Senin, 13 Juni 2011

HEALTHY WALKING DAY 2011 BANGKA POS GROUP

”FANNI, SAMPAH DAN JALAN SEHAT”
(SISI LAIN HEALTHY WALKING DAY 2011, HUT BANGKA POS KE-12)

Bayang-bayang fanni terlihat berhenti di pinggir sebuah sisi alun-alun taman lapangan merdeka (ATLM). Dari kejauhan nampaknya tubuh agak kurus –semampai, berpakaian lengkap laiknya seorang atlet senang. Fanni turun dari sepeda untanya. Ia duduk sebentar di atas fondasi taman. Menghadap ke dalam alun-alun. Melihat kiri-kanan, memastikan apakah sudah ada orang yang datang mendahuluinya.

Fanni, gadis kecil SD kelas IV di sebuah sekolah negeri Kota Pangkalpinang. Ia dari keluarga yang kurang mampu. Ia datang ke alun-alun taman itu selain untuk mengikuti Healthy Walking Day (HWD) (12/6/2011) – Hari Jalan Sehat memperingati hari ulang tahun Bangka Pos ke-12, juga Fanni mempunyai niat khusus.

Belum banyak orang yang datang. Ia berjalan dari satu taman ke taman yang lain, mengelilingi ATLM memungut sampah plastik yang bisa didaur ulang. Sampah plastik yang dibuang sembarangan oleh ”penghuni sementara ATLM” pada malam minggu. Sebenarnya, sampah-sampah itu sudah ada tempatnya. Namun, karena egoisme manusia yang telah akut, yang tidak tahu lagi, dimana tempatnya sampah-sampah diletakan.

Sampah-sampah plastik dikumpulkannya di dalam karung plastik putih. Karung itu dimuatnya di sepeda untanya. Ia kemudian mendayung sepedanya melewati sudut luar ATLM, dekat penginapan Sabrina dan menghilang dalam bayangan pohon pinang hilas. Mungkinkah pinang hias di ATLM itu yang luar biasa mahal?

Pagi itu lumayan dingin. Orang-orang bermunculan dari setiap sudut dan ujung jalan alun-alun itu. Orang masing-masing memarkirkan kendaraan. Begitu juga Fanni, gadis kecil itu. Ia datang lagi. Kali ini, mau mengikuti HWD. Jalan Sehat yang diikutinya merupakan sarana untuk mencari sepeser, itulah niat keduanya. Karena maklumlah, Fanni dari keluarga yang kurang mampu.

Fanni, ikut berkumpul dalam barisan di depan rumah jabatan, wali Kota Pangkalpinang. Dari parasnya, Fanni kelihatan memiliki sesuatu harapan dalam kegiatan HWD. Namun, hatinya begitu tenang. Rasa simpatiknya pada jalan sehat, yang hampir dimulai oleh Brigjen Pol. M. Rum Murkal (Kapolda Babel) semakin jelas. Fanni mulai sibuk membereskan celana dan bajunya yang kendor. Sepatu dan kaos kakinya yang lusuh, ditarik naik. Rambutnya yang panjang diikatnya, biar tidak menjadi penghalang dalam kegiatan HWD.

Bendera HUT Bangka Pos ke-12, diangkat oleh Kapolda Babel, tanda bahwa HWD telah dimulai. Fanni pun mulai berjalan. Matanya terpaku pada obyek di hadapannya. Bukan jalan yang sedang ia tapakinya. ”Kayu palang tinggi yang tegak berdiri di atas atap Gereja GBI Pangkalpinang dan secercah cahaya kuning keemasan yang menyinari jagad raya pagi itu, ” fokus mata Fanni. Dalam benaknya berdenyut ”oh...indahnya pagi ini. Sungguh, jalan ini adalah jalan sehat. Jalan yang lurus. Jalan yang ditempuh oleh warga Kota Pangkalpinang.

Ketika barisan itu belok ke kanan, mata Fanni yang bulat tak berkedip masih juga menatap ”illuminasi” di pagi itu. Sekali lagi, dalam sukma yang polos, ia bergeming. ”Sinar cahayaamu bagaikan panah yang merobek kalbuku. Meningkalkan perih yang menawan, mengukirkan kisah suka-duka yang telah lewat. Memberikan pengharapan baru di masa depan, dengan sebongkah nur yang terbias biru. Lazuardi, muncul di ufuk timur.”

Fanni berjalan pelan, mengikuti irama barisan paling depan. Ia kelihatan tenang dan sesekali terlihat senyum tersipu-sipu karena diganggu oleh teman-teman yang ada disekitarnya. Selang beberapa menit kemudian, Fanni tertunduk ke aspal jalan. Ia mengambil sebuah glas bolesa tanpa air. Ia mengambil dan memegangnya.

Kata teman di samping kirinya, ”mengapa harus dipegang barang itu? Kan, tidak berguna lagi?”

”Gak apa-apa! Biarlah kupegang. Siapa tahu, ada gunanya”, bisik Fanni kepada temannya. Fanni teringat akan ibunya yang mengajarkan bahwa sampah harus dibuang pada tempatnya, pada kotak atau tong yang sudah disediahkan.

Dan lebih dari itu, Fanni pun teringat akan kerja ibunya yang setiap pagi dan sore, dengan bersenjatakan sapu lidi dan kotak pengangkut sampah, harus turun ke jalan dan taman-taman kota itu untuk membersihkan sampah. Maklumlah, ibunya adalah seorang petugas kebersihan kota-yang sering dikenal ”berpakaian kuning”.

Walau sibuk ongobrol, perjalanan itu tetap lancar, tetap mengikuti irama barisan depan. Sebuah glass plastik – sampah yang dipegang Fanni, kemudian diletakkan Fanni pada sebuah tong sampah di Jalan Ahmad Yani, depan sebuah SD Negeri, hampir masuk ke per empatan Alun-alun Taman Lapangan Merdeka. Tong sampah itu, berwarna kuning dan biru. Tong sampah itu masih kosong, baru pertama kali diisi Fanni, sebuah glass bolesa tanpa air. Fanni melanjutkan misi ibunya. Fanni menunjukan kepada publik, bagaimana memungut dan meletakkan sampah itu pada tempatnya yang telah disiapkan.

Fanni terlihat begitu tenang. Tanpa tedeng aling-aling, ia tetap dengan gayanya yang sederhana, berjalan menuju alun-alun taman itu. Ia berjalan menuju tempat penukaran kupon konsumsi. Ia menerima konsumsi dari salah seorang gadis cantik berambut panjang, seorang petugas konsumsi, berpakaian yang dari belakang terbaca ”Spirit baru: Negeri Laskar Pelangi”.  

Fanni sibuk mencari tempat istirahat, sembari mau menikmati seketuk roti dan seglass bolesa. Kelihatannya cukup tangguh. Terbiasa dengan mendayung sepeda dan mungkin sering berjalan kaki ke sekolahnya. Fanni tegar mengikuti acara doorprizze. ”Jika tidak dapat doorprizze, ya...paling kurang Fanni mendapat sampah-sampah yang dibuang sembarang ”para penghuni sementara” ATLM pagi ini.” Sekali lagi, sampah. Kotak atau tong begitu tegap berdiri di beberapa tempat di ATLM, namun banyak orang begitu egoisme-pembuta mata, sehingga tidak tahu lagi dimana persisnya kotak atau tong sampah berada.

Rupanya, keteladanan Fanni dalam perjalanan tadi, tidak membuahkan hasil. Malahan banyak orang justru berpikir, ”kan ada tukang sampahnya?” Keteladanan orang kecil semacam Fanni, tidak begitu diharapkan. Namun sekurang-kurangnya, keteladanan orang berpengaruh itu penting dan berguna. Tetapi mungkinkah itu? Keteladanan dimulai dari kandungan ibu, dilanjutkan dalam keluarga dan ketika dilahirkan dari keluarga, makna pebelajaran keteladanan, pasti sudah mantap! Keteladanan adalah guru yang tak bersuara. Keteladanan adalah guru bisu.

Rangkaian acara doorprizze terus berlanjut. Dipenghujung acara itu, Fanni mulai sibuk. Pertama-tama, ia berjalan menuju tempat parkir. Ia melihat karung yang dibawanya dari rumah, yang terikat dengan tali dari ban sepedanya yang rusak di sepeda untanya. Fanni mulai melakukan aksinya. Mulai memungut sampah-sampah plastik. Terlihat tidak begitu malu. Ia dengan tenang dan bersikap biasa-biasa menjalankan aksi sosialnya. Aksi sosial, membantu para petugas, yang berlencana kuning  kota Pangkalpinang. Petugas sampah yang dibentuk dan digaji karena sikap egoisme dan buta diri yang muncul dari dalam diri setiap orang penghuni jagad ini. Orang hanya tahu enaknya dan telah tersumbat sampah sehingga orang tidak tahu lagi bahwa yang enak itu berasal juga dari sampah.

Fanni terus beraksi. Dalam hatinya ia sesekali bergeming. ”Hm...memang! Rupanya orang-orang yang ikut jalan sehat ini, dengan sehat (dibaca: sadar) membuang sampah. Plastik-plastik yang didapatinya, dinikmati isinya lalu dibuang begitu saja, tanpa mempunyai rasa malu dan bersalah. Mengapa orang itu egois dan buta akan segala hal yang ada disekitarnya?” Sampai berkeringatan, Fanni memungut dan memasukan sampah-sampah ke dalam karung. Karung yang sudah penuh dinaikan di atas sepeda untanya. Ia kembali melanjutkan lagi aksi sosialnya.

Di depan podium HWD 2011, Fanni berdiri. Ia berdiri menghadap podium. Ia berdiri tanpa memegang karung. Ia berdiri sambil memegang sebuah oplah Bangka Pos. Dalam hatinya, ia mencetuskan isi hatinya, semecam litani nestapa begini.

”Wahai...kaum elite,
Jangan tanyakan apa yang ”serumpun sebalai” ini lakukan untuk anda
Tapi tanyakan pada dirimu, apa yang anda lakukan untuk ”serumpun sebalai” ini.

Seandainya anda melakukan untuk ”Negeri Laskar Pelangi”
Jangan ada orang yang digaji khusus untuk sampah
Tapi, gajilah diri sendiri untuk sejengkal kebersihan ”Negeri Laskar Pelangi”.

”Wahai...kaum marginal,
Katakanlah pada dirimu,
Bahwa hari esok penuh pesona, menanti uluran tanganmu
Menanti ketulusan hatimu
Menanti kebeningan budimu
Menanti keluasan jiwamu
Memaras Negeri Laskar Pelangi ini,
secantik ke-7 bidadari
dari istana kayangan abadi.

”Wahai...manusia,
Bukalah mata dan mata hatimu...
Lihatlah disekeliling anda...
Ada luka yang harus diobati,
Ada bercak kotoran yang harus dibersihkan
Ada setumbal nista di mata hatimu yang harus disingkirkan dengan doa yang kunjung putus,
Ada ”aksi sosial”-Jalan Sehat
Bukan Jalan Sampah
Bukan Jalan kuli tinta
Bukan Jalan kuli kesenangan
Tapi, jalan kita, jalan lurus, Jalan Sehat.
Sampah ditiadakan,
Demokrasi sehat, tanpa anarkis, semestinya
Sehat karena olah raga, yang merembes masuk
Sehat pikir dan sehat aksi,
Itulah Demokrasi tanpa anarkis. Sehat Total! ***

Rabu, 01 Juni 2011

GUA MARIA KANAAN DI BATU RUSA KAB. BANGKA

Gereja St. Yohanes Pemandi Batu Rusa merupakan salah satu stasi dalam Paroki Katedral, St. Yosef Pangkalpinang Bangka. Letaknya lebih kurang 19 km dari Kota Propinsi, Pangkalpinang. Batu Rusa adalah sebuah kelurahan, Kecamatan Merawang, Kabupaten Bangka. Gereja Katolik Batu Rusa terletak dipinggir jalan utama lalulintas Pangkalpinang ke Sungailiat. Jika kita berangkat dari Pangkalpinang, Gereja Katolik Batu Rusa berada di sebelah kanan jalan, dekat SPBU Batu Rusa.
Jika kita memasuki sebelah kanan Gereja Katolik Batu Rusa, di belakang halaman Gereja, kita menemukan gerbang Gua Maria Kanaan Batu Rusa. Gerbangnya berbentuk salib dan disebelah kiri gerbang itu tempat untuk meletakan lilin. Jika kita mau berdoa di depan Gua Kanaan, kita akan mengambil lilin disamping kiri gerbang itu.
Setelah kita masuk ke gerbang, maka kita melihat halaman Gua Maria Kanaan (30/05/2011) pukul 18.00 wib. Masih terlihat tanah. Rumput-rumput ada yang sudah hidup tapi masih ada yang belum hidup. Yang hidup terlihat, pohon palma dan beberapa jenis tanaman lain. Gua Maria Kanaan masih baru, dan karena itu masih dalam proses pembangunan. 
Gua Maria Kanaan, salah satu gua Maria di Keuskupan Pangkalpinang. Gua yang baru dibangunan. Bagi umat Katolik yang mau mencari keheningan atau mau berdevosi kepada Bunda Maria, silakan datang ke Gua Maria Kanaan, Batu Rusa. ***

Senin, 30 Mei 2011

HIDUP DAN MATI ADALAH MILIK ALLAH (sebuah refleksi atas pasca erupsi Merapi di Yogjakarta)

Pagi itu, pukul 05.00 wib 25 Mei 2011. Saat itu, udara sedikit dingin mengelimuti halaman Sav. Audio Visual Puskat. Di sekitar Sindhu Rejo, alam begitu cerah. Tidak sepanas hari kemarin.

Rombongan para katekis Keuskupan Pangkalpinang, diantar oleh mas Trimul dengan dua mobil Puskat menuju Kinah Rejo, sebuah desa, bekas erupsi Gunung Merapi. Lebih kurang 45 menit kami menempuh perjalanan itu.

Udara di Kinah Rejo, begitu dingin. Penduduk tidak ada lagi. Sepi. Di sekitar Kinah Rejo, nampak berantakan. Umbul-umbul mahoni dan bambu serta kayu-kayu lainnya ada di mana-mana. Kali bekas luapan muatan Merapi begitu dalam. Masih terlihat sisa-sisa air dan pasir dingin yang mengalir dibawa air. Di sekitar Kinah Rejo sendiri, masih terlihat bekas-bekas bangunan penduduk. Hanya tinggal dinding, kayu pintu dan jendela dan bahkan hanya fondasi rumah yang nampak ketika bangunan itu berada di tempat yang tinggi. Namun, bila bangunan berada ditempat yang rendah, waduh...tak terlihat lagi. Semuanya terkubur oleh debu dan pasir muatan Merapi.

Saya sendiri ketika melihat pertama kali akan situasi Kinah Rejo, muncul dalam pikiran saya begini. ”Waduh... Memang Allah itu pembunuh. Dia membunuh dengan dhasyat dan kejam. Alam yang merupakan ciptaan-Nya dihancurkan-Nya. Manusia yang merupakan mahkhota-Nya, dilumpuhkan bahkan dikuburkan-Nya hidup-hidup dalam debu dan pasir panas. Waduh...kejam sekali, Allahku.”

Begitulah respons saya yang pertama kali ketika mengamati lingkungaan hidup yang ada disekitar Kinah Rejo. Pengamatan saya tidak berhenti di situ.

Saya kemudian berjalan di kiri kanan dan mendaki ke arah Merapi. Saya melihat kerikil-keril dan pasir yang ada di pinggir jalan. Saya melihat tanaman-tanaman yang di tanam kembali oleh masyarakat yang ada di sekitarnya, yang sudah mulai tumbuh. Juga saya melihat, pondok-pondok di pinggir jalan yang dibangun oleh masyarakat sebagai tempat teduh bagi siapa saja yang datang untuk berwisata alam Merapi. Nampaknya telah mulai ada tanda-tanda kehidupan.

Dalam lalu-lalang disekitar Kinah Rejo, saya mengambil dua buah kerikil, luapan dari Merapi. Saya menggenggam kerikil itu. Saat itu sebagai seoraang beriman, muncul dalam benak saya ceritera Kitab Suci, perkelahian Daud dan Goliat. Daud menaklukkan Goliat dengan lima kerikil yang dipilihnya dari tanah. Kelima kerikil itu punya simbol tertentu di PB, yaitu kelima tempat luka Yesus. Ceritera Daud dan Goliat kemudian menjadi bahan permenungan saya.

Daud lambang Allah, simbol kebaikan. Goliat lambang bangsa/orang yang sombong, yang gegabah, dan yang congkak hatinya. Ceritera perjalanan saya tadi, Gunung Merapi simbol kebesaran Allah. Bisa memuntahkan bahan-bahan yang terkandung didalamnya karena tidak menahan lagi sikap-sikap orang/bangsa yang sombong, yang gegabah, yang congkak hatinya. Bisa membunuh karena kedegilan hati orang. Namun demikian, kebesaran Merapi itu ternyata menghidupkan kembali. Debu, tanah yang sumbur bagi tanaman. Paasir dan kerikil menjadi bahan bangunan penduduk, di sekitarnya. Bahkan menjadi material bangunan yang diperjualbelikan. ”Hidup atau mati” adalah miliki Allah. Dan karena itu, manusia, mahkhota Allah semestinya menyadarkan dirinya dan karena itu bertindak dan berbuat seharusnya berjalan di jalan Allah. ***

PHOTO PARA KATEKIS KEUSKUPAN PANGKALPINANG DI SAV AUDIO VISUAL PUSKAT YOGJAKARTA

Di depan pendopo Pusat Kateketik (Puskat) Yogjakarta. Kami inap semalam dan besok ke Sav Audio Visual Puaskat di Sindhu Rejo, lebih kurang 15 km dari Puskat. 
Dari Sindhu Rejo, kami katekis keuskupan pangkalpinang (11 orang) menuju Kinah Rejo, sebuah daerah bekas erupsi Gunung Merapi. Kinah Rejo kini hanya puing-puing saja. Tidak berpenghuni lagi. Sepi! Kinah Rejo kini dipenuhi pasir dan kerikil-kerikil luapan Gunung Merapi.
Di ruang audio visual Puskat, para katekis memperagakan pantomim tentang hasil refleksi selama berada di Sindhu Rejo, yang berdasarkan pengalaman hidup sebagai katekis dan selama berada di Kinah Rejo.
Katekis lagi berdoa di Sendangsono memohon berkat untuk perjalanan karya lagi. Saat-saat teduh, para katekis menimbah kekuatan Allah melalui Bunda Maria.
Para katekis keuskupan pangkalpinang photo bersama pembimbing retret, Rm. YI. Iswarahajo, SJ sekaligus pimpinan Sav Audio Visual Puskat Yogjakarta. ***

Kamis, 19 Mei 2011

PANORAMA SINAR HADING 2011

Pantai Wai Krewak Kawaliwu Sinar Hading. Seorang ibu duduk membelakangi sumur Wai Krewak, menghadap pantai sedang mencuci baju.Pantai Laut Kawaliwu biru, belum tercemar limbah. Sungguh indah pesona Kawaliwu.
 Musim panen masyarakat Kawaliwu sekitar bulan pertengahan April hingga bulan Mei. Terlihat kelompok ibu-ibu Kawaliwu memanen padi secara bergilir dari kebun ke kebun. Mereka dibiaya oleh pemilik kebun seharian bekerja. 
Jambu mete, salah satu tanaman produktif di Kawaliwu. Jambu mete ditanam selama tiga tahun akan berbuah. Musim bunga pada pertengahan April dan berbuah pada bulan Mei. Bulan Juli hingga september, musim petik. Lahan di Kawaliwu lebih banyak ditanam jambu mete. Sayangnya dalam 5 tahun terakhir ini harga biji gelondongan jambu mete sepuluh ribu rupiah per kilo. Harga yang tidak sesuai dengan kerja perawatan dan kesibukan petik. Jambu mete terlihat ini di kebun Bpk. Andreas Wato Liwun di Wai Pleme Kawaliwu.
Lango Bele - Liwun, sebuah rumah yang telah dipugar dengan situasi zaman sekarang. Fondasi sudah dengan batu hutan dan semen, dinding setengah dari bata dan setengahnya dari anyaman bambu. Atap yang dulu dari alang-alang, kini dari seng. Secara tradisional, rumah besar ini merupakan rumah adat Liwun, yang dulunya terbuat dari bahan kayu, tali dan alang-alang. 
Korke, dalam bahasa Lamaholot-Kawaliwu 'koko', sebuah rumah adat bagi semua suku-suku di Kawaliwu. Rumah adat ini pun telah dibuat dengan situasi zaman sekarang. Atapnya seng. Dulu atapnya dari daun lontar. Di depan 'koko' terdapat susunan batu, dari zaman megathiticum, zaman batu. Didalam susunan batu berbentuk segi empat ini panjang lebih kurang 20-an meter dan lebarnya pun 20-an meter. Didalam halaman itulah orang-orang Kawaliwu menari dan mengadakan upacara keagamanan lainnya. Juga sesewaktu, tua-tua adat (ataklake) mempersembahan kurban.
Tua-tua adat dari berbagai suku di Kawaliwu berkumpul dan mengadakan upacara adat.

Rabu, 18 Mei 2011

LIMA ENTRY POIN PENTING YANG PERLU DIREFLEKSIKAN WARGA SINAR HADING

Selama hampir lebih kurang dua setengah minggu di kampong halaman, Kawaliwu-Sinar Hading, (13-28/4/2011), ada lima entry poin dalam pernak pernik situasi Kawaliwu; yang muncul ke permukaan situasi sosial; juga menjadi prioritas untuk kita refleksikan bersama. Saya mengundang generasi muda, pemuda-pemudi anak cucu Wolosina untuk merefleksikan lima entry poin penting yang sekarang real muncul dalam situasi sosial Kawaliwu.

(1). Jumlah pertumbuhan penduduk semakin tinggi. Tampak bahwa di lorong-lorong, di sumur air dan di gereja, terlihat begitu banyak anak kecil yang berusia sekolah. Hal positip yang ada sekarang yang mendukung anak-anak kecil adalah adanya TK “Fajar Budi” dan Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) selain sudah ada Sekolah Dasar Katolik Kawaliwu. Sekarang sedang direncanakan akan adanya SMA/SMK Lewolema di Kawaliwu.

Ingat bahwa dengan semakin besar jumlah penduduk di Kawaliwu dan secara geografi semakin sempit lahan produksi serta tidak ada ruang untuk pendidikan anak-anak, maka dapat mengakibatkan banyak hal – fenomena yang muncul di Kawaliwu. Bagaimana dengan pola pikir generasi muda sekarang dan akan datang agar problem ”masa depan” anak-anak Kawaliwu lebih cerah?

(2). Grafik pendidikan anak semikin tinggi. Pendidikan sedang diperjuangkan oleh para orangtua di Sinar Hading bagi anak-anaknya. Pendidikan menjadi prioritas. Anak-anak kecil yang belum genap enam tahun, orangtua memasukan di TK atau di PAUD. Apalagi, pihak TK dan PAUD mendorong orangtua dengan mewisuda anak-anaknya ketika anak-anak tamat dari TK atau PAUD.

Genap enam tahun hingga 12 tahun, anak disekolahkan di SD. Tamat dari SD, anak masuk ke SMP. Sekarang ada beberapa SMP yang menjadi prioritas masyarakat Kawaliwu untuk melanjutkan sekolah tingkat pertama bagi anak-anaknya. Sebagai misal, di Lewotala ada SMP St. Isidorus, di Leworahang ada SMP St. Antonius Padua dan di Belogili ada SMP Batu Payung. Kawaliwu dikelilingi oleh sekolah-sekolah lanjutan pertama. Sekali lagi, sekarang sedang direncanakan bahwa di Kawaliwu akan dibangun SMA / SMK Lewolema.

Jika SMA / SMK ada di Kawaliwu, pola pendidikan di sekolah bukan berprinsip pada kurikulum dan kompetensi menghafal dan lulus ujian. Tetapi harus lebih pada pembangunan karakter (building charakters) dan ketrampilan serta produksi kerja (produck of work). Dengan demikian, pendidikan tingkat atas di Kawaliwu lebih cocok pada SMK berupa pertanian atau perikanan. Sehingga lahan darat dan laut Kawaliwu dikelola secara maksimal. Dan dengan demikian, darat dan laut dapat diolah sebaik-baik mungkin untuk pendudukan Kawaliwu. Apakah dengan pola pikir ini menjadi solusi terakhir bagi generasi Kawaliwu? Tidak!

(3). Lahan / Tanah Kawaliwu yang belum ditanam tanaman, hampir-hampir tidak ada lagi. Hampir sebagian besar lahan / tanah Kawaliwu ditanami tanaman jambu mente. Dimana-mana ditemukan pohon mente. Tanaman ini mulai bulan maret-akhir april berbunga. Awal mei hingga juli, masim jambu mente berbuah. Dan musim panen akan terjadi pada bulan agustus hingga oktober. Terkadang hingga bulan desember pun masyarakat masih panen buah jambu mente. Ada beberapa jenis tanaman lain yang sekarang lagi ngetrend ditanam di Kawaliwu adalah pohon jati, entah jenis biasa maupun jati putih. Ada hal yang positip yang muncul dalam benak saya adalah dengan menanam pohon mente dan jati, masyarakat Kawaliwu telah terlibat dalam menggeneralisasikan hutan baru. Mengubah hutan alami dengan hutan produksi. Persoalan sekarang adalah bagaimana agar tidak terjadi penebangan liar dan tidak mampu ditanam kembali.

(4). Akses transportasi bemo / motor ojek. Dulu orang Kawaliwu punya mobil angkot penumpang ke Larantuka atau Oka. Sekarang (april 2011) Kawaliwu tidak punya angkot berupa mobil. Angkot mobil di Kawaliwu adalah milik kampung tetangga (Riangkotek dan Leworahang). Alat angkot darat yang lagi ngetrend di Kawaliwu adalah motor ojek. Ada beberapa orang mempunyai motor lalu mengangkut satu atau dua orang kemana-mana termasuk ke Larantuka. Biasanya sekali angkot mengenakan biaya lima ribu sampai sepuluh ribu rupiah. Alat angkot darat yang besar sekarang di Kawaliwu mobil jenis pick up atau dipakai untuk mengangkot barang-barang.

(5). Akses listrik masuk Kawaliwu. Listrik masuk Kawaliwu ternyata tidak gampang. Karena lahan pemancang kabel ke Kawaliwu tidak diberikan oleh masyarakat Lewotala dan Riangkotek. Jalan keluar yang ditempuh oleh masyarakat Kawaliwu adalah membayar ganti rugi tanaman-tanaman yang ditebang untuk pemancangan kabel. Menurut Nikolaus Sira Liwun, Kepsek Sinar Hading (24/4/2011), Kawaliwu menyeluarkan biaya sebesar 30 juta rupiah untuk membayar pemilik tanaman yang ditebang untuk dipancang besi penyangga. Listrik masuk Kawaliwu butuh perjuangan yang panjang. Butuh biaya membayar tanaman yang ditebang, luar biasa besar. Dan untuk masuk ke rumah-rumah masyarakat, masyarakat menyediahkan dana lebih kurang 5 juta rupiah. Hingga sekarang biaya listrik penduduk setiap bulan lebih kurang 50 ribu hingga 200 ribu rupiah, belum ditambah ongkos ke Waibalun / Larantuka untuk membayar rekening listrik akhir bulan.

Saya berharap bagi generasi muda untuk mampu merefleksikan lima poin ini, agar semakin hari semakin giat untuk berusaha dan semakin maju Kawaliwu tercinta. ****

Kamis, 05 Mei 2011

“AKSI DAMAI” WARGA WOLOSINA KE KANTOR CAMAT LEWOLEMA KAWALIWU

Pertemuan Kepala Desa (Kepdes) Sinar Hading dan Ile Padung dalam bulan Maret 2011 menghasilkan antara lain: kedua kepala Desa setempat menyepakati “berdirinya papan / pembatas wilayah Sinar Hading dan Ile Padung di Lungun Wai Mape” (berdasarkan tuturan histories Wolo Sina, atas wilayah Nara Eban dan Lakmau).
 
Berdasarkan hasil itu, maka beberapa anak muda dari Desa Sinar Hading kemudian memancang papan / pilar batas kedua wilayah tersebut. Pemasangan papan / pilar batas wilayah Sinar Hading dan Ile Padung itu, rupanya dikomplain oleh masayakat dan Kepala Desa Riangkotek.

Dasar komplain masyarakat / kepala Desa Riangkotek adalah bahwa batas wilayah yang dipasang Sinar Hading dan Ile Padung, masih di atas wilayah Riangkotek. Dasar komplain mereka ini ditujukan kepada Camat Lewolema melalui surat, tertanggal 22 April 2011. Dengan berdasarkan surat Kepala Desa Riangkotek itu, Camat Lewolema, Drs. Ramon Ile Mandiri Piran kemudian memerintahkan kepada beberapa staffnya untuk mencabut papan / pilar batas wilayah Sinar Hading – Ile Padung yang sudah terpasang.

Berita pencabutan papan / pilar batas wilayah ini tersiar ditelinga masyarakat Sinar Hading tanggal 22 April 2011. Hanya saja warga keturunan Wolosina belum bisa menanggapi karena bertepatan dengan Hari Jumad Agung, Hari Raya peringatan Wafat Yesus Kristus, perayaan agung bagi umat Katolik. Warga Sinar Hading menahan diri untuk tidak bertindak, biar sampai lewat Paskah, 24 April 2011.

Tanggal 27 April 2011 malam, diumumkan oleh pencorong di rumah Kepala Desa bahwa semua masyarakat Desa Sinar Hading berkumpul di rumah Posyandu Dusun II. Maksud pertemuan ini adalah membangun konsolidasi – kekuatan massa untuk ”beraksi damai” pada tanggal 28 April 2011, hari Kamis, jam 09.30.

Maka malam itu, Forum Peduli Masyarakat Kawaliwu yang disponsori anak-anak Kawaliwu mulai berdiskusi – menghimpun pendapat – mereduksi input yang masuk dan membangunnya dalam suatu pernyataan sikap yang akan diusung besoknya (28/4/2011) di depan Kantor Camat Lewolema.

Pernyataan sikap yang diusung warga keturunan Wolosina Kamis, 28 April 2011, adalah:

(1)  Tanggapi Surat Kami tertanggal 25 April 2011.
(2)  Pihak Kecamatan bertanggungjawab atas pencabutan papan nama tapal batas.
(3)  Segera pancang kembali papan nama tapal batas.
(4)  Segera klarifikasi Surat dari Desa Riangkotek, tanggal 22 April 2011.
(5)  Camat harus bersikap adil dan bijak.
(6)  Apabila tidak terpenuhnya pernyataan di atas, maka masyarakat akan mengadakan aksi lanjutan dan pihak kecamatan siap bertanggungjawab.

Aksi Damai – Aksi Tanpa Kekerasan
Warga keturunan Wolosina, pagi itu siap-siap menjalankan hasil pertemuan tadi malam (27/4/2011). Mereka mulai mencari knema (daun lontar) entah berwarna kuning/hijau kemudian tiap-tiap orang langsung membuat knobo kera dengan mengikat kedua ujung sesuai dengan ukuran kepala masing-masing orang. Mereka membentuk ”knobo kera” secara sederhana, yang artinya ”topi dari daun lontar.” Tujuan ”knobo kera” adalah menjadi simbol khusus/tanda khusus bagi keturunan Wolosina dalam aksi damai tersebut. Bagi keturunan Wolosina yang mengenakan ”knobo kera”, sesamanya akan mengenalnya sebagai seperjuangan dan senasib dan bahkan jika ada anarkis, sesama mereka bisa saling kenal satu sama lain.

Lebih kurang pukul 09.30, (Kamis, 28/4/2011), warga Sinar Hading berkumpul di rumah orangtua Kepala Desa Sinar Hading (rumah Bpk. Pati Goleng) dengan memakai ”knobo kera.” Setelah satu jam, setelah semua warga berkumpul, pada pukul 10.30, masyarakat Sinar Hading, orang dewasa laki-laki dan perempuan mulai long march menuju simpang tiga, tempat berkumpul semua warga Sinar Hading (dusun 1-2 dengan dusun 3-5). Long march warga diiringi dengan sebuah mobil pick up, dengan orator ulung sdr. Ferry Liwun, koordinator lapangan, sdr. Petrus Bai Hurit, dan perumus pembicaraan hasil perundiangan, sdr. Irwanto Hurit.

Dari simpang tiga, warga kemudian bergerak – berjalan maju menuju pemukiman baru, perumahan murah setelah gempa. Warga yang long march lebih kurang 1 km. Di pemukiman baru, masyarakat Kawaliwu sudah ditungguh oleh polisi sekitar 20-an orang yang menumpang mobil Dalmas Polisi Larantuka. Walaupun sudah ditunggu polisi, warga Kawaliwu tetap maju terus hingga sampai di depan Kantor Camat Lewolema. Barisan depan aksi damai, pemuda peduli masyarakat Kawaliwu yang memegang spanduk biru dengan tulisan “pulihkan Haknya Wolosina” dan beberapa spanduk lain yang mengedepankan“enam butir pernyataan sikap aksi damai” dan yang lain menyerukan pada pemerintah kecamatan bahwa “kami butuh pemerintah kecamatan yang berwibawa, yang memahami budaya adat lewolema.”

Setelah warga Kawaliwu sampai di depan Kantor Camat, pemuda peduli masyarakat Kawaliwu memperagakan/simulasi kegiatan para pegawai kecamatan setiap hari, yaitu mereka main kartu-mengisi waktu kerja, karena tidak ada pekerjaan yang pasti. Ada beberapa pegawai kecamatan melihat simulasi dari pemuda Kawaliwu lalu berkomentar begini. “woi….kok tau dari mana?” lalu ada beberapa lagi yang hanya ketawa-tersenyum lalu masuk lagi ke kantor camat.

Aksi damai di depan Kantor Camat lebih kurang empat jam, dari jam 11.30 – 15.20 witeng. Di depan kantor camat, selain diadakan simulasi kegiatan para pegawai camat yang selama ini bertentangan dengan pekerjaan pokok mereka, warga Kawaliwu juga menunggu hasil team negosiasi dari Kawaliwu dengan pihak kecamatan. Team Negosiasi dari Kawaliwu: (1). Petrus Bai Hurit (2). Linus Ledung Liwun (3). Aloysius Tupen Aran (4). Andreas Sina Ritan (5). Bernardus Bera Mukin (6) Yohanes Wato Ritan (7). Nikolaus Sira Liwun (Kepdes Sinar Hading). Ketujuh utusan ini bernegosiasi dengan camat, sekcam serta pihak keamanan untuk segera pemasangan kembali papan/pilar perbatasan wilayah Kawaliwu-Leworahang yang telah dicabut pihak kecamatan. Negosiasi para team membuahkan hasil bahwa pada hari sabtu, 30 April 2011, papan/pilar batas wilayah dipasang kembali. Mendengar penjelasan utusan Kawaliwu bahwa papan akan dipasang pada hari berikutnya, warga Kawaliwu bersikeras untuk memperjuangkan agar papan dipasang saat itu juga. Ketidaksinambungan antara team negosiasi dengan warga Kawaliwu inilah yang membuat situasi ”demo damai” semakin alot. Suasana menjadi tegang. Ketegangan ini nampak dari warga tetap berada di depan kantor camat walaupun hujan lebat. Warga tetap mempertahankan dan menuntut camat untuk segera memasang kembali papan tapal batas.

Dalam suasana genting ini, saya sendiri merasa begitu kecewa dan dalam kekecewaan itu saya mencatat dan menrefleksikan beberapa poin:
1.      Tuntutan warga atas pemasangan papan batas ditunda pada hari berikutnya (Sabtu, 30 April 2011, yang dituangkan dalam surat perjanjian). Warga menuntut untuk dipasang pada hari itu juga, 28 April 2011, dengan maksud menekan camat Lewolema karena pemasangan kembali ditunda sedangkan dicabutnya papan batas wilayah tidak diinformasikan / disampaikan kepada kedua desa terlebih dahulu (Kawaliwu - Leworahang). Camat dianggap tidak menghargai tapal batas wilayah dan tidak mengetahui sejarah Nara Eban dan Lakmau. Camat hanya mendengar dari sepihak, dari Riangkotek. Dalam hal ini camat Lewolema kurang bijak dan kurang patriotis.
2.      Pada titik-titik balik, Warga Kawaliwu bukannya mendemo camat dan para staffnya di kantor camat tetapi mendemo warganya sendiri di kantor camat yaitu utusan/team negosiasi. Mengapa? Karena dianggap tidak becus memperjuangkan aspirasi masyarakat. Bahkan di depan camat dan staffnya serta pihak keamananan Kepdes / team utusan negosiasi bersikap munafik dan pengecut terhadap para pendemo, masyarakat Kawaliwu. Mereka dianggap pembelot terhadap hasil kesepakatan bersama / tidak sesuai dengan tuntutan yang tercantum dalam enam butir pernyataan sikap. Ini merupakan satu lembaran catatan penting bagi kepemimpinan di Desa Sinar Hading. Secara managent atau pola kepemimpinan, Sinar Hading jauh sekali dari harapan publik. Kepemimpinan yang menjadi harapan / impian masyarakat, belum ada. Pemimpin yang ada, rasanya tidak jujur dan tidak tulus memperjuangkan nasib Lewo Igo Rian Sina.
3.      Perjuangan kaum muda dan orang dewasa masyarakat Kawaliwu saat itu sungguh-sungguh tulus. Mereka nekad untuk hadir di depan Kantor Camat. Mereka adalah kaum muda, laki dan perempuan, orang dewasa laki-laki dan perempuan dan bahkan anak-anak pun ikut menyaksikan aksi damai tersebut. Buktinya, siang itu matahari begitu panas dan kemudian turun hujan begitu lebat, masyarakat masih setia dan dengan niat jernih tetap berdiri di depan Kantor Camat menyerukan agar papan batas wilayah segera dipasang hari ini juga. (28/4/2011). Ketulusan dan kejernihan masyarakat dalam memperjuangkan haknya Wolosina, ternyata dilemahkan oleh pihak/team negosiasi. Maka sampai sekarang di dalam lubuk hati terdalam masyarakat Kawaliwu terdapat sebuah ”ruang kekecewaan / ruang kebohongan publik” oleh para pemimpinan sesaat, orang Kawaliwu.

Ketiga catatan ini sekaligus sebagai sebuah catatan refleksi bagi generasi Wolosina yang akan menjadi pemimpin di Sinar Hading. Pemimpin di Sinar Hading hendaknya pemimpin yang sungguh-sungguh mengetahui spirit Lewotana, yang mengetahui situasi masyarakat Kawaliwu (Koten Kelen Hurit Maran). Pemimpin yang memiliki kemampuan mendorong dan mengantar masyarakat kepada nilai-nilai universal, seperti kebenaran, kejujuran, keadilan, kepekaan dalam situasi masyarakat, dan kemartiran dalam memperjuangkan aspirasi warga.

Lebih kurang pukul 15.30, seluah masyarakat Kawaliwu perlahan-lahan membubarkan diri, tanpa dikoordinir oleh pemimpin Desa/Aksi Damai. Masyarakat bubar dengan sejuta harapan dan sejuta kekecewaan yang mengiang dalam kalbu. Memang, Sabtu, 30 April 2011, lebih kurang pukul 13.00 – 15.00, telah terjadi pemasangan kembali papan / pilat tapal batas Kawaliwu-Leworahang, yang disakskan oleh Camat dan staff, pihak keamanan, Kepdes/masyarakat Leworahang dan Kawaliwu, Riangkotek tidak hadir walaupun telah dijemput paksa oleh pihak keamanan.

Papan / pilar batas telah dipasang kembali, bukan berarti perjuangan anak Wolosina telah usai. Perjuangan masih terus dilanjutkan dalam hidup setiap hari. Satu hal yang menarik adalah perjuangan untuk memiliki seorang pemimpin yang handal dan berbobot, berbakat, dan berpeduli dengan nasib masyarakat. Siapakah pemimpin di Sinar Hading? ***