Sabtu, 26 Mei 2012

HIDUPLAH DALAM ROH


Yang dimaksudkan dengan Roh disini adalah ’Roh Kudus, Roh Kebenaran’, Roh Penghibur, yang kita dengar dalam bacaan-bacaan suci pada Hari Raya Pentekosta. Roh Kudus berlawanan dengan roh jahat, setan, iblis, atau dalam bahasa Rasul Paulus ”perbuatan daging.”

Hiduplah menurut Roh.” Itu berarti hidup menurut daya karya Roh Kudus, Roh Kebenaran. Karena Roh Kudus itu telah ada didalam diri setiap orang beriman yang sudah dibaptis dan diteguhkan oleh penguatan atau krisma.
Roh Kudus mempersatukannya

Bagaimana hidup menurut Roh Kudus, Roh Kebenaran, Roh Penghibur? Yohanes memberikan penegasan kepada kita bahwa, Bapa di Surga telah mengutus Roh Penghibur ke dalam dunia untuk mendampingi para murid Yesus, untuk memberikan kesaksian. Kesaksian yang dimaksud itu, dimaknai oleh Paulus, rasul para bangsa dalam bacaan kedua yaitu supaya setiap orang yang percaya kepada Kristus hidup dalam kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelemahlembutan, penguasaan diri, tidak berbuat cabul, tidak hawa napsu, tidak menyembah berhala, tidak mabuk dan pesta pora.

Keutamaan-keutamaan yang ditegaskan rasul Paulus diatas hanya mampu dijalankan dalam hidup orang kristiani jika setiap orang yang percaya kepada Kristus, didalam dirinya dituntun oleh Roh Kebenaran. Didalam diri orang yang percaya itu, membuka hatinya, membiarkan Roh Kudus bekerja dengan lebih leluasa, biarlah Roh Kebenaran mengubah cara hidup kita menuju kebenaran dalam Roh.

Hidup menurut Roh, memaknainya dengan cara hidup yang nyata, bukan hanya dengan kata-kata. Artinya, kata-kata diwujudnyatakan antar sesama. Kata-kata dieksplisitkan didalam saling membantu satu sama lain. Dengan cara demikian, kita yang adalah murid-murid Yesus, sungguh-sungguh menghidupkan daya karya Roh Kudus di dalam dunia. Begitu cara kita bersaksi.**

Senin, 21 Mei 2012

MEMBANGUN KEBERSAMAAN-KEADABAN CINTA

Membangun sebuah jati diri yang kokoh dan kuat ditengah arus globalisasi dewasa ini, rasanya sulit sekali. Hampir semua unsur yang dipandang mapan dan bertahun-tahun tahan uji dalam badai zaman selama ini, seakan-akan mulai rontok dan pelahan-lahan roboh! Lalau pertanyaannya, apa yang menjadi dasar untuk sebuah kepribadian yang kokoh dan kuat untuk hidup era sekarang ini?

Dalam buku Alexander Paulus yang berjudul "Success in Life Through Positive Words", mengatakan "pikiran dan kata-kata" sangat mempengaruhi paradigma baru dewasa ini. Dengan mengutip pokok pikiran William James, Paulus mau mengatakan bahwa sebuah ide atau pikiran yang muncul akan melahirkan suatu perasaan atau emosi atas apa yang dipikirkan dan baru kemudian perilaku. Jadi suatu perkataan sebagai akibat dari perasaan atau emosi. Emosi menggerakkan perasaan dan dari perasaan yang dinyatakan dalam tindakan, kita menemukan perilaku.

Jadi, jika kita mau membangun sebuah jadi diri yang kokoh dan kuat dewasa ini, ingat dimulai dari pikiran, emosi dan berperilaku. Jika tiga hal pokok ini selalu disadari, maka jati diri yang ada, yang melekat pada diri seseorang akan selalu disadarinya selama dia bergaul dengan sesama.

Lihatlah serumpun bambu, mereka kokoh dan kuat karena mereka berdiri bersama, berdekatan satu sama lain dan saling menguatkan jika ada bahaya laten dari luar diri mereka. Pikiran, emosi, dan berperilaku hendaknya menjadi satu rantai yang bertautan erat satu sama lain. Kebersatuan didalam satu tubuh, menguatkan diri seseorang. Dengan kuat dan kokoh, seseorang itu memberikan perilaku yang baik kepada sesamanya. Dengan begitu, kita telah membangun sebuah keadaban baru, yaitu keadaban cinta. ***

Selasa, 03 April 2012

SEMBAH TUAN MA DAN TUAN ANNA MENJELANG PROSESI JUMAT AGUNG DI KOTA REINHA LARANTUKA

Pagi itu pukul 08.00 waktu kota Larantuka, Flores Timur, NTT. Dari kota Rewido Sarotari, dengan sepeda motor menuju Katedral Reinha Rosari. Kami singgah sebentar untuk mengikuti Jalan Salib dan sekaligus bertemu dengan Rm. Noeldy Koten, teman sekelas dulu di Ritapiret dan SFTK Ledalero.

Setelah jalan salib, kami duduk ngobrol di pastoran, lalu kami mencari lilin dan baju serta DVD lagu2 rohani yang akan kami bawa kembali ke Bangka.Kami belanja sebentar lalu berjalan kaki menuju Lokea, kapel tuan anna. 
Kota Larantuka terasa sepi. Kendaraan dalam kota tidak berjalan lagi. Akses transportasi dinonaktifkan. Dimana-mana orang berjalan kaki, dari kapel tuan ma ke kapel tuan anna, atau sebaliknya. Walau panas, tetapi tidak mengurung niat banyak peziarah untuk istirahat. Banyak tamu dan rombongan dari luar keluar masuk kapel tuan ma dan tuan anna untuk mempersembahkan niat dan doa-doa mereka. 

Suasana itu hening dan terasa sunyi. Hening karena aktivitas orang tanpa suara. Hanya didalam kapel terdengar lagu-lagu rohani mengiringi doa-doa umat dan peziarah. Bukan hanya itu, hening karena, hari itu Jumaat Agung. Kebiasaan yang bertahun-tahun yang dialami umat Katolik Larantuka, jika mau merayakan Jumaat Agung. Sunyi karena aktivitas umat tidak seperti biasa. Umat dan peziarah dari luar, hanya berjalan kaki di siang bolong itu, untuk berdoa dan merenungkan perjalanan spiiritualitas hidupnya sebagai murid Kristus.

Lebih kurang pukul 12.30, kami kembali ke kota Rewido. Kami istirahat dan makan siang. Setelah itu kami kembali ke kapel San Juan untuk ikut prosesi laut. Banyak motor laut atau kapal laut dan sampan (berok) telah siap untuk ditumpangi oleh siapa saja yang mau ikut ziarah laut. Bahkan siang itu, jika ada kapal besar yang ada di pelabuhan kota Larantuka dimohon untuk ikut ziarah laut. Walau kapal sudah banyak untuk ikut ziarah, namun tidak sebanding dengan banyak umat yang datang. Karena itu banyak umat juga yang lewat darat dan menunggu di pinggir pantai, termasuk pelabuhan Larantuka.Siang itu panas sekali, tetapi tidak mematahkan semangat umat untuk ikut dan berziarah.

Ziarah menjelang prosesi Jumat Agung di Kota Larantuka, bukan aktivitas iman yang baru. Namun merupakan suatu ziarah iman yang sudah berabad-abada lama. Tahun 2010, genap 500 tahun, sejak zaman portugis masuk Kota Larantuk, 1510.

Ziarah laut, dari pantai kota Rewido menuju pantai use, kapel tuan anna. Ziarah laut, mengingatkan umat beriman, bahwa Allah yang membebaskan umat-Nya dari perbudakkan, pulang ke tanah terjanji melalui Laut Merah.
Di dalam proses perjalanan itu, umat yang berziarah ikut berdoa dan mengumandangkan lagu-lagu rohani khas Larantuka.

Ziarah Laut akhirnya mempertemukan iman yang terdalam yaitu bersama tuan ma dan tuan anna mengikuti kisah sengsara Yesus Kristus, Sang Juruslamat pada penderitaan-Nya menuju Kalvari. Ziarah hidup kita pun pada akhirnya bersatu dengan Sang Guru Ilahi, Yesus Kristus mengalami firdaus yang bahagia bersama dengan Allah Bapa. ***

Kamis, 29 Maret 2012

JADWAL MISA TRI HARI SUCI 2012 PAROKI SUNGAILIAT KEUSKUPAN PANGKALPINANG


Kamis Putih           : Kamis, 5 April 2012.
Waktu Misa               : Pukul 18.00 - 21.00 WIB.
Jadwal adorasi per KBG akan dibaca di papan pengumuman di depan gereja paroki.
Jumat Agung           : Jumat, 6 April 2012.
Waktu Misa               : Pukul 15.00 - 18.00 WIB.

Malam Paskah       : Sabtu, 7 April 2012.
Waktu Misa              : Pukul 19.00 - 21.00 WIB.

Minggu Paskah     : Minggu, 8 April 2012.
Waktu Misa               : Pukul 07.45 - 10.00 WIB.

SELAMAT PASKAH

Senin, 26 Maret 2012

PENGURUS DAN STAFF KOPDIT KABARI KE PANTAI RAMBAK

Pantai Rambak terdapat di Rambak, Kabupaten Sungailiat, Bangka, Propinsi Kepulauan Bangka Balitung. Pantai Rambak, obyek wisata baru yang akhir-akhir ini muncul ke publik. Pantai yang berpasir putih dengan panjang hampir belasan kilo meter ini mengundang banyak wisatawan lokal untuk tiap minggu bertandan ke pantai itu.

Tidak heran, ketika libur Nyepi, (23/3/2012), pengurus dan staff  Kopdit Kabari pergi ke pantai itu untuk membuang suntuk dari rutinitas setiap hari dan membangkitkan semangat baru untuk optimis bekerja di dalam lingkungan Kabari Pangkalpinang.

Bukan hanya pengurus dan staff saja. Tapi bagi pengurus dan staff yang sudah berkeluarga, diharapkan membawa keluarganya. Dan karena itu, terlihat di halaman Kopdit sebelum pergi ke pantai, ada beberapa keluarga dari pengurus dan staff hadir untuk mengikuti liburan itu.

Siang itu, terasa panas sekali. Apalagi ketika berada di tepi pantai. Panas matahari yang menyenyat dan ditambah lagi panas yang terpantul dari butiran pasir-pasir putih. Walau demikian, para pemanggang ikan yang berada di bawah pohon pandan itu, bertahan dan tetap semangat bahkan tak terasa panas lagi karena gurauan yang dimunculkan oleh berapa orang begitu lucu, seakan-akan menghilangkan sengatan sinar mentari.

Sedang para ibu dan beberapa bapak memanggang ikan, Om Pendi, menebarkan pukat di pesir pantai Rambak. Om Pendi yang sehari-hari sebagai satpam Kopdit itu berharap, agar hasil pukatnya dapat menyumbang ikan atau sotong satu atau dua ekor untuk lauk siang itu. Namun, harapan itu pupus, karena telah membuang tenaga dan waktu, tetapi seekor pun tidak dapat. Maka spirit yang harus kita katakan kepada om Pendi, ”Bertolaklah lebih ke dalam lagi”, karena ikan atau sotong pasti ada di laut yang dalam. Laut yang dangkal itu, tidak ada ikan atau sotong lagi. Sebab TI apung adalah penyebab, pengusiran ikan dan sotong. IT apung, perusak ekosistem tepi pantai dan pantai itu sendiri.

Memukat tidak selalu dapat. Tidak mendapat ikan atau sotong, siang itu, bukan berarti makan siang tidak ada lauk. Tetap ada lauk ikan tenggiring, kerisi, jebung dan sotong yang dibeli di pasar pagi Pangkalpinang oleh Novi, seorang pengurus yang dipercayakan untuk mengurus lauk makan siang di Pantai Rambak bagi pengurus dan staff Kabari.

Jam makan siang 14.15. Pencinta Kabari, sibuk mencari tempat duduk untuk menikmati hidangan makan siang. Ada yang di dalam pondok yang disewa, ada juga di bawah pohon-pohon yang ada di sekitar pondok. Tidak ada restoran di pantai itu. Yang ada hanya pondok-pondok sederhana dengan fasilitas serba kayu yang bisa dipakai untuk tempat duduk. Pondok-pondok itu, buatan satu atau dua keluarga masyarakat Rambak, untuk mencari sepeser ketika hari minggu atau hari libur tiba. Walau demikian, banyak orang berbondong-bondong ke pantai itu untuk menikmati panorama pantai yang indah nan pesona serta mandi di laut yang lumayan bersih dari limbah industri domestik.

Setelah santap siang, terlihat ada beberapa anggota yang mandi. Mandi, bukan hanya karena menikmati laut yang masih jernih, tapi mungkin lebih dari itu mendinginkan kulit yang berjam-jam tersengat mentari di siang bolong itu. Mandi, tak terbilas. Karena serba terbatas. Kalau bilas, sebotol air biasa bayar dua ribu rupiah, kalau mau butuh air yang banyak satu jerigent, dengan harga 15 ribu rupiah. Maka jika anda punya kesempatan ke Pantai Rambak, siaplah ”payung” sebelum hujan.

Setelah mandi, para pengurus dan staff mengikuti beberapa permainan yang disiapkan oleh Novi dan Mumui, Instruktur permainan. Permainan, simbol kebersamaan. Karena di dalam permainan itu, banyak pengurus dan staff serta keluarga yang ikut berpartisipasi dalam permainan itu. Diakhir permainan itu, ada lomba lari cepat 20-an meter. Pak Widodo, salah satu peserta yang lumayan gemuk, yang telah berjuang sungguh-sungguh lari, ya...akhirnya menerima kekalahannya. Karena, mana bisa yang tua dapat mengalahkan yang masih mudah, yang fullpower dan gesit berlari. Yang terpenting, Pak Wid, yang sering disapa anggota kabari itu, telah memotivasi para peserta lomba.

Sebelum pulang ke Pangkalpinang, para pengurus dan staff serta anggota keluarga, berpose bersama-sama di tepi pantai. Photo, kenangan indah untuk masa depan. Kenangan, yang mengingatkan kita bahwa kita pernah bersua di Pantai Rambak. Kenangan, yang menandakan bahwa kebersamaan pernah terjalin; tak akan ada yang mengingkari. Semua akan mengagumi dan terbangun dari dan oleh serta untuk kebersamaan. Bahwa kebersamaan itu ada juga dalam membangun satu tema pokok: Kopdit Sehat, Anggota Sejahtera!

Selasa, 13 Maret 2012

MEMBANGUN KEAKRABAN PUTERA PUTERI ALTAR


Sebuah bus pariwisata berwarna biru berpaduan hijau meluncur ke arah bukit Fat Chin San. Sebuah bukit yang dikenal oleh warga Sungailiat sebagai tempat wisata alam yang bernuansa religi Kong Fu Chu. Bus yang mengantar lebih kurang 70-an putera puteri altar Paroki Sungailiat itu diiringi empat buah mobil avanza dan belasan kendaraan beroda dua. Iring-iringan kendaraan itu, akhirnya berhenti di kaki bukit.

Rombongan putera-puteri altar atau yang sering disebut PA-PI, kemudian ramai-ramai mendaki ke atas bukit. Putera-puteri altar yang terdiri dari anak-anak SD dan SMP itu, setelah sampai di atas bukit, mereka saling sharing soal perjalanan itu. Banyak anak yang selama ini tidak berjalan kaki sejauh itu, ngomel dan mengeluh letih. Namun, satu hal yang menarik dari itu adalah mereka begitu bersemangat mencapai puncak bukit dan menikmati panorama alam nan sejuk.

Mereka datang ke bukit Fat Chin San, tidak untuk berwisata ria. Mereka datang untuk mengalami kebersamaan yang selama ini terputus oleh karena rutinitas kegiatan sekolah masing-masing dan sibuk dengan berbagai privat mata pelajaran. Putera-puteri altar paroki dan stasi berkumpul, membangun komitmen menjalankan tugas pelayanan membantu imam di altar ketika misa.

Komitmen putera-puteri altar semakin kuat karena mereka didampingi oleh dua pastor dan satu suster, para guru pastoral sekolah serta para senior putera-puteri altar yang kini tergabung dalam Mudika St. Aloysius Gonzaga. Pastor paroki Sungailiat yang sering disapa umat, Rm. Kris, dalam kesempatan itu mendorong putera puteri altar dengan menceriterakan semangat pelayanan St. Tarsisius.

Lebih lanjut, pastor MSF yang sudah empat tahun berkarya di Sungailiat ini menuturkan bahwa St. Tarsius menjadi pelindung putera-puteri altar karena dia berani mempertahankan tubuh Kristus yang dibawanya dari sergapan penjahat. Tubuh Kristus yang dibawanya itu, untuk paus dan uskup yang ada didalam penjara karena ditawan oleh tentara.

Diakhir ceritera tentang St. Tarsisius, Rm. Kris menantang ke-70-an putera-puteri altar yang antusias mendengar itu dengan sebuah pertanyaan. Apakah kalian pun berani seperti St. Tarsisius untuk melayani Tuhan?  Paduan suara PA-PI pun bergema, kami siap melayani! Sebagai sebuah refleksi atas jawaban PA-PI, kami siap melayani, prochus Sungailiat meminta mereka untuk menulis satu jawaban atas pertanyaan mengapa selama ini putera puteri altar mulai berkurang menjalankan tugas pelayanan dalam misa?

Harus diakui bahwa jawaban terbanyak yang ditulis putera-puteri altar yang rata-rata anak-anak SD dan SMP, bahwa mereka capek, malas dan bangun tidur kesiangan. Jelas bahwa anak-anak terbebani karena dari senin sampai sabtu, sibuk sekolah dan sorenya harus mengikuti pelajaran tambahan. Selain itu, ada pula anak-anak yang memberikan jawaban bahwa mereka malu, takut salah, kurang tahu urutan misa, dan kurang ada latihan. Semua jawaban PA-PI itu, kembali ditegaskan oleh Ibu Yovita Djanu Rombang, mantan pendamping PA-PI Sungailiat, bahwa ke depan seluruh jawaban tadi akan diperhatikan oleh kakak-kakak pendamping PA-PI. Kesempatan yang bagus itu juga, diberikan kepada para senior PA-PI untuk menceritera semangat mereka dalam pelayanan yang sudah mereka laksanakan dalam beberapa tahun yang lalu. Hadir dalam sharing pengalaman itu seniores PA-PI seperti dr. Aditya, Nora Sylvia, Agustina Erawati, Asta Hilarius dan Rm. Budiyono MSF.

Semangat putera-puteri altar di atas bukit itu, seakan-akan direstui oleh Tuhan. Mengapa tidak, hari minggu siang (4/3/2012) itu panas, tiba-tiba mendung dan hujan pun mengguyur bukit Fat Chin San. Hujan rahmat memberikan harapan baru, bahwa putera-puteri altar siap melayani Tuhan dan siap untuk mengikuti temu akrab berikutnya di Belinyu setelah paskah nanti.

Acara membangun keakraban PA-PI, diakhir dengan makan bersama dan berkat perutusan oleh Rm. Kris. Selamat bertugas PA-PI, sampai jumpa setelah paskah. ***

Senin, 12 Maret 2012

GEREJA PASCA SINODE II PANGKALPINANG: "COMMUNION OF COMMUNITIES"

Dihadapan anggota Dewan Pastoral Pleno Paroki Sungailiat (26/2/2012) Bapa Uskup Mgr. Hilarius Moa Nurak, SVD menjelaskan rencana ke depan Gereja Katolik Keuskupan Pangkalpinang pasca Sinode II, (1-8 Agustus 2011). Bahwa ke depan, Gereja Katolik Keuskupan Pangkalpinang, pasca Sinode II merupakan 'Communion of Communities", atau dalam bahasa kita yang selama ini telah mulai dibangun "persekutuan komunitas-komunitas." Komunitas Basis Gerejawi, tetap merupakan prioritas utama. Communion of Communities adalah harapan para uskup Asia, yang telah dimulai pada tahun 1990. 

Dalam rencana perkembangan Gereja ke depan, Komunitas Basis Gerejawi (KBG) menjadi prioritas karena didalam KBG-KBG karisma-karisma umat perlahan-lahan dibangun, ditingkatkan dan dalam kehidupan Gereja, karisma-karisma umat yang sudah ada itu digunakan untuk karya pelayanan. Gereja memberi tugas kepada umat berdasarkan karisma-karisma yang dimiliki oleh umat. Karisma umat digunakan untuk pelayanan bersama.

Untuk membangun KBG sampai pada tingkat itu, Mgr. Hilarius yang pada 21 Februari 2012 genap 69 tahun menjelaskan lebih lanjut, "Gereja Asia sekarang dikenal dengan metode AsIPA (Asian Integral Pastoral Approach). Dulu Asia belajar dari Afrika Selatan yang dikenal dengan Lumko. Nanti untuk Keuskupan Pangkalpinang akan membentuk sebuah pastoral yang integral yang paling kurang setaraf AsIPA atau Lumko, yang disebut PIPA (Pangkalpinang Integral Pastoral Approach). PIPA ini merupakan alat atau sarana yang dipakai untuk mencapai Visi yang diharapkan bersama. PIPA juga penyalur, sebagai penyalur untuk mengantar umat menjadi komunio berpusat pada Kristus.

Mgr. Hila berkomitmen untuk membangun KBG supaya Visi Keuskupan Pangkalpinang tercapai yaitu Gereja yang berpartisipatif dan berpusat pada Kristus. Dan untuk mencapai visi tadi, Bapa Uskup pun memberikan informasi tentang perubahan stuktural pastoral Keuskupan dan Paroki.
Struktur yang baru, ada perubahan dekenat menjadi kevikepan. Maksud perubahan ini adalah supaya dalam hal karya pastoral langsung diatur secara otonom oleh kevikepan. Selain itu juga di paroki akan ada pemisahan antara Dewan Pastoral Paroki (DPP) dan Dewan Keuangan Paroki (DKP). DKP akan bekerja secara khusus untuk mengelola harta benda gereja. Sedangkan DPP khusus untuk bagian pastoral. Merencanakan dan melaksanakan hal-hal seputar karya pastoral. Keduanya DPP dan DKP berkaitan erat.
Selain ada Kevikepan, DKP juga untuk seksi-seksi tidak lagi di DPP tetapi berada di KBG. Maksudnya karena KBG-KBG lah yang mengetahui kebutuhan apa yang dibutuhkan oleh umat. Untuk KBG-KBG yang masih mempunyai keterbatasan tenaga dalam seksi-seksi, bisa bergabung dengan beberapa KBG dan membentuk satu seksi.

Hal-hal baru yang diharapkan oleh Mgr. Hila ini tidak lain, agar Gereja Katolik ke depan lebih berkualitas, lebih maju dalam hidup iman, karya pastoral (misi) dan jauh lebih penting dari itu adalah terwujudnya impian bersama "Gereja Partisipatif dan berpusat pada Kristus."

Mgr. Hila yang mendapat gelar sebagai "Bishop of Islands" ini tetap berkomitmen untuk membangun Gereja melalui KBG karena komunitas-komunitas itu mempunyai peran yang sangat penting. Pentingnya KBG bagi umat disampaikan Bapa Uskup dalam pertemuannya dengan umat Katolik Sungailiat dari tanggal 23-25 Februari 2012.

Kunjungan Mgr. Hila ke Komunitas Basis Gerejawi (23/2/2012): St. Yosep, St. Gabriel, St. Petrus, Sta. Theresia 2 dan Sta. Elisabeth, dengan berpusat di rumah Bp. Andreas Amin, anggota KBG Sta. Elisabeth, di Kenanga Sungailiat. Pertemuan yang dihadiri lebih kurang 100-an umat itu, dengan beragam tema yang muncul dari umat. Walau demikian, bapa uskup memprioritaskan pada pengembangkan KBG. Karena KBG adalah medan katekese umat. Didalamnya Kitab Suci diwartakan. Selain itu, KBG adalah tempat pemberdayaan bagi umat. Mgr. Hila memberi contoh Mohammad Yunus yang mampu memberdayakan ibu-ibu. Ibu-ibu diberdayakan supaya lebih berkualitas, sehingga mereka pun mampu dalam hidup menggereja. Dalam KBG erat kaitan dengan fasilitator, karena itu fasilitatornya sendiri perlu diberdayakan dengan pertemuan rutin, sehingga mereka mampu memfasilitasi kegiatan komunitas dengan baik dan lancar.

Jumad, 24/2/2012, Mgr. Hila berkunjung ke Sta. Theresia 1, St. Fransiskus Xaverius, Sta. Sisilia, Sta. Maria Goretti, dan St. Vincentius. Mgr. Hila menekankan pemberdayaan kelompok yang ada yang betul-betul sebagai sebuah KBG. Supaya bisa sebagai sebuah KBG, Syering Injil dalam AsIPA adalah metodenya. Komunitas berjalan tetapi tiru Ibadat Sabda, belum disebut KBG. KBG sesungguhnya adalah duduk bersama, membaca Kitab Suci, menjawab apa yang disampaikan oleh Kristus. KBG adalah keluarga besar berdasarkan iman. KBG mau menciptakan suatu kebersamaan dari berbagai perbedaan seperti suku, ras, dll untuk menjadi saudara-saudari dalam iman, untuk tugas pembinaan khusus bagi anak-anak dari anggota komunitas. KBG menjadi titik penting pemberdayaan iman baik bagi orang dewasa maupun bagi anak-anak.

Setelah mengunjungi umat seputar kota, saatnya Mgr.Hila mengunjungi umat di pinggiran kota Sungailiat, umat St. Yoh. Don Bosco, St. Dominikus dan St. Yoh. Pemandi. Sekali lagi, Mgr. masih tetap konsen pada KBG. KBG, tempat pendidikan iman baik bagi umat dewasa maupun anak-anak. Untuk pembinaan iman anak, KBG adalah tempatnya. Dimana, di dalam KBG, umat yang mempunyai karisma untuk mengajar memberi dirinya. Anak-anak didalam KBG diberi dorongan untuk menjadi putera-puteri altar. Dan karena itu, mereka ini akan terpanggil untuk masuk ke seminari. Terhadap panggilan khsusus ini Mgr. menegaskan, selama ini "kita panen dari kebun orang. Mulai 2012, kita berusaha untuk memulai seminari menengah di kebun sendiri." Itu artinya, anak-anak kita dibina, diarahkan untuk panggilan khusus itu. Selain itu, Mgr juga menekakan KBG diharapkan untuk peduli kepada sesama. Umat KBG bahu membahu membantu umatnya sendiri. Seperti dulu Credit Union yang dibangun karena situasi masyarakat saat itu yang miskin, demikian juga saat ini, anggota KBG yang kurang mampu dibantu oleh anggota KBG sendiri. Saling membantu satu sama lain.

Dengan demikian, Gereja yang kita harapkan "Communion of Communities" sungguh-sungguh nyata sebagai Gereja Partisipatif dan Berpusat pada Kristus. ***