-syukurlah bahwa dalam satu keluarga semua anggotanya katolik. Ini pun tidak banyak.

Namun, yang katolik tidak bisa diam. Yang katolik harus berbuat sesuatu untuk anggota keluarganya walaupun anggota keluarganya bukan katolik. Dalam kenyataan ini pun rupanya tidak mudah. Memang harus diakui bahwa keluarga dan bahkan KBG kita kini mengalami perubahan yang cukup signifikan akibat modernitas globalisasi dewasa ini. Dimana pengaruh-pengaruh ini membuat anggota keluarga kita ‘tidak lagi mengalami kebersamaan’ dalam keluarga. Ada banyak anggota keluarga kita yang walaupun satu keluarga tetapi selalu saja memiliki agenda keluarga yang berbeda-beda. Sehingga susah sekali mengalami kebersamaan dalam keluarga sebagai agenda utama. Justru hal ini akan berdampak juga dalam KBG. Kebersamaan dan persekutuan hidup dalam KBG akan menjadi kesulitan.

Walaupun sulit, perlu kita pahami bahwa Gereja Partisipatif memberi gambaran mengenai perilaku saling berbagi dan saling memberi kontribusi untuk kepentingan bersama. Bila perilaku saling berbagi dihayati dengan baik, maka gaya hidup individualistik yang dalam banyak hal merupakan produk modernitas, dapat diminimalisir. Perilaku saling berbagi, melahirkan rasa kebersamaan yang tinggi, dan itu menjadi modal untuk mewujudkan Tugas Perutusan Gereja, sebagaimana dikehendaki oleh Kristus sendiri. Gereja dibangun dan diutus untuk mewartakan Kabar Sukacita, dan ini merupakan perutusan yang penting tetapi sekaligus tidak mudah. Perutusan ini mustahil dijalankan oleh satu atau segelintir orang, ia hanya bisa sukses kalau banyak orang berpartisipasi dan memberikan kontribusi yang nyata.

Gereja Partisipatif yang membuka peluang kepada banyak anggota bekerjasama dan berpartisipasi dalam pelbagai program dan agenda diyakini bisa menciptakan apa yang dinamakan Christian Enviroment, ‘Lingkungan’ (dibaca : suasana) Kristiani, yang ditandai dengan relasi sosial yang sehat dan menyenangkan, di semua bidang, misalnya Keluarga, Sekolah, Rumah Sakit, Biara, Organisasi, dan sebagainya. Suasana Kristiani ini menjamin terlaksananya Pekerjaan Perutusan atau Misi Gereja.

KBG bukan sebuah Kelompok di dalam Gereja, ia adalah Gereja itu sendiri, meskipun di tatanan akar rumput. Sebagai Gereja, para anggotanya berkumpul dalam Nama Tuhan, dan menjadikan kehidupannya berpusat pada Kristus, melalui perayaan-perayaan Sakramen dan Sabda Tuhan yang dibaca dan direfleksikan bersama.

Mengingat KBG adalah cara untuk mencapai Gereja Partisipatif, maka upaya untuk membangun partisipasi harus dijalankan secara efisien di dalam setiap KBG. Semua agenda yang dirancang di dalam KBG dimaksudkan untuk membuat para anggotanya belajar tentang partisipasi, mempraktekkannya, dan menjadikannya sebagai kebutuhan. Lebih mudah belajar mempraktekkan partisipasi di dalam ruang lingkup kecil seperti KBG ketimbang di dalam ruang lingkup sebesar Paroki.

Tantangan yang senantiasa ada ialah tidak mudah membangun partisipasi, apalagi di dalam konteks perkembangan dunia moderen yang membuat orang kebanyakan lebih tertarik hidup bagi dirinya sendiri. KBG sudah menjadi semacam ‘sekolah’ untuk belajar mempraktekkan perilaku partisipasi. Namun harus diakui bahwa untuk sampai kepada penghayatan semangat partisipasi yang baik butuh waktu dan usaha yang berkesinambungan.

Salah satu jalan yang ditempuh agar warga KBG sungguh dapat belajar mempraktekkan partisipasi dalam konteks kehidupan bersama sebagai Gereja adalah pelaksanaan Sharing Injil. Melalui Sharing Injil, anggota KBG mendapatkan inspirasi yang mendorong mereka melakukan aksi-aksi nyata yang dengannya partisipasi dibangun. Partisipasi dipraktekkan atau dilaksanakan melalui pelbagai aksi dan program. Apa yang diperoleh dari Sabda Allah itu adalah yang menjadi inspirasi untuk mendorong kepada kerelaan melaksanakan aksi bersama. Berbekal dari pesan-pesan teks Kitab Suci, para anggota KBG diharapkan sampai kepada keyakinan bahwa apa yang hendak mereka lakukan sebagai aksi nyata adalah karena Kristus menghendakinya.

KBG sebagai Gereja yang sesungguhnya tidak bisa hidup tanpa berpusat pada Kristus, mengingat Kristus adalah Kepala Spiritual setiap KBG. Apapun yang dijalankan di dalam KBG ditegaskan sebagai pelaksanaan amanat yang diberikan Kristus sebagai Kepala. Untuk itu, semua agenda pengembangan KBG senantiasa menempatkan Sabda Tuhan sebagai modal dan kekuatannya. Itulah alasannya mengapa Sharing Injil ditetapkan sebagai agenda utama KBG yang dilaksanakan sekali setiap Minggu. Di dalam setiap Sharing Injil, dimana Alkitab yang terbuka ditempatkan di tengah, Kristus hadir dan mempersatukan para anggota di sekeliling-Nya. Refleksi dan sharing selama Sharing Injil menjadi moment dimana setiap anggota berjumpa secara rohani dengan Kristus dan mendengarkan pesan-pesan-Nya untuk dilaksanakan.

Metode Sharing Injil misalnya Metode Tujuh Langkah, dikemas sedemikian rupa untuk memungkinkan para anggota berjumpa dengan Kristus, terutama melalui ayat-ayat yang dipetik, lalu dijadikan sebagai mutiara bagi kehidupan. Di balik ayat-ayat itulah pesan Kristus tersembunyi dan siap untuk diambil untuk dilaksanakan, atau diambil untuk menjadi inspirasi dan motivasi bagi pelaksanaan semua aksi nyata yang direncanakan nanti. Tidak ada inspirasi lain yang lebih sempurna untuk mendorong kepada pelaksanaan aksi atau agenda KBG selain Sabda Tuhan sendiri. Apapun yang hendak dijalankan sebagai program, harus mendapat inspirasi dari Kristus sendiri, sehingga dijamin bahwa rencana aksi yang sudah disepakati bisa terwujud.

Sasaran Sharing Injil adalah pertemuan pribadi dengan Kristus. Bila orang secara pribadi berjumpa dengan Kristus melalui ayat-ayat yang dipilih, maka diyakini bahwa Kristus memberi pesan kepadanya untuk sesuatu yang hendak dikerjakan, atau Kristus mengingatkan dia untuk sesuatu yang harus menjadi perhatiannya. Oleh karena itu Sharing Injil harus dipelajari dengan baik, dan dijalankan dengan baik juga, sehingga menjadi kesempatan bagi para anggota KBG berjumpa secara pribadi. Tanpa perjumpaan pribadi dengan Kristus, Sharing Injil menjadi tak bermakna dan membosankan, dan lalu tidak mendorong kepada pelaksanaan aksi nyata yang direncanakan.

Apa yang ditegaskan di atas tadi, pada akhirnya membawa kepada peranan para fasilitator Sharing Injil. Setiap fasilitator yang bertugas memimpin Sharing Injil harus menyiapkan diri secara memadai. Mereka berperanan membuat Sharing Injil sungguh menjadi moment dimana peserta sharing pada akhirnya secara pribadi dengan Kristus. Itulah alasannya mengapa calon fasilitator harus melewati semua tahapan pelajaran, misalnya melalui seminar atau proses pelatihan dengan modul-modul AsIPA, untuk membuat mereka mampu memimpin Sharing Injil dengan baik. Para fasilitator harus menyadari dengan baik bahwa Sharing Injil yang dilaksanakan mempunyai target penting, yakni perjumpaan pribadi para peserta dengan Kristus, sehingga Kristus sendiri yang pada akhirnya memberi inspirasi kepada semua untuk suatu tugas atau aksi nyata tertentu. Tanpa perjumpaan tersebut, Sharing Injil menjadi tidak menarik dan membosankan, dan lalu tidak memberi kontribusi untuk membangun kerjasama dan semangat partisipasi.

Bila ditanyakan apa korelasi antara Sharing Injil dan Gereja Partisipatif, maka jawabannya ialah seperti yang telah diuraikan diatas. Gereja Partisipatif dibangun bermodalkan pesan Kristus yang diperoleh di dalam Sharing Injil. Di dalam ayat-ayat dari teks Kitab Suci yang dipetik terdapat pesan Kristus. Refleksi terhadap ayat-ayat yang dipilih dalam keheningan Sharing Injil tersebut membawa peserta kepada perjumpaan pribadi dengan Kristus. Dalam perjumpaan rohani itulah kita bisa menangkap apa yang Kristus katakan, juga apa yang Kristus ingatkan. Inilah modal untuk menjalankan aksi nyata, dan kita yakin bahwa aksi nyata demi aksi nyata yang dijalankan bersama-sama cepat atau lambat akan membangun kebersamaan dan partisipasi. Gereja Partisipasi terwujud melalui proses ini.

C.  Modul AsIPA dan Makna Warna Cover Modul:
1.    Modul A berisi tentang Sharing Injil, dengan sampul luar berwarna kuning. Warna kuning memiliki arti emas, kekayaan. Dalam hubungan dengan Sharing Injil, warna kuning bermakna kemuliaan Sabda Allah. Ketika KBG memakai Sharing Injil untuk sebuah pertemuannya di KBG, maka KBG itu semakin hari semakin bertumbuh lebih baik, karena KBG memuliakan Sabda Allah, semakin hari hidupnya semakin disempurnakan oleh Kristus. Karena Sabda Allah menjadi dasar hidupnya.
2.    Modul B berisi tentang Komunitas Basis Gerejawi. Sampul luarnya berwarna biru. Biru warna melambang laut di Asia. Biru bermakna perjuangan. Membangun KBG tidak gampang. Membangun KBG membutuhkan proses yang terus menerus diperjuangkan oleh setiap anggota KBG. Dalam proses perjuangan itu KBG menjadikan Kitab Suci sebagai pusatnya, dan sarana yang dipakai KBG untuk tetap berpusat pada Sabda Allah ialah Sharing Injil.
3.    Modul C berisi tentang Gereja Partisipatif, dengan cover luar berwarna merah muda. Warna merah mudah bermakna cinta kasih. Dalam KBG setiap anggotanya berjuang untuk mengalami cinta kasih. Karena Sharing Injil yang dipakainya untuk tetap berpusat pada Kristus. Anggota KBG akan mendapat apa yang disebut ‘power of love’. Tanpa hal ini KBG tidak akan memperoleh kekuatan cinta ini, maka tidaklah heran, KBG akan selalu gagal dalam melaksana aksi nyata, dan endingnya Gereja Partisipasi yang dicita-citakan itu, tidak pernah terwujud. Karena anggota KBG-nya selalu berjalan sendiri-sendiri.
4.    Modul D berisi tentang pemberdayaan skill-kepemimpinan dalam KBG. Warna cover luar modul D ialah hijau. Makna warna hijau ialah pertumbuhan, belajar tanpa henti. Maka pemimpin di KBG harus belajar terus tanpa henti supaya baik pemimpinnya maupun KBGnya tetap tumbuh dalam Kristus dan mewarnai persekutuan dan persaudaraan didalam KBG-nya.

*) sebuah pengantar dalam pembukaan pelatihan fasilitator
KBG Paroki Tanjungpandan Belitung, 11 September 2014