Rabu, 17 November 2010

PHOTO-PHOTO TEMPAT IBADAT SEKAMI UMAT KATOLIK ST. YOHANES PEMANDI BEDUKANG -SUNGAILIAT


Tampak dari depan. Dibangun oleh umat Katolik St. Yohanes Pemandi Bedukang Paroki Sungailiat. 

Tampak dari samping kiri
Tampak dari samping kanan
Tampak dari dalam.
Partisipasi umat dari yang sederhana ini ditanggapi oleh Gereja Paroki. Dengan berusaha kembali merehabnya. rehabnya kini sejak 15 November 2010 sedang dalam perehaban. 
Mudah-mudahan proses rehab berjalan dengan lancar. ***

TEMPAT IBADAT SEKAMI-UMAT KATOLIK ST. YOHANES PEMANDI BEDUKANG

Gereja Katolik Paroki Sta. Maria Pengantara Segala Rahmat Sungailiat, dalam pemetaan wilayah kepemerintahan, Paroki Sungailiat termasuk dalam wilayah pemerintahan Kabupanten Bangka Propinsi Kepulauan Bangka Belitung. Dalam pembagian wilayah karya pastoral, Paroki Sungailiat terdiri dari 15 Komunitas Basis Gerejani (KBG) dan 4 stasi. Salah satu stasinya adalah Stasi Bedukang yang masuk dalam wilayah Kecamatan Riau Silip Kabupaten Bangka.

Dari segi geografisnya, Stasi Bedukang terletak ± 20 km dari Kota Sungailiat, Kabupaten Bangka. Dari segi demografisnya, anggota Stasi Bedukang terdiri dari orang-orang perantauan asal Maumere Flores NTT, yang mayoritasnya beragama Katolik. Sehari-hari, masyarakat ini bekerja sebagai penambang timah inkonvensional (TI). Boleh dibilang kehidupannya pas-pasan. Jumlah anggota Stasi Bedukang : ± 32 KK dengan 120 jiwa.

Dalam pemetaan karya pastoral Gereja Paroki Sungailiat, Stasi Bedukang memiliki satu KBG yang disebut KBG St. Yohanes Pemandi. Pelayanan iman khususnya Misa untuk anggota stasi ini, dilaksanakan pada setiap Hari Minggu ke-2 setiap bulan. Sedangkan pertemuan KBG dilaksanakan pada setiap minggu pada Hari Sabtu Sore, jam 16.00.

Sedangkan pelayanan khusus kepada Anak dan Remaja yaitu SEKAMI adan BIAR dilaksanakan pada setiap Hari Jumat dan Sabtu Sore. Awalnya pertemuan ini dilaksanakan di rumah ketua KBG. Tetapi seiring dengan semangat Sinode I dan Sinode II yang akan dilaksanakan pada 2011, sejak Januari 2010, umat Stasi Bedukang berencana untuk membangun sebuah ”tempat ibadah SEKAMI”. Rencana itu semakin diperteguhkan pada bulan Maret 2010. Dan akhirnya pada April 2010, rencana itu terrealisasi dengan membangun ”tempat ibadah SEKAMI” dalam kondisi apa adanya.

Ketika ”tempat ibadah SEKAMI” itu telah berdiri dan telah dipakai, rasanya tempat ibadah ini kurang memadai, karena kondisi tempat ibadah itu cukup memprihatinkan. Pertama, karena kondisi atapnya mudah rusak ketika dihantam angin dan hujan. Kedua, tempat ibadah itu tidak memiliki fondasi sehingga kalau ada hujan, banjir akan masuk di daalam tempat itu. Ketiga, pintu dan jendelanya belum memiliki daunnya sehingga sering menjadi tempat bermainnya binatang-binatang sehingga kondisinya kotor.

Tempat Ibadat ini dibangun oleh umat sendiri, sebagai bentuk partisipasi mereka sebagai anggota Gereja yang berwajah partisipatif. Dengan dimulai dari umat, para pimpinan Paroki menanggapinya sebagai suatu partisipasi yang positif. Maka tanggapan paroki ialah memotivasi seluruh umat untuk kembali merehabnya kembali. dan sejak awal November 2010 rencana perehaban kembali terorganisir. Mudah-mudahan berjalan dengan baik berdasarkan rencana yang telah digariskan. ***

Jumat, 05 November 2010

PHOTO MISA ARWAH 2 NOVEMBER 2010 DI KUBUR KATOLIK SUNGAILIAT

Rm. Aloysius Kriswinarto, MSFselebran utama memimpin misa arwah 2 November di kubur Katolik Paroki Sungailiat, Jl. Kemujan Sungailiat pada jam 15.00-18.00
Dalam Misa Arwah itu, Bapak Bambang sebagai Petugas Pembagian Komuni Tak Lazim (kiri), di tengah bapak F. Sumanto sebagai  pemazmur dan Sdr. F. Dewi Susanti (kanan) sebagai lektor sedangkan pemandu lagu adalah Kaka Yovita DJR. 
Umat yang hadir dalam misa arwah baik dari luar Bangka maupun di Bangka sendiri. Umat serius mengikuti misa tersebut.
Selebran utama doa pemberkatan kembang-kembang yang dibawa umat untuk ditaburkan di kubur sanak saudara yang telah meninggal dunia. Bunga simbol kesuburan doa dari umat untuk umat beriman dalam perjalanan ziarahnya menuju Bapa.

Rm. Kris dibantu oleh Pastor Pembantu Paroki Sungailiat, Rm. Stefanus Ruswan Budi Sunaryo MSF sedang mereciki kembang dengan air berkat. Agar kembang yang telah diberkati itu menghiasi doa melambung tinggi menuju Bapa.
Rm. Kris memberkati kembang. Umat berpartisipasi dengan doa-doa.

Rm. Kris memberkati kubur dan di bantu oleh ajuda Pandu dan Lusia (anak-anak PA/PI Paroki Sungailiat)

Kubur Katolik bersih dan rapih. Koordinator Pralaya Paroki Sungailiat, Bapak Servinus Sero, punya peran penting disana. Beliau mengatur dan berusaha untuk menata kubur ini. Tidak heran jika ketika acara pemunguman, om guru Sero begitu tegas menyatakan agar ahli warisnya yang masih hidup, peduli pada kebersihan kubur-kubur yang ada. Jangan heran kalau kubur ahli warisnya tidak terawat. Karena peran kita kurang. Terima kasih banyak om guru. Tuhan memberkatimu. **fbr**

Rabu, 03 November 2010

PHOTO KUNJUNGAN MSF KE KBG PAROKI SUNGAILIAT BANGKA

 Rm. Fadjarianto MSF berdialog dengan umat di Kampung Jawa (12/10/10), Bpk. Stefanus Supardjono jadi moderator.

Umat KBG duduk mendengarkan Rm. Fadjarianto sharing pengalamannya menjadi imam Tuhan.

Rm. Aloysius Kriswinarto pun hadir dalam pertemuan itu. Lihat serius mendengarkan teman sharing.

Para sesepuh pun serius mendengarkan. Sr. Yasintha AK pun hadir. Terima kasih atas sharingnya Romo. Salam dari Sungailiat Bangka. **fbr**

Senin, 01 November 2010

TOURNE PASTOR MSF KE KBG PAROKI SUNGAILIAT

KELUARGA: BASIS KBG DAN PANGGILAN KHUSUS
Oleh: Kontributor "BERKAT" Sungailiat

Umat Katolik Paroki Sungailiat merasa bersyukur dan gembira atas kunjungan kedelapan pastor dari kongregasi Missionarii a Sacra Familia, atau yang sering dikenal kongregasi MSF, pada 12 Oktober 2010. Kegembiraan umat baik yang dewasa maupun anak-anak, nampak dari kehadiran mereka dengan wajah yang murah senyum dan sukacita, ketika sampai di tempat pertemuan. 

Kongregasi MSF yang berkarya di Keuskupan Pangkalpinang, tepatnya di Paroki Sungailiat telah berusia dua tahun (7/9/2008). Kunjungan kongregasi Para Misionaris Keluarga Kudus kali ini merupakan kunjungan mereka untuk kedua kalinya. Kunjungan kali ini, sebenarnya merupakan safari liburan bersama dengan seting panorama Pulau Bangka. Seperti pepatah mengatakan, sambil menyelam minum air, para romo dari Misionaris Keluarga Kudus, sambil menikmati panorama nan indah di Pulau Bangka, mereka pun menyempatkan diri membantu sesama rekan mereka, Rm. Aloysius Kriswinarto dan Rm. Stefanus Ruswan Budi Sunaryo yang sudah dua tahun bertugas di Paroki Sungailiat, untuk tourne ke komunitas-komunitas basis Paroki Sungailiat. Dalam kunjungan kedua ini merupakan para romo yang bertugas di paroki-paroki dan rumah retret wilayah Gerejani Keuskupakan Agung Jakarta. 

Rm. Mikael Walidi, MSF yang sekarang bertugas di Paroki Rawamangun Jakarta, dihadapan umat komunitas St. Yosep, Sta. Elisabeth dan St. Thomas Aquino memulai sharing pengalamannya. “Saya hadir disini, tidak membawa teori. Saya bawa pengalaman hidup dan pengalaman berpastoral selama saya menjadi pastor. Saya menjadi pastor, karena keluarga saya. Keluarga saya, keluarga Katolik. Jadi kalau sharing saya ini tidak menjawabi kebutuhan pembangunan KBG, pertama-tama saya mohon maaf.”

Lebih lanjut lagi, romo yang disapa umatnya dengan Rm. Walidi, meneruskan sharing pengalamannya bahwa KBG, memiliki anggotanya dari keluarga. Prinsipnya, bahwa beberapa keluarga, jarak yang berdekatan berkumpul bersama dan membentuk sebuah komunitas kecil. Karena itu, akar dari KBG adalah keluarga. Keluarga perlu memiliki suasana yang damai dan tenang dalam berbagai relasi baik interen anggota keluarga maupun tetangganya. Keluarga mendapat porsi yang proposional dalam KBG. Spirit keluarga kudus Nasareth, juga spirit MSF, tentu juga menjadi spirit kita bersama.

Sejalan dengan sharing pengalaman Rm. Walidi, Rm. Agus, dengan nama lengkapnya Yohanes Agus Rianto, MSF menambahkan sharingnya bahwa keluarga memiliki peran yang sangat penting sekali, bukan hanya dalam KBG, tetapi dalam komunitas yang besar seperti paroki. Setiap anggota keluarga memotivasi anggota keluarganya untuk berpartisipasi dalam komunitas baik di KBG maupun di paroki. Saling memotivasi merupakan bentuk panggilan kita bermisi. Bahkan keluarga pun punya peran penting sebagai seminari kecil dalam hal panggilan khusus menjadi imam, bruder dan suster. Orangtua dalam keluarga, tidak hanya mendoakan anak orang lain untuk panggilan khusus ini. Tetapi keluarga perlu sekali memiliki kerelaan dan pengorbanan untuk berani mendorong dan mendoakan anggota keluarganya untuk menjalani panggilan khusus itu.

Romo yang pernah bertugas di Paroki Lewolaga, Keuskupan Larantuka, Flores ini dengan antusias dan murah senyum, membagikan pengalaman yang unik dalam hidup keluarganya. “Dalam hal panggilan khusus, karena bapak saya tidak Katolik, ibu saya, dalam setiap perayaan ekaristi di gereja dan dalam doa bersama di keluarga, ibu saya selalu mendaraskan doa untuk anak-anaknya agar di antara anak-anaknya ada yang dipilih Tuhan untuk bekerja di kebun anggur-Nya. Ternyata, doa seorang ibu yang terus menerus dipanjatkan, terjawab oleh Tuhan. Bukti jawaban Tuhan adalah saudari saya, saudari satu-satu, yang menjadi pendengar keluh kesah kami, kini menjadi suster dan saya pun ikut dipilih Tuhan menjadi pastor MSF.  Jadi didalam keluarga kami, ada yang menjadi suster dan menjadi pastor.”

Dalam waktu yang bersamaan (18.00wib), para romo anggota pendiri MSF, Pater J.B. Berthier (1808-1908) pun berkunjung ke komunitas basis yang lain. Rm. Ignasius Tari dan Rm. Yusuf Winarto berkunjung ke komunitas basis gabungan St. Gabriel dan Sta. Theresia 2, di rumah Petrus Supardjo, Pohin Pemali. Komunitas gabungan St. Fransiskus Xaverius, St. Petrus, Sta. Maria Goretti dan Sta. Theresia 1, di rumah Johanes Sagyo, Kampung Jawa dikunjungi Rm. Stephanus Fadjarianto dan pastor Paroki Sungailiat, Rm. Aloysius Kriswinarto, menggantikan Rm. Celsus Winarno Hardosuyatno, MSF yang lebih dahulu kembali ke Jakarta, pagi (12/10/10). 

Sedangkan Rm. Bernardus Realino Agung Prihartanaa dan Rm. Aloysius Suharihadi, bertatapmuka dengan umat dari komunitas gabungan St. Yohanes Pamandi-Bedukang, St. Dominikus-Deniang, St. Vincentius-Kuday, St. Don Bosco-Hakok, dan Sta. Sisilia-Jalan Laut, di rumah ibu Bernadettha Ai Ai, Hakok.

Suasana kekeluargaan dan proses pertemuan umat komunitas basis, hampir sama dengan kunjungan pertama kali, para anggota MSF yang seangkatan dengan Rm. Stefanus Ruswan Budi Sunaryo MSF, pastor pembantu Paroki Sungailiat, pada bulan Juli 2009 lalu. 

Laporan Frans Subiyantoro dan Maya Agustina, anggota kontributor BERKAT di Sungailiat mengatakan bahwa ada banyak pertanyaan muncul dari beberapa umat di KBG tentang bagaimana masuk ke seminari dan lamanya menjalankan proses pembinaan yang dijalankan calon imam, di panti pendidikan seminari. Pertanyaan-pertanyaan itu, menurut mereka, mungkin sebagai tanda bahwa para orangtua pun mulai merespons dengan rencana Bapa Uskup Pangkalpinang membangun seminari setingkat SMA di Kebun Sahang.**fbr/frans/maya**

Senin, 25 Oktober 2010

SUANGGI: KEPERCAYAAN PRIMITIF LAMAHOLOT YANG MEMBAWA PETAKA

Oleh: Alfons Liwun

Ceritera Suanggi dari Sinar Hading
Ketika masih kecil, orangtua saya dan bahkan orang-orang yang ada di sekitar saya sering menceriterakan tentang kejahatan, petaka, bahaya, kegagalan dan penderitaan akibat satu jenis makhluk misterius, namanya suanggi atau dalam bahasa Lamaholot dialek Kawaliwu, Menaka. Suanggi, dalam obrolan orang-orang yang ada disekitar saya, dilukiskan dengan sosok yang berjenggot dan berambut panjang menutupi seluruh tubuh. Sosok yang bermata merah, berkuku tangan dan kaki yang panjang serta seluruh badannya berwarna hitam. Lukisan yang demikian, punya warna khas yaitu selalu menakutkan, membuat orang merasa cemas, takut dan menderita dalam hidup.

Lukisan sosok makhluk misterius tadi, bisa saja dalam bentuk gambaran yang lain. Namun, yang terpenting dalam semua bentuk lukisan masyarakat Kawaliwu, mengarah pada suatu pribadi misterius yang mengakibatkan seseorang merasa hidupnya terancam. Bahkan makhluk ini, hadir dalam setiap hidup seseorang, kapan dan dimana saja seseorang itu berada.

Karena lukisan yang demikian menakutkan ini, bila seseorang itu berjalan sendiri entah pada waktu pagi, siang bolong atau pun di malam hari, apalagi ditambah dengan jarak tempuh perjalanan yang begitu jauh dan berkelok-kelik, seseorang selalu dihantui dengan gambaran yang pernah didengarnya itu.

Kawaliwu-Sinar Hading adalah sebuah desa di pesisir Pantai Utara Kabupaten Flores Timur. Suanggi atau dalam bahasa Lamaholot versi Kawaliwu sehari-hari mereka sebut menaka adalah seseorang atau kelompok orang yang berhati jahat dan bertindak buruk secara mistis untuk merugikan seseorang atau sebuah suku. Hendrikus H. Liwun (85), seorang penatua adat dari suku Liwun, Molaluwun,  sering menyebut menaka itu, punya hati yang kotor-jorok, mite bedelang (hitam pekat). Baginya, ciri menaka itu berawal dari sering temaka tèmaö (kerja curi), malas bekerja, iri hati, dendam, ingin dihormati dan yang lebih parah lagi tertutup dari orang lain. Kalau ia bekerja pun, hasilnya tidak ada, karena sikap dan caranya tidak terpuji. Kalau ia bergaul dengan orang lain pun, ia dengan berbagai macam cara yang baik dan sopan, namun hati dan niatnya selalu dirundung iri hati, cemburu, punya strategi sendiri untuk melumpuhkan orang lain, seperti dalam karya Lukas 4:13, “… dan menunggu waktu yang baik.”

Berawal dari ciri hidup tadi, lebih lanjut Hendrikus H. Liwun menjelaskan bahwa menaka mulai beraksi lebih spektakuler untuk menjaga stabilitas pribadinya, ketika ciri-ciri tadi telah menjadi ketakutan public dalam masyarakat. Aksi lanjutan yang spektakuler adalah ketika menaka kemudian pergi ke tempat-tempat yang dipandang masyarakat Kawaliwu sebagai tempat kramat. Dan ditempat itu menaka mengadakan polemaja kepada penjaga tempat kramat tadi. Tempat kramat dalam versi Lamaholot Kawaliwu disebut Duáng. Dua adalah himpunan pepohonan besar yang dipercayai sebagai tempat kramat, tempat tinggal para penjahat yang misterius. Duang, tempat yang dilepas, hutan yang tidak boleh disentuh atau ditebang maupun dipotong. Dan di Duá itu, menaka polemaja.

Polemaja adalah aksi memanggil penjaga-penjaga tempat kramat itu untuk datang kepadanya dan berdialog mistis, bekerjasama. Polemaja ini aksi semacam semedi atau pertapa dalam bahasa Indonesia. Menaka datang ke tempat kramat ini bukan hanya sekali, tetapi beberapa kali, bisa saja sampai tujuh kali. Artinya sampai si polemaja mendapatkan suatu kekuatan dari tempat itu. Kekuatan yang didapat dari tempat kramat itu biasanya dengan suatu perjanjian yang mistis dengan menggantikan nyawa orang. Nyawa orang inilah yang harus didapat dari masyarakat sekitarnya. Kalau nyawa orang lain tidak didapatinya, maka nyawa anggota keluarganya sendiri menjadi taruhannya. Begitu sadis pola tindakan menaka!

Kritik atas Cara hidup Menaka dan membendung cara hidupnya
Si polemaja, berani mempertaruhkan nyawa orang lain dan nyawa anggota keluarganya untuk mendapat suatu kekuatan yang membentengi dirinya. Kalau kita melihat pola aksi dan tindakan menaka yang demikian, boleh kita katakan sebagai suatu cara hidup yang barbarisme, anarkisme, sadisme bahkan dalam pemikiran kristiani, sikapnya merupakan sikap setanisme. Dan tentu, pola ini sangat bertentangan dengan hidup yang diberikan oleh Rera Wulan Tana Ekan.

Bagi Hendrikus H. Liwun, sikap menaka yang demikian harus dilawan. Masyarakat sekitarnya tidak boleh menyerah. Masyarakat harus bersikap tegas atas apa yang dibuat menaka. Walaupun menaka bekerjanya secara misterius, tetapi karena terlalu banyak merugikan orang lain, maka pada suatu saat menaka ini akan ketahuan. Sikap dan pengalaman Hendrikus H. Liwun ini telah dibuktikannya pada sekitar bulan Juni 1993.

Waktu itu di Kawaliwu, sekitar akhir bulan Mei 1993, Opu Regi Hurit sakit. Sakit karena kena buah kepala yang jatuh dari pohonnya. Awalnya, sakit itu suatu peristiwa yang biasa, naas. Opu Regi Hurit dibawa oleh anak-anaknya ke RSU Larantuka. Selama berada di RSU Larantuka, setiap malam Opu Regi Hurit didatangi dalam mimpinya beberapa orang secara bergantian. Setiap kali beberapa orang itu datang, Opu Regi Hurit tidak akan tidur nyenyak. Teriak dan menjerit. Karena peristiwa ini selalu terulang lagi, anaknya Yosep Kesura Hurit bertanya kepada bapaknya. “Pak, ada apa?” Bapaknya katakan ada orang yang datang mengganggunya. Anaknya pun bertanya lagi, siapa orangnya dan dari mana? Bapaknya menjawab, orang kita namanya…(maaf saya tidak menyebutnya di sini).

Keesokan harinya, Yosep Kesura ke Kawaliwu. Dia bertemu dengan orang-orang yang disebut bapaknya dalam mimpi yang mengganggu sakit bapaknya di RSU Larantuka walaupun hanya dalam mimpi. Mungkin karena Yosep Kesura Hurit mendapat respons yang kurang baik, ia pun langsung melaporkan kepada Kepala Desa, Yosep Pulo Liwun (Kades) dan Sekdes, Agustinus Ratu Liwun.  Masalah ini kemudian muncul ke permukaan, ke masyarakat Kawaliwu. Ada banyak masyarakat Kawaliwu yang merasa sakit hati terhadap beberapa orangtua yang selama ini dekat dan bahkan menjadi “tuan raja” dalam hukum adat Kawaliwu. Gerakan masyarakat anti menaka pun muncul. Seluruh pengakuan menaka  atas perbuatan mereka selama ini tampil ke publik masyarakat Kawaliwu.

Gerakan anti menaka dimulai dari kelompok penatua adat. Kelompok yang selama ini menjadi “sang terhormat” hancur lebur karena didalam kelompok tidak ada yang bekerja secara tidak etis dan anti moral masyarakat. Hukuman adat yang diambil, mengusir beberapa orang itu harus keluar dari Kawaliwu. Mereka kemudian diantar ke ibu kota Kecamatan Tanjung Bunga, Waiklibang. Entah bagaimana, mereka itu dibawah pulang lagi. Karena diantara mereka ada keluarga yang anggota tentara. Mereka kemudian dipulangkan ke dalam keluarga masing-masing. Secara adat Kawaliwu, tidak ada upacara penerimaan, yang terpenting mereka telah ditolak secara massa dan adat Kawaliwu. Satu hal yang patut dicatat disini adalah dengan persoalan menaka ini, penatua adat serta struktur adat dalam masyarakat Kawaliwu menjadi hancur. Mosi tidak percaya dari berbagai suku muncul.

Dalam situasi seperti itu, adat (knape, mara beng dan nuke huke), hanya dijalankan oleh suku Liwun Molaluwun dan Liwun, Baeluwun. Kedua marga ini mulai menata baru struktur adat dan berbagai upacara adat dalam masyarakat Kawaliwu. Bagi Hendrikus H. Liwun ini merupakan suatu pengalaman pahit. Pengalaman yang paling buruk. Hendrikus H. Liwun, salah satu tokoh penatua adat yang paling keras kepala melawan untuk menerima menaka. Sikap perlawanannya adalah sikap tegas untuk mengusir beberapa orang yang dikatakan menaka. Bukan hanya usir, tetapi sikap keras kepalanya nampak dalam setiap pola hidupnya untuk tidak memberikan ruang dan waktu lagi untuk beberapa orang itu dalam setiap peran “penatua adat.” Bahkan sampai sekarang, dalam hatinya masih merasa jengkel dan selalu mengutuk sikap jahat menaka.

Dari sikap jengkel dan mengutuk beberapa orang itu, Hendrikus H. Liwun bergabung dengan anggota keluarga Liwun, Bae Luwun, Hoga Liwun di kampong lama, untuk mulai menata dan merehap rumah besar, rumah tempat para penatua, nenek moyang mereka. Tepat bulan Juni sampai Oktober 2000, kedua marga ini membangun Lango Bele dan Korke. Lango Bele dan Korke dibangun dan direhap dalam bentuk moderen, yaitu dengan berfondasi semen dan batu hutan serta beratap seng. Inilah bentuk membentengi kejahatan dan menyelamatkan masyarakat Kawaliwu.

Manusia: gembala tradisi dan nabi masa depan
Dari  Hendrikus H. Liwun di atas, kita boleh mengatakan bahwa, menaka atau suanggi, adalah orang bukan misterius tetapi riil ada disekitar kita, dapat kita ketahui dari ciri-ciri dan cara hidup yang sudah disebut tadi.

Sebagai anak, sikap Hendrikus H. Liwun terhadap menaka, sangat terpuji. Dan inilah juga menjadi sikap saya. Dalam sikap Hendrikus H. Liwun yang demikian, beliau telah menjalankan sikapnya sebagai manusia yang berimaan. Hendrikus telah menjadi gembala tradisi. Artinya, Hendrikus berani meluruskan sikapnya dan menunjukkan kepada banyak orang Kawaliwu bahwa menaka adalah orang yang jahat karena itu harus ditolak dan dikutuk. Sebagai gembala tradisi, ia mengambil sikap tegas bersama Hoga Liwun untuk membangun dan merehap kembali Lango Bele dan Korke Bale. Dengan membangun kembali kedua rumah ini, berarti mereka memulai dan membersihkan diri dan sekaligus membentengi masyarakat Kawaliwu dari kejahatan.

Dengan sikap Hendrikus H. Liwun, beliau telah menjadi seorang nabi di masa depan. Artinya, ia telah menunjukkan sikap tegas dan memberikan pemikiran yang tajam bagi generasi Kawaliwu di masa depan bahwa menaka adalah sesuatu yang jahat karena itu tidak perlu diterima. Dengan sikapnya sebagai nabi di masa depan, ia telah memberikan tonggak sejarah baru bagi keturunannya dan generasi baru bahwa hidup bukan harus dirusaki tetapi dipelihara dan dihargai serta dihormati. Hidup itu mulia. Idup itu pemberian Rera Wulan Tana Ekan. Dengan kita menghidup hidup yang diberikan Rera Wulan Tana Ekan, kita menghidup Rera Wulan di Tana Ekan.

Pola Pandang Gereja terhadap Menaka.
Melihat cara hidup dan ciri menaka, Gereja pasti akan menolak. Bahkan Gereja akan mengutuk sikap dan pola hidup menaka. Sikap Gereja yang demikian karena kehadiran menaka sama dengan cara dan ciri setan. Kalau setan dan musuh paguyuban Gereja dan dunia, maka jelas menaka pun demikian.

Gereja sangat menyayangi umatnya yang selama ini hidup etis dan baik dalam kumpulan umat tetapi hatinya tersayat dan memiliki niat jahat. Kalau ditilik ke-12 rasul Yesus, Yudas lah yang menjadi penjual Yesus. Maka Yudas disebut pengkianat. Menaka, sama dengan Yudas. Menaka pengkianat Yesus, Gereja dan sesama umatnya.**fbr**

Minggu, 10 Oktober 2010

JURNALIS KATOLIK MEMBAWA BERKAT BAGI SEMUA

Utusan dari paroki-paroki Dekenat Bangka Belitung mengikuti latihan jurnalis bagi tabloid Berkat, tabloid milik Keuskupan Pangkalpinang. Latihan diselenggarakan kerjasama antar Komisi Sosial dan Depag Bimas Katolik Propinsi Babel. Latihan di Wisma Aksi 1 Pangkalpinang, 26-28 Agustus 2010.

Bang Gaudiensius, redaktur Media Indonesia sedang memberikan materi "Menulis Berita" kepada peserta.
Peserta utusan dari Paroki Sungailiat (Sta. Maria PSR), Pangkalpinang (St. Yosep), Mentok (Sta. Maria Pelindung Para Pelaut, Belinyu (Sta. Maria Perawan Tak Bercela, Koba (St. F. Xaverius), Tanjung Pandan (St. Regina Pacis) dan beberapa komunitas kategorial. 
Katrin (utusan Tanjung Pandan) sedang praktek mewawancarai Rm Stef Tomeng Pr (direktur Tabloid Berkat)
Saatnya peserta rekreasi dan santai untuk mengopi. Mudah-mudahan setelah dilatih mampu membawa berkat bagi umat paroki masing-masing.
Syalom. fbr