Rabu, 02 Maret 2016

Doa 24 Jam Untuk Tuhan di Paroki Sungailiat



Paus Fransiskus, sejak setahun menjadi pimpinan tertinggi Gereja Katolik sedunia, merencanakan doa 24 jam untuk Tuhan. Rencana itu pernah dijalankan pada tanggal 13-14 Maret 2015 yang lalu. Dasar yang disampaikan untuk umat berdoa 24 jam ialah untuk mengenang hari pengangkatan menjadi Paus, mau memberi makna baru pada masa prapaskah 2016 ini. Doa 24 jam untuk Tuhan dijalankan pada tanggal 4-5 Maret 2016 dengan cara: pintu gereja dibuka selama 24 jam, kesempatan umat untuk mengaku dosa secara pribadi, berdoa secara komunitas dan pribadi dihadapan Allah, dan bahkan diberi kesempatan kepada setiap umat untuk membuat percakapan / spiritual counseling dengan para imam. Juga, bapa Paus Franiskus meminta para imam untuk siap melayani para peniten yang mencari pengampunan Tuhan.

Waktu doa 24 jam untuk Tuhan yang dimaksud Paus Fransiskus, selain sudah disebutkan tadi bisa juga sebagai kesempatan untuk refleksi dan doa, untuk menemukan kembali rahmat besar Allah di jantung Iman Katolik bahkan Bapa Paus Fransikus menambahkan bahwa doa 24 jam adalah kesempatan berdoa bersama-sama seluruh Gereja, seluruh dunia. Tak tahukah kamu, betapa kuat dan dahsyatnya kekuatan doa bersama dan serentak ini?

Dipihak yang lain, Bapa Paus Fransikus memiliki sejumlah bahan ajaran kateketisnya tentang Sakramen Tobat. Sakramen Tobat ialah mengaku dosa bukanlah memasuki sebuah ruang penghakiman/pengadilan yang mengerikan; justru disana gunung kerahiman Allah begitu besar, kita saja yang malas untuk datang memohon kerahiman Tuhan. Jangan takut untuk mengaku dosa. Manusia bisa saja jatuh dalam dosa, pergilah menyesal, bertobat, kita diampuni, kita lalu bangkit lagi. Saya  sendiri setiap 15 hari mengaku dosa, karena Paus juga orang berdosa, ungkap Sang Paus.

Paus Fransiskus menceriterakan pengalaman doa 24 jam pada tahun lalu (2015), di Eropa dan belahan dunia lainnya, inisiatif doa 24 jam disambut hangat dan gereja-gereja sepanjang malam terbuka bagi siapa saja. Hal ini telah membangkitkan optimisme bahwa tahun ini pun, apalagi di tahun Jubileum belas kasih, akan dirayakan penuh antusiasme. Sangat menonjol dan menyolok adalah peranan dan kehadiran orang muda yang memberi makna lebih pada inisiatif ini.

4-5 Maret 2016: 24 Jam untuk Tuhan Sang Belas Kasih
Dalam MV 17, Paus Fransiskus meminta supaya Doa 24 Jam untuk Tuhan pun dijalankan pada tahun Yubileum Kerahiman Ilahi 2016, tepatnya pada tanggal 4-5 Maret 2016. Selama 24 Jam, Paus Fransikus meminta supaya semua Gereja terbuka 24 jam bagi umat Katolik entah mau berdoa, bermeditasi, berdialog dengan imamnya, entah menerima sakramen pertobatan, dll.

Dalam konteks Keuskupan Pangkalpinang, Mgr. Hilarius Moa Nurak SVD, dalam Surat Gembala Prapaskah 2016, pun menegaskan: ‘Di masa Prapaskah di tahun Yubileum ini, saya menegaskan, sebagaimana diserukan Paus Fransiskus dalam Bulla Misericordia Vultus, dan ditegaskan lagi dalam pesan Masa Prapaskahnya di Tahun 2016 ini: “Masa Prapaskah selama Tahun Yubileum ini juga seharusnya dihayati dengan lebih intens sebagai momen istimewa untuk merayakan dan mengalami kerahiman Allah” (MV no 17). Saya mengajak agar kita lebih intens membaca Kitab Suci, mendengarkan Sabda Allah yang menyelamatkan dan berbelas-kasih, semuanya ini dapat  membantu kita untuk menemukan kembali wajah Bapa yang penuh kerahiman. Sri Paus juga menyerukan kepada kita untuk mendengarkan Sabda Allah dengan penuh perhatian. Beliau memprakarsai  "24 Jam bagi Tuhan", yang akan dilaksanakan pada hari Jumat dan Sabtu sebelum Minggu Prapaskah IV, harus dilaksanakan di setiap keuskupan. Atas prakarsa Sri Paus Fransiskus ini, saya pun menghimbau untuk diadakannya “24 jam bagi Tuhan” di paroki-paroki dan stasi-stasi. Hal ini dimaksud agar kitapun memupuk keutamaan mendengarkan dan merenungkan dengan penuh doa terhadap Sabda Allah.’

24 Jam untuk Tuhan di Paroki Sungailiat Bangka
Berdasarkan hasil pertemuan pastor paroki dengan para ketua KBG, kelompok kategorial, dan seksi liturgi paroki serta para fasilitator KBG yang dilaksanakan pada hari/tanggal Minggu, 28 Februari 2016, disepakati beberapa hal dasar sebagai berikut:

Hari Jumat, 4 Maret 2016         :
17.00 – 18.00                               Jalan Salib Kerahiman Ilahi (Gereja Paroki, Pemali, dan Bedukang).
8.00 – 19.00                                 Perayaan Ekaristi (di Gereja Paroki, Pemali dan Bedukang).
20.00 – 21.00                               Pentahtaan Sakramen Mahakudus (hanya di Gereja Paroki)
Jam 21.00 – 21.30                        Ibadat tobat (di Gereja Paroki dan Pemali-bagi yang lanzia).

Jadwal Adorasi dan Pengakuan dosa setiap KBG dan Kelompok Kategorial:
nota bene (nb): selama Adorasi berjalan, bagi umat KBG yang sedang tidak mendapat giliran adorasi dapat mengaku dosa secara pribadi dengan pastor. Juga bagi umat yang mau berkonsultasi para pastor dapat melayani umat.
21.00 – 21.30                               KBG Sta. Theresia 2.
21.30 – 22.00                               KBG Sta. Elisabeth
22.00 – 22.30                               KBG Sta. Theresia 1 dan St. Petrus
22.30 – 23.00                               KBG St. Yosep
23.00 – 24.00                               OMK St. Aloysius Gonzaga
24.00 – 24.30                               CFC dan Pelayan Komuni Tak Lazim
24.30 – 01.00                               Para Fasilitator dari KBG-KBG.
01.00 – 01.30                               Para Pastor
01.30 – 02.00                               Para Suster
02.00 – 02.30                               KBG St. Fransiskus Xaverius
02.30 – 03.30                               Kelompok AsIPA Paroki
03.30 – 04.00                               KBG St. Gabriel
04.00 – 04.30                               KBG St. Don Bosco
04.30 – 05.00                               KBG St. Antonius
05.00 – 05.30                               KBG St. Vincentius
05.30 – 06.00                               KBG Sta. Maria Goretti dan Kelompok Anak dan Remaja.

Hari Sabtu, 5 Maret 2016          :
Jadwal Adorasi dan Pengakuan Dosa KBG dan kelompok Kategorial:
nota bene (nb): selama Adorasi berjalan, bagi umat KBG yang sedang tidak mendapat giliran adorasi dapat mengaku dosa secara pribadi dengan pastor. Juga bagi umat yang mau berkonsultasi para pastor dapat melayani umat.
06.00 – 07.00                               Kelompok Ibu-Ibu dan seluruh umat – Ibadat Pagi – Misa Pagi
07.30 – 10.00                               Salve – adorasi untuk semua umat yang berkenan hadir.
10.00 -  11..00                              Siswa/i Katolik SMA/K Negeri dan Swasta di Sungailiat
11.00 – 12.00                               SD dan SMP Sta. Maria Goretti
12.00 – 14.00                               KBG St. Yohanes Pemandi, St. Thomas Aquino, Sta. Sisilia dan St. Dominikus
14.00 – 15.00                               Legio Mariae Sungailiat
13.00 – 15.00                               Ibadat siang - Koronka Kerahiman Ilahi
15.00 – 17.00                               Ibadat Tobat dan pengakuan dosa untuk umum.
17.00 – 18.00                               Ibadat Sore I
18.00 – selesai                              Ekaristi Sabtu sore (Minggu Prapaskah IV).

Catatan:
Ibadat Jalan Salib akan dipakai teks Jalan Salib Kerahiman Ilahi. Teksnya akan disiapkan oleh seksi liturgi paroki. Bagi umat Pemali dan Bedukang diharapkan supaya bisa mengambilnya di sekretariat paroki pada jam kerja.
Jadwal Ibadat Tobat disediakan pada beberapa waktu baik di hari Jumat maupun hari Sabtu. Hal ini dimaksudkan supaya umat bagi menyesuaikan pengakuannya dengan waktu yang ditawarkan ini.

Doa selama Adorasi Sakramen Mahakudus memakai buku Ibadat Adorasi Ekaristi hal. 19-29 yang beberapa bulan lalu dibeli di Gereja. Karena itu, diharapkan waktu adorasi umat membawa Puji Syukur dan buku adorasi masing-masing.

Diberitahukan kepada ketua-ketua KBG dan kelompok kategorial bahwa hari Rabu, 2 Maret 2016 bertempat di aula paroki jam 16.00 wib mohon kehadirannya untuk pelatihan pemimpin adorasi dan jalan salib kerahiman ilahi dan informasi lebih lanjut lainnya.

Jadwal adorasi per setiap KBG / kelompok diberi waktu 30 menit. Karena itu, bagi KBG atau kelompok yang mendapat jadwal giliran doa adorasi diharapkan minimal 30 menit sebelum mulai adorasi sudah ada di lingkungan Gereja Paroki.

Sesuai dengan permintaan Bapa Paus Fransiskus dan Bapa Uskup Keuskupan Pangkalpinang bahwa 24 jam Gereja dibuka untuk seluruh umat Paroki, maka pada tanggal itu, Gereja kita akan dibukakan untuk umat. Karena itu dihimbau supaya bagi umat yang mau ikut kegiatan umum bersama KBG atau kelompok sebelum atau sesudah kegiatan tersebut umat diberi kesempatan untuk doa atau meditasi atau refleksi secara pribadi di Gereja.

Pondopo dan aula akan disiapkan sebagai tempat istirahat ala kadarnya bagi KBG atau kelompok yang menanti jadwal adorasinya.***

Rabu, 30 Desember 2015

Pernyataan Terakhir Sidang Umum VII AsIPA di Bangkok Thailand



SIDANG UMUM VII AsIPA
"PERGILAH, AKU SELALU MENYERTAI KALIAN’
(Mat. 28: 19-20)

KBG  HIDUP DENGAN ORANG YANG BERBEDA IMAN DAN KEYAKINAN
Kamis, 22 - Rabu, 28 Oktober 2015 Baan Phu Waan - Pusat Pelatihan Pastoral,
Keuskupan Agung Bangkok, Thailand

PERNYATAAN FINAL

PENDAHULUAN
1.     Sebanyak 118 peserta yang hadir dalam Sidang Umum AsIPA VII. Ke-118 peserta itu terdiri dari: 34 awam, 14 religius, 57 imam, dan 13 uskup; yang berasal dari 15 negara (Bangladesh, India, Indonesia, Jepang, Korea, Malaysia, Myanmar, Pakistan, Filipina, Sri Lanka, Taiwan, Thailand, Vietnam , Afrika / SECAM-Ghana, dan Jerman). Mereka datang bersama-sama di Baan Phu Waan, Pusat Pastoral di Keuskupan Agung Bangkok di Thailand untuk berpartisipasi dalam Sidang Umum Pendekatan Pastoral secara Integral di Asia (AsIPA) VII; yang dilaksanakan dari 22-28 Oktober 2015. Kami datang dengan tujuan untuk memperdalam persekutuan kami dan untuk menemukan sumber inspirasi dari Firman dan Ekaristi, terutama untuk berbagi pengalaman kami dalam Komunitas Basis Gerejawi (KBG) tentang hidup dengan orang-orang dari agama yang berbeda dan menemukan cara-cara yang kreatif untuk membawa perdamaian dan solidaritas yang lebih dalam, dalam dunia ini.
2.   Sebagai bagian dari program ini, kami mengunjungi beberapa KBG di tiga keuskupan di Thailand. Dalam kunjungan ini kami menemukan pengalaman keterbukaan yang mengesankan dan hidup harmonis dengan orang-orang dari agama yang berbeda seperti yang mereka terima; bahkan seperti kami alami di masjid-masjid dan kuil-kuil mereka dan disana kami berbagi kegembiraan dan harapan hidup antarumat beragama. Kami juga diperkuat oleh iman KBG seperti yang mereka sharingkan ketika kami berkunjung dalam KBG mereka. Kami sangat berterima kasih kepada Gereja di Thailand yang dengan keramahan-kehangatan dan murah hati mereka dan sebagai suatu kesaksian dari Gereja yang hidup.

KBG ADALAH EKSPRESI DARI PERSEKUTUAN DAN MISI GEREJA
3.   Dalam sidang yang berarti itu, kami pun merasa penting karena sidang itu bertepatan dengan kita merayakan lima puluh tahun sejak Konsili Vatikan II dan dua puluh lima tahun Sidang Pleno Federasi Konferensi Para Uskup Asia (FABC) V di Bandung, Indonesia. Konsili Vatikan II mendefinisikan kembali Gereja sebagai Umat  Allah dan menempatkan persekutuan di jantung apa artinya menjadi Gereja. Dasar dari persekutuan harus dipahami dalam konteks Tritunggal Mahakudus. Persekutuan, bagaimanapun, adalah intrinsik terkait dengan misi karena misi membentuk cara kita untuk menjadi Gereja (EA 24). Umat  ​​Allah, di mana setiap orang yang dibaptis berpartisipasi dalam peran menjadi imam, nabi dan raja Kristus (LG, Bab 1) secara alami membentuk komunitas agama setempat.
4.   Usaha FABC untuk memahami persekutuan dalam konteks Asia telah sangat bermanfaat. Dorongan terus-menerus dalam membentuk KBG-KBG telah menghasilkan banyak Gereja Lokal di Asia mengambil langkah untuk mempromosikan hidup ber-KBG. Pada Sidang Pleno ke-5 FABC, disana dengan jelas disebutkan bahwa Gereja di Asia harus menjadi 'persekutuan komunitas-komunitas, di mana kaum awam, religius, dan klerus mengakui dan menerima satu sama lain sebagai saudara dan saudari dalam misi umum’ (FABC V 5 # 8).
5.   KBG-KBG memperbaharui diri dan KBG telah dilihat sebagai buah langsung dari persekutuan itu dan misi Gereja sebagai Umat Allah dalam Konsili Vatikan II. Dalam penerimaan di Asia, FABC telah mendukung pertumbuhan KBG-KBG sebagai Jalan Baru-Gereja. Laporan dari berbagai negara selama Sidang Umum VII AsIPA melihat KBG dari visi Konsili Vatikan II sebagai berikut:
5.1.     Orang-orang telah mengalami pendalaman iman melalui KBG-KBG.
5.2.   KBG-KBG telah menjadi 'papan peluncuran' untuk memelihara kaum awam; orang-orang yang berasal dari KBG-KBG telah dilatih menjadi fasilitator dan lebih percaya diri; mereka dengan visi yang jelas dari Gereja; telah tumbuh dalam kesadaran martabat mereka sebagai orang yang dibaptis dan dipanggil untuk bersama dengan para tertahbis bertanggungjawab dalam misi Gereja.
5.3.   Haus akan Yesus dan Firman-Nya telah diperdalam dengan metode yang berbeda yang digunakan dalam sharing Kitab Suci KBG; dengan hidup Firman Allah, mereka saling menasehati, bahkan untuk non-beragama, tidak hanya dengan kata-kata tetapi dengan tindakan juga.
5.4.   KBG-KBG telah menjadi sarana pemecah hambatan antara imam dan awam, dan bahkan sebagai imam, uskup sekarang duduk bersama dengan mereka untuk pertemuan KBG-KBG.
5.5.   KBG-KBG tumbuh dan lebih tumbuh lagi kalau keuskupan mempromosikannya.
5.6.   Sidang Umum AsIPA menjadi sumber kebangkitan untuk KBG-KBG. AsIPA, alat memungkinkan mereka untuk mengembangkan hubungan yang lebih dalam dengan Allah melalui Firman dan Ekaristi. Metode AsIPA dan teksnya, sangat membantu dan bermanfaat bagi Evangelisasi Baru - dari keluarga, komunitas, dan paroki. Publikasi modul lokal dirancang untuk KBG-KBG juga terjadi.
6.   Namun, masih banyak perbaikan untuk daerah-daerah, sebagai berikut:
6.1.     Banyak kaum awam yang tradisional dan tidak terbuka untuk tantangan baru bagi pembaharuan Gereja; di sisi lain, mereka yang terlibat dalam kegiatan Gereja kekurangan formasi yang tepat.
6.2.   Banyak paroki masih berpusat pada para imam - (pastor sentris) dan tidak melibatkan KBG-KBG dalam kegiatan paroki.
6.3.   KBG-KBG tidak membuat prioritas pastoral di keuskupan; masukan dari para imam tanpa dukungan dari tenaga-tenaga lain dapat mempengaruhi fungsi KBG-KBG; ada juga imam yang tidak cukup termotivasi, bersama kaum beriman dan para animator awam untuk mempromosikan dan memelihara KBG-KBG.
6.4.   Tidak mudah untuk mendapatkan kaum muda yang terlibat dalam KBG-KBG.
6.5.   Media Massa, kuliah ekstra, pertanian musiman, pekerjaan, dll, menghalangi kegiatan tertentu dan partisipasi umat di dalam KBG-KBG.
6.6.   Di beberapa negara, para pemimpin gereja tidak dapat menghadiri pertemuan KBG karena pembatasan dari politik dan agama.
7.   Namun, berdasarkan laporan dan diskusi bahkan lebih dari pembicaraan para peserta dalam sidang ini, kita juga mengalami sebuah persekutuan- didalam misi seperti yang kita memperdalam hubungan kita dengan Yesus dan dengan satu sama lain melalui sharing Firman Tuhan dan merayakan Ekaristi setiap hari. Dalam teks AsIPA pada Formasi Spiritual, Pelatihan Pemimpin dan Dialog memotivasi kita untuk maju. Firman Allah juga menantang kita terutama dalam hidup dengan orang yang berbeda agama. Dalam sidang ini, kita mengambil tantangan ini dengan serius.

KBG DALAM KONTEKS MULTI-AGAMA DI ASIA
8.   Asia, tempat kelahiran dari banyak peradaban kuno dunia dan agama. Asia adalah benua diberkati dengan komunitas-komunitas yang hidup dengan campuran warna-warni budaya, agama dan filsafat, dan banyak yang lebih kuno dari agama Kristen. St. Yohanes Paulus II juga mengidentifikasi dan menghargai sifat multi-agama di Asia ini, ketika ia mengatakan: "Asia juga tempat lahir agama-agama utama dunia: Yahudi, Kristen, Islam, dan Hindu. Ini adalah tempat kelahiran banyak tradisi spiritual lainnya seperti Buddha, Taoisme, Konfusianisme, Zoroastrianisme, Jainisme, Sikhisme dan Shinto. Jutaan orang juga mendukung agama tradisional atau suku, dengan berbagai tingkat ritual terstruktur dan pengajaran resmi agama" (EA 6).
9.   Di Asia, hanya 4,5% dari total penduduk adalah penganut Kristen dan hanya kurang dari 3% dari populasi di Asia adalah Katolik. Dalam menghadapi konteks multi-agama dan minoritas di Asia FABC, positif menghargai pluralisme dan keragaman sebagai memperkaya, dan menyerukan kepada KBG-KBG untuk mempersiapkan diri untuk terlibat dalam dialog dengan orang-orang yang berbeda agama.

KBG-KBG HIDUP DENGAN TETANGGA YANG BERBEDA IMAN
10.    Meskipun kebodohan dan intoleransi agama lain terus mewabah dalam masyarakat dan telah menghasilkan ketegangan, konflik, dan kekerasan, dalam sidang ini kita telah bertukar banyak cerita positif tentang dialog antarumat beragama, dimana KBG-KBG yang telah menginspirasi kita. Dari cerita ini, kita belajar bahwa:
10.1.       Untuk memiliki dialog antarumat beragama asli, kita harus jujur ​​mengakui perbedaan-perbedaan kita serta keyakinan kita bersama. Dialog antarumat beragama asli dimulai pertama dengan memasukkan dalam keiman-an kita sendiri. Ini juga berarti melangkah ke dalam sepatu orang-orang dari agama yang berbeda dan mencoba untuk melihat dunia seperti yang mereka lihat itu. Untuk masuk ke dalam tuntutan dialog, kita hendaknya menjadi miskin di hadapan Allah, sehingga menjadi kaya cinta. Sebab Cinta adalah metode dialog.
10.2.     KBG-KBG terlibat dalam "dialog kehidupan" dengan saudara-saudara dari agama-agama lain, seperti kita memberikan salam kepada mereka pada hari-hari raya mereka dan berada bersama mereka dalam kebahagiaan dan rentetan momen kehidupan seperti pernikahan, sakit, bencana alam dan kematian. Hubungan dan persahabatan yang dibangun dalam dialog ini memungkinkan kita untuk mendukung, mendorong, dan menjangkau satu sama lain.
10.3.    KBG-KBG juga terlibat dalam "dialog aksi" - bertindak sebagai orang Samaria yang baik untuk orang-orang dari agama lain, dan bekerja dengan mereka pada isu-isu keadilan, perdamaian, dan solidaritas untuk kebaikan bersama.
10.4.   KBG-KBG melaksanakan "dialog pengalaman religius" dengan memasukkan ke dalam tradisi spiritual yang berbeda melalui perayaan dan sharing. Hal ini dilakukan melalui kehidupan nyata dengan mendengarkan, belajar dan refleksi secara tetap pada apa yang Allah dapat mengatakan melalui tradisi-tradisi keagamaan lainnya. Dalam dan melalui dialog antarumat beragama kita saling bertukar pengalaman ilahi kita.

TANTANGAN YANG DIHADAPI OLEH KBG-KBG DALAM DIALOG
11.       Allah "ingin semua orang diselamatkan dan mencapai pengetahuan kebenaran penuh " (1Tim 2:4). Sejajar dengan ini, Gereja juga mengatakan bahwa Gereja Katolik tidak menolak apapun yang serba benar dan suci dalam agama-agama lain (lih. NA art. 2).
12.     Dalam keterlibatan kita dengan komunitas-komunitas agama lain, kita dihadapkan dengan tantangan berikut:
12.1.   Untuk memberi pemahaman orang yang memadai tentang identitas Kristiani dan ajaran-ajaran Gereja kita supaya menghindari kebingungan dalam dialog antarumat beragama.
12.2. Kurangnya pengetahuan tentang agama-agama lain, takut yang tidak diketahui, kecurigaan, kurang kritis atas penilaian sendiri, superioritas dan inferioritas kompleks, perbedaan antara mereka yang mengambil bagian dalam dialog, kebingungan antara iman dan akal; budaya dan agama, juga dapat menghambat dialog antarumat beragama.
12.3. Kurangnya kualitas yang diperlukan untuk dialog seperti perhatian, kebaikan, rasa hormat, kesabaran, pengampunan, penerimaan dari orang lain sebagai satu keluarga manusia yang sama juga mempengaruhi dialog antarumat beragama.
12.4. Kurangnya antusiasme untuk menyaksikan dan memberitakan Kristus dan mengganti proklamasi dengan dialog dapat menimbulkan tantangan terhadap misi Gereja (EN art. 41, RM art. 42).
12.5. Sarana dialog untuk pribadi, politik atau ekonomi merupakan rintangan-rintangan tambahan otentik dalam dialog antarumat beragama.
12.6. Kurangnya pemahaman yang benar tentang Kerajaan Allah juga mempengaruhi dialog antarumat beragama. KBG-KBG ditantang untuk menyaksikan dan hidup dalam solidaritas dengan semua orang dari keluarga manusia.
12.7. Selain memperkuat yang sudah ada KBG-KBG, ada kebutuhan untuk membentuk dan mendorong Komunitas-komunitas Basis Manusia (KBM-BHCs) yang dapat menjadi sarana yang kuat untuk perdamaian dan harmoni komunal dan membantu kita untuk berpindah dari religiusitas ke dalam tindakan spiritualitas (Papers FABC No. 48, 1987).
12.8. Isu-isu teologis yang diangkat dalam dialog antarumat beragama seperti konsep Tuhan (kita berdoa kepada Tuhan yang sama), konsep Umat Allah (mereka juga umat Allah (LG 2,16), Yesus sebagai satu-satunya Juruselamat (EA 10), relativisme, inkulturasi (Kristen sebagai agama asing), dll dapat menyebabkan arah yang negatif terhadap orang dari agama lain. Dialog antarumat beragama adalah sikap yang membuat kita mampu berjumpa dengan Allah dalam cara yang misteri kehadiran Tuhan dalam agama-agama lain. Hal ini juga mengingatkan kita dan KBG-KBG kita bahwa menemukan jalan yang kreatif untuk mengartikulasikan dan hidup iman kita dalam konteks multi-agama (EA 18).

KESIMPULAN
13.     Oleh karena itu kita merekomendasikan:
13.1.       Untuk KBG-KBG:
a.        Bahwa upaya khusus untuk dibuat agar melibatkan kaum muda dan seluruh keluarga di KBG-KBG;
b.        KBG-KBG serius masuk ke dalam dialog antarumat beragama;
c.        Kita bergabung dalam upaya orang-orang dari agama lain untuk mempromosikan hak asasi manusia (HAM) dan terutama ditujukan pada isu-isu lingkungan, kemiskinan, ketidakadilan dan kekerasan.
13.2.     Untuk uskup dan imam:
a.      Supaya memastikan struktur yang mendukung kuat KBG-KBG di tingkat nasional dan keuskupan;
b.      Sebagai pemimpin spiritual untuk berada di garis depan dalam mempromosikan persatuan dan dialog antarumat beragama di luar Gereja.
13.3.     Untuk FABC – bagian AsIPA:
a.      Untuk mengembangkan rencana pastoral, bahan-bahan lebih diutamakan dan dapat mengatur program pelatihan yang bisa membantu mempromosikan dialog antarumat beragama di KBG-KBG, paroki dan di tingkat keuskupan.
14.     Pengalaman kita dalam Sidang Umum ini telah memperkuat kita dan menantang KBG-KBG kita bahkan lebih menjadi "titik awal yang kuat untuk sebuah masyarakat baru berdasarkan pada peradaban cinta kasih" (RM 51, EA 25) terutama karena Paus Fransiskus menantang kita untuk menjadi Gereja kasih dan sayang (Misericordia Vultus 15).
15.     Kita ingin mengucapkan terima kasih kepada Tim Pastoral KBG dan terutama KBG kita dan kelompok masyarakat yang tanpa mengenal lelah menghidupkan iman Kristen dan misinya. Kami juga mengucapkan terima kasih yang mendalam atas dukungan yang murah hati yang diberikan kepada kita oleh Missio-Aachen, Missio-Munich, Bantuan untuk Gereja yang Membutuhkan, Penyebaran Iman (Propaganda Fide), banyak dermawan, Tim Penyelenggara Lokal di Thailand dan Tim Pemberdayaan AsIPA serta FABC - OLF, Tim Redaksi AsIPA yang bekerja mengkoordinasi secara keseluruhan sidang ini.
16.     Akhir dari sidang pada tanggal 28 Oktober, hari yang sama bertepatan dengan dikeluarkan Deklarasi tentang Hubungan Gereja dengan Agama-agama Bukan Kristen pada lima puluh tahun yang lalu, bahkan lebih menantang KBG kita untuk mempromosikan hidup antarumat beragama. Semoga ibu kita tercinta Bunda Maria berdoa bagi kita untuk hidup secara kreatif dan setia dengan masyarakat yang berbeda agama!

Pernyataan Akhir, Sidang Umum VII AsIPA

Sungailiat, 30 Desember 2015
diterjemahkan oleh:

Alfons Liwun