Jumat, 05 Juni 2015

Participatoris Church: Ungkap Mgr. Hila Dalam Serah Terima Para Pejabat Gereja Keuskupan Pangkalpinang



Janji Para Pejabat Gereja di depan Uskupnya

Perlengkapan misa tersusun begitu rapi di atas Meja Altar. Sedangkan baju-baju misa dengan warna hijau bergantungan di cabang pohon di depan pintu masuk ke gua Maria Ratu Para Imam. Begitu juga kabel-kabel sound systemnya. Terlihat di depan gua Maria di halaman belakang Keuskupan Pangkalpinang, terpasang dua buah tenda. Menariknya, hiasan tenda-tenda itu, seakan didominasi oleh kain-kain berwarna putih dan merah, terpampang menjadi ‘Merah Putih’. Sehingga seperti ada upacara kenegaraan. Padahal moment (4/6/2015) itu, tepat pukul 10.00 wib sebenarnya adalah sebuah upacara serahterima pejabat Gereja dilingkungan Keuskupan Pangkalpinang, dalam perayaan resmi Gereja, perayaan Ekaristi Kudus.

Koor dan Umat yang hadir dalam Upacara Serahterima
Koor upacara serah terima dikomando oleh Novisiat KKS. Bapa Uskup, Keuskupan Pangkalpinang dalam kata pengantarnya menjelaskan bahwa hari ini (4/6/2015), terasa sangat lain dari biasanya. Biasanya upacara semacam ini terjadi didalam ruangan seperti di gereja Katedral atau di kapel Keuskupan. Namun, tidak ada masalah. Karena serah terima para pejabat Gereja di lingkungan Keuskupan kita kali ini, terjadi dihalaman terbuka dan di depan gua Maria Ratu Para Imam. Sangat bagus terjadi disini, karena serah terima ini tidak hanya disaksikan oleh kehadiran umat dan para pastor serta para suster tetapi justru disampaikan oleh Bunda kita Maria, Bunda Gereja dan Bunda Para Imam.

Sementara dalam kotbah, Bapa Uskup menjelaskan struktur Gereja Keuskupan Pangkalpinang. Dalam penjelasan Bapa Uskup, beliau menyebutkan bahwa ada perubahan jabatan didalam struktur Keuskupan kita. Karena itu, upacara ini adalah upacara serah terima.

Vikjen Lama RD. FX. Hendrawita akan digantikan oleh RD. Lucius Poya Hobamatan. RD. Lucius Poya Hobamatan sekaligus menjadi pastor paroki Katedral St. Yoseph Pangkalpinang. RD. FX. Hendrawita akan menjadi rektor seminari Mario Jhon Boen. Kita berharap, seminari kita akan lebih bagus dan menghasilkan imam kita yang bagus pula. Kemudian jabatan vikep utara yang dulunya dipegang oleh RD. Lucius Poya Hobamatan akan diganti oleh RD. Frans Tatu Mukin.

Koselebran dalam Upacara Serahterima
Sedangkan jabatan vikep selatan yang dulunya ditangani oleh RD. Frans Tatu Mukin, akan dipegang oleh RD. Stanis Bani. Lalu, ekonom yang selama ini dijabat oleh RD. Pieter Patrisius Padiservus diganti oleh Bapak Damian Yulianto. RD. Pieter Patrisius Padiservus diangkat menjabat Ketua Yayasan Rumah Sakit Katolik Bhakti Wara Pangkalpinang. Pergantian pejabat Gereja ini akan disahkan setelah para pejabat baru ini menyatakan kesediaannya dengan membuat perjanjian di depan Uskup Keuskupan Pangkalpinang dan para saksi: Sr. Lusie, KKS dan Bapak Amung Chandra.

Pernyataan Kesediaan Para Pejabat Gereja Baru
Dalam kotbah juga Mgr. Hilarius Moa Nurak, SVD menjelaskan kepada para pejabat Gereja yang baru dan segenap umat yang hadir soal ‘Participatoris Church’. Mgr. Hila memulai dengan hasil sidang para uskup se-Asia di Bandung, tahun 1990 bahwa Gereja adalah Communion of Communities. Communion of Communities diterjemahkan ‘Gereja adalah persekutuan komunitas-komunitas’. Didalam persekutuan komunitas-komunitas itu salah satu unsur penting ialah soal kepemimpinan. Kepemimpinan dalam Gereja Partisipatif yang menjadi visi Keuskupan kita adalah kepemimpinan yang partisipatoris. Artinya bahwa di dalam Gereja ada partisipasi dari umat di KBG-KBG dan partisipasi juga harus dari para pemimpin Gereja. Jika partisipasi ini hanya satu pihak saja, maka Gereja kita akan pincang.

Di Paroki, para pastor menjadi pemersatu KBG-KBG. Maka kepemimpinanya tetap ada, hanya dijalankan dalam Cinta Kasih. Disinilah terjadi perpaduan antara pastisipasi top down dan button up. KBG-KBG diarahkan pada pengembangan karisma-karisma umat, sehingga partisipasi umat terlaksana. Maka, umat bukan pekerja Gereja. Maka ditingkat Keuskupan, Uskuplah menjadi pemersatu di setiap paroki-paroki.

Kolegalitas dalam Ekaristi Kudus
Belajar dari bacaan pertama tentang Tobit dan Rafael yang mengunjungi rumah Rahael, disana diceritakan bahwa tuan rumah berdialog dengan para tamu. Rumah Rahael menjadi hidup. Belajar dari kisah Tobit ini, maka imam harus turun ke umat di KBG-KBG. Sehingga di KBG-KBG ada hospitalitas, ada kehidupan. Merujuk pada kisah Tobit ini, Mgr. Hila menekankan salah satu ciri kepemimpinan partisipatis yaitu hospitalitas, ada kehidupan didalam keluarga dan didalam KBG-KBG. Pemimpin harus membawa hospitalitas - kehidupan baru, cinta kasih dan keterbukaan didalam keluarga dan KBG-KBG. Sehingga ‘Participatoris Church’ menjadi lebih nampak didalam Gereja Keuskupan kita. Memang sesuai dengan visi Keuskupan kita, hal ini sudah berjalan tetapi belum optimal. Karena itu, dengan pergantian ini, visi-misi dan spiritualitas Keuskupan kita semakin optimal untuk dijalankan.

Upacara serah terima para pejabat Gereja Keuskupan Pangkalpinang berlangsung hampir satu setengah jam, dalam perayaan ekaristi kudus. Setelah selesai acara, bertempat di rumah Keuskupan, terlaksana acara ramahtamah bersama dengan penuh kekeluargaan. ***

Sabtu, 25 April 2015

Menyiapkan Katekumen Menjadi Anggota Gereja yang Handal



Asli bukunya dapat dilihat

Buku ini ditulis oleh Mgr. Oswald Hirmer, seorang Uskup di Afrika Selatan. Data tentang Mgr. Oswald Hirmer dapat dibaca didalam: http://en.wikipedia.org/wiki/Oswald_Georg_Hirmer. Buku ini diperuntukan bagi calon anggota baru dalam Gereja Katolik, yang sering kita sebut ‘Katekumen’. Didalam buku ini berisi bahan-bahan pertemuan untuk katekumen dengan jarak waktu yang cukup lama. Bahan pertemuan sebanyak 47 kali pertemuan dan ditambah dengan beberapa bahan pertemuan mistagogi. Dari keseluruhan isi buku yang ditulis Oswald Hirmer di Afrika Selatan sebagai bahan pertemuan untuk Lumko, sebuah institut misiologi dan kebudayaan Gereja di Afrika Selatan.

Buku yang dalam bahasa Inggris dengan judul ‘Our Journey Together’ – Catechetical Sessions For Christian Initiation Of Adults’ kemudian diadaptasi oleh Team Singapore Pastoral Institute Catechetical Office, antara lain: Wendys Louis (eds), Josephine Leow, dan Doris Woon, yang diilustrasi oleh Rev. Joseph Cyril Reutens.


Contoh 'code' pada pertemuan ke-11: Air Pembebasan
Menarik dari buku ini adalah bahan-bahan yang disampaikan sangat simpel, jelas, dan singkat. Karena itu, para fasilitator atau pengajar yang menyiapkan para calon anggota Gereja baru, membutuhkan waktu yang singkat untuk membaca dan mudah dipahami bahannya. Metode dari pertemuan ini pun sangat simpel, yaitu lebih banyak para fasilitator atau pengajar menggali kedalaman materi-materi yang ada didalamnya melalui ‘code’ dan pertanyaan singkat, padat, dan pendek. Metode yang disungguhkan dalam buku ini terdiri dari tiga bagian, yaitu Our Life (Kehidupan Kita), God’s Word (Sabda Tuhan), dan A step forward on our way (selangkah maju dijalan kita). Dan lebih menarik lagi, setiap langkah ini selalu disertai dengan gambar-gambar atau cerita-cerita singkat yang disebut ‘code’.

RD. Frans Mukin, penerjemah 'Perjalanan Kita Bersama'
Pada tahun 2005, buku ini sudah dikerjakan oleh RD. Frans Mukin dan mendapat sambutan yang sangat bagus oleh RD. FX. Hendrawinata, vikjen Keuskupan Pangkalpinang pada tanggal 10 Januari 2005. Dengan demikian, menurut hemat saya, para fasilitator atau pengajar yang setia menyiapkan para calon anggota Gereja baru, dapat memakainya dengan melalui tahap demi tahap yang tercantum didalam buku tersebut. Sehingga para katekumen pun setia mengikuti proses untuk menjadi anggota Gereja baru yang setia juga dalam menumbuhkan imannya akan Kristus yang bangkit.

Akhir kata, semoga buku yang diberi judul oleh RD. Frans Mukin (penerjemah) ‘Perjalanan Kita Bersama – Pendewasaan Awal Seorang Kristiani’ menjadi referensi untuk keuskupan kita. Hal ini diharapkan oleh kita semua, karena didalam buku ini menampilkan metode-metode AsIPA (Asian Integral Pastoral Approach) yang akan diketahui oleh katekumen sedini mungkin untuk nantinya menjadi anggota Komunitas Basis Gerejawi yang kini menjadi fokus dan lokus Keuskupan Pangkalpinang. **al**

Jumat, 17 April 2015

Kunjungan Pastoral Bapa Uskup Pangkalpinang Ke Stasi Air Sena



Sejak sepulang dari kunjungan ad limina di Roma, sepulang ke Indonesia, Bapa Uskup Pangkalpinang langsung mengadakan kunjungan pastoralnya ke wilayah Kepulauan Anambas: di stasi Tarempa, stasi Mengkait dan stasi Air Sena (7-14/3), Paroki Tanjung Pinang, Pulau Bintang Kepulauan Riau.

Umat Stasi Air Sena Jemput Bapa uskup
Dalam kunjungan Bapa Uskup Pangkalpinang ke Stasi Air Sena, Mgr. Hilarius Moa Nurak, SVD dijemput umat stasi Air Sena di pelabuhan Air Sena setelah sepulang dari stasi Mengkait. Kunjungan Mgr. Hila ke stasi Air Sena kali ini dengan banyak kegiatan. Mulai dari menerima sakramen Krisma bagi umat, merayakan ekaristi bersama, hingga dialog bersama umat.

Dalam acara dialog bersama umat di Stasi Air Sena, Bapa Uskup menekakan fokus pastoral keuskupan Pangkalpinang yang sedang diperjuangkan, yaitu cara hidup menggereja yang baru. Cara hidup menggereja baru yang dimaksudkan Bapa Uskup adalah Komunitas Basis Gerejawi (KBG) harus berjalan di Stasi Air Sena ini. Umat harus saling mendukung. Dukungan umat selain KBG harus berjalan, juga dukungan yang nyata adalah umat harus menabung di Credit Union (CU). Karena melalui CU, orang miskin akan saling menolong. Orang miskin menolong orang miskin, ucap Mgr. Hila.

Bapa Uskup photo bersama Kriswan/wati Stasi Air Sena
Selain itu, Bapa Uskup meminta umat Air Sena untuk secepatnya menyiapkan lahan membangun gedung gereja yang baru. Pasalnya, semakin banyak umat, gedung gereja lama tidak muat lagi. Khas gedung gereja yang baru harus peduli lingkungan hidup, dengan tanaman-tanaman yang menghijau dihalaman gedung gereja, lanjut Bapa Uskup.

Dengan bertumbuhan umat yang banyak dan penataan gedung gereja yang menarik, akan menarik wisatawan untuk berkunjung ke Air Sena, dengan itu akan menambah pemasukan bagi umat lokal. Jika di Tarempa sudah dibentuk paroki, jelas Air Sena pun akan ikut berkembang. Air Sena akan dibangun sebuah klinik kesehatan dan dilayani oleh para suster, maka akan ada biara susteran di Air Sena nanti, janji Uskup kepada umat Stasi Air Sena.

Bapa Uskup beraudiens di depan umat Stasi Air Sena
Dengan suara kenabian dan hak mengajar, Bapa Uskup pun meminta ibu-ibu Air Sena, supaya jangan berjudi. Lebih baik uangnya ditabungkan di CU demi untuk pendidikan anak-anak di masa depan. Dengan melalui pendidikan ini, jelas bahwa kalau sudah ada klinik di Air Sena, tenaga-tenaga perawat tidak akan didatangkan dari luar. Tenaga-tenaga lokallah yang akan dipakai untuk bekerja di klinik kita, tegas Bapa Uskup dengan penuh semangat.

Janji Bapa Uskup kepada Umat Stasi Air Sena, menurut Fransiskus Xaverius Caili, setidaknya gagasan dan rencana Bapa Uskup ini akan didukung oleh pastor paroki juga. Bapa Uskup selalu menegaskan bahwa ‘rencana ini harus terlaksana’, tetapi jika tidak didukung pastor parokinya, iya...kami yang tinggal di pulau ini, akan bekerja sendirian. Lebih lanjut Caili, salah satu keluarga muda dan sekaligus aktivis stasi Air Sena mengungkapkan bahwa situasi Air Sena sudah berkembang sekarang. Makin terbuka, juga makin banyak umat. Umat perlu bekerjasama dan saling mendukung, sehingga ide Bapa Uskup, bisa terlaksana. *fxc/al*

Diterbitkan oleh 'majalah BERKAT' bulan April 2015.

Rabu, 08 April 2015

Keluarga Dalam Desiran Arus Zaman Dewasa Ini

Sebuah Refleksi tentang Hidup Berkeluarga Ditengah Pergerakan Zaman Modernitas Dewasa ini.


Mengajak Anak bermain-main dengan anak tetangga

Hidup berkeluarga adalah sebuah panggilan untuk mengabdi pada Sang Khalik. Ini motivasi hidup yang perlu dipikirkan dengan matang sebelum mengarungi bahtera bersama sang pasangan hidup. Jika, hal ini tidak dipikirkan dengan baik, hidup dalam bahtera adalah sebuah petaka yang hanya melakoni rutinitas belaka. Maka, yang harus dipikirkan lagi setelah mengarungi bahtera adalah memaknai rutinitas hidup setiap hari. Tanpa pemaknaan rutinitas yang terus menerus, hidup dalam bahtera seperti ‘jiwa dipenjarai tubuh’, kata sang pemikir Plato. Jiwa harus dibebaskan. Pembebasan jiwa yang terpenjara itu hanya dapat dilakoni oleh cara berpikir atau dengan kata yang ngetrend saat ini ‘pola berpikir’.

Melalui ‘cara berpikir’, solusi ditemukan, aksi nyata atas solusi ditindaklanjuti bersama. Hidup dalam bahtera menjadi lebih hidup untuk menemukan arti sebenarnya atas anugerah hidup yang diberikan secara cuma-cuma oleh sang Khalik kepada kita. Didalamnya terjadi reformasi mental terus digalakan, rutinitas hidup mendapat makna baru, dan motivasi untuk hidup dalam keluarga semakin mendapat nilai baru dalam kebersamaan dan kekeluargaan.

Desiran Arus Zaman Dewasa Ini
Globalisasi dewasa ini begitu deras menunjukkan ‘pola berpikir’ baru. Sementara, keluarga sebagai sel terkecil dalam suatu masyarakat, termasuk gereja, pun tidak bisa dipungkiri untuk mampu menanggulangi desiran arus zaman dewasa ini. Keluarga mau tidak mau harus ikut ngetrend, namun sejatinya tidak terbuai dan bergulir karena terbawa arus zaman ini.

Pola pikir ‘konsumerisme, hedonisme, radikalisme, fatalisme, relativisme, pragmatisme, individualisme, dan egoisme adalah arus zaman dewasa ini yang boleh kita sebut sebagai ‘tubuh’. Tubuh yang mampu memenjarakan jiwa kita. Yang pada akhirnya, tidak bebas lagi untuk bertindak secara positif untuk ‘bebas dari...’ dan ‘bebas untuk...’ melakoni hidup keluarga sesuai motivasi dasar hidup berkeluarga. Maka, keluarga sebagai sel terkecil dari suatu masyarakat – gereja yang lebih luas, perlu memperhatikan sebuah ‘pendidikan nilai’ didalam keluarga itu sendiri.

Bagaimana Pendidik Nilai dalam Keluarga?
Memperkenalkan anak kepada keluarga besarnya
Saat ini, banyak keluarga terseret dalam ‘pola pikir’ globalisasi. Tidak ikut ngetrend dewasa ini, dibilang ‘kolot’. Memakai ipad, hp, internet, dan lain-lain lalu tidak tahu dan bertanya kepada yang tahu, dikatakan ‘gagap teknologi’. Memegang merk hp yang tidak canggih, dibilang ‘untuk apa kamu banyak duit tetapi pola pikirnya masih kampungan.’ Serba salah, semuanya. 

Pada titik ini, jika keluarga tidak mampu bertahan lagi, akhirnya terjerembab dalam arus modernitas. Setiap anggota dengan keinginan yang berbeda, akhirnya sulit untuk berjumpa dan berkumpul. Atas nama kesibukan di luar dan atas nama teknologi globalisasi, mentalitas perorang bahkan keluarga, berubah total. Sulit lagi, mau duduk bersama. Semakin sulit untuk makan bersama, doa bersama, dan lain-lain yang memiliki khas kebersamaan sebagai anggota keluarga.

Jika bahtera keluarga dengan dihinggapi ‘pola berpikir’ demikian, maka pertanyaan dasarnya ialah ‘kapan dan bagaimana pendidikan nilai itu dijalankan dalam keluarga?’ Lalu, pertanyaan lanjutnya ialah ‘masihkah ada motivasi hidup berkeluarga seperti direncanakan pada awalnya?’

Makan bersama: Pola Kolot Menjalankan Pendidikan Nilai dalam keluarga

Keluarga menghantar anak berjumpa dengan Pastor
Bapak dan ibu saya, sejak awal mengajarkan kepada kedelapan anaknya begini: kita makan bersama dalam keluarga setiap malam, setelah semua anggota keluarga habis mandi malam. Karena prinsip ini, sebelum anggota keluarga selesai mandi malam, maka makan malam belum dilaksanakan. Konsekuensinya ialah mandi malam bergilir dan teratur. Sehingga mau makan malam, semua sudah mandi.

Dalam makan malam, bapak menempati kepala meja, ibu pun menempati kepala meja yang lain. Sedangkan anak-anak duduk mengelilingi meja. Begitu juga ketika mengambil makanan, mulai dari bapak, ibu, kakak-kakak kemudian adik-adik, selalu berurutan. Sebelum mengambil makanan, bapak menginstruksikan, mengambil makanan ingat-ingat dengan yang lain. Artinya, semua anggota keluarga harus mendapat jumlah dan makanan yang sama.

Menemani anak bermain, sambil mengajarkan alat-alat bermain
Jika, sampai pada yang terakhir ada yang tidak cukup, maka kami diminta untuk saling berbagi satu sama lain. Setelah semua anggota keluarga mendapat makanan, bapak akan omong, mari kita mulai makan... dalam makan bersama itu, bapak mulai membicarakan banyak hal, baik tentang keluarga, tentang hubungan antar anggota keluarga, tentang hasil-hasil usaha, tentang kegiatan sehari-hari. Bahkan, mulai menceritakan pengalaman sehari-hari setiap anak, apa yang dirasakan selama sekolah, kerja, dan lain-lain. Saling berbagi cerita dan saling memberikan masukan hingga mendapat nasihat dari orangtua.

Dari perjalanan makan bersama yang hingga sekarang masih berlaku, secara pribadi, saya mencatat:
a.   Makan bersama adalah ‘sekolah dasar’ yang bernilai pada jiwa. Mengapa? Karena didalam makan bersama, jiwa-jiwa keluarga mendapat keadilan, kebersamaan, kekeluargaan, saling berbagi satu sama lain, dan saling meneguhkan atas pengalaman hidup seharian.
b.  Makan bersama adalah meneladani hidup Yesus dan para rasul dan murid-Nya. Jujur bahwa bapak dan mama saya menjadi Katolik barus tahun 1999. Tetapi tradisi makan bersama merupakan penerusan dari kakek saya. Dalam makan bersama, bapak akan bertanya kepada anak-anaknya, hari ini kerja atau tidak; bagaimana belajar di sekolah hari ini, dan lain-lain. Disinilah, teladan pengajaran dari orangtua dan kakak-kakak diperdengarkan. Saling mendengarkan muncul disini. Didalam makan bersama ini, muncul saling melayani satu sama lain.
c.   Makan bersama, menghidupkan manusia sebagai makhluk sosial. Mengapa tidak, dalam makan bersama, setiap anggota saling kenal, saling tahu lebih mendalami sikap anggota keluarga satu sama lain. Makan bersama, disana muncul nilai-nilai seperti saling memperhatikan, saling memberi-berbagi, saling melayani, dan saling peduli satu sama lain. Disinilah, jiwa manusia memunculkan ‘rasa’ yang akan mengasah cara berpikir untuk suatu kebaikan dan kemuliaan diri, yang membuka horison berpikir untuk melihat situasi di luar diri dan di luar keluarga.
d.  Makan bersama akan menyalibkan egoisme diri dan membuka ‘pundi kedewasaan diri’ untuk berpikir secara holistik tentang usaha dan perjuangan hidup seseorang ketika menghadapi kesulitan hidup dan mengalami kebahagian hidup sebagai sebuah anugerah dari sang Khalik. Disinilah muncul nilai kerendahan hati, menguburkan sikap sombong, membangun opini baru yang positip membebaskan jiwa dari penjara badan atau tubuh.
e.  Makan bersama menuai rasa hormat yang mendalam kepada orangtua dan kakak-kakak sebagai pelaksana perintah keempat dari Dekalog. Dengan pola ini, anggota keluarga akan mengaktualisasikan misi rasa hormat ini kepada anggota masyarakat yang lain. Disinilah, sebenar sebuah kritik tajam kepada kita semua yang saat ini, tidak menampilkan sikap rasa hormat lagi kepada orang-orang yang lebih tua.

Akhirnya, keluarga yang kini hidup di zaman modernitas, perlu juga belajar dari suatu tradisi purba yaitu ‘makan bersama’ dalam keluarga. Tanpa peristiwa ini, mentalitas keluarga yang hanya menaruh harapan kepada ‘orang lain’ untuk memberikan pendidikan nilai dalam keluarga, akan sangat sulit terjawab.

Impian bahwa keluarga adalah sel terkecil yang perlu dibangun dalam kedamaian dan kebahagiaan untuk mengetahui mana yang baik dan mana yang tidak baik untuk dilaksanakan dalam realitas hidup sehari-hari, akan buntu dan menemui titik klimaks kebingungan sendiri. Keluarga adalah wujudnyata dua pribadi. Keluarga adalah kelanjutan motivasi bahtera yang disepakati bersama. Keluarga adalah jati diri dua pribadi yang telah disatukan, yang merupakan ekspresi jiwa yang menjumpai Allah dalam ‘keheningan’. Maka ‘berkat Allah’ inilah yang nampak dalam hidup keseharian kita. ***