Kamis, 19 Mei 2011

PANORAMA SINAR HADING 2011

Pantai Wai Krewak Kawaliwu Sinar Hading. Seorang ibu duduk membelakangi sumur Wai Krewak, menghadap pantai sedang mencuci baju.Pantai Laut Kawaliwu biru, belum tercemar limbah. Sungguh indah pesona Kawaliwu.
 Musim panen masyarakat Kawaliwu sekitar bulan pertengahan April hingga bulan Mei. Terlihat kelompok ibu-ibu Kawaliwu memanen padi secara bergilir dari kebun ke kebun. Mereka dibiaya oleh pemilik kebun seharian bekerja. 
Jambu mete, salah satu tanaman produktif di Kawaliwu. Jambu mete ditanam selama tiga tahun akan berbuah. Musim bunga pada pertengahan April dan berbuah pada bulan Mei. Bulan Juli hingga september, musim petik. Lahan di Kawaliwu lebih banyak ditanam jambu mete. Sayangnya dalam 5 tahun terakhir ini harga biji gelondongan jambu mete sepuluh ribu rupiah per kilo. Harga yang tidak sesuai dengan kerja perawatan dan kesibukan petik. Jambu mete terlihat ini di kebun Bpk. Andreas Wato Liwun di Wai Pleme Kawaliwu.
Lango Bele - Liwun, sebuah rumah yang telah dipugar dengan situasi zaman sekarang. Fondasi sudah dengan batu hutan dan semen, dinding setengah dari bata dan setengahnya dari anyaman bambu. Atap yang dulu dari alang-alang, kini dari seng. Secara tradisional, rumah besar ini merupakan rumah adat Liwun, yang dulunya terbuat dari bahan kayu, tali dan alang-alang. 
Korke, dalam bahasa Lamaholot-Kawaliwu 'koko', sebuah rumah adat bagi semua suku-suku di Kawaliwu. Rumah adat ini pun telah dibuat dengan situasi zaman sekarang. Atapnya seng. Dulu atapnya dari daun lontar. Di depan 'koko' terdapat susunan batu, dari zaman megathiticum, zaman batu. Didalam susunan batu berbentuk segi empat ini panjang lebih kurang 20-an meter dan lebarnya pun 20-an meter. Didalam halaman itulah orang-orang Kawaliwu menari dan mengadakan upacara keagamanan lainnya. Juga sesewaktu, tua-tua adat (ataklake) mempersembahan kurban.
Tua-tua adat dari berbagai suku di Kawaliwu berkumpul dan mengadakan upacara adat.

Rabu, 18 Mei 2011

LIMA ENTRY POIN PENTING YANG PERLU DIREFLEKSIKAN WARGA SINAR HADING

Selama hampir lebih kurang dua setengah minggu di kampong halaman, Kawaliwu-Sinar Hading, (13-28/4/2011), ada lima entry poin dalam pernak pernik situasi Kawaliwu; yang muncul ke permukaan situasi sosial; juga menjadi prioritas untuk kita refleksikan bersama. Saya mengundang generasi muda, pemuda-pemudi anak cucu Wolosina untuk merefleksikan lima entry poin penting yang sekarang real muncul dalam situasi sosial Kawaliwu.

(1). Jumlah pertumbuhan penduduk semakin tinggi. Tampak bahwa di lorong-lorong, di sumur air dan di gereja, terlihat begitu banyak anak kecil yang berusia sekolah. Hal positip yang ada sekarang yang mendukung anak-anak kecil adalah adanya TK “Fajar Budi” dan Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) selain sudah ada Sekolah Dasar Katolik Kawaliwu. Sekarang sedang direncanakan akan adanya SMA/SMK Lewolema di Kawaliwu.

Ingat bahwa dengan semakin besar jumlah penduduk di Kawaliwu dan secara geografi semakin sempit lahan produksi serta tidak ada ruang untuk pendidikan anak-anak, maka dapat mengakibatkan banyak hal – fenomena yang muncul di Kawaliwu. Bagaimana dengan pola pikir generasi muda sekarang dan akan datang agar problem ”masa depan” anak-anak Kawaliwu lebih cerah?

(2). Grafik pendidikan anak semikin tinggi. Pendidikan sedang diperjuangkan oleh para orangtua di Sinar Hading bagi anak-anaknya. Pendidikan menjadi prioritas. Anak-anak kecil yang belum genap enam tahun, orangtua memasukan di TK atau di PAUD. Apalagi, pihak TK dan PAUD mendorong orangtua dengan mewisuda anak-anaknya ketika anak-anak tamat dari TK atau PAUD.

Genap enam tahun hingga 12 tahun, anak disekolahkan di SD. Tamat dari SD, anak masuk ke SMP. Sekarang ada beberapa SMP yang menjadi prioritas masyarakat Kawaliwu untuk melanjutkan sekolah tingkat pertama bagi anak-anaknya. Sebagai misal, di Lewotala ada SMP St. Isidorus, di Leworahang ada SMP St. Antonius Padua dan di Belogili ada SMP Batu Payung. Kawaliwu dikelilingi oleh sekolah-sekolah lanjutan pertama. Sekali lagi, sekarang sedang direncanakan bahwa di Kawaliwu akan dibangun SMA / SMK Lewolema.

Jika SMA / SMK ada di Kawaliwu, pola pendidikan di sekolah bukan berprinsip pada kurikulum dan kompetensi menghafal dan lulus ujian. Tetapi harus lebih pada pembangunan karakter (building charakters) dan ketrampilan serta produksi kerja (produck of work). Dengan demikian, pendidikan tingkat atas di Kawaliwu lebih cocok pada SMK berupa pertanian atau perikanan. Sehingga lahan darat dan laut Kawaliwu dikelola secara maksimal. Dan dengan demikian, darat dan laut dapat diolah sebaik-baik mungkin untuk pendudukan Kawaliwu. Apakah dengan pola pikir ini menjadi solusi terakhir bagi generasi Kawaliwu? Tidak!

(3). Lahan / Tanah Kawaliwu yang belum ditanam tanaman, hampir-hampir tidak ada lagi. Hampir sebagian besar lahan / tanah Kawaliwu ditanami tanaman jambu mente. Dimana-mana ditemukan pohon mente. Tanaman ini mulai bulan maret-akhir april berbunga. Awal mei hingga juli, masim jambu mente berbuah. Dan musim panen akan terjadi pada bulan agustus hingga oktober. Terkadang hingga bulan desember pun masyarakat masih panen buah jambu mente. Ada beberapa jenis tanaman lain yang sekarang lagi ngetrend ditanam di Kawaliwu adalah pohon jati, entah jenis biasa maupun jati putih. Ada hal yang positip yang muncul dalam benak saya adalah dengan menanam pohon mente dan jati, masyarakat Kawaliwu telah terlibat dalam menggeneralisasikan hutan baru. Mengubah hutan alami dengan hutan produksi. Persoalan sekarang adalah bagaimana agar tidak terjadi penebangan liar dan tidak mampu ditanam kembali.

(4). Akses transportasi bemo / motor ojek. Dulu orang Kawaliwu punya mobil angkot penumpang ke Larantuka atau Oka. Sekarang (april 2011) Kawaliwu tidak punya angkot berupa mobil. Angkot mobil di Kawaliwu adalah milik kampung tetangga (Riangkotek dan Leworahang). Alat angkot darat yang lagi ngetrend di Kawaliwu adalah motor ojek. Ada beberapa orang mempunyai motor lalu mengangkut satu atau dua orang kemana-mana termasuk ke Larantuka. Biasanya sekali angkot mengenakan biaya lima ribu sampai sepuluh ribu rupiah. Alat angkot darat yang besar sekarang di Kawaliwu mobil jenis pick up atau dipakai untuk mengangkot barang-barang.

(5). Akses listrik masuk Kawaliwu. Listrik masuk Kawaliwu ternyata tidak gampang. Karena lahan pemancang kabel ke Kawaliwu tidak diberikan oleh masyarakat Lewotala dan Riangkotek. Jalan keluar yang ditempuh oleh masyarakat Kawaliwu adalah membayar ganti rugi tanaman-tanaman yang ditebang untuk pemancangan kabel. Menurut Nikolaus Sira Liwun, Kepsek Sinar Hading (24/4/2011), Kawaliwu menyeluarkan biaya sebesar 30 juta rupiah untuk membayar pemilik tanaman yang ditebang untuk dipancang besi penyangga. Listrik masuk Kawaliwu butuh perjuangan yang panjang. Butuh biaya membayar tanaman yang ditebang, luar biasa besar. Dan untuk masuk ke rumah-rumah masyarakat, masyarakat menyediahkan dana lebih kurang 5 juta rupiah. Hingga sekarang biaya listrik penduduk setiap bulan lebih kurang 50 ribu hingga 200 ribu rupiah, belum ditambah ongkos ke Waibalun / Larantuka untuk membayar rekening listrik akhir bulan.

Saya berharap bagi generasi muda untuk mampu merefleksikan lima poin ini, agar semakin hari semakin giat untuk berusaha dan semakin maju Kawaliwu tercinta. ****

Kamis, 05 Mei 2011

“AKSI DAMAI” WARGA WOLOSINA KE KANTOR CAMAT LEWOLEMA KAWALIWU

Pertemuan Kepala Desa (Kepdes) Sinar Hading dan Ile Padung dalam bulan Maret 2011 menghasilkan antara lain: kedua kepala Desa setempat menyepakati “berdirinya papan / pembatas wilayah Sinar Hading dan Ile Padung di Lungun Wai Mape” (berdasarkan tuturan histories Wolo Sina, atas wilayah Nara Eban dan Lakmau).
 
Berdasarkan hasil itu, maka beberapa anak muda dari Desa Sinar Hading kemudian memancang papan / pilar batas kedua wilayah tersebut. Pemasangan papan / pilar batas wilayah Sinar Hading dan Ile Padung itu, rupanya dikomplain oleh masayakat dan Kepala Desa Riangkotek.

Dasar komplain masyarakat / kepala Desa Riangkotek adalah bahwa batas wilayah yang dipasang Sinar Hading dan Ile Padung, masih di atas wilayah Riangkotek. Dasar komplain mereka ini ditujukan kepada Camat Lewolema melalui surat, tertanggal 22 April 2011. Dengan berdasarkan surat Kepala Desa Riangkotek itu, Camat Lewolema, Drs. Ramon Ile Mandiri Piran kemudian memerintahkan kepada beberapa staffnya untuk mencabut papan / pilar batas wilayah Sinar Hading – Ile Padung yang sudah terpasang.

Berita pencabutan papan / pilar batas wilayah ini tersiar ditelinga masyarakat Sinar Hading tanggal 22 April 2011. Hanya saja warga keturunan Wolosina belum bisa menanggapi karena bertepatan dengan Hari Jumad Agung, Hari Raya peringatan Wafat Yesus Kristus, perayaan agung bagi umat Katolik. Warga Sinar Hading menahan diri untuk tidak bertindak, biar sampai lewat Paskah, 24 April 2011.

Tanggal 27 April 2011 malam, diumumkan oleh pencorong di rumah Kepala Desa bahwa semua masyarakat Desa Sinar Hading berkumpul di rumah Posyandu Dusun II. Maksud pertemuan ini adalah membangun konsolidasi – kekuatan massa untuk ”beraksi damai” pada tanggal 28 April 2011, hari Kamis, jam 09.30.

Maka malam itu, Forum Peduli Masyarakat Kawaliwu yang disponsori anak-anak Kawaliwu mulai berdiskusi – menghimpun pendapat – mereduksi input yang masuk dan membangunnya dalam suatu pernyataan sikap yang akan diusung besoknya (28/4/2011) di depan Kantor Camat Lewolema.

Pernyataan sikap yang diusung warga keturunan Wolosina Kamis, 28 April 2011, adalah:

(1)  Tanggapi Surat Kami tertanggal 25 April 2011.
(2)  Pihak Kecamatan bertanggungjawab atas pencabutan papan nama tapal batas.
(3)  Segera pancang kembali papan nama tapal batas.
(4)  Segera klarifikasi Surat dari Desa Riangkotek, tanggal 22 April 2011.
(5)  Camat harus bersikap adil dan bijak.
(6)  Apabila tidak terpenuhnya pernyataan di atas, maka masyarakat akan mengadakan aksi lanjutan dan pihak kecamatan siap bertanggungjawab.

Aksi Damai – Aksi Tanpa Kekerasan
Warga keturunan Wolosina, pagi itu siap-siap menjalankan hasil pertemuan tadi malam (27/4/2011). Mereka mulai mencari knema (daun lontar) entah berwarna kuning/hijau kemudian tiap-tiap orang langsung membuat knobo kera dengan mengikat kedua ujung sesuai dengan ukuran kepala masing-masing orang. Mereka membentuk ”knobo kera” secara sederhana, yang artinya ”topi dari daun lontar.” Tujuan ”knobo kera” adalah menjadi simbol khusus/tanda khusus bagi keturunan Wolosina dalam aksi damai tersebut. Bagi keturunan Wolosina yang mengenakan ”knobo kera”, sesamanya akan mengenalnya sebagai seperjuangan dan senasib dan bahkan jika ada anarkis, sesama mereka bisa saling kenal satu sama lain.

Lebih kurang pukul 09.30, (Kamis, 28/4/2011), warga Sinar Hading berkumpul di rumah orangtua Kepala Desa Sinar Hading (rumah Bpk. Pati Goleng) dengan memakai ”knobo kera.” Setelah satu jam, setelah semua warga berkumpul, pada pukul 10.30, masyarakat Sinar Hading, orang dewasa laki-laki dan perempuan mulai long march menuju simpang tiga, tempat berkumpul semua warga Sinar Hading (dusun 1-2 dengan dusun 3-5). Long march warga diiringi dengan sebuah mobil pick up, dengan orator ulung sdr. Ferry Liwun, koordinator lapangan, sdr. Petrus Bai Hurit, dan perumus pembicaraan hasil perundiangan, sdr. Irwanto Hurit.

Dari simpang tiga, warga kemudian bergerak – berjalan maju menuju pemukiman baru, perumahan murah setelah gempa. Warga yang long march lebih kurang 1 km. Di pemukiman baru, masyarakat Kawaliwu sudah ditungguh oleh polisi sekitar 20-an orang yang menumpang mobil Dalmas Polisi Larantuka. Walaupun sudah ditunggu polisi, warga Kawaliwu tetap maju terus hingga sampai di depan Kantor Camat Lewolema. Barisan depan aksi damai, pemuda peduli masyarakat Kawaliwu yang memegang spanduk biru dengan tulisan “pulihkan Haknya Wolosina” dan beberapa spanduk lain yang mengedepankan“enam butir pernyataan sikap aksi damai” dan yang lain menyerukan pada pemerintah kecamatan bahwa “kami butuh pemerintah kecamatan yang berwibawa, yang memahami budaya adat lewolema.”

Setelah warga Kawaliwu sampai di depan Kantor Camat, pemuda peduli masyarakat Kawaliwu memperagakan/simulasi kegiatan para pegawai kecamatan setiap hari, yaitu mereka main kartu-mengisi waktu kerja, karena tidak ada pekerjaan yang pasti. Ada beberapa pegawai kecamatan melihat simulasi dari pemuda Kawaliwu lalu berkomentar begini. “woi….kok tau dari mana?” lalu ada beberapa lagi yang hanya ketawa-tersenyum lalu masuk lagi ke kantor camat.

Aksi damai di depan Kantor Camat lebih kurang empat jam, dari jam 11.30 – 15.20 witeng. Di depan kantor camat, selain diadakan simulasi kegiatan para pegawai camat yang selama ini bertentangan dengan pekerjaan pokok mereka, warga Kawaliwu juga menunggu hasil team negosiasi dari Kawaliwu dengan pihak kecamatan. Team Negosiasi dari Kawaliwu: (1). Petrus Bai Hurit (2). Linus Ledung Liwun (3). Aloysius Tupen Aran (4). Andreas Sina Ritan (5). Bernardus Bera Mukin (6) Yohanes Wato Ritan (7). Nikolaus Sira Liwun (Kepdes Sinar Hading). Ketujuh utusan ini bernegosiasi dengan camat, sekcam serta pihak keamanan untuk segera pemasangan kembali papan/pilar perbatasan wilayah Kawaliwu-Leworahang yang telah dicabut pihak kecamatan. Negosiasi para team membuahkan hasil bahwa pada hari sabtu, 30 April 2011, papan/pilar batas wilayah dipasang kembali. Mendengar penjelasan utusan Kawaliwu bahwa papan akan dipasang pada hari berikutnya, warga Kawaliwu bersikeras untuk memperjuangkan agar papan dipasang saat itu juga. Ketidaksinambungan antara team negosiasi dengan warga Kawaliwu inilah yang membuat situasi ”demo damai” semakin alot. Suasana menjadi tegang. Ketegangan ini nampak dari warga tetap berada di depan kantor camat walaupun hujan lebat. Warga tetap mempertahankan dan menuntut camat untuk segera memasang kembali papan tapal batas.

Dalam suasana genting ini, saya sendiri merasa begitu kecewa dan dalam kekecewaan itu saya mencatat dan menrefleksikan beberapa poin:
1.      Tuntutan warga atas pemasangan papan batas ditunda pada hari berikutnya (Sabtu, 30 April 2011, yang dituangkan dalam surat perjanjian). Warga menuntut untuk dipasang pada hari itu juga, 28 April 2011, dengan maksud menekan camat Lewolema karena pemasangan kembali ditunda sedangkan dicabutnya papan batas wilayah tidak diinformasikan / disampaikan kepada kedua desa terlebih dahulu (Kawaliwu - Leworahang). Camat dianggap tidak menghargai tapal batas wilayah dan tidak mengetahui sejarah Nara Eban dan Lakmau. Camat hanya mendengar dari sepihak, dari Riangkotek. Dalam hal ini camat Lewolema kurang bijak dan kurang patriotis.
2.      Pada titik-titik balik, Warga Kawaliwu bukannya mendemo camat dan para staffnya di kantor camat tetapi mendemo warganya sendiri di kantor camat yaitu utusan/team negosiasi. Mengapa? Karena dianggap tidak becus memperjuangkan aspirasi masyarakat. Bahkan di depan camat dan staffnya serta pihak keamananan Kepdes / team utusan negosiasi bersikap munafik dan pengecut terhadap para pendemo, masyarakat Kawaliwu. Mereka dianggap pembelot terhadap hasil kesepakatan bersama / tidak sesuai dengan tuntutan yang tercantum dalam enam butir pernyataan sikap. Ini merupakan satu lembaran catatan penting bagi kepemimpinan di Desa Sinar Hading. Secara managent atau pola kepemimpinan, Sinar Hading jauh sekali dari harapan publik. Kepemimpinan yang menjadi harapan / impian masyarakat, belum ada. Pemimpin yang ada, rasanya tidak jujur dan tidak tulus memperjuangkan nasib Lewo Igo Rian Sina.
3.      Perjuangan kaum muda dan orang dewasa masyarakat Kawaliwu saat itu sungguh-sungguh tulus. Mereka nekad untuk hadir di depan Kantor Camat. Mereka adalah kaum muda, laki dan perempuan, orang dewasa laki-laki dan perempuan dan bahkan anak-anak pun ikut menyaksikan aksi damai tersebut. Buktinya, siang itu matahari begitu panas dan kemudian turun hujan begitu lebat, masyarakat masih setia dan dengan niat jernih tetap berdiri di depan Kantor Camat menyerukan agar papan batas wilayah segera dipasang hari ini juga. (28/4/2011). Ketulusan dan kejernihan masyarakat dalam memperjuangkan haknya Wolosina, ternyata dilemahkan oleh pihak/team negosiasi. Maka sampai sekarang di dalam lubuk hati terdalam masyarakat Kawaliwu terdapat sebuah ”ruang kekecewaan / ruang kebohongan publik” oleh para pemimpinan sesaat, orang Kawaliwu.

Ketiga catatan ini sekaligus sebagai sebuah catatan refleksi bagi generasi Wolosina yang akan menjadi pemimpin di Sinar Hading. Pemimpin di Sinar Hading hendaknya pemimpin yang sungguh-sungguh mengetahui spirit Lewotana, yang mengetahui situasi masyarakat Kawaliwu (Koten Kelen Hurit Maran). Pemimpin yang memiliki kemampuan mendorong dan mengantar masyarakat kepada nilai-nilai universal, seperti kebenaran, kejujuran, keadilan, kepekaan dalam situasi masyarakat, dan kemartiran dalam memperjuangkan aspirasi warga.

Lebih kurang pukul 15.30, seluah masyarakat Kawaliwu perlahan-lahan membubarkan diri, tanpa dikoordinir oleh pemimpin Desa/Aksi Damai. Masyarakat bubar dengan sejuta harapan dan sejuta kekecewaan yang mengiang dalam kalbu. Memang, Sabtu, 30 April 2011, lebih kurang pukul 13.00 – 15.00, telah terjadi pemasangan kembali papan / pilat tapal batas Kawaliwu-Leworahang, yang disakskan oleh Camat dan staff, pihak keamanan, Kepdes/masyarakat Leworahang dan Kawaliwu, Riangkotek tidak hadir walaupun telah dijemput paksa oleh pihak keamanan.

Papan / pilar batas telah dipasang kembali, bukan berarti perjuangan anak Wolosina telah usai. Perjuangan masih terus dilanjutkan dalam hidup setiap hari. Satu hal yang menarik adalah perjuangan untuk memiliki seorang pemimpin yang handal dan berbobot, berbakat, dan berpeduli dengan nasib masyarakat. Siapakah pemimpin di Sinar Hading? ***

Senin, 02 Mei 2011

BERGAM: AKSI DAMAI ANAK WOLOSINA DI KANTOR CAMAT LEWOLEMA KAWALIWU

Di rumah Bpk. Pati Goleng, warga Wolosina menyiapkan diri untuk "Aksi Damai Di Kantor Camat Lewolema" Kawaliwu (28/4/2011) pukul 09.00.
Warga Wolosina di simpang tiga Kawaliwu. Menunggu anggota berkumpul untuk melangkah maju bersama ke Kantor Camat Lewolema.
Seruan Aksi Damai Anak Wolosina "Pulihkan Haknya Wolosina"
Di depan Kantor Camat Lewolema, disaksikan oleh para staff dan keamanan (polisi dan tentara) anak Wolosona menunjukan "titik-titik kejanggalan kerja penghuni rumah kecamatan lewolema" Siang-siang para penghuni rumah Kecamatan main Kartu ya...alias bejudi. Potret yang memalukan bangsa dan negara ini.
Tuntutan kami ini walaupun tertera di atas bekas sak semen. Jujur dan jernih dalam menuntut dan gegap gempita dalam menyuarakan apa yang menjadi hak kami, anak-anak Wolosina.
Pilar/papan batas wilayah Sinar Hading-Ile Padung yang telah dicabut Camat Lewolema dan staffnya kemudian diletakan di ruang tengah belakang Kantor Camat Lewolema Kawaliwu.
Camat Lewolema, (RP) didampingi tentara, di dalam ruang kantor camat Lewolema, sedangkan diluar kantor warga Wolosina sedang berorasi meminta camat memancang kembali batas wilayah Sinar Hading - Ile Padung.
Panas mentari 28/4/2011 sungguh luar biasa. Namun demikian, tidak seganas mentari di dalam lubuk hati warga Wolosina di depan kantor camat lewolema. Salam dari Pangkalpinang Bangka. ***al***

Senin, 28 Maret 2011

REFLEKSI DAN REKAB SUBTEMA SINODE II PAROKI SUNGAILIAT

Anggota DPP, ketua dan fasilitator kelompok kembali berkumpul di ruang pastoran Paroki Sungailiat (27/3/2011). Pastor Aloysius Kriswinarto, MSF, penanggung jawab Tim Sinode II Paroki Sungailiat menyampaikan maksud pertemuan itu. “Kita diundang untuk mendengarkan hasil refleksi dan rekap sub-sub tema Sinode II yang selama ini sudah kita jalankan di kelompok basis. Nanti, pak Alfons akan memandu kita untuk melihat kembali hasil refleksi dan rekap sub-sub tema Sinode. Selain itu, dihadapan para ketua kelompok, pastor paroki pun menyampaikan keprihatiaannya mengenai jumlah kehadiran anggota kelompok dalam setiap kegiatan kelompok yang tidak sebanding dengan jumlah keseluruhan dari tiap-tiap anggota kelompok. Ke depan, jika ada anggota kelompok yang kurang atau tidak aktif dalam kegiatan kelompok, ketua kelompok tidak usah memberikan rekomendasi untuk pelayanan sakramen baptis, komuni pertama, krisma dan perkawinan. Rekomendasi diberikan jika anggota kelompok yang bersangkutan sungguh-sungguh sudah aktif di kelompok basisnya. Gereja semakin berkembang pesat, karena didukung oleh KBG-KBG yang kokoh.

Saat yang bersamaan itu, di aula Paroki Sungailiat, Kaum Muda St. Aloysius Gonzaga Sungailiat mendapat siraman pengalaman pastoral kaum muda dari Pastor Vincentius Wahyu Harjanto, MSF, pastor pengganti Rm. Wawan, MSF. Dihadapan ke-28, anggota St. Aloysius Gonzaga yang hadir, Rm. Wahyu, menegaskan “Kaum muda memang selalu sibuk kerja. Kita memang butuh kerja. Tapi disisi lain, kita pun butuh waktu dan wadah untuk berkumpul bersama-sama. Kini kita sudah mulai membangun wadah kita. Jika kita sudah memulainya, jangan kita putus ditengah jalan. Selain itu, wadah kita bersama adalah kelompok basis. Di kelompok basis kita bisa berkumpul dengan anggota kelompok kita. Karena itu, kita membagi waktu dengan baik. Dan kalau kita sudah aktif di kelompok basis, kita akan dipermudah dalam banyak urusan, seperti krisma dan perkawinan. Kita tidak aktif di kelompok, tentunya kelompok belum bisa juga memberikan rekomendasi untuk kita bila kita mau krisma dan mau menikah katolik.

Acara kaum muda yang dipimpin oleh Tyas Podo, PNS RSJ Sungailiat ditutup dengan doa dan makan mie bersama. **al**

Selasa, 22 Maret 2011

LANGO BELE: SIMBOL KEBERSAMAAN DAN PERSAUDARAAN SEJATI

1
Lewo Goe Igo Rian Sina, punya makna histories dan selalu menyejarah dalam kalbu warga Kawaliwu. Lahirnya “lewo” bukan berasal dari langit. Lahirnya “lewo” bukan karena hebat perang yang pernah ada dan selalu diceriterakan oleh para penyejarah Kawaliwu. Tetapi selalu diingat bahwa lahirnya “lewo” karena “pupu taan uin tou-genahan taan uin ehan, yang lahir dari kebersamaan dan persaudaraan sejati. Nilai kebersamaan dan persaudaraan sejati inilah yang menjadi dasar yang kokoh bagi hidup warga Kawaliwu.

“Pupu taan uin tou-genahan taan uin ehan”, lahir didalam suatu kebersamaan dan persaudaraan sejati di dalam “langö belé.” Di dalam “lango bele” ini setiap saudara-saudari dari satu suku dipertemukan, saling berbicara-mendengarkan-dan mencari jalan keluar serta lebih dari itu, bersama-sama menjalankan hasil kesepatan.

Percayakah bahwa dari dalam “lango bele” itu muncul adanya kebersamaan dan persaudaraan ssejati? Yakinkah kita bahwa “lango bele” menjadi tempat membangun rasa kebersamaan dan saling mengikat perasaan satu dengan yang lain? (refleksikan…..)

Lewo Goe Igo Rian Sina, memiliki banyak “lango bele.” Hampir setiap suku ada. Dan dari semua suku itu, kemudian berkumpul dalam satu “lango bele” di “lewo oki.” Suatu pola kepemimpinan dari bawa menjadi hidup. Dan seorang pemimpin utama mendengarkan suara dari bawa melalui system peradaban dalam “lango bele.”

Sistem yang sudah dibentuk demikian lama, perlahan-lahan sirna. Kehancuran sistem kebersamaan itu bukan karena factor dari luar. Ingat, sepenggal lagu Ebit G. Ade, berbunyi demikian. “….tengoklah ke dalam sebelum bicara…” Jangan pula kita menyalahi pihak yang menjadi pusat persoalan ketika kita mendengar bahwa tokoh-tokoh yang bersangkutan adalah biangkeladinya. Tetapi, hendaknya kita bersahaja, mendengar dan mendengar. Kemudian mengolah diri, mengambil sebuah makna yang menjadi prinsip dalam menjalankan kehidupan ini. ***

2
Refleksi kita adalah ”mengapa ”lango bele” tidak menjadi pusat ”pupu taan uin tou-genahan taan uin ehan?” Jika ”lango bele” tidak menjadi tempat yang strategis untuk warga Kawaliwu berkumpul, adakah tempat lain yang bisa menjadi pusat pertemuan dan membangun kebersamaan serta persaudaraan sejati bagi warga Kawaliwu?

Generalisasi – sebuah perbandingan:
Sinagoga adalah tempat ibadat kecil masyarakat Yahudi di pedesaan atau dusun atau di tingkat lingkungan. Di dalam sinagoga ini selain sebagai tempat ibadat, masyarakat Yahudi pedesaan/pedusunan juga berkumpul untuk suatu proses pendidikan-pengajaran Kitab Taurat. Bahkan menjadi tempat pertemuan masyarakat untuk membicarakan berbagai masalah entah itu ekonomi, sosial budaya, edukasi, kemanusiaan, dll. Di dalam sinogoga anggota masyarakat Yahudi saling belajar untuk membangun kebersamaan dan persaudaraan di antara para anggota masyarakat. Kebersamaan itu dan persaudaraan itu bukan hanya di tingkat pedesaan/pedusunan tetapi bahkan di tingkat yang lebih besar. Masyarakat pada perayaan-perayaan tertentu mereka semua berkumpul di Yerusalem, di tempat doa yang besar, di Bait Allah. Misalnya pada perayaan musim panen, dll. Dengan tingkat perayaan/kegiatan semacam ini, mereka membangun kebersamaan dan persaudaraan di antara suatu masyarakat. Tidak heran, pengalaman kebersamaan dan persaudaraan itu, selalu terus hadir dalam setiap hidup dan perjuangan mereka.

Dalam refleksi saya selama ini, Kawaliwu punya pengalaman yang sama. Punya banyak ”lango bele” karena punya banyak suku. Kemajemukan ini telah meng-adab-kan kita. Keragaman ini telah menunjukan bahwa kita punya potensi untuk maju.

Tetapi sayang, bahwa masih adakah ”lango bele” di setiap suku menjadi ”rumah singgah bagi siapapun dalam satu suku” untuk membangun kebersamaan dan persaudaraan? Adakah peluang untuk membangun kedamaiaan ide, ketenangan jiwa dan kebeningan budi bagi masyarakat untuk maju selangkah menenun pengalaman masa lalu, merajut masa depan dengan merefleksikan masa sekarang? Beranikah orang Kawaliwu sekarang berhati tenang dan kesehajaan jiwa untuk menerima serta merangkul banyak pihak yang berbeda  untuk maju menuju ”peradaban cinta.” Dan demikian, Kawaliwu menjadi sebuah ”laboratorium pengharapan” bagi siapapun juga. ***

SUMUR KAWALIWU : SUMBER KEHIDUPAN

Sinar Hading memiliki “sumur kehidupan” yang sepanjang tahun memberikan hidup bagi masyarakatnya. “Sumur kehidupan” itu adalah sumur “wai bao” dan sumur “wai hading.” Kedua sumur ini tertua adalah sumur “wai hading.” Kemudian baru sumur “wai bao.”

Nama kedua sumur  ini berdasarkan nama yang diberi berdasarkan kedekatan sumur tersebut dengan sesuatu. Sumur “wai hading” berdekatan dengan atau di teluk hading. Sedang sumur “wai bao” karena sumur tersebut ada dibawah pohon bao (bao = pohon beringin)

Kedua sumur ini menjadi tempat pertemuan orang Kawaliwu dari berbagai keluarga dan suku. Dan karena hanya dua sumur maka hampir setiap saat di sumur tersebut selalu ada orang “datang dan pergi” mengambil air baik untuk mencuci maupun untuk kebutuhan pokok yaitu masak, mandi dan minum.

Di kedua sumur ini selain orang “datang dan pergi” untuk mengambil dan mengantar air, juga menjadi tempat curhat bagi siapa saja, dan dengan siapa saja serta tentang apa saja. Bahkan jika mau mendengar berita terbaru di seputar Kawaliwu, orang bisa-bisa saja ke sumur dan sialahkan duduk dan mendengar ceritera apa saja dari orang-orang yang datang dan pergi mengambil air.

Sisi lain dari kedua sumur ini adalah, sebagai tempat tumbuh-kembangnya bibit-bibit perasaan sayang dan cinta pada “temona” (gadis) dari suku mana menjadi “muro-kemamu.”

Dari sisi ini, kita boleh terpanggil untuk menjadi seorang “arkeolog” – menggali kembali pengalaman kita di tepian sumur “wai hading” dan “wai bao.” Apakah masih ada pengalaman baik yang masih ada, dan bahkan sampai sekarang masih terus menerus ditumbuh-kembangkan. ***