Senin, 21 November 2011

AsIPA II INTERNATIONAL DI BATAM (13-21 NOVEMBER 2011)

SHARING PENGALAMAN
“VISITASI PESERTA AsIPA II INTERNASIONAL
KE KBG BATAM”

AsIPA II di Batam Harumkan Nama Keuskupan Pangkalpinang di Level International” saya ingin mensharingkan pengalaman selama mengikuti proses pertemuan AsIPA II tersebut. Mudah-mudahan sharing pengalaman saya ini berguna bagi kita semua yang membacanya.

Pertemuan AsIPA II di Batam

Selama ini pertemuan AsIPA berpindah-pindah dari satu negara ke negara lain di Asia. Tanggal 13-21 Oktober 2011, Indonesia khususnya Keuskupan Pangkalpinang didaulatkan menjadi tuan rumah temu AsIPA II. Karena menjadi tuan rumah, maka tuan rumah pun membutuhkan waktu dan tenaga untuk pelaksanaan temu AsIPA II. Rm. Frans Mukin dan Rm. Poya selaku Deken Selatan dan Utara ditugaskan Bapa Uskup untuk menyiapkan kepanitiaan pelaksanaan pertemuan. Tidak heran, pertemuan yang berlevel International itu berjalan dengan lancer dan aman-aman saja.

Pertemuan dilaksanakan di Hotel Pasific Sei Jodoh Batam. Peserta pertemuan sebanyak 62 orang yang berasal dari 11 negara di Asia seperti Korea, Singapura, India, Srilanka, Taiwan, Philipina, Thailand, Malaysia, Hongkong, Mynmar dan Indonesia. Peserta terbanyak yang diutus dari Indonesia, Pangkalpinang, 18 orang, menyusul dari Thailand sebanyak 16 orang. Sedangkan negara-negara lain hanya mengirim 1 sampai 5 orang. Banglades yang seharusnya mengutus 9 orang, dinyatakan batal karena terkendala visa masuk ke Indonesia.

AsIPA: apa itu?

Asian, Integral, Pastoral, Approach atau sering disebut Pendekatan Pastoral secara Integral di Asia. AsIPA lahir pada tahun 1993 di Malaysia. Produk dari kerjasama Federation Asian Bishop’s of Conferences (FABC) khususnya Komisi Perkembangan Manusiawi dan Komisi Awam. Lahirnya AsIPA mendukung pernyataan akhir para uskup Asia  dalam Sidang Paripurna kelima di Bandung, Indonesia tahun 1990.

Hampir kebanyakan orang di komunitas basis kita ketika mendengar AsIPA, pikiran terarah kepada metode sharing Injil 7 Langkah. Benar! Tapi, sebenarnya sharing Injil 7 langkah hanyalah satu bagian kecil dari modul-modul yang disiapkan oleh para anggota tim AsIPA.

Dalam AsIPA, dikenal empat modul yaitu modul A-D. Modul A sebanyak delapan kali pertemuan yang membahas langkah demi langkah sharing Injil, metode bercermin pada Kitab Suci dan metode melihat-mendengar-mencintai Sharing Injil atau sering dikenal kesadaran-refleksi-aksi. Modul B sebanyak dua belas kali pertemuan. Modul ini mengajak peserta mengerti dan memahami apa itu Komunitas Basis Gerejawi. Bagaimana sebuah komunitas basis dikelola dengan baik dan bertumbuh dalam relasi dengan Allah dan keterkaitannya yang erat dengan Gereja universal.

Selain modul tadi, masih ada modul C dan D. Modul C mengajak para peserta pelatihan untuk mengerti dan memahami sebuah Gereja Partisipatif. Bahwa Gereja Partisipatif adalah Umat Allah. Para pastor, biarawan-biarawati, dan kaum awam bersama-sama dalam persekutuan mengambil bagian dalam tugas perutusan Kristus baik di komunitas basis maupun di paroki. Bersama-sama mempunyai tanggung jawab untuk mengembangkan dan mewujudkannyatakan Gereja Partisipatif. Dalam kebersamaan itu, karunia-karunia Roh yang ada dalam diri tiap-tiap pribadi memungkinkan untuk berpartisipasi dalam sebuah Gereja Partisipatif. Dan modul D berbicara tentang Kepemimpinan dalam Gereja Partisipatif. Modul ini tidak mengenal kepemimpinan otoriter atau yang mendominasi, namun kepemimpinan yang partisipatif, yang memberi arah. Kepemimpinan yang mampu mengumpulkan banyak kharisma dan mampu membedakan kemampuan setiap anggota untuk menangani bermacam karya pelayanan berdasrkan kharisma-kharisma yang diterima dari Allah.

Dari modul-modul yang disiapkan oleh Tim AsIPA, cocok untuk kita di Keuskupan Pangkalpinang. Cocok karena hasil Sinode II kita pun mempunyai arah yang sama yaitu pemberdayaan Komunitas Basis sebagai bagian yang utuh dari paroki dengan berpusat pada Tritunggal Maha Kudus. Modul ini hemat saya, sangat cocok untuk membangun kesadaran agen pastoral khususnya para pastor yang menangani parokial. Tanpa keterlibatan para pastor akan kesadaran baru dalam modul-modul AsIPA, saya pikir agen pastoral yang lain akan “macet.”


Visitasi Peserta AsiPA II ke Paroki dan KBG Paroki Damian

Ke-62 peserta AsIPA II dibagi dalam tiga kelompok, berdasarkan tiga paroki di Batam yang mau dikunjungi. Ada 16 peserta mengungjungi KBG-KBG di Paroki Damian. 16 peserta lagi mengunjungi paroki Tembesi dan 23 peserta yang lain mengungjungi paroki Tiban.

Kunjungan peserta AsIPA ke ketiga paroki disambut hangat oleh umat di masing-masing paroki. Mengana tidak? Peserta dijemput pakai mobil-mobil pribadi di hotel pada minggu pagi (16/10). Setelah sampai di paroki, disambut oleh para penerima tamu di gereja. Ada peserta yang masih menunggu waktu misa sambil duduk di pastoran, tapi ada yang langsung masuk ke dalam Gereja. Tempat duduk pun disiapkan secara khsusus. Sedangkan peserta pastor langsung masuk sakristi memakai perlengkapan misa untuk misa konselebran. Suasana di dalam Gereja menjadi lain. Apalagi koor misa minggu itu, misalnya di Paroki Damian begitu merdu dan membahana dalam Gereja. Sampai-sampai Rm. Frans Mukin pun mengakui kehebatan koor yang menyanyikan lagu-lagu Gregorian. “Koor itu begitu hebat, tapi bukan koor paroki. Koor itu dari Stasi Kabil."


Kunjung ke KBG-KBG

Kunjung ke KBG-KBG adalah suatu kesempatan yang bagus. Mengapa? Karena di sana, di KBG-KBG kami menyaksikan kehidupan berkomunitas secara lebih dekat. Kami melihat bahwa umat yang tiap hari minggu ke gereja paroki, mereka menjalankan misi hidup sebagai satu anggota komunitas. Misalnya, tiap-tiap anggota bekerjasama untuk mensukseskan sharing Injil di komunitas dengan keterlibatan semua anggota keluarga untuk hadir dalam sharing Injil, orangtua mengantar anak-anak mereka untuk mengikuti sekolah minggu di komunitas pada setiap hari minggu siang atau sore. Bp. Ruben Tarigan, salah satu anggota dan pengurus KBG St. Kanisius Botanawa, menceritakan seputar keterlibatannya. "Saya sudah aktif di KBG sejak 1989 saat itu saya dan tiga keluarga lain membentuk KBG Kanisius ini. Waktu itu kami baru empat KK sekrang sudah 90-an KK. Komunitas ini semakin berkembang. Disamping itu kami juga tiap sore antar anak-anak untuk ikut sekolah minggu. Kelihatan kami begitu sibuk, tetapi kami percaya bahwa Allah selalu hidup dalam diri kami."

Berbeda dengan pengalaman Bp. Ruben, Bp. Marianus Aritonang, salah seorang pengurus KBG Kanisius bahwa ketrlibatan kami karena panggilan Yesus terhadap diri saya. Saya bekerja dan bekerja tetapi tidak melupakan Tuhan, juga kegiatan KBG. 

Mudah-mudahan kedepan KBG St. Kanisius pun semakin berkembang.
Salam!

Rabu, 28 September 2011

"JANGAN ANGGAP REMEH LEBAH HUTAN"

Ufuk timur Bedukang, sebuah desa di Kecamatan Riau Silip, Kabupaten Bangka berawan gelap. Tanda alam ini bukan mau hujan. Tapi kemarau. Rumah-rumah yang berada di pinggir jalan itu, sepi. Tak satu orang pun lalulalang disitu. Jalan raya yang berhubungan dengan tepi pantai Bedukang itu, berdebu tebal. Memang setengah beraspal tetapi terlihat kecoklatan, warna asli tanah di desa itu.

Masyarakat diaspora Maumere Flores yang menempati rumah-rumah di pinggir jalan setengah beraspal dan setengah tanah merah menuju pantai Bedukang itu, telah berangkat kerja. Hampir semua penduduk diaspora asal Maumere Flores itu, setiap hari meramu biji timah di Camuy. Biji timah, menjadi sumber penghasilan bagi mereka. Jika mereka ke Camuy dan tidak menghasilkan biji timah, itu artinya mereka tidak bisa makan. Timah, menjadi tempat tumpuan harapan hidup mereka bahkan menjadi penghasilan yang bisa mereka tabung untuk bisa mudik ke kampong halaman dan membangun rumah yang layak untuk mereka tinggal.

Mateus Madong, (46) salah seorang bapak diapora Hale Hebing Maumere Flores pun pergi bekerja, pagi itu. Bapak yang sehari-hari bekerja sebagai petani kelapa sawit yang ada di samping rumahnya itu, kali ini dia bukan pergi ke kebun sawitnya tetapi dengan mengendarai honda Supra Fit berwarna merah yang berpadu dengan hitam menuju kebunnya yang hampir setahun lebih ini tidak dikunjunginya. Dia pergi dengan maksud menebas rumput dan mau menanamnya dengan tanaman sengon. Dia melihat seluruh lahannya. Dia memastikan bahwa lahannya itu masih utuh, tidak diramba pengeruk timah ilegal. Estela memeriksa seluruh lahan hampir dua hektar itu, om Mateus mulai menebas disekitar beberapa pohon kayu besar.

Rumput kekuningan akibat kemarau itu telah diratakannya, dengan parang dan diinjak-injak supaya cepat hancur. Beberapa menit kemudian, om yang bernama lengkap Mateus Modang, menebas lagi disebelah pohon yang lain. Dalam sekejap mata, ia mendengar suara begitu besar dan kencang, semacam suara jet atau kapal terbang. Selang beberapa detik, kepala dan seluruh badannya telah dikeroyok ribuan lebah hitam yang sedang bersarang dibawah pohon yang dikelilingi oleh rerumputan. Matanza gelap. Terasa bahwa badannya seperti ditusuk jarum suntik. Terasa sakit sebentar tapi sejenak lagi terasa gatal dan mulai membengkak.

Om Mateus Modang pun tidak mau kalah. Ia melawan dengan melarikan dirinya. Ia lari sambil menutup muka, walaupun dalam keadaan yang payah, ia terus berlari di jalan raya yang sepi. Naas memang nasibnya. Bukan hanya mengeroyok bapak satu anak itu, tetapi mengejarnya hingga 2 km jauhnya, hingga bapak Mateus kehabisan akal untuk menyelamatkan dirinya. Dalam pelarian itu, ia berharap ada orang yang menolongnya. Namun harapan itu, tidak kesampaian. Dengan daya kekuatan yang ada, ia melihat di sebelah kanannya sebuah lubang Camuy, bekas galian tambang timah yang masih banyak air. Om itu langsung menceburkan seluruh badannya ke dalam air Camuy. Dalam kesakitan itu, ia berjuang untuk beberapa kali turun-naikan kepala, agar riduan lebah itu bisa lari menjauhi dari dirinya.

Apa yang selalu diharapkan dalam perjuangannya itu, tercapai. Ribuan lebah itu lari. Tapi tidak semuanya. Masih ada yang belum lari tapi sudah setengah mati di atas permukaan air. Ia pun keluar dari lubang Camuy, lari ke tepi jalan dan berjalan menuju sepeda motornya yang terparkir di pinggir kebun tadi. Ia cepat-cepat naik motor dan langsung lari pulang ke rumahnya. Di rumahnya, om Mateus yang telah merantau di Bangka hampir 20-an tahun itu lemas dan pingsan. Om tidak sadarkan diri lagi. Karena racun ribuan lebah yang mengeroyoknya telah bekerja secara cepat dalam badannya.

Kerumunan orang Flores di rumahnya itu terlihat hiruk pikuk. Mereka keluar masih rumah menunggu om itu sadar. Hampir 7 jam kemudian, ia sadar. ”Rasanya saya ini melayang di udara. Saya tidak melihat siapa-siapa saja yang datang dan pergi dari rumah ini. Saya bukan hanya tidak melihat, tetapi tidak mendengar apa-apa lagi. Tapi satu hal yang saya lihat terakhir, rumah saya ini telah terbalik”, cerita om Mateus yang hampir 7 jam lamanya, tidak sadarkan diri.

Tubuhnya bengkak dan berlubang-lubang akibat masih ada jarum lebah yang menancap. Jarum lebah itu perlu dicabut perlahan-lahan sehingga tidak patah.

Kejadian itu tepatnya pada 21 Maret 2010 lalu. Dengan ceritera ini, diharapkan agar orang yang bepergian ke hutan seperti tamasya atau pun heching baik siang maupun malam, bersikap waspada dengan bitang-bitang hutan. Waspadalah....waspadalah...Lebah bukan hanya enak madunya tetapi racunnya berbahaya untuk tubuh manusia jika ia sudah menyengatnya. ***

Rabu, 21 September 2011

MENGENANG GEMPA DAN TSUNAMI '92

Pesisir pantai Sinar Hading berubah wajah karena gempa & tsunami '92
Siang itu pukul 14.00 witeng. Tepatnya tanggal 12 bulan 12 tahun 1992. “Gelombang laut di Pantai Sinar Hading Kecamatan Lewolema, Kabupaten Flores Timur Nusa Tenggara Timur, mencapai belasan meter. Bahkan pucuk-pucuk pohon kelapa, tanaman khas di tepi pantai itu bisa dijangkau oleh gelombang laut, kenang aku ketika itu diucap oleh Kornelius Reket Ritan (60), salah seorang penduduk Sinar Hading yang waktu itu berada di tepi pantai.


“Sebelum gelombang laut itu menjulang tinggi, lebih kurang lima belas menit telah terjadi gempa yang besar sekali. Gempa besar saya lihat dari pohon-pohon kelapa dan pohon-pohon lain di tepi pantai bergoyang layak penari “tripping”. Selain tanda itu bahwa ada gempa besar, tanda yang tidak lazim yang dilihat waktu itu bahwa mendadak laut Teluk Hading mengering. Baru saya sadar bahwa mengering karena sebuah gunung dasar laut di Pantai Sinar Hading yang selama ini disebut ”Belang” tenggelam akibat gempa. Karena tenggelam, maka air laut yang ada tersedot masuk ke dalam kubangan. Coba bayangkan bagaimana air laut yang banyak itu tersedot masuk ke dalam kubangan, sehingga sejenak menjadi daratan”, cerita om Nelis yang sering disapa penduduk setempat.

Itu berarti bahwa “gunung dasar laut” yang selama ini disebut penduduk Sinar Hading sebagai “Belang” begitu besar. Akibat dari gempa, gunung dasar laut tenggelam. Air laut yang tersedot masuk ke dalam kubangan secara cepat mengakibatkan desakan dari dalam kubangan itu. Karena terjadi desakan itu maka air laut dari kubangan itu tersembur keluar dengan begitu kuat dan hebat. Penduduk Kawaliwu - Sinar Hading yang berada dibukit, di kebun menyaksikan semburan air laut dari dalam kubangan itu.

Jalan Lintas Kawaliwu-Belogili dibuka karna bencana alam 92 kini telah rusak parah.
Petrus Suban Liwun (53) menjelaskan gempa dan tsunami 92, ”semburan air laut itu mempunyai lima arah penjuru. Semburan warna merah seperti jet-roket, begitu kencang dan hebat menuju langit. Tidak tahu lagi apakah air laut yang disembur ke langit itu sudah jatuh dimana. Semburan berwarna hijau ke arah barat, menghantam ke wilayah Maumere. 

Semburan warna kuning ke arah Tanjung Bunga, menghantam Tanjung Bunga, sehingga tanjung itu bergoyang seenak saja seperti orang menggoyang daun di pohon. Semburan berwarna putih ke arah laut Flores. Semburan itu kelihatan dari jauh seperti dinding tembok yang terus bergeser semakin jauh dan akhirnya hilang dari pandangan mata. Dan semburan berwarna coklat menghantam daratan, di desa Sinar Hading. Akibatnya gunung Wai Kerewak dan bukit-bukit disekitarnya bergoyang ria. Asap kabut keluar dari gunung dan bukit. Terdengar suara batu-batu menggelinding jatuh ke tempat yang paling rendah.

Bahkan lebih jauh ke belakang, Hendrikus Haju Liwun (85) mengatakan bahwa nenek moyang kami sudah memberikan peringatan begini. ”Mio eka onok senang nawa kia, suu ara pira, mio be moi. Pi depan tite ile belang pi. Nae bela tajak, lango mio pe seng, kaca, dll pasti bela rusak.” (jangan senang dulu sekarang, beberapa tahun ke depan, gunung belang akan hancur maka tempat tinggal kalian akan rusak semua).

Efek dari gempa dan tsunami ’92, menyadarkan penduduk Sinar Hading, supaya lebih hati-hati menghadapi bencana. Bencana alam menurut penduduk setempat sebagai sebuah hukuman alam untuk manusia. Karena manusia sudah merusak alam dan tidak mampu memperbaiki alam. Setelah bencana, orang Sinar Hading, memanfaatkan lahan yang selama ini menjadi ladang berpindah-pindah menjadi lahan perkebunan dengan menanam kelapa, jambu mete, jati, lamatoro, dll. Selain itu, rumah-rumah penduduk yang rusak dibangun kembali dengan dinding papan dan keteka (bambu). Memang adanya dari tembok tetapi tidak penuh.

Dengan bencana alam (gempa dan tsunami ’92), Kawaliwu menjadi sebuah desa yang susah sekali bangkit dari kehancuran itu. Masyarakat masih trauma. Trauma mereka terobati manakala, tempat ibadat, Gereja mereka mulai dibangun kembali setelah 12 tahun gemba dan tsunami. ***

Senin, 19 September 2011

KEMURAHAN HATI ALLAH BAGI ORANG LAIN DISEKITAR KITA

dari kiri ke kanan: Bp. John Dj. R, A. Liwun dan Rm. A. Kriswinarto, MSF
”Kemurahan hati Allah bagi orang lain di sekitar kita, terkadang membuat kita iri hati”, ungkap Pastor Aloysius Kriswinarto, MSF dihadapan umat Katolik Komunitas Sta. Lusia, Tuing Paroki Sungailiat pada kunjungan bulanan (18/9/2011) di halaman kamp perumahan para pekerja PT. GPL. Kunjungan sebulan sekali itu, selain misa juga diisi dengan beberapa model pembinaan, yaitu pembinaan bagi orangtua yang mau membaptis anak-anaknya juga pembinaan bagi keluarga muda yang ”convalidatio” perkawinan mereka.

dari kiri: karyawan kebun sawit, Bie Lie, Bp. John Dj. R dan Lektor
Selain beberapa pola pembinaan kepada umat Katolik di Tuing yang telah disebutkan tadi, juga rencana ke depan akan diberi pembinaan yang lebih intensip tentang keterlibatan umat Tuing dalam kesatuannya dengan umat Paroki Sungailiat dan Keuskupan Pangkalpinang, kehidupan sosial, ekonomi dan kependudukan yaitu menyangkut membangun rencana keluarga yang bahagia.

Kunjungan bulanan kali ini, Romo Kris, pastor Paroki Sungailiat didampingi oleh Bapak John Djanu Rombang, koordinator seksi kerasulan keluarga dan komunitas basis gerejani, Alfons Liwun dan Bie Lie. Kami berangkat dari pastoran Sungailiat pukul 13.00 wib dan sampai di Tuing, mess Perkebunan Sawit PT. Gunung Pahlawan Lestari pukul 14.30 wib. Perjalanan cukup melelahkan karena jalan ke Tuing lumayan berat akibat beberapa bagian jalan yang telah rusak. Rusak akibat alat berat yang lewat untuk menggusuran lahan untuk TI atau perkebunan sawit.***

Sabtu, 17 September 2011

JADWAL MISA HARI MINGGU BIASA PAROKI KATEDRAL ST. YOSEP PANGKALPINANG

Jadwal Misa pada Minggu Biasa:

Untuk Gereja Katedral St. Yosep:
Misa malam minggu            : 18.00
Misa 1 hari Minggu pagi    : 06.00
Misa 2 hari Minggu Pagi    : 08.00
Misa hari Minggu sore       : 17.00

Untuk Stasi-stasi:
Misa stasi Kampung Jeruk : 08.00
Misa stasi Mesu Laut         : 08.00
Misa stasi Batu Rusa          : 08.00

Jadwal Misa khusus seperti hari raya dan lain-lain akan diatur sendiri oleh panitia.
Terima kasih atas perhatian kita semua. ***

Kamis, 15 September 2011

SOSIALISASI KEPENDUDUKAN DAN KELUARGA BERENCANA DI GEDUNG WANITA KABUPATEN BANGKA

Gudung Wanita di Jalan Pemuda Sungailiat Kabupaten Bangka masih terlihat sepi. Padahal waktu pertemuan yang telah diinformasikan yaitu pukul 07.15 sudah lewat 45 menit. Bahkan jarum pendek tepat angka delapan dan jarum panjang menunjuk angka 12, pukul 08.00 wib pun belum ada panitia penyelenggara pertemuan sosialisasi kependudukan dan keluarga berencana. Herannya, rencana pertemuan yang mulai pukul 07.15 berjalan begitu saja tanpa diisi dengan kegiatan. Waktu yang disediakan untuk dimanfaatkan, rasanya begitu terbuang. Terabaikan.

Carpe Diem - Tangkaplah hari:
“Carpe diem”, tangkaplah hari – manfaatkan waktu yang berguna, rasanya telah terabaikan oleh banyak pihak, termasuk penyelenggara pertemuan itu.Tepat pukul 08.15, para peserta mulai berbondongan datang ke halaman Gedung Wanita. Para peserta mulai bertanya satu sama lain, jam berapa pertemuan itu dimulai. Rasanya tidak mungkin, para peserta bertanya soal waktu memulai pertemuan, sedang para penyelenggaranya belum juga muncul. Rupanya waktu pertemuan yang disampaikan melalui SMS dari satu peserta kepada peserta yang lain, berbeda.

Halim Setiawan, utusan Kong Fu Chu,  mengungkapkan bahwa memulai pertemuan yang disampaikan kepada saya pukul 08.00 wib. Para ibu, utusan Islam yang berada di dekat itu, menyatakan bahwa kepada kami diberitahu bahwa mulai pertemuan pukul 07.30 wib. Sedang kepada Lusia, utusan Katolik diberitahu bahwa mulai pertemuan pukul 07.15 wib. Dari segi waktu saja, pertemuan sosialisasi itu penuh ketidakpastian. Bahkan ketika memulai pertemuan pada pukul 08.30 ruang pertemuan di Gedung Wanita, belum dibuka dan masih dalam keadaan berantakan. Ruang belum diatur untuk siap pertemuan. Beruntung, ada beberapa ibu yang inap bersebelahan dengan Gedung Wanita itu datang untuk membersihkan.

Terhadap situasi awal semacam ini, saya mau katakan bahwa pertemuan sosialisasi itu, benar-benar miss comunication antara panitia penyelenggara dengan pengatur atau pelaksana lapangan bahkan telah membuat para peserta kebingungan untuk mengikuti sosialisasi. Apa yang mau diharapkan yaitu supaya pertemuan itu berbuah yang lebih lebat, mungkin hanya idealisme. Realisasi dari hasil pertemuan menjadi sebuah permenungan bagi saya secara pribadi.

Peserta Pertemuan :
Pertemuan sosialisasi itu baru dimulai pada pukul 09.15 wib. Peserta yang diundang 18 orang utusan dari Islam. Utusan Kristen Protestan dan HKBP sebanyak 5 orang. Kongfu Chu mengutus 10 orang sedang Katolik 2 orang. Perwakilan dari Departemen Kementerian Agama Kabupaten Bangka 5 orang. Sedangkan peserta lain yaitu 5 orang merupakan staff dari Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Propinsi Kepulauan Bangka Belitung.

Pertemuan yang diwarnai urutan protekoler itu dimulai dengan sambutan dari wakil Departemen Kementerian Agama Kkabupaten Bangka. Warna khas yang terungkap adalah mohon maaf karena terlambat memulai pertemuan dan ketidakjelasan dalam waktu yang tidak disampaikan dalam surat undangan pertemuan. Karena memang informasi yang diterima dari propinsi belum jelas juga. Lebih jelas ketika lagi dua hari mulai mengedar surat undangan baru mendapat faxkan surat dari propinsi. Kami bersyukur bahwa kegiatan ini bisa dilaksanakan dan ini karena dukungan peserta yang bersedia hadir dan ikut sosialisasi ini.

Lebih lanjut, wakil Depag Kabupaten Bangka itu mengungkapkan penduduk Kabupaten Bangka 299.109 orang. Laju pertumbuhan penduduk pun begitu cepat. Pertumbuhan penduduk semakin bertambah dari tahun ke tahun karena ada yang kawin resmi, kawin tidak resmi dan migrasi dari daerah lain, karena mencari pekerjaan. Dengan melihat persoalan ini, kami mengundang tokoh agama di Kabupaten Bangka untuk hadir dalam sosialisasi kependudukan dan keluarga berencana. Maksudnya supaya setelah selesai pertemuan nanti, tokoh agama dengan bahasa yang lemah lembut akan mengajak umat beragama untuk memikirkan pertumbuhan dan perlambat penduduk sehingga hidup semakin sejahtera. Karena pertumbuhan dan pengaturan pendudukan dan keluarga berencana yang hidup sejahtera, tentu merupakan keinginan kita semua.

Kependudukan dan Keluarga Berencana:
Mediheryanto, SH mengawali penjelasan tentang Kependudukan dan Keluarga Berencana di depan 40-an peserta yang hadir di Gedung Wanita Sungailiat (12/9/2011) bahwa pembangunan Kependudukan dan Keluarga Berencana 2010-2014 merupakan salah satu program strategis. Hal ini dimaksudkan untuk menyiapkan sumber daya manusia yang berkualitas, berdaya saing dan berkarakter. Diakuinya bahwa hasil sensus penduduk 2010 mengindikasikan bahwa pertambahan dan pertumbuhan penduduk melebihi proyeksi maka perlu upaya percepatan dan strategi yang lebih inovatif.

Untuk mengendalikan kuantitas penduduk, Kabid Advokasi Penggerakan dan Informasi Perwakilan BKKBN Propinsi Babel, menyebutkan bahwa supaya visi BKKN yaitu penduduk tumbuh seimbang 2015, bisa dicapai, diperlukan pengendalian kelahiran, penurunan angka kematian, pengarahan mobilitas penduduk. Berbeda dengan kependudukan, Mediheryanto yang telah dikaruniahi dua anak, meyakinkan para peserta bahwa untuk kependudukan yang tumbuh seimbang maka diperlukan keluarga berencana yang mampu meningkatkan ketahanan keluarga dan meningkatkan kesejahteraan keluarga.

Mediheryanto mengingatkan peserta bahwa Propinsi Kep. Bangka Belitung, sebuah propinsi baru. Tentu banyak ”gulanya” sehingga tidak heran ada begitu banyak orang yang datang dari luar masuk ke propinsi kita. Sebelum tahun 2000-an tidak banyak orang menjual bakso di pinggir jalan macam sekarang ini. Sekarang, hampir dimana-mana selalu ada orang yang mendorong gerobak untuk menjual bakso, memikul tempat sol sepatu untuk sol sepatu dan di pinggir jalan telah begitu banyak para penjual pecel lele dan lebih dari itu di lobang camuy ada banyak orang yang menggali timah. Sykur kalau yang mengerjakan ini hanya beberapa orang. Jika mereka ini datang membawa keluarga artinya bahwa laju pertumbuhan penduduk di propinsi Babel sangat tinggi. Ini sebuah tantangan tetapi perlu diperhatikan supaya ditanggunglangi dengan baik.

Lebih lanjut, Mediheryanto menjelaskan bahwa masalah kependudukan bukan masalah yang gampang. Karena kependudukan adalah hal ihwal yang berkaitan dengan jumlah penduduk, struktur penduduk, pertumbuhan penduduk, mobilitas penduduk, kualitas penduduk dan kondisi kesejahteraan yang menyangkut: poleksosbud, agama serta lingkungan penduduk setempat.

Karena berhubungan dengan masalah kependudukan ini, akan berdampak pada penyediaan pangan, penyediaan perumahan, penyediaan sarana kesehatan, penyediaan sarana pendidikan dan penyediaan kesempatan kerja.

Terhadap permasalahan itu, setiap orang perlu diberikan sosialisasi menyangkut kependudukan dan keluarga berencana. Misi BKKN yaitu mewujudkan pembangunan yang berwawasan kependudukan dan mewujudkan keluarga kecil bahagia sejahtera, perlu digaungkan sampai ke pelosok-pelosok daerah sehingga lebih dikenal seperti pada masa ORDE BARU.

Untuk perkembangkan kependudukan dan pembangunan keluarga berencana, BKKN memiliki strategi pokok yaitu Menekan Laju pertumbuhan penduduk, dan merencanakan kelahiran dengan mewujudkan Keluarga Kecil Sehat Bahagia dan Sejahtera (KKSBS).

Dari strategi pokok ini kemudian dirumuskan beberapa strategi secara lebih rinci sebagai berikut: (1). Menggerakkan dan memberdayakan seluruh masyarakat dalam program Kependudukan dan Keluarga Berencana. Untuk mensukseskan strategi tadi diperlukan kegiatan advokasi dan KIE, penguatan lini lapangan, perkuatan kemitraan antar lembaga dan penyebarluasan data dan informasi.

(2). Penataan pengendalian kependudukan, perlu dijalankan penyerasian program kependudukan, penyiapan indikator dan parameter kependudukan yang akurat, penguatan analisis dampak kependudukan dan pemantapan program pendidikan kependudukan. (3). Peningkatan akses dan kualitas KB-KR, dibutuhkan kegiatan berupa: peningkatan akses dan kualitas pelayanan KB jalur pemerintah, peningkatan akses dan kualitas KB jalur swasta, peningkatan akses dan kualitas pelayanan KB di galcitas dan pengangulangan masalah-masalah kesehatan reproduksi.

(4). Memperkuat SDM operasional program KKB, untuk bisa menjalankan strategi di atas dibutuhkan pengelolaan SDM yang profesional dan penguatan SDM lini lapangan. (5). Meningkatkan ketahanan dan kesejahteraan keluarga,diperlukan kegiatan berupa membina keluarga Balita, membina keluarga remaja, membina keluarga lansia, dan meningkatkan usaha keluarga melalui pemberdayaan ekonomi keluarga.  (6). Meningkatkan pembiayaan program KKB, diperlukan prioritas anggaran pemerintah pusat dan daerah, terciptanya sistem jaminan pembiayaan program kependudukan dan KB khususnya bagi rakyat miskin, dan terjaminnya ketersediaan alat / obat kontrasepsi.

Peran Tokoh Agama dalam Kependudukan dan Keluarga Berencana
Mengapa para tokoh agama di Kabupaten Bangka diundang oleh Departemen Kementrian Agama Bangka untuk bertemu di Gedung Wanita? Ini satu pertanyaan yang muncul dalam diri dua peserta dari Katolik, Alfons Liwun dan Theresia Lusia Napitupulu.

Pertanyaan itu rupanya dijawab dalam paparan makalah H. Suhadi, S. Ag yang berjudul Peran Tokoh Agama dalam Program Kependudukan dan Keluarga Berencana. Dalam penjelasan ketua FAPSEDU Propinsi Kep. Babel, program kependudukan dan keluarga berencana yang dicanangkan dengan sasaran langsung PUS dan sasaran tidak langsung pada kelompok remaja dengan usia 15-19 tahun, organisasi-organisasi, tokoh agama, dan wilayah dengan laju pertumbuhan penduduk yang tinggi, perlu melibatkan para tokoh agama di Kabupaten Bangka. Peran tokoh agama sangat penting. Karena mereka mempunyai akses langsung kepada umat beragama baik melalui pendampingan sebelum menikah maupun berbagai kegiatan pembinaan seperti dakwah, kotbah, dan lain-lain.

Suhadi, yang sehari-hari bekerja di Depag Propinsi itu mendorong para tokoh agama untuk terlibat dalam program kependudukan dan keluarga berencana melalui tugas sebagai bidan KB, suatu tugas untuk membidani kelahiran keluarga baru. Selain tugas tadi, para tokoh agama pun bisa terlibat sebagai pelopor KB, sosialisator KKB, sebagai opinion leader KKB dan bisa sebagai tempat bertanya bagi keluarga-keluarga. Disinilah peran sesungguhnya, tokoh agama sebagai married conseling, sebagai penasihat bagi remaja atau keluarga atau pasangan yang akan menikah dengan harapan pasangan akan mempunyai pengetahuan dan pemahaman yang cukup dalam membentuk keluarga yang bahagia dan kualitas.

Pertemuan sosialisasi Kependudukan dan Keluarga Berencana selesai pada pukul 15.30. Sebelum pertemuan itu ditutup, BKKN Propinsi dan ketua Forum Antaragama Peduli Kesejahteraan dan Kependudukan (FAPSEDU) Propinsi menghendaki membentuk FAPSEDU Kabupaten Bangka, yang pertama di Indonesia untuk tingkat kabupaten. Rencana ke depan, para pengurus FAPSEDU Kabupaten Bangka akan menindak lanjuti hasil pertemuan sosialisasi ini. Semoga forum peduli kependudukan dan kesejahteraan bagi semua masyarakat ini dapat berjalan dan membantu banyak pihak. ***

Sabtu, 10 September 2011

SEMINARI MENENGAH MARIO JOHN BOEN KEUSKUPAN PANGKALPINANG

PENDIRI SEMINARI MENENGAH MARIO JOHN BOEN (SMMJB): Seminari Menengah Mario John Boen didirikan oleh Uskup Pangkalpinang, Mgr. Hilarius Moa Nurak SVD melalui SK nomor: 100/A.1b/2011 yang dikeluarkan di Pangkalpinang tanggal 30 Maret 2011.
SPIRITUALITAS SMMJB: Seminaris menjadi Garam dan Terang Dunia, mengikuti Cara hidup Rm. Mario John Boen dan Bp. Paulus Cen On Ngie yaitu: (1). openness, sacrifice and adventure; (2). fortiter in re (3). suaviter in modo.
VISI SMMJB: (1). Mengembangkan kualitas hidup fisik dan mental (sanitas / sebagai wujud kasih kepada diri sendiri) (2). Mengembangkan kualitas hidup spirualitas (sanctitas = hidup beriman / sebagai wujud kasih kepada Allah) (3). Menguasai ilmu pengetahuan (scientia = sebagai wujud kasih kepada ilmu pengetahuan dan peradaban) (4). Mengembangkan hidup berkomunikasi (socialites / sebagai wujud kasih kepada sesama).

TUJUAN SMMJB: (1). Seminaris menjadi pribadi yang sehat secara mental. (2). Seminaris menjadi pribadi yang matang dalam hidup doa dan kesaksian iman. (3). Seminaris menjadi pribadi yang memiliki ilmu pengetahuan dan menguasai teknologi. (4). Seminaris mampu menghayati hidup sosial, baik dalam hidup berkomunitas maupun hidup bermasyarakat.
STRATEGI SMMKB: Strategi untuk mencapai visi, misi dan tujuan tersebut tadi, diperjuangkan melalui bidang-bidang berikut: (a). Kesehatan Fisik dan Mental, melalui (1). Kurikulum pendidikan jasmani, kesehatan dan olaraga (2). Bimbingan dan konseling (3). Pendidikan seni dan budaya (4). Latihan kepemimpinan. (b). Kematangan dalam hidup rohani, meliputi: (1). Pembinaan rohani pribadi dan bersama-sama via rekoleksi dan retret (2). Pendalaman iman, KS, hidup doa, meditasi dan latihan rohani.
Memiliki ilmu pengetahuan dan menguasai teknologi, meliputi: (1). Kurdiknas dan kurikulum seminari (2). Kegiatan ilmiah: diskusi, seminar, dll. (c). Kemampuan Hidup Sosial, meliputi: (1). Pendidikan etika, disiplin dan tanggungjawan (2). Pendidikan karakter bangsa (3). Pendidikan ekologi (mulok) (4). Pendidikan budaya dan bahasa daerah. (d). Penyediaan sarana dan prasarana, melalui: (1). Sarana fisik (2). AD+ART dan pedoman hidup seminari (e). Tenaga pendidikan dan kependidikan, melalui: (1). Staff (2). Guru /tenaga pendidi (3). Tenaga kependidikan. (f). Pembiayaan, melalui: (1). Orangtua siswa/masyarakat (2). Bantuan pemerintah (3). Bantuan lembaga-lembaga gereja (4). Donatur tetap dan tidak tetap. (g). Proses, meliputi: (1). Proses belajar mengajar (2). Semua kegiatan extra kurikuler (3). Planning monitoring-supervise.

PENDAFTARAN: Pendafataran dimulai Agustus 2011 sampai dengan Januari 2012 di paroki masing-masing. Informasi selanjutnya melalui pastor/sekretariat paroki. Pendaftaran bagi siswa tamatan SMP***